Pengikut

Senin, 19 Maret 2012

FILSAFAT DALAM ISLAM : AYAT –AYAT YANG BERKAITAN DENGAN FILSAFAT


FILSAFAT DALAM ISLAM : AYAT –AYAT YANG BERKAITAN DENGAN FILSAFAT
Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Filsafat Islam
Dosen Pengasuh : salim bela peli M.Ag

STAIN2










Oleh kelompok II :




EVA NILASARI
ILIS NAINI
SADAM HAMADI

JURUSAN TARBIYAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
BENGKULU
2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis telah panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sang Pencipta alam semesta, manusia, dan kehidupan beserta seperangkat aturan-Nya, karena berkat limpahan rahmat, taufiq, hidayah serta inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan tema “ Filsafat Dalam Islam ” yang sederhana ini dapat terselesaikan tidak kurang daripada waktunya.
Maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini tidaklah lain untuk memenuhi salah satu dari sekian kewajiban mata kuliah Filsafat Ilmu serta merupakan bentuk langsung tanggung jawab penulis pada tugas yang diberikan.
Pada kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bpk salim belapeli selaku dosen mata kuliah Filsafat islam serta semua pihak yang telah membantu penyelesaian makalah ini baik secara langsung maupun tidak langsung.
Demikian pengantar yang dapat penulis sampaikan dimana penulis pun sadar bawasannya penulis hanyalah seorang manusia yang tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, sedangkan kesempurnaan hanya milik Tuhan yang maha Esa, sehingga dalam penulisan dan penyusununnya masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif akan senantiasa penulis nanti dalam upaya evaluasi diri.
                                                                                          Bengkulu, 02 november 2011

                    Penulis



i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ............................................................................................ i
DAFTAR ISI........................................................................................................... ii
BAB I..................................................................................................................... iii
PENDAHULUAN................................................................................................ iii
A.    LATAR BELAKANG .............................................................................. iii
B.     RUMUSAN MASALAH........................................................................... iii
BAB II..................................................................................................................... 1
PEMBAHASAN..................................................................................................... 1
A. AYAT – AYAT BERKAITAN DENGAN FILSAFAT DAN AYAT – AYAT\           TENTANG PERINTAH ATAU AKAL...................................................................... 1
      B.  TEMAH – TEMAH DALAM FILSAFAT............................................... 4
BAB III................................................................................................................. 14
PENUTUP............................................................................................................. 14
A.    KESIMPULAN......................................................................................... 14
B.     SARAN..................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA





ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam menghadapi seluruh kenyataan dalam hidupnya, manusia senatiasa terkagum atas apa yang dilihatnya. Manusia ragu-ragu apakah ia tidak ditipu oleh panca-inderanya, dan mulai menyadari keterbatasannya. Dalam situasi itu banyak yang berpaling kepada agama atau kepercayaan Ilahiah.
Tetapi sudah sejak awal sejarah, ternyata sikap iman penuh taqwa itu tidak menahan manusia menggunakan akal budi dan fikirannya untuk mencari tahu apa sebenarnya yang ada dibalik segala kenyataan (realitas) itu. Proses itu mencari tahu itu menghasilkan kesadaran, yang disebut pencerahan. Jika proses itu memiliki ciri-ciri metodis, sistematis dan koheren, dan cara mendapatkannya dapat dipertanggung-jawabkan, maka lahirlah FILSAFAT DALAM ISLAM “ yang nantinya akan membahas tentang ayat –ayat yang berkaitan dengan filsafat, ayat – ayat tentang perintah atau akal dan tema tema dalam filsafat islam .
B. rumusan masalah 
Berdasarkan latar belakang di atas kami akan membahas tentang
1.      Bagaimana Ayat – ayat berkaitan dengan filsafat dan ayat – ayat\ tentang perintah atau akal ?
2.      Bagaimana Temah – temah dalam filsafat ?




iii
BAB I
PEMBAHASAN
FILSAFAT DALAM ISLAM
A.    Ayat – ayat berkaitan dengan filsafat dan ayat – ayat\ tentang perintah atau akal
·        Qs. Furqan ayat 3 :
(#räsƒªB$#ur `ÏB ÿ¾ÏmÏRrߊ ZpygÏ9#uä žw šcqà)è=øƒs $\«øx© öNèdur šcqà)n=øƒä Ÿwur šcqä3Î=ôJtƒ öNÎgÅ¡àÿRL{ #uŽŸÑ Ÿwur $YèøÿtR Ÿwur tbqä3Î=ôJtƒ $Y?öqtB Ÿwur Zo4quym Ÿwur #Yqà±èS ÇÌÈ  
Artinya : kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak Kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak Kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.
·        Qs. Faushhilat ayat 5 :
(#qä9$s%ur $oYç/qè=è% þÎû 7p¨ZÅ2r& $£JÏiB !$tRqããôs? Ïmøs9Î) þÎûur $oYÏR#sŒ#uä ֍ø%ur .`ÏBur $oYÏZ÷t/ y7ÏZ÷t/ur Ò>$pgÉo ö@yJôã$$sù $uZ¯RÎ) tbqè=ÏJ»tã ÇÎÈ  
Artnya : mereka berkata: "Hati Kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru Kami kepadanya dan telinga Kami ada sumbatan dan antara Kami dan kamu ada dinding, Maka Bekerjalah kamu; Sesungguhnya Kami bekerja (pula)."
·        Qs. Asy syuura ayat 5 :

1
ߊ%s3s? ßNºuq»yJ¡¡9$# šcö©ÜxÿtGtƒ `ÏB £`ÎgÏ%öqsù 4 èps3Í´¯»n=yJø9$#ur tbqßsÎm7|¡ç ÏôJpt¿2 öNÍkÍh5u šcrãÏÿøótFó¡our `yJÏ9 Îû ÇÚöF{$# 3 Iwr& ¨bÎ) ©!$# uqèd âqàÿtóø9$# ãLìÏm§9$# ÇÎÈ  
Artinya : hampir saja langit itu pecah dari sebelah atas (karena kebesaran Tuhan) dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhan-nya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Penyayang.  
Qs. As sajadah ayat 4 :
ª!$# Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur $tBur $yJßguZ÷t/ Îû Ïp­GÅ 5Q$­ƒr& ¢OèO 3uqtGó$# n?tã ĸöyèø9$# ( $tB Nä3s9 `ÏiB ¾ÏmÏRrߊ `ÏB <cÍ<ur Ÿwur ?ìÏÿx© 4 Ÿxsùr& tbr㍩.xtFs? ÇÍÈ  
Artinya: Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy[1188]. tidak ada bagi kamu selain dari padanya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at[1189]. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?

maksud bersemayam di atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dsan kesucian-Nya. dan Syafa'at: usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi orang lain. syafa'at yang tidak diterima di sisi Allah adalah syafa'at bagi orang-orang kafir.
Filsafat Islam memiliki keunikan dalam topik dan isu yang digarap, problem yang coba dipecahkan, dan metode yang digunakan dalam memecahkan permasalahan-permasalahan itu. Filsafat Islam selalu berusaha untuk mendamaikan wahyu dan nalar, pengetahuan dan keyakinan, serta agama dan filsafat
2
Filsafat Islam bertujuan untuk membuktikan bahwa pada saat agama berpelukan dengan filsafat, agama mengambil keuntungan dari filsafat sebagaimana filsafat juga mengambil manfaat dari agama. Pada intinya, filsafat Islam adalah hasil kreasi dari sebuah lingkungan di mana ia tumbuh dan berkembang, dan jelasnya, filsafat Islam adalah filsafat agama dan spiritual.   
Meskipun filsafat Islam berorientasi religius, ia tidak mengabaikan isu-isu besar filsafat, seperti problem keberadaan dalam waktu, ruang, materi dan kehidupan. Cara pengkajian filsafat Islam terhadap epistemologi pun unik dan komprehensif. Ia membedakan antara kedirian (nafs) dan nalar, potensi bawaan sejak lahir dan almuktasab, ketepatan dan kesalahan, pengetahuan dzanni dan qath'i. Filsafat Islam juga mengkaji tentang definisi serta klasifikasi kebaikan dan kebahagian.
·         pada abad kesepuluh dan kesebelas
Filsuf Islam pada abad kesepuluh dan kesebelas juga sangat dipengaruhi oleh reintroduksi Aristoteles ke dalam budaya intelektual mereka. yang diselenggarakan bahwa selama agama itu benar ditafsirkan yang terdiri dari area kebenaran tidak berbeda daripada filsafat.Maka dia memegang filsafat yang mengungkapkan bahwa Islam adalah bentuk tertinggi dari kehidupan. u mntuk mebela keyakinan Islam dalam keabadian jiwa individu, meskipun sebagai Aristoteles mengajarkan kecerdasan adalah salah satu agen di semua orang, intelek potensi unik setiap orang, diterangi oleh agen kecerdasan, tetap hidup setelah kematian. Sebagai contoh, ia mengembangkan suatu bentuk teologi natural di mana tugas membuktikan keberadaan Tuhan adalah mungkin. Meskipun demikian Averroes tidak berpikir filsafat yang bisa membuktikan semua keyakinan Islam, seperti yang keabadian individu.
·        secara tradisional
 secara tradisional,akal di kaitkan dengan iman masing-masing telah dianggap sebagai sumber pembenaran untuk keyakinan agama.. Karena keduanya konon dapat melayani fungsi yang sama epistemis, itu telah menjadi masalah kepentingan banyak filsuf dan teolog bagaimana keduanya berhubungan dan dengan demikian bagaimana agen rasional harus memperlakukan klaim berasal dari sumber baik.
3
 Beberapa berpendapat bahwa tidak ada konflik antara alasan yang benar dua dipekerjakan dan iman dipahami dengan baik tidak akan pernah menghasilkan bertentangan atau bersaing klaim-sedangkan yang lain telah menyatakan bahwa iman dan akal dapat (atau bahkan harus) berada dalam pertentangan nyata dibanding proposisi tertentu atau metodologi.
 Mereka yang telah mengambil pandangan yang terakhir tidak setuju, apakah iman atau alasan harus menang ketika keduanya dalam konflik, misalnya, memprioritaskan iman bahkan ke titik yang menjadi tidak rasional positif, sedangkan menekankan kewajaran iman seperti rupa bahwa doktrin keagamaan yang irasionalitas-konflik dengan dirinya sendiri atau dengan diketahui fakta-adalah sebuah tanda bahwa itu adalah tidak sehat.

B. Temah –Temah Dalam Filsafat Islam
Ada tiga tema besar yang sangat penting dalam filsafat Islam yaitu; pertama tentang masalah Tuhan, kedua tentang Alam, dan yang ketiga tentang Manusia. Menurut Prof. Dr. Mulyadi Kartanegara ketiga tema ini penting untuk dikemukakan, dan harus ada ketika kita membahas tentang tradisi filsafat islam. Menurut beliau, pada zaman post modern ini, telah terjadi perubahan pandangan dunia secara fundamental yang mencabut akar-akar tradisi dan akhidah suatu agama.
 F. Budi Hardiman dalam bukunya juga berpendapat sama “perkembangan pemikiran dari natural orented menuju rasionalitas, menjadikan orientasi manusia dengan alamnya bergeser sangat tajam. Masyarakat pra-modern bersifat cosmo centris. dalam arti antara lingkungan batiniyah tak terdapat jarak yang tegas. Alam lahiriah terpantul dalam alam batiniyah dan sebaliknya, sehingga kita bisa berbicara mengenai harmoni antara makrokosmos dan mikrokosmos”. akibat dari modernitas yang “keliru”, sehingga kita tidak dapat lagi membedakan dengan baik pandangan bijak/arif (Filosof/hukama) yang sangat dibutuhkan untuk mengimbangi pandangan dunia skuler. Hal ini dapat merusak sendi-sendi keimanan, tradisi dan tatanan moral bangsa.
a.Tuhan
4
Tuhan adalah tema yang sangat penting dalam kajian filsafat Islam hal ini bekaitan erat dengan hal kenyakinan yang menyangkut penciptaan, atau istilah aristoteles adalah penggerak yang tak dapat digerakkan. Lain halnya di dunia Barat, banyak ilmuan dan filusuf yang berusaha menyingkirkan Tuhan, diantaranya Nietzsche. Ia berpendapat bahwa Tuhan telah mati begitu, juga Karl Marx yang mengatakan bahwa agama sebagai candu yang dapat meracuni setiap pemeluknya. Oleh karena itu, para filusuf muslim membuat suatu antisipasi khususnya bagi kaum muslimin umumnya seluruh manusia yang ingin mendapat kebenaran hakiki, yaitu kebenaran yang muncul dari suatu Zat yang Maha Benar yaitu Tuhan
. Mereka memasukkan tema Tuhan dalam suatu pemikirannya dan itu dianggap sangat penting. Bahkan, Tuhan adalah segalanya bagi para filusuf muslim, denagn pembahasan Tuhan ini maka akan terlahir pembahasan-pembahasan selain Tuhan (ciptaan-Nya) termasuk tentang alam dan manusia. Mulla Shadra menyebutkan Tuhan adalah sang wujud murni sebagai syarat bagi adanya yang lain . Para sainsific modern mensingkirkan (menyisihkan) Tuhan sebagai objek metafisik, sementara dalam tradisi intelektual Islam Tuhan adalah objek penilitian yang tertinggi dan termulia yang bukan hanya akan meyebabkan ilmu tentang-Nya sebuah disiplin ilmu yang tertinggi tetapi juga yang dipercaya akan mendatangkan kebahagiaan tertinggi bagi siapa saja yang mempelajarinya dengan demikian kajian ini dapat dijadikan sebagai basis moral bagi penelitian ilmiah. Setidaknya konsep filosofis tentang Tuhan akan mendiskusikan beberapa kajian:.
1. Tuhan sebagai sebab
Pendapat yang mengatakan Tuhan adalah sebagai penyebab yang pertama (Al-Illat, Al-Ula) pertama kali dikemukakan oleh filusuf Yunani yaitu Aristoteles. Kemudian diadopsi oleh filosuf muslim seperti Al Kindi. Konsep ini mempersepsikan Tuhan sebagai sebab dari keyakinan bahwa suatu kejadian tidak bisa terjadi karena dirinya sendiri, tetapi terjadi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain itulah yang dikatakan sebab, sedangkan kejadian itu sendiri disebut dengan akibat atau musabab.
 Kejadian selalu mengandaikan perubahan, danm seperti yang telah kita singgung, setiap
5
perubahan atau kejadian selalu membutuhkan sebuah Murajjih atau sufficient reason (alasan yang memadai) untuk pengaktualannya . Ketika Tuhan dikatakan sebagai sebab, maka biasanya disebut sebab pertama (Aristoteles, kausa prima), yang menunjukkan betapa Ia adalah sebab paling awal dan paling fundamental dari semua sebab-sebab lainnya.
Sebagai sebab pertama, maka Ia sekaligus adalah sumber, darimana segala sesuatu yang lain yakni alam semesta berasal. Kalau setiap kejadian tidak bisa dibayangkan terjadi, kecuali melalui yang lain maka setiap kejadian berarti membutuhkan sebuah sebab, tetapi sebab tersebut sebagai “kejadian pada dirinya”, jika pasti membutuhkan sebab yang lain dan seterusnya. Tetapi betapapun panjangnya rangkaian sebab ini namun tidak terbayangkan kalau rangkaian ini bersifat taksalsul (berlangsung tanpa akhir). Oleh karena itu, maka baik para filusuf Yunani maupun filusuf Muslim sepakat bahwa rangkaian sebab itu harus berhenti pada sebuah sebab yang tak bersebab (The Uncaused), yang disebut Tuhan.
2. Tuhan sebagai wujud niscaya (Wajib Al-wujud)
Sebagai filusuf Muslim meyakini bahwa argumen ini tidak memuaskan seperti halnya Ibnu Husna (W.1037) misalnya Tuhan yang dipersepsikan sebagai sebab pertama atau penggerak yang tidak bergerak hanya akan menjelaskan tentang bagaimana peristiwa alam ini terjadi, tetapi tidak secara otomatis menyatakan bahwa Tuhan adalah sumber atau pencipta alam semesta. Oleh karena itu, Ibni Sina berusaha keras untuk mengkonsepsikan Tuhan, yang menurutnya lebih baik, yaitu sebagai wujud yang niscaya .
 Tuhan menurut Ibnu Sina, adalah Wajib Al -Wujud (wujud niscaya) sedangkan selainnya (alam) dipandang sebagai Mumkin Al-wujud (wujud yang mungkin). Tetapi yang dimaksud sebagai Wajib Al-wujud disini adalah wujud yang senantiasa ada dengan sebenarnya, atau dalam istilah Mulyadi Kartanegara wujud yang senantiasa aktual. Dengan demikian, Tuhan adalah wujud yang senantiasa ada dengan sendirinya dan tidak membutuhkan sesuatu apapun untuk mengaktualkannya. Seperti halnya yang dikemukakan oleh ibn Al-Arabi bahwa Tuhan adalah Wujud dari segala Wujud.
6
 Tidak akan ada Maujud (mahluq) kalau tidak ada Wujud (kholiq). Begitupun sebaliknya. Oleh sebab karena adanya Wujud lah Maujud itu ada. Tuhan adalah Wujud satu-satu-Nya. Jika pun ada, itu bergantung pada Wujud itu. Segala sesuatu yang maujud adalah wujud (ada) tetapi bukan wujud. Antara Wujud dan Maujud ini tidak bisa di pisahkan satu sama lain-Nya.
 Dalam penciptaan materi pertama, Tuhan menciptakan segalasesuatu berpasang-pasangan-sebenarnya, wujud pertama diciptakan tanpa didahului oleh sebuah sebab, namun sebab lain haruslah dianggap sebagai pemikiran yang datang lebih awal. Ibn ‘Arabi mecontohkan dengan pemikiran kenyang datang sebelum makan, pemikiran pemuasan dahaga datang sebelum minum, keinginan melakukan berbuat baik datang sebelum berbuat,pemikiran atas pahala datang sebelum melakukan perbuatan baik, rasa takut terhadap azabnya datang sebelum berbuat dosa, dan seterusnya.
 Hal ini tentunya berbeda dengan alam yang dikategorikan sebagai Mumkin Al-wujud artinya wujud potensia sehingga memiliki kemungkinan untuk ada atau aktual, tetapi belum lagi aktual. Sebagai Mumkin Al-wujud alam membedakan dirinya dengan Wajib Al-wujud, disatu pihak dan Mumtani Al-wujud yang mustahil ada atau aktual, karena tidak memiliki potensi apapun untuk mengada di pihak lain. Alam sebagai Mumkin Al-wujud memiliki potensi untuk ada dan berbeda dengan Mumtani Al-wujud yang tidak memiliki potensi untuk ada. Namun alam sebagai potensi, ia tidak bisa mengaktualkan atau mewujudkan dirinya sendiri, karena ia tidak memiliki prinsip aktualitas untuk mengaktualkan potensinya.
3. Tuhan sebagai cahaya
Pendapat ini dikemukakan oleh tokoh Suhrawardi dengan istilahnya Tuhan adalah cahaya dari segala cahaya (Nur Al-anwar). Sebenarnya Suhrawardi yang mengkonsepsikan Tuhan sebagai cahaya sebab Al Ghazali sebelumnya juga telah menulis sebuah kitab yang berjudul Misykat Al-anwar. Dalam kitab ini ia juga mengkonsepsikan Tuhan sebagai cahaya meskipun demikian Suhrawardi adalah filusuf Muslim yang mengambil simbol cahaya secara serius dengan konsekuensi logisnya dan ia dijadikan dasar konsep filsafatnya yang dikenal Hikmah.
7
Al-isyraq atau filsafat iluminasi menurutnya apapun yang ada di alam semesta terdiri atau terbagi cahaya dengan cahaya illahi yang menjadi sumber sejatinya. Kalau Tuhan dipandang sebagai cahaya maka apakah cahaya itu, dan bagaimana “cahaya” itu dapat “menciptakan” alam semesta? Sifat cahaya adalah terang pada dirinya dan bisa membuat terang pada yang lain. Oleh karena itu cahaya menurut Suhrawardi tidak perlu didefinisikan karena definis dibuat untuk menerangkan.
 Oleh karena itu, cahaya tidak perlu didefinisikan. Yang lain perlu didenfinisikan karena belum terang bahkan gelap sehingga perlu cahaya untuk membuat terang. Suhrawardi menggambarkan bagaimana Tuhan sebagai cahaya yang menciptakan alam semesta? Alam ibarat ruang yang sama sekali gelap tetapi tidak kosong melainkan terdapat banyak hal yang secara potensial bisa nampak tetapi karena gelapnya, maka benda-benda atau entitas-entitas potensial ini masih tersembunyi dari penampakannya.
 Nah ketika Tuhan sebagai cahaya menyinari ruang yang gelap itu, maka satu per satu benda-benda yang tersembunyi menyembul dari kegelapan. Demikian juga alam semesta beserta isinya tidak akan muncul ke permukaan (diciptakan) kecuali setelah tersentuh oleh cahaya dari segala cahaya yaitu Tuhan.
4. Tuhan sebagai wujud murni
Filusuf yang mengkonsepsikan Tuhan sebagai wujud murni adalah Mulla Shadra. Dikatakan wujud murni karena berbeda dengan wujud-wujud lainnya yang selalu bercampur dengan esensi (Mahhiyah), Tuhan tidak memiliki apapun kecuali wujud. Ia tidak bercampur dengan Mahhiyah (esensi) Tuhan adalah wujud murni, tanpa esensi. Tuhan, memang diakui Mulla Shadra memiliki sifat tetapi sifat-sifat itu tiadk dikonsepsikan sebagai sesuatu yang berada di luar atau ditambahkan kepada dirinya melainkan identik dengan zatnya.
Kalau Tuhan memiliki esensi maka akan terjadi bukan hanya tarkid (komposisi) pada diri Tuhan, yang tak mungkin terjadi, tetapi juga ketergantungan Tuhan pada esensinya. Kalau itu yang terjadi maka Ia akan menjadi Mumkin Al-wujud bukan Wajib Al-wujud demikian juga
8
kalau sifat Tuhan dipandang sebagai sesuatu yang ditambahkan dari luar kepada esensinya maka akan terjadi tarkid yang mengancam keesaan-Nya. Tuhan, sebagai wujud, haruslah esa. Kalau Tuhan dikonsepsikan sebagai ”yang tertinggi derajatnyadi antara wujud-wujud yang lain yang tidak ada apa pun selainnya, yang melampaui ketinggiannya, maka wujud seperti itu haruslah hanya satu, maka pasti tidak akan ada yang tertinggi, tapi itu mustahil. Dan diantara yang keduanya harus ada yang paling tinggi. Kalau kalau di atas tuhan, masih terbayang ada yang lebih tinggi, maka yang lebih tinggi itulah Tuhan. Hal ini yang disebut dengan istilah dalil ontologis. Adapun modus pembuktian adanya Tuhan oleh mulla shadra disebut dalil al-shiddiqin. Argumen (dalil) ini menyatakan bahwa Tuhan sebagai wujud murni, tidak perlu dibuktikan, karena telah terbukti sendiri (self-evident) atau dalam istilahnya sendiri “badihi” .
     b. Alam
Ada beberapa persoalan filosofis yang sangat penting dalam ajaran filsafat islam yang berkaitan dengan alam diantaranya, apakah alam diciptakan melalui kehendak Tuhan atau sebuah keniscayaan logis?, apakah alam abadi atau diciptakan dalam waktu?, apakah alam diatur oleh Tuhan atau melalui sebab sekunder?, adakah evolusi kreatif pada alam? dan sebagainya.
1. Apakah alam diciptakan melalui kehendak Tuhan atau sebuah keniscayaan logis?
Ini adalah pertanyaan penting tentang penciptaan yang diperdebatkan oleh berbagai kalangan filusuf islam termasuk para teolog. Dalam pembahasan yang lalu Tuhan diumpamakan sebagai cahaya atau lebih jelasnya diibaratkan seperti matahari, dan alam sebagai pencaran atau cahayanya, pertanyaannya adalah apakah memancarnya cahaya matahari berdasarkan kehendak bebas matahari, atau merupakan sebuah keniscayaan? Hal ini sangat berhubungan dengan teori Imanasi yang dikemukakan oleh para filosof Peripatetik, khususnya Al Farabi dan Ibnu Sina percaya bahwa Tuhan hanya patut memikirkan sesuatu yang paling mulia, yakni dirinya sendiri saja dan tidak pantas memikirkan yang lainnya. Dengan demikian jelas bagi para filusuf di atas alam merupakan pancaran dari kegiatan berfikir Tuhan, tercipta (dalam arti memancar dari Tuhan), tidak melalui kehendakNya, melainkan sebuah keniscayaan logis.
9
Kapan saja ada kegiatan berfikir maka niscaya ada sesuatu yang terpancar dariNya, disengaja atau tidak disengaja .
1.      Apakah alam itu abadi atau diciptakan dalam waktu?
Permasalahan ini sangat diperdebatkan di antara kaum filusuf dan teolog, para filusuf dikenal sebagai pemikir muslim yang berpandangan bahwa alam itu abadi. Dalam sejarah Filsafat Islam Al Ghazali dengan sangat keras mengecam pandangan para filusuf tentang keabadian alam ini. Bahkan dia mengkafirkan para filusuf. Al Ghazali meyetakan bahwa statement para filusuf bertentangan dengan keterangan Al-Qur’an yang mengatakan “Segala sesuatu yang ada di alam semesta akan musnah (fana) kecuali Allah”, menurut Al Ghazali pandangan para filusuf tersebut tidak logis karena kalau alam itu abadi dan Tuhan abadi maka bagaimana menentukan siapa yang pencipta.
 Kalau kita mengatakan Tuhan itu abadi, sedangkan alam itu baru atau diciptakan maka kita akan mudah menunjukkan secara logis bahwa Tuhan adalah pencipta alam. Tetapi kalau kita mengatakan alam itu abadi, artinya telah ada sejak dulu bersama-sama Tuhan, maka tentu kita akan mengalami kesulitan untuk mengatakan bahwa Tuhan adalah pencipta alam, karena betapapun pencipta harus mendahului ciptaannya . Kritik di atas para filusuf khususnya Ibnu Rusyd mencoba memberikan penjelasan yang logis.
 Kalau kita kembali pada teori Emanasi dan Tuhan diibaratkan sebagai matahari sebagaimana contoh Tuhan (sebagai matahari) dan alam (cahayanya), maka tentu cahaya matahari akan ada bersamaan dengan matahari itu sendiri karena begitu ada matahari niscaya ada cahayanya. Tetapi bukankah masih dalam batas kemungkinan bahwa sekalipun sinar matahari ada bersamaan dengan adanya matahari, tetapi tetap saja matahari disebut sebagai sebab bagi sinar yang dipancarkannya .
3. Apakah alam diatur langsung oleh Tuhan atau melalui sebab sekunder?
Hal ini berkaitan dengan permasalahan teolog yaitu apakah alam sebagai ciptaan Tuhan yang diatur secara langsung atau melalui perantara? Para teolog Al Asyariyyah sebagai bentuk protes
10
kepada Mu’tazillah, mengatakan bahwa Tuhan adalah sebab langsung bagi apapun yang ada di alam semesta ini dan untuk menguatkan pendirian mereka dengan mengemukakan teori atom yang menurut hemat Majib Fachri dipinjam dari pemikir India.
 Menurut teori ini alam terdiri dari atom-atom. Tetapi atom-atom tersebut hanya bertahan satu sampai dua saat lalu musnah. Nah, untuk mempertahankan keberadaan alam ini maka Tuhan harus menciptakan atom-atom sejenis setiap ada atom yang lama musnah berarti Tuhan dipandang oleh mereka sebagai yang mencipta setiap saat. Dari pandangan di atas dapat dikatakan Tuhan adalah sebab langsung bagi semua peristiwa yang ada di alam semesta tapi disisi yang lain Tuhanpun kadang menggunakan perantara seperti malaikat untuk menyempaikan wahyu kepada nabi dan sebagainya.
 Kalau kembali keajaran Peripatetik khususnya Ibnu Sina tentang akal aktif (Al-Aql Al Fa’al) sebagai pemberi bentuk (Wahib Al shuar), maka di sana jelas betapa sebab langsung pembentukan alam di bawah bulan bukanlah Tuhan sendiri, tetapi akal aktif sedangkan istilah sunatullah yang dinyatakan dalam Al-Qur’an sebagai sesuatu yang tidak akan berubah .
3.Apakah alam berkembang secara evolutif
Kita pada umumnya berfikir bahwa alam diciptakan sekali, dan apapun yang terjadi di alam raya telah ditentukan secara fixed-deterministic sebelumnya pandangan pre deterministic ini dalam sejarah pemikiran Islam antara lain dikemukakan oleh para teolog-teolog rasionalis antara lain teolog Mu’tajillah khususnya Anazham dalam apa yang disebut sebagai teori Latensi (khumun).
 Menurut pandangan ini, penciptaan terjadi sekali dan untuk selamanya tetapi tidak semua yang telah diciptakan tersebut teraktualisasi secara sekaligus.
 Tetapi kita juga melihat beberapa pemikir khususnya para sufi dan filusuf yang berfikir bahwa alam berkembang secara evolutif kreatif, dan karena itu mereka percaya bahwa penciptaan itu terjadi secara terus-menerus dalam sejarah pemikiran Islam teori ini telah
11
dikemukakan dalam tulisan Al Jahizh, yang dalam kitabnya Al Hawayan memperhatikan betapa burung-burung yang telah bermigrasi mengalami perubahan-perubahan yang sangat gradual. Namun Ibnu Maskawenah lah yang sangat serius dalam pemikiran ini seperti yang dikatakan Iqbal dalam bukunya The Development of Metafisical in Thought in Persia khususnya dalam kitabnya Al Fauz Al Ashghar memperlihatkan evolusi pada alam misalnya dikatakan bahwa alam tumbuh mengalami perkembangan yang semakin sempurna, dan tercapai puncaknya pada pohon kurma yang telah bisa membuahi dirinya sendiri karena sifatnya yang biseksual.
Pandangan penciptaan evolutif kreatif lebih jelas lagi dalam karya-karya Jalal Al Din Rumi, khususnya Al Matsnawi, yang menjelaskan dengan gamblang jalannya proses evolusi yang dialami oleh alam hingga tercapai tingkat manusia. Manusia telah dipandang oleh Rumi berevolusi dari dunia mineral, tumbuhan, hewan dan akhirnya manusia. Rumi percaya bahwa evolusi akan berlangsung setelah kematian manusia.
 Pandangan penciptaan kreatif evolutif juga dikemukakan oleh Muhlasadra dalam teorinya yang terkenal dengan istilah gerakan substansial (Al Harakah Al Jauhariyyah) . Menurut teori ini alam terus berubah, bukan hanya pada taraf aksidental tetapi juga substansial. Mullashadra berkata setiap perubahan pada aksiden membutuhkan juga perubahan pada tingkat substansi .
c. Manusia
Dalam pembahasan manusia setidaknya ada tiga pembahasan yang sangat penting yang sering di jelaskan dalam kajian filsafat islam ertama Manusia sebagai mikrokosmos, kedua theomorfis, dan ketiga manusia dan kebebasannya.
1. Manusia sebagai mikrokosmos Manusia disebut mikrokosmos karena sekalipun kecil tetapi didalamnya ia mengandung semua unsur kosmic, dari mulai mineral, tumbuhan, hewan, bahkan unsur malaikat dan unsur illahi (berupa ruh yang ditiup Tuhan kepada dirinya), hal ini yang membuat mahkluk dikatakan sebagai mahkluk dua dimensi yaitu mahkluk fisik dan spiritual .
12
2. Manusia sebagai theomorfis Para sufi cenderung percaya bahwa manusia sebagai tujuan akhir penciptaan. Berdasarkan pada hadis qudsi yang mengatakan: kalau bukan karena engkau niscaya tidak akan Aku ciptakan alam semesta
3. Manusia dan kebebasannya Tema ini berhubungan dengan paham Jabariyah maupun         Qadariyah. Kaum Jabariyah mengatakan apapun yang dilakukan manusia semuanya telah ditentukan terlebih dahulu oleh Tuhan sedangakan Qadariyah menyatakan sebaliknya bahwa manusia adalah yang menentukan tindakan-tindakannya .


















13

BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Dengan demikian Al Gozali  dalam menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama –setelah mengeritik filsafat– sangat berhasil. Dengan usahanya itu ia mampu mengangkat derajat ilmu-ilmu agama ke jenjang yang sangat tinggi, bahkan barangkali tertinggi. Di dunia Sunni ia sangat dikagumi dan mendapat gelar “hujjat al-Islam” karena keberhasilannya itu. Akibatnya, kini “titik tekan” ilmu telah bergulir dari ilmu-ilmu rasional ke ilmu-ilmu agama.
Sehubungan dengan itu, ia menegaskan bahwa mempelajari ilmu-ilmu agama adalah fardlu ain, sedangkan ilmu-ilmu rasional, fardlu kifayah, artinya tidak wajib bagi setiap Muslim. Tapi sayang, keberhasilan al-Ghazali dalam mengangkat derajat ilmu-ilmu agama ini harus ditebus dengan harga mahal, yaitu sirnanya disiplin ilmu filsafat dan cabang-cabangnya, dan kemudian dengan melemahnya tradisi keilmuan rasional yang menyertainya.
Alam sebagai Mumkin Al-wujud memiliki potensi untuk ada dan berbeda dengan Mumtani Al-wujud yang tidak memiliki potensi untuk ada. Namun alam sebagai potensi, ia tidak bisa mengaktualkan atau mewujudkan dirinya sendiri, karena ia tidak memiliki prinsip aktualitas untuk mengaktualkan potensinya.








14

DAFTAR PUSTAKA

Kartanegara, Mulyadi, MA Prof. Dr., Gerbang Kearifan, Sebuah Pengantar Filsafat Islam, Jakarta, Lentera Hati,2006
Hardiman, F. Budi, Melamau positivisme dan modernisme Jakarta, Kanisius, 2003
 Ibn ‘Arabi Penj. Hodri Ariev, Menata Diri dengan Tadbir Illahi terjm dari kitab Tadbirat al-Illahiyyah fi Ishlah al-Mamlakah al-Insaniyyah Jakarta, Serambi, 2004
 Leaman, Oliver Penj. Musa Kazhim dan Arif Mulyadi, Pengantar filsafat Islam, Bandung; Mizan; 2002
Muthahhari, Murtadha Penj. Tim Mizan, Pengantar Pemikiran Shadra, Filsafat Hikmah, Bandung; Mizan, 2002






http://www.google.com/images/infowindow/iw_n.pnghttp://www.google.com/images/infowindow/iw_n.pnghttp://www.google.com/images/infowindow/iw_w.pnghttp://www.google.com/images/infowindow/iw_e.pnghttp://www.google.com/images/infowindow/iw_s0.pnghttp://www.google.com/images/infowindow/iw_s0.pnghttp://www.google.com/images/infowindow/iw_c.png
http://www.google.com/images/logo_smallest.png
Teks asli Inggris
Scotus first restricts the scope of Aquinas's rational theology by refuting its ability to provide arguments that stop infinite regresses.
http://www.google.com/images/zippy_plus_sm.gifSarankan terjemahan yang lebih baik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar