Pengikut

Rabu, 21 Maret 2012

Makalah Abu Bakar


Pendahuluan
1.      Latar Belakang
Abu Bakar As-Sidiq adalah khalifah yang terkenal dengan kebenarannya (kejujurannya) dam keadilam dalam memimpin rakyatnya di masa kepemimpinannya itu. Banyak permasalahan-permasalahan yang ia hadapi di saat ia menjadi khalifah.
Abu Bakar adalah khalifah pertama di bai’at setelah wafatnya nabi Muhammad saw. Dilihat dari sekelumit cerita tentang khalifah Abu Bakar As-Sidiq menjadikan kami penulis  begitu besar keinginan kami untuk mengangkat tema tentang “Khalifah Abu Bakar As-Sidiq”. Sebagai makalah kami yang kami jadikan sebagai bahan diskusi  kami pada mata kuliah “sejarah peradaban islam”.
Karena kami merasa sudah sewajarnya jika kita semua sebagai umat islam mengetahui alat belakang kehidupan sosok sang khalifah Abu Bakar As-Sidiq agar kiranya dapat kita jadikan contoh ketika kita menjadi pemimpin nanti.
2.      Rumusan Masalah
Membahas tentang kehidupan seorang khalifah bukanlah  sesuatu yang gampang atau mudah, melainkan begitu luas  dan banyak. Akan tetapi, pada makalah ini kami pemakalah membatasi pembahasan kami pada:
1.      Bagaimanakah kehidupan Abu Bakar As-Sidiq di masa kecil?
2.      Bagaimanakah dan dimanakah proses pengangkatan Abu Bakar As-Sidiq sebagai khalifah  pengganti nabi setelah  nabi wafat?
3.      Bagaimanakah masa pemerintahan Abu Bakar As-Sidiq?
Batasan-batasan yang kami pemakalah buat sematqa-mata hanya agar diskusi yang akan dilaksanakan tidak menyimpang dari silabus pada mata kuliah sejarah peradaban islam yang telah ditentukan.
3.      Tujuan
Tak banyak tujuan pemakalah pada adanya makalah ini, hanya harapan kami yang tak pernah pupus adalah semoga makalah ini dapat menjadi bahan diskusi pada mata kuliah  sejarah peradaban islam, dan makalah ini dapat menambah wawasan kami, dan pada pemakalah khususnya dan teman-teman mahasiswa sekalian tentang Khalifah Abu Bakar As-Sidiq.
Harapan kami semoga makalah ini dapat diterima sebagaimana mestinya dan digunakan sebagaimana baiknya. Semoga dengan adanya makalah ini kita sebagai mahasiswa yang berkualitas dapat mengetahui dengan sempurna siapakah sosok khalifah Abu Bakar As-Sidiq itu sebenarnya.









PEMBAHASAN
A.   Riwayat hidup Abu Bakar As-Siddiq
Masa kecil Abu Bakar As-Siddiq tidak banyak membantu untuk mengenal pribadinya dalam situasi kehidupan saat itu. Cerita sekitar masa anak-­anak dan remajanya tidak juga memuaskan. Apa yang diceritakan tentang kedua orang tuanya tidak lebih Bari pada sekedar menyebut nama saja. Setelah Abu Bakar menjadi tokoh sebagai muslim yang penting, baru nama ayahnya, namun pengaruh ayahnya dalam kehidupan Abu Bakar tidak ada. Tetapi yang menjadi perhatiaan dikalangan sejarawan sawaktu itu justru yang menyangkut kabilahnya serta kedudukannya di tengah-tengah masyarakat Quraisy. Tak bedanya mereka itu dalam hal ini dengan sejarah Arab umumnya. Dengan melihat pertaliannya kepada salah satu kabilah sudah cukup untuk mengetahui watak dan akhlak mereka. Adakalanya yang demikian ini baik, dan kadang juga mereka yang percaya pada prinsip keturunan itu berguna untuk menentukan kecenderungan mereka, kendati yang lain menganggap penilaian demikin sudah berlebihan, dan ini yang membuat mereka tidak cermat dalam meneliti.[1]
Semasa kecil Abu Bakar hidup seperti umumnya anak-anak di Mekkah. Lepas masa anak-anak ke masa usia remaja ia bekerja sebagai pedagang pakaian. Usahanya ini mendapat sukses. Dalam usia muda itu ia kawin dengan Qutailah binti Abdul Uzza. Dari perkawinan ini lahir Abdullah dan Asma. Asma inilah yang kemudian dijuluki  Zaitun Nitaqain. Sesudah dengan itu ia kawin lagi dengan Umm Rauman bint Amir bin Uwaimir. Dari perkawinan ini lahir Abdur­Rahman dan Aisyah. Kemudian di Medinah is kawiin dengan Habibah binti Khairijah, setelah itu dengan Asma' bint Umais yang melahirkan Muhammad. Sementara itu usaha dagangannya berkembang pesat dan dengan sendirinya ia memperoleh laba yang cukup besar.[2]
Di dalam keberhasilannya dalam perdagangannya Abu Bakar mungkin saja disebabkan oleh pribadi dan wataknya. Berpewatakan kurus, putih, dengan sepanjang bahu yang kecil dan muka lancip dengan mata yang cekung disertai dagu yang agak melonjong dan urat-urat tangan yang tampak jelas, begitulah dilukiskan oleh putrinya, Aisyah Ummulmukminin. Begitu damai perangainya,  sangat lemah lembut dan sikapnya tenang. Dan tak mudah terdorong hawa nafsu. Dibawa oleh sikapnya yang selalu tenang, pandangannya yang jernih serta pikirannya yang tajam banyak kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang tidak diikutinya. Aisyah menyebutkan bahwa ia tak pemah minum-minuman keras, di zaman jahiliyah ataupun Islam, meskipun penduduk Mekkah umumnya sudah begitu hanyut ke dalam khomar dan mabuk-mabukkan.
Ia seorang ahli silsilah bicaranya sedap dan pandai bergaul, seperti dilukiskan oleh Ibnu Hisyam.
Abu Bakar adalah laki-laki  yang akrab dikalangan masayarakat, disukai karena ia serba mudah, ia dari keluarga Quraisy yang paling dekat dan paling banyak mengetahui seluk beluk kabilah itu yang baik dan yang jahat. Ia seorang pedagang dengan perangai yang sudah cukup terkenal.
Karena suatu masalah, pemuka-pemuka masyarakat sering datang menemuinya mungkin karena pengetahuannya, karena pedagangannya atau mungkin juga karena cara pergaulannya yang enak.
Hanya dua tahun berapa bulan saja Abu Bakar lebih muda dari Muhammad. Besar sekali kemungkinannya, usia yang tidak berkejauhan itu, persamaan bidang usaha serta ketenangan jiwa dan perangainya itu pula yang membuat Abu Bakar cepat dalam menerima Islam.[3]
Orang pertama yang didekati Muhammad untuk masuk Islam adalah Abu Bakar ibn Abi Quhafah. Abu Bakar adalah seorang saudagar terkenal di kota, di mana para saudagar adalah penguasa. Ia berasal dari suku Terhor Taim, salah sebuah iklan Quraisy. Ia berusia tiga puluh delapan tahun tetapi sudah menjadi kepala suku dan mempunyai kekuasaan serta pengaruh besar terhadap orang Quraisy secara keseluruhan. Diriwayatkan bahwa ia adalah orang yang sangat banyak tahu tentang silsilah Quraisy dan suku Arab lainnya, serta nenek moyang pertautan darah antar mereka.[4]
B.    Pengangkatan Abu Bakar As-Sidiq sebagai Khalifah
Ketika pelantikan Abu Bakar selesai, jenazah Nabi dirumah masih dikelilingi keluarga; Ali bin Abi Talib. Abbas bin Abdul Muttallib bersama beberapa orang yang turut menyelenggarakan. Tidak jauh dari mereka, di dalam masjid ada juga beberapa orang dari kalangan muhajirin.[5]
Seperti kita lihat, balat ini selesai dalam keadaan yang membuat beberapa sumber menghubungkan kata-kata ini pada umar. "Peristiwa sangat tiba-­tiba sekali."
Tetapi sumber-sumber lain berpendapat bahwa Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah sudah sepakat, bahwa pimpinan memang akan berada ditangan Abu Bakar. Apa pun yang akan dikatakan kedua sumber itu, yang tak jelas ialah, bahwa keputusan saqifah ini telah menyelamatkan Islam yang Baru tumbuh itu dari malapetaka, yang hanya Allah saja yang tahu akan segala akibatnya.[6]
Abu Bakar telah meratakan jalan untuk menghilangkan segala perselisihan dikalangan Muslimin. Ia juga telah meratakan jalan menuju politik yang polanya sudah diletakan oleh Rasulullah untuk mencapai keberhasilan sehingga membuka pula jalan ke arah kedaulatan Islam kemudian hari. Dengan karunia Tuhan juga, akhimya agama ini tersebar ke segenap penjuru dunia. Bahkan sesudah itu mereka merasa cukup senang di samping Muhajirin. Mereka pun puas sekali dengan wasiat Rasulullah dalam sakitnya yang terakhir tatkata berkata:
يا معشر المهاجرين استو صوابالانصار خيرا
فإن الناس يزيدون والانصار على هيتها لايزيدا
وإنهم كانوا عيبتى التى أويت إليها
فأحسنوا إلى محسنهم و تجاوزوا عن مسيسهم
Artinya:
"Saudara-saudara Muhajirin, jagalah kaum Anshar itu baik-baik; sebab selama orang bertambah banyak, orang-orang Anshar Akan seperti itu juga keadaannya. Mereka orang-orang tempat aku menyimpan rahasiaku dan yang telah memberi pertindungan kepadaku. Hendaklah kamu berbuat baik atas kebaikan mereka itu dan maafkanlah kesalthan mereka.[7]
Dalam sebuah sumber yang disebutkan oleh Ya'qubi, juga penulis-­penulis sejarah yang lain menyebutkan, dan masih cukup terkenal bahwa ada kelompok Muhajirin dan Ansar yang mengadakan pertemuan dengan Ali bin Abu Talib di rumah Fatimah putri Rasulullah dengan maksud hendak membaiat Ali. Di antara mereka itu Khalid bin Said yang mengatakan: "Sungguh, tak ada orang yang lebih patut menempati kedudukan Muhammad selain engkau.[8]
C.   Masa pemerintahan khalifah Abu Bakar As-Sidiq
Kata-kata ini diungkapkan oleh para sejarawan sebagai bukti tentang sifat Abu Bakar yang sangat rendah hati dan bijak. Menurut hemat saya kata-kata itu perlu kita renungkan dengan arti yang lebih dalam, yang ada hubungannya dengan kepribadian dan watak Abu Bakar, yakni betapa jelasnya Muslimin dahulu itu melukiskan konsep pemerintahan. Berabad-abad sudah berialu sebelum pemerintahan Rasulullah, disusul dengan berabad-abad Pula sesudahnya, dalam pada itu sudah sekian banyak bangsa dengan raja-raja clan penguasa-penguasanya yang menganggap diri khalifah Allah, wakil Tuhan di bumi. Oleh pengikut-pengikutnya memang dianggap demikian.
Dengan begitu mereka menyandang kesucian, yang tak ada pada orang lain, seperti halnya di Mesada zaman Firaun dahulu kala, di antara mereka ada yang berkata, kepada bangsanya: "Akulah Tuhanmu Yang Tertinggi". Kebanyakan orang Mesir ketika itu mempercayai sifat-sifat ketuhanan itu pada raja-raja mereka, lalu kepercayaan demikian tambah diperdalam oleh propaganda Para pendetanya. Demikian pula halnya di Asiria, di Iran, di India dan lain-lain yang semasa dengan Firaun. Raja-raja yang paling rendah hati masa itu menganggap diri wakil Tuhan di bumi.[9]
Pada abad-abad pertengahan di Eropa banyak Bari kalangan pendeta yang menganggap para raja itu memang benar-benar suci, kesucian yang diperoleh dari Tuhan sehingga kekuasaan mereka atas manusia sudah tak terbatas lagi, dan menganggap mereka wakil-wakil Tuhan.
Abu Bakar tidak menolak bahwa dia memang Khalifah Rasulullah, tetapi dia menggantikan. Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam dalam memimpin kaum Muslimin serta mengurus segala kepentmgan mereka dalam batas-batas yang sesuai dengan apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah. Tetapi yang di balik itu, yang dikhususkan Allah hanya bagi Rasul-Nya, tak pernah terlintas dalam pikiran Abu Bakar bahwa dia juga mewakilinya, juga khalifahnya. Bagaimana hal ini akan terpikirkan, bukankah Rasulullah penutup para nabi dan para rasul, tak seorang pun dapat menggantikan kenabian dan kerasulannya. Dia sudah menjadi pilihan Allah, yang diberi Kitab dengan segala kebenarannya, agama orang-orang beriman yang sudah dilengkapi dengan kenikmatan, sudah disempumakan bagi mereka. Itulah yang diucapkan oleh Abu Bakar dalam pidato pelantikannya dengan mengatakan:
"Dalam hal ini saya sudah terpilih, dan saya menerimanya dengan rasa berat hati. Demi Allah, yang saya harapkan sekiranya ada di antara kalian yang dapat menggantikan saya. Sungguh, jika kalian menuakan saya untuk bekerja seperti yang dikerjakan oleh Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam saya tidak sanggup. Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam seorang hamba yang diberi kehormatan oleh Allah dengan wahyu, yang akan membebaskannya dari kesalahan. Tetapi saya seorang manusia biasa dan saya bukanlah yang terbaik diantara kamu sekalian. Awasilah saya; jika kalian melihat saya berlaku baik, taatilah saya, dan kalau kalian melihat saya sudah menyimpang, luruskanlah".
Sudah kita lihat bagaimana Abu Bakar memerangi mereka yang mengaku­ngaku nabi, dan mereka yang murtad dari agama Allah serta keimanan kepada Rasul-­Nya, dan bagaimana gigihnya ia memerangi itu semua, sampai akhirnya mereka kembali kepada agama dan petunjuk yang benar.[10]
Bentuk pemerintahan Abu Bakar membuktikan bahwa memang lebih dekat pada kesederhanaan orang-orang Arab badui dan menurut tradisi Arab semata-mata, yang samasekali tak terpengaruh oleh sistem-sistem lain yang ada ketika itu, di Rumawi atau di Persia. Kendati dalam kesederhanaannya itu la merupakan mata rantai yang kuat menyambung masa pemerintahan di zaman Rasulullah dengan masa kedaulatan benar itu. Eratnya hubungan dari segi duniawi ini lebih mirip dengan masa Rasulullah. la tak pemah mengerjakan sesuatu yang tidak dikerjakan oleh Nabi, clan tidak pula meninggalkan apa pun yang dikeijakan oleh Nabi. Tetapi dia tak sampai menjadi orang jumud, yang hanya bertaklid. Bahkan kesedihannya ditinggalkan Rasulullah membuka pintu ijtihad lebar-lebar baginya dalam bidang politik kaum Muslimin. Karena ijtihadnya jugalah maka Allah memberikan lcemenangan kepadanya dalam membebaskan Irak dan Syam. Kemudian setelah itu ia merintis jalan untuk sebuah pemerintah kesatuan di negeri Arab atas dasar permusyawaratan dalam batas-batas perintah dan larangan Allah. Dalam menghadapi suatu masalah la tak pemah bersikap fanatik secara berlebihan, tetapi ia menempuh jalan di bawah cahaya Allah, demi kepentingan hamba-hamba Allah juga. Yang sering mengantarkan imannya ke jalan yang lurus ialah karena pertanggungjawabannya kepada Allah, juga pertanggungjawabannya kepada hamba-­Nya. Allah keras sekali dalam membuat perhitungan."[11]
Keimanan Abu Bakar bahwa dia bertanggung jawab kepada Allah dan kepada manusia itulah yang memberi petunjuk jalan kepadanya. Karena rasa tanggung jawab itulah pula, maka setiap tindakan yang akan dilakukannya ia musyawarahkan terlebih dulu dan beristikharah kepada Allah. Jika Allah sudah memberikan pilihan kepadanya maka barulah is bertindak. Kalau sudah mengambil suatu keputusan ia tak pemah raga. Setiap masalah yang dikemukakannya kepada kaum Muslimin telah dipertimbangkannya matang-matang.
Kita sudah melihat lalu apa yang telah dilakukannya, kemudian kita lihat juga bagaimana ketika ia dalam keadaan sakit mendengarkan laporan Musanna Asy‑ Syaibani yang baru kembali dari Irak dengan mengusulkan agar memakai tenaga orang-orang yang pernah murtad dan sudah kembali kepada Islam untuk menghadapi Persia, dan bagaimana pula ia berpesan kepada Umar agar memberikan bantuan kepada Musanna dengan menyertakan mereka bersamanya berangkat ke medan perang. Selama dalam sakitnya itu Abu Bakar begitu banyak memikirkan masalah-masalah kaum Muslimin, lebih-lebih mengenai persatuan mereka. Yang sangat dikhawatirkannya jika sampai terjadi perbedaan pendapat di kalangan umat. Oleh karena itu is berwasiat, dan wasiatnya ini merupakan pekerjaannya yang terkhir mengenai pemerintahan, demi kebaikan Islam dan kaum Muslimin.[12]








PENUTUP
Kesimpulan
Setelah nabi wafat kepemimpinan Abu Bakar dengan kepatuhan dan disiplin yang tetap dipertahankan, begitu indah sebagai teladan. Didalam pengangkatan sebagai khalifah hanya Ali bin Abi Thalib yang tidak sependapat untuk membai’at Abu Bakar.
Dalam memimpin umat islam Abu Bakar berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Hadits nabi saw. Abu Bakar As-Sidiq adalah seorang pemimpin yang sangat bijaksana, maka tidak salah jika saat itu para sahabat memilih Abu Bakar As-Sidiq sebagai khalifah  yang menggantikan kepemimpinan nabi Muhammad saw setelah wafatnya beliau.
Banyak permasalahan-permasalahan yang Abu Bakar As-Sidiq hadapi selama ia menjadi khalifah, tapi dengan kesabaran dan ketangkasan beliau dalam  memecahkan masalah maka semua permasalahan-permasalahannya dapat diselesaikan dengan baik dan dengan hasil yang baik.







DAFTAR PUSTAKA

Haikal, Muhammad Husein. Abu Bakar As Sidiq. (Jakarta. Litera Antar Nusa, 2003)
Al-Ismail, Tahlia. Tarikh Muhammad SAW, (Jakarta PT. Raja Grafindo Persada, 1996)

















KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT. Karena atas rahmat dan Inayah-Nya, makalah ini dapat diselesaikan. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam kebodohan menuju dunia peradaban dan ilmu pengetahuan dan penuh dengan teknologi-teknologi modern seperti yang kita rasakan sekarang ini.
Makalah kami pada mata kuliah sejarah peradaban Islam yang berjudul Abu Bakar Sidiq ini bertujuan sebagai bahan belajar rekan-rekan mahasiswa dan juga sebagai bahan diskusi.
Ucapan terimakasih untuk buku-buku yang telah kami kutip untuk menambah kelengkapan makalah ini. Namum kami menyadari atas kelemahan-kelemahan makalah ini yang sangat jauh dari kata sempurna. Maka dari itu, kritik dan saran dari rekan-rekan sekalian sangat penulis harapkan untuk perbaikan makalah ini kedepannya.


Bengkulu,   Januari 2010


Penulis








DAFTAR ISI

Halaman Judul.........................................................................................        i
Kata pengantar........................................................................................        ii
Daftar isi..................................................................................................        iii
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................        1
  1. Latar Belakang............................................................................        1
  2. Rumusan masalah........................................................................        1
  3. Tujuan..........................................................................................        2
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................        3
  1. Riwayat Hidup Abu Bakar As-Sidiq..........................................        3
  2. Pengangkatan Abu Bakar As-Sidiq sebagai khalifah
Penganti nabi...............................................................................        6
  1. Masa pemerintahan khalifah Abu Bakar As-Sidiq......................        8
BAB III PENUTUP...............................................................................        13
  1. Kesimpulan .................................................................................        13
DAFTAR PUSTAKA












 
 


[1] Muhammad Husin Haikal, Abu Bakar As-sidiq, (Jakarta: Penerbit Dar al-Maaref, 2003), hal. 1.

[2] Ibid., hlm. 3.
[3] Tahia al-Ismail, Tarikh Muhammad saw, (Jakarta: Penerbit PT Raja Grafmdo Persada,1996), hlm. 48

[4] Muhammad Husain Haekal, Op.Cit., hlm 45.
[5] Ibid., hlm. 44
[6] Ibid., hlm. 45-46

[7] Ibid., hlm. 46
[8] Ibid., hlm. 47

[9] Ibid., hlm. 343.
[10] Ibid., hlm. 344-345
[11] Ibid., hlm. 349

[12] Ibid., hlm. 362

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar