Pengikut

Jumat, 16 Maret 2012

Model-Model Pembelajaran

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN A. KONSEP DASAR MODEL-MODEL PEMBELAJARAN Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas atau pembelajaran dalam toturial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk didalamnya. Soekamto dkk mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah: “Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar.” Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Eggem dan Kauchak bahwa model pembelajaran memberikan kerangka dan arah bagi para guru untuk mengajar. Joyce dan Weil (1992) berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. Model pembelajaran memiliki cirri-ciri sebagai berikut: • Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu. Sebagai contoh, model pembelajaran kelompok disusun oleh Herbert Thelen dan berdasarkan teori John Dewey. Model ini dirancang untuk melatih partisipasi dalam kelompok secara demokratis. • Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu. Misalnya model berfikir Induktif dirancang untuk mengembangkan proses berfikir induktif. • Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar dikelas. Nisalnya model Syntetic dirancang untuk memperbaiki kreativitas dalam pelajaran mengarang. • Memiliki bagian-bagin model dalam pelaksanaan, yaitu: (1) urutan langkah-langkah pembelajaran (syntax), (2) adanya prisip-prinsip reaksi, (3) system social dan (4) system dukung. Keempat bagian tersebut merupakan pedoman praktis bila guru akan melaksanakan suatu model pembelajaran. • Memilliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran. Dampak tersebut meliputi: dampak pembelajaran, yaitu hasil belajar yang dapat diukur dan dampak pengiring, yaitu hasil belajar jangka panjang. • Membuat persiapan mengajar (desain intruksional) dengan pedoman model pembelajaran yang dipilihnya. Para ahli menyusun model pembelajaran berdasarkan perinsip-perinsip pendidikan, teori-teori psikologis, sosiologis psiaktri, analisis system, atau teori-teori lain (Joyce dan Weil 1992). B. MODEL INTERAKSI SOSIAL Model interaksi social menekankan pada hubungan personal dan soaial kemasyarakatan diantara peserta didik. Model tersebut berfokus pada peningkatan kemampuan peserta didik, untuk berhubungan dengan orang lain, terlibat dalm proses-proses yang demokratis dan bekerja sacara produktif dalam masyarakat. Apikasi teori Gestalt dalam pembelajaran adalah sebagai berikut: • Pengalamn insight. Dalam proses pembelajaran peserta didik hendaknya memiliki kemampuan mengenal keterkaitan unsure-unsur dalam suatu objek. Guru hendaknya mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah dengan insight. • Pembelajaran yang bermakna. Kebermaknaaan unsure-unsur yang terkait dalam suatu objek akan menunjang pembentukan pemehaman dalam proses pembelajaran. Content yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas baik bagi dirinya maupun bagi kehidupannya dimasa yang akan datang. • Perilaku bertujuan. Perilaku terarah pada suatu tujuan. Perilaku di samping ada kaitan dengan SR-bond, juga terkait erat dengan tujuan yang hendak dicapai. Pembelajaran terjadi karena peserta didik memiliki harapan tertentu. Oleh sebab itu, pembelajaran akan berhasil bila peserta didik mengetahui tujuan apa yang akan dicapai. • Prinsip ruang hidup (life space). Prinsip ini dikembangkan oleh Kurt Lewin (teori medan/field theory). Prinsip ini menyatakan bahwa perilaku peserta didik terkait dengan lingkungan/medan tempat ia berada. Materi yang disampaikan hendaknya memiliki kaitan dengan situasi lingkungan tempat peserta didik berada (CTL). Model interaksi social ini mencakup strategi pembelajaran sebagai berikut: • Kerja kelompok bertujuan mengembangkan keterampilan berperan serta dalam proses bermasyarakat dengan cara mengembangkan hubungan interpersonal dan discovery skill dalam bidang akademik. • Pertemuan kelas bertujuan mengembangkan pemahaman mengenal diri sendiri dan rasa tanggung jawab baik terhadap diri sendiri maupun terhadap kelompok. • Pemecahan masalah social atau Inquiry Social bertujuan untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah-masalah social dengan cara berfikir logis. • Model laboratorium bertujuan unutk mengembangkan kesadaran pribadi dan keluwesan dalam kelompok. • Bermain berperan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik menemukan nilai-nilai social dan pribadi melalui situasi tiruan. • Simulasi social bertujuan untuk memantu peserta didik mengelami berbagai kenyataan social serta menguji reaksi mereka. C. MODEL PEMROSESAN INFORMAL Model pemrosesan ditekankan pada pengambilan, penguasaan dan pemrosesan informal yang dapat memperbaiki kemampuannya. Pemrosesan informal merujuk pada cara mengumpulkan/menerima stimuli dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep, dan menggunakan symbol verbal dan visual. Pembelajaran merupakan keluaran dari pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia (human capitalies) yang terdiri dari: • Informasi verbal, • Kecakapan intelektual, • Strategi kognitif, • Sikap, dan • Kecakapan motorik Robert M. Gagne mengemukakan ada delapan fase proses pembelajaran. Kedelapan fase itu sebagai berikut: • Motivasi yaitu fase awal memulai pembelajaran dengan adanya dorongan untuk melakukan suatu tindakan dalam mencapai tujuan tertentu (motivasi intrinsic dan ekstrinsik). • Pemahamn yaitu individu menerima dan memahami informasi yang diperoleh dari pembelajaran. Pemahaman didpapat melalui perhatian. • Pemerolehan yaitu individu memberikan makan/mempersepsi segala informasi yang sampai pada dirinya sehingga terjadi proes penyimpangan dalam memori peserta didik. • Penehanan yaitu menahan informasi. Hasil belajar agar dapat digunakan untuk jamgka panjang. Hla ini merupaka proses mengingat jangka panjang. • Ingatan kembali yaitu mengeluarkan kembali ingatan yang telah tersimpan, bila ada rangsangan. • Generalisasi yaitu perwujudan perubahan perilaku individu sebagai hasil pembelajaran • Umpan balik yaitu individu memperoleh feedback dari peilaku yang telah dilakukannya. Model proses informasi meliputi beberapa pendekatan/strategi pembelajaran diantaranya sebagai berikut: • Mengajar induktif, yaitu unutk mengembangkan kemampuan berfikir dan membentuk teori. • Latihan inquiry, yaitu unutk mencari dan menemukan informasi yang memang diperlukan. • Inquiry keilmuan, yaitu bertujuan untuk mengajarkan system penelitian disiplin ilmu, diharapkan dapat memperoleh pengalaman dalam domain-domain disiplin ilmu lainnya. • Pembentukan konsep, yaitu bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berfikir individu mengembangkan konsep dan kemampuan analisis. • Model pengembangan, bertujuan unutnk mengembangkan kemampuasn memproses informasi yang efisien untuk menyerap dan menghubungkan satuan ilmu pengetahuan secara bermakna. D. MODEL PERSONAL (Personal Models) Model personal menenkankan pada pengembangan konsep diri setiap individu. Hal ini meliputi pengembangan proses individu dan membangun serta mengorganisasikan dirinya sendiri. Model memfokuskan pada konsep diri yang kuat dan realistis untuk membantu membangun hubungan yang produktif dengan orang lain dan lingkungannya. Model ini bertitik tolak dari teori Humanistik, yaitu berorientasi pada pengembangan individu. Menurut teori ini, guru harus berupaya menciptakan kondisi kelas yang kondusif, agar peserta didik merasa bebas dalam belajar mengembangkan diri emosional maupun intelektual. Teori humanistic timbul sebagai cara untuk memanusiakan manusia. Pada teori humanistic ini, pendidik seharusnya berperan sebagai pendorong bukan menahan sensivitas peserta didik terhadap perasaannya. Implikasi teori ini dalam pendidikan adalah sebagai berikut. • Bertingkah laku dan belajar adalah hasil pengamatan. • Tingkah laku yang ada dapat dilaksanakan sekarang (learning to do). • Semua individu memiliki dorongan dasar terhadap aktualisasi diri. • Sebagian besar tingkah laku individu adalah hasil dari konsepsinya sendiri. • Mengajar adalah bukan hal penting, tapi belajar bagi peserta didik adalah sangat penting. • Mengajar adalah membantu individu untuk mengembangkan suatu hubungan yang produktif dengan lingkungannya dan memandang dirinya sebagai pribadi yang cakap. E. MODEL MODIFIKASI TINGKAH LAKU (Behavioral) Model behavioral menekankan pada perubahan perilaku yang tampak dari peserta didik sehingga kosisten dengan konsep dirinya. Sebagai bagian dari teori stimulus-respon. Model behaviorat menekankan bahwa tugas-tugas harus diberikan dalam suatu rangakaian kecil, berurutan dan mengandung perilaku tertentu. Model ini bertitik tolak dari teori belajar behavioristik, yaitu bertujuan mengembangkan system yang efisien untuk mengurutkan tugas-tugas belajar dan membentuk tingkah laku dengan cara memanipulasi penguatan (reinforcement). Model ini lebih menekankan pada aspek perubahan perilaku psikologis dan perilaku yang tidak dapat diamante karakteristik model ini adalah penjabaran tugas-tugas yang harus dipelajari peserta didik lebih efisien dan berurutan. Ada empat fase dalam model modifikasi tingkah laku ini, yaitu: • Fase mesin pengajaran. • Penggunaan media. • Pengajaran berprograma (linier dan braching). • Operant conditioning, dan operant reinforcement. Implementasi dari model modifikasi tingkah laku adalah meningkatkan ketelitian pengucapan pada anak. Guru selalu perhatian terhadap tingkah laku belajar peserta didik. Modifikasi tingkah laku anak yang kemampuan belajarnya rendah dengan reward, sebagai reinforcement pendukung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar