1

loading...

Monday, October 30, 2017

MAKALAH PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA KELAS RENDAH PENDEKATAN PEMBELAJARAN BAHASA

MAKALAH PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA KELAS RENDAH  
PENDEKATAN PEMBELAJARAN BAHASA 

BAB I
LATAR BELAKANG
A.    Latar belakang
Mengajar merupakan salah satu tugas utama seorang guru untuk melaksanakan tugas tersebut, ia memerlukan pedoman yang dijadikan pegangan agar apa yang dilakukan sesuai dengan kebijakan pemerintah, dalam hal ini kebijakan departemen pendidikan dan kebudayaan. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan kegiatan di dalam proses belajar mengajar, pegangan guru yang pertama adalah kurikulum.
Seperti diketahui bahwa kurikulum disusun berdasarkan sesuatu pendekatan yang dilandasi pandangan atau filsafat tertentu. Apabila pandangan berubah, pendekatan berubah, maka kurikulum pun akan berubah dan ini berarti pedoman proses pembelajaran juga berubah. Perubahan kurikulum dilakukan untuk menyesuaikan program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat atau pembangunan, serta meningkatkan mutu pendidikan. Dalam beberapa dasa-warsa ini, telah terjadi beberapa kali perubahan pendekatan didalam dunia pendidikan, termasuk didalam dunia pembelajaran bahasa. Saah satu perkembangan yang terjadi dalam pembelajaran bahasa ialah munculnya pendekatan yang dilandasi oleh filsafat pendidkan bahasa terpadu.




B.     Rumusan masalah
1.      Apa yang dimaksud pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran..?
2.      Apa-apa saja pendekatan dalam pembelajaran bahasa..?
3.      Apa-apa saja pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu dalam pembelajaran bahasa..?
4.      Apa yang dimaksud pendekatan terpadu dalam pembelajaran bahasa Indonesia…?

C.    Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui apa perbedaan dari pengertian pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran bahasa, Hubungan antara pendekatan, metode, teknik pembelajaran bahasa, Membandingkan pendekatan struktural dan pendekatan komunikatif, Membedakan pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu.








BAB II
PEMBAHASAN
PENDEKATAN PEMBELAJARAN BAHASA
A.    Pengertian Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembeljaran Bahasa.
1.      Pendekatan
Dalam proses belajar mengajar, kita mengenal istilah pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Istilah-istilah tersebut sering digunakan dalam pengertian yang sama; artinya, orang menggunakan istilah pendekatan dengan pengertian yang sama dengan pengertian metode, dan sebaliknya menggunakan istilah metode dengan pengertian yang sama dengan pendekatan; dengan demikian pula istilah teknik dan metode.
Sebenarnya, ketiga istilah tersebut mempunyai makna yang berbeda, walaupun dalam penerapannya ketiga-tiganya saling berkaitan. Tentang hal ini, ramelan (1982) mengutip pendapat anthony yang mengatakan bahwa pendekatan ini mengacu pada seperangkat asumsi yang saling berkaitan, dan berhubungan dengan sifat bahasa, serta pengajaran bahasa.[1] Pendekatan bahasa bermacam-macam, antara lain asumsi yang menggap bahasa sebagai kebiasaan; ada pula yang menganggap bahasa sebagai suatu sistem komunikasi yang pada dasarnya dilisankan; dan ada lagi yang mengaggap bahasa sebagai seperangkat kaidah.
Asumsi-asumsi tersebut diatas menimbulkan adanya pendekatan-pendekatan yang berbeda, yakni:
1.      Pendekatan yang mendasari pendapat bahwa belajar berbahasa, berarti berusaha membiasakan diri menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Tekanannya pada pembiasaan.
2.      Pendekatan yang mendasari pendapat bahwa belajar berbahasa, berarti membiasakan diri untuk memperoleh kemampuan berkomunikasi secara lisan.
 Tekanannya pembelajaran berbahasa memperoleh kemampuan berbicara.
3.      Pendekatan yang mendasari pendapat bahwa pembelajaran bahasa, yang harus di utamakan ialah pemahaman akan kaidah-kaidah yang mandasari ujaran, tekanannya pembelajaran pada aspek kognitif bahasa, bukan pada kemampuan menggunakan bahasa.
2.      Metode
Metode pembelajaran bahasa ialah rencana pembelajaran bahasa, yang mencakup pemilihan, penentuan, dan penyusunan secara sistematis bahan yang akan diajarkan, serta kemungkinan pengadaan remedial dan pengembangannya. Pemilihan, penentuan dan penyusunan bahan ajar secara sistematis, dimaksudkan agar bahan ajar tersebut mudah diserap dan dikuasai oleh siswa.[2] Semua itu didasarkan pada pendekatan yang dianut. Melihat hal itu, jelas bahwa suatu metode ditentukan berdasarkan pendekatan yang dianut; dengan kata lain pendekatan merupakan dasar penentu metode yang digunakan.
Metode, mencakup pemilihan dan penentuan bahan ajar, penyusunan serta kemungkinan pengadaan remedi dan pengembangan bahan ajar tersebut. Dalam hal ini, setelah guru menetapkan tujuan yang hendak dicapai, Ia mulai memilih bahan ajar yang sesuai dengan tingkat usia, kemampuan, kebutuhan, serta latar belakang lingkungan siswa. Kemudian, bahan ajar tersebut disusun menurut urutan tingkat kesukaran, yakni yang mudah berlanjut pada yang lebih sukar. Disamping itu, guru merencanakan pula mengevaluasi, megadakan remedi serta mengembangkan bahan ajar tersebut.
3.      Teknik
Teknik pembelajaran merupakan cara guru menyampaikan bahan ajar  telah disusun (dalam metode), berdasarkan pendekatan yang dianut.
Teknik yang digunakan oleh guru bergantung pada kemampuan guru itu mencari akal atau siasat agar proses belajar mengajar dapat berjalan lancar dan berhasil dengan baik. Dalam menentukan teknik pembelajaran ini, guru perlu mempertimbangkan situasi kelas, lingkungan, kondisi-kondisi yang lain. Dengan demikian, teknik pembelajan yang digunakan oleh guru dapat bervariasi sekali. Untuk metode yang sama, dapat digunakan teknik pembelajaran yang berbeda-beda, bergantung pada berbagai faktor tersebut.
Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa teknik pembelajaran adalah siasat yang dilakukan oleh guru dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, untuk dapat memperoleh hasil yang optimal. Teknik pembelajaran ditentukan berdasarkan metode yang digunakan, dan metode disusun berdasarkan pendekatan yang dianut. Dengan kata lain, pendekatan menjadi dasar penentuan teknik pembelajaran. Dari suatu pendekatan dapat diterapkan teknik pembelajaran yang berbeda-beda pula.[3]

B.     Pendekatan-pendekatan dalam pembelajaran bahasa
Pendekatan yang sudah lama diterapkan dalam pembelajaran nahasa antara lain adalah pendekatan tujuan dan pendekatan struktural. Kemudian menyusul pendekatan-pendekatan lain yang dipandang lebih sesuai dengan hakekat dan fungsi bahasa, yakni pendekatan komulatif dan pendekatan terpadu.
1.      Pendekatan tujuan
Pendekatan tujuan ini dilandasi oleh pemikiran bahwa setiap kegiatan belajar mengajar, yang harus dipikirkan dan diterapkan lebih dahulu ialah tujuan yang hendak dicapai. Dengan memperhatikan tujuan yang telah diterapakan itu, dapat ditentukan

metode yang akan diguanakan dan teknik pengajaran yang diterapkan agar tujuan pembelajaran tersebut dapat dicapai. Jadi proses belajar mengajar ditentukan oleh tujuan yang telah diterapkan, untuk mencapai tujuan itu sendiri.
Pada bagian terdahulu telah disebutkan bahwa kurikulum disusun berdasarkan suatu pendekatan. Seperti kita ketahui kurikulum 1975 merupakan kurikulum yang orientasi pada pendekatan tujuan.[4] Sejalan dengan hal itu maka bidang-bidang studi pun berorientasi pada pendekatan tujuan ; deemikian pula dengan bidang studi bahasa Indonesia. Oleh karena orientasi nya pada tujuan, maka pembelajaran pun ditekankan pada tercapainya tujuan. Misalnya contoh berikut ini: untuk pokok bahasannya menulis, tujuan pembelajaran yang ditetepkan adalah “siswa  mampu membuat karangan cerita berdasarkan pengalaman atau informasi dari bacaan’’.
Dengan berdasarkan pada pendekatan tujuan  yang penting adala tercapainya tujuan, yakni siswa memiliki kemampuan mengarang. Adapun mengenai masalah proses pembelajaran, metode, dan teknik pembelajaran bukan merupakan hal yang penting.
Demikian pula misalnya yang diajarkan pokok bahasannya struktur dan tujuan “siswa memiliki pemahaman mengenai bentuk-bentuk kata bahasa Indonesia”. Tujuan tersebut dapat dicapai melalui pembelajaran morfologi bahasa Indonesia. Penerapan pendekatan tujuan ini sering dikaitkan dengan “cara belajar tuntas” dengan “cara belajar tuntas” berarti suatu kegiatan belajar mengajar dianggap berhasil, apabila sedikitnya 85% dari jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran itu menguasai minimal


75% dari bahan ajar yang diberikan oleh guru, penentuan keberhasilan itu didasarkan berdasarkan hasil tes sumatif, jika sekurang-kurangnya 85% dari jumlah siswa menguasai atau mengajarkan dan menjawab dengan betul minimal 75% dari soal yang diberikan oleh guru maka pembelajran dapat dianggap berhasil.
2.      Pendekatan struktural
Pedekatan struktural adalah salah satu pendekatan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yang dilandasi oleh asumsi yang menganggap bahwa bahasa adalah seperangkat kaedah. Atas dasar anggapan tersebut timbul pemikiran bahwa pembelajaran bahasa harus mengutamakan penguasaan kaidah-kaidah bahasa atau taat bahasa. Oleh karena itu pembelajaran harus dititik beratkan pada pengatahuan struktur bahasa yang tercakup dalam fonologi, morfologi, dan sintaksis.
Dalam hal ini pengetahuan tentang pola-pola kalimat, pola kata, dan suku kata menjadi sangat penting. Jelas bahwa aspek kognitif bahasa diutamakan. [5]Disamping kelemahan, pendekatan ini juga memiliki kelebihan. Dengan pendekatan strukrural, siswa akan menjadi cermat dalam menyusun kalimat karena memahami kaidah-kaidahnya. Misalnya saja, mungkin tidak akan membuat kesalahan seperti dibawah ini.
“bajunya anak itu baru”
“disekolah kami mengadakan pertandingan sepak bola”
“anak-anak itu lari-lari dihalaman”




C.    Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu dalam Pembelajaran Bahasa.
1.      Pendekatan komunikatif
Pada bagaian terdahulu sudah dihelaskan bahawa pandangan tentang bahasa dan pembelajran bahasa selalu mengalami perubahan. Sejalan dengan perkembangan pola pikir masyarakat dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa Indonesia, akhir-akhir ini sedang digalakkan dengan penerapan pendekatan komunikatif dan pendekatn terpadu.
Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam komunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. Tampak bahwa bahasa tidak hanya dipandang hanya sebagai seperangkat kaidah, tetapi lebih luas lagi yakni sebagai sarana untuk berkomunikasi. Ini berarti bahasa ditempatkan sesuai dengan fungsinya, yaitu fungsi komunikatif.
Menurut littlewood (1991) pemikiran pendekatan komunikatif didasarkan pada pemikiran bahwa:
a.       Pendekatan komunikatif membuka diri bagi pandangan yang orang melihat bahwa bahasa tidak terbatas pada tata bahasa dan kosa kata, tetapi juga pada fungsi komunikatif bahasa.
b.      Pendekatan komunikatif membuka diri bagi pandangan yang luas bagi pembelajaran bahasa. Menimbulkan bahwa mengajarkan bahasa tidak cukup dengan memberi kepada siswa bentuk-bentuk bahasa asing.[6] Tetapi siswa mampu mengembangkan cara-cara menerapkan bentuk-bentuk itu sesuai dengan fungsi bahasa sebagai sarana komunikasi dalam situasi dan waktu yang tepat.
Sehubungan dengan pendapat itu dia mengemukakan beberapa alternatif teknik pembelajaran bahasa. Dalam kegiatan belajar mengajar, kepada siswa diberikan latihan, antara lain seperti dibawah ini:

a.       Memberi informasi terbatas.
1)      Mengidentifikasi gambar
2)      Menemukan/menari gambar yang cocok
3)      Menemukan informasi yang ditiadakan
b.      Memberi informasi yang tak dibatasi (bebas).
1)      Mengkomunikasikan contoh dan gambar
2)      Menemukan perbedaan
3)      Menyusun kembali bagian-bagian cerita
c.       Mengumpulkan informasi untuk memecahkan masalah.
d.      Menyusun informasi
2.      Pendekatan terpadu dalam bahasa
Seperti yang kita ketahui bahwa tujuan pembelajaran bahasa Indonesia yang tercantun dalam GBPP kurikulum sekolah dasar 1994 adalah :
1.      Siswa membanggakan dan menghargai bahasa Indonesia
2.      Siswa memahami bahasa Indonesia baik dari segi bentuk, makna dan fungsi, serata menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keputusan dan keadaan.
3.      Siswa memiliki kemampuan menggunakan bahaa Indonesia yang baik dan benar demi untuk kepentingan intelektual, kematangan emosional dan kematangan sosial
4.      Siswa memiliki kedisiplinan dalam berfikir dan berbahasa (berbicara dan menulis)
5.      Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya satra untuk meningkatkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
Untuk mencapai tujuan tersebut, telah digariskan pola komponen-komponen yang perlu diajarkan kepada siswa mencakup. [7]
1.      Lafal, intonasi, ejaan, dan tanda baca
2.      Struktur
3.      Dan kosa kata.
Dalam penyajiannya komponen-komponen tersebut telah dikemas dalam tema yang sudah digariskan dan diramu dengan huruf butir-butir pembelajaran yang sesuai yang terdapat dalam GBPP, sehingga pembelajarannya menjadi jelas, serta terpadu dengan bidang-bidang studi lain seperti, IPA,  IPS, dan Matematika.
Dalam kenyataannya, penggunaan bahasa didalam kehidupan sehari-hari, baik dalam situasi formal maupun situasi non formal, tiap-tiap aspek itu tidak ada yang berdiri sendiri. Misalnya saja kita membaca. Pada waktu kita membaca itu pasti kita berhadapan langsung dengan kosakata, ejaan, tanda baca, dan struktur kata maupun struktur kalimat. Mungkin juga setelah membaca, kita membuat ringkasan, catatan-catatan kecil, ikhtisar atau juga menceritakan dan menceritakan isi bacaan kepada orang lain. Demikian pula jika kita berbicara atau menulis kita tentu akan berhadapan dengan pilihan kata (kosa kata, struktur), pilihan kalimat (struktur), ejaan atau tanda baca ; dalam berbicara: intonasi, tekanan, dan lafal. Mungkin juga setelah tulisan jadi akan kita bacaan dihadapan teman-teman atau mungkin isi tulisan kita akan kita ceritakan kepadaa orang lain.[8]
Jadi jelas, bahwa aspek-aspek itu, di dalam praktik penggunaan bahasa, akan selalu tampil bersama. Melihat kenyataan tersebut maka dalam pembelajaran bahasa Indonesia, diterapkan suatu pendekatan yang dalam pelaksanaannya memadukan aspek-aspek bahasa. Pendekatan itu tersebut biasanya disebut dengan pendekatan terpadu. Filsafat bahasa terpadu dalam pembelajaran menjajikan tidak hanya dalam hal cara guru mengajarkan membaca dan menulis, tetapi juga cara mereka memandang diri mereka sendiri. Guru-guru yang menggunakan filsafat bahasa terpadu, tentu saja memberikan pengetahuan (kognitif) kepada siswa; tetapi di sampin itu mereka juga menjadi model dalam hal membaca, menulis dan sebagainya.
Dengan demikian, kelas meeka ditandai oleh komunikasi dan interaksi dengan bahasa yang hidup. Yeager mengemukakan beberapa hal yang penting yang terjadi didalam kelas dengang bahasa terpadu antara lain:
1.      Siswa banyak bergaul dengan literature (bacaan)
2.      Siswa merasakan pendekatan didalam pembelajaran dan memperlihatkan kesanggupan belajar yang tinggi.
3.      Guru-guru berinteraksi dengan siswa, baik sebagai pembaca maupun sebagai penulis
4.      Guru memperlihatkan perhatiannya terhadap bacaan dan penulisan pada umumnya.
Itulah gambaran mengenai bahasa terpadu dan bagaimana situasi kelas dengan bahasa terpadu yang kemukakan oleh yeager. Penerapan pembelajaran bahasa terpadu sebenarnya memeng sanggat membutuhkan perlengkapan yang memadai, setidaknya ada perpustakaan yang menyediakan buku-buku yang cukup untuk memenuhi kebutuhan siswa dan guru, lebih utama lagi sekolah harus memiliki laboratorium atau kelas-kelas khusus.
Namun dengan kondisi sekolah yang sederhana pun guru akan mampu melakasanakan pembelajaran secara terpadu, asalkan guru tersebut selalu berusaha mempersiapkan diri dan siswa nya dengan baik. Mempersiapkan diri, maksudnya membuat perencanaan belajar yang matang untuk proses belajar mengajar yang akan dilaksanakan. Menyiapkan siswa, maksudnya mempersiapkan siswa seperti mengarahkan atau memperingatkan mereka terhadap hal-hal yang perlu mereka siapkan untuk persiapan belajar mengajar yang akan datang.[9]


D.    Pendekatan terpadau dalam pembelajaran bahasa Indonesia
Telah dikemukakan di atas bahwa pemilihan pendekatan terpadu dalam bahasa, termasuk bahasa Indonesia, dilandasi dengan pemikiran bahwa aspek-aspek bahasa selalu digunakan secara terpadu, bahasa tidak pernah digunakan secara terpisah, aspek demi aspek.
Seperti telah dikemukakan pada bagian terdahulu, dalam pembelajran bahasa Indonesia, materi kebahasaan yang diberikan pada anak SD mencakup.
1.      Lafal dan intonasi, ini berkaitan dengan keterampilan membaca dan keterampilan berbicara serta menyimak.
2.      Ejaan dan tanda baca, berkaitan dengan keterampilan membaca dan menulis.
3.      Struktur, berkaitan dengan keempat jenis keterampilan berbahasa
4.      Kosakata, berkaitan dengan semua aspek lain, baik aspek keterampilan berbahasa maupun struktur.
Penerapan pendekatan terpadu. Dalam pembelajaan bahasa indonesia di kelas-kelas rendah (kelas 1 dan 2), keterampilan itu dapat diwujudkan sebagai berikut:
1)      Ketika guru mengajarkan membaca kata atau kata-kata sekaligus guru mngajarkan bagaiman melafalkannya (mengucapkannya) ddengan tepat. Dalam hali ini guru sudah mngaitkan kegiatan membaca dan pemahaman tentang lafal atau ucapan yang tercakup dalam tata bunyi.[10]
2)      Ketika guu mengajarkan menulis akalimat atau kata-kata, sekaligus ia juga mengajarkan bagaimana membacanya, melafalkannya, dan bagaiman pula ejaannya. Dalam hal ini, kecuali guru mengatkan (memadukan) membaca dan lafal, ia juga mengatkan dengan fonem, walaupun istilah tersebut tidak dnyatakan kepada siswa. Hal ini dilihat misalnya pada waktu siswa harus emenuliskan kata-kata sepert mama, mana, mata, yang maknanya berbeda-beda karena perbedaan pada m/n/t.
3)      Pada waktu mengajarkan membaca kalimat, sekaligus ia mengajarkan pula bagaimana intonasinya, plafalannya, tanda baca yang ada dalam bacaan (kalimat) sebagaimana membaca kalimat itu dengan memperhatikan tanda-tanda baca yang digunakan. Disamping itu, guru berkesemptan menambah kosakata siswa ; dan pada waktu memberkan contoh membaa atau salah serang siswa membaca, tentu saja siswa yang lain harus menyimak.
4)      Pada saat guru mengajarkan menuls kalimat, sekaligus ia mengajarkan ejaan bagaiman cara menggunakan tanda baca dalam kalimat, seperti titik, koma dan tanda tanya. Disamping itu, siswa juga diminta membaca kaimat-kalimat yang telah mereka buat, sedang siswa yang tidak sedang membaca akan mendengarkan dengan baik atau menyimak. Jika demikian maka telah ada pemaduan antara menulis, membaca dan menyimak; tetapi dalm hal ini ditekankan pada keterampilan menulis.
5)      Pada waktu guru mnggajaakan keterampilan berbicara sekaligus ia mengajarkan intonasi, lafal, dan menyimak. Mungkin juga setelah salah seorang siswa bercerita, siswa yang lain diminta mengemukakan isi cerita itu  secara singkat. Dengan demikian pada waktu salah seorang siswa becerita teman-temannya benar-benar menyimak.
6)      Keterampilan menyimak dapat dipadukan dengan keterampilan berbicara maupun keterampilan menulis. Pada pembelajaran maupun keterampilan menulis. Pada pmbelajaran menyimak ini  dapat juga guru sngaja menggunakan atau menyelipkan kata-kata yang bagi siswa mrupakan kata-kata baru, sehinggga menambah perbendaharaan kata meraka, jika demikian, berarti guru telah memadukan menyimak, berbicara, menulis, dan penambahan kosakata siswa.[11]


7)      Pada waktu mengerjakan kata-kata baru, guru harus selalu ingat bahwa kata-kata tersebut harus masuk dalam kalimat atau dalam bacaan (di dalam konteks). Jadi dalam hal ini guru mengajarkan kata baru sekaligus mengajarkan bagaimana penggunaannya di dalam kalimat. Dalam hal ini ada perpaduan struktur antar kosakata keterampilan berbahasa dan struktur.
8)      Pemaduan dengan bidang-bidang studi yang lain seperti IPA, IPS dan Matematikan dilakukan melalui penyajian tema dan matri berkaitan dngan bidang studi tersebut.
Mungkin sekali tanpa disadari para guru telah melaksanakan hal-hal seperti dikemukakan diatas. Namun apabila pelaksanaan yang menyebangkan terjadinya pemaduan iu tidak disadari, berati pemaduan itu tidak direcanakan. jika demikain hasilnya tidak akan sebaik kalau pemaduan itu direncanakan; sebab dengan perencanaan, pelaksannaaynya akan lebih efisien. Dalam pmbelajaran bahasa indonseia diklas II, pada akhir caturwulan 3 guru dapat memadukan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dngan IPA, IPS, dan bidang studi yang lain.
Dikelas-kelas yang lebih tinggi, pembelajaran aspek-aspek keterampilan berbahasa diberikan secra terpadu, misalnya:
a.       Menyimak dan berbicara
b.      Menyimak dan menulis
c.       Membaca dan menyimak
d.      Membaca dan menulis[12]







BAB III
KESIMPULAN
A.    Kesimpulan
Dalam proses belajar mengajar, kita mengenal istilah pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Istilah-istilah tersebut sering digunakan dalam pengertian yang sama; artinya, orang menggunakan istilah pendekatan dengan pengertian yang sama dengan pengertian metode, dan sebaliknya menggunakan istilah metode dengan pengertian yang sama dengan pendekatan; dengan demikian pula istilah teknik dan metode. Kemudian menyusul pendekatan-pendekatan lain yang dipandang lebih sesuai dengan hakekat dan fungsi bahasa, yakni pendekatan komulatif dan pendekatan terpadu.
Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam komunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. Tampak bahwa bahasa tidak hanya dipandang hanya sebagai seperangkat kaidah, tetapi lebih luas lagi yakni sebagai sarana untuk berkomunikasi. Ini berarti bahasa ditempatkan sesuai dengan fungsinya, yaitu fungsi komunikatif.

B.     Kritik dan Saran
Alhamdulillah penulis ucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini meskipun dalam bentuk yang sedehana. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, meskipun usaha ke arah itu telah penulis lakukan. Namun karena tingkat kemampuan penulis yang sangat terbatas, oleh karena itu, penulis betul-betul mengharapkan kritik konstruktifnya terhadap kesempurnaan makalah ini. Akhirnya, semoga apa yang telah penulis upayakan mendapatkan Ridho dari Allah SWT. Amien, ya rabbal alamiin.





DAFTAR PUSTAKA

Darmiyati. 2001. Pendidikan Bahasa dan Sastra Inonesia Di Kelas Rendah. Yogyakarta: PAS
Mucklisoh. 1982. Pendidikan Bahasa Indonesia 3, modul 1-9. Jakarta: Departemen P dan K
            Taringan. 1990. Proses belajar mengajar  pragmatic. Bandung: Angkasa
                        



KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah swt yang telah memberikan karuniaNya dan rahmatNya sehingga kami dapat menyelesaikan kewajiban dalam menyusun makalah ini tepat pada waktunya yang berjudul PENDEKATAN PEMBELAJARAN BAHASA. Makalah ini merupakan hasil pencarian yang disusun guna memenuhi tugas mata PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA KELAS RENDAH. Salah satu tujuan penyusunan makalah ini untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa, terutama IAIN bengkulu dalam melatih penulisan makalah yang baik dan benar.
Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih terdapat banyak   kekurangan, oleh karena itu demi kesempurnaan makalah ini kami mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari pembaca.
            Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.

                                                             Bengkulu...........201            

                                                                                                             Penulis













DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR.................................................................. i
DAFTAR ISI.................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah............................................................................ 2
C.     Tujuan Penulisan.............................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian pendekatan, metode, dan teknik ................................... 3
B.     Pendekatan-pendekatan dalam pembelajaran bahasa...................... 5
C.     Pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu.......................... 8
D.    Pendekatan terpadu dalam pembelajaran bahasa Indonesia..........    12

BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan...................................................................................... 15
B.     Kritik dan Saran............................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA



[1] Darmiyati, Pendidikan Bahasa dan Sastra Inonesia Di Kelas Rendah, (Yogyakarta: PAS, 2001) h 31.
[2] Ibid;
[3] Ibid;
[4] Ibid;
[5] Taringan, Proses belajar mengajar  pragmatic, (Bandung: Angkasa, 1990) h 41.               
[6] Ibid;
[7] Ibid;
[8] Ibid;
[9] Mucklisoh, Pendidikan Bahasa Indonesia 3, modul 1-9. (Jakarta: Departemen P dan K, 1982) h 13.
[10] Ibid;
[11] Ibid;
[12] Ibid;

No comments:

Post a Comment