Pengikut

Selasa, 20 Maret 2012

KOMUNIKAN PERSPEKTIF AL-QURAN DAN HADIST

BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Komunikan atau Mad’u merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan berhasil atau tidaknya suatu dakwah, menurut penulis komunikan atau mad’u perspektif Al-Qur’an dan hadist mengenal hipologi manusia adalah salah satu faktor penentu suksesnya dakwah sehingga penulis tertarik untuk membahasnya, karena masih banyak orang yang kurang memahami apa yang dimaksud “komunikan perspektif al-Qur’an dan Hadist” Semoga Pembaca tertarik dengan pembahasan atau menikmati isi makalah yang penulis bahas.
2.      Rumusan Masalah
2.1  bagaimana Pola strata mad’u sebagai landasan normatif
2.2  mengapa kita harus mengenal rumpun mad’u
3.      Tujuan
3.1  agar pembaca mengetahui strata mad’u
3.2  supaya pembaca memahami rumpun mad’u




BAB II
PEMBAHASAN
KOMUNIKAN PERSPEKTIF AL-QURAN DAN HADIST
Salah satu tanda kebesaran Allah di alam ini adalah keragaman mahluk yang bernama manusia. Allah SWT berfirman :

Artunya :
Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujarad : 3)
Dalam ayat lain Allah berfirman :



Artinya :
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang Mengetahui. (QS. Ar-Ruum)
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa keragaman jenis kelamin, suku, bangsa warna kulitdan bahasa sebagai tanda kebesaran Allah yang perlu diteliti dengan seksama untuk mengenal lebih dekat tipologi manusia untuk selunjutnya menentukan pola interaksi buat msing-masing kelompokyang berbeda. Mengenal tipologi manusia adalah salahsatu faktor penentuan seksesnya tugas dakwa, dan merupakan salah satu fenomena alam yang hanya bisa ditangkap oleh orang alim.
A.    MENGENAL STRATA MAD’U SEBAGAI LANDASA NORMATIF
Salah satu makna hikmah dalam berdaqwa adalah nempatkan manusia sesuai dengan kadar yang telah ditetapkan Allah. Disaat terjuan di sebuah komunitas, atau melakukan kontakdengan seseorang mad’u, da’I yang baik harus mempelajari terlebih dahulu data riil tentang komunikasi atau pribadi yang bersangkutan.
Berikut ini beberapa landasan normatif tentang pola komunikasidan interaksi dengan beragam manusia. 





Ø  Allah berfirman

Artinya :
Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, Kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. kami tinggikan derajat orang yang kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui. (QS. Yusuf : 76)
Hasan al Bashri berkata: "Tidak ada seorang alim pun kecuali di atasnya ada orang alim lagi sampai berakhir kepada Al­lah."' Ayat ini memberikan informasi kepada kita bahwa kadar ilmu pengetahuan manusia bertingkat. Informasi ini sekaligus isarat kepada kita bagaimana membangun komunikasi dengan berbagai level manusia tersebut.
Ø  Ali bin Abi Thalib berkata :
حَدِّثُواالنَّا سَ بِمَا يَعْرِ فُوْنَ, اَتَّحِبَّوْنَ اَنْ يَّكَذّنَ الله وَرَسُوْ لَهُ
Berbicaralah dengan orang sesuai dengan tingkat pengetahuan mereka, apakah engkau sutra Allah dan Rasul-Nya didustakan?
Ali sangat memahami karakter manusia, dakwah yang dilakukan tanpa memandang strata mad'u bisa berakibat fatal, ayat Allah dan sabda Rasul bisa menjadi bahan olok­-olokkan orang yang tidak paham.
Ø  Dari Aisyah ra., beliau berkata :
اَمَرَ نَارَ سُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنْ نُتَرِلَ انْ نُتَرِلَ النَّا سَ مَنَازِ لَهُمْ
Rasulullah SAW. memerintahkan kepada kami untuk menem­patkan manusia sesuai dengan kedudukannya.
Ø  Ketika mengutus Mu'adz bin Jabal ke Yaman, Rasulullah SAW. membekali beliau dengan ilmu dakwah. Rasulullah
SAW. bersabda:
عَنِ ابْنِ عَبَّا سٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَا لَ, قَلَ رَسّوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلضيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذِبْنِ جَبَلِ حِيْنَ بَعَثَهُ ِالَى الْيَمَنِ : اِنَّكَ سَتَأ تِى قَوْمًااَهْلَ كِتَبٍ فَاِذَاجِثَتَهُمْ فَادْعُهُمْ اِلَى اَنْ يَثْهَدُوْاَنْ لاً ِالَهَ اِلاً اللهُ وَاَنَّ مُحَمَّدَّارَّسُولُ اللهِ, فَاِنْ هُمْ اَطَاعُوْا لَكَ نِذَا لَكَ فَاَ خْبْرَهُمْ اَنْ اللهَ قَدْ فَرَ ضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ, فَاِنْهُمْ اَطَا عُوْالَكَ بِذَ الِكَ فَاِ خْبِرْ هُمْ اَنً الله قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُوْخَذُمِنْ اَغْنِيَاءِهِمْ فَتُرَدَّ عَلَى فَقُرَاءِهِمْ, فَاِنْ هُمْ اَطَاعُوْا لَكَ بِذَالِكَ فَاِيَّكَ وَكَرَانَمَ امْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ اْلْمَظْلُوْمِ فَاِنَّهُ لَيْننَ بَيْنَهُ اللهِ حِجَابٌ
Rasulullah berkala kepada Mu'adz bin Jabal sebelum beliau melepasnya ke Yaman : "Sesungguhnya engkau akan mendatangi negeri yang pendudukiga Abli Kitab. Jika kamu telah sampai ke sana, dakwahilah mereka untuk mengikrarkan kalimat syahadat. Jika mereka merespon dakwahmu, maka sampaikan kepada mereka babuwa Allah mewajibkan kepada mereka shalat lima maktu sehari semalam. Jika mereka menaati perintah ini, sampaikan kepada mereka bahnwa Allah mewajibkan kepada mereka Zakat yang diambil dari orang kaya untuk didis­tribusikan kepada orang miskin di antara mereka. Jika mereka menaati perintah ini, maka berhati-hatilah dengan harta-harta berharga mereka, dan berhati-hatilah dengan doa orang yang berzalimi, karena doa mereka tidak berbijab untuk sampai kepada Allah.
Rasulullah membekali Mu'adz dengan informasi mad'u yang akan dihadapi Mu'adz dan apa yang harus disampaikan, dan bagaimana langkah setelah mereka merespon ajakan pertama atau menolak.
Ø  Rasulullah SAW. berkata kepada Aisyah :
“Wahai Aisyah, andaikan bukan karena kaummu baru masuk Islam, pasti aku akan merombak Ka'bah, dan aku jadikan dua pintu, pintu untuk masuk dan pintu untuk keluar." Dalam menjelaskan hadits ini, Ibnu Hajar al-Asqalani berkata : "Orang Quraisy sangat mengagungkan Ka'bah. Rasulullah SAW, berencana untuk merubah bangunannya, tetapi beliau khawatir disangka macam-macam oleh penduduk Quraisy yang baru masuk Islam, akhirnya beliau mengurungkan rencananya.”
Inilah beberapa contoh aplikatif Rasulullah SAW. melak­sanakan perintah Allah agar berdakwah dengan hikmah.
B.     MENGENAL RUMPUN MAD'U
Tidak ada kesepakatan di antara peneliti dakwah tentang jumlah dari rumpun mad'u. Beberapa pendapat yang dapat kami himpun sebagai berikut :
1.      Di awal surah al-Baqarah, mad'u dikelompokkan dalam tiga rumpun, yaitu: mukmin, kafir, dan munafik. Mujahid berkata : “empat ayat di awal Surah al-Baqarah men­deskfipsikan tentang sifat orang mukmin, dua ayat mendeskripsikan sifat orang kafir, dan tiga belas ayat berikutnya mendeskripsikan sifat orang munafik”. Dalam istilah M. Natsir, kelompok mad'u ada tiga, yaitu” kawan yang setia sehidup semati, dari awal sampai akhir dan lawan yang secara terang-terangan memusuhinya dari awal sampai akhir; dan lawan yang bermain pura-pura menjadi kawan, sambil menunggu saat untuk menikam dari belakang
2.      Secara umum mad'u menurut Imam Habib Abdullah Haddad dapat dikelompokkan dalam delapan rumpun, yaitu
a.       Para ulama
b.      Ahli zuhud dan ahli ibadah
c.       Penguasa dan pemerintah
d.      Kelompok ahli perniagaan, industri dan sebagainya
e.       Fakir miskin dan orang lemah
f.       Anak, istri dan kaum hamba
g.      Orang awam yang taat dan yang berbuat maksiat
h.      Orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul­-Nya.'
3.      Abdul Karim Zaidan dalam Usbul al-da’wa mengelom­pokkan mad'u dalam empat rumpun, yaitu :
a.       Jumbur al-nas 
b.      Munafiqun
c.       Abli maskiyah
4.      Muhammad Abu al-Path al Bayuni mengelompokkan mad'u dalam dua rumpun besar, yaitu:
a.       Rumpun muslimun atau mukminun atau umat lstijabab (umat yang telah menerima dakwah),
b.      Non-muslim atau umat dakwah (umat yang perlu sampai kepada mereka dakwah Islam). umat lstijabab dibagi dalam tiga kelompok, yaitu:
Ø  Sabiqun bi al-khairat (orang yang saleh dari bertakwa),
Ø  Dzalimun linafsib (orang fasik dan ahli maksiat)
Ø  Muqtasbib (Ma’du yang labil keimanannya), sedangkan Umat da’wah dibagi menjadi empat kelompok, yaitu :
ü  Atheis
ü  Musyrikun
ü  Ahli kitab
ü  Munafiqun
5.      Sa'id bin Ali bin Wahf al-Qahthani melakukan pembagian Yang hampir sama dengan al-Bayanuni, yaitu membagi mad'u dengan kategori muslim dan non-muslim. Mad'u dari rumpun muslim dibagi dua, yaitu :
1.      Muslim yang cerdas dan siap menerima kebenaran, dan
2.      Muslim yang siap menerima kebenaran, tetapi mereka sering, lalai dan  kalah dengan hawa nafsu. Sedangkan non-muslim, pembagi­annya sama dengan al-Bayanuni, tetapi beliau tidak memasukkan munafik dalam kelompok non-muslim."
6.      M.Bahri Ghazali mengelompokkan mad'u berdasarkan tipologi dan klasifikasi masyarakat. Berdasarkan tipologi, masyarakat dibagi dalam lima tipe, yaitu :
a.       Tipe innovator, yaitu masyarakat yang memiliki keinginan keras pada setiap fenomena sosial yang sifatnya membangun, bersifat agresif dan tergolong memiliki kemampuan antisipatif dalam setiap langkah.
b.      Tipe pelopor, yaitu masyarakat yang selektif dalam menerima pembaharuan dengan pertimbangan tidak semua pembaharuan dapat membawa perubahan yang positif. Untuk menerima atau menolak ide pem­baharuan, mereka mencari pelopor yang mewakili mereka dalam menggapai pembaharuan itu.
c.       Tipe pengikut dini, yaitu masyarakat sederhana yang kadang-kadang kurang siap mengambil resiko dan umumnya lemah mental. Kelompok masyarakat I'm umumnya adalah kelompok kolas dua di masyarakatnya, mereka perlu seorang pelopor dalam mengambil tugas kemasyarakatan.
d.      Tipe pengikut akhir, yaitu masyarakat yang ekstra hati­-hati sehingga berdampak kepada anggota masyarakat yang skeptis terhadap sikap pembaharuan. Karma faktor kehati-hatian yang berlebih, maka setiap gerakan pembaharuan memerlukan waktu dan pendekatan yang sesuai untuk bisa masuk.
e.       Tipe kolot, yaitu tidak mau menerima pembaharuan sebelum mereka benar-benar terdesak oleh lingkungannya.
Sedangkan berdasarkan klasifikasi, masyarakat dapat dihampiri dengan dua pendekatan, yaitu :
a.       Pendekatan kondisi sosial budaya, yang terbagi dalam masyarakat kota dan desa;
b.      Pendekatan tingkat pemikiran, terbagi dalam dua kelompok, yaitu: kelompok masyarakat maju (industri), dan kelompok masyarakat terbelakang."
Berdasarkan data-data rumpun mad'u di atas, dapat dikelompokkan dengan lima tinjauan, yaitu:
a.       Mad'u ditinjau dari segi penerimaan dan penolakan ajaran Islam, terbagi dua, yaitu muslim dan non-muslim.
b.      Mad'u ditinjau dari segi tingkat pengamalan ajaran agamanya, terbagi tiga, dzalimun linafsih, muqtashid dan sabiqun bilkhairat.s
c.       Mad’u ditinjau dari tingkat pengetahuan agamanya, terbagi tiga, ulama, pembelajaran dan awan.
d.      Mad’u ditinjau dari struktur sosialnya, terbagi tiga : pemerintah (al-Mala), masyarakat maju (al-mufrathin) dan terbelakang (al-mustadh’afin).
e.       Mad’u ditinjau dari perioritas dakwa, dimulai dari sendiri, keluarga,masyarakat, dan seterusnya.















BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Salah satu makna hikmah dalam berdakwah adalah menempatkan manusia sesuai dengan kadar yang telah di tetapkan Allah, maka dari itu sebelum berdakwah yang harus diperhatikan oleh seorang pendakwah yaitu harus mengenal strata mad’u sebagai landasan normative serta harus mengenal rumpun mad’u agar dakwah yang disampaikan mudah diterima dan diserap oleh mad’u.  
3.3  Saran
Kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini dan makalah yang akan dating, penulis dengan penuh rasa kerendahan hati meminta pembaca untuk bersimpati untuk memberukan kritik dan sarannya. Atas kritik dan sarannya penulis ucapkan ribuan terima kasih.









DAFTAR PUSTAKA

M. Yunan Yusuf, 2003. Metode Dakwah. Jakarta. Prenada Media


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar