Rabu, 26 Desember 2018

MAKALAH STUDI MASYARAKAT INDONESIA


MAKALAH

STUDI MASYARAKAT INDONESIA
“PENELITIAN DESA SUKARAJA”

BAB I

Zaman dahulu nama Desa Sukaraja itu belum ada, akan tetapi zaman dahulu Desa Sukaraja dikenal dengan nama Padang Binjai Desa yang terletak di Pesisir Selatan Kabupaten Kaur, Desa ini dahulu kalanya terkenal dengan penduduk yang sangat ramah-tamah Desa Padang Binjay tak luput dari banyak masalah pemberontakan, dahulu konon katanya ada kaum pemberontak yang bernama kaum Gerumbul mereka selalu membuat rusuh di Desa, membuat kekacauan, membuat penduduk rusuh setiap hari, akan tetapi penduduk melakukan persatuan yang dipimpin oleh Syehtuan Syaid. Sehingga para pemberontak dikalahkan dan ditangkap lalu dikirimkan ke daerah Palembang untuk diasingkan. Sekarang, Syehtuan Syaid sudah wafat dan dikuburkan di depan halaman masjid Desa Padang Binjay. Sekarang Desa Padang Binjay dibagi menjadi dua desa yaitu Desa Sukaraja dab Desa Padang Binjay, tapi meski begitu orang didaerah Kaur masih banyak yang belum tau, mereka masih memanggil Desa Sukaraja itu dengan sebutan Desa Padang Binjay tapi masyarakat kami memaklumi hal itu.

Kondisi alam yang begitu subur karena di daerah saya yang terletak sangat strategis, desa ini dekat dengan laut, dan perbukitan. Sehingga saya rasa penduduk kami tidak terpatok pekerjaan dengan satu saja karena kebanyakan mereka pekerjaan nelayan. Setelah bernelayan mereka juga bisa melakukan aktivitas di daerah perbukitan melakukan pertanian, di situ masyarakat kami banyak menanam sawit, cengkeh, karet dan pada musim penghujan masyarakat juga melakukan tanam padi sawah makanya di Daerah kami cukup makmur.

Penduduknya sudah lumayan banyak karena Desa Sukaraja berada di Jalan Lintas, Desa Sukaraja pun sudah tidak ada hutan lagi kecuali di daerah perbukitan perbukitan perkebunan desa.

BAB II

PENELITIAN DESA SUKARAJA
Masalah / Perubahan Yang Terjadi, Faktor Penyebab, Dampak Bagi Masyarakat, Cara Menanggulanginya

Pada zaman dahulu dalam sistem pertanian ini, aktifitas dalam bertani banyak menggunakan tenaga manusia dan hewan (sapi untuk menggemburkan tanah) al hasil para petani yang tidak memiliki lahan banyak menyediakan tenaga kerjanya sebagai buruh tani dengan sistem upah atau bawon (bagi hasil panen) akan tetapi pada zaman sekarang sistem pertanian di daerah saya sudah mengalami begitu drastis perubahan yang dimana sistem pertanian dalam pembajakan sawah sudah memakai traktor tidak menggunakan sapai atau kerbau.
Masyarakat saya lebih mudah dan cepat dalam melakukan sektor pertanian sawah.
Mengharapkan pemerintah agar memberikan bantuan-bantuan teknologi ke masyarakat desa saya supaya masyarakat saya menjadi makmur dari sebelumnya.

Zaman dahulu di daerah saya banyak memiliki kebiasaan tradisi budaya yang sering dilakukan salah satunya yaitu meinangan yang dimana budaya ini dilakukan saat adanya perkawinan dilakukan pada malam hari selesai ijab kabul. Meinangan adalah syair-syair pantun yang dinyanyikan dan disertai hari dan juga diikuti peralatan musik. Biasanya dilakukan kaum laki-laki. Akan tetapi sekarang sudah jarang dilakukan karena sering diganti organ tunggal pada malam hari. Sangat disayangkan perubahan kebudayaan itu terjadi di daerah saya.
Hilangnya rasa kebersamaan.
Adanya pengaruh luar yang lebih menarik, sehingga hilangnya kesadaran masyarakat bahwa berharganya ciri khas kebudayaan desa kami tersebut.

Dahulu desa kami masyarakatnya selalu kompak dalam melakukan kepentingan bersama di lingkungan desa seperti dalam pembersihan desa, akan tetapi sekarang jarang kegiatan itu dilakukan lagi karena kurang kesadaran betapa pentingnya dalam melakukan, menjaga lingkungan di desa sendiri.
Hilangnya nilai-nilai kebersamaan, desa menjadi tidak dirawat.
- Kurangnya kesadaran masyarakat.
- Tidak ada rasa kepedulian masyarakat.
Memberikan masukan kepada masyarakat supaya sadar betapa pentingnya kebersamaan diciptakan dilingkungan desa sendiri dan juga penting menjaga lingkungan desa supaya kesehatan lebih terjamin buat masyarakat saya sendiri.

Dulu pemuda-pemudi desa saya banyak yang merantau ke daerah Jawa karena tidak memiliki pekerjaan yang memadai di daerah saya sendiri akan tetapi sanagt beda dengan sekarang kebayakan pemuda-pemudinya meneruskan sekolah perguruan tinggi sehingga menghasilkan pemuda dan pemudi yang berkualitas tentunya akan sangat mendukung kemakmuran masyarakat desa kami sendiri.
Terciptanya pemuda dan pemudi yang berkualitas tentunya mengurangi pengangguran di masyarakat desa kami.
Adanya kesadaran masyarakat bahwa menimpa ilmu setinggi-tingginya itu penting, sehingga lebih mudah untuk memenuhi kebutuhan.
Lebih meningkatkan tenaga kerja kepada orang tua, supaya mereka lancar dalam memenuhi kebutuhan anak bersekolah tinggi supaya anak-anak desa saya tercipta orang-orang berkualitas.

Dahulu di desa kami kaum ibu rumah tangga banyak pindah profesi mereka bekerja sebagai buruh pertambangan pasir karena letaknya begitu dekat dengan rumah, akan tetapi dengan berjalannya waktu tidak lagi karena pertambangan pasir tidak diperbolehkan dan selalu diawasi pihak berwajib. Sehingga hilangnya mata pencarian untuk kaum rumah tangga desa saya.
Hilangnya mata pencarian.
Dilarangnya oleh pihak berwajib karena pertambangan itu pertambangan ilegal dan merusak pasir pantai desa kami.
Berharap pemerintah memberikan lapangan pekerjaan kepada ibu rumah tangga atau yang tidak memiliki pendidikan.





BAB III

Desa Sukaraja terbentuk melalui norma-norma atau kebudayaan-kebudayaan yang sudah terjadi kebiasaan sehari-hari. Desa Sukaraja memiliki kondisi alam yang begitu subur dan membuat masyarakatnya cukup makmur, akan tetapi desa Sukaraja tak luput dari banyaknya permasalahan/perubahan di masyarakat, salah satunya perubahan itu adalah hilangnya budaya, dan jiwa gotong royong dalam masyarakat itu disebabkan pengaruh luar sehingga masyarakatnya enggan menjaga ciri khas daerah itu sendiri. Sangat disayngkan sekali, padahal berapa pentingnya menjaga ciri khas daerah itu sendiri, sangat disayangkan sekali, padahal berapa pentingnya menjaga ciri khas desa sendiri agar memiliki keunikan dibandingkan desa-desa lainnya.

Melakukan pembimbingan akan tetapi sangat diharapkan masyarakat bertindak menurut norma-norma dan masyarakat selalu melakukan kekompakan dalam melakukan menjaga Desa Sukaraja, dan sangat mengharapkan kepada pemerintah memberikan bantuan kepada masyarakat Desa Sukaraja agar bisa lebih memakmurkan desa dari sebelumnya.


KONSEP DASAR EKONOMETRIKA


KONSEP DASAR EKONOMETRIKA 

A.    Sasaran Penelitian Ekonometrika
      Ekonometrika adalah penggunaan analisis komputer serta teknik
pembuatan model untuk menjelaskan hubungan antara kekuatan-kekuatan ekonomi utama seperti ketenagakerjaan, modal, suku bunga, dan
kebijakan pemerintah dalam pengertian matematis, kemudian menguji
pengaruh dari perubahan dalam skenario ekonomi. Syahrul (2000:150
).[1]
      Metodologi ekonometrika memiliki relevansi dengan pendekatan kuantitatif, karena metode ekonometrika mencoba melihat argumentasi teori yang dijabarkan oleh parameter variabel yang terukur. Sebuah teori di interprestasikan kedalam pemodelan matematis kemudian diestimasi untuk mendapatkan parameter sampel yang mendekati parameter populasinya. Kemudian dilakukan pengujian hipotesis terhadap hubungan variabel-variabel bentukan, selanjutnya hasil ini menjadi bahan analisis teori ekonomi yang dikaji untuk mengambil keputusan/kebijakan atau prediksi.
      Sebagai contoh misalkan teori permintaan barang yang menyatakan bahwa harga berpengaruh negatif terhadap permintaan suatu kuantitas permintaan suatu komoditas. Langkah selanjutnya menuangkan teori ke dalam pemodelan matematis y=a+bx dimana b/β < o (hipotesis negatif). Y variabel terikat dan x variabel bebas. Model matematik diatas adalah model exact atau deterministik padahal model statistik atau ekonometrika mendasari analisisnya pada pemodelan yang tidak pasti sehingga model matematis diatas dibentuk menjadi model yang sesuai dengan perilaku ekonomi Yi/t= a + bxi/t+ ei/tatau yi/t= β0 + β1xi/t+ ei/t
      Tahap selanjutnya adalah pengumpulan data yang kemudian di olah dengan konsep statistik sesuai dengan metodologi analisa data yang dipilih.Tahapan ini berisi estimasi parameter β0/ β1kemudian uji kelayakan model, uji hipotesis dan pengambilan keputusan.

B.  Tahapan Analisis
      Dipandang dari sisi ekonometrika teori, metodologi ekonometrika memberikan pemahaman mengenai konsep dan metode yang tepat dalam mengukur perilaku serta hubungan-hubungan ekonomi dalam berbagai kemungkinan model-model ekonometrika yang sesuai. Sementera dari sisi ekonometrika aplikasi mencoba menerapkan beberapa konsep dan metode menggunakan model ekonometrika sehingga mampu menjelaskan fenomena-fenomena ekonomi dengan lebih baik. Dalam perkembangannya, penggunaan model-model ekonometrika banyak diaplikasikan untuk memahami berbagai fenomena baik ekonomi maupun non-ekonomi.[2]
            Berdasarkan hubungan-hubungan yang ada dalam teori ekonomi, prosedur atau tahapan ekonometri meliputi langkah-langkah sebagai berikut, lihat misalnya Gunawan Sumodiningrat (1994) dan Gudjarati (1988):[3]

1.      Merumuskan persamaan matematis yang menggambarkan hubungan di antara berbagai variabel ekonomi seperti yang diterangkan oleh teori ekonomi (Spesifikasi).
2. Merancang metode dan prosedur berdasarkan teori statistik, untuk mendapatkan sampel yang mewakili dunia nyata.
3.   Menyusun metode penaksiran (estimasi) parameter hubungan-hubungan yang dilukiskan pada langkah pertama (Penaksiran).
 4.  Menyusun metode (statistik) untuk keperluan pengujian validitas teori dengan menggunakan parameter-parameter yang telah didapatkan pada langkah ketiga (Verifikasi).
 5.  Mengembangkan metode peramalan ekonomi ataupun implikasi kebijakan berdasarkan parameter-parameter yang telah ditaksir apabila teori tersebut telah lolos dari pengujian pada langkah keempat (Aplikasi/Penerapan). Persyaratan dan kemungkinan kesalahan dalam langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:

      Langkah 1:
                  Langkah pertama dan yang paling penting dalam setiap penelitian ekonometri adalah menspesifikasikan model. Langkah ini meliputi penentuan:
a.    Variabel bebas (independent variables) atau variabel penjelas (explanatory variables) maupun variabel tergantung (dependent variable) yang akan dimasukkan dalam model.
b.   Asumsi-asumsi a priori mengenai nilai dan tanda parameter (atas dasar kriteria teoritis) dari model.
c.    Bentuk matematis dari model.

      Sebagaimana telah dijelaskan, spesifikasi dari model ekonometri harus didasarkan atas teori ekonomi. Namun demikian tidak semua variabel ekonomi telah tersedia datanya. Variabel pendapatan permanen, jumlah uang yang diminta, inflasi yang diharapkan merupakan contoh variabel ekonomi yang tidak tersedia datanya. Dengan demikian peneliti perlu melakukan pendekatan (approximation) terhadap variabel-variabel tersebut. Selain itu, data yang tersedia biasanya tersaji dalam periode/frekuensi tertentu yang belum tentu sama dengan kebutuhan peneliti, misalnya data pendapatan nasional secara bulanan atau triwulanan perlu diinterpolasi dari data tahunan.

Langkah 2:
            Seperti disebutkan di atas, penelitian ekonomi menggunakan model yang tidak sama dengan realita. Selanjutnya, model ini ditaksir dengan mempergunakan data sampel dan bukan populasi. Ini berarti bahwa peneliti seolah-olah menjauhi realita dalam dua hal, yaitu penggunaan model dan sampel. Meskipun demikian peneliti tidak akan ragu mempergunakan hasil penelitiannya mengingat bahwa metode penurunan model dan pengambilan sampel telah dilakukan sesuai dengan metode yang ada. Dengan metode pengambilan sampel yang benar, seperti di dalam model, akan diperoleh informasi mengenai populasi.
            Kemungkinan kesalahan dapat terjadi karena sampel tidak mewakili populasi, atau sampel terlalu besar sehingga tidak efisien.[4] Peneliti dapat mempergunakan teori ekonomi sebagai salah satu petunjuk memperoleh sampel, yaitu apakah sampel berupa data runtun waktu, data antar ruang / tempat, atau kombinasi keduanya. Secara rinci langkah ini terdiri atas dua aktivitas, yaitu:

a.    Pengumpulan data yang berkaitan dengan variabel-variabel yang masuk dalam model (runtun waktu time series, antarsektor, cross section, atau gabungan keduanya, pooling data).
b.   Menyelidiki ada tidaknya masalah multikolinieritas (hubungan linier di antara variabel penjelas).

Langkah 3:
            Langkah ketiga, yaitu penaksiran model dengan metode ekonometri yang tepat, meliputi langkah-langkah sebagai berikut:
a.    Menyelidiki syarat identifikasi jika modelnya mengandung lebih dari satu persamaan.
b.   Memilih teknik ekonometri yang tepat untuk penaksiran model.

Dalam kaitannya dengan proses penaksiran ini, perangkat komputer menjadi dominan. Beberapa program komputer untuk ekonometri yang biasa dipergunakan misalnya E-Views, Shazam, TSP, Limdep, Data Fit, Soritex, SPSS, Microstat, sangat membantu dalam proses estimasi. Pilihan terhadap program tentu saja disesuaikan dengan kapasitas komputer, kebutuhan untuk analisis, dan kecepatan pemrosesan.

Langkah 4:
            Pada langkah ini, model (yang telah ditaksir) dievaluasi atas dasar kriteria tertentu, untuk melihat apakah taksiran-taksiran tersebut dapat dipercaya. Evaluasi atau pengujian itu dimaksudkan untuk memutuskan apakah taksiran-taksiran terhadap parameter sudah “bermakna secara teoritis” (theoritically meaningful) dan “nyata secara statistik” (statistically significant). [5] Kriteria tersebut biasanya tercakup dalam uji hipotesis. Kriteria menolak atau tidak menolak hipotesis akan menentukan probabilitas besarnya kesalahan tipe I dan II. Selain itu, kriteria tersebut membantu peneliti dalam memutuskan apakah hasil yang diperoleh semata-mata merupakan kebetulan atau sudah melampaui batas keragu-raguan dari peneliti sehingga membuat peneliti yakin bahwa hasil yang diperoleh merupakan perilaku yang sebenarnya. Untuk evaluasi, digunakan tiga kriteria berikut:

a.     Kriteria ―a priori‖ Ekonomi Kriteria ini ditentukan oleh prinsip-prinsip teori ekonomi. Jika nilai maupun tanda taksiran parameter tidak sesuai dengan kriteria ―a priori‖ maka taksiran-taksiran itu harus ditolak, kecuali kalau ada alasan yang kuat untuk menyatakan bahwa dalam kasus khusus ini prinsip-prinsip ekonomi tidak berlaku. Kalau demikian halnya, maka alasan-alasan untuk membenarkan taksiran yang berbeda dengan yang digariskan oleh teori ekonomi, harus dinyatakan dengan jelas.

b.    Kriteria Statistik (First Order Test) Kriteria ini ditentukan oleh teori statistik, termasuk koefisien korelasi dan standar deviasi atau kesalahan standar (“standard error”) dari taksiran dan kuadrat dari koefisien korelasi, yang disebut: Koefisien Determinasi, yang dihitung dari data sampel. Koefisien ini menjelaskan persentase variasi total variabel tergantung yang disebabkan oleh perubahan-perubahan variabel bebas. Kesalahan standar taksiran menggambarkan penyebaran (dispersi) taksiran di sekitar parameter yang sebenarnya. Oleh karena itu, semakin besar kesalahan standar, semakin kurang bisa dipercaya taksiran itu, dan sebaliknya.

c.     Kriteria Ekonometri (Second-order Test) Kriteria ini ditentukan oleh teori ekonometri. Pengujian dengan kriteria ini membantu dalam menetapkan apakah suatu taksiran memiliki sifat-sifat yang dibutuhkan seperti: ketidakbiasan (unbiasedness), konsistensi (consistency), kecukupan (sufficiency), dan sebagainya. Jika asumsi-asumsi teknik ekonometri yang diterapkan untuk menaksir paramater tidak dipenuhi, maka taksiran-taksiran tersebut dianggap tidak memiliki sifat-sifat yang dibutuhkan. Pengambilan keputusan (inferensi) dari hasil taksiran seperti ini menjadi tidak sah (tidak valid).

Ketiga kriteria tersebut di atas (teori ekonomi, statistik, dan ekonometri) harus diputuskan untuk menerima atau menolak suatu taksiran. Kriteria yang lain berkaitan dengan ciri-ciri data yang diamati seperti stasionaritas data dan kointegrasi.

Langkah 5:
         Langkah terakhir adalah menguji kekuatan peramalan dari model. Salah satu tujuan utama ekonometri adalah membuat peramalan (forecasting) yang merupakan prediksi nilai-nilai suatu variabel tertentu di luar data sampel yang tersedia. Peramalan ini erat kaitannya dengan pilihan kebijakan dan evaluasi kebijakan. Dalam kenyataan, sebagian besar metode evaluasi kebijakan mempergunakan metode peramalan tertentu. Oleh karena itu, harus ada kaitan yang erat antara peramal (forecaster) dan pengambil keputusan (decision maker), terutama yang berkaitan dengan evaluasi kebijakan.
Kiranya perlu sekali menguji kekuatan peramalan suatu model. Suatu model kadang-kadang terlalu peka (sensitif) terhadap perubahan sampel. Suatu model yang secara ekonomis benar, secara statistik dan ekonometri berarti (significant) untuk sampel tertentu (misalnya, kurun waktu model itu di taksir), namun model itu masih sangat lemah bila digunakan untuk meramal. Selain karena kepekaan model, kelemahan dalam peramalan ini bisa disebabkan oleh hal-hal berikut ini:

a.    Nilai-nilai variabel bebas yang digunakan untuk meramal tidak akurat.
b.   Taksiran koefisien-koefisiennya mungkin tidak benar karena kekurangan data yang digunakan.

 Salah satu prosedur untuk menentukan kekuatan ramalan (forecasting power) dari suatu model adalah mencobakan taksiran-taksiran model tersebut pada suatu kurun waktu lain yang tidak termasuk dalam kurun waktu sampel. Nilai taksiran (yaitu nilai ramalan) kemudian dibandingkan dengan besaran nyata (yaitu nilai yang nyata) variabel terikat yang bersangkutan. Perbedaan antara kedua nilai tersebut kemudian diuji secara statistik. Apabila setelah dilakukan uji signifikansi ternyata bahwa perbedaan itu nyata (significant), maka disimpulkan bahwa kekuatan peramalan dari model tersebut adalah lemah.
Metode yang lain adalah menguji stabilitas model. Biasanya model ditaksir dalam periode sampel tertentu. Ada kemungkinan bahwa telah terjadi perubahan perilaku model selama periode pengamatan sehingga lemahnya hasil peramalan bersumber pada model yang keliru. Uji stabilitas ini juga penting untuk mendeteksi seberapa jauh suatu kebijakan pemerintah atau gejolak ekonomi lain berpengaruh terhadap perilaku ekonomi masyarakat yang dicerminkan oleh perubahan model.
Misalnya model mula-mula adalah Y = a + bX. Perubahan perilaku ditunjukkan oleh perubahan nilai a dan b akibat suatu kebijakan pemerintah atau sebab lain. Pada gambar berikut, perubahan a dan b di atas dilukiskan oleh perubahan slope (kemiringan garis) dan perubahan a dilukiskan oleh perubahan penggal (intercept).[6]



                [1]Agus Tri Basuki, Ekonometrika dan Apikasi dalam Ekonomi, (Yogyakarta: Danisa Media, 2017), h. 7.
                [2]Setyo Tri Wahyudi, Konsep dan Penerapan Ekonometrika Menggunakan E-Views…, h. 3- 4.
                [3]Catur Sugiyanto, Penyesuaian Riil Permintaan Uang di Indonesia―Jurnal Ekonomi dan Busnis Indonesia”. (Yogyakarta: FE-UGM, 1993), h. 6.
                [4]Catur Sugiyanto, Penyesuaian Riil Permintaan Uang di Indonesia―Jurnal Ekonomi dan Busnis Indonesia”…, h. 7.
              [5]Catur Sugiyanto, Penyesuaian Riil Permintaan Uang di Indonesia―Jurnal Ekonomi dan Busnis Indonesia”…, h. 8.
                [6]Catur Sugiyanto, Penyesuaian Riil Permintaan Uang di Indonesia―Jurnal Ekonomi dan Busnis Indonesia”…, h. 9-11.

MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...