1

loading...

Thursday, January 2, 2020

PAPER PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING


PAPER PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING



PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Istilah Bimbingan dan konseling sudah sangat populer dewasa ini dan bahkan sangat penting peranannya dalam sistem pendidikan.ini semuanya terbukti karena Bimbingan & konseling telah di masukkan dalam kurikulum.dalam membicarakan masalah pelayanan Bimbingan & konseling dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar pada situasi pendidikan secara keseluruhan.Pada hakekatnya kita mencoba untuk mengerti & memahami secara mendalam tentang setiap komponen yang ikut berperan demi terlaksananya proses itu secara baik dan menyeluruh.
Perlunya setiap komponen d pahami secara baik oleh setiap pengelola proses itu adalah disebabkan,jika salah satu komponen tidak befungsi secara sempurna,besar kemungkinan proses ituakan mengalami kemacetan sehingga hasil yang di harapkan tidak maksimal dengan kemampuan,bakat,minat dan cita-citanya.
Bimbingan dan konseling merupakan salah satu komponen dari pendidikan kita,mengingat bahwa suatu kegiatan bantuan dan tuntunan yang di berikan kepada individu pada umumnya,dan siswa pada khususnya di sekolah dalam rangka meningkatkan mutunya.Hal ini sangat relevan jika dilihat dari prumusan bahwa pendidikan itu adalah merupakan usaha saadar yang bertujuan untuk mengembangkan kpribadiaan dan potensi-potensi ( bakat,minat,dan kemampuan).kepribadian menyangkut masalah perilaku atau sikap mental  dan kemampuan meliputi maaslah akademik dan keterampilan.Tingkat kepribadian dan kemampuan yang di miliki oleh seseorang adalah suatu gambaran mutu dari orang bersangkutan.

1.2  Permasalahan
Berasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang akan dijawab dan dibahas dalam tulisan ini adalah :
1.      Bagaimana sejarah munculnya Bimbingan dan Konseling?
2.      Bagaimana Sejarah Bimbingan dan Konseling di Indonesia?

1.3  Tujuan
1.      Mengetahui sejarah munculnya bimbingan dan konseling.
2.      Memahami sejarah bimbingan dan konseling di Indonesia

1.4  Lingkup Permasalahan
Pada Paper ini, pembahasan dibatasi pada sejarah Bimbingan dan Konseling, serta pemahaman Sejarah Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Pada pembahasan topik ini dilakukan dengan penelitian studi pustaka, dimana penulis mendapatkan materi melalui mencari dan membaca refrensi dari berbagai buku di perpustakaan baik perpustakaan kampus, perpustakaan daerah maupun membaca buku berbasis online. 



PEMBAHASAN

2.1         Pengertian Bimbingan Konseling
Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan bisa berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, sosial, belajar maupun karier melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku (SK Mendikbud No. 025/D/1995)
Bimbingan dan konseling merupakan upaya proaktif dan sistematik dalam memfasilitasi individu mencapai tingkat perkembangan yang optimal, pengembangan perilaku yang efektif, pengembangan lingkungan, dan peningkatan fungsi atau manfaat individu dalam lingkungannya. Semua perubahan perilaku tersebut merupakan proses perkembangan individu, yakni proses interaksi antara individu dengan lingkungan melalui interaksi yang sehat dan produktif. Bimbingan dan konseling memegang tugas dan tanggung jawab yang penting untuk mengembangkan lingkungan, membangun interaksi dinamis antara individu dengan lingkungan, membelajarkan individu untuk mengembangkan, merubah dan memperbaiki perilaku.
2.2         Sejarah Perkembangan Bimbingan Konseling Secara Umum
2.2.1        Sejarah Lahirnya Bimbingan Konseling
Gerakan bimbingan lahir pada tanggal 13 Januari 1908 di Amerika, dengan didirikannya suatu vocational bureau tahun 1908 oleh Frank Parsons yang utuk selanjutnya dikenal sebagai “Father of The Guedance Movement in American Education”. yang menekankan pentingnya setiap individu diberikan pertolongan agar mereka dapat mengenal atau memahami berbagai perbuatan dan kelemahan yang ada pada  dirinya dengan tujuan agar dapat dipergunakan secara intelijensi dengan memilih pekerjaan yang terbaik yang tepat bagi dirinya.
Disinilah pertama kalinya istilah Bimbingan (Vocational Guidance) dikenal, tepatnya pada akhir abad ke - 19 hingga awal abad ke - 20 di Boston. Dengan didirikannya biro yang bergerak di bidang profesi dan ketenaga kerjaan. Dengan tujuan membantu para pemuda dalam memilih karir yang ia bidangi dan melatih para guru untuk memberikan layanan bimbingan di sekolah.
Pada masa yang hampir bersamaan, seorang konselor di Detroit Jasse B. Davis mulai memberikan layanan Konseling Pendidikan dan pekerjaan di SMA (1898). Dan pada tahun 1907 ia mencoba memasukkan program Bimbingan (Guidance) ke dalam pengalaman pendidikan para siswa Central High School di Detroit.
Eli Weaver pada tahun 1905 mendirikan sebuah komite yang diketuainya sendiri yaitu Students Aid Committee Of The High School di New york. Dalam pengembangan komitenya, Weaver sampai pada kesimpulan bahwa siswa butuh saran dan konsultasi sebelum mereka masuk dunia kerja. Pada tahun 1920-an, para konselor sekolah di Boston dan New York diharapkan dapat membantu para siswa dalam memilih sekolah dan pekerjaan. Selama tahun 1920-an itu pula, sertifikasi konselor sekolah mulai diterapkan pada kedua kota tersebut.(Bimo Walgito,2010:15)
Jika dilihat dari perkembangannya, Bimbingan Konseling mula-mulanya hanya dikenal sebatas pada bimbingan pekerjaan (Vocational Guidance), sebagaimana peran dari Biro yang didirikan Frank Parson di Boston. Namun sebenarnya tidak hanya itu,di sisi lain perkembangan Bimbingan Konseling pun merambah kebidang pendidikan (Education Guidance) yang dirintis oleh Jasse B. Davis. dan sekarang dikenal pula adanya bimbingan dalam segi kepribadian (Personal Guidance).
Pada dasarnya, Bimbingan Konseling tidak hanya berkmbang pada bidang-bidang tersebut, namun berkembang pula pada bidang-bidang lain yang meliputi pengertian dan praktek bimbingan dan Konseling, seperti bimbingan dalam bidang sosial, kewarganegaraan, keagamaan, dan lain-lain.
2.2.2        Faktor- Faktor yang Melatar Belakangi Berkembangnya Bimbingan Konseling
Upaya layanan bimbingan dan konseling secara profesional lahir di Amerika Serikat dan berkembang pesat abad ke-20. Banyak faktor yang mendorong pesatnya perkembangan disiplin ilmu ini, hingga mampu menerobos institusi-institusi pendidikan khususnya sekolah. Sedikitnya, terdapat enam faktor yang mempelopori perkembangan bimbingan dan konseling tersebut, di antaranya yaitu:
1.      Perhatian pemerintah terhadap penduduk imigran yang datang ke Amerika Serikat dari kawasan Eropa, mereka membutuhkan pekerjaan yang layak, dari situlah kemudian mendapat layanan dari biro - biro vokasional pemerintah, yang melalui penyuluhan - penyuluhan untuk mengarahkan bakat dan minat mereka agar pekerjaan yang di dapat sesuai dengan potensi mereka.
2.      Pandangan Kristen yang beranggapan bahwa dunia adalah tempat pertempuran antara kekuatan baik dan buruk, atas dasar ini maka berbagai lembaga pendidikan di wajibkan mengajarkan moral kebaikan agar anak didiknya kelak menjadi pemenang dalam melawan kejahatan atau keburukan tersebut.
3.      Pengaruh dari disiplin ilmu kesehatan mental yang pada awalnya memperjuangkan perlakuan manusiawi kepada orang - orang yang terkena gangguan jiwa dan sedang di tampung di rumah sakit. Kemudian disiplin ilmu ini melakukan gerakan antisipasi terhadap gangguan mental kepada masyarakat. Sebab mereka berangggapan bahwa gangguan mental dapat di cegah jika mampu dideteksi sejak dini.
4.      Dampak dari gerakan testing psikologis yang semakin mengembangkan sayapnya dalam membuat instrumen-instrumen berupa tes-tes kepribadian untuk menyeleksi karyawan di berbagai perusahaan.
5.      Subsidi dari pemerintah terhadap federal yang memungkinkan lembaga-lembaga pendidikan untuk mengangkat beberapa konselor untuk menangani bimbingan karier, pendidikan karier, penanggulangan kenakalan remaja, antisipasi terhadap penggunaan obat bius, dan lain – lain
6.      Pengaruh dari penyakit terapi nondirektif (client cetered therapy), yang dikembangkan oleh Carl Rogers, dengan menggantikan pendekatan otoriter serta paternalistic dengan pendekatan pada potensi personal kliennya.(Jareperpus,2011).

2.3         Sejarah Munculnya Bimbingan dan Konseling
            Bimbingan dan konseling (guidance and counseling) sebagai disiplin ilmu yang berkembang sejak permulaan abad ke-20 M. Tepatnya pada tahun 1908-1909 dimana merupakan periode dasar-dasar ilmiah bimbingan dan konseling diletakkan oleh beberapa ahli ilmu jiwa dan pendidikan.
Masalah bimbingan dan konseling di amerika serikat telah di mulai dirintis sejak tahun 1887 yaitu dengan dilaksanakannya “Home Econic Program” di Missouri pertama kali,kemudian diikuti di boston tahun 1894.Pada tahun 1902 telah mulai perawat yang berpraktik di New York sekalipun demikian ,bimbingan secara khusus memberikan perhatian kepada anak-anak baru kali pertama dilaksanakan pada tahun 1896.tokoh pertama gerkan bimbingan anak-anak adalah Witner yang mendirikan klinik di universitas Pennsylvania ,Amerika serikat.
Menurut Drs H.M Arifin ,M.ED ,pada masa  awal kemunculan bimbingan & konseling ,terjadi tiga gerakan yang masing-masing  mempunyai arah perkembangannya  sendiri yaitu sebagai berikut :
1)      Gerakan yang berusaha memanfaatkan pengukuran psikologis tentang kemampuan mental anak untuk di pergunakan sebagai dasar pengertian dalam pelaksanaan bimbingan & konseling
2)      Mental Hygiene ( kesehatan jiwa ) adalah juga termasuk salah satu gerakan yang mempengaruhi perkembangan bimbingan & konseling.
3)      Vocational Guidance yaitu suatu bimbingan yang menitikberatkan bantuan kepada terbimbing dalam jabatan atau pekerjaan sekarang dan yang akan datang ,menurut kemampuan masing-masing.[1]
    Menurut Arthur E.Traxler dan Robert D,North,dalam bukunya berjudul :”Techniques of guidance” (1996),di sebutkan beberapa kejadian penting yang mewarnai sejarah bimbingan di antaranya :
1)      Pada akhir abad ke-19 dan awal ke-20 timbullah suatu gerakan kemanusiaan,yang menitikberatkan pada kesejahteraan manusia dan kondisi sosialnya.
2)      Agama.
3)      Airan kesehatan mental ( Mental Hygiene ),timbul dengan tujuan perlakuan yang manusiawi terhadap penderita penyakit jiwa dan perhatian terhadap berbagai gejala,tingkat penyakit jiwa,pengobatab dan cara pencegahannya.
4)      Perubahan dalam masyarakat.Akibat perang dunia I dan II  , pengangguran, depresi,perkembangan teknologi, wajib belajar dll. mendorong beribu-ribu anak untuk masuk sekolah tanpa mengetahui untuk apa mereka bersekolah.perubahan masyarakat ini mendorong para pendidik untuk memperhatikan setiap anak sesuai dengan kebutuhannya agar meraka dapat menyelesaikan p;endidikannya dengan berhasil.[2]
Jika dilihat dari latar belakangnya, konseling muncul karena adanya sejumlah pertanyaan yang perlu dijawab individu dan untuk itu perlu bantuan profesional. Jika di lihat eksistensinya, konseling merupakan salah­ satu bantuan profesional yang sejajar dengan- misalkan kedokteran, psikoterapi, psikiatris, dan penyuluhan sosial. Dilihat dari kedudukannya dalam proses keseluruhan bimbingan, atau dalam bahasa ingrisnya guidance, konseling  merupakan bagian integral, atau teknik andalan, bimbingandan disini kebiasaan orang menggabungkannya menjadi "Bimbingan Konseling".
Konseling asal mulanya bukan dari negara kita tercinta ini, namun ia merupakan produk inpur dari negeri Amerika Serikat. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Frank Parsons di tahun 1908 saat ia melakukan konseling karier. Selanjutnya juga diadopsi oleh Carl Rogers yang kemudian mengembangkan pendekatan terapi yang berpusat pada klien (client centered). Namun demikian ada juga yang berpendapat bahwa bimbingan  konseling ini dimulai pada tahun 1896. Hal inidapatdilihatdaripemyataan yang terdapatdalambukuJauh J. Pietrofesa (Chicago), dalambukunya yang berjudul Counseling Theory, Researce, and Prectice"a psychological counseling clinic was established by lighnerwitmer at the University of Pennsylvania", sementara itu Shertzerdan Stone memperkirakan bahwa konseling mulai ada pada tahun 1898, melaluiungkapan, "counseling my have begun in 1898 when Jesse B. Davis begun work as counselor at Central High School in Detroit, Michigan".
Bila kita telusuri maka bimbingan dan penyuluhan itu mulai timbul sekitar permulaan abad XX .gerakan ini mula-mula timbul di amerika yang di pelopori oleh tokoh-tokoh seperti Frank Parsons,jesse B.Davis,Eli Wever,John brewer. Pada tahun 1908 di Boston oleh Frank parsons,didirakanlah suatu biro yang dimaksudkan untuk mencapai efisiensi kerja dan beliaulah yang mengemumakakan istilah “Vocational Guidance” dan beliau mengusulkan agar masalah “vacational guidance” dimasukkan dalam kurikulum sekolah.Dengan langkah ini dapat kita lihat bagaimana masalah bimbingan ini mendapat perhatian yang begitu jauh oleh beliau ini.Dengan demikian maka akan menjadi jelaslah bagi kita bahwa bimbingan dan konseling yang kita dapati sekarang ini adalah merupakan perkembangan yang lebih lanjut dari “Vacational Guidance”yang dirintis oleh Frank Parsons,[3]
Setelah mengalami pengembangan dan pemantapan di negeri asalnya, kemudian bimbingan dan konseling ini pun menyebar ke beberapa negara yang ada di dunia, hingga sampai juga ke negara kita. Indonesia, diawali daridimasukkannya Bimbingan dan Konseling (dulunya Bimbingan dan Penyuluhan) pada setting sekolah. Pemikiran ini diawali sejak tahun 1960, merupakan salah satu hasil Konferensi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (disingkat FKIP, yang kemudian menjadi IKIP) di Malang, tepatnya pada tanggal 20-24 Agustus 1960. Perkembangan berikutnya tahun 1964 IKIP Bandung dan IKIP Malang mendirikan jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. Tahun 1971 berdiri Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) pada delapan IKIP yaitu IKIP Padang, IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, IKIP Semarang, IKIP Surabaya, IKIP Malang, dan IKIP Menado. Melalui provek ini Bimbingan dan Penyuluhan dikembangkan, juga berhasil disusun "Pola Dasar Rencana dan Pengembangan Bimbingan dan Penyuluhan "pada PPSP. Lahirnya Kurikulum 1975 untuk Sekolah Menengah Atas di dalamnya memuat Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan.
Tahun 1978 diselenggarakan program PGSLP dan PGSLA Bimbingan dan Penyuluhan di IKIP (setingkat D2 atau D3) untuk mengisi jabatan Guru Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah yang sampai saat itu belum ada jatah pengangkatan guru BP dari tamatan S.1.  Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. Pengangkatan Guru Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah mulai diadakan sejak adanya PGSLP dan PGSLA Bimbingan dan Penyuluhan. Keberadaan Bimbingan dan Penyuluhan secara legal formal diakui tahun 1989 dengan lahirnya SK Menpan No 026/Menpan/1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Di dalam Kepmen tersebut ditetapkan secara resmi adanya kegiatan pelayanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah. Akan tetapi pelaksanaan di sekolah masih belum jelas seperti pemikiran awal untuk mendukung misi sekolah dan membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan mereka.
Sampai tahun 1993 pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah tidak jelas,hanya lagi pengguna terutama orang tua murid berpandangan kurang bersahtaat dengan BP. Muncul anggapan bahwa anak yang ke BP identik dengan anak yang bermasalah, kalau orang tua murid diundang ke sekolah oleh guru BP dibenak orang tua terpikir bahwa anaknya di sekolah mesti bermasalah atau ada masalah. Hingga lahirnya SK Menpan No.83/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya yang di dalamnya termuat aturan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah. Ketentuan pokok dalam SK Menpan itu dijabarkan lebih lanjut melalui SK Mendikbud No 025/1995 sebagai petunjuk pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Di Dalam SK Mendikbud im istilah Bimbingan dan Penyuluhan diganti menjadi Bimbingan dan Konseling di sekolah dan dilaksanakan oleh Guru Pembimbing, di sinilah pola pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah mulai jelas.
Jika ditinjau secara mendalam, setidaknya ada tiga hal utama yang melatar belakangi perlunya bimbingan yakni tinjauan secara umum, sosiokultural dan aspek psikologis. Secara umum, Tatar belakang perlunya bimbingan berhubungan erat dengan pencapaian tujuan pendidikan nasional, yaitu: meningkatkan kualitas, sumber daya manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut sudah barang tentu perlu mengintegrasikan seluruh komponen yang ada dalam pendidikan, salah satunya komponen bimbingan. Bila dicermati dari sudut sosiok-ultural, yang melatar belakangi perlunya proses bimbingan adalah adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologiyang pesat sehingga berdampak di setiap dimensi kehidupan. Hal tersebut semakin diperparah dengan lajupertumbuhan penduduk yang tinggi, sementara laju lapangan pekejaan relatif menetap.
Menurut Tim MKDK IKIP Semarang (1990:5-9) ada lima hal yang melatar belakangi perlunya layanan bimbingan di sekolah yakni:
1.    Masalah perkembangan individu,
2.    Masalah perbedaan individual,
3.    Masalah kebutuhan individu,
4.    Masalah penyesuaian diri dan kelainan tingkah laku dan
5.    Masalahbelajar
Faktor-faktor pendorong perkembangan Bimbingan Konseling sekolah secara umum di Indonesia, di antaranya:
1.      Pada diri individu yaltu adanya masa-masa kritis dalam tiap masa perkembangan individu, terutama dalam masa remaja
2.      Pada kondisi luar individu seperti kondisi teknologi yang berkembang pesat; kondisi nilai-nilai demokratis, nilai-nilai etika pergaulan, nilai-­nilai humanistic versus pragmatic; kondisi struktural dan kebidangan dalam pendidikan dan lapangan kerja; dan kondisi-kondisi lainnya, termasuk di antaranya proses transmigrasi dan urbanisasi, kehidupan masyarakat massa yang telah menjauhkan hubungan kekeluargaan dan kekerabatan antara manusia dalam arti fisik dan praktis.
Selain itu faktor-faktor pendorong lain dari perkembangan konseling, khususnya konseling sekolah, adalah adanya keperluan nyata dan keperluan potensial para siswa pada beberapa jenjang pendidikan yaitu:
1.      Dalam menghadapi saat-saat kritis misalnya akibat kegagalan sekolah, kegagalan pergaulan, diperlukan adanya tipe konseling kritis
2.      Dalam menghadapi kesulitan dan kemungkinan kesulitan pemahaman diri dan lingkungan untuk arch diri dan pengambilan keputusan dalam karier, akademik, dan pergaulan sosial, diperlukan adanya tipe konseling fasilitatif
3.      Dalam mencegah sedapat munakin kesulitan yang dapat dihadapi dalam pergaulan, karier dan sebagainya, diperlukan adanya tipe konseling preventif
4.      Dalam menopang kelancaran perkembangan individual siswa seperti pengembangan akademik, diperlukan adanya tipe konseling developmental
Sehingga dengan demikian, kebutuhan akan hubungan bantuan (helping relationship), terutama konseling, pada dasarnya timbul dari diri dan luar diri individu yang melahirkan seperangkat pertanyaan mengenai apakah yang harus diperbuat individu. Sebagaimana diterangkan oleh Shertzerdan Shelly C. Stone dalam bukunya Fundamental of Counseling (Boston; Houton Alln Company, 1974) hal 22 "despite technological progress, man essential and perennial problem remain: Who am P How did I be comethey way I am? Am I normal? What good? What is reality? Or what value is life? How can I be more productive... more sensitive... more sensible... more alive?"
Perkembangan bimbingan disekolah untuk masa mendatang di Indonesia, menunjukkan adanya kemajuan yang terus meningkat dari tahun ke tahun, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor penunjang diantaranya:
1.      Secara formal lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia sudah melaksanakan bimbingan, meskipun belum terlaksananya secara efektif dan profesional.
2.      Telah ada Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Buku III C, Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan untuk SMP/SMA tahun 1975.
3.      Terdapat lembaga pendidikan/Pendidikan Tinggi, seperti FIP-IKIP dan FKIP dengan jurusan/program bimbingan konseling sekolah, yang memproduksi tenaga-tenaga profesional bimbingan sekolah.
4.      Telah diselenggarakan berbagai penataran Bimbingan dan Konseling untuk petugas Bimbingan disekolah.
5.      Kurikulum semua Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) telah mencantumkan mata kuliah Bimbingan dan Konseling.
6.      Telah terbentuk Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) yang dari pusat sampai kedaerah-daerah merupakan wadah untuk mengembangkan jalur hubungan antara petugas bimbingan maupun pihak-pihak lain (vertikal maupun horison).
7.      Tersedia tenaga terampil dan berwenang untuk melaksanakan tes psikologi dibeberapa lembaga dan wilayah yang dengan berbagai instrumen tes psikologi yang telah dikembangkan oleh beberapa lembaga yang berwenang di Indonesia.
2.4         Sejarah Bimbingan dan Konseling di Indonesia
2.4.1   Sebelum Kemerdekaan
Masa sebelum kemerdekaan yaitu pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, kehidupan rakyat Indonesia berada dalam cengkeraman penjajah (Pendidikan diselenggarakan untuk kepentingan penjajah). Para siswa dididik untuk mengabdi demi kepentingan penjajah. Dalam situasi seperti ini upaya bimbingan sudah tentu diarahkan bagi perwujudan tujuan pendidikan masa itu yaitu menghasilkan manusia pengabdi penjajah. Akan tetapi, rasa nasionalisme rakyat Indonesia ternyata sangat tebal sehingga upaya penjajah banyak mengalami hambatan.
Rakyat Indonesia yang cinta akan nasionalisme dan kemerdekaan berusaha untuk memperjuangkan kemandirian bangsa Indonesia melalui pendidikan. Salah satu di antaranya adalah Taman Siswa yang dipelopori oleh K.H. Dewantara yang dengan gigih menanamkan nasionalisme di kalangan para siswanya. Dari sudut pandangan bimbingan hal tersebut pada hakikatnya adalah dasar bagi pelaksanaan bimbingan.
2.4.2        Dekade 40-an (Perjuangan)
Dalam bidang pendidikan, pada dekade ini lebih banyak ditandai dengan perjuangan merealisasikan kemerdekaan melalui pendidikan. Masalah kebodohan dan keterbelakangan merupakan masalah besar dan tantangan yang paling besar bagi pendidikan pada saat itu. Tetapi yang lebih mendalam adalah mendidik bangsa Indonesia agar memahami dirinya sebagai bangsa yang merdeka sesuai dengan jiwa Pancasila dan UUD 1945. Hal ini pulalah yang menjadi fokus utama dalam bimbingan pada saat itu.
2.4.3        Dekade 50-an (Perjuangan)
Kegiatan bimbingan pada masa dekade ini lebih banyak tersirat dalam berbagai kegiatan pendidikan. Upaya membantu siswa dalam mencapai prestasi lebih banyak dilakukan oleh guru di kelas atau di luar. Akan tetapi, pada hakikatnya bimbingan telah tersirat dalam pendidikan dan benar-benar menghadapi tantangan dalam membantu siswa di sekolah agar dapat berprestasi meskipun dalam situasi yang amat darurat.
2.4.4        Dekade 80-an
Pada dekade 80-an ini bimbingan diupayakan agar mantap. Pemantapan terutama diusahakan untuk menuju kepada perwujudan bimbingan yang profesional. Dengan demikian, maka upaya-upaya dalam dekade 80-an lebih mengarah kepada profesionalisasi yang lebih mantap.
Pada saat ini, profesi konselor secara legal formal telah diakui dalam sistem pendidikan nasional. Konselor sekolah atau guru bimbingan dan konseling merupakan profesi yang sudah diakui keberadaannya di sekolah. Hal ini dapat dilihat pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru pada pasal 15 yang mengatakan bahwa guru bimbingan dan konseling atau konselor adalah guru pemegang sertifikat pendidikan.[4]
  
KESIMPULAN

Bimbingan dan konseling (guidance and counseling) sebagai disiplin ilmu yang berkembang sejak permulaan abad ke-20 M.Bimbingan dan konseling merupakan salah satu komponen dari pendidikan kita,mengingat bahwa suatu kegiatan bantuan dan tuntunan yang di berikan kepada individu pada umumnya,dan siswa pada khususnya di sekolah dalam rangka meningkatkan mutunya.Hal ini sangat relevan jika dilihat dari prumusan bahwa pendidikan itu adalah merupakan usaha saadar yang bertujuan untuk mengembangkan kpribadiaan dan potensi-potensi ( bakat,minat,dan kemampuan).kepribadian menyangkut masalah perilaku atau sikap mental  dan kemampuan meliputi maaslah akademik dan keterampilan.Tingkat kepribadian dan kemampuan yang di miliki oleh seseorang adalah suatu gambaran mutu dari orang tersebut.
            Manusia perlu mengenal dirinya dengan sebaik-baiknya.Dengan mengenal dirinya ini manusia akan bertindak dengan tepat dengan sesuai dengan kemampuan-kemampuan yang ada padanya.tetapi tidak semua manusia dapat sampai kepada kemampuan ini.Bagi mereka ini sangat di perlukan pertolongan atau bantuan dari orang lain,dan hal ini dapat di berikan Bimbingan dan konseling
Bimbingan dan konseling merupakan kegiatan yang bersumber pada kehidupan manusia.Kenyataan menunjukkan bahwa manusia di dalam kehidupannya sering menghadapi persoalan-persoalan yang silih berganti.Persoalan yang satu dapat diatasi,persoalan yang lain timbul demikian seterusnya.Berdasarkan atas kenyataan bahwa manusia itu tidak sama satu dengan lainnya , baik dalam sifat-sifatnya maupun dalam kemampuan-kemampuannya,maka ada manusaia yang sanggup mengatasi persoalannya tanpa ada bantuan atau pertolongan dari orang lain.Bagi yang akhir inilah Bimbingan & konseling sangat di perlukan.

DAFTAR PUSTAKA

Gibson, Robert L. dan Marianne H. Mitchell. 2011. Bimbingan dan Konseling. Yogyakarta:  Pustaka Pelajar.

Komalasari, Gantina dkk. 2011. Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: PT. Indeks.

Latipun. 2006. Psikologi Konseling. Malang: Penerbitan UMM.

Walgito, Bimo. 2010. Bimbingan dan Konseling. Yogyakarta: Andi Offset.


[1] Walgito, Bimo. 2010. Bimbingan dan Konseling. Yogyakarta: Andi Offset
[2] Gibson, Robert L. dan Marianne H. Mitchell. 2011. Bimbingan dan Konseling. Yogyakarta:  Pustaka Pelajar.
[3] Latipun. 2006. Psikologi Konseling. Malang: Penerbitan UMM.
[4] Gantina Komalasari dkk, Teori dan Teknik Konseling, (Jakarta: PT. Indeks, 2011), hal. 44

No comments:

Post a Comment