Jumat, 07 Desember 2018

MAKALAH KAJIAN TASAWUF DI INDONESIA "TAREKAT QADIRIYAH DI PULAU JAWA"


KAJIAN TASAWUF DI INDONESIATAREKAT QADIRIYAH DI PULAU JAWA

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Tarekat merupakan sebuah organisasi tasawuf dibawah pimpinan seorang Syeikh yang menerapkan ajarannya kepada para murid-muridnya. Tarekat juga dimaksudkan sebagai suatu jalan yang dilalui oleh calon sufi dalam mencapai ma’rifat. Tidak mudah bagi seorang sufi untuk mencapai titik puncak yang harus dicapai olehnya dalam menjalani kehidupan bertasawuf. Sehingga pilihan lain dari hal ini adalah menjalaninya dengan kehidupan bertarekat.
Dalam perkembangannya, Tarekat sebagai suatu organisasi keagamaan kaum sufi sudah banyak lahir dengan corak yang berbeda. Ini sudah berkembang pesat dan tersebar ke Asia Tenggara, Asia Tengah, Afrika Timur, Afrika Utara, India, Iran dan Turki. Perbedaan-perbedaan tersebut dalam realitasnya mengarah kepada tujuan yang sama, yaitu berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Karena Tarekat merupakan sebuah Organisasi yang lahir dari seorang Syeikh yang berniat ingin melestarikan ajaran-ajaran kaum sufi maka masing-masing dari syikeh tersebut tentu punya cara tersendiri dalam pengembangannya tersebut. Terbukti dengan lahirnya tarekat tersebut semakin berbeda pulalah metode-metode yang digunakan. Maka dari itu, penulis di sini akan membahas makalah dengan tema Tarekat Qadiriyah di Nusantara, khususnya pulau Jawa.


B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sejarah tarekat Qadiriyah?
2.      Bagaimana sejarah tarekat Qadiriyah di Pulau Jawa?
3.      Bagaimana praktik dan ajaran dalam tarekat Qadiriyah?
C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui sejarah tarekat Qadiriyah.
2.      Untuk mengetahui sejarah tarekat Qadiriyah di Pulau Jawa.
3.      Untuk mengetahui praktik dan ajaran dalam tarekat Qadiriyah.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Tarekat Qadiriyah
Kata tarekat secara harfiah berarti “jalan” mengacu baik kepada sistem latihan meditasi maupun amalan-amalan (muraqabah, dzikir, wiriddan sebagainya) yang dihubungkan dengan guru-guru sufi. Tarekat artinya jalan, petunjuk dalam melakukan sesuatu ibadah sesuai dengan ajaran yang ditentukan dan dicontohkan oleh Nabi dan dikerjakan oleh sahabat dan tabi’in, turun menurun sampai kepada guru-guru, sambung menyambung dan rantai-berantai. Tarekat adalah pengamalan syariat dengan sungguh-sungguh, menjauhi semua larangan Allah baik lahir maupun batin serta menjalankan perintahnya secara maksimal, menjauhi segala yang haram dan makruh, tidak berlebihan dalam yang mubah, serta menunaikkan hal-hal yang fardhu dan amalan-amalan sunnah secara maksimal.[1]
Sedangkan istilah “Qadiriyah”dinisbatkan kepada Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani sebagai pendiri pertama tarekat ini, yang mana nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Abdul Al-Qadir Al-Jailani. Adapun silsilahnya adalah Abu Muhammad Abdul al-Qadir Jailani ibn Abi Shaleh ibn Musa ibn Janka Dusat ibn Abi Abdillah ibn Yahya Al-Zahid ibn Muhammad ibn Dawud ibn Musa ibn ‘Abd Allah al-Mahdi ibn Hasan Al-Musanna ibn Hasan Al-Sibthi ibn ‘Ali ibn Thalib dan Fathimah Al-Zahrah binti Rasulullah saw.[2]
Syaikh Abdul Qadir Al-Qadir Al-Jailani lahir di desa Naif Kota Gilan tahun 470 H/ 1077 M, yaitu wilayah yang terletak 150 km timur laut Baghdad. Ibunya bernama Fathimah binti Abdullah Al-Shama Al-Husayni dan ayahnya bernama Abu Shaleh. Beliau meninggal tahun 1166 M di Baghdad.[3] Makamnya sejak dulu hingga sekkarang tetap diziarahi khalayak ramai, dari segala penjuru dunia Islam. Di kalangan kaun sufi Syaikh Abd Al-Qadir diakui sebagai sosok yang menempati hierarki mistik tertinggi, menduduki tingkat kewalian tertinggi. Dalam kepercayaan rakyat, Syaikh Abd al-Qadir adalah wali terbesar, dan hampir setiap upacara keagamaan tradisional orang menghadiahkan pembacaan al-Fatihah kepadanya.[4]
B.     Sejarah Tarekat Qadiriyah di Pulau Jawa
Tarekat Qadiriyah menyebar ke Indonesia pada abad 16, khususnya daerah Jawa, seperti di Pesantren Pegentongan Bogor Jawa Barat, Suryalaya Tasikmalaya Jawa Barat, Mranggen Jawa Tengah, Rejoso Jombang Jawa Timur dan Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur. Syaikh Abdul Karim dari Banten adalah murid kesayangan Syaikh Khatib Sambas yang bermukim di Mekkah, merupakan ulama paling berjasa dalam penyebaran tarekat Qadiriyah ini. Tarekat ini mengalami perkembangan pesat pada abad 19.[5]
Adapun silsilah tarekat para pemimpin pesantren di Jawa adalah:
1.      Sayyidina Muhammad saw
2.      Sayyidina Ali ibn Abi Thalib
3.      Sayyidina Husein
4.      Imam Zainul Abidin
5.      Muhammad al-Baqir
6.      Ja’far Shodiq
7.      Musa al-Kadzim
8.      Abul Hasan Ali ibn Musa al-Ridho
9.      Ma’ruf al-Kharkhi
10.  Sari al-Saqathi
11.  Abul Qasim al-Junaid al-Bagdadi
12.  Abu Bakar Dulafi al-Syibli
13.  Abdul Wahid al-Tamimi
14.  Abul Faraj al-Thusi
15.  Abu Hasan Ali al-Hakkari
16.  Ibu Said Al-Mubarak Al-Mahzumi
17.  Syaikh Abdul Qadir Jilani
18.  Moh Hattak
19.  Syamsuddin
20.  Syarafuddin
21.  Zainuddin
22.  Nuruddin
23.  Waliyuddin
24.  Hisyamuddin
25.  Yahya
26.  Abu Bakar
27.  Abdurrahim
28.  Usman
29.  Kamaluddin
30.  Abdul Fattah
31.  Moh Murod
32.  Syamsuddin
33.  Ahmad Khotib Sambas ibn Abdul Gaffar
34.  Abdul Karim
35.  Ahmad Hasbullah ibn Muhammad Madura
36.  Moh Kholil
37.  Moh Romli Tamim
38.  Usman Ishaq
39.  M Mustain Romli[6]
C.    Praktik dan Ajaran Tarekat Qadiriyah
1.      Aspek Ajaran
Ajaran spiritual Syekh Abdul Qadir berakar pada konsep tentang dan pengalamannya akan Tuhan. Baginya, Tuhan dan tauhid bukanlah suatu mitos teologis maupun abstraksi logis, melainkan sebuah pribadi yang kehadiran-Nya merengkuh seluruh pengalaman etis, intelektual dan estetis seorang manusia. Ia selalu merasakan bahwa tuhan senantiasa hadir. Nasihat Rasulullah dalam hadits, “Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak dapat melihat-Nya, ketahuilah bahwa ia melihatmu. Ini merupakan semboyan hidupnya yang diterjemahkan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Ajaran Syekh Abdul Qadir selalu menekankan pada pensucian diri dari nafsu dunia. Karena itu beliau memberikan beberapa petunjuk untuk mencapai kesucian diri yang tinggi yaitu taubat, zuhud, tawakal, syukur, ridha, dan jujur.[7]
2.      Aspek Praktik
Diantara praktik spiritual yang diadopsi oleh tarekat Qadariyah adalah “dzikir”, melantunkan asma Allah berulang-ulang. Didalam praktik dzikir terdapat beberapa tingkatan dalam penekanannya.
a.       Dzikir dengan satu gerakan dilakukan dengan mengulang-ngulang asama Allah, melalui tarikan nafas yang kuat, diikuti dengan penekanan dari jantung dan tenggorokan, kemudian dihentikan sampai nafas kembali normal.
b.      Dzikir dengan dua gerakan dilakukan dengan duduk dalam posisi shalat, kemudian melantunkan asma Allah di dada sebelah kanan, lalu dijantung dengan berulang-ulang, hal ini dianggap efektif untuk meningkatkan konsentrasi dan menghilangkan rasa gelisah dan pikiran yang kacau.
c.       Dzikir tiga gerakan dilakukan dengan duduk bersila dan mengulang pembacaan asma Allah dibagian dada sebelah kanan, kemudian disebelah kiri dan akhirnya dijantung. Kesemuanya dilakukan dengan intensitas yang lebih tinggi dan pengulangannya yang lebih sering.
d.       Dzikir empat dilakukan dengan duduk bersila, dengan mengucapkan asma Allah berulang-ulang di dada sebelah kanan, kemudian disebelah kiri, lalu ditarik kearah jantung, dan terakhir dibaca di depan dada. Cara terakhir ini dilakukan lebih kuat dan lebih lama.
Praktik dzikir ini dapat dilakukan bersama-sama, dibaca dengan suara keras atau perlahan, sambil duduk membentuk sebuah lingkaran setelah shalat, pada waktu shubuh maupun malam hari. Jika seorang pengikut sanggup melantunkan asma Allah empat ribu kali setiap harinya, tanpa putus selama dua bulan, dapat diharapkan bahwa dirinya telah memiliki kualifikasi untuk meraup pengalaman spiritual tertentu.[8]
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kata tarekat secara harfiah berarti “jalan” mengacu baik kepada sistem latihan meditasi maupun amalan-amalan (muraqabah, dzikir, wiriddan sebagainya) yang dihubungkan dengan guru-guru sufi. Tarekat artinya jalan, petunjuk dalam melakukan sesuatu ibadah sesuai dengan ajaran yang ditentukan dan dicontohkan oleh Nabi dan dikerjakan oleh sahabat dan tabi’in, turun menurun sampai kepada guru-guru, sambung menyambung dan rantai-berantai. Tarekat adalah pengamalan syariat dengan sungguh-sungguh, menjauhi semua larangan Allah baik lahir maupun batin serta menjalankan perintahnya secara maksimal, menjauhi segala yang haram dan makruh, tidak berlebihan dalam yang mubah, serta menunaikkan hal-hal yang fardhu dan amalan-amalan sunnah secara maksimal. Sedangkan istilah “Qadiriyah”dinisbatkan kepada Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani sebagai pendiri pertama tarekat ini, yang mana nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Abdul Al-Qadir Al-Jailani.
Tarekat Qadiriyah menyebar ke Indonesia pada abad 16, khususnya daerah Jawa, seperti di Pesantren Pegentongan Bogor Jawa Barat, Suryalaya Tasikmalaya Jawa Barat, Mranggen Jawa Tengah, Rejoso Jombang Jawa Timur dan Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur. Dan mengalami perkembangan pesat pada abad 19. Adapun praktik dan ajarannya adalah aspek ajaran dan aspek praktis.
B.     Saran
Demikianlah makalah yang dapat saya susun dan paparkan. Penulis pun sangat menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan sangat jauh dari kata sempurna. Untuk itu, penulis berharap agar para pembaca memberikan kritik yang membangun agar ke depannya bisa menjadi lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA 
Mulyati, Sri. Tarekat-tarekat Muktabaroh Di Indonesia. Jakarta: Kencana. 2004.
Ris’an Rusli. Tasawuf dan Tarekat. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2013.
Abu Bakar Aceh. Pengantar Ilmu Tarekat. Solo: Ramadhani.1996.
Ismail Nawawi. Tarekat-tarekat Muktabaroh Di Indonesia. Surabaya: Karya Agung. 2008.
Sufi Muda. Tarekat Qadiriyah. https://sufimuda.net2008/10/06

[1] Abu Bakar Aceh. Pengantar Ilmu Tarekat. (Solo: Ramadhani, 1996), hal. 67.
[2] Ismail Nawawi. Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah.. (Surabaya: Karya Agung, 2008), hal. 28-29.
[3] Ris’an Rusli. Tasawuf dan Tarekat. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), hal. 211.
[4] Sri Mulyati. Tarekat-tarekat Muktabarah Di Indonesia.(Jakarta: Kencana, 2004), hal. 27.
[5] Sufi Muda. Tarekat Qadiriyah. https://sufimuda.net2008/10/06 diakses pada 12 Maret 2018.
[6] Sufi Muda. Tarekat Qadiriyah. https://sufimuda.net2008/10/06 diakses pada 12 Maret 2018.
[7] Sri Mulyati. Tarekat-tarekat Muktabarah  Di Indonesia.. (Jakarta: Kencana, 2004), hal. 36-38.
[8] Sri Mulyati. Tarekat-tarekat Muktabarah  Di Indonesia.. (Jakarta: Kencana, 2004), hal. 44.

MAKALAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK

MAKALAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK 1“MEMAHAMI KONDISI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INDIVIDU”

BAB 1
PENDAHULUAN

     A.    Latar Belakang
Peran orang tua dan pendidik pada dasarnya mengarahkan pada anak-anak sebagai generasi unggul, karena potensi anak tidak akan tumbuh dengan sendirinya tanpa bantuan orang tua. Memahami anak dan keberhasilan suatu pendidikan sering dikaitkan dengan kemampuan para orang tua dan pendidik dalam hal memahami anak sebagai individu yang unik, dimana setiap anak dilihat sebagai individu yang memiliki potensi-potensi yang berbeda satu sama lain, namun saling melengkapi dan berharga. Selain memahami bahwa anak merupakan individu yang unik, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan upaya memahami anak, bahwa anak adalah anak, bukan orang dewasa. Anak adalah anak-anak, bukan orang dewasa ukuran mini.
Mereka juga memiliki dunia sendiri yang khas dan harus dilihat dengan kacamata anak-anak. Untuk itu dalam menghadapi mereka membutuhkan adanya keabaran, pengertian serta toleransi yang mendalam. Dunia bermain adalah dunia bermain, yaitu dunia yang penuh semangat apabila terkait dengan suasana yang menyenangkan.
Berikut ini akan disajikan beberapa faktor yang mempengaruhi individu anak, yang perlu diketahui oleh orang tua dan guru dalam memberikan layanan bimbingan dan pengarahan serta pendidikan kepada anak-anak.

      B.     Rumusan Masalah
1.      Apa itu Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Individu
2.      Apa itu Tahapan-tahapan Perkembangan Individu
3.      Apa itu Karakteristik Fase Perkembangannya dan Mendeskripsikan Kebutuhan Pendidikan Pada Masing-Masing Fase

     C.    Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui apa saja Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Individu
2.      Mengetahui apa itu Karakteristik Fase Perkembangan dan Mendiskripsikan Kebutuhan Pendidikan Pada Masing-Masing Fase

BAB II
PEMBAHASAN

       A.   Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Individu
Ada tiga faktor dominan yang mempengaruhi proses perkembangan individu, yaitu 1) faktor bawaan yang bersifat ilmiah, 2) faktor lingkungan yang merupakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya proses perkembangan, dan 3) faktor waktu yaitu saat-saat tibanya masa peka atau kematangan. Ketiga faktor dominan itu dalam proses berlangsungnya perkembangan individu yang berperan secara interaktif.
Pada individu-individu yang normal pada umumnya perkembangan pesat sampai usia lima belas tahun, dimana tercapailah titik optimal kedewasaan perkembangan fungsi-fungsi fisik dan psikis (intelektual). Kemungkinan perkembangan selanjutnya :[1]
1.      Kemungkinan pertama, bagi mereka yang tidak memperoleh kesempatan untuk belajar atau melatih fingsi-fungsinya terutama segi intelektual, maka kemampuannya cenderung tidak berkembang lagi sampai sekitar usia empat puluh tahunan. Bahkan, setelah mencapai usia tersebut kemampuannya mulai menurun, malahan tidak kurang jumlahnya yang menuju pikun pada hari-hari tuanya.
2.      Kemungkinan kedua, bagi mereka yang bernasib baik untuk memperoleh kesempatan belajaratau melatih fungsi-fungsipsikofisiknya lebih lanjur, maka perkembangan kemampuan masih ada yang bersifat meningkatkan atau memperluaskan sampai usia empat puluh tahun. Namun selanjutnya, setelah dijalani usia tersebut tidak berkesempatan lagi belajar, tetapi hanya bekerja. Namun bagi mereka yang terus berusaha belajar maka perkembangan itu dapat terjadi meskipun hanya bersifat perluasan atau pendalaman.
Perkembangan peserta didik merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Perkembangan harus berjalan kearah yang lebih baik. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak semua perkembangan dapat berjalan sesuai dengan optimal sesuai dengan yang diharapkan. Ada beberapa hal yang sebenarnya harus ada pada masa perkembangan tetapi hal tersebut belum tampak pada seorang anak yang mengalami perkembangan. Salah satu contohnya adalah ketika seorang anak yang sudah berumur 7 tahun tetapi dia masih lambat berbicara. Yang sebenarnya hal hal tersebut sudah bisa dilakukan untuk anak lain seusianya. Hal ini bisa dikarenakan oleh beberapa faktor. Sehingga dapat mempengaruhi perkembangan anak. Hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa perkembangan tiap-tiap individu anak tidak sama.
Hal yang sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, secara garis besarnya faktor dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :
1.      Faktor yang berasal dari dalam individu
Salah satu faktor yang bersumber dari setiap individu. Ini merupakan faktor yang sangat tampak dan dapat dilihat, contoh bakat atau pembawaan bakat merupakan sesuatu yanh dimilikimoleh setiap individu. Akan tetapi sering dijumpaindengan kata-kata bakat tersembunyi. Dengam adanya hal tersebut sering juga kita berpikir apakan yang telah kita lakukan merupan benar-benar bakat kita atau kita hanya terbiasa melakukannya dan sebenarnya kita memiliki bakat yang mungkin tidak dimiliki orang lain.
Sifat keturunan ini sudah terlihat jelas merupakan sifat yang diperoleh dari orengtua atau mungkin keluarga yang lebih tua. Sifat ini merupakan sifat identic yang dimiliki ketika seseorang dalam suatu ikatan keluarga. Hal ini dapat berupa keturunan fisik atau mental. Misalnya fisik, bentuk muka, wajah, bentuk badan, suatu penyakit, dan lainnya. Sedangkan sifat mental, seperti pemarah, pemalas, pendiam, pintar, dan sebagainya.
Dengan demikian, sifat ini dapat memengaruhi perkembangan seorang anak. Maka sebagai orangtua harus mendorong anaknya ke hal yang membuat seseorang untuk melakukan suatu hal. Selanjutnya naluri yaitu kemampuan atau ilmu tersembunyi yang menyuruh atau membisikkan kepada manusia bagaimana melaksanakan dorongan batin.
2.      Faktor yang berasal dari luar individu
Setelah uraian sebelumnya tentang faktor penyebab adanya perkembangan anak, ada juga yang tidak kalah penting dan merupakan hal yang biasanya mempunyai peranan besar dalam perkembangan anak. Yaitu faktor dari luar yang dapat diuraikan sebagai berikut :
·         Makana
·         Iklim
·         Kebudayaan
·         Ekonomi
·         Kedudukan anak dalam lingkungan keluarga
3.      Faktor umum
Gabungan antara faktor dari dalam dan dari luar. Contohnya adalah sebagai berikut :
·         Inteligensi
·         Jenis kelamin
·         Kesehatan
·         Ras [2]

      B.     Tahapan-tahapan Perkembangan Individu
Dalam perkembangan, individu mengalami beberapa tahapan, akan tetapi tahapan ini dapat dilihat dari berbgai sudut pandang yang beragam, seperti tahapan perkembangan seperti fase-fase perkembangan janin hingga saat kehamilan, dan juga pembahasan tahapan perkembangan sebagai individu yang untuh beberapa periodisasi.
Menurut Charlot Buhler, menyatakan bahwa pertumbuhan bukanlah suatu perkembangan yang terjadi secara berangsur-angsur yang lepas satu sama lain, tetapi suatu rentetan yang tidak ada putus-putusnya daripada stuktur yang semakin lama semakin sempurna. Lain dari pada itu perkembangan sejak lahir sampai dewasa terdapat perbedaan sifat-sifat tertentu dengan anak-anak lain dari golongan umur tertentu.
Fase perkembangan dapat diartikan sebagai penahapan atau pembebanan rentang perjalanan kehidupan individu yang diwarnai ciri-ciri khusus atau pola-pola tingkah laku tertentu. Mengenai masalah periodisasi perkembangan ini para ahli berbeda pendapat. Pendapat tersebut secara garis besarnya dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu berdasarkan analisis biologis, didaktis, dan psikologis.
1.      Tahapan Perkembangan Periodisasi Biologis
Secara biologis tahapan perkembangan itu didasarkan kepada kradaan atau proses pertumbuhan tertentu. Salah satu tokoh yang yang memberikan ulasan secara terperinci mengenai tahap perkembangan ini adalah Aristoteles. Ia seorang filsuf yang sangat memahami tentang tahap-tahap perkembangan secara khusus pada pembahasan perkembangan anak sejak lahir hingga usia 20 tahun. Aristoteles mengklasifikasikan tahap perkembangan menjadi tiga periode yang masing-masing periode berlangsung selama tujuh tahun, dan antara periode yang satu dengan yang lain mengikutinya dibatasi oleh adanya perubahan jasmani yang dianggapnya penting.
Adapun perubahan jasmani yang dianggapnya penting itu ialah terjadinya pertukaran gigi pada umur tujuh tahun, dan tumbuhnya tanda-tanda pubertas seperti perubahan suara, kumis, dan tanda-tanda kelamin sekunder lainnya yang timbul pada umur 14 tahun. Atas dasar itu pembagian dilakukan sebagai berikut :
a)      Periode I dari 0-7 tahun (periode anak kecil)
b)      Periode II dari 7-14 tahun (periode sekolah)
c)      Periode III dari 7-14 tahun (periode pubertas, masa peralihan dari usia anak menjadi dewasa)
Ahli lain mengemukakan tahapan perkembanga yaitu oleh Kretscmer, berpendapat bahwa sejak lahir sampai dewasa individu melewatu empat tahapan yaitu :
a)      0-3 tahun disebut dengan fullung (pengisian), dimana pada periode ini anak kkelihatan pendek gemuk.
b)      307 tahun yang disebut dengan streckungs (rentangan), dimana pada periode ini anak kelihatan langsing, memanjang dan meninggi.
c)      7-13 tahun disebut dengan fullungs periode 2, pada masa ini anak kelihatan gemuk kembali.
d)     13-21 tahun disebut dengan streckungs periode 2, dimana pada masa ini anak kelihatan langsing kembali.
Selanjutnya yaitu Sumiati Ahmad Mohammad, ia membagi tahap  perkembangan manusia ke dalam tujuh tahap sebagai berikut :
a)      Mulai dari 0-1 tahun, disebut masa bayi.
b)      Mulai dari 1-6 tahun, disebut dengan masa prasekolah.
c)      Mulai dari 6-10 tahun, desebut masa sekolah.
d)     Mulai dari 10-20 tahun, disebut masa pubertas.
e)      Mulai dari 20-40 tahun, disebut masa dewasa.
f)       Mulai dari 40-65 tahun, disebut masa setengah umur
g)      Mulai dari 60 tahun ke atas, disebut masa lamjut usia
2.      Tahap Perkembangan Periodisasi Didaktis
Dasar didaktis yang dilakukan oleh para ahli dapat digolongkan ke dalam dua kategori yaitu a). apa yang harus dilakukan kepada anak didik pada masa tertentu, dan b). bagaimana caranya mengajar dan menyajikan pengalaman belajar kepada anak didik kepada masa-masa tertentu. Kedua hal tersebut dilakukan secara bersamaan. Para ahli memberikan penahapan perkembangan berdasarkan didaktis tersebut memandang dari sudut pandang pendidikan.
Menurut Rosseau, tahapan perkembangan dibagi kedalam empat tahap yaitu :
a)      Mulai dari 0-2 tahun, disebut usia asuhan.
b)      Mulai dari 2-12 tahun, disebut masa pendidikan dan latihan pancaindera.
c)      Mulai dari 15-20 tahun, disebut sebagai periode watak dan pendidikan agama.
3.      Tahapan Perkembangan Periodisasi Psikologis
Para ahli yang menggunakan aspek psikologis sebagai landasan dalam menganalisis tahap perkembangan mengidentifikasi pengalaman-pengalaman psikologis mana yang spesifik bagi individu agar dapat diterapkan dalam menandai sebagai masa perpindahan tertentu, dari fase yang satu ke fase yang lain dalam perkembangannya. Dalam hal ini, para ahli sepakat bahwa dalam perkembangan psikologis, pada umumnya individu mengalami masa-masa kegoncangan dua kali, yaitu pada kira-kira tahun ke-3 ata 4, dan pada permulaan masa puber.
Berdasarkan dua masa tersebut, perkembangan individu dapat digambarkan melewati tiga periode atai masa yaitu :[3]
a)      Sejak lahir sampai goncangan pertama disebut masa kanak-kanak
b)      Sejak masa goncangan pertama sampai masa goncangan kedua disebut masa keserasian bersekolah
c)      Sejak masa kegoncangan kedua sampai akhir masa remaja yang biasa disebut masa kematangan
      C.    Karakteristik Fase Perkembangannya dan Mendeskripsikan Kebutuhan Pendidikan Pada Masing-masing Fase
1.      Sigmund Freud ( Perkembangan Psychosexual )
a.       Fase Oral ( 0-1 tahun )
Pusat aktivitas yang menyenangkan didalam mulutnya, anak mendapat kepuasan saat mendapat ASI, kepuasan bertambah sat aktivitas mengisap jari dan tangannya atau benda-benda sekitarnya.
b.      Fase Anal ( 2-3 tahun )
Meliputi retensi dan pengeluaran faces. Pusat kenikmatannya pada anus saat BAB, waktu yang tepat untuk mengajarkan disiplin dan bertanggung jawab.
c.       Fase Urogenital atau Faliks ( usia 3-4 tahun )
Tertarik pada perbedaan anatomis laki dan perempuan, ibu menjadi tokoh sentral bila menghadapi persoalan keterdekatan anak lakii-laki pada ibunya menimbulkan gairah seksual dan perasaan cinta.
d.      Fase Latent ( 4-5 tahun sampai masa pubertas )
Masa tenang tetapi anak mengalami perkembangan pesat aspek motoric dan kognitifnya. Disebut juga fase homoseksual alamiah karena anak-anak mencari teman sesuai jenis kelaminnya, serta mencari figure sesyai dengan jenis kelaminnya dari orang dewasa.
e.       Fase Ganitalia
Alat reproduksi sudah mulai matang, heteroseksual dan mulai menjalin hubungan rasa cinta dengan berbeda jenis kelamin.
2.      Piaget ( Perkembangan Kognitif )
Meliputi kemampuan inteligensi, kemampuan berpersepsi san kemampuan mengakses informasi, berpikir logika, memecahkan masalah kompleks menjadi simple dan memahami ide yang abstrak menjadi konkrit, bagaimana menimbulkan prentasi dengan kemampuan yang dimiliki anak.
a.       Tahap Sensoro-Motor ( 0-2 tahun )
Perilaku anak banyak melibatkan motoric, belum terjadi kegiatan mental yang bersifat simbolis ( berpikir ). Sekitar usia 18-24 bulan anak mulai bisa melakukan operations awal kemampuan berpikir.
b.      Tahap Pra-konseptual (2-4 tahun )
Anak melihat dunia hanya dalam hubungan dengan dirinya, pola pikir egosentris. Pola pikir ada dua yaitu : transduktif, anak mendasarkan kesimpulannya pada suatu peristiwa tertentu (ayam bertelur jadi semua binatang bertelur ), pola penalaran sinkretik, terjadi bila anak mulai selalu mengubah-ubah kriteria klasifikasinya. Misalnya mula-mula ia mengelompokkan truk sedan dan bus sendiri-sendiri, tetapi mengelompokkan mereka sesuai warnanya, lau berdasarkan besar-kecilnya.
c.       Tahap Intiuitif ( 4-7 tahun )
Pola pikir berdasarkan penalaran masi kaku, terpusat pada bagian-bagian tertentu dari objek dan semata-mata didasarkan atas penampakan objek.
d.      Tahap Operasional Konkret 9 7-12 tahun )
Konversi menunjukkan anak mampu menawar satu objek yang diubah bagaimana bentuknya, bila tidak ditambah atau dikurangi maka volumenya tetap.
e.       Tahap Operasional Formal ( mulai usia 12 tahun )
Anak dapat melakukan representasi simbolis tanpa menghadapi objek-objek yang dipikirkannya. Pola pikir menjadi lebih fleksibel melihat persoalan dari berbagai sudut yang berbeda.
3.      Erikson ( Perkembangan Psikososial )
Proses perkembangan tergantung pada bagaimana individu menyelesaikan tugas perkembangannya pada tahap itu, yang paling penting adalah bagaimana memfokuskan diri individu pada penyelesaian konflik yang baik itu berlawanan atau tidak dengan tugas perkembangannya.
a.       Trust vs Misstrust ( 0-1 tahun 0
Kebutuhan rasa aman dan ketidakberdayaan penyebabnya konflik basic trust dan mistrust, bila anak mendapatkan rasa amannya maka anak akan mengembangkan kepercayaan diri terhadap lingkungannya, ibu sangat berperan penting.
b.      Autonomy vc Shame and Doubt ( 2-3 tahun )
Organ tubuh lebih matang dengan baik sehungga terjadi peningkatan keterampilan motoric, anak perlu dukungan, pujian, pengakuan, perhatian serta dorongan sehingga menimbulkan kepercayaan terhadap dirinya, sebaliknya, celaan hanya akan membuat anak bertindak dan berpikir ragu-ragu. Kedua orangtua objek sosial terdekat dengan anak.
c.       Initiative vs Guilty 9 3-6 tahun )
Bila pada tahap sebelumnya anak mengembangkan rasa percaya diri dam mandiri, anak akan mengembangkan kemampuan berinisiatif yaitu perasaan bebas untuk melakukan sesuatu atas kehendak sendiri. Bila tahap sebelumnya yang dikembangkan sikap ragu-ragu, maka akan merasa bersalah dan tidak berani mengambil tindakan atas kehendak sendiri.
d.      Industry vs Imferiority ( 6-11 tahun )
Logika anak sudah mulai rumbuh da anak sudah mulai sekolah, tuntunan peran dirinya dan bagi orang lain semakin luas sehingga konflik anak masa ini adalah rasa mampu dan rendah diri. Bila lingkungan eksternal lebih banyak menghargainya maka akan muncul rasa percaya diri tetapi bila sebaliknya, anak akan rendah diri.
e.       Identity vs Role Confusion ( mulai 12 tahun )
Anak mulai dihadapkan harapan-harapan kelompoknya dan dorongan makin kuat untuk mengenali dirinya sendiri. Ia mulai berpikir bagaimana masa depannya, anak mulai mencari identitas dirinya serta perannya, jika ia berhasil melewati tahap ini maka ia tidak akan bingung menghadapi perannya.

f.       Intimacy vs Isolation ( dewasa awal )
Individu sudah mulai menjari padangan hidup. Kesiapan membina hubungan dengan orang lain, perasaan kasih sayng dan keintiman, sedang yang tidak mampu melakukannya akan mempunyai perasaan yang terkicil atau tersaing.
g.      Geberativy vs Self Absorbtion ( dewasa tengah )
Adanya tuntutan untuk membantu ornag lain diluar keluarganya, mengabdi masyarakat dan manusia pada umumnya. Pengalaman di masa lalu menuebabkan individu mampu berbuat banyak untuk kemanusiaan, khususnya generasi mendatang tetapi bila tahap=tahap silam, ia memperoleh banyak pengalaman negative makamungkin ia akan terkurung dalam kebutuhan dab persoalan sendiri.
h.      Ego Integrity vs Despair ( dewasa lanjut )
Memasuki masa lalu, individu akan menengok mas lalu. Kepuasan dan prestasi, dan tindakan-tindakan dimaa lali akan menimbulkan perasaan puas. Bila merasa semuanya belum siap atau gagal akan timbul kekecewaan yang mendalam.
4.      Kohlberg ( Perkembangan Moral )
a.       Pra-konvensional
Awalnya ditandai dengan besarnya pengaruh wawasan kepatuhan dan hukuman terhadap perilaku didasarkan atas akibat sikap yang ditimbulkan oleh perilaku. Dalam tahap selanjutnya, anak mulai menyesuaikan diri dengan harapam-harapan lingkungan untuk memperoleh hadiah, yaitu senyum dan pujian.
b.      Konvensional
Anak terpaksa menyesuaikan diri dengan harapan lingungan atau ketertiban sosial agar disebut nak baik atau anak manis.
c.       Purna konvensionak
Anak mulai mengambil keputusan baik dan buruk secara mandiri. Prinsip pribadi mempunyai peranan penting. Penyesuaian diri terhadap segala aturan disekitarnya lebih didasarkan atas penghargaannya serta rasa hormatnya terhadap orang lain.
5.      Hurlock ( Perkembangan Emosional )
Menurut Hurlock, masa bayi mempunyai emosi yang berupa kegairahan umum, sebelum bayi bicara ia sudah mengembangkan emosi heran, malu, gembira, marah, dam takut. Perkembangan emosi sangat dipengaruhi oleh faktor kematangan dan belajar. Pengalaman emosional sangan tergantung dari seberapa jauh individu dapat mengerti rangsangan yang diterima. Otak yang matang dan pengalaman belajar memberikan sambungan yang besar terhadap perkembangan emosi, selanjutnya perkembangan emosi dipengaruhi oleh harapan orang tua dan lingkungan.[4]
BAB II
PENUTUP

      A.    KESIMPULAN

Secara implisit dalam berbagai penjelasan terdahulu telah dikatakan bahwa faktor perkembangan individu maupun pribadi ada aspek-aspek yang dimilikimoleh individu karena kelahirannya da nada yang karena pengalaman melalui interaksi dengan lingkungannya, antara lain melalui proses belajar. Sebagian lagi seperti diperhatikan oleh beberapa instrument dasar khusus ( bakat ), tergantung pada perkembangan umur individu yang bersangkutan.
Perkembangan harus berjalan kearah yang lebih baik. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak semua perkembangan dapat berjalan sesuai dengan optimal sesuai dengan yang diharapkan. Ada beberapa hal yang sebenarnya harus ada pada masa perkembangan tetapi hal tersebut belum tampak pada seorang anak yang mengalami perkembangan. Hal ini bisa dikarenakan oleh beberapa faktor. Sehingga dapat mempengaruhi perkembangan anak. Hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa perkembangan tiap-tiap individu anak itu tidak sama.

     B.     SARAN
Kritik dan saran sangat berarti bagi kami untuk membenahi makalah kami selamjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita pembaca.

DAFTAR PUSTAKA

Febrini, Deni. 2017. Psikologi Pembelajaran, Yogyakarta : PUSTAKA PELAJAR.
Makmun,  Syamsuddin, Abin. 2004. Psikologi Kependidikan, Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA.
Ahmad Susanto, Ahmad. 2011. Perkembangan Anak Usia Dini, Jakarta : KENCANA.


[1] Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Kependidikan, ( Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA, 2004 ), Hlm. 81-82
[2] Deni Febrini, Psikologi Pembelajaran, ( Yogyakarta : PUSTAKA PELAJAR, 2017 ), Hlm. 24-27
[3] Ahmad Susanto, Perkembangan Anak Usia Dini, ( Jakarta : KENCANA, 2011 ), Hlm. 25-29
[4] Deni Febrini, Psikologi Pembelajaran, ( Yogyakarta : PUSTAKA PELAJAR, 2017 ), Hlm. 27-33

MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...