Pengikut

Jumat, 16 Maret 2012

Makalah Pengembangan Kurikulum PAI “Prinsip, Faktor dan Diterminan Pengembangan Kurikulum”

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam pengebangan kurikulum ada diterminan-diterminan yang tidak bisa dilupakan dan menjada syarat utama dalam pengembangan kurikulum tersebut, diterminan tersebut adalah prinsip-prinsip kurikulum, diterminaniditeminaqn kurikulum, factor-faktor pengembangan kurikulum. Oleh karena itu penulis merasa perlu untuk membahas hal-hal tersebut. Mudah –mudahan makalah ini dapat bermakna bagi para pembaca. B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Apa saja prinsip-prinsip pengembangan kurikulum? 2. Apa saja factor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum? 3. Apa saja diterminan-diterminan kurikulum? 4. Apa yang dimaksud dengan pengembangan kurukulum? C. Batasan Masalah Makalah ini hanya akan menbahas: 1. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum 3. Diterminan-diterminan kurikulum 4. Pengebangan kurikukulum BAB II PEMBAHASAN A. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum Kurikulum disusun oleh para ahli pendidikan atau ahli kurikulum, ahli bidang ilmu, pendidik, pejabat pendidikan, pengusaha serta unsur-unsur masyarakat lainnya. Rancangan ini disusun dengan maksud memberi pedoman kepada para pelaksana pendidikan, dalam proses pembimbingan perkembangan siswa, mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh siswa sendiri, keluarga maupun masyarakat untuk mewujudkan semua itu, guru dituntut untuk mampu mengembangkan dan menerapkan kurikulum. 1. Prinsip-prinsip umum Ada beberapa prinsip umum dalam pengembangan kurikulum, yaitu: a. Prinsip Relevansi Ada dua macam relevansi yang harus dimiliki kurikulum, yaituvrelevansi keluar dan relevansi didalam kurikulum. Relevansi keluar maksudnya tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan, dan perkembangan masyarakat. Ada dua macam relevansi yang harus dimiliki kurikulum b. Prinsip fleksibilitas Kurikulum hendaknya memilih sifat lentur atau fleksibel. Kurikulum mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, disini dan ditempat lain, bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda. c. Prinsip kontiunitas Perkembangan dan proses belajar anak berlangsung secara berkesinambungan, tidak terputus-putus, atau berhenti-henti oleh karena itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum juga hendaknya berkesinambungan antara satu tingkat kelas, dengan kelas lainnya, juga antara jenjang pendidikan dan pekerjaan. d. Prinsip praktis Kurikulum harus mudah dilaksanakan menggunakan alat-alat sederhana dan biayanya murah. Prinsip ini juga disebut prinsip efisiensi. Betapapun bagus dan idealnya suatu kurikulum kalau menuntut keahlian-keahlian dan peralatan yang khusus dan mahal pula biayanya, maka kurikulum tersebut tidak praktis dan sukar dilaksanakan. e. Prinsip Walaupun kurikulum tersebut harus murah, sederhana, tetapi keberhasilannya tetap harus diperhatikan. Keberhasilan pelaksanaan kurikulum ini baik secara kuantitas maupun kualitas. 2. prinsip-prinsip khusus Ada beberapa prinsip yang lebih khusus dalam pengembangan kurikulum yaitu: a. prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan tujuan menjadi pusat kegiatan dan arah semua kegiatan pendidikan. Perumusan komponen-komponen kurikulum hendaknya mengacu pada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat umum atau berjangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek (tujuan khusus). Perumusan tujuan pe3ndidikan bersumber pada: 1) ketentuan dan kebijaksanaan pemerintah, yang dapat ditemukan dalam dokumen-dokumen lembaga Negara mengenai tujuan, dan strategi pembangunan termasuk di dalamnya pendidikan; 2) survai mengenai presepsi orang tua / masyarakat tentang kebutuhan mereka yang dikirimkan melalui angket atau wawancara dengan mereka; 3) survai tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu, dihimpun melalui angket, wawancara, observasi, dan dari berbagai media masa; 4) Survai tentang manpower; 5) Pengalaman Negara-negara lain dalam masalah yang sama; 6) penelitian b. prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidkan memilih isi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan yang telah ditentukan para perencana kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa hal. 1) Perlu penjabaran tujuan pendidikan/pengajaran kedalam bentuk perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana. Makin umum suatu perbuatan hasil pembelajaran dirumuskan semakin sulit menciptakan pengalamn belajar; 2) Isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap, dan keterampilan; 3) Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis. Ketiga ranah belajar, yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan diberikan secara simultan dalam urutan situasi belajar. Untuk hal tersebut diperlukan buku pedoman guru yang memberikan penjelasan tentang diperlukan buku pedoman guru yang memberikan penjelasan tentang organisasi bahan dan alat pengajaran secara lebih mendetail. c. prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar Pemilihan proses belajar mengajar yang digunakan hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1) apakah metode atau teknik belajar mengajar yang digunakan cocok untuk mengajarkan bahan pelajaran. 2) apakah metode atau teknik belajar tersebut memberikan kegiatan bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa? 3) apakah metode atau teknik belajar memberikan urutan kegiatan yang bertingkat-tigkatan? 4) apakah metode atau teknik belajar dapat menciptakan kegitan untuk mencapai tujuan kognitif, afektif, dan psikomotorik? 5) apakah metode atau teknik belajar tersebut lebih mengaktifkan siswa, atau mengaktifkan guru atau kedua-duanya? 6) Apakah metode atau teknik tersebut mendorong berkembangnya kemampuan baru? 7) Apakah metode atau teknik tersebut menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah dan di rumah, juga mendorong penggunaan sumber yang ada di rumah dan di masyarakat? 8) Untuk belajar keterampilan sangat dibutuhkan kegiatan belajar yang menekankan “learning by doing” disamping “learning by seeing and knowing” d. prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran proses belajar mengajar yang baik perlu didukung oleh penggunaan media dan alat-alat bantu pengajaran yang tepat. 1) alat atau media pengajaran apa yang diperlukan. Apakah semuanya sudah tersedia? Bila alat tersebut tidak ada penggantinya? 2) Kalau ada alat yang harus dibuat, hendaknya memperhatikan bagaimana pembuatannya, siapa yang membuat, pembiayaannya, waktu pembuatan? 3) Bagaimana pengorganisasian alat dalam bahan pelajaran, apakah dalam bentuk modul, paket belajar, dan lain-lain? 4) Bagaimana pengintegrasiannya dalam keseluruhan kegiatan belajar? 5) Hasil yang terbaik akan diperoleh dengan menggunakan multi media. e. prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian. Penilaian merupakan bagian integral dari pengajaran: 1) Dalam penyusunan alat penilaian (test) hendaknya diikuti langkah-langkah sebagai berikut: Rumuskan tujuan-tujuan pendidikan yang umum, dalam ranah-ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Uraikan ke dalam bentuk tingkah-tingkah laku murid yang dapat diamati. Hubungkan dengan bahan pelajaran. Tuliskan butir-butir test. 2) Dalam merencanakan suatu penilaian hendaknya diperhatikan beberapa hal: Bagaimana kelas, usia, dan tingkat kemampuan kelompok yang akan ditest? Berapa lama waktu dibutuhkan untuk pelaksanaan test? Apakah test tersebut berbentuk uraian atau objekif? Berapa banyak butir test perlu disusun? Apakah test tersebut diadministrasikan oleh guru atau oleh murid? B. Pengembangan kurikulum Dalam mengembangkan suatu kurikulum banyak pihak yang turut berpartisipasi, yaitu: administrator pendidikan, ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli bidang pengetahuan, guru-guru, dan orang tua murid serta tokoh-tokoh masyarakat. Dari pihak-pihak tersebut yang secara terus-menerus terlibat dalam pengembangan kurikulum adalah: administrator, guru dan orang tua. 1. peranan para administrator pendidikan para administrator pendidikan ini terdiri atas: direktur bidang pendidikan, pusat pengembangan kurikulum, kepala kantor wilayah, kapala kantor kanupaten dan kecamatan serta kepala sekolah. Peranan para administrator di tingkat pusat (direktur dan kepala pusat) dalam pengembangan kurikulum adalah menyusun dasar-dasar hokum, menyusun kerangka dasar serta inti kurikulum. Kerangka dasar dan program inti tersebut akan menentukan minimum course yang dituntut . administrator tingkat pusat bekerja sama dengan para ahli pendidikan dan ahli bbidang studi di perguruan tinggi serta meminta persetujuannya terutama dalam penyusunan kurikulum sekolah. Atas dasar kerangka dan program inti tersebut para administrator daerah (kepala kantor wilayah) dan administrator local (kabupaten, kecamatan dan kepala sekolah) mengembangkan kurikulum sekolah bagi daerahnya yang sesuai dengan kebutuhan daerah. 2. peranan para ahli pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas perubahan tuntutan kehidupan dalam masyarakat, tetapi juga perlu dilandasi oleh perkembangan lonsep-konsep dalam ilmu. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum membutuhkan bantuan pemikiran para ahli, baik ahli pendidikan, ahli, kurikulum, maupun ahli bidang studi/disipli ilmu. Mengacu pada kebijaksanaan-kebijaksanaan yang ditetapkan pemerintah, baik kebijaksanaan pembangunan secara umum maupun pengembangan pendidkan, perkembangan tuntutan masyarakat, dan masukan-masukan dari pelaksanaan pendidikan dan kurikulum yang sedang berjalan, para ahli pendidikan dan kurikulum memberikan alternative konsep pendidikan dan tuntutan diatas. 3. peranan guru guru memegang peranan yang cukup penting baik didalam perencanaan maupun dalam pelaksanaan kurikulum. Dia adalah perencana, pelaksana, dan pengembangan kurikulum bagi kelasnya. Sekalipun ia tidak mencetuskan sendiri konsep-konsep tentang kurikulum, guru merupakan penerjemah kurikulum yang datang dari atas. Dialah yang mengolah, meramu kembali kurikulum dari pusat untuk disajikan di kelasnya. Karena guru juga merupakan barisan pengembang kurikulum yang terdepan maka guru pulalah yang selalu melakukan evaluasi dan penyempuranaan terhadap kurikulum. 4. peranan orang tua murid orang tua juga mempunyai peranan dalam pengembangan kurikulum. Peranan mereka dapat berkenaan dua hal: pertama dalam penyusunan kurikulum dan kedua dalam pelaksanaan kurikulum mungkin tidak semua orang tua dapat ikut serta, hanya terbatas kepada beberapa orang saja yang cukup waktu dan mempunyai latar belakang yang memadai. Peranan orang tua lebih besar dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam pelaksanaan kuirkulum diperlukan kerja sama yang sangat erat antara guru atau sekolah dengan para orang tua murid. Melalui pengamatan dalam kegiatan belajar dirumah, laporan sekolah, partisipasi dalam sekolah orang tua dapat turut serta dalam pengembangan kurikulum terutama dalam bentuk pelaksanaan kegiatan belajar yang sewajarnya, minat yang penuh, usaha yang sungguh-sungguh, penyelesaian tugas-tugas serta partisipasi dalam setiap kegiatan sekolah. Kegiatan-kegiatan tersebut akan memberikan umpan balik bagi penyempurnaan kurikulum. C. Factor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum Sekolah mendapatkan pengaruh dari kekuatan-kekuatan yang ada dalam masyarakat, terutama dari perguruan tinggi dan masyarakat. 1. perguruan tinggi kurikulum minimal mendapat dua pengaruh dari perguruan tinggi. Pertama, dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan di perguruan tinggi umum. Kedua, dari pengembangan ilmu kependidikan dan keguruan serta penyiapan guru-guru di perguruan tinggi keguruan (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan). Kurikulum Lembaga Pendidkan Tenaga Kependidikan juga mempengaruhi pengembangan kuirkulum, terutama melalui penguasaan ilmu dan lemampuan keguruan dari guru-guru yang dihasilkannya. 2. masyarakat sekolah merupakan bagian dari masyarakat dan mempersiapkan anak untuk kehidupan di masyarakat. Sebagai bagian dan agen masyarakat, sekolah, sangat dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat dimana sekolah tersebut berada. Sekolah harus melayani aspirasi-aspirasi yang ada di masyarakat. Salah satu kekuatan yang ada dalam masyarakat adalah dunia usaha. Perkembengan dunia usaha yang ada di masyarakat mempengaruhi pengembangan kurikulum sebab bekerja dan berusaha. Jenis pekerjaan perusahaan yang ada di masyarakat menuntut persiapannya disekolah. 3. system nilai masyarakat umumnya heterogen dan multifaset. Masyarakat memiliki kelompok-kelompok etnis, kelompok vokasional, kelompok intelek, kelompok social, spiritual dan sebagaiannya yang tiap kelompok sering memiliki nilai yang berbeda. Dalam masyarakat juga terdapat aspek-aspek social, ekonomi, politik, fisika, estetika, etika, religius, dan sebagaianya. Aspek-aspek tersebut sering juga mengandung nilai-nilai yang berbeda. Ada beberapa hal yang diperhatikan guru dalam mengajarkan nilai: (1) guru hendaknya mengetahui dan memperhatikan semua nilai yang ada dalam masyarakat, (2) guru hendaknya berpegang pada perinsip demokrasi, etis, dan moral, (3) guru berusaha menjadikan dirinya sebagai teladan yang patut ditiru, (4) guru menghargai nilai-nilai kelompok lain, (5) memahami dan menerima keragaman kebudayaan sendiri. D. Pendekatan-pendekatan kurikulum Sebagai informasi dapat dikemukakan, bahwa suatu kurikulum umumnya dapat juga menggunakan berbagai pendekatan sebagai berikut: • Apakah kurikulum menggunakan pendekatan sistematik, atau pendekatan humanistic atau pendekatan modern? • Apakah para pengembang kurikulum menggunakan pendekatan humanistic. Konsep-konsep yang penting, dapat kita petik dari uraian Hilda taba, sebagai berikut: 2) Fungsi utama pendidikan adalah pengembangan individu. Peranan kreatif pendidikan terutama ditekankan pada pengembangan individu yang kreatif. 3) Kurikulum atau program sekolah disusun untuk memenuhi kebutuhan individu dan memberikan kesempatan sepenuhnya untuk merealisasikan diri, baik intektual, emosional, dan social dengan keseimbangan yang reasonable. 4) Konsep pengembangan individu itu sendiri tak dilepaskan dari pengaruh kurikulum yang berkaitan dengan fungsi social pendidikan 5) Pendidikan sebagai instrument pengembangan individual, bahkan pada gilirannya memerlukan kerja dalam kelompok untuk membahas masalah-masalah social 6) Konsepsi pengembangan individual pada akhirnya mencakup juga latar belakang social anak, yang menimbulkan perbedaan-perbedaan individual. 1. Pendekatan bidang studi (pendekatan subjek atau disiplin ilmu) Pendekatan ini menggunakan bidang studi atau mata pelajaran sebagai dasar organisasi kurikulum, misalnya matematika, sains, sejarah, geografi atau IPA, IPS, dan sebagainya seperti yang lazim kita dapati dalam system pendidikan kita sekarang di semua sekolah dan universitas. 2. Pendekatan interdisipliner a. Pendekatan “brood – field Pendekatan ini berusaha mengintegrasikan beberapa disiplin atau mata pelajaran yang saling berkaitan agar siswa memahami ilmu pengetahuan tidak berada dalam vakum atau kehampaan akan tetapi merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. b. Pendekatan kurikulum inti Kurikulum ini banyak persamaannya dengan broad-field, karena juga menggabungkan berbagai ilmu disiplin ilmu. Kurikulum diberikan berdasarkan suatu masalah social atau personal. Untuk memecahkan masalah itu digunakan bahan berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan masalah itu. c. Pendekatan kurikulum inti di perguruan tinggi Istilah inti (core) juga digunakan dalam kurikulum perguruan tinggi. Dengan core dimaksud pengetahuan inti yang pokok yang diambil dari semua disiplin ilmu yang dianggap esensial mengenai kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang dianggap layak dimiliki oleh tiap orang terdidik dan terpelajar. Pengetahuan umum ini layak dimiliki tiap mahasiswa dari jurusan yang dipilihnya. d. Pendekatan kurikulum fusi Kurikulum ini mem fusi kan atau menyatukan dua (atau lebih) disiplin tradisional menjadi bidang studi baru, misalnya geografi + geologi + botani + arkeologi menjadi earth sciences. 3. Pendekatan rekontruksionisme Dalam gerakan rekonstruksionisme ini terdapat dua kelompok utama yang sangat berbeda pandangannya tentang kurikulum, yakni rekonstruksionisme konservatif dan rekonstruksionisme radikal. Rekonstruksionisme konservatif. Aliran ini menginginkan agar pendidikan ditujukan kepada peningkatan mutu kehidupan individu maupun masyarakat dengan mencari penyelesaian masalah-masalah yang paling mendesak yang dihadapi masyarakat. Rekonstruksionisme radikal, pendekatan ini berpendapat bahwa banyak Negara mengadakan pembangunan dengan merugikan rakyat kecil yang miskin yang merupakan mayoritas masyarakat. 4. Pendekatan humanistic Kurikulum ini berpusat pada siswa, jadi “student-centered”, dan mengutamakan perkembangan efektif siswa sebagai prasyarat dan sebagai bagian integral dari proses belajar. Para pendidik humanistic yakin, bahwa kesejahteraan mental dan emosional siswa harus dipandang sentral dalam kurikulum, agar belajar itu memberi hasil maksimal. Pendekatan humanistic dalam kurikulum didasarkan atas asumsi-asumsi yang berikut: 1) Siswa akan lebih giat belajar bila harga-dirinya dikembangkan sepenuhnya 2) Siswa yang diturut-sertakan dalam perencanaan dan pelaksanaan pelajaran akan merasa bertanggung jawab atas keberhasilannya. 3) Hasil belajar akan meningkat dalam suasana belajar yang diliputi oleh rasa saling mempercayai, saling membantu, saling memperdulikan dan bebas dari ketegangan yang berlebihan. 4) Guru yang memperan sebagai fasilitator belajar memberi tanggung jawab kepada siswa atas kegiatannya belajar dan memupuk sikap positif terhadap “apa sebab” dan “bagaimana” mereka belajar. 5) Kepedulian siswa akan pelajaran memegang peranan penting dalam pengusaan bahan pelajaran itu. 6) Evaluasi diri bagian penting dalam proses belajar yang memupuk rasa harga diri. 5. Pendekatan “accountability” Accountability atau pertanggungjawaban lembaga pendidikan tentang pelaksanaan tugasnya kepada masyarakat, akhir-akhir ini tampil sebagai pengaruh yang penting dalam dunia pendidikan. Namun, menurut banyak pengamat pendidikan ini telah mendesak pendidikan, dalam arti yang sebenarnya menjadi latihan belaka. Akuntabilitas yang sistematis pertama kalinya diperkenalkan freederick Taylor dalam bidang industri pada permulaan abad ini. Pendekatannya, yang kelak dikenal sebagai “scientific management” atau manajemen ilmiah, menetapkan tugas-tugas spesifik yang harus diselesaikan pekerja dalam waktu tertentu. Tiap pekerja bertanggung jawab atas penyelesaian tugas itu. 6. Pendekatan pembangunan nasional Hingga batas tertentu kurikulum ini terdapat di semua sekolah pendekatan ini mengandung tiga unsur: 1) Pendidikan kewarganegaraan 2) Pendidikan sebagai alat pembangunan nasional 3) Pendidikan keterampilan praktis bagi kehidupan sehari-hari. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Ada beberapa prinsip umum dalam pengembangan kurikulum, yaitu: Prinsip Relevansi, Prinsip fleksibilitas, Prinsip kontiunitas, Prinsip praktis. Dalam mengembangkan suatu kurikulum banyak pihak yang turut berpartisipasi, yaitu: administrator pendidikan, ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli bidang pengetahuan, guru-guru, dan orang tua murid serta tokoh-tokoh masyarakat. Dari pihak-pihak tersebut yang secara terus-menerus terlibat dalam pengembangan kurikulum adalah: administrator, guru dan orang tua. Factor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum diantaranya adalah Sekolah mendapatkan pengaruh dari kekuatan-kekuatan yang ada dalam masyarakat, terutama dari perguruan tinggi dan masyarakat. Sebagai informasi dapat dikemukakan, bahwa suatu kurikulum umumnya dapat juga menggunakan berbagai pendekatan sebagai berikut: Kurikulum menggunakan pendekatan sistematik, atau pendekatan humanistic atau pendekatan modern. Para pengembang kurikulum menggunakan pendekatan humanistic. B. Saran Penulis mengakui bahwa dalam pembuatan makalah pengembangan kurikulum ini masih terdapat banyak kekurangan, maka dari itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sifatnya sangat penulis harapkan Alhamdulillah puji Syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat dan rahmatnya saya dapat menyelesaikan tugas makalah ini, serta shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah saw, penuntun jalan kebenaran teladan bagi umat dan rahmat bagi umat manusia di seluruh alam. Makalah ini saya buat sebagai tugas yang diberikan dosen pembimbing, selain itu terdorong juga atas keinginan penulis pribadi. Harapan saya semoga makalah ini memberikan manfaat bagi para pembaca supaya dapat mempelajari dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Saya menyadari bahwa makalah ini jauh lebih dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun sangat saya harapkan. Bengkulu, Januari 2010 Penulis DAFTAR ISI Halaman Judul i Kata pengantar ii Daftar isi iii BAB I PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang 1 B. Rumusan masalah 1 C. Batasan masalah 1 BAB II PEMBAHASAN 2 A. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum 2 B. Pengembangan kurikulum 8 C. Factor-faktor yang mempengaruh pengembangan kurikulum 10 D. Pendekatan-pendekatan kurikulum 12 BAB III PENUTUP 17 A. Kesimpulan 17 B. Saran 17 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA Sukmadinata, Nana Syaodih. 2006. pengenalan pengembangan kurikulum teori dan praktek. Bandung. Remaja Rosdakarya. Nasution. 1999. kurikulum dan pengajaran. Jakarta. Bumi Aksara. Yamin, Muh. 2009. Manajemen materi kurikulum pendidikan. Jogja. Diva Press.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar