1

loading...

Tuesday, March 20, 2012

MAKALAH Pengertian Akhlak Mulia


MAKALAH Pengertian Akhlak Mulia



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Salah satu misi Kerasulan Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia dan sejarah mencatat bahwa faktor pendukung keberhasilan dakwah Beliau itu antara lain karena dukungan akhlaknya yang prima, hingga hal ini dinyatakan oleh Allah didalam Al-Qur’an.
Kepada umat manusia, khususnya yang beriman kepada Allah diharuskan agar keluhuran akhlak dan budi Rasulullah SAW dapat dijadikan contoh dalam khidupan sehari-hari. Mereka yang mematuhi perintah ini dijamin keselamatan hidupnya baik didunia maupun akhirat. Oleh sebab itu pemakalah mengangkat tema yang berkenaan tentang aspek-aspek yang mempengaruhi pembentukan akhlak mulia.
B.     Tujuan
Makalah ini dibuat dengan tujuan agar para mahasiswa bias memahami criteria akhlak mulia dan faktor apa saja yang bias mempengaruhi pembentukan akhlak mulia, dengan harapan agar kedepannya para pembaca bisa memiliki akhlaqul karimah.
C.    Rumusan Masalah
1.      Pengertian Akhlak Mulia
2.      Aspek-aspek Pembentukan Akhlak
3.      Metode Pembinaan Akhlak
4.      Manfaat Akhlak Mulia




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Akhlak Mulia
Menurut Al-Ghazali, akhlah mulia atau terpuji adalah “Menghilangkan semua adat kebiasaan yang tercela yang sudah digariskan dalam agama Islam serta menjauhkan diri dari perbuatan tercela tersebut, kemudian membiasakan adat kebiasaan yang baik, melakukannya dan mencintainya ”[1]. Menurut Quraish Shihab akhlak mulia adalah akhlak yang menggunakan ketentuan Allah sebagai tolak ukur dan tolak ukur kelakuan baik mestilah merujuk kepada ketentuan Allah.
Ada beberapa hal yang mendorong sesorang untuk berbuat baik, diantaranya :
1.      Karena bujukan atau ancaman dari manusia lain
2.      Mengharap pujian atau karena takut mendapat cela
3.      Karena kebaikan dirinya (dorongan hati nurani)
4.      Mengharapkan pahala dan surga
5.      Takut kepada azab Allah
6.      Mengharap keridhoan Allah semata
Akhlak mulia berarti sifat-sifat atau tingkah laku yang sesuai dengan norma-norma ajaran Islam. Akhlak mulia dapat kita tiru dari keteladanan sosok pribadi Rasulullah SAW. Beliau memenuhi kewajiban dan menunaikan amanah, menyuruh manusia kepada Tauhid yang lurus, pemimpin rakyat tanpa pilih kasih, dan beragam sifat mulia lainnya. Dengan berbagai sifat dan perbuatannya, didalam berbagai bidang dan keadaan beliau menjadi panutan contoh dan suri tauladan bagi manusia.
Arab
Artinya :  Sesungguhnya aku diatas hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak (H.R. Malik)

Arab
Artinya :  Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat)Allah dan (kedatangan)hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S Al-Ahzab : 21)
B.     Aspek-aspek yang mempengaruhi Pembentukan Akhlak
1.      Insting (Naluri)
Insting merupakan seperangkat tabiat yang dibawa manusia sejak lahir. Para psikolog menjelaskan bahwa insting berfungsi sebagai motivator penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku.
Arab
Artinya : Manusia itu diberi hasrat atau keinginan, misalnya kepada wanita, anak-anak dan kekayaan yang melimpah. (Q.S Ali Imran : 14)
Segenap naluri insting manusia merupakan paket intern dengan kehidupan manusia yang secara fitrah sudah ada dan tanpa perlu dipelajari lebih dahulu. Dengan potensi naluri tersebut manusia dapat menghasilkan aneka corak perilaku yang sesuai dengan corak instingnya.
2.      Adat atau Kebiasaan
Adat atau kebiasaan adalah setiap tindakan dan perbuatan seseorang yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan. Perbuatan yang telah menjadi adat kebiasaan tidak cukup hanya diulang-ulang saja tetapi harus disertai kesukaan dan kecenderungan hati terhadapnya.
3.      Wirotsah (Keturunan)
Secar istilah Wirotsah adalah berpindahnya sifat-sifat tertentu dari pokok (orang tua) kepada cabang (anak keturunan)[2]. Wirotsah juga dapat dikatakan sebagai factor pembawaan dari dalam yang berbentuk kecenderungan, bakat, akal dan lain-lain. Sifat-sifat asasi anak merupakan pantulan dari sifat-sifat asasi orang tuanya. Terkadang anak mewarisi sebagian besar dari salah satu sifat orang tuanya. Meskipun keturunan tidak berperan mutlak tetapi keturunan tersebut bisa menjadikan seseorang untuk beraktual mazmumah maupun mahmudiah.
4.      Lingkungan
Lingkungan sangat berpengaruh terhadap pembentukan akhlak seseorang, baik itu lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Arab
Artinya : Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut Ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati,agar kamu bersyukur (Q.S An Nahl : 78)
Dalam ayat diatas memberi petunjuk bahwa seorang manusia dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui segala sesuatu oleh sebab itu manusia memiliki potensi untuk dididik. Potensi tersebut bisa dididik melalui pengalaman yang timbul dilingkungan sekitar anak. Jika lingkungan tempat tinggal ia tinggal bersikap baik maka anak pun akan cendrung bersikap baik. Sebaliknya jika lingkungannya buruk maka anak akan cenderung bersikap buruk.
            Arab
Artinya : Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang membentuk anak itu menjadi yahudi, nasrani atau majusi (H.R. Bukhari)
Hadits tersebut menjelaskan bahwa lingkungan keluarga (dalam hal ini adalah kedua orang tua) adalah sebagai pelaksana utama dalam pendidikan akhlak anak. Ajaran Islam sudah memberi petunjuk yang lengkap kepada orang tua dalam membina akhlak anak. Jadi apabila orng tua ingin anaknya berakhlak mulia, maka sedari dini hendaklah anak-anaknya ditanami dengan nilai-nilai Islam. Sebagai orng tua yang berpengaruh terhadap pembentukan dan keprobadian anak, seharusnyalah orang tua memperhatikan pada pergaulan anak dilingkungan sekolah maupun di masyarakat. Karena lingkungan sangat berpengaruh pada proses pembentukan akhlak seseorang. Melalui kerja sama yang baik antara orang tua, guru disekolah dan tokoh-tokoh masyarakat, maka aspek kognitif, afektif dan psikomotorik yang diajarkan akan terbentuk pada diri anak.    
5.      Al-Qiyam
Al-Qiyam adalah nilai-nilai Islam yang telah dipelajari selama seseorang hidup. Aspek ini sangat mempengaruhi terbentuknya akhlak mulia dalam diri seseorang. Pedoman akhlak mulia atau akhlak Islami adalah Al-Quran dan Hadits. Melalui pemahaman tentang nilai-nilai ke Islaman yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits, seseorang bisa mengamalkan nilai-nilai tersebut. Sehingga tanpa disadari nilai-nilai tersebut menyatu dalam kepribadiannya dan terbentuklah akhlak mulia.
C.    Metode Pembinaan Akhlak
Islam sangat memperhatikan pembinaan Akhlak, sehingga didalam Islam pembinaan jiwa harus didahulukan dari pada pembinaan fisik, karena dari jiwa yang baik akan lahir perbuatan-perbuatan yang baik, yang akan mempermudah menghasilkan kebaikan dan kebahagiaan pada seluruh kehidupan manusia, lahir dan batin[3]. Hasil analisis Muhammad Al-Ghazali menyatakan bahwa dalam rukun Islam terkandung konsep pembinaan akhlak.
1.      Mengucapkan dua kalimah syahadat. Kalimat yang mengandung pernyataan bahwa selama hidup, manusia yang hanya tunduk dan patuh pada aturan Allah dan Rasul-Nya, sudah dapat dipastikan menjadi orang yang berakhlak baik atau mulia.
2.      Mengerjakan sholat lima waktu
Arab
Artinya : Bahwasanya aku menerima sholat hanya dari orang yang bertawadhu’ dengan sholatnya kepada keagungan-Ku yang tidak terus-menerus berdosa, menghabiskan waktunya sepanjang hari untuk dzikir kepada-Ku, kasih sayang kepada fakir miskin, Ibnu sabil, janda serta mengasihi orang yang mendapat musibah. (H.R. Al-Bazaar)
Pada hadist Qudsi diatas menjelaskan bahwa sholat diharapkan dapat menghasilkan akhlak yang mulia. Selain itu sholat khususnya jika dilakukan berjama’ah akan menghasilkan kesahajaan.
3.      Membayar Zakat. Didalam membayar zakat mengandung didikan akhlak, agar orang yang melaksanakannya dapat membersihkan dirinya dari sifat kikir, mementingkan diri sendiri dan membersihkan hartanya dari hak orang lain.
4.      Puasa. Puasa bukan hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum dalam waktu terbatas, tetapi juga mendidik agar bisa menahan diri dari keinginan untuk melakukan perbuatan keji yang dilarang.
5.      Ibadah Haji. Didalam ibadah haji diamping harus menguasai ilmunya, juga harus sehat fisiknya, ada kemauan keras, bersabar dalam menjalankannya, mengeluarkan biaya yang tidak sedikit dan rela meninggalkan tanah air, harta dan keluarganya. Adapun pembinaan akhlak lainnya adalah dengan cara :
a.       Pembiasaan yang dilakukan sejak kecil dan berlangsung kontinyu
b.      Dengan cara paksaan yang lama kelamaan tidak lagi terasa dipaksa.
c.       Melalui keteladanan
d.      Dengan cara menuntut ilmu
D.    Manfaat Akhlak Mulia
1.      Memperkuat dan menyempurnakan agama
2.      Mempermudah perhitungan amal di akhirat
3.      Menghilangkan kesulitan
4.      Selamat hidup di dunia dan akherat
Arab
Artinya : Selama umat itu akhlaknya baik ia akan tetap eksis, dan jika akhlaknya sirna, maka ia pun akan binasa (Syair Syauki Bey)




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Akhlak mulia adalah sifat atau tingkah laku seseorang yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam yang terdapat pada kitab Al-Qur’an dan Sunah Rasul. Aspek-aspek yang mempengaruhi terbentuknya akhlak seseorang adalah :
1.      Insting – Naluri
2.      Lingkungan
3.      Keturunan
4.      Adat kebiasaan
5.      Al-Qiyam
B.     Saran
Jika dalam makalah kelompok empat ini terdapat berbagai kesalahan, kekurangan dan kekeliruan. Pemakalah meminta maaf kepada para pembaca, selain itu para pemakalah menanti kritik dan saran dari para pembaca, agar makalah selanjutnya bisa lebih baik.









DAFTAR PUSTAKA
Asmaran As. 1994. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta : Raja Grafindo. cet. ke-2
Mustafa, Ahmad. 1997. Akhlak Tasawuf. Bandung : Pustaka Setia. cet . ke-2
Nata, Abudin. 2003. Akhlak Tasawuf. Jakarta : Raja Grafindo Persada. cet. ke-5
Zahruddin AR dan Hasanuddin Sinaga. 2004. Pengantar Studi Akhlak. Raja Grafindo Persada





[1] Asmaran As, Pengantar Studi Akhlak,Jakarta : Raja Grafindo Persada, cet ke-2. Hlm.204
[2] Zahruddin AR et-al. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta. Raja Grafindo Persada. Hlm.97
[3] Abudin Nata. Akhlak Tasawuf. Jakarta : Raja Grafindo Persada. 2003. Hlm.158

No comments:

Post a Comment