1

loading...

Tuesday, March 20, 2012

Makalah Akhlak


Makalah Akhlak



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Islam merupakan salah satu agama samawi yang meletakkan nilai-nilai kemanusiaan, atau hubungan personal, interpesonal dan masyarakat secara Agung dan Luhur, tidak ada perbedaan satu sama lain, keadilan, relevansi, kedamaian, yang mengikat semua aspek manusia. Karena islam yang berakar pada kata “salima” dapat diartikan sebagai sebuah kedamaian yang hadir dalam diri manusia dan itu sifatnya fitnah, kedamaian, akan hadir, jika manusia itu sendiri menggunakan dorongan diri (drive) kearah bagaimana memanusiakan manusia dan memposisikan dirinya sebagai mahluk ciptaan tuhan yang bukan saja unik tapi juga sempurna. Namun jika sebaliknya manusia mengikuti nafsu dan tidak berjalan, seiring fitnah, maka janji tuhan azab dan keinahan akan datang. Tegaknya aktifitas keislaman dalam hidup dan kehidupan seseorang itulah yang dapat menerangkan bahwa orang itu memiliki ahlak. Jika seseorang sudah memahami ahlak maka akan menghasilkan kebiasaan hidup yang baik.   
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagai mana pengertian akhlak ?
2.      Seperti apa akhlak dalam pendidikan islam ?
3.      Bagaimana pandangan islam terhadap akhlak ? 
C.    Tujuan
Adapun tujuan penulis dala makalah adalah untuk mengetahui lebih jauh seperti apa pandangan islam terhadap akhlak dan makalah dan makalah ini disusun untuk mmenuhi tugas mata kuliah filsafat pendidikan islam.




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Akhlah
Akhlak (Ar.: al-akhlak, jamak dari al-khulq = kebiasaan, perangai, tabiat, dan agama). Tingkah laku yang lahir dari manusia dengan sengaja, tidak dibuat-buat, dan telah menjadi kebiasaan. Kata akhlak dalam pengertian ini disebut dalam Al-Quran dengan bentuk tunggalnya, khulq, pada firman Allah SWT yang merupakan konsiderans pengangkatan Muhammad sebagai Rasul Allah[1]. Dijelaskan dalam Al-Quran sebagai berikut :
والك لعلر حلق عطلم(المملع. ٦٨:٤)
Atrinya 
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pengerti yang agung (QS Al-Qalam, 68 :4)[2]
Beberapa istilah yang bekaitan dengan akhlak. Menurut jamil salibah (ahli bahasa arab kontemporer asal suriah), adalah akhlak yang baik dan ada yang buruk. Akhlak yang baik disebut adab (adab). Kata adab juga digunakan dalam arti etika yaitu tata cara sopan santun dalam masyarakat guna memelihara hubungan baik antar mereka.
Ulamah akhlak brbeda pendapat tentang apa kah akhlak yang lahir dari manusia merupakan hal pendidikan dan latihan ataukah pembawah sejak lahir. Sebagian mengatakan bahwa akhlak merupakan pembawah sejak lahir orang yang bertingkah laku baik atau buruk karena pembawanya sejak lahir. Karenanya, akhlak tidak bisa diubah melalui pendidikan atau latihan. Pandangan ini dipegang oleh kaum jabariah, salah satu aliran dalam teologi islam. Sebagian lain berpendapat bahwa akhlak merupakan hasil pendidikan. Karenanya, akhlak bisa diubah melalui pendidikan, dan itulah sebabnya mengapa Rasulullah SAW “diutus untuk menyempurnakan akhlak” (HR. Malik). Pendapat ini dipegang oleh kebanyakan ulamah. Ibnu maskawaih, ketika mengeritik pandangan pertama, mengatakan bahwa pandangan negatif tersebut antara lain akan memebuat segalah bentuk normal dan bimbingan jadi tertolak, orang jadi tunduk pada kekejaman dan kelaliman, serta nak-anak jadi liar karena tubuh dan perkembangan tanpa nasihat dan pendidikan.
Menurut Quraish Shihab, meskipun kedua potensi ini terdapat dalam diri manusia, ada issyarat dalam Al-Quran bahwa manusia pada dasarnya cendrung pada kebajikan. Didalam Al-Qurandiuraikan bahwa iblis menggoda Adam, lalu adam durhaka kepada Tuhan. Sebelum digoda iblis, Adam tidak durhaka artinya ia tidak melakukan sesuatu yang buruk akibat godaan itu, adam menjadi sesat, tetapi kemudian bertobat kepada tuhan sehingga kembali kepada kesuciannya.
Ukuran Baik dan Bururk. Ulama berbeda pendapat tentang ukuran baik dan buruk akhlak. Mereka terbagi menjadi tiga golongan
Golongan pertama, Muktazilah (aliran teologi islam rasional dan liberal pada abad ke-8, didirikan oleh wasil bin ata [80 H/699 M-131 H/748 M]), berpendapat bahwa ukuran baik dan buruk akhlak adalah esensinya. Untuk ini mereka membagi akhlak yang menuntut esensinya adalah buruk dan Allah SWT pasti melarangnya, seperti besikap jujur dan adil. Ada akhlak yang menurut esensinya bisa baik dan buruk, seperti membunuh.
Golongan kedua. Maturidiah (aliran yang didirikan oleh abu Abu Mansur Muhammad al-maturidi [w. 333H/944 M]) dan mashab *Hanafi, sependapatdengan golongan Muktazilah. Hanya saja mereka, berbeda pendapat tentang tanggung jawab terhadap akhlak tersebut. Menurut mereka, akal tidak dapat menetapkan kewajiban, yang menetapkan kewajiban adalah syarak. Manusia akan dimintai pertanggung jawaban hanya atas dasar kesadaran etisnya yang diperoleh melalui syarak.
Golonga ketiga, Asy’ariyah (aliran yang didirikan oleh Abu Hasan Ali bin Ismailal-Asy-ari [260H/873 M-324 H/935 M]) dan jumlah ulamah usul fikih, berpendapat bahwa baik dan buruk akhlak ditentukan olej syarak. Apa yang diperintahkan adalah baik dan yang dilarangnya adalah baik dan apa yang dilrangnnya adalah buru. Manusia akan dimintai pertanggung jawaban diperoleh melalui syarak.
Al-Quran meberi kebebasan kepada manusia untuk memilih bertingkah laku baik atau buruk sesuai dengan kehendaknya. Atas dasar kehendak dan pilihannya itulah manusia dan diminta pertanggung jawabannya diakherat atas segalah tingkah lakunya[3]. Allah SWT berfirman.

Artunya :
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa) : "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma'aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."
 (Q.S Al Baqarah 2 : 286[4])

Sumber Akhlak. Akhlak orang muslim merujuk pada dua sumber utama pada ajaran islam. Sumber pertama diterangkan oleh *Aisyah binti Abu Bakar ketika ditanya para sahabat tentang akhlak Rasulullah SAW Aisyah berkata adalah : “Akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Quran”(H.R Ahmad bin Hanban). Adapun sumber kedua adalah keteladanan yang dicontohkan oelh Rasulullah SAW kepada umatnya, sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT di dalam firman-Nya.  
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ
Artinya :
Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. : (Q.S Al-Ahzab. 33 : 21)[5]. 
Sasaran Ahlak. Dalam Islam, secara garis besar akhlak manusia mencangkup tiga sasaran, yaitu terhadap Allah SWT, terhadap bersama manusia, dab terhadap lingkungannya.
Akhlah terhadap Allah SWT. Menurut Muhammad Quraish Shihab, akhlak manusia terhadap Allah SWT bertitik tolak dari pengakuan dan kesadaran bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT yang memiliki segalah sifat terpuji dan sempurna.
a.       Mensucikan Allah SWT dan memuji-nya.
b.      Bertaqwa (berserah diri) kepada Allah SWT setelah berbuat atau berusaha lebih dahulu.
c.       Berbaik sangka kepada Allah SWT
Akhlak Terhadap Sesama Manusia
a.       Akhlak terhadap Oran Tua diantaranya sebagai berikut :
1.      Memelihara keridaan orang tua
2.      Berbakti kepada orang tua
3.      Memelihara etika pergaulan kepada orang tua
b.      Akhlak terhadap kaum kerabat. Akhlak yang paling utama terhadap kaum kerabat ialah mengadakan hubungan silaturahmi dan berbuat ihsan (baik) terhadap mereka, seperti mencintai mereka serta turut merasakan suka dan duka mereka. Diatara ayat-ayat yang berbicara tentang akhlak ini ialah surah an-Nisa (4) ayat 1 dan 36, surah ar-ra’d (13) ayat 25, surah al-israh (17) ayat 26, dan surah Muhammad (47) ayat 22. Diantara hadist Nabi SAW yang berbicara tentang akhlak ini ialah “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhirmaka hendaklah ia mengadakana hubungan silaturrahmi” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
c.       Akhlak terhadap tantangan. Diantara akhlak seseorang terhadap tantangannya ialah sebagai berikut.
1.      Tidak menyakiti tetangganya. Baik dengan perbuatan maupun denga perkataan
2.      Berbuat ihsan (kebaikan) kepada tentangga diataranya ialah melakukan *takziah ketika tetangganya mendapatkan musibah, melakukan *tahnia ketika tetanggany mendapat kegembiraan, menjenguknya ketika sakit, menolongnya ketika dimintai tolong.
Ahklah terhadap Lingkungan. Dimaksudkan dengan lingkungan disini ialah segalah sesuatu yang berada disekitar manusia, seperti binatang, tumbuhan-tumbuhan dan benda-benda yang tak bernyawa.  
Akhlak yang dianjurkan Al-Quran terhadap lingkungan bersumber daru fungsi manusia sebagai khalifah. Khalifah menuntut adanya interaksi antara manusia dan alam. Khalifah mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, dan bimbingan agar setiap mahluk mencapai tujuannya. Mahluk-mahluk itu adalah umat seperti manusia juga. Al-Quran menggambarkan : “dan tiada binatangbinatang yang ada dibumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melaikan umat-umat (juga) seperti kamu… ”(Q.S. 6:38). Oleh sebab itu menurut Al-Qurtubi, makluk-mahluk itu tidak boleh diperlukan secara aniayah[6].
Allah SWT menciptakan Ala mini dengan tujuan yang benar, sesuai dengan firman-Nya. (Q.S. Al-Ahqaaf. 46:3)[7].



Artinya :
Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.
M. Quraish Shihab mengatakan bahwa dalam memanfaatkan alam manusia tidak hanya dituntut untuk tidak bersikap angkuh terhadap sumber daya yang dimilikinya, tetapi juga dituntut untuk memperhatikan apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Allah SWT, pemilik ala mini. Manusia ditutntu tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri atau kelompok saja tetapi juga kemaslahatan semua pihak. Dengan demikian, manusia diperintahkan bukan untuk mencari kemenagan, tetapi keselarasan dengan alam.
Kitab Tentang Akhlak. Disamping petunjuk tentang akhlak dalam bentuk perbuatan seperti dikemukakan diatas, didalam islam terdapat juga petunjuk untuk memiliki perangai seperti sabar, ramah, ikhlas, pemaaf, jujur,dan kasih sayan, serta petunjuk untuk menghindari perangai yang buruk sepertipemarah, pendendam, dan berdusta.
Pembahasan tentang petunjuk-petunjuk tersebut banyak dimuat dalam kitab tasawuf dan akhlak antara lain sebagai berikut.
1.      Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah (risalah karya Qusyairi). Karya Abu Qasim Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Talha bin Muhammad Al-Qusyairi (376 H/986 M-465 H/1074 M). kitab ini membahas antara lain tingkah laku, prinsif dan sifat sufi, serta kode etika para pelajar.
2.      Ihya Ulum Ad-Din  (Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama), karya Imam al-gazali. Kitab yang terdiri atas 4 jilid ini dibagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama mengupas masalah ibadah dengan segala rahasianya. Bagian kedua membahas masalah adat dan muamalah. Bagian ketiga menyajikan hal-hal yang dapat merusak diri, termasuk akhlak-akhlak tercela. Bagian keempat menguraikan hal-hal yang menyelamatkan manusia dalam berbagai kerusakan, termasuk akhlak terpuji.
3.      Al-Azkar (Zikir-zikir), karya imam an-Nawawi, kitab ini berkumpulan hadist dan doa tentang aktivitas sehari-hari, latihan rohani, etika umum, dan lain-lain yang mempererat hubungan manusia dengan Tuhan dan sesamanya.
4.      Al-Akhlaq al-Islamiyyah wa Ususuha (Akhlak Islamdan dasar-dasarnya). Karya Ayekh Abdurrahman Hasan Habnakah al-Maidani (ahli ilmu akhlak konteporer asal Suriah). Materinya antara lain dasarnya akhlak yang digalidari Al-Quran dan hadis petunjuk praktis penerapan akhlak, dan pendidikan akhlak[8].        
B.     Pendidikan Islam
Pendidikan islamadalah usaha yang diarahkan kepada pembentukan kepribadian yang sesuai dengan ajaran islam atau suatu upaya dengan ajaran islam memiliki nilai-nilai islam serta bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai islam.
Sebagai aktivitas yang bergerak dalam bidang pendidikan dan pembinaan keperibadian tentunya pendidikan islam memerlukan landasan kerja untuk member arah bagi programnya sebab dengan adanya dasar juga berfungsi sebagai sumber semua peraturan yang akan diciptakan sebagai pegangan lengah pelaksanaan dan sebagai jalur langkah menentukan arah usaha sersebut.
Urutan prioritas pendidikan islam dalam upayah pembentukan kepribadian muslim, sebagaimana di ilustrasikan berturut-turut dalam al-quran surat Lugman mulai ayat 3 dan seterusnya adalah[9].   
1.      Pendidikan keimanan kepada Allah SWT




Artinya :
Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (Luqman ayat 13)[10].
Pendidikan yang pertama dan utama untuk dilakukan adalah pembentuka keyakinan kepada Allah yang diharapkan dapat melandasi sikap, tingkah laku dan kepribadian.
2.      Pendidikan Akhlaqul Karimah
Sejalan dengan usaha membentuk dasar keyakinan atau keimanan maka diperlukan juga usaha membentuk akhlak yang mulia. Berakhlak yang mulia adalah merupakan modal bagi setiap orang dalam menghadapi pergaulan antar sesamanya.
Akhlak termasuk diantara makana yang terpenting dalam hidup ini tingkatnya berada sesudah keimanan atau kepercayaan kepada Allah, Malaikatnya, Rasul-rasulnya, hari akhir yang terkandang hasyar, hisab, balasan akhirat dan qada dan qadar Allah. Apabila beriman kepada Allah dan beribadah kepadanya pertama-tama berkaitan rapat antar hubungan hamba dan Tuhannya, maka akhlak pertama sekali berkaitan dengan hubungan Muamalah Manusia dan orang-orang lain, baik secara individu maupun kolektif. Tetapi perlu diingat bahwa akhlak tidak terbatas pada penyusunan hubungan antara manusia dengan manusia yang lainnya, tetapi melebihi itu, juga mengatur hubungan manusia dengan segalah yang terdapat dalam wujud dan kehidupan ini malah melampawi itu yaitu mengatur hubungan antar hamba denga Tuhannya[11].




Artinya :
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Luqman 18)[12].
Selanjutnya, tentang pendidikan (Pendidikan Islam) Al-Quran, antra lain berbicara mengenai : karakteristik sejarah dan medan pendidikan. 
1.      Karakteristik Pendidikan Islam
Pendidikan islam bukannya hanya pendidikan akhlak aqiqah dan ibadah saja, melaikan lebih luas, yakni :
a.       Pendidikan Islam mencakup seluruh aspek manusia
b.      Pendidikan Islam mencakup kepentingan hidup dunia dan akhirat.
c.       Pendidikan Islam berlangsung terus-menerus sejak masih dalam kandungan ibu sampai masuk liang lahat, setiap orang selalu terlebit dalam proses pendidikan baik sebagai terdidik maupun pendidik.
d.      Sistem Pendidikan islam menuju keselarasan kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Segi-segi pendidikan islam diatas pada satu perinsip :
Al-Quran dan pendidikan islam mempelihara dan memperhatikan Fitnah Manusia, pada islam sengaja direncanakan oleh Allah intik selaras, relevan dan sesuai dengan fitnah tersebut. Sehingga dikatakan bahwa fungsi pendidikan menurut Al-Quran adalah : usaha dan upaya manusiakan manusia. Dan oleh karena itu fitnah manusia itu selalu cendrung kepada Al-Haq atau Al-Islam, maka pendidikan menurut Al-Quran adalah menuju terbentuknya pribadi Muslim Paripurna. (Ali Khalil Abu Al-Ainain, 1980 : 147-148)
2.      Sasaran Pendidikan Islam
Dari segi salah satu esensi penting pendidikan yakni pertumbuhan dan perkembangan, maka sasaran pendidikan merupakan persoalan asasi dan menyangkut masalah ini dan nilai Qurani terdiri atas dua tingkat :
a.       Nilai-nilai Rohaniah, berupa “Imam” (Tauhid), yakni merupakan motivasi dasar dari seluruh aktivasi manusia, melahirkan keikhlasan.
b.      Nilai-nilai pengabdian (Ubudiyah) terdiri dari nilai-nilai moral (Akhlak), nilai individu , nilai-nilai social (Masyarakat)
3.      Medan Pendidikan Islam
Menurut ajaran Islam, medan pendidikan adalah :
a.       Pendidikan Jasmani
b.      Pendidikan Rasio
c.       Pendidikan Aqidah
d.      Pendidikan moral (Akhlak)
e.       Pendidikan Kreatifitas
f.       Pendidikan Seni
g.      Pendidikan Sosial
Islam menilai Pendidikan Jasmani sebagai cukup penting karena jasmani manusia ikut member adil dalam upaya penuaian, tugas hidup manusia pendidikan rasio, tidak hanya bermaksud agar manusia maupun berfikir saja, melainkan lebih dari, dengan kemampuan berfikir manusia akan lebih baik dalam mengenal dan selanjutnya mengabdikan dirinya kepada khaliqnya arah pendidikan kreatifitas adalah agar manusia mampu mengajarkan akhlak kepada dirinya sendirinya. Sedangkan pendidikan (Terbentuknya manusia pengabdi yang Shalih), juga dalam rangka pencapaian sasaran pendidikan sosial amat penting artinya bagi penuaian tugas ibadah dalam dimensi sosial[13].    
Adapun tujuan pendidikan islam yang sejalan dengan misi islam itu sendiri yaitu mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai akhlak Al-Karimah. (Al-karimah1979).
Misi islam itu sendiri yaitu mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai akhlak Al-Karimah. (Al-Syaibany, 1979)
Dan tujuan tersebut sama dan sebangun dengan target yang terkandung dalam tugas kenabian, yang diemban oleh Rasul Allah SAW. Yang terungkap dalam pernyataan beliau : “sesungguhnya aku diutus adalah untuk membimbing mausia mencapai akhlak yang mulia” (Al-Hadist) faktor kemulian akhlak dalam pendidikan islam dinilai sebagai faktor kunci dalam menentukan keberhasilan pendidikan yang menurut pandangan islam berfungsi menyiapkan manusia-manusia yang mampu menata kehidupan yang sejahtera dudunia dan kehidupan akherat.
Dua sasaran pokok yang akan oleh pendidikan islam tadi, kebahagian dunia dan kesejahteraan akhir, memuat sisi-sisi penting. Dan bagian ini dipandang sebagai nilai lebih dari pendidikan islam disbanding dengan pendidikan non islam. Nilai lebih tersebut terlihat bahwa pendidikan islam dirancang agar dapat merangkum tujuan hidup manusia sebagai mahluk ciptaan tuhan yang pada hakikatnya tunduk pada hakikat penciptaanya.  
1.      Tujuan Pendidikan islam itu bersifat fitnah yaitu membimbing perkembangan manusia sejalan dengan fitnah kejadiannya.
2.      Tujuan pendidikan islam menentang dua dimensi yaitu tujuan akhir bagi keselamatan hidup didunia dan diakhirat.  
Prof. Mohammad athiyan Al-Brosyi dalam kejadiannya tentang pendidikan islam telah menyimpulkan 5 (Lima) tujuan yang asasi bagian pendidikan islam yang diuraikan dalam “At-Tarbiyah Al-Islamiyah Wa-Falsafatuha”. Yaitu :
1.      Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia
2.      Persiapan untuk kehidupan dunia dan diakhirat[14].
Dalam kaitannya dengan evaluasi pendidikan islam telah menggariskan tolak ukur yang serasi dengan tujuan pendidikan. Baik tujuan jangka pendek, yaitu membimbing manusia agar hidup selamat didunia maupun tujuan jangka panjang untuk kesejahteraan hidup akhirat nanti. Kedua tujuan tersebut menyatu dalam sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak yang mulia terlihat dalam penampilan sikap pengabdiannya kepada Allah SWT dan kepada lingkungannya bauk kepada sesama manusia, maupun terhadap kepada alam sekitarnya. Oleh karena itu dalam pendidikan islam evaluasi lebih ditekankan pada penguasa sikap (aspek efektif) ketimbang pengetahuan (aspek kognitif).
Akhlak yang diharapkan dapat dibentuk melalui pendidikan islam, nilai-nilai akhlak sebagai bagian yang seharusnya dijadikan landasan bagian sistem pendidikan islam, hingga dalam pelaksanaan seseorang muslim maupun menempatkan dirinya sebagai khalifah Allah dimuka bumi dan untuk memakmurkan kehidupan di bumi dan menghindarkan segala bentuk perbuatan yang mengarah kepada kerusakan[15].
C.    Akhlak Dalam Pandangan Islam
Untuk menyempurnakan rangkaian pembahasan ini, ada satu topik penting yang banyak dibicarakan orang dan pengaruhnya cukup besar dalam kehidupan masyarakat ataupun individu. Topik tersebut adalah tentang akhlak dalam pandangan islam. 
Seperti telah diketahui agama islam mengatur hubungan manusia dengan penciptanya hubungan manusia dengan dirinya serta hubungan manusia dengan sesamanya. Hubungan manusia dengan penciptanya dalam masalah akidah dan ibadah. Hubungan manusia dengan dirinya diatur dengan hukum akhlak, makanan dan minuman, serta pakaian, selain itu hubungan manusia dengan sesamanya, diatur dengan hukum muamalah dan uqubat.
Islam telah memecahkan persoalan hidup manusia secara menyeluruh dengan menitik beratkan perhatian kepada umat manusia serta integal, tidak terbagi-bagi dengan demikian, kita melihat islam menjelaskan persoalan dengan metode yang sama yaitu membangun semua solusi persoalan tersebut diatas dasar akidah, yaitu asas rohani tentang kesadaran manusia akan hubungan dengan Allah kemudian dijadikan asa peradapan islam asas syarat islam dan asas negara.
Masyarakat tegak dengan peraturan-peraturan hidup serta dipengaruhi oleh perasaan dan pemikiran yang merupakan kebiasaan umum, hasil dari pemahaman hidup yang dapat menggerakan masyarakat. Karena itu, yang menggerakkan masyarakat.bukanlah akhlak melainkan peraturan-peraturan yang diterapkan ditengah masyarakat, pemikiran-pemikiran dan perasaan yang ada pada masyarakat[16].





BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pengerian akhlak Al-akhlak, jamak dari al-khulg yaitu kebiasaan, perangai, tabiat dan agama, akhlak juga dikatakan tingkah laku yang lahir dari manusia dengan sengaja, tidak berbuat-buat dan telah menjadi kebiasaan adapun sasaran akhlak dalam islam secara garis besar akhlak manusia mencakup tiga sasaran yaitu akhlak terhadap Allah SWT. Akhlak terhadap sasaran manusia.
Akhlak terhadap lingkungan didalam pembentukan akhlak perlu adanya pendidikan islam yang mengarahkan akhlak tersebut, karena didlam tujuan pendidikan islam yang sejalan dengan misi islam itu sendiri yaitu mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai akhlak al-karinah (al-syaibany 1979) faktor kemuliaan akhlak kunci dalam menentukan keberhasilan pendidikan yang menurut pandangan islam berfungsi menyiapkan manusia yang mampu menata kehidupan yang sejahtera didunia dan diakhirat. Akhlak yang diharapkan dapat dibentuk melalui pendidikan islam.
B.     Kritik dan Saran
Apabila didalam penulis makalah ini masih terdapat kekurangan dan kesalahan maohon dimaafkan, penulis sangat mengharapkan kritik dan sarannya dari pembaca demi perbaikan makalah ini dan kmi ucapkan terima kasih.




KATA PENGANTAR
Asslamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Puji serta syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah Filsafat Pendidikan Islam yang berjudul “Pandangan Islam Terhadap Akhlak”. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW serta keluarga dan para sahabatnya.
Dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kelemahan, baik mengenai materi maupun sistematika penulisan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan penulis sendiri. Untuk itu dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan proposal penelitian di masa yang akan datang.
Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Bengkulu,   November 201


Penulis











DAFTAR FUSTAKA

Dahlan, Adul Aziz. 1996. Ensiklopedia Hukum Islam. Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve.
Dra. Zuhairi. Dkk. 2008. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara.  
Drs. M.s. Khalil, MA. 1993. Filsafat Pendidikan Islam. Pasuruan Jawa Timur : PT. Garoeda Buana Indah.  
Drs. Usman Said dan Dr. Jalaludin. 1993. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Al-Qur’an dan Terjemah, Departemen Agama Republik Indonesia. 1989. Jakarta : CV Toha Putra Semarang.




[1] Dahlan, Abdul Aziz. Ensiklopedi Hukum Islam (Jakarta : Ictiar baru Van Hoeve. 1996) Hal. 73
[2] Al-quran dan Terjemah, Departemen Agama Republik Indonesia (Jakarta : CV. Toha Putra Sanarang. 2989) Hal. 1075
[3] Dahlan, Abdul Aziz. Ensiklopedi Hukum Islam (Jakarta : Ichtiar) Hal. 74-75
[4] Al-quran dan Terjemahan, Departemen Agama Republik Indonesia (Jakarta : CV. Toha Putra Semarang 1989) Hal. 77
[5] Al-quran dan Terjemahan, Departemen Agama Republik Indonesia (Jakarta : CV. Toha Putra Semarang 1989) Hal. 755
[6] Dahlan, abdul aziz. Ensiklopedi hukum islam (Jakarta : Ictiar baru Van Hoeve. 1996) hal. 75-76
[7] Al-quran dan terjemahan, departemen Agama Republik Indonesia (Jakarta : CV. Toha Putra Semarang 1989) Hal. 928

[8] Dahlan, abdul aziz. Ensiklopedi hukum islam (Jakarta : Ictiar baru Van Hoeve. 1996) hal. 77-78
[9] Isman said, jalaluddin. Filsafat pendidikan Islam (Jakarta PT. Raja Grafindo Persoda 1999) Hal. 38-39
[10] Al-quran dan terjemahan, departemen Agama Republik Indonesia (Jakarta : CV. Toha Putra Semarang 1989) Hal. 736
[11] Zulhairi, dkk. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta : PT. Bumi Aksara. 2008) Hal. 152-157
[12] Al-quran dan terjemahan, departemen Agama Republik Indonesia (Jakarta : CV. Toha Putra Semarang 1989) Hal. 738
[13] Khalil. Filsafat Pendidikan Islam (Jawa Timur : PT.  Garaoeda Buana Indah. 1993) Hal. 9-11
[14] Zulhairi, dkk. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta : PT. Bumi Aksara. 2008) Hal. 164-166
[15] Zulhairi, dkk. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta : PT. Bumi Aksara. 2008) Hal. 60-80
[16] Ahmad, Akhlak dalam Islam, (Surabaya : Al-ikhlas) Hal. 155

No comments:

Post a Comment