Rabu, 29 Mei 2019

MAKALAH IDE DAN PELUANG


MAKALAH IDE DAN PELUANG

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
          Kewirausahaan (Entrepreneurship) adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian.
Wirausaha secara historis sudah dikenal sejak diperkenalkan oleh Richard Castillon pada tahun 1755. Beberapa istilah wirausaha seperti di Belanda dikenadengan ondernemer, di Jerman dikenal dengan unternehmer. Pendidikan kewirausahaan mulai dirintis sejak 1950-an di beberapa negara seperti Eropa, Amerika, dan Kanada. Bahkan sejak 1970-an banyak universitas yang mengajarkan kewirausahaan atau manajemen usaha kecil. Pada tahun 1980-an, hampir 500 sekolah di Amerika Serikat memberikan pendidikan kewirausahaan. DI Indonesia, kewirausahaan dipelajari baru terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja. Sejalan dengan perkembangan dan tantangan seperti adanya krisis ekonomi, pemahaman kewirausahaan baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan-pelatihan di segala lapisan masyarakat kewirausahaan menjadi berkembang.

B. Rumusan Masalah
          1. Bagaimana timbulnya ide dan apa saja peluang dalam kewirausahaan
            2. Bagaimana cara mengidentifikasi sumber-sumber peluang dalam kewirausahaan ?
            3. Apa saja pengetahuan dan kompetensi dalam kewirausahaan ?
C. Tujuan
          1. Mengetuahi timbulny ide dan apa saja peluang dalam kewirausahaan
            2. Mengetahui cara mengidentifikasi sumber-sumber peluang dalam kewirausahaan
            3. Mengetahuan apa saja pengetahuan dan kompetensi dalam kewirausahaan
BAB II
PEMBAHASAN

A. Timbulnya Ide dan peluang dalam Kewirausahaan
          Ide merupakan sesuatu yang sangat penting dalam proses kehidupan manusia. Ide yang cemerlang selalu dibutuhkan saat kita sedang mencari solusi dalam memecahkan masalah.     Menurut Zimmerer, ide-ide yang berasal dari wirausaha dapat menciptakan peluang untuk memenuhi kebutuhan riil di pasar. Ide-ide itu menciptakan nilai potensial di pasar sekaligus menjadi peluang usaha. Dalam mengevaluasi ide untuk menciptakan nilai-nilai potensial (peluang usaha), wirausaha perlu mengidentifikasi dan mengevaluasi semua resiko yang mungkin terjadi dengan cara :
     1. Mengurangi kemungkinan resiko melalui strategi yang proaktif
     2. Menyebarkan resiko pada aspek yang paling mungkin
     3. Mengelola resiko yang mendatangkan nilai atau manfaat
 Ada tiga resiko yang dapat dievaluasi, yaitu :
1. Resiko pasar atau persaingan
2. Resiko financial
3. Resiko teknik
Kreativitas sering  kali muncul dalam bentuk ide untuk menghasilkan barang dan jasa baru. Ide bukanlah peluang dan tidak akan muncul bila wirausaha tidak mengadakan evaluasi dan pengamatan secara terus menerus. Bagaimana ide bisa menjadi peluang?  
untuk melayani dan memuaskan pelanggan dalam memenuhi kebutuhannya.
     2.  Ide dapat dihasilkan dalam bentuk produk dan jasa baru.
     3. Ide dapat dihasilkan dalam bentuk modifikasi pekerjaan yang dilakukan atau cara melakukan suatu pekerjaan.


           
B. Mengidentifikasi sumber-sumber peluang
          Agar ide-ide potensial menjadi peluang bisnis yang riil, maka wirausaha harus bersedia melakukan evaluasi terhadap peluang secara terus-menerus. Proses penjaringan ide atau disebut screening merupakan suatu cara terbaik untuk menuangkan ide potensial menjadi produk dan jasa riil.
Adapun langkah dalam penjaringan ide dapat dilakukan sebagai berikut:
     1.   Menciptakan produk baru dan berbeda produk dan jasa yang dibuat harus menciptakan nilai bagi pembeli, untuk itu wirausaha harus benar-benar mengenal prilaku konsumen di pasar. Ada dua unsur pasar yang perlu diperhatikan :
        a.    Permintaan terhadap barang/jasa yang dihasilkan
        b.   Waktu penyerahan dan waktu permintaan barang/jasa. Kemampuan untuk memperoleh   peluang , sangat bergantung pada kemampuan wirausaha untuk menganalisis pasar, yang meliputi aspek :
       a.    Analisis demografi pasar,
       b.   Analisis sifat serta tingkah laku pesaing,
       c.  Analisis keunggulan bersaing pesaing dan kefakuman pesaing yang dapat dianggap dapat        menciptakan peluang.
     2.    Mengamati pintu peluang
Wirausaha harus mengamati potensi-potensi yang dimiliki pesaing, misalnya :
a.    Kemungkinan pesaing mengembangkan produk baru,
b.    Pengalaman keberhasilan dalam mengembangkan produk baru,
c.    Dukungan keuangan,
       d.   Keunggulan-keunggulan yang dimiliki pesaing di pasar.
Kemampuan pesaing untuk mempertahankan posisi pasar dapat dievaluasi dengan mengamati kelemahan-kelemahan dan resiko pesaing dalam menanamkan modal barunya. Untuk mengetahui kelemahan, kekuatan, dan peluang yang dimiliki pesaing, dan peluang yang dapat kita peroleh, menurut Zimmerer (1996 : 67) ada beberapa keadaan yang dapat menciptakan peluang, yaitu :
     a.    Produk baru harus segera di pasarkan dalam jangka waktu yang relative singkat,
     a.    Kerugian teknik harus rendah,
     b.    Bila pesaing tidak begitu agresif untuk mengembangkan strategi produknya
     c.    Pesaing tidak memiliki teknologi canggih,
     d.   Pesaing sejak awal tidak memiliki strategi dalam mempertahankan posisi pasarnya,
     e.    Perusahaan baru memiliki kemampuan dan sumber-sumber untuk menghasilkan produk           barunya.
     3.    Analisis produk dan proses produksi secara mendalam
            Analisis ini sangat penting untuk menjamin apakah jumlah dan kualitas produk yang di hasilkan memadai atau tidak.
     4.    Menaksir biaya awal
Yaitu biaya awal yang diperlukan oleh usaha baru.
     5.    Memperhitungkan resiko yang mungkin terjadi[1][5]
Resiko pesaing, kemampuan dan kesediaan pesaing untuk mempertahankan posisi pasarnya:
            a.     Kesamaan dan keunggulan produk yang dikembangkan pesaing
            b.     Tingkat keberhasilan yang dicapai pesaing dalam pengembangan produknya
            c.     Seberapa besar dukungan keuangan pesaing bagi pengembangan produk baru
Resiko teknik adalah kegagalan dalam proses pengembangan produk. Sedangkan resiko finansial adalah kegagalan yang timbul akibat ketidakcukupan dana. Nilai suatu barang atau produk dapat diciptakan melalui:
    1. Inovasi
Inovasi  adalah kemampun yang dimiki seorang keriwira usahaan untuk menerapkan kreativitas dalam rangka memecahkan persoalan-persoalan dan peluang untuk menigkatkan kebutuhan dalam kehidupan.
Menurtu Schumpeter (Dollinger, 2003: 7) dapat mencangkup:
     a)   Penawaran produk atau jasa baru


 
Tirto Utomo pendiri AQUA menghadirkan produk air minum (air putih) dalm kemasan di Indonesia.Ide mwmbuat minuman dalam kemasan tersebut muncul setelah seorang rekan bisnisnya terserang diare akibat kekurangan minum air yang tidak hegienis sesaat setelah mereka bermain bulu tangkis di Rawamangun.Pada saat itu air minum dalam kemasan merupakan produk baru yang ditawarkan kepada konsumen Indonesia.
     b)   Penggunaan metode atau teknologi baru
 Microsoft meghabiskan dana yang sangat besar setiap tahun nya untuk megembangkan teknologi baru di bidang computer sehigga progam Windows senantiasa memiliki keunggulan di bidang progam-progam pesaing.
     c)    Penciptaan pasar sarana yang baru
Para pengusaha  penyalur Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJKTI) melihat peluang pengirim jasa tenaga kerja professional di bidang pembangunan infrastruktur dan tenaga medis, segera setelah pasukan multinasional memenagkan peperangan dan berhasil mengusir pasukan Irak yang melakiakn invasi ke quait.
     d)   Penghunaan sember pasukan bahan baku dan sumber daya lainnya yang baru
Salah satu suber daya menejeman yang dapat memberikan kontribusi terhadap kemampuan bersaing perusahaan, adalah sumber daya manusia. 
     e)    Penciptaan bentuk organisasi industri yang baru
Organisasi yang baru dapat dibentuk diantaranya melalui pelaksaan merger untuk memperkuat struktur permodalan perusahan mempertinggi kinerja operasi perusahaan melalui penciptaan sinergi di antara perusahaan yang melakukan merger.[2][7]
Proses inovasi :
     1.  Wirausahawan melihat adanya kebutuhan 
     2.  Mengumpulkan data dan mendefinisikan konsep-konsep 
     3.  Menguraikan masalah-masalah 
     4.  Menggunakan daya ingat untuk mencari kesamaan 
     5.  Menemukan kesamaan dan gagasan yang berhubungan 
     6.  Melihat bagaimana menggabungkan kesamaan dan gagasan yang berhubungan 
     7.  Mencari pemecahan sementara 
     8.  Meneliti pemecahan dengan hati-hati 


 
     9.  Bergerak terus jika semuanya baik 
            Kompetensi perlu dimiliki oleh wirausaha seperti halnya profesi lain dalam kehidupan, kompetensi ini mendukungnya ke arah kesuksesan. Terdapat 10 kompetensi yang harus dimiliki, yaitu :
1.  Knowing your business, yaitu mengetahui usaha apa yang akan dilakukan. Dengan kata lain, seorang wirausahawan harus mengetahui segala sesuatu yang ada hubungannya dengan usaha atau bisnis yang akan dilakukan.
2. Knowing the basic business management, yaitu mengetahui dasar-dasar pengelolaan bisnis, misalnya cara merancang usaha, mengorganisasi dan mengenalikan perusahaan, termasuk dapat memperhitungkan, memprediksi, mengadminis-trasikan, dan membukukan kegiatan-kegiatan usaha. Mengetahui manajemen bisnis berarti memahami kiat, cara, proses dan pengelolaan semua sumberdaya perusahaan secara efektif dan efisien.
3.  Having the proper attitude, yaitu memiliki sikap yang sempurna terhadap usaha yang dilakukannya. Dia harus bersikap seperti pedagang, industriawan, pengusaha, eksekutif yang sunggung-sungguh dan tidak setengah hati.
4.  Having adequate capital, yaitu memiliki modal yang cukup. Modal tidak hanya bentuk materi tetapi juga rohani. Kepercayaan dan keteguhan hati merupakan modal utama dalam usaha. Oleh karena itu, harus cukup waktu, cukup uang, cukup tenaga, tempat dan mental.
5.  Managing finances effectively, yaitu memiliki kemampuan / mengelola keuangan, secara efektif dan efisien, mencari sumber dana dan menggunakannnya secara tepat, dan mengendalikannya secara akurat.
6.  Managing time efficiently, yaitu kemampuan mengatur waktu seefisien mungkin. Mengatur, menghitung, dan menepati waktu sesuai dengan kebutuhannya.
7. Managing people, yaitu kemampuan merencanakan, mengatur, mengarahkan / memotivasi, dan mengendalikan orang-orang dalam menjalankan perusahaan.
8. Statisfying customer by providing high quality product, yaitu memberi kepuasan kepada pelanggan dengan cara menyediakan barang dan jasa yang bermutu, bermanfaat dan memuaskan.
9.  Knowing Hozu to Compete, yaitu mengetahui strategi / cara bersaing. Wirausaha harus dapat mengungkap kekuatan (strength), kelemahan (weaks), peluang (opportunity), dan ancaman (threat), dirinya dan pesaing. Dia harus menggunakan analisis SWOT sebaik terhadap dirinya dan terhadap pesaing.
     10. Mencapai keberhasilan


                                               DAFTAR PUSTAKA
Hisrich, Robert, dkk, 2009, Entreprenuership, Salemba Empat.
Wijatno, Serian, 2009, Pengantar Entreprenuership,Grasindo.
  Suryana, Kewirausahaan, 2006,  Pedoman Praktis: Kiat dan Proses Menuju Sukses, Salemba        Empat.
Masykur Wiratmo, 1994, Kewirausahaan: Seri diktat kuliah, Gunadarma,Jakarta.  Kewirausahaan, 2006,  Pedoman Praktis: Kiat dan Proses Menuju Sukses, Salemba Empat.








MAKALAH HAKIKAT PENDIDIK DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM


MAKALAH HAKIKAT PENDIDIK
DALAM
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara pendidik dan peserta didik guna mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Pendidik, peserta didik, tujuan, media, dan lingkungan merupakan unsur-unsur pendidikan yang saling terkait antara yang satu dengan yang lainnya.
Pendidik merupakan salah satu unsur pendidikan yang sangatlah penting. Karena pendidik merupakan unsur yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya suatu tujuan pendidikan. Selain itu, pendidik menjadi subyek langsung dalam pendidikan yang dapat dikatakan sebagai figur bagi peserta didik. Oleh karena itu pendidik haruslah mempunyai suatu etika guna menjadi  “uswah Hasanah” bagi peserta didik. Sampai –sampai ada pepatah yang mengatakan “ guru kencing berdiri, murid kencing berlari” ; artinya pendidik merupakan suatu suri teladan bagi peserta didik. Apabila seorang pendidik tidak mempunyai moral dan etika,, bagaimanakah dengan peserta didik??
Dengan makalah ini penulis mencoba memaparkan tentang hakikat pendidik yang sebenarnya, Fungsi  pendidik menurut pendidikan islam, tujuan pendidik yang baik dan tanggung jawab pendidik menurut pendidikan islam. Sehingga pendidik tersebut dapat dikatakan sebagai pendidik yang profesional. Dan semoga dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi para pendidik agar dapat tercipta para pendidik yang profesional. Sehingga terwujud suatu kecerdasan bangsa yang sudah barang tentu kita harapkan selama ini. Aamiin.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini antara lain sebagai berikut :
1.      Apa yang dimaksud dengan pendidik?
2.      Apa hakikat pendidik islam?
3.      Apakah tugas dan peran pendidik?
C. Tujuan
Adapun tujuan dalam makalah ini antara lain sebagai berikut :
1.      Dapat mengetahui definisi pendidik.
2.      Dapat mengetahui hakikat pendidik islam.
3.      Dapat mengetahui tugas dan peran pendidik.




















BAB II
PEMBAHASAN
1.    Definisi Pendidik Dalam Islam
Pengertian pendidik secara etimologi dalam bahasa inggris ada beberapa kata yang berdekatan arti pendidik seperti kata teacher artinya pengajar dan tutor yang berarti guru pribadi, di pusat-pusat pelatihan disebut sebagai trainer atau instruktur. Dalam bahasa Arab seperti kata Al-Mualim (guru), Murabbi (mendidik), Mudaris (pengajar) dan ustadz.
Sedangkan bila dilihat dari pengertian secara istilah (terminologi), banyak keragaman beberapa pengertian. Antara lain yang dapat mewakili, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ahmad Tafsir, mengatakan bahwa pendidik dalam Islam, sama dengan teori yang ada di barat. Yaitu siapa saja orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangannya anak didik. Selanjutnya Ia mengatakan bahwa dalam Islam, orang yang paling bertanggung jawab adalah orang tua (ayah, ibu) anak didik. Karena dapat dilihat dari dua hal, yaitu Pertama, karena Kodrat yaitu kedua orang tua ditakdirkan bertanggungjawab terhadap anaknya. Kedua karena kepentingan kedua orang tua yaitu berkepentingan dalam kemajuan perkembangan anaknya.
Istilah yang lain kadang digunakan untuk pendidik adalah sebutan guru. Guru adalah orang yang pekerjaannya mendidik peserta didik baik di lingkungan formal (kelas/sekolah) ataupun nonformal. Karena hakikatnya pendidikan adalah suatu proses pembentukan kepribadian,moral serta intelektual yang baik.
Hakikat pendidik sebagai manusia yang memahami ilmu pengetahuan sudah menjadi sebuah kewajiban baginya untuk mentransferkan ilmu itu kepada orang lain untuk kemaslahatan ummat. Hakikat pendidik ditegaskan dalam al-qur’an surat Al-Alaq ayat 1-5, yaitu :



Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama tuhanmu yang menciptakan, dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam, dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.(QS Al-alaq ayat 1-5),


Adapun pendidik dalam pendidikan islam yaitu :
1.      Allah SWT
Dari berbagai ayat al-qur’an yang membicarakan tentang kedudukan allah sebagai pendidik dapat dipahami dalam firman–firman yang diturunkannya kepada nabi Muhammad SAW, QS Al-Fatihah ayat 1,


Artinya : “Segala puji bagi allah tuhan seluruh alam”.(QS Al-Fatihah ayat[1] 1)
2.      Rasulullah SAW
Kedudukan rasulullah SAW sebagai pendidik ditunjuk langsung oleh allah SWT, sebagai teladan bagi ummat dan rahmat bagi seluruh alam.
3.      Orang Tua
Orang tua sebagai pembimbing dalam lingkungan keluarga disebabkan karena secara alami anak-anak pada  masa awal kehidupannya berada ditengah-tengah ayah dan ibunya.
4.      Guru
Guru adalah suri tauladan kedua setelah orang tua, menurut Saiful Bahri djamarah bahwa guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Guru yang bekerja sebagai tenaga pengajar adalah elemen yang terpenting dan ikut bertanggung jawab dalam proses pendewasaan bagi anak disik tersebut.

2. Hakikat Seorang Pendidik
Dari berbagai definisi di atas baik pengertian secara etimologi maupun terminologi, dapat ditarik hal yang paling inti kaitannya dengan seorang pendidik dalam hal ini yang banyak diartikan adalah guru, karena salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pendidikan adalah pendidik (guru). Karena guru yang dapat diartikan sebagai pelaku utama pendidikan (pendidik profesional) sehingga banyak syarat-syarat untuk menjadi seorang pendidik. Bahwa seorang pendidik (guru) merupakan pemeran penting dalam proses belajar mengajar. Tetapi hal ini merupakan pengaruh yang besar dalam perkembangan peserta didik. Sehingga bentuk kerja sama antara keluarga, lembaga pendidikan, bahkan seluruh masyarakat juga harus aktif dalam proses pelaksanaan pendidikan. Sehinga tidak ada dikotomi salah arti yang dapat menyudutkan pendidik (guru.). karena dapat dikatakan bahwa pengaruh pendidikan yang ada di sekolah hanya sebatas perkembangan sikap (afektif), aspek kognitif (pengetahuan) dan psikomotorik (ketrampilan). Karena sebenarnya istilah antara pendidik dan pengajar adalah berbeda. Sebab pengajar hanya memberi pengetahuan. Berbeda dengan mendidik, bukan hanya sekedar memberitahu tetapi juga memberikan teladan dan melakukan usaha-usaha sehingga yang diberi teladan dapat berbuat seperti yang telah diberitahukan dan telah diteladankan.
Secara konvensional, guru setidaknya harus memiliki tiga kualifikasi dasar. Yaitu menguasai materi (pengetahuan), antusiasme, dan penuh kasih sayang (loving) dalam mengajar dan mendidik karena misi utama guru adalah enlightening "mencerdaskan bangsa" (bukan sebaliknya membodohkan masyarakat).
Hakikat pendidik sebagai manusia yang memahami ilmu pengetahuan sudah menjadi sebuah kewajiban baginya untuk mentransferkan ilmu itu kepada orang lain untuk kemaslahatan ummat.

3. Tugas dan PeranPendidik
a. Beberapa pandangan tentang tugas – tugas pendidik adalah sebagai berikut :
1.      Membimbing peserta didik, dalam artian mencari pengenalan terhadap anak didik mengenai kebutuhan, kesanggupan, bakat dan minat.
2.      Menciptakan situasi untuk pendidikan yaitu suatu keadaan dimana tindakan pendidik dapat berlangsung dengan baik dan hasil yang memuaskan.
3.      Seorang pendidik harus memiliki pengetahuan yang diperlukan seperti pengetahuan keagamaan dan lain sebagainya.

Tugas pendidik menurut Abdul Mujib dalam bukunya “masalah – masalah keguruan”. Pendidik dalam islam menjadi 3 bagian yaitu :
a.       Sebagai pengajar (instruksional), yang bertugas merencanakan program pengajaran dan melaksanakan program yang disusun serta mengakhiri dengan  pelaksanaan penilaian setelah program dilakukan.
b.      Sebagai pendidik (educator), yang mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan dan kepribadian kamil seiring dengan tujuan allah menciptakannya.
c.       Sebagai pemimpin ( managerial), yang memimpin mengendalikan kepada diri sendiri peserta didik dan masyarakat yang terkait, terhadap berbagai masalah yang menyangkut berbagai upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan dan partisispasi.

b. Beberapa peran sebagai pendidik (guru) adalah sebagai berikut :
a.       Guru sebagai perancang, yaitu menyusun kegiatan akademik atau kurikulum dan pembelajaran, menyusun kegiatan kesiswaan, menyusun kebutuhan sarana prasarana dan mengestimasi sumber – sumber pembiayaan operasional sekolah serta menjalin hubungan dengan orangtua, masyarakat, pemangku kepentingan dan instansi terkait.
b.      Guru sebagai pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu guru harus memiliki standar kualias pribadi tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa dan disiplin.
c.       Guru sebagai penggerak, yaitu mobilisator yang mendorong dan menggerakkan system organisasi sekolah. Untuk melakasanakan funsi-funsi tersebut seorang guiru harus memiliki kemampuan intelektual, misalnya mempunyai jiwa visioner, creator, peneliti, jiwa rasional dan jiwa untuk maju. Kepribadian seperti luwes, wiwba, adil dan bijaksana juga jujur.
d.      Guru sebagai evaluator, yaitu melakukan penilaian terhadap aktivitas yang btelah dikerjakan dalam system sekolah. Peran ini penting, karena guru sebagai pelaku utama dalam menentukan pilihan serta kebijakan yang relevandemi kebaikan system yang ada di sekolah, baik menyangkut kurikulum, pengajaran, sarana prasarana, sasaran dan tujuan.
e.       Guru sebagai Motivator, artinya guru sebagai pendorong siswa dalam rangka meningkatkan kegairaha dan pengembangan kegiatan belajar siswa. Proses pembelajaran akan lebih berhasil jika siswa memiliki motivasi dalam belajar, maka guru dituntut kratif membangkitkan mitivasi belajar siswa.








BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Pada hahikatnya pendidik sebagai manusia yang memahami ilmu pengetahuan mempunyai kewajiban untuk mengamalkan atau membagikan ilmu – ilmu yang ia dapatkan kepada orang lain untuk kemaslahatan bersama. Karena hakikatnya pendidikan adalah suatu proses pembentukan kepribadian, moral serta intelektual yang baik. Dengan demikian dapat dipahami bahwa dalam mencapai tujuan pendidikan yang efektif dan efisisen maka diperlukan mitra yang mendasar antara orangtua dan pendidik.
Profil pendidik atau guru yang ideal adalah sosok yang mengabdikan diri berdasarkan panggilan jiwa, panggilan hati nurani, bukan hanya tuntutan materi belaka, yang membatasi tugas dan tanggung jawabna hanya sebatas dinding sekolah.



















                                         DAFTAR PUSTAKA

                                                           
www.ILMU PENDIDIKAN ISLAM.com Di akses pada tanggal 18 September 2017

www. PENDIDIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM.com di akses pada tanggal 18 Septeber 2011

www. PENDIDIK DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM. Di akses pada tanggal 18 September 2017






MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...