1

loading...

Saturday, July 6, 2019

MAKALAH DEMOGRAFI PENDIDIKAN "TUJUAN PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM"


MAKALAH DEMOGRAFI PENDIDIKAN

"TUJUAN PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM"


BAB I
PENDAHULUAN 
      A.    Latar Belakang Masalah
Indonesia  mendapat  bonus  demografi   berupa  populasi  usia  produktif yang  paling  besar  sepanjang  sejarah  berdirinya  negara  ini.   Bonus  demografi ini adalah masa emas bagi Indonesia. Namun bonus ini bisa berubah menjadi bencana besar jika mulai sekarang kita tidak mempersiapkan generasi emas ini dengan baik.  Jumlah penduduk usia produktif akan mencapai puncaknya pada tahun  2020-2035  pada  saat  angkanya  mencapai  70%.  Jumlah  penduduk Indonesia saat ini pada usia produktif antara 15-64 tahun lebih banyak dari usia tidak produktif anak-anak berusia 0-14 tahun dan orang tua berusia 65 tahun ke atas.
    B.     Rumusan Masalah
a.       bagaimana tujuan pendidikan dalam perspektif islam ?
b.      bagaimana teori pembelajaran ?
c.       bagaiman Prinsip-Prinsip dalam formulasi Tujuan Pendidikan Islam ? 
    C.    Tujuan penulisan
a.       untuk mengetahui bagaimana tujuan pendidikan dalam perspektif islam
b.      untuk mengetahui bagaimana teori pembelajaran
c.       untuk mengetahui bagaimana Prinsip-Prinsip dalam formulasi Tujuan Pendidikan Islam
BAB II
PEMBAHASAN
    A.  Tujuan Pendidikan Dalam Perspektif Islam
Al-Attas mendefinisikan pendidikan (menurut Islam) sebagai pengenalan dan pengakuan yang       secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam manusia, tentang tempat-tempat yang tepat bagi segala   sesuatu di dalam wujud sehingga hal ini membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat     Tuhan  yang tepat di dalam tatanan wujud tersebut. Pada dasarnya, definisi pendidikan islam ialah     bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang agar berkembang secara maksimal sesuai     dengan ajaran Islam. Bila disingkat, pendidikan Islam adalah bimbingn terhadap seseorang agar   menjadi Muslim semaksimal mungkin.Untuk mewujudkan tujuan pendidikan Islam harus diketahui   terlebih dahulu manusia Ideal dalam perspektif Islam dengan mengetahui terlebih dahulu hakikat     manusia.[1]
 Hakikat Pendidikan Dalam Perspektif Islam
Hakikat manusia menurut Islam adalah makhluk ciptaan Allah, ia berkembang dipengaruhi oleh   pembawaan dan lingkugannya, dan ia kecenderungan beragama. Terdapat teori yang mengatakan   bahwa   perkembangan seseorang ditentukan oleh pembawaan dan lingkungan(konvergen). Menurut   Islam, konvergenlah yang mendekati kebenaran. salah satu sabda Rasulullah SAW yang mengatakan :
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ٧٧
Artinya“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”
  Selain itu, manusia memiliki kecenderungan. Kecenderungan itu dibagi menjadi 2, yaitu kcenderungan   menjadi orang yang baik dan kecenderungan menjadi orang yang jahat. Kecenderungan beragama     termasuk kedalam kecenderungan yang baik.
  Tidak hanya itu, hakikat yang lain adalah bahwa manusia itu makhluk utuh yang terdiri atas jasmani, akal, dan rohani sebagai potensi pokok.  Al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia mempunyai aspek jasmaniadalah dalam Q.S.Al-Qashas ayat 77. Allah berfirman :
   Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Dalam ayat tersebut yang dimaksudkan dengan “dunia” ialah hal-hal yang diperlukan oleh jasmani seperti makan dan minum yang merupakan keharusan. Tentunya aspek jasmani tidak dapat dipisahkan dari aspek rohani. Tidak hanya 2 hal tersebut, manusia juga mempunyai aspek akal.”
A.      Manusia sempurna dalam persektif islam
Manusia ideal dalam perspektif Islam memiliki ciri-ciri tertentu, seperti uraian berikut:[2]
1.    Jasmani yang sehat serta kuat dan berketerampilanislam.
Jasmani yang sehat dan kuat akan menampilkan tubuh yang indah, keindahan adalah salah satu aspek kehidupan yang dipentingkan dalam islam. Kesehatan dan kekuatan berkaitan juga dengan kemampuan menguasai filsafat dan sains serta pengolahan alam. Pada jasmani yang sehat dan kuat terdapatlah indera yang sehat dan bekerja dengan baik. Jasmani yang sehat dan kuat berkaitan juga dengan ciri yang dikehendaki ada pada muslim yang ideal adalah menguasai salah satu keterampilan yang diperlukan dalam mencari rezeki untuk kehidupan. Pada zaan modern ini sulit sekali menyelenggarakan kehidupan tanpa memiliki keterampilan. Ciri Muslim yang baik sekurang-kurangnya memiliki satu keterampilan yang diperlukan dalam hidupnya.
2.    Cerdas serta pandai
Cerdas serta pandai itulah ciri akal yang berkembang sempurna . Cerdas ditandai dengan cepat dan tepat, sedangkan pandai ditandai  banyak pengetahuan . Kecerdasan dan kepandaian dapat dimiliki dapat ditilik dari indikator berikut :
1.    Sains yang banyak dan berkualitas tinggi.
2.    Mampu memahami dan menghasilkan filsafat.
3.    Rohani yang berkualitas tinggi
Rohani yang dimaksud adalah aspek selain jasmani dan akal. Kebanyakan buku tasawuf  dan pendidikan Islam menyebutnya qalb(kalbu) saja. Kekuatan jasmani terbatas pada objek berwujud materi yang dapat ditangkap indra. Kekuatan akal dapat mengetahui objek yang abstrak, tetapi sebatas dapat dipikirkan secara logis. Kekuatan rohani (kalbu) lebih jauh daripada kekuatan akal. Bahkan ia dapat mengetahui objek secara tidak terbatas. Karena itu, Islam sangat mengistimewakan aspek kalbu. Kalbu inilah yang merupakan potensi manusia yang mampu beriman secara bersungguh-sungguh. Bahkan iman itu , menurut Al-Qur’an tempatnya di kalbu.
۞قَالَتِ ٱلۡأَعۡرَابُ ءَامَنَّاۖ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ وَلَٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِي قُلُوبِكُمۡۖ وَإِن تُطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَا يَلِتۡكُم مِّنۡ أَعۡمَٰلِكُمۡ شَيۡ‍ًٔاۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ١٤
Artinya:. “Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ´kami telah tunduk´, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Dalam ayat ini Tuhan menjelaskan bahwa iman itu ada di dalam hati. Berdasarkan uraian tersebut jelaslah bahwa rohani yang berkualitas tinggi adalah kalbu yang dipenuhi iman kepada Allah 
    B.       Berbagai Teori tentang Pembelajaran
     1.      Teori Constructivism
Teori constructivism berpendapat bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya dikontrol oleh reward dan reinforcement sebagaimana yang terdapat pada teori behavioristik. Jika teori behavioristik mengatakan bahwa belajar dapat diamati secara langsung , maka teori constructivism menyatakan bahwa belajar adalah proses kegiatan mental yang tidak dapat disaksikan dari luar, kecuali sebagian saja. Jika teori beharioristik mengatakan bahwa belajar bersifat otomatis mekanis yang menempatkan manusia pada mesin yang bekerja secara mekanis atau robot, maka teori constructivism berpendapat bahwa peserta didik memiliki kemampuan mengarahkan diri dan pengendalian diri yang bersifat kognitif, yakni seseorang dapat menolak respon yang masuk jika ia tidak menghendakinya. Lebih lanjutnya, teori constructivism beranggapan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia adalah hasil dari konstruksi dan usaha manusia sendiri.[3]
Dalam teori constructivism, belajar merupakan proses aktif dari peserta didik untuk merekonstruksi makna dengan cara memahami teks, kegiatan dialog, dan sebagainya dan menghubungkannya dengan pengalaman atau bahan pembelajaran yang dipelajarinya sehingga pengertiannya menjadi berkembang. Ciri-ciri pembelajaran constructivism, antara lain:
1.    Menghargai dan menerima eksplorasi siswa,
2.    Memerhatikan ide dan problem yang dimunculkan peserta didik dan menggunakannya sebagai bagian dalam merancang pembelajaran,
3.    Memberikan peluang pada siswa untuk menemukan pengetahuan baru melalui proses pelibatan dalam dunia, didik,
4.    Mendorong terbentuknya pembelajaran secara kooperatif,
5.    Memerhatikan dan mengapresiasi hasil kajian peserta didik terhadap sesuatu masalah, dan
6.    Para peserta didik membangun pemahamannya sendiri dari hasil belajarnya, bukan karena hasil yang diajarkan guru.
7.    Teori Operant Conditioning
Kata “operant” berasal dari bahasa Inggris yang artinya sejumlah perilaku atau respon yang membawa efek terhadap lingkungan yang terdekat. Sedangkan kata “conditioning” berarti sebuah keadaan yang berkaitan dengan waktu dan tempat. Dengan demikian, kata “operant conditioning” dapat diartikan sebagai keadaan atau lingkungan yang dapat memberikan efek kepada orang yang berada di sekitarnya. Teori ini digagas oleh Burhus Frederic Skinner (1904) dan Watson yang berpendapat bahwa tingkah laku manusia selalu dikendalikan oleh faktor dari luar, yaitu berupa lingkungan, rangsangan atau stimulus. Skinner melanjutkan bahwa dengan memberikan dorongan yang positif, suatu tingkah laku akan ditumbuhkembangkan. Sebaliknya, jika diberi dorongan negatif, suatu perilaku akan dihambat. Maka dari itu, pendidik berperan penting untuk mengontrol dan mengarahkan kegiatan belajar ke arah tercapainya tujuan yang ditentukan.
Pada dasarnya, teori ini merupakan sebuah upaya menciptakan lingkungan yang memungkinkan timbulnya inisiatif pada perserta didik untuk melakukan kegiatan belajar, dan setiap respon peserta didik harus diberikan apresiasi yang pantas dan memuaskan peserta didik. Dengan cara demikian, kegiatan belajar mengajar akan berjalan sebagaimana yang dikehendaki.
3.      Teori Conditioning
“Conditioning” berarti penciptaan keadaan. Teori ini dikembangkan oleh Ivan Pavlop (1849-1936). Pavlop merumuskan teori sebagai berikut:
   1.      Suatu perbuatan atau refleks dapat dipindahkan ke perbuatan atau refleks yang lainnya,
   2.      Belajar erat kaitannya dengan prinsip penguatan kembali atau dengan kata lain pengulangan-pengulangan sangat penting untuk dilakukan dalam hal belajar
   3.      Menciptakan proses inquiry peserta didik melalui kajian dan eksperimen,
4.        Merangsang peserta didik untuk berdialog dengan sesama peserta didik lainnya dan juga dengan guru,
   5.      Menganggap proses pembelajaran sama pentingnya dengan hasil,
   6.      Memerhatikan sikap dan pembawaan
   7.      peserta 
   C.    Prinsip-Prinsip dalam formulasi Tujuan Pendidikan Islam
Dalam merumuskan tujuan pendidikan islam, ada beberapa prinsip yang harus di perhatikan. Menurut Asy-Syaibani, prinsip-prinsip tersebut sebagai berikut:
    1.      Prinsip Universal (syumuliyyah). Prinsip ini memandang keseluruhan ospek agama (aqidah, ibadah, dan akhlak serta muamalah), manusia (jasmani, rohani, nafsani), masyarakat dan tatanan kehidupannya, serta adanya wujud jagat raya dan hidup. Prinsip ini memiliki tujuan untuk menyelesaikan masalah dalam menghadapi tuntunan masa depan.
    2.      Prinsip keseimbangan dan kesederhanaan (tawazun wa istishadiyyah). Prinsip ini merupakan keseimbangan antara berbagai aspek kehidupan pada pribadi, berbagai kebutuhan individu dan komunikasi, serta tunutunan pemeliharaan kebudayaan silam dengan kebudayaan masa kini, serta berusaha mengatasi masalah-masalah yang sedang dan akan terjadi.
3.      Prinsip kejelasan (tabayun). Prinsip yang di dalamnya terdapat ajaran dan hukum yang memberi kejelasan terhadap kejiwaan manusia (qalb, akal, dan hawa nafsu) dan hukum masalah yang di hadapi, sehingga terwujud tujuan, kurikulum, dan metode pendidikan.
4.      Prinsip tidak bertentangan. Prinsip yang terdapat ketiadaan pertentangan antara berbagai unsur dan cara pelaksanaannya, sehingga komponen satu dengan yang lain saling mendukung.
5.      Prinsip realisme. Prinsip yang menyatakan tidak adanya kekhayalan dalam kandungan dalam progam pendidikan, tidak berlebih-lebihan, serta adanya kaidah yang praktis dan realitas.
6.      Prinsip perubahan yang diinginkan. Prinsip perubahan struktur diri manusia yang meliputi jasmaniah, ruhaniah, dan nafsaniyah, serta perubahan kondisi psikologi, sosiaologi, pemgetahuan, konsep, pikiran, kemahiran, nilai-nilai, sikap peserta didik untuk dinamisasi pendidikan (QS. Ar.Ra’ad (13): 11).
لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٞ مِّنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ يَحۡفَظُونَهُۥ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ            مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ سُوٓءٗا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ ١١
Artinya: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
7.      Prinsip menjaga perbedaan-perbedaan individu. Prinsip yang memerhatikan perbedaan peserta didik, baik dari ciri-ciri, kebutuhan, kecerdasan, kebolehan, minat, sikap,tahap pematangan jasmani, akal, emosi, dan segala aspeknya.
8.      Prinsip dinamis dalam menerima perubahan dan perkembangan yang terjadi pada pelaku pendidikan, serta lingkungan di mana pendidikan itu dilaksanakan.
Prinsip-prinsip diatas harus diperhatiakan oleh perancang/ perumus tujuan pendidikan Islam agar     proses pembelajaran/ pendidikan berhasil guna dan berdaya guna. Tanpa memperhatiakan prinsip-   prinsip yang dimaksud, proses pendidikan tidak dapat terlaksana dengan baik, sekaligus tidak berhasil.
        D.    Tujuan Belajar dan Pembelajaran 
Belajar adalah sesuatu yang kompleks yang dapat dipandang dari dua subjek, yaitu dari sisi peserta   didik dan dari sisi guru. Peserta didik mengalami proses mental dalam menhadapai bahan belajar yang   berbentuk manusia, alam, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan bahan lainnya yang telah terhimpun dalam   buku-buku pelajaran. Dari segi guru, proses belajar tampak sebagau perilaku belajar tentang suatu hal   yang diberikan kepada peserta didik, baik berupa ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan     lain sebagainya.
Berkaitan dengan tugas guru, terdapat sejumlah prinsip yang harus dipedomani, antara lain:
·         Guru harus memandang oeserta didik sebagai partner yang memiliki asas emansipasi diri menuju kemandirian.
·         Guru harus memiliki asumsi bahwa peserta didik memiliki latar pengalaman dan kemampuan awal dalam proses pembelajaran.
·         Seorang guru harus menyusun desain instruksional yang sudah dipertimbangkan dengan matang.
·         Guru harus memandang bahwa kegiatan belajar mengajar merupakan tindak pembelajaran di kelas dengan menggunakan bahan belajar yang sesuai dengan bidang.
·         Guru meningkatkan kemampuan-kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotoriknya.
·         Guru harus memandang bahwa perilaku peserta didik merupakan hasil proses belajar.
·         Guru harus memandang bahwa hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar.
·         Setelah peserta didik lulus, maka peserta didik menyusun program belajarnya sendiri dan berproses menuju terciptanya masyarakat belajar.
Di dalam Islam terdapat sejumlah kegiatan yang menggunakan kemampuan kognitif, afektif, psikomotorik, dan fitrah. Seperti perintah berpikir (la allakum tatafakkarun), perintah menggunakan akal dan penalaran (afalaa ta’qilun), perintah untuk melakukan pengamatan dan observasi (afalaa yandzuruu), perintah memahami secara mendalam (liyatafaqqahu), perintah untuk mengerjakan sesuatu (i’malu ala makanatikum), perintah untuk membaca (iqra’), perintah untuk mengetahui (li ta’lamu adadassinin), perintah untuk menulis (allama bil qalam), perintah untuk melukis (nun walal qalami wa maa yasturun), perintah untuk melakukan studi banding (awalam yasiiru fil ardl), perintah untuk bersifat baik sangka (innamal a’malu bin niyat), perintah untuk menolong (wa ta’awanuu ‘alal birri wattaqwa), perintah untuk tidak hanya berkata melainkan mengerjakan (kabura maktan ‘indallaha antakulu mala taf’alun), perintah untuk meneliti setiap pekerjaan yang dilakukan (hasibu anfusakum qabla antuhasabu), dan sebagainya.
Konsep Islam tentang belajar tidak hanya berhenti pada tataran yang bersifat empiris, behavioristik, dan psikoanalitis yang cenderung materialistis, sekalaristik dan hedonistik, melainkan harus dilanjutkan pada tataran visi teologis, sosiologis, dan ekologis, sehingga belajar tersebut dapat dipertanggungjawabkan hasilnya dihadapan Tuhan, masyarakat, dan lingkungan alam yang lebih luas. Sedangkan Islam secara ajaran yang komprehensif, tidak hanya memotivasi dan mengarahkan tentang bagaimana cara mencari ilmu, tetapi juga mengarahkan tentang bagaimana menggunakan ilmu tersebut. Tidak hanya belajar arti learning saja, tetapi juga mendorong agar setiap manusia melakukan penelitian dengan berbagai bentuk, tujuan, dan sebagainya.
Penelitian telah dipraktikkan oleh para ilmuwan muslim di masa lalu di zaman kejayaan Islam yang menghasilkan temuan-temuan yang menakjubkan diberbagai bidang, seperti Ibnu Sina, Al-Jabr, Ibnu Rusyd, dan lain-lain. Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan tersebut masih menganut paham ilmu yang integrated dan tidak dikotomik, karena dibangun dari paradigma tauhid yang melihat bahwa ayat yang ada dalam Al-Qur’an (yang menghasilkan ilmu agama), yang ada didalam diri manusia dan masyarakat (yang menghasilkan ilmu-ilmu sosial), yang ada di jagat raya (yang menghasilkan ilmu-ilmu eksakta) adalah merupakan ayat Allah.
Dengan demikian, konsep belajar dalam Islam tidak hanya mencakup learning saja, tetapi juga mencakup research atau penelitian. Sehingga para pelajar bukan hanya mejadi konsumen ilmu pengetahuan saja, melainkan juga menghasilkan produsen  yang dapat dikembangkan secara terus-menerus.
BAB III
PENUTUP 
A.      Kesimpulan
Al-Attas mendefinisikan pendidikan (menurut Islam) sebagai pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam manusia, tentang tempat-tempat yang tepat bagi segala sesuatu di dalam wujud sehingga hal ini membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud tersebut. Pada dasarnya, definisi pendidikan islam ialah bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang agar berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam
DAFTAR PUSTAKA
Muhaimin. 2004. Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nata, Abuddin. 2009. Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran. Jakarta: Prenada Media Grup.
Tafsir, Ahmad. 2011. Ilmu Pendidikan dalam prespektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya


[1] muhaimin. paradigma pendidikan islam. ( bandung: pt remaja rosdakarya, 2004). hlm 124
[2] abuddin nata. perspektif islam tentang strategi pembelajaran. ( jakarta: prenada media, 2009), hlm. 234
[3] ahmad tafsir. llmu pendidikan dalam perspektif islam. ( bandung: pt remaja, 2011) hlm 20

No comments:

Post a Comment