Pengikut

Selasa, 20 Maret 2012

Pengaruh Akhlak Terhadap Kemiskinan


PENGARUH AKHLAK TERHADAP KEMISKINAN
(Oleh : Ust. Abdullah Assegaf)

            Kemiskinan adalah sebuah penyakit yang dapat dijumpai pada setiap masyarakat di sepanjang sejarah.  Ia mungkin terjadi lantaran beberapa sebab, seperti tidak adanya sistem ekonomi dan pemerintahan yang baik, terjadinya penindasan satu golongan terhadap golongan yang lain, atau timbulnya kemalasan dan hilangnya semangat untuk berusaha.
Di abad ini, kemajuan luar biasa di bidang pembangunan material sangat disayangkan tidak mampu menciptakan pemerataan di antara penduduk bumi. Hari demi hari, perbedaan tingkat kesejahteraan antara yang kaya dan miskin justru semakin tajam.  Di dunia yang serba “beradab” sekarang ini pun, masih banyak sekali dijumpai orang-orang yang mati lantaran kelaparan atau gizi yang tidak baik. Sementara di sisi lain, terlihat dengan sangat nyata sebagian orang yang hidup dengan gelimang kekayaan yang tidak terkira.
Semua itu membuktikan bahwa sistem ekonomi yang (telah) dipakai di dunia ini, seperti kapitalisme dan marxisme-komunisme, telah gagal menjadi landasan pembangunan ekonomi suatu negara. Bukti sejarah juga menunjukkan bahwa negara-negara yang menggunakan sistem di atas selalu melakukan penjajahan dan sejenisnya terhadap negara-negara lainnya, khususnya dunia ketiga (yang sedang berkembang).
Kemiskinan, dengan segala penyebabnya, juga tidak dapat dipisahkan dari adanya pengaruh setiap individu atau masyarakat yang sangat lemah nilai akhlak dan spiritualnya. Oleh karena itu, menyodorkan sebuah pemikiran dan akhlak, kepada suatu masyarakat, merupakan hal yang sangat penting. Sebab, dengan begitu, perang melawan kemiskinan dapat menjadi fokus utama dan dapat dilakukan dengan cara yang tepat dan akurat.
Boleh jadi, ada sebagian kalangan yang beranggapan bahwa kemiskinan merupakan perkara yang dijunjung tinggi dalam Islam. Jelas, ini merupakan anggapan yang keliru. Anggapan semacam ini tentu muncul dari orang-orang yang malas, yang rela dengan kehidupan serbakekurangan dan hina, dengan membawa alasan bahwa itu adalah sebentuk kezuhudan.
Bertentangan dengan pendapat mereka, Islam bukan saja menghindari kemiskinan, bahkan memandang bahwa kekuatan ekonomi merupakan perantara untuk mewujudkan kehidupan yang baik. Sementara kemiskinan dianggap sebagai dinding yang bersatu dengan dinding kekafiran.
Dalam riwayat dikatakan bahwa adalah sangat mungkin kemiskinan akan menghantarkan manusia kepada kekafiran (Safinah al-Bihâr). Islam, yang sangat keras berupaya memerangi kekafiran, juga sangat keras memerangi kemiskinan.
Rasulullah saww bersabda, “Siapa saja yang tidak memiliki kebutuhan kehidupan dunia, maka ia tidak memiliki kehidupan akhirat.” 
Beliau juga bersabda, “Ya Allah, berkatilah kami dengan roti ini.  Kalau bukan karena roti, kami tidak akan bersedekah ataupun shalat.”
Dalam hal ini, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib menyebut kemiskinan sebagai kematian, bahkan kematian yang terbesar.  Beliau berkata, “Kemiskinan adalah kematian terbesar.”


Mengenal Kemiskinan
            Dengan melihat penyebab dan pengaruh kemiskinan, maka menjadi sangat penting bagi kita untuk membahas dan mengenalinya.
            Kemiskinan bukan hanya masalah ekonomi, tetapi berkaitan dengan banyak sekali masalah penyakit maknawi (spiritual) dan akhlak. Di mana saja ditemukan kemiskinan, maka kebodohan, kelemahan, dan kurangnya keimanan juga akan ditemukan.  Sebaliknya, di mana pun ditemukan kebodohan,  kelemahan, dan kurangnya keimanan, maka di situ akan ditemukan pula kemiskinan.
            Dapat dipastikan, pabila dalam suatu masyarakat banyak ditemukan pemikir yang maju, maka kehidupan materi mereka juga akan maju. Sebaliknya, masyarakat yang pemikiran dan kebudayaan mereka terbelakang, kehidupan materi mereka pun juga akan terbelakang. 
Inilah yang menjadikan negara-negara penjajah selalu berusaha menjadikan masyarakat di daerah jajahannya tetap terbelakang dari sisi pemikiran dan budaya.  Mereka selalu berusaha mencegah terjadinya kemajuan pemikiran dan budaya pada masyarakat tersebut. Siasat seperti ini merupakan cara yang paling baik dalam melanggengkan kekuasaan.
            Karena itulah, Imam Khomeini, pemimpin revolusi Islam, selalu mendorong kaum mustadh’afin (terjajah) untuk mengenali cara-cara yang dilakukan oleh para penjajah. Beliau berkata, “Pabila kita dapat berdiri sendiri dalam bentuk pemikiran, maka tidak ada satu kekuatan pun yang akan mampu menghancurkan kita.”
            Ya, dalam setiap segi pertahanan dan pembangunan, selayaknyalah bila masyarakat kembali kepada pemikiran dan pola budaya mereka sendiri, yaitu Islam. Pabila mereka berpegang kepadanya, maka kekuatan Barat maupun Timur tidak akan pernah mampu mengalahkan mereka. Al-Quran al-Karim menyeru masyarakat Islam untuk kembali kepadanya.  Allah Swt berfirman:
            Maka mereka telah kembali pada diri-diri (kesadaran) mereka.(al-Anbiyâ: 64)
            Kekuatan terbesar yang menjadikan masyarakat Islam terbelakang adalah menjauhnya mereka dari pemikiran dan budaya mereka sendiri dan menggantikannya dengan pemikiran dan budaya “orang lain”. Masyarakat yang merasa kagum dan selalu menjiplak budaya selainnya akan kehilangan semua makna kemuliaan dan harga diri mereka. Bahkan mereka akan sangat bangga bila mampu menjadikan diri mereka sendiri sebagai budak bangsa lain. Dan dengan bangga pula mereka akan menyerahkan semua kekayaan mereka kepada negara lain.
            Ya, masyarakat yang kehilangan kemerdekaan berpikir dan berbudaya akan hidup laksana hewan piaraan yang patuh. Semua keinginan mereka akan muncul lantaran mengikuti keinginan bangsa lain. Apapun yang dilakukan bangsa lain, mereka akan mengikutinya.  Bahkan keburukan yang datang dari budaya bangsa lain pun akan mereka anggap sebagai seni.
Kemudian, semua aspek kemerdekaan yang ada di dalam negerinya, mulai dari undang-undang, ekonomi, politik, dan lain-lain, akan mereka ambil dari bangsa lain.  Demikian pula dengan aspek budaya lainnya, akan mereka hisap dengan penuh kepuasan dari bangsa luar, meskipun itu penuh dengan racun kejahatan dan kerusakan.
            Timur dan Barat memang telah menggambarkan dan menggemborkan bahwa cara hidup mereka adalah cara hidup yang ideal, meskipun itu sangat jauh dari kenyataan. Semua propaganda seperti itu hanya akan mempengaruhi masyarakat yang tidak berpijak  pada dasar pemikiran mereka sendiri.  Dengan demikian, akal yang sehat dan pemikiran yang lurus merupakan modal yang sangat bernilai bagi sebuah masyarakat.
Amirul Mukminin Ali berpesan, “Sesungguhnya kekayaan yang paling besar adalah akal. Dan kemiskinan yang terbesar adalah kebodohan.” (Catatan Kaki: Nahj al-Balâghah, mutiara hikmah ke-37).
Beliau juga menyatakan, “Tidak ada kekayaan melebihi akal dan tidak ada kemiskinan melebihi kebodohan.”(Catatan Kaki: Nahj al-Balâghah, mutiara hikmah ke-51)  Dengan kata lain, dapat diungkapkan, “Tuhanku, setelah Engkau memberikan akal, maka apalagi selainnya yang belum Engkau berikan. Dan apabila Engkau tidak memberikan akal, maka adakah selainnya yang Engkau berikan?”
Orang-orang yang hidup di dunia ini dan hanya melihat sisi materi saja, yang beranggapan bahwa kekuatan dan kekuasaan hanya diperoleh lantaran sisi yang terbatas ini, maka setiap langkah, perbuatan, dan tujuan hidupnya hanya akan berasaskan pada pandangan dunia materialisme saja. Keberuntungan dan kerugian, kebahagiaan dan kesusahan dalam hidup ini, hanya akan diukur dengan beberapa tahun kehidupan di dunia yang terbatas ini.  Hukum yang berlaku di antara mereka juga akan terbatas pada perhitungan nilai materi dan lahiriah duniawi saja.  Allah Swt berfirman:
Mereka mengetahui yang dhahir dari kehidupan dunia dan mereka telah lalai terhadap kehidupan akhirat. (Rum: 7) 
            Sementara, kehidupan, pabila dilihat dari cara pandang Imam Ali bin Abi Thalib—murid utama Rasulullah saww yang telah ditunjuk sebagai gerbang kota ilmu Nabi, yang telah mengenal dan menyaksikan alam keghaiban dan dunia penyaksian, dan yang telah berkata, “Apabila semua tabir yang menutupi dibuka dan ditunjukkan kepada saya segala sesuatu yang ada di baliknya, (itu) tidak akan lagi menambah keyakinan saya”—adalah selain kehidupan materi, yakni kehidupan maknawi yang lebih luas dan abadi.  Kebahagiaan dan kesusahan, keberuntungan dan kerugian, ditentukan oleh kehidupan ini.
Beliau berkata, “Kekayaan dan kemiskinan adalah setelah dihadapkan kepada Allah Swt.”  Artinya, kekayaan yang sebenarnya adalah pahala surga yang mereka terima dari Allah Swt pada hari kiamat kelak. Sebaliknya, kemiskinan yang sebenarnya adalah mereka yang dalam kehidupannya kelak berada di dalam siksaan dan kemurkaan Allah Swt. 
Ya, pada hari itu, setiap orang yang datang dan di tangannya penuh dengan kebajikan, ia adalah orang yang kaya dan beruntung. Setiap orang yang dalam kehidupan dunianya telah bekerja bagi keberuntungan kehidupan akhiratnya adalah orang yang berbahagia. Sementara orang yang menghabiskan umurnya secara sia-sia dalam kehidupan dunia ini, maka di akhirat kelak ia akan hidup sebagai orang yang miskin dan menderita.
Allah Swt berfirman:
Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri.  Dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri. Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya  hamba-hamba-Nya. (Fushshilat: 46)
Amirul Mukminin Ali dalam khutbahnya berpesan, “Bukankah kalian tinggal di hari-hari yang penuh dengan harapan, sedangkan di belakangnya adalah ajal.  Siapa saja yang beramal di hari-hari harapan sebelum ajal tiba, maka amal telah bermanfaat baginya dan ajal tidak merugikannya.”


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar