Sabtu, 20 April 2019

MAKALAH PEMBELAJARAN MENURUT PARA AHLI


MAKALAH PEMBELAJARAN MENURUT PARA AHLI                                                                                                                                                                                                                                                                                   BAB I

PENDAHULUAN

    A.    Latar Belakang
Pendidikan menurut Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar.
Proses belajar pada hakikatnya juga merupakan kegiatan mental yang tidak dapat dilihat. Peserta didik harus dianggap sebagai makhluk yang dinamis, sehingga harus diberi kesempatan untuk menentukan harapan dan tujuan mereka sendiri dan guru bukanlah satu-satunya orang yang paling tahu. Oleh karena itu, pembelajaran harus berpusat pada peserta didik (child centered), tidak tergantung pada text book atau metode pengajaran tekstual.
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis mengajukan makalah yang berjudul “Hakikat Belajar dan Pembelajaran ” yang nantinya dapat memperjelas pengertian dan Hakikat dari belajar, termasuk didalamnya tujuan dalam belajar dan pembelajaran.

    B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan belajar?
2.      Apa yang dimaksud dengan pembelajaran?
3.      Apa tujuan dari belajar dan pembelajaran?



     C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mendeskripsikan apa definisi dari belajar.
2.      Untuk mendeskripsikan apa definisi dari pembelajaran.
3.      Untuk mendeskripsikan tujuan dari belajar dan pembelajaran.
 
    D.    Manfaat Penulisan:
Berikut beberapa manfaat dari penulisan makalah ini adalah:
1.      Sebagai refernsi bagi mahasiswa.
2.      Dapat diterapkan dalam proses pembelajaran.
3.      Dapat menjadi bahan kajian bagi dosen ataupun mahasiswa.

BAB II
PEMBAHASAN

     A.    Pengertian Belajar dan Pembelajaran
Secara umum belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan. [1]Belajar juga dapat diartikan sebagai proses atau usaha yang dilakukan tiap individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan maupun sikap dan nilai yang positif sebagai pengalaman untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Kegiatan belajar tersebut ada yang dilakukan di sekolah, di rumah, dan di tempat lain seperti di museum, di laboratorium, di hutan dan dimana saja. Menurut KBBI belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu.
Berikut beberapa pengertian belajar menurut para ahli adalah sebagai berikut:
1.      Menurut Jammes O.Wittaker
Belajar dapat didefinisikan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui pelatihan atau pengalaman.[2]
2.      Belajar Menurut Skinner
Skinner berpandangan bahwa belajar adalah perilaku. Pada saat orang belajar, maka responsnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responsnya menurun. Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut:[3]
a.       Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons pebelajar.
b.      Respons si pebelajar, dan
c.       Konsekuensi yang bersifat menguatkan respons tersebut. Pemerkuat terjadi pada stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut. Sebagai ilustrasi, perilaku respons si pebelajar yang baik diberi hadiah. Sebaliknya, perilaku respons yang tidak baik diberi teguran dan hukuman.
Dalam menerapkan teori skinner, guru perlu memperhatikan dua hal penting, yaitu: (1) pemilihan stimulus yang diskriminatif, dan (2) penggunaan penguatan.
3.      Belajar Menurut Gagne
Menurut Gagne belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar oarng memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai. Timbulnya kapabilatas tersebut dari stimulasi dari lingkungan, dan proses kognitif yang dilakukan oleh pembelajar.[4]
Menurut Gagne belajar terdiri dari tiga kompenen penting, yaitun kondisi ekternal, kondisi internal, dan hasil belajar. Gegne berpendapat dalam belajar tardiri dari tiga tahap yang meliputi Sembilan fase. Tahapan itu sebagai berikut; persiapan untuk belajar, pemerolehan dan unjuk perbuatan (Perfomansi), dan alih belajar. Pada tahap Persiapan dilakukan tindakan mengarahkan perhatian, pengharapan dan mendapatkan kembali informasi. Pada tahap pemerolehan dan performansi digunakan untuk persepsi selektif, sandi semantic, pembangkitan kembali dan respons, serta penguatan. Tahap alih belajar meliputi pengisyaratan untuk membangkitkan, dan memperlakukan secara umum.
4.      Belajar Menurut Pandangan Piaget
Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang. Perkembangan intelektual melalui tahap-tahap berikut: sensori motor (0, 0-2, 0 tahun), pra-oprasional (2,0-7,0 tahun), oprasional kongkret (7,0-11,0 tahun), dan operasi formal (11,0-ke atas).[5]
Pada tahap sensori motor anak mengenal lingkungan dengan kemampuan sensorik dan metorik. Anak mengenal lingkungan dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, dan mengerak-gerakkannya. Pada tahap pra operasional, anak mengandalkan diri pada presepsi tentang realitas. Ia telah mampu menggunakan symbol, bahasa, konsep sederhana, berpartisipasi, membuat gambar, dan mengolong-golongkan. Pada tahap operasi kongkret anak dapat mengembangkan pikiran logis. Ia dapat mengikuti penalaran logis, walau kadang-kadang memecahkan masalah secara “trial and error”. Pada tahap operasi formal anak dapat berpikir abstrak seperti pada orang dewasa.
5.      Belajar Menurut Rogers
Rogers menyayangkan praktek pendidikan disekolah tahun 1960.  Menurut pendapatnya praktek pendidikan menitik berstkan pada segi pengajaran bukan pada siswa yang belajar. Praktek tersebut ditandai oleh peran guru yang dominan dan siswa hanya menghafalkan pelajaran.[6]
Rogers mengemukakan pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan. Prinsip pendidikan dan pembelajaran tersebut sebagi berikut:
a.       Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
b.      Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.
c.       Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru, sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
d.      Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses-proses belajar, keterbukaan belajar mengalami sesuatu, bekerja sama dengan melakukan pengubahan diri terus menerus.
e.       Belajar yang optimal akan terjadi, bila siswa berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam proses belajar.
f.       Belajar mengalami (experiential learning) dapat terjadi, bila siswa mengevaluasi dirinya sendiri.
g.      Belajar mengalami menuntut keterlibatan siswa secara penuh dan sungguh-sungguh.
Jadi, dapat disimpulkan belajar adalah proses perubahan perilaku atau kegiatan yang kompeks yang dilakukan tiap individu akibat interaksi beserta pengalaman yang didapat dengan lingkungan atau stimulus yang berasal dari lingkungan untuk memperoleh keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai.

Berikut beberapa definisi pembelajaran menurut para ahli adalah sebagai berikut:
a.      Menurut KBBI
Pembelajaran adalah proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.
b.      Menurut Hamalik
Pembelajaran merupakan suatu kombinasi yang tersusun antara unsur manusiawi, material, fasilitas, dan rencana yang saling mempengaruhi untuk mencapai suatu tujuan.[7]
c.       Menurut Dimyati dan Mudjiono
Pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain intruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada sumber belajar.
d.      Menurut UUSPN No.20 Tahun 2003
Pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreatif berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pembelajaran.
e.       Menurut Gagne dan Briggs
Pembelajaran adalah suatu system yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal.
f.       Menurut Kinirk dan Gustafson
Pembelajaran merupakan suatu proses yang sistematis melalui tahap perancangan, pelaksanaan dan evaluasi dalam hal ini pembelajran tidak terjadi seketika, melainkan sudah melalui tahap pembelajaran.[8]
Jadi, Pembelajaran adalah suatu proses interaksi yang sistematis antara peserta didik, pendidik serta sumber belajar yang melalui tahap perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi untuk mempengaruhi dan mendukung serta untuk mencapai proses belajar atau tujuan belajar.

     B.     Tujuan Belajar dan Pembelajaran
1.      Tujuan Belajar
Tujuan belajar menurut Sukandi (1983: 18) adalah mengadakan perubahan tingkah laku dan perbuatan. Perubahan itu dapat dinyatakan sebagai suatu kecakapan keterampilan, kebiasaan, sikap, pengertian, sebagai pengetahuan atau penerimaan dan penghargaan. Sedangkan Surakhmat (1986) mengatakan bahwa tujuan belajar adalah mengumpulkan pengetahuan, penanaman konsep dan pengetahuan, dan pembentukan sikap dan perbuatan.
Jadi, tujuan belajar adalah untuk melakukan perubahan baik tingkah laku maupun perbuatan serta untuk mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan pembentukan sikap dan perbuatan.
2.      Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. Proses pembelajaran adalah proses membantu siswa belajar,yang ditandai dengan perubahan perilaku baik dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Ketercapaian tujuan pembelajaran dapat dikatakan sebagai dampak dari proses pembelajaran. Dampak pembelajaran adalah hasil belajar yang segera dapat diukur, yang terwujud dalam hasil evaluasi pembelajaran.
Dalam Permendiknas RI No. 52 Tahun 2008 tentang Standar Proses disebutkan bahwa tujuan pembelajaran memberikan petunjuk untuk memilih isi mata pelajaran, menata urutan topik-topik, mengalokasikan waktu, petunjuk dalam memilih alat-alat bantu pengajaran dan prosedur pengajaran, serta menyediakan ukuran (standar) untuk mengukur prestasi belajar siswa.
Tujuan belajar dan pembelajaran yang lebih spesifik dikemukakan oleh taksonomi Instruksional Bloom. Menurut Bloom, siswa belajar berarti menggunakan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik terhadap lingkungannya. Ranah kognitif terdiri dari enam jenis perilaku, sebagai berikut:
a.       Pengetahuan, yang berkenaan dengan ingatan tentang fakta, peristiwa, pengertian, kaidah, teori, prinsip atau metode.
b.      Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari.
c.       Penerapan, kemampuan mengaplikasi yang mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru.
d.      Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Misalnya dapat menguraikan sebab-sebab terjadinya sesuatu, dan memahami hubungan antar bagian-bagiannya.
e.       Sintesis, adalah proses memadukan bagian-bagian atau unsure-unsur secara logis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya kemampuan menyusun program kerja.
f.       Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat, menilai, dan menentukan keputusan tentang suatu hal berdasarkan criteria tertentu. Misalnya kemampuan menilai hasil karangan.
Ranah afektif terdiri dari lima perilaku, yakni:
a.       Penerimaan, yang mencakup kepekaan tentang hal tertentu dan kesediaan memperhatikan hal tersebut. Misalnya kemampuan mengakui adanya perbedaan-perbedaan.
b.      Partisipasi, yang mencakup kerelaan, kesediaan memperhatikan, dan berpatisipasi dalam suatu kegiatan.
c.       Penilaian dan penentuan sikap yang mencakup menerima suatu nilai, menghargai, mengakui dan menentukan sikap. Misalnya dapat menerima pendapat orang lain.
d.      Organisasi, mencakup kemampuan membentuk suatu system nilai sebagai pedoman dan pegangan hidup. Misalnya menempatkan suatu nilai dan menjadikannya sebagai pedoman bertindak secara bertanggung jawab.
e.       Pembentukan pola hidup, yang mencakup menghayati nilai dan membentuknya menjadi pola kehidupan pribadi. Misalnya, kemampuan mempermbangkan dan menunjukkan tindakan disiplin.
Sedangkan ranah psikomotorik terdiri dari tujuh perilaku, yaitu:
a.       Persepsi, yang mencakup kemampuan memilah-milah hal-hal secara khas serta menyadari perbedaannya. Misalnya perbedaan warna.
b.      Kesiapan, yang mencakup kesiapan secara jasmani dan rohani sebelum terjadinya suatu gerakan atau rangkaian gerakan.
c.        Gerakan terbimbing, kemampuan melakukan gerakan sesuai contoh atau gerakan peniruan, seperti meniru gerak tari.
d.      Gerakan terbiasa, kemampuan melakukan gerakan-gerakan tanpa contoh. Misalnya melakukan lompat tinggi dengan tepat.
e.       Gerakan kompleks, yaitu kemampuan melakukan gerakan atau keterampulan yang terdiri dari banyak tahap, secara lancer, efisien dan tepat. Misalnya membongkar pasang peralatan secara tepat.
f.       Penyesuaian pola gerakan, mencakup kemampuan mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerak-gerak dengan persyaratan khusus yang berlaku. Misalnya keterampilan bertanding olahraga.
g.      Kreativitas, yang mencakup kemampuan melahirkan pola gerak yang baru atas dasar prakarsa sendiri. Misalnya kemampuan membuat tari kreasi baru (Dimyati, 2000).
Jadi, tujuan pembelajaran adalah untuk memberikan petunjuk dalam memilih isi mata pelajaran, serta menyediakan ukuran (standar) untuk mengukur prestasi belajar siswa serta untuk mencapai perubahan perilaku baik dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.



BAB III
PENUTUP

     A.    Kesimpulan
Belajar adalah proses perubahan perilaku atau kegiatan yang kompeks yang dilakukan tiap individu akibat interaksi beserta pengalaman yang didapat dengan lingkungan atau stimulus yang berasal dari lingkungan untuk memperoleh keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai.
Pembelajaran adalah suatu proses interaksi yang sistematis antara peserta didik, pendidik serta sumber belajar yang melalui tahap perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi untuk mempengaruhi dan mendukung serta untuk mencapai proses belajar atau tujuan belajar.
Tujuan belajar adalah untuk melakukan perubahan baik tingkah laku maupun perbuatan serta untuk mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan pembentukan sikap dan perbuatan. Sedangkan, tujuan pembelajaran adalah untuk memberikan petunjuk dalam memilih isi mata pelajaran, serta menyediakan ukuran (standar) untuk mengukur prestasi belajar siswa serta untuk mencapai perubahan perilaku baik dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

     B.     Saran
Belajar merupakan suatu keharusan, disadari atau pun tidak. Namun, proses belajar akan lebih efektif jika seseorang menemukan metode belajar yang tepat, metode belajar yang tepat akan mengefektifkan proses penyerapan ilmu. Oleh karena itu, kenalilah dirimu dan temukanlah metode yang paling sesuai dengan kepribadian masing-masing.
Sehubungan dengan hasil penulisan makalah ini, penulis menyarankan kepada para pembaca agar diadakan pengkajian lanjutan yang berjudul sama dengan makalah ini, agar ditemukan pengertian dari Hakikat belajar dan pembelajaran yang lebih baik.


DAFTAR PUSTAKA

Chanra. 2012. “Tujuan Belajar dan Pembelajaran”.https://chanra730.blogspot.com/2012/03/tujuan-belajar-dan-pembelajaran.html. Diakses 13 Maret 2012
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Lefudin. 2017. Belajar dan Pembelajaran. Yogjakarta: CV Budi Utama.

[1]  Lefudin, Belajar dan Pembelajaran, (Yogjakarta: CV Budi Utama, 2017) hal. 2
[2] Ibid., hal. 3
[3] Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006) hal. 9
[4] Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006) hal.
[5] Ibid., hal. 13
[6] Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006) hal.
[7] Lefudin, Belajar dan Pembelajaran, (Yogjakarta: CV Budi Utama, 2017) hal. 13
[8] Ibid., hal. 14

MAKALAH PRINSIP BELAJAR


MAKALAH PRINSIP BELAJAR 
BAB 1
PENDAHULUAN
    A.    Latar  Belakang
Untuk menciptakan dan menghasilkan kegiatan belajar dan pembelajaran yang berprestatif dan menyenangkan, perlu diketahui berbagai landasan yakni prinsip-prinsip maupun teori belajar. Prinsip ini dijadikan sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa maupun bagi guru dalam upaya mencapai hasil yang diinginkan. Prinsip adalah sesuatu yang dipegang sebagai panutan yang utama dan menjadi dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa maupun bagi guru dalam upaya mencapai hasil yang diinginkan agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik antara pendidik dan peserta didik sedangkan Belajar adalah suatu proses perubahan perilaku dari kita yang tidak tahu apa-apa menjadi tahu. Belajar bukan suatu penguasaan latihan melainkan perubahaan kelakuan, kegiatan belajar dapat dialami oleh orang yang sedang belajar dan juga diamati oleh orang lain. Dan untuk menghasilkan perubahan tingkah laku baik dalam pengetahuan, sikap, keterampilan, dan nilai sebagai hasil interaksinya dengan lingkungan untuk mencapai tujuan tertentu.
   B.     Rumusan  Masalah
1.      Apa pengertian dari prinsip belajar?
2.      Apa saja prinsip-prinsip belajar?
3.      Apa pengertian dari prinsip pembelajaran?
4.      Apa saja prinsip-prinsip pembelajaran?
C.    Tujuan  Penulisan
1.      Untuk mendeskripsikan definisi dari prinsip belajar
2.      Untuk mendeskripsikan apa saja prinsip-prinsip belajar.
3.      Untuk mendeskripsikan definisi dari prinsip pembelajaran.
4.      Untuk mendeskripsikan apa saja prinsip- prinsip pembelajaran.

  
BAB II
PEMBAHASAN
    A.    Pengertian Prinsip Belajar
Prinsip Belajar adalah suatu hubungan yang terjadi antara peserta didik dengan pendidik agar siswa mendapat motivasi belajar yang berguna bagi dirinya sendiri. Dan juga, prinsip belajar dapat digunakan sebagai landasan berfikir, landasan berpijak, dan sumber motivasi agar Proses Belajar dan Pembelajaran dapat berjalan dengan baik antara pendidik dan peserta didik.
    B.     Prinsip-Prinsip Belajar
Ada beberapa prinsip yang relatif berlaku umum yang dapat kita pakai sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, yang baik bagi siswa untuk meningkatkan upaya belajarnya maupun bagi guru yang digunakan untuk meningkatkan upaya mengajarnya. Berikut ini adalah contoh prinsip-prinsipnya:
1.      Prinsip Kesiapan
Yang dimaksud dengan prinsip kesiapan yaitu proses yang dipengaruhi kesiapan siswa atau kondisi siswa yang memungkinkan ia dapat belajar
2.      Prinsip Motivasi
Motivasi adalah suatu kondisi atau keadaan dari peserta didik untuk mengatur arah kegiatan dan memelihara kondisi tersebut.
3.      Prinsip Persepsi
Prinsip Persepsi adalah interpertasi tentang situasi yang hidup dan dipengaruhi oleh perilaku individu itu sendiri. Setiap individu dapat melihat dunia dengan caranya sendiri yang berbeda dari yang lain.
4.      Prinsip Tujuan
Tujuan adalah sasaran khusus yang hendak dicapai oleh setiap individu. Tujuan ini harus lebiah jelas tergambar dalam pikiran dan dapat diterima oleh setiap peserta didik dalam proses pembelajaran itu terjadi.
5.      Prinsip Perbedaan Individual
Proses pengajaran semestinya memperhatikan perbedaan individual dalam kelas dan dapat memberi kemudahan pencapaian tujuan belajar setinggi-tingginya. Pengajaran yang hanya memperhatikan satu tingkat sasaran akan gagal memenuhi kebutuhan seluruh siswa.
6.      Prinsip Transfer dan Retensi
Belajar yang dapat dianggap bermanfaat bila seseorang itu dapat menyimpan dan menerapkan hasil belajar dalam situasi baru dan pada akhirnya dapat digunakan dalam situasi yang lain. Proses itulah yang disebut dengan Proses Transfer. Sedangkan yang dimaksud dengan Retensi adalah kemampuan sesesorang untuk menggunakan lagi hasil belajar.
7.      Prinsip Belajar Kognitif
Belajar kognitif mencakup asosiasi antar unsur, pembentukan konsep, penemuan masalah, dan keterampilan memecahkan masalah yang selanjutnya membentuk perilaku baru, berpikir, menalar, menilai dan berimajinasi. Dalam prinsi ini akan melibatkan proses pengenalan dan penemuan.
8.      Prinsip Belajar Afektif
Belajar Afektif akan mencakup beberapa unsur yaitu nilai emosi, dorongan, minat dan sikap. Prinsip belajar afektif seseorang akan menemukan bagaimana ia menghubungkan dirinya dengan pengalaman baru.
9.      Prinsip Belajar Evalusi
Belajar evaluasi dapat mempengaruhi proses belajar saat ini dan selanjutnya pelaksanaan pelatihan evaluasi memungkinkan bagi individu untuk menguji kemajuan dalam pencapaian tujuan.
10.  Prinsip Belajar Psikomotor
Proses belajar psikomotor individu menetukan bagaimana ia mampu mengendalikan aktifitas ragawinya. Belajar psikomotor mengandung aspek mental dan fisik.
     C.     Pengertian Prinsip Pembelajaran
Prinsip dikatakan juga landasan. Prinsip pembelajaran menurut Larsen dan Freeman (1986 dalam Supani dkk. 1997/1998) adalah represent the theoretical framework of the method. Prinsip pembelajaran adalah kerangka teoretis sebuah metode pembelajaran. Kerangka teoretis adalah teori-teori yang mengarahkan harus bagaimana sebuah metode dilihat dari segi:
1.       Bahan yang akan dibelajarkan,
2.      Prosedur pembelajaran (bagaimana siswa belajar dan bagaimana guru mengajarkan bahan).
3.      Gurunya
4.       Siswanya.

    D.    Prinsip-Prinsip Pembelajaran

1.      Perhatian dan Motivasi
Perhatian mempunyai peranan sangat penting dalam kegiatan belajar peserta didik. Perhatian dalam proses belajar akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila perhatian ini tidak ada pada siswa, maka siswa ini perlu dibangkitkan lagi perhatiannya. Selain itu juga, perhatian digunakan sebagai pemusatan energi psikis (fikiran dan perasaan) terhadap suatu terhadap suatu objek. Makin terpusat perhatian pada pelajaran, proses belajar tersebuat akan semakin baik dan hasilnya akan semakin baik juga. Dan oleh sebab itu, guru harus selalu berupaya agar perhatian siswa terpusat pada pelajaran.
2.      Keaktifan Belajar
Dalam setiap proses belajar, siswa selalu menampakkan keaktifan. Keaktifan itu beraneka ragam bentuknya. Mulai dari kegiatan fisik yang mudah kita amati sampai kegiatan psikis yang susah diamati. Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan, dan sebagainya. Contoh kegiatan psikis misaInya menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan basil percobaan, dan kegiatan psikis yang lain. Seperti yang telah dibahas di depan bahwa belajar iu sendiri adalah akivitas, yaitu aktivitas mental dan emosional.
3.      Keterlibatan Langsung Dalam Belajar
Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekadar mengamati secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab tehadap hasilnya. Sebagai contoh seseorang yang belajar membuat tempe, yang paling baik apabila ia terlihat secara langsng dalam perbuatan, bukan sekadar melihat bagaimana orang menikmati tempe, apalagi sekadar mendengar orang bercerita bagaimana cara pembuatan tempe.
4.      Pengulangan Belajar
Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan mempunyai maksud untuk melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamat, menanggap, mengingat. mengkhayal, merasakan. berpikir. dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang. Seperti halnya pisau yang selalu diasah akan menjadi tajam, maka daya-daya yang dilatih dengan pengadaan pengulangan-pengulangan akan menjadi sempuma.
5.      Tantangan
Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yang mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu yaitu dengan mempelajari bahasa belajar tersebut. Apabila hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar telah tercapai, maka ia akan masuk dalam medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya. Agar pada anak timbul motif yang Kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik maka bahan belajar haruslah menantang. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar haruslah menantang.tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah untuk mengatasinya.
6.      Balikan dan Penguatan
Siswa belajar sungguh-sungguh dan mendapatkan nilai yang baik dalam ulangan. Nilai yamg baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat merupakan operant conditioning atau penguatan positif. Sebaliknya anak yang mendapatkan nilai yang jelek pada waktu ulangan akan merasa takut tidak naik kelas, karena takut tidak naik kelas ia terdorong untuk belajar lebih giat. Di sini nilai buruk dan rasa takut tidak naik kelas juga bisa mendorong anak untuk belajar lebih giat. Inilah yang disebut penguatan negatif.
7.      Perbedaan Individual
Perbedaan individual diantaranya adalah menentukan tempat duduk di kelas, menyusun jadwal belajar, atau memilih bahwa implikasi adanya prinsip perbedaan individu bagi siswa dapat berupa perilaku fisik maupun psikis. Untuk memperjelas implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa, anda dapat mengidentifikasi dari kegiatan siswa dalam kegiatan pembelajaran sebagai indikatornya.
 
BAB III
PENUTUP
  A.    KESIMPULAN
Prinsip belajar adalah landasan berpikir, landasan berpijak, dan sumber motivasi agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik antara pendidik dengan peserta didik. Prinsip ini dijadikan sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa maupaun bagi guru dalam upaya mencapai hasil yang diinginkan.
   B.     SARAN
Dalam makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekeliruan, untuk itu penulis mengharapkan masukan dari pembaca guna membangun makalah ini agar menjadi lebih baik, semoga makalah ini juga bisa bermanfaat untuk kita semua.
 
DAFTAR PUSTAKA

Dimyati 2006, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta : Rineka Cipta.
Paulina, Panen, 2003, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta : UT.
Mudjiono dan Dimyati. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...