Tampilkan postingan dengan label MAKALAH METODELOGI STUDI ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MAKALAH METODELOGI STUDI ISLAM. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Oktober 2018

MAKALAH METODELOGI STUDI ISLAM “PENDEKATAN HISTORIS DALAM STUDI ISLAM”

MAKALAH METODELOGI STUDI ISLAM “PENDEKATAN HISTORIS DALAM STUDI ISLAM”
BAB II
PEMBAHASAN
A.      PENGERTIAN PENDEKATAN HISTORIS
Sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang didalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang, dan pelaku dari peristiwa tersebut. Menurut ilmu ini, segala peristiwa dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, dimana, apa sebabnya, siapa yang terlibat dalam peristiwa atau biasa disebut dengan 5W+1H. Obyek dalam sejarah terdiri dari tiga macam, yaitu:[1]
1.    Makhluk hidup/benda mati
2.    Waktu
3.    Ruang/tempat
Melalui pendekatan sejarah seseorang diajak menukik  dari alam idealis kealam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam empiris dan historis. Sejarah hanya sebagai metode analisis atas dasar pemikiran bahwa sejarah dapat meyajikan gambaran tentang unsur-unsur yang mendukung timbulnya suatu lembaga. Pendekatan sejarah bertujuan untuk menentukan inti karakter agama dengan meneliti sumber klasik sebelum dicampuri dengan yang lain. Dalam menggunakan data historis maka akan dapat menyajikan secara detail dari situasi sejarah tentang sebab akibat dari suatu persoalan agama.
Secara umum, sejarah mempunyai dua pengertian, yaitu sejarah dalam arti subyektif, dan sejarah dalam arti obyektif. Menurut materinya (subject-matter) nya, sejarah dapat dibedakan atas:
1.    Daerah, misalnya Asia, Eropa, Amerika, Asia Tenggara, dan sebagainya
2.    Zaman, misalnya zaman kuno, zaman pertengahan, dan modern
3.    Tematis, ada sejarah sosial politik, sejarah kota, agama, seni, dan sebagainya.
Metode sejarah menitikberatkan pada kronologi pertumbuhan dan perkembangan. Menurut Soerjono Soekanto (1969:30), pendekatan historis mempergunakan analisa atas peristiwa-peristiwa dalam masa silam untuk merumuskan prinsip-prinsip umum. Metode ini dapat dipakai misalnya, dalam mempelajari masyarakat Islam dalam hal pengamalan, yang disebut dengan ”masyarakat Muslim” atau ”kebudayaan Muslim”. Metode ini biasanya dikombinasikan dengan metode komparative (perbandingan). Contohnya, seperti yang digunakan oleh Geertz yang membandingkan bagaimana Islam berkembang di Indonesia (Jawa) dan di Maroko.[2]
Tapi, tidak semua peristiwa masa silam dimasukkan kedalam sejarah. terdapat pembatasan-pembatasan tertentu tentang peristiwa masa lampau itu. Ada empat hal yang membatasi peristiwa masa lampu yaitu pertama, pembatasan yang menyangkut waktu, kedua pembatasan yang menyangkut peristiwa, ketiga, pembatasan yang menyangkut tempat, dan keempat, pembatasan yang menyangkut seleksi artinya tidak semua peristiwa masa lampu dianggap katagori sejarah. Oleh karena itu masalah waktu penting dalam memahami satu peristiwa.[3]
Pendekatan kesejarahan ini amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang konkret bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan ini, kuntowijoyo telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang dalam hal ini islam, menurut pendekatan sejarah. Ketika ia mempelajari Alquran, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya kandungan alquran itu terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi konsep-konsep, dan bagian kedua berisi kisah-kisah sejarah dan perumpamaan.
Dalam bagian pertama yang berisi konsep-konsep, kita mendapati banyak sekali istilah alquran yang merujuk kepada pengertian-pengertian norm atif yang khusus, doktrin-doktrin etik, aturan-aturan legal, dan ajaran-ajaran keagamaan pada umumnya. Istilah-istilah atau singkatnya pernyataan-pernyataan itu mungkin diangkat dari konsep-konsep yang telah dikenal oleh masyarakat arab pada waktu alquran diturunkan atau bisa jadi merupakan istilah-istilah baru yang dibentuk untuk mendukung adanya konsep-konsep religius yang ingin di perkenalkannya. Istilah-istilah itu kemudian  diintegrasikan ke dalam pandangan dunia Alquran, dan dengan demikian lalu menjadi konsep-konsep yang otentik. Dalam bagian pertama ini kita mengenal banyak sekali konsep, baik yang bersifat abstrak ataupun konkret.[4]
·      Konsep bersifat abstrak, tentang allah, konsep tentang malaikat, tentang akhirat, tentang ma’ruf, munkar, dan sebagainya adalah konsep-konsep yang abstrak.
·      Konsep bersifat konkret dan dapat amati (observable), misalnya konsep tentang fuqara (orang-rang fakir), dhu’afa (orang lemah), mustadl’afin (kelas tertindas), zhalimun (para tiran), aghniya (orang kaya), mustakbirun (penguasa), mufasidun (koruptor-koruptor), dan sebagainya. 
Bagian yang berisi konsep-konsep Alquran bermaksud membentuk pemahaman yang komprehensif mengenai nilai-nilai islam.
Pada bagian kedua yang berisi kisah-kisah dan perumpamaan, alquran ingin mengajak dilakukannya perenungan untuk memperoleh hikmah. Melalui kontemplasi terhadap kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa historis dan juga melalui kiasan-kiasan yang berisi hikmah tersembunyi, manusia diajak merenungkan hakikat dan makna kehidupan.[5] Banyak sekali ayat yang berisi ajakan semacam ini, tersirat maupun tersurat, baik menyangkut hikmah historis ataupun menyangkut simbol-simbol. Misalnya simbol tentang rapuhnya rumah laba-laba,

‘Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui’ (QS. Al-Ankabut:41).
Ayat di atas memberi perumpamaan bahwa serapuh-rapuhnya sandaran atau selemah-lemahnya pertolongan adalah bagi siapa saja yang menjadikan selain Allah sebagai sandaran hidup atau pelindungnya. Seseorang yang menyandarkan hidupnya kepada harta, popularitas, pangkat, jabatan dan kedudukan. Maka semua itu adalah sandaran yang rapuh. Begitu banyak manusia putus asa, kecewa,  bahkan nekat mengakhiri hidup karena sandaran yang dikejarnya tidak kunjung datang, bila didapatkan, sifatnya hanya sementara tidak bersifat abadi, bahkan terkadang sandaran itulah yang menjadi awal kehinaan baginya di dunia dan di akhirat.
tentang luruhnya sehelai daun yang tak lepas dari pengamatan tuhan atau tentang keganasan samudera yang menyebabkan orang-orang kafir berdoa.

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (QS Al An’aam 59).
Jadi ayat tersebut menjelaskan kepada kita, bahwa kita tidak akan lepas dari pengawasan Allah , dan yang mengatur semua yang terjadi di alam semesta dan tidak ada lebih mengetahui kecuali Allah. Seperti hal-hal yang tidak pernah kita ketahui selain dari itu yaitu hari kiamat, turunnnya hujan, mengetahui apa yg ada didaalam rahim, apa yang akan diusahakan besok, dan dibumi mana dia akan mati nah itu yang mengetahui hanya Allah tidak seorang pun mengetahui atas hal itu . 
Melalui pendekatan sejarah ini seseorang diajak untuk memasuki keadaaan yang sebenarnya berkenanaan dengan penerapan suatu peristiwa. Maka seseorang tidak akan memahami agama keluar dari konteks historisnya, karena pemahaman demikian itu akan menyesatkan orang yang memahaminya. Seseorang yang ingin memahami alquran secara benar misalnya,  yang besangkutan harus mempelajari sejarah turunnya alquran atau kejadian-kejadian yang mengiringi turunnya alquran yang selanjutnya disebut sebagai Ilmu Asbab Al-Nuzul (ilmu tentang sebab-sebab turunnya ayat alquran) yang pada intinya berisi sejarah turunnya ayat alquran. Dengan ilmu asbabun nuzul ini seseorang akan dapat mengetahui hikmah yang terkandung dalam suatu ayat yang berkenaan dengan hukum tertentu dan ditujukan untuk memelihara syariat dari kekeliruan memahaminya dan juga mengetahui sejarah ayat-ayat tersebut di turunkan. Dan dengan pendekatan historis ini masyarakat diharapkan mampu memahami nilai sejarah adanya agama Islam. Sehingga terbentuk manusia yang sadar akan historisitas keberadaan islam dan mampu memahami nilai-nilai yang terkandung didalamnya.[6]
Menurut  M.Yatimin Abdullah, fungsi pendekatan historis atau sejarah dalam pengkajian Islam adalah untuk merekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasi, serta mensistematisasikan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat.[7]
Menurut Kuntowijoyo kegunaan kajian historis dibagi menjadi dua yaitu guna intrinsik dan guna ekstrinsik.[8]
1.    Guna Intrinsik
Guna intrinsik, yakni kegunaan dari dalam yang nampak terkait dengan keilmuan dan pembinaan profesi kesejarahan. Guna intrinsik  meliputi:
·      Historis sebagai ilmu
·      Historis sebagai cara mengetahui masa lampau
·      Historis sebagai pernyataan pendapat
·      Sejarah sebagai profesi
2.    Guna Ekstrinsik
Guna ekstrinsik terkait dengan proses penanaman nilai dan proses pendidikan. Guna Ekstrinsik historis meliputi:
·      Historis sebagai pendidikan moral
·      Historis sebagai pendidikan penalaran
·      Historis sebagai pendidikan politik
·      Historis sebagai pendidikan kebijakan
·      Historis sebagai pendidikan perubahan
·      Historis sebagai pendidikan masa depan
·      Historis sebagai pendidikan keindahan
·      Historis sebagai ilmu bantu.
Menurut Nugroho Notosusanto dengan fungsi ekstrinsik tersebut, menjelaskan empat fungsi atau guna historis yaitu:[9]
1.    Fungsi rekreatif
Ketika seseorang membaca narasi historis dan isinya mengandung hal-hal yang terkait dengan keindahan, romantisisme, maka akan melahirkan kesenangan estetis. Tanpa bernajak dari tempat duduk, seseorang yang mempelajari sejarah dapat menimati bagaimana kondisi suatu masa pada masa lampau. Jadi seolah-olah seseorang tadi sedang berekreasi ke suasana yang lampau.
2.    Fungsi inspiratif
Dengan mempelajari historis akan dapat mengembangkan inspiratif, imajinatif dan kretivitas generasi yang hidup sekarang dalam rangka hidup beragama dan bernegara. Fungsi inspiratif juga dapat dikaitkan dengan pendidikan moral. Sebab setelah belajar historis/sejarah seseorang dapat mengembangkan inspirasi dan berdasarkan keyakinannya dalam menerima atau menolak nilai yang terkandung dalam suatu peristiwa sejarah/ historis.
3.    Fungsi instruktif
Maksud fungsi intrukstif adalah sejarah sebagai alat bantu dalam proses suatu pembelajaran. Sejarah berperan sebagai upaya penyampaian pengetahuan dan ketrampilan kepada orang lain.
4.    Fungsi edukatif
Belajar historis/sejarah sebenarnya dapat dijadikan pelajaran dalam kehidupan keseharian bagi setiap manusia. Historis mengajarkan tentang contoh yang sudah terjadi agar seseorang menjadi arif, sebagai petunjuk dalam berperilaku.
Melalui pendekatan historis ini, seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. Disini seseorang tidak akan memahami agama keluar dari konsep historisnya, karena pemahaman demikian itu akan menyesatkan orang yang memahaminya. Misalnya seseorang yang ingin memahami Al-Qur’an secara benar maka ia harus mempelajari sejarah turunnya Al-Qur’an atau kejadian-kejadian yang mengiringi turunnya Al-Qur’an.
Dengan pendekatan historis ini masyarakat diharapkan mampu memahami nilai sejarah adanya agama Islam. Sehingga terbentuk manusia yang sadar akan historisitas keberadaan islam dan mampu memahami nilai-nilai yang terkandung didalamnya.

B.       KELEMAHAN DANKELEBIHAN PENDEKATAN HISTORIS DALAM KAJIAN  ISLAM
Sebagai suatu pendekatan, pendekatan historis memiliki titik-titik kelemahan, disamping titik kekuatan/kelebihan.
Adapun kelemahan pendekatan historis antara lain :[10]
1.    Sikap memihak kepada pendapat dan madzhab-madzhab tertentu
2.    Terlalu percaya kepada pihak penukil berita sejarah
3.    Gagal menangkap maksud-maksud apa yang dilihat atau di dengar serta menurunkan laporan atas dasar persangkaan dan perkiraan
4.    Kebodohan dalam mencocokkan keadaan dengan kejadian yang sebenarnya
5.    Kesukaan kebanyakan manusia untuk mendekatkan diri kepada para pembesar dan orang-orang yang berpengaruh.
Sedangkan kelebihan pendekatan historis antara lain :[11]
1.    Melalui pendekatan sejarah seorang diajak menukik dari alam idialis kealam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idialis dengan yang ada dalam alam empiris dan historis.
2.    Pendekatan kesejarahan ini amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang kongkrit bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan ini kuntowijaya telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang yang dalam hal ini islam menurut pendekatan sejarah. Ketika ia mempelajari alquran, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya kandungan alquran itu terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi konsep-konsep dan bagian kedua berisi kisah-kisah seejarah dan perumpamaan.
3.    Melalui pendekatan sejarah ini seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. Dari sini, maka seseorang tidak akan memahami agama keluar dari konteks historisnya karena pemahaman demikiian itu akan menyesatkan orang yang memahaminya.seseorang yang ingin memahami alquran secara benar misalnya, yang bersangkutan harus mempelajari sejarah turunya alquran atau kejadian kejadian yang mengiringi turunya alquran yang selanjutnya disebut sebagai ilmu Asbab an Nuzul (ilmu tentang sebab sebab turunya ayat ayat alquran) yang pada intinya berisi sejarah turunya ayat alquran. Dengan ilmu asbabun Nuzul ini seseorang akan dapat mengetahui hikmah yang terkandung dalam suatu ayat yang berkenan dengan hukum tertentu dan ditujukan untuk memelihara syariat dari kekeliruan memahaminya.

C.      CONTOH PENDEKATAN HISTORIS DALAM STUDI ISLAM
Contoh Studi Islam Dalam Pendekatan Historis Contoh penerapan pendekatan historis dapat dilakukan pada studi sumber Islam atau studi Al-Quran maupun Sunnah. 1. Fenomena orang mabuk shalat. Terdapat landasan normatif dalam Al-Quran “janganlah kamu mendekati shalat, sedang kamu mabuk”. Melalui teks tersebut terdapat makna bahwa jika sesorang sedang mabuk janganlah ia shalat hingga ia sadar. Namun juga berkesan bahwa di luar shalat boleh mabuk. Jelas keliru. Ayat tersebut mesti dipahami melalui pendekatan historis asbabun nuzul-nya. Ayat itu merupakan rangkaian pengharaman khamr. Awalnya khamr hanya disebutkan banyak madharatnya saja dibanding dengan manfaatnya. Lalu dipertegas oleh ayat di atas bahwa janganlah shalat ketika mabuk dan diakhiri dengan pengharaman khamr di ayat lain. Maka, dengan pendekatan historis ayat, tidak akan ada misinterpretasi makna dalam memahami sebuah ayat.
Contoh Studi Islam Dalam Pendekatan Historis 2. Buku yang paling awal di tulis oleh kaum muslimin adalah Kitab Allah. Awalnya mereka sempat ragu- ragu untuk menuliskannya. Pembunuhan besar- besaran pada para penghafal Al-Qur’an pada saat terjadinya perang Riddah (perang melawan orang- orang murtad) dan perang melawan nabi palsulah yang membuat mereka menuliskan kitab Allah. Hal itu di karenakan adanya rasa khawatir kitab Allah akan lenyap dan dilupakan.
Contoh Studi Islam Dalam Pendekatan Historis 3. Keraguan yang lebih besar terjadi tatkala akan dilakukan penulisan hadist-hadist Rasulullah. Hadist-hadist Rasulullah itu tidak dituliskan karena khawatir bercampur baur dengan Al-Qur’an. Abu Bakar telah memerintahkan manusia saat ini untuk tidak meriwayatkan sesuatu dari Rasulullah. Umar kemudian melanjutkan tradisi Abu Bakar. Penulisan hadist ini tidak dimulai kecuali pada pertengahan abad ke-2 Hijriyah atau pertengahan abad ke-8 Masehi.





                                                                                           
















[1] Abuddin Nata, Metodelogi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm. 46.
[2] Supiana, Metodologi Studi Islam, cet. II, (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Agama Islam 2012) hlm.87.
[3] Yatim Badri, Historiografi Islam, (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm. 24.
[4] Abuddin Nata, Metodelogi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm. 47.
[5] Ibid, … hlm. 48.
[6] Ibid,… hlm. 49.
[7]  M.Yatimin Abdullah,  Studi Islam Kontemporer,(Jakarta:Sinar Grafika Offset, 2006), hlm. 222.
[8] Atang Abdul Hakim,  Metodologi Studi Islam, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya,2000), hlm. 64.
[9] Ibid,… hlm. 67.
[10] M.Yatimin Abdullah, Studi Islam Kontemporer,(Jakarta:Sinar Grafika Offset, 2006), hlm.101.
[11] Ibid,… hlm. 103.

Selasa, 30 Oktober 2018

MAKALAH METODELOGI STUDI ISLAM

MAKALAH METODELOGI STUDI ISLAM
“Pendekatan Teologis Normatif dalam Studi Islam”

BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Agama Islam adalah agama yang sempurna.Kehadiran agama dituntut untuk terlibat aktif dalam memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi manusia. Tuntutan tersebut dapat dijawab dengan mudah oleh seorang muslim tatkala ia memahami agamanya sendiri.
Agama tidak boleh hanya menjadi lambang kesalehan atau disampaikan ketika kotbah, melainkan secara konsepsional menunjukkan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan masalah.Agama merupakan ujung tombak dari suatu kehidupan.
Tuntunan terhadap agama yang demikian itu dapat dijawab manakala pemahaman agama yang selama ini banyak mengunakan pendekatan.Berbagai pendekatan meliuti pendekatan teologis normatif, Antropoligis, sosiologi, psikologi, histori, kebudayaan, dan pendekatan fisiologis.Mengenai pendekatan yang pertama adalah teologis normatif untuk itu tema pokok yang kami angakat yaitu pendekatan teologis normatif.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat diketahui rumusan masalahnya yaitu:
a. Apa pengertian teologis?
b. Apa saja ciri-ciri yang melekat?
c. Apa saja kelebihan dan kekurangan?
d.      Bagaimana pengembangan yang diharapkan?

C.    Tujuan
Dari rumusan masalah diatas dapat diketahui tujuan penulisan masalahnya yaitu:
a. Untuk mengetahui pengertian teologis
b. Untuk mengetahui ciri-ciri yang melekat
c. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan
d. Untuk mengetahui pengembangan yang diharapkan

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Teologis
Secara etomologis, kata teologi diartikan ilmu agama, ilmu tentang Tuhan berkaitan dengan sifat-sifatnya, khususnya berkaitan dengan kitab suci.Sedangkan dalam arti istilah teologi adalah ilmu yang membicarakan tentang masalah ketuhanan, sifat-sifat wajibNya, sifat-sifat mustahilNya dan hal-hal lain yang berhubungan dengan pembuatanya.Dengan demikian teologi adalah istilah ilmu agama yang membahas ajaran ajaran dasar dari suatu agama atau suatu keyakinan yang tertanam dihati sanubari. Setiap orang yang ingin memahami seluk beluk agamanya, maka perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang diyakininya.
Adapun kata normatif berasal dari bahasa Ingris norm yang berarti norma, ajaran, acuan, ketentuan tentang masalah yang baik dan buruk yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Sedangkan istilah normatif adalah prinsip-prinsip atau pedoman pedoman yang menjadi petunjuk manusia pada umumnya untuk hidup bermasyarakat. Adapun yang diamaksud pendekatan disini adalah cara pandang atau paradikma dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan untuk memahami agama.
Pendekatan teologis normatif dalam memahami agama secara harfiah dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu Ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan yang lainnya.Amin Abdullah mengatakan, bahwa teologi, sebagaimana kita ketahui, tidak bisa tidak pasti mengacu pada agama tertentu.Loyalitas terhadap kelompok sendiri, komitmen, dan dedikasi yang tinggi serta penggunaan bahasa yang subjektif, yakni bahasa sebagai pelaku, bukan sebagai pengamat adalah merupaka ciri yang melekat pada bentuk pemikiran teologis. Karena sifat dasarnya yang pertikular, maka dengan mudah kita dapat menemukan  teologi Kristen-Katolik, teologi Kristen-Protestan dan lain sebagainya .
Jika diteliti lebih mendalam, dalam intern umat beragama tertentu dijumpai berbagai paham atau sekte keagamaan. Menurut informasi yang diberikan The Encyclopaedia ofAmerican Religion, di Amerika terdapat 1200 sekte keagamaan satu diantaranya adalah sekte Davidian yang pada bulan April 1993 pemmpin sekte bersama 80 orang pengikut fanatiknya melakukan bunuh diri  masal setelah berselisih dengan pemmerintahan Amerika Serikat. Dalam Islam sendiri, secara tradisional, dapat dijumpai teologi Mu’tazilah, teologi Asy’ariyah, dan Maturidiyah.Dan sebelumnya terdapat pula teologi yang bernama Khawarij dan Murji’ah. Menurut pengamatan Sayyed Hosein Nasr, dalam era komtemporer ini ada 4 prototipe pemikiran keagamaan Islam, yaitu pemikiran keagamaan fundamentalis, modernis, mesianis, dan tradisionalis. Keempat prototipe pemikiran keagamaan tersebut sudah barang tentu tidak mudah disatukan dengan begitu saja.Masing-masing mempunyai “keyakinan” teologi yang seringkali sulit untuk didamaikan.Mungkin kurang tepat menggunakan istilah “teologi” di sini, tapi menunjuk pada gagasan pemikiran keagamaan yang terinspirasi oleh paham ketuhanan dan pemahaman kitab suci serta penafsiran ajaran agama tertentu adalah juga bentuk dari pemikiran teologi dalam bentuk dan wajah yang baru.
Dari pemikiran tersebut, dapat diketahui bahwa pendekatan teologi dalam pemahaman kagamaan adalah pendekatan yang menekankan pada bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan yang masing-masing bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan tersebut mengklaim dirinya sebagai yang paling benar sedangkan yang lainnya sebagai salah. Aliran teologi yang satu begitu yakin dan fanatik bahwa pahamnyalah yang benar sedangkan paham lainnya salah, sehingga memandang paham orang lain itu keliru, sesat, kafir, murtad dan seterusnya. Demikian pula paham yang dituduh keliru, sesat, dan kafir itu pun menuduh bahwa lawannya sebagai yang sesat dan kafir .

B.     Ciri-ciri yang Melekat
Sebagai sebuah bentuk pendekatan, Pendekatan teologis normatif  mempunyai ciri- ciri yang malekat, yakni:
1. Loyalitas terhadap diri sendiri
Yang dimaksud loyalitas terhadap diri sendiri adalah bahwa kebenaran keagaaman dimaknai dengan kebenaran sebagaimana dipahami oleh dirinya sendiri. Kebenaran sebagaimana diyakni oleh seseorang merupakan kebenaran yang tidak bisa lagi di ungkit-ungkit dan konsekuensinya kebenaran yang ditunjukkan orang lain dianggap kurang benar atau salah sama sekali.
2. Komitmen
Pendekatan teologis normatif menghasilkan orang-orang yang berkomitment tinggi terhadap kepercayaan. Seseorang yang telah meyakini kebenaran yang diyakini siap “berjuang” mempertahankan keyakinannya itu, siap berkorban, siap menghadapi tantangan dari pihak-pihak lain yang mencoba menyerang kebenaran  yang telah mereka yakini secara mutlak.

3. Dedikasi
Hasil dari loyalitas dan komitmen yang tinggi tersebut akan menghasilkan dedikasi yang tinggi dari penganut agama sesuai dengan kebenaran yang diyakini. Dedikasi itu diwujudkan dalam bentuk ketaatan terhadap ritual keagamaan, antusiasme menjalankan keyakinan dan menyebarkannya, kerelaan untuk berkorban demi pengembangan keyakinannya dan sebagainya .
4. Bersifat subyektif
Penggunaan bahasa yang bersifat subyektif, yakni bahasa sebagai pelaku bukan sebagai pengamat.
Secara umum, pendekatan teologis normatif menggunakan cara berpikir deduktif yaitu cara berpikir yang berawal dari keyakinan yang diyakini benar dan mutlak adanya, karena ajaran yang berasal dari tuhan sudah pasti benar, sehingga tidak perlu dipertanyakan lebih dahulu melainkan dimulai dari keyakinan yang selanjutnya diperkuat dengan dalil- dalil dan argumentasi.

C.    Kekurangan dan Kelebihan
Sebagai sebuah metode, pendekatan teologis normative tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan, yaitu:
1. Kelebihan
Seseorang akan memilii sikap militansi dalam beragama, yakni berpegang teguh terhadap agama yang diyakininya sebagai yang benar, tanpa memandang dan meremehkan agama yan lain. Dengan pendekatan yang demikian seseorang akan memiliki sikap fanatis terhadap agama yang dianutnya.
2. Kekurangan
a. Bersifat eksklusif
Ketika seseorang meyakini sesuatu dengan kebenaran yang mutlak dan meyakini orang lain salah, maka ia akan menjadi pribadi yang tertutup, tidak mau menerima pendapat dan pemahaman orang lain, dan seterusnya. Dengan demikian, orang-orang yang memahami Islam dengan pendekatan teologis normatif akan “menutup” dirinya dari kebenaran yang dibawa orang lain. Namun demikian jika sikap ekskusif itu hanya berkaitan dengan masalah ke-tauhidan, maka hal itu bukan lagi menjadi suatu kekurangan.
b. Dogmatis
Pengertian dogma adalah pokok ajaran yang harus diterima sebagai hal yang baik dan benar, tidak perlu dipertanyakan lagi, tidak boleh dibantah dan diragukan.Orang-orang yang memahami Islam dengan pendekatan teologis normatif cenderung menganggap ajarannya sebagai ajaran yang tidak boleh dipertanyakan lagi kebenarannya, tidak boleh dikritisi dan dipertanyakan lagi.
c. Tidak mengakui kebenaran orang lain
Pendekatan teologis normatif menghasilkan orang-orang yang tidak mengakui kebenaran orang lain, karena menurut mereka yang mereka yakini adalah benar dan yang tidak sama dengan yang mereka yakini adalah salah .
Dengan memperhatikan uraian tersebut, terlihat bahwa pendekatan teologi dalam memahami agama cenderung bersikap tertutup, tidak ada dialog, parsial, saling menyalahkan, saling mengkafirkan, yang pada akhirnya terjadi perkotakan-perkotakan umat, tidak ada kerjasama dan tidak terlihat adanya kepedulian sosial. Dengan pendekatan demikian, agama cenderung hanya merupakan keyakinan dan pembentuk sikap keras dan tampak asosial.Melalui pendekatan teologi ini agama menjadi buta terhadap masalah-masalah sosial dan cenderung menjadi lambang atau identitas yang tidak memiliki makna.
Uraian diatas bukan berarti kita tidak memerlukan pendekatan teologi dalam memahami agama, karena tanpa adanya pendekatan teologi, keagamaan seseorang akan mudah cair dan tidak jelas identitas dan pelembagaannya. Proses pelembagaan perilaku keagamaan melalui mazhab-mazhab sebagaimana halnya yang terdapat dalam teologi jelas diperlukan. Antara lain berfungsi untuk mengawetkan ajaran agama dan juga berfungsi sebagai pembentukan karakter pemeluknya dalam rangka membangun masyarakat ideal menurut pesan dasar agama.

D.    Pengembangan yang diharapkan
Amin Abdullah mengatakan bahwa pendekatan teologi semata-mata tidak dapat memecahkan masalah esensial pluralitas agama saat sekarang ini.Terlebih lagi kenyataan demikian harus ditambahkan bahwa doktrin teologi, pada dasarnya memang tidak pernah berdiri sendiri, terlepas dari jaringan institusi atau kelembagaan sosial kemasyarakatan yang mendukung keberadaannya.Bercampur aduknya doktrin teologi dengan historisitas institusi sosial kemasyarakatan yang menyertai dan mendukungnnya menambah peliknya persoalan yang dihadapi umat beragama.Tapi, justru keterlibatan institusi dan pranata sosial kemasyarakatan dalam wilayah keberagamaan manusia itulah yang kemudian menjadi bahan subur bagi peneliti agama. Dari situ, kemudian muncul terobosan baru untuk melihat pemikiran teologi yang termanifestasikan dalam “budaya” tertentu secara lebih objektif lewat pengamatan empirik faktual, serta pranata-prana sosial kemasyarakatan yang mendukung keberadaannya .
Berkenaan dengan hal diatas, saat ini muncul apa yang disebut dengan istilah teologi masa kritis, yaitu suatu usaha manusia untuk memahami penghayatan imannya atau penghayatan agamanya, suatu penafsiran atas sumber-sumber aslinya dan tradisinya dalam konteks permasalahan masa kini, yaitu teologi yang bergerak antara dua kutub: teks dan situasi; masa lampau dan masa kini. Hal demikian mesti ada dalam setiap agama meskipun dalam bentuk dan fungsinya yang berbeda-beda.
Salah satu ciri dari teologi masa kini adalah sifat kritisnya.Sikap kritis ini ditujukan pertama-tama pada agamanya sendiri (agama sebagai institusi sosial dan kemudian juga kepada situasi yang dihadapinya). Teologi sebagai kritik agama berarti antara lain mengungkapkan berbagai kecenderungan dalam institusi agama yang menghambat panggilannya; menyelamatkan manusia dan kemanusiaan.
Teologi kritis bersikap kritis pula terhadap lingkungannya.Hal ini hanya terjadi kalau agama terbuka juga terhadap ilmu-ilmu sosial dan memanfaatkan ilmu tersebut bagi pengembangan teologinya.Teologi ini bukan hanya berhenti pada pemahaman mengenai ajaran agama, tetapi mendorong terjadinya transformasi sosial.Maka beberapa kalangan menyebut teologi kepedulian sosial itu sebagai teologi transformatife .









BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pendekatan teologis dalam memahami agama menggunakan cara berfikir deduktif, yaitu cara berfikir yang berawal dari keyakinan yang diyakini benar dan mutlak adanya, karena ajaran yang berasal dari Tuhan, sudah pasti benar, sehingga tidak perlu dipertanyakan lebih dahulu melainkan dimulai dari keyakinan yang selanjutnya diperkuat dengan dalil-dalil dan argumentasi. Namun pendekatan teologis ini menunjukkan adanya kekurangan antara lain berfiat eksklusif, dogmatis, tidak mau mengakui kebenaran agama lain, dan sebagainya. Kekurangan ini dapat diatasi dengan cara melengkapinya dengan pendekatan sosiologis.
Pendekatan teologis ini selanjutnya erat kaitannya dengan pendekatan normatif, yaitu suatu pendekatan yang memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari Tuhan yang di dalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia.Dalam pendekatan teologis ini agama dilihat sebagai suatu kebenaran mutlak dari Tuhan, tidak ada kekurangan sedikitpun dan tampak bersikap ideal.Dalam kaitan ini agama tampil sangat prima dengan seperangkat cirinya yang khas.Untuk agama Islam misalnya, secara normatif pasti benar, menjunjung nilai-nilai luhur.

B.     Saran
Dengan adanya makalah ini diharapkan bisa menjadi referensi tambahan bagi kalangan mahasiswa untuk mendapatkan wawasan dan ilmu pengetahuan. Dan kami sebagai penulis makalah ini mengharapkan saran dan kritik dari pembaca agar kedepannya kami bisa memperbaiki pembuatan makalah kami selanjutnya.



DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata. Cet ke 18. 2011. Metodologo Studi Islam. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Abdullah,Amin. 1997. Studi Agama. Yogyakarta: Pustaka Belajar.



MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...