Sabtu, 27 April 2019

MAKALAH FAKTOR-FAKTOR POLA PENGASUHAN PADA KELUARGA


 MAKALAH FAKTOR-FAKTOR POLA PENGASUHAN PADA KELUARGA

BAB I
PENDAHULUAN
     A.    Latar belakang
Faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh setiap orang mempunyai sejarah sendiri-sendiri dan latar belakang yang sering kali sangat jauh berbeda. Perbedaan ini sangat memungkinkan terjadi nya pola asuh yang berbeda terhadap anak.
Banyaknya faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, pada makalah ini dibatasi pada faktor lingkungan keluarga yang berhubungan dengan pola asuh orang tua. Pola asuh orang tua merupakan interaksi antara orang tua dengan anak dalam mendidik anak dirumah. Selama proses pengasuhan orang tualah yang memiliki perananpenting dalam pembentukan kepribadian anak. Dalam mengasuh anaknya, orang tua cendrung menggunakan pola asuh tertentu. Penggunaan pola asuh tertentu ini memberikan sumbangan dalam mewarnai perekembangan terhadap bentuk-bentuk perilaku sosial tertentu pada anaknya. Pola asuh orang tua merupakan interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Pengasuhan ini bearti orang tua mendidik , membimbing , dan mendisplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat.
Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua akan berpengaruh terhadap prestasi belajar. Pola asuh yang efektif harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak, karena setiap individu memiliki kebutuhan dan kemampuan yang berbeda-beda. Pola asuh tersebut tidak hanya dilihat dari sudut pandang anak. Oleh karena itu diperlukan komunikasi antara orang tua dan anak mengenai penerapan pola pengasuhan yang diterapkan .

    B.     Rumusan masalah
1.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi pola pengasuhan dalam keluarga ?
     C.     Tujuan
1.      Agar kita dapat mengetahui apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi pola pengasuhan dalam keluarga.


 BAB II
PEMBAHASAN
     A.    Faktor-faktor yang mempengaruhi pola pengasuhan dalam keluarga
1.      Pengertian pola asuh orang tua
Isitlah pola asuh terdiri dari dua sukupala dan asuh menurut poerwadarminta (1985:63) pola adalah model dan istilah asuh diartikan menjada ,merawat dan mendidik anak atau diartikan memimpin ,membina ,melatih anak supayah bisa mandiri dan berdiri sendiri. [1]Pola asuh terdiri dari dua kata yaitu pola dan asuh. Menurut kamus besar bahasa indonesia (2008:1088) bahwa “pola adalah model sistem atau cara kerja “, asuh  adalah menjaga , merawat, mendidik ,membimbing ,membantu,melatih dan sebagainya”,kamus besar bahasa indonesia(2008:96). Sedangkan arti orang tua menurut nasution dan nurhalijah (1986:1)”orang tua adalah setiap orang yang bertanggung jawab dalam suatu keluarga atau tugas rumah tangga yang dalam kehidupan sehari-hari disebut sebagai bapak ibu “gunarsa (2000)mengemukan bahwa “pola asuh tidak lain merupakan motode atau cara yang dipilih pendidik dalam mendidik anak-anaknya yang meliputi bagaimana pendidik memperlakukan asuh tidak lain merupakan motode atau cara yang dipilih pendidik dalam mendidik anak-anaknya yang meliputi bagaiman pendidik memperlakukan anak didiknya . jadi yang dimaksud pendidik adalah orang tua terutama ayah dan ibu atau wali.
Casmini (dalam palupi,2007:3)menyebutkan bahwa :
Pola asuh sendiri memiliki definisi bagaimana orang tua memperlakukan anak ,mendidik membimbing dan mendisiplinkan serta melindungi anak dalam mencapai proses kedewasaan, hingga kepada upaya  pembentukan norma-norma yang  diharapkan oleh masyarakat pada umumnya. Menurut thoha (1996:109) menyebutkan bahwa pola asuh orang tua adalah merupakan suatu cara terbaik yang dapat ditempuh orang tua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab kepada anak
Sedangkan menurut kohn (dalam thoha.1996:110)mengemukan : pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berhubungan dengan anaknya. Sikap ini dapat dilihat dari berbagai segi,antara lain dari cara tua memberikan pengaturan kepada anak, cara memberikanhadiah dan hukuman, cara orang tua menunjukan otoritas dan cara orang tua memberikan perhatian,tanggapan terhadap keinginan anak.
Pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berinteraksi ,membimbing, dan membina ,dan mendidik anak-anaknya dalam kehidupan sehari-hari dengan harapan menjadikan anaks sukses menjalani kehidupan ini. Dapat juga diartikan pola asuh orang tua asuh orang tua yang permisiftidak dapat menanamkan perilaku moral yang sesuai dengan standar sosial pada anak. Karena orang tua bersifat longgar dan menuruti  semua keinginan anak [2]
Dengan demikian yang dimaksud dengan pola asuh orang tua adalah begaimana cara mendidik anak baik secara langsung maupun tidak langsung. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pola asuh orang tua adalah suatu proses interaksi antar orang  tua dan anak yang meliputi kegiatan seperti memelihara, mendidik membimbing serta mendisplinkan dalam  mencapai proses kedewasaan baik secara lagsung maupun tidak langsung
Dari beberapa penegertia diatas dapat disimpulkan bahwa isitilah pola asuh merupakan sejumlah model atau bentuk perubahan ekspresi dariorang tuayang dapat mempengaruhi potensigenetic yang melekat pada diri individu dalam upayah memelihara,merawat ,membimbing ,membina dan mendidik anak-anaknya  baik yang masih kecil ataupun yang belum dewasa agar menjadi manusia dewasayang mandiri  dikemudian hari[3]
2.      Faktor-faktor  yang mempengaruhi pola pengasuhan dalam keluarga
Hasil penilitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh titih(2009) yang berjudul ‘hubungan pengetahuan pola asuh anak-anak  sekolah taman kanak-kanak  dimana pola asuh merupakan interaksi awal yang berguna untuk mengenalkan anak pada aturan atau norma dan tata nilai yang berlaku pada masyarkat sekitar [4]Dalam pola pengasuhan sendiri terdapat banyak faktor yang mempengaruhi serta  melatarbelakang i orang tua dalam menerapkan pola pengasuhan pada anak –anaknya. Menurut menurung (1995:53)beberapa faktor yang mempengaruhi dalam pola pengasuhan orang tua adalah :
1)      Latar belakang pola pengasuhan orang tua maksudnya para orang tua belajar dari metode pola pengasuhan yang pernah didapat dari orang tua mereka sendiri.
2)      Tingkat pendidikan orang tua . orang tua yang memilki tingkat pendidikan tinggi berbeda pola pengasuhannya dengan orang tua hanya memilkitingkat pendidikan yang rendah.
3)      Status ekonomi serta pekerjaan orang tua .
orang tua yang cenderung sibuk dalam urusan pekerjaannya terkadang menjadi kurang mempehatikan keaadaan anak-anaknya. Keadaan ini mengakibatkan fungsi atau peran menjadi orang tua diserahkan kepada pembantu, yang pada akhirnya pola pengasuhan yang diterapkanpun  sesuai dengan pengasuhan yang diterapakan oleh pembantu.
a.                   Pengaruh pendapatan keluarga terhadap pola asuh orang tua pada anak balita
Berasumsi bahwa pendapatan keluarga sangat mempengaruhi pola asuh dialogis karena ibu desa batoh yangberpendapatan keluarga sangat mmpengaruhi  pola asuh efektifnya tinggi yaitu 78.8%. semakin tinggi tingkat pendapatan keluarga maka akan menyebabkan peningkatan dalam hal kualitas. Kuantitas pangan yang dibeli. Hal ini disebabkan karena pendapatan keluarga yang berpengaruh terhadap daya beli keluarga juga tinggi
b.                  Pengaruh status gii terhadap pola asuh orang tua pada anak
Berasumsi bahwa gii anak balita sangat mempengaruhi asuh dialogis karena, ibu didesa batohnya status gii anak balitanya kurus sumbanganefektiftasnya tinggi 80,0 persen . gii juga menjadi peran pentingdalam kehidupan sehari-hari untuk menghasilkan anak balita yang lebih baik karena kebutuhan gizi dapat terpenuhi lewat pola makan yang baik dan sehat, tetapi dari hasil peneiltian didapatkan status gizi dapat terpenuhi lewat pola makan yang baik dan sehat, tetapi dari hasil penelitian peneliti di dapatkan status gizi lebih banyakyang kurus dibandingankan dengan status gizi yang normal[5]
Sedangkan santrock (1995)menyebutkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam pola pengasuhan antara lain:
1)      Penurunan metode pola asuh yang didapat sebelumnya. Orang tua menerapkan pola pengasuhan kepada anak berdasarkan pola pengusahan yang pernah didapat sebelumnya.
2)      Perubahan budaya yaitu dalam hal nilai, norma serta adat istiadat antara dulu dan sekarang .
Pendapat diatas juga didukung mindel (dalam walker ,1992:3) yang menyatahkan bahwa  ada beberapa faktor yang  mempengaruhi terbentuknya pola asuh orang tua dalam keluarga,diantaranya:
a.       Budaya setempat
Dalam hal ini mencakup segala aturan,norma ,adat dan berkembang didalamnya
b.      Ideologi yang berkembang dalam diri orangtua
Orang tuayang mempunyai keyakinan dan idelogi tertentu cenderung untuk menurunkan kepada anak-anaknya dengan harapan bahwa nantinya nilai dan ideologi tersebut dapat tertanam dan kembangankan oleh anak dikemudian hari.
c.       Letak geografis dan norma etis
Penduduk pada dataran tinggi tentu memiliki perbedaan karaktersik dengan penduduk dataranrendah sesuai tuntutan dan tradisi yang dikembangan padat tiap-tiap daerah.
d.      Orientasi religious
Orangtua yang menganut agama dan keyakinan religus tertentu senantiasaberusaha agar anak pada akhirnya nanti juga dapat mengikutinya.
e.       Status ekonomi
Dengan perekonomianyang cukup, kesempatan dan fasiltas yang berikan serta lingkungan material yang  mendukung cenderung mengarahkan pola asuh orangtua menuju perlakuan tertentu yang dianggap orangtua sesuai.
f.       Bakat dan kemampuan orang tua
Orangtua yang memilki kemampuan komunikasi dan berbuhungan dengan anaknya  cenderung akan mengembangkan pola asuh yang sesuai  dengan  diri anak.
g.      Gaya hidup
Gaya hidup masyarakat di desa dan di kota besar cenderung memilki ragam dan cara yang berbeda dalam mengatur interaksi orangtua dan anak. Soekanto secaragaris besar menyebutkan bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi dalam pengasuhan seseorang yaitu faktor internal ,faktor eksternal adalah lingkungan sosial dan lingkungan kerja orang tua , seedangkan faktor internal adalah model pola pengasuhan yang pernah didapat sebelumnya.
Secara lebih lanjut pembahasan faktor-faktor  yang  ikut berpengaruh dalam polapengasuhan orang tua adalah :
1). Lingkungan sosial  dan fisik tempat dimana keluarga itu tinggal .pola pengasuhan suatukeluarga turut dipengaruhi oleh tempat dimana keluarga itutinggal. Apabila suatu keluarga itu tinnggal dilingkungan yang otoritas penduduk nya berpendidikan rendah serta tingkat sopan santun rendah ,maka anak anak dapat dengan muda juga menjadi ikut terpengaruh.
2). Model pola pengasuhan yang dididapat oleh orang tua sebelumnya. Kebanyakan dari orangtua menerapkan pola pengasuhan kepada anak berdasarkan pola pengasuhanyang mereka dapatkan sebelumnya . hal ini diperkuat apabila mereka memenadang pola asuh yang pernah mereka dapatkan dipandang berhasil.
3) lingkungan kerja orang tua
Orang tua yang terlalu sibukbekerja cenderung menyerahkan pengasuhan anak mereka kepada orang-orangterdekat atau bahkan kepada baby sitter.oleh karena itu pola pengasuhan yang didapat oleh anak juga sesuai dengan orang yang mengasuh tersebut.
Dari uruaian diatas dapat diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuhorang tua yaitu adanya hal-hal yang bersifat internal (berasal dalam diri). Dan bersifat eksternal  (berasal dari luar). Hal itu menentukan pola asuh terhadap anak-abak untuk mencapai tujuan agar sesuai dengan norma yang berlaku.

BAB III
PENUTUP
     A.    KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa  adalah faktoreksternal (dari luar siswa)anatara lain keluarga yang didalamnya mencakup pola asuh orang tua atau cara mendidik yang diterapkan dalam mendidik anak dirumah.
Pola asuh tersebut dapatmengakibatkan perubahan pada proses  belajar  siswa sehingga prestasi belajar pun dapat berubah.
Selain itu ,dapat disimpulkan juga bahwa  pada dasarnya terdapat kesamaan dalam pengelompokan faktor yang mempengaruhi prsestasi belajar.
Secara garis besar faktor tersebut dapat digolongkan menjadi dua yaitu faktor dalam iswa (internal) dan faktor dari luar siswa (eksternal).
Berdasarkan uraian diatas bahwa pola asuh yang diterapkan oleh orangtua setiap individu berbeda-beda, denganpenerapan pola asuhorang tua yang sesuaidengan keadaaan dan kebutuhan anak diduga dapatmeningkatan prestasi belajar siswa. Ini bearti, bahwa pola aush orang tuamempengaruhi prestasi belajar siswa.
      B.     SARAN
Dapat kita lihat bahwa banyak sekali pola asuh orang tua terhadap anaknya yang berbeda-beda. Dalam pengasuhan anak didalam  keluarga orang tiua snagat berperan besar dalam pengasuhan terhadap anaknya, tetapijuga seharusnya orang tua itu bisa mendidi, membimbing,mengawasi,mengarahkan dan masih banyaklagi yang harus dilakukan orang tua. Maka  dari itu sebagai orang tua tua harus lah bisamenerapkan pola asuh yang baik untuk anak-anaknya.

DAFTAR PUSTAKA

Jurnal pendidikan universitas garut.Vol.0;No 01;2011:70-8
Pesona PAUD,Vol I,No 1
Jurnal pendidikan universitas garut .Vol. 05;No .01;2011;70-8
Jurnal of healthcare technology and medicine Vol.3 No 1 april 2017 universitas ubudiyah indonesia e-ISSN 261-109x

[1] Jurnal pendidikan universitas garut.Vol.0;No 01;2011:70-8
[2] Pesona PAUD,Vol I,No 1
[3] Jurnal pendidikan universitas garut .Vol. 05;No .01;2011;70-8
[4] Jurnal of healthcare technology and medicine Vol.3 No 1 april 2017 universitas ubudiyah indonesia e-ISSN 261-109x
[5] Jurnal of healthcare technology and medicine Vol.3 No 1 april 2017 universitas ubudiyah indonesia e-ISSN 261-109x

MAKALAH METODE-METODE SOSIOLOGI AGAMA


MAKALAH METODE-METODE SOSIOLOGI AGAMA 

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang 
Alhamdulillah, dengan segenap rasa syukur makalah dengan tema Metode Kajian dalam Sosiologi Agama dapat penulis selesaikan dengan segenap curahan fikiran dan waktu untuk memberikan yang terbaik dalam tulisan berbentuk makalah ini. Banyak hal ingin disampaikan pada makalah ini akan tetapi ruang lingkup pembahasan hanyalah mengetahui metode dalam kajian sosiologi agama. Semua ilmu dapat diperoleh hanya dengan membaca maka, bacalah walaupun tidak semua akan dibaca. Tema yang dibahas pada makalah ini merupakan suatu kajian yang perlu pembaca ketahui bahwa pentingya mempelajari sosiologi dengan mengetahui metode dalam pembelajarannya. 
Dengan mengetahui metodenya saja kita dapat mengkaji lebih dalam mengenai berbagai macam ilmu pengetahuan tentang sosiologi agama apalagi jikalau kita membaca seluruh dari topik-topik yang ada dalam kajian sosiologi agama itu sendiri. Sosologi sangatlah berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat mengetahui ilmu engetahuan melalui sosiologi mulai dari bagaimana seseorang dapat menjadi gelandangan sampai bagaimana seseorang dapat menajdi presiden. 
Sosiologi membahas tentang semua itu, masyarakat luas inilah yang menarik dalam pembelajaran sosiologi itu sendiri. Metode kajian sosiolgi agama inilah yang di tawarkan oleh penulis untuk mempelajarinya karena hanya dngan dapat mempelajari metodenya saja kita dapat mengulas berbagai ruang lingkup pembahasan dalam kajian sosiologi. Banyak sekali hal yang kita dapat dalam sosiologi ini karena sosiologi sendiri yakni pembelajaran yang berhubungan manusia (Alfvin Betrand). 
Sedangkan agama sendiri adalah berfikir dengan pengetahuan dan kepercayaan yang mendasari tingkah laku atau akhlaq.Oleh karena itu, sangtlah penting bagi kita untuk mempelajari hal tersebut (metode dalam sosiologi agama). Karena kita akan mengetahui bentuk dari beberapa kenakalan maupun aksi-aksi dalam yang ada dalam sosiologi agama, bagaimana permasalahan tersebut dapat dipecahkan dalam prespektif sosiologi agama. Makalah ini akan menjelaskan mengenai pendekatan dalam sosiologi agama dan metode dalam sosiologi menurut beberapa prespektif serta solusi dan kajian diskusi yang akan terlengkapi pasca diskusi materi di kelas. 

2. Tujuan Pembahasan 
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat ditentukan tujuan pembahasan, yaitu sebagai berikut:
  1. Ingin memahami metode-metode yang ada dalam sosiologi agama. 
  2. Ingin memahami pendekatan-pendekatan yang ada dalam sosiologi agama. 
3. Rumusan Masalah 
Berdasarkan tujuan pembahasan di atas, maka dapat ditentukan tujuan pembelajaran, yaitu sebagai berikut: 
  1. Metode apa saja yang ada dalam sosiologi agama? 
  2. Jelaskan pendekatan-pendekatan yang ada dalam sosiologi agama?

BAB II
PEMBAHASAN
1. Metode Penelitian Sosiologi Agama 
Sosiologi adalah suatu kajian ilmiah tentang kehidupan masyarakat manusia. Sosiolog berusaha untuk mengadakan penelitian yang mendalam tentang hakikat dan sebab dari berbagai keteraturan pola pikir dan tindakan pola pikir dan tindakan manusia secara berulang-ulang. Sebagai suatu usaha analisis yang memakai metode kajian ilmiah, sosiologi dituntut ntuk memakai pendekatan yang bersifat empiris. Sosiologi dapat memilih berbagai metode dalam melaksanakan kajianya. Tentu saja metode yang dipilih sesuai dengan prosedur, alat dan desain penelitian yang digunakan. Desain penelitian harus sesuai dengan metode yang dipilih. Istilah metode, secara etimologis berasal dari bahasa Yunani “meta” yang berarti sesudah dan kata “hodos” yang berarti “jalan”. Dengan demikian metode merupakan langkah-langkah yang diambil menurut urutan tertentu untuk mencapai pengetahuan yang telah dirancang dan dipakai dalam proses memperoleh pengetahuan. 
Menurut Kneller, metode ilmiah adalah struktur rasional dari penyelidikan ilmiah yang hipotesisnya disusun dan diuji. Dengan berbagai prespektif yang ada dapat disimpulakn bahwasanya metode merupakan sebuah alat untuk merumuskan suatu tujuan tertentu sehingga menjadi utuh. Oleh karenya dalam mengkaji metode ilmiah tidak hanya satu pemikiran saja yang dipakai akan tetapai sangatlah luas utnuk menjadikan sebuah pengertian ini menjadi lenbih menyeluruh dan lebih terdefinisikan sehingga menjadi rinci. 
Dalam penelitian sosiologi menurut Kahmad umumnya diguanakan tiga bentuk penelitian yakni, deskriptif, komparatif, dan eksperimental. Maka dari itu, keidentikan model penelitian dengan metode penelitian hampir sama maknanya akan tetapi sesungguhnya berbeda karena penentuan suatu metode dipengaruhi oleh desain dan penelitian yang ada. 
1. Metode deskriptif 
Metode deskriptif yakni suatu metode penelitian tentang dunia empiris yang terjadi pada masa sekarang. Tujuannya untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan, secara sistematis, factual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, dan hubungan antar fenomena yang diselidiki. Menurut Supardan, metode ini dituntut kehati-hatian dalam, mengumpulakan suatu data atau fakta untuk mengungkapkan bebeapa hal yang diuraikan, seperti penggolongan, praktik, maupun peristiwa yang mencakup didalamnya. Pengumpulan data dilakuakan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang disusun melalui angket terhadap responden untuk mengukur pendapat atau tanggapan publik tentang sesuatu yang diteliti.
2. Metode komparatif 
Metode komparatif adalah sejenis metode deskriptif yang ingi mencapai jawaban mendasar tentang sebab akibat, analisis factorfaktor atau penyebab terjadinya atau munculnya suatu fenomena. Jangkauan waktunya adalah masa sekarang. Jika jangkauan waktu terjadi pada masa lampau, maka penelitian tersebut termasuk dalam metode sejarah. Metode komparatif ini juga mementingkann perbandingan antara macam-macam masyarakat beserta bidang-bidangnya untuk memperoleh perbedaan-perbedaan dan persamaan serta sebabsebabnya . 
3. Metode eksperimental 
Metode eksperimental adalah suatu metode pengujian terhadap suatu teori yang telah mapan dengan suatu perlakuan baru. Pengujian suatu teori dari ilmuan yang telah dibuktikan oleh berapa kali pengujian bisa memperkuat atau memperlemah teori tersebut. Tetapi ternyata dapat dibuktikan oleh eksperimen baru, maka teori tersebut akan lebih menguat dan mungkin akan mencapai taraf hokum teori.
4. Metode eksplanatori 
Metode eksplanatori adalah metode yang bersifat menjelaskan atas jawaban dari pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”sehingga lebih mendalam daripada metode deskriptif yang hanya bertanya tentang apa, siapa, kapan, dan dimana. Metode ini termasuk bagian dari emtode empiris.
5. Metode historis komparatif 
Metode historis komparatif adalah metode yang menekankan pada analisis atas peristiwa-peristiwa masa silam untuk merumuskan prinsip-prinsip namun, yang kemudian digambungkan dengan metode komparatif, dengan menitikberatkan pada perbandingan natara beberapa masyarakat beserta bidangnya agar memperoleh pola persamaan beserta sebab-sebabnya. Dengan demikian dapat dicari petunjuk perilaku kehidupan masyarakat ada masa silam dan sekarang, serta perbedaan tingkat peradapan satu sama lain.
6. Metode fungsionalisme 
Metode fungsionalisme adalah metode yang bertujuan untuk meneliti fungsi lembaga-lembaga kemasyarakatan dan struktur social dalm masyarakat. Metode ini berpendirian pokok bahwasanya unsur-unsur yang membentuk masyarakat memiliki hubungan timbal balik yang salaing mempengaruhi, masing-masing memiliki fungsi tersendiri terhadap masyarakat. 
7. Metode studi kasus 
Metode studi kasus merupakan suatu penyelidikan mendalam dari individu, kelompok, atau institusi untuk menentukan variabel dan hubungannya diantaranya variabel yang mempengaruhi status atau perilakuyang saat itu menjadi pokok kajian. Dengan demikian peneliti mampu mengungkap keunikan-keunikan objek penelitian dan menelaah hubungan antara variabel yang memepengaruhi status tau perilaku yang dikaji.
8. Metode survey 
Metode survei adalah metode yang berusaha untuk memperoleh data darianggta po[ulasi yang relatif besar untuk mementukan keadaan, karakteristik, pendapatdan populasi sekarang yang berkenaan dengan satu variable atau lebih. 

Metode dalam sosiologi agama pada umumnya bahwa terdapat dua jenis cara kerja (methode). 
  • Pertama, metode empiris yaitu menyandarkan diri pada keadaan yang nyata (empirik) didapat didalam masyarakat. Hal ini dapat diaplikasikan dalam penelitian. 
  • Kedua, Metode rasionalisme yaitu mengutamakan pemikiran dengan logika dan pemikiran sehat untuk mencapai pertain tentang masalah-maslah kemasyarakatan. 
Dalam seluruh pengumpualan data kuantitatif dan kualitatif, sosiologi agama menggunakan tiga metode, yaitu observasi, interview, dan Angket untuk menggali masalah-masalah keagamaan yang dianggap penting dan dibutuhkan.Walaupun ada pula yang menyebut ketiga metode tersebut sebagai teknik penelitian, karena teknik itu merupakan cara pelaksanaan (operasional) yang lebih rinci, rutin, mekanis, dan spesialis.
2. Pendekatan dalam Sosiologi Agama 
Banyak dari para ilmuwan telah mengkaji tentang keagamaan dari berbagai disiplin ilmu. Para ilmuwan telah meneliti dari berbagai aspek dari agama, baik itu dari aspek ide maupun perwujudan dalam kenyataan , dari masalah keyakinan sampai dengan pengaruh agama pada kehidupan masyarakat (sosial). Istilah pendekatan atau approach menurut Vernon van Dyke bahwa suatu pendekatan pada prinsipnya adalah ukuran-ukuran untuk memilih masalah-masalah dan data-data yang berkaitan antara satu sama lain. Definisi lain pendekatan atau rancangan ilmiah merupakan bentuk sistematis yang khusus dari seluruh pemikiran dan telaah reflektif. 
Suatu pendekatan dalam menelaah sesuatu, dapat dilakukan berdasarkan sudut pandang ataupun tinjauan dari berbagai karakteristik maupun cabang ilmu, seperti antropologi, psikologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, termasuk sosiologi. Jika pada cabang ilmu sosiologi maka pola pendekatan yang digunakan ukuran-ukuran sosiologi untuk menentukan masalah, pertanyaan penelitian maupun data yang akan ditelaah. 

Adapun pendekatan-pendekatan yang ada dalam sosiologi agama, yaitu sebagai berikut: 
1. Pendekatan Institusional 
Agama dan perilaku keagamaan dianggap sebagai gejala-gejala yang merupakan faktor yang tak tetap dan tergantung (dependent variable). Tujuan pendekatan institusional ini memperlihatkan bagaimana pelbagai struktur dari institusi dapat menjelaskan perilaku keagamaan. Penjelasan perilaku kegamaan di atas struktur institusi masyarakat atau di atas posisi manusia dalam struktur institusi itu sudah dapat ditemukan dari kritik terhadap agama yang terdapat pada abad ke 19 dari Marx, Freud, Nietzche, Karl Marx (1818-1883): “agama= opium massa”; dengan kata lain, agama dipraktikkan oleh manusia setelah keterasingannya yang riil dari kerja. 
2. Pendekatan Fungsional 
a) Fungsionalisme Emile Durkheim 
Durkheim tertarik kepada unsur-unsur solidaritas masyarakat. Dia mencari prinsip yang mempertalikan anggota masyarakat. Emile Durkheim menyatakan agama harus mempunyai fungsi. Agama bukan ilusi, tetapi merupakan fakta social yang dapat diidentifikasi dan mempunyai kepentingan social. Semua konsep dasar yang dihubungkan dengan agama seperti dewa, jiwa, nafas dan totem berasal dari pengalaman manusia terhadap keagungan golongan social. Prinsip ini ditemukan oleh Emile Durkheim pada waktu dia memperlajari masyarakat Aborigin Australia, karena dasar agama terdapat dalam totemism. Bagi Emile Durkheim, agama memainkan peranan yang fungsional, karena agama adalah prinsip solidaritas masyarakat. Dengan demikian Emile Durkheim adalah pelopor fungsionalisme dalam antropologi. 
b) Fungsionalisme Weber 
Weber mengadakan penelitian mengenai peranan agama dan mengenai pengaruh agama atas etika ekonomi. dalam hal ini Weber mencoba mebuktikan bahwa tanpa reformasi Protestan, kapitalisme barat tidak pernah dapat berkembang. 
c) Fungsionalisme Bronislaw Malinowski 
Bronislaw Malinowski mengumpulkan data melalui kerja lapangan untuk menulis monografi-monografi, artikel-artikel, dan karangankarangan mengenai beberapa aspek kebudayaan Trobriand. Tujuan Bronislaw Malinowski dengan studinya mengenai kebudayaan Trobriand adalah mengumpulkan sebanyak mungkin data supaya dia bias mengerti kebudayaan Trobriand dalam keseluruhannya. Karena itu dia memilih sudut-sudut pandang yang berbeda untuk mendekati kebudayaan Trobriand, misalnya dari segi keayahan, atau dari segi perkawinan, atau dari segi perkelaminan, atau dari segi kejahatan. Tetapi yang terkenal adalah sudut pandang yang disebut upacara kula, yaitu suatu system yang kompleks sekali mengenai dagang barang, tukar menukar uang, tetapi dengan benda-benda upacara yang ditukarkan antara penduduk-penduduk Melanisia Barat laut. Berkat mempelajari matematika, Bronislaw Malinowski memakai ide konsep fungsi di bidang antropologi. Dia mengembangkan keseluruhan (totalitas) kebudayaan, yang setiap aspeknya mempunyai suatu fungsi yang hanya mempunyai kepentingan sebagai bagian keseluruhan kebudayaan itu. 
3. Pendekatan Relasional 
a) Weber dan Kharisma 
Dalam definisi mengenai charisma, Weber menekankan aspek psikologis. Menurutnya charisma adalah gejala social yang terdapat pada waktu kebutuhan kuat muncul terhadap legitimasi otoritas. Weber menekankan bahwa yang menentukan kebenaran charisma adalah pengakuan pengikutnya. Pengakuan atau kepercayaan kepada tuntutan kekuatan ghaib merupakan unsur integral dalam gejala charisma. Charisma adalah pengakuan terhadap suatu tuntutan social. 
b) Gerakan Al-Muwahhidun Ibn Tumart 
Menurut Ibn Tumart, teologi al-Murabitun adalah teologi antropromorfisme, karena menggambarkan Tuhan sebagai manusia/tajsim. Ibn Tumart berusaha meluruskan keadaan ini atas dasar teologi al-Asy‟ari. Para penguasa telah rusak moralnya, norma-norma agama telah banyak dilanggar. Ibn Tumart juga melihat kebiasaan al-Murabitun, seperti kebiasaan minumminuman keras dan yang khas Maroko kebiasaan wanita tidak memakai kerudung. Dikalangan suku Barbar Tuareg yang memakai kerudung adalah laki-laki. Ibn Tumart mempunyai pandangan seperti Islam, yaitu kerudung adalah untuk wanita. Ibn Tumart juga melihat kekeliruan para fuqoha‟ al-Murabitun, para fuqoha‟ telah mengabaikan kebiasaan Rasul Allah. Karena krisis politik dan rohani itu Ibn Tumart mengirimkan surat kepada suku-suku untuk mengikuti ajaran-ajaranya. Ibn tumart ingin menyelamatkan suku-suku itu dari akidah tajsim alMurabitun. Sampai sejauh ini, ibn Tumart tidak bersikap revolusioner. Pada suatu ketika dia berhadapan dengan penguasa al-Murabitun: yaitu Ali b, Yusuf. Pada 514/1120 Ali b Yusuf mengadakan perdebatan dengan Ibn Tumart di Istana Marokko. Setelah perdebatan, dinasti al-Muratibun memandang Ibn tumart berbahaya dan diusir dari Marokko. Baru saja diusir, Ibn Tumart mengumumkan kepada pengikutnya bahwa agama telah lemah, bahwa syari;at tidak diepntingkan lagi. Sebab itu pada 515/1121, dia menda‟wahkan diri sebagai “al-mahdi”. 
c) Mahdi Sudan: Muhammad Ahmad bin Abdullah 
Muhammad Ahmad bin Abdullah lahir pada 27 Rajab 1260/12 Agustus 1844 di Pulal Labab, Provinsi Dongola, Sudan Utara. Pada waktu itu Sudan sudah masuk Prov. Mesir, dibawah Muhammad Ali Pasha (1805-1849). Dia mendirikan kerajaan sendiri di Mesir. Raja Fu‟ad dan raja lain keturunan Ali Pasha memerintahkan dengan tangan besi. Dia memecah kekuasaan Mamluk dan kekuatannya. Nasib setiap koloni, Provinsi Sudan sudah dianggap sebagai daerah rampasan oleh guberneu-gubernur Mesir yang dikirim ke Sudan. Kehadiran Mesir, di Sudan bercirikan kekuasaan dan penindasan. 
1822 Sudan memberontak terhadap Mesir. Ismail putera Muhammad Ali Pasha dibunuh dan Muhammad Ali Pasha balas dendam terhadap Sudan. Dia meratakan kota, desa dan kampong Sudan. Dia menjual suku Sudan sebagai budak meskipun orang Sudan beragama Islam. Kalau suku melawan dibunuh secara kejam. Di samping itu korupsi mesir di Sudan merajalela. System pajak Mesir di Sudan membuktikan itu. Misalnya tingkat penindasan rakyat Sudan sudah jelas dari contoh berikut: bagi seorang budak harus dibayar £ 2,5 setahun sebagai pajak kepada pemrintah Mesir, sedang harga budak hanya £ 3,0. Contoh lain: lembu di pasar harganya £1,10 tetapi pajaknya sama dengan hahrga di pasar. 
John Rotherick, soerang asaing yang tinggal di Sudan menulis tentang korupsi pegawai Mesir di Sudan dan rakyat Sudan harus membayar dua kali lipat dalam daftar pemerintah. Dalam hal ini rakyat Sudan tidak protes, dikarenakan rakyat Sudan terdiri dari suku-suku yang bermusuhan, karena itu mereka tidak mempunyai kemampuan untuk menolak penindasan Mesir itu. Jadi rakyat Sudan pada waktu Muhammad bin Abdullah dilahirkan merupakan keadaan saat masyarakat kacau. Sampai karier Muhammad Ahmad Bin Abdullah dia claim Mahdi, karier itu dapat dibagi menjadi 3 fase: pertama, fase faqi, kedua, Mahdi, ketiga, fase mengikuti contoh Nabi Muhammad SAW. 
4. Pendekatan teologis 
Pendekatan kewahyuan atau juga dapat disebut pendekatan keyakinan. Penelitian ini biasanya dipakai oleh pemeluk agama itu sendiri untuk menambah keyakinanya atau kebenaran tentang agama yang telah dianut. Pendekatan ini merupakan penelitian penuh dengan subjektivitas dari seorang peneliti dengan syarat untuk kepentingan keyakinan dan prasangka peneliti. Penelitian biasanya dilakukan oleh para ulama maupun pendeta yang menjadi tanggung jawabnya. Landasan yang akurat bagi suatu pendapat atau madzhab yang sudah ada. Misalnya ahli ilmu kalam, ahli tafsir, usul fiqih, dan „ulumul hadist yang dilakukan oleh ulama‟ islam. 
5. Pendekatan keilmuan.
Pendekatan ini memakai metodologi ilmiah, penelitian yang memakai aturan-aturan yang lazim dalam sebuah penelitian. Pendekatan ini memakai kebenaran metodologi tertentu yang dakui kebenaranya di dunia keilmuan secara sistematis dalam cara kerjanya. Pendekatan-pendekatan ilmiah ini bisa dikatakan suatu pengajaran terhadap kebenaran yang diatur olehpertimbangan-pertimbangan logis dan kritis. Sasaran sosiologi agama adalah memperoleh interelasi yang sistematis dari fakta-fakta agama. Dalam pendekatan ilmuan ini peneliti harus menetralkan emosinya, karena dalam penelitian ilmuan ini akan mengungkapkan semua fakta yang ada dalam agama tersebut di pemeluk agama tersebut. Karena penelitian agama ini mengkaji suatu agama dalam masyarakat yang menjadi pemeluk agama tersebut. 
Ada dua pendekatan penting dalam penelitian agama. 
  • Pertama, pendekatan teologi, yaitu pendekatan kewahyuan atau keyakinan peneliti sendiri. Pendekatan ini dilakukan dalam penelitian suatu agama untuk kepentingan agama yang diyakini oleh peneliti untuk menambah pembenaran keyakinan terhadap agama yang dipeluknya dan suatu pendapat atau madzhab sehingga penuh dengan subjektivitas dari peneliti, sarat dengan muatan kepentingan, keyakinan dan prasangka peneliti, yaitu ahli ilmu kalam, ahli tafsir, usul fiqih, ulum al-hadits. 
  • Kedua, pendekatan keilmuan, yaitu pendekatan yang menggunakan metodologi ilmiah dengan prosedur ilmiah, sistematis atau runtut dalam cara kerjanya, empiris dari dunia nyata bukan dari pemikiran atau angan-angan, objektif atau sesuai dengan fakta, tidak bias oleh keyakinan dan prasangka peniliti. 
Sedangkan dari sisi keilmuan, ada dua bidang dalam penelitian agama, yaitu ilmu budaya dan ilmu social. 
  • Pertama, bidang ilmu budaya adalah segala hasil pemikiran manusia yang mencakup buku-buku maupun tradisi lisan yang diturunkan melalui pewarisan dari generasi ke generasi, seperti ilmu filsafat, agama, teologi, hukum dan lain-lain. 
  • Kedua, bidang ilmu social adalah keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam masyarakat pemeluk agama sebagai akibat dari interaksi antar anggota atau antar masyarakat pemeluk agama lain, dalam kondisi masyarakat statis maupun proses. 
Ada beberapa contoh penelitian agama dengan pendekatan ilmu social atau sosiologi, yaitu sebagai berikut: 
1. Pendekatan sosiologis 
Yaitu pendekatan tentang interelasi antara agama dengan masyarakat serta bentuk-bentuk interaksi yang terjadi diantara mereka. Dorongan, gagasan, lembaga agama. Kekuatan social organisasi dan stratifikasi social mempengaruhi masyarakat. 
2. Pendekatan antropologis 
Yaitu pendekatan kebudayaan; artinya agama dipandang sebagai bagian dari kebudayaan, baik wujud ide maupun gagasan dianggap sebagai system norma dan nilai yang dimiliki oleh anggota masyarakat, yang mengikat seluruh anggota masyarakat. System budaya agama itu memberikan pola kepada seluruh tingkah laku anggota masyarakat, dan melahirkan hasil karya keagamaan yang berupa karya fisik, dari bangunan tempat ibadah seperti masjid, gereja, pura, dan klenteng, sampai alat upacara yang sangat sederhana seperti hioh, tasbih, atau kancing baju. 
3. Pendekatan psikologis 
Yaitu studi ilmiah mengenai agama ditinjau dari perspektif psikologis. Wilayah kajian utama yang menjadi bahan pendekatan ini adalah pengalaman religious dari kelompok individu atau social. Kajian mendalam terhadap motivasi beragama dan latar belakang keberagaman manusia secara individual maupun komunal. Dalam penelitian psikologis ini, para peneliti mencari makna agama dalam setting psikologis, yaitu bagaimana keadaan hati manusia beragama yang terefleksikan ke dalam tingkah laku keagamaan atau tingkah laku yang bukan keagamaan. 
4. Pendekatan historis atau kesejarahan 
Pendekatan ini menganut pandangan bahwa suatu fenomena rerigius bias dipahami dengan mencoba menganalisis perkembangan segi historisnya. Dengan memperhatikan perkembangan prinsip-prinsip umum dari tingkah laku religious dan menghubungkan dengan kejadian-kejadian khusus dan tertentu, muncullah pola-pola kejadian yang menghasikan prinsip-prinsip umum dari kegamaan tadi. Sejarah atau perjalanan hidup suatu agama di suatu daerah banyak meninggalkan beberapa barang-barang suci, seperti sekumpulan teksteks suci dan artefak (peninggalan benda-benda padat) yang berkaitan dengan keberadaan agama tersebut. Dengan metode sejarah, bendabenda peninggalan tadi dapat diketahui arti dan maknanya, mengapa dan bagaimana keduanya saling berkaitan dengan latar belakang ajaran agama dan budaya yang melahirkannya. 
5. Pendekatan fenomologis 
Yaitu pendekatan yang menggunakan perbandingan sebagai sarana interpretasi yang utama untuk memahami arti dari eksprsei-ekspresi keagamaan, seperti persembahan, upacara agama, makhluk ghaib, dan lain-lain. Asumsi dasar dari pendekatan ini bahwa bentuk luas dari ungkapan manusia mempunyai pola atau konfigurasi kehidupan dalam yang teratur, yang dapat dilukiskan kerangkanya dengan menggunakan metode fenomologi. Pendekatan ini mencoba menemukan struktur yang mendasari fakta keagamaan dan memahami makna yang lebih dalam, sebagaimana dimanifestasikan lewat struktur tersebut dengan hokum-hukum dan pengertia yang khas. Tujuan dari metode fenomologi ini adalah untuk menangkap makna lebih dalam dan intersonalitas dari data religious orang lain yang merupakan ekspresiekpresi dan pengalaman religious dan imannya yang lebih dalam. Metode ini mengungkap wilayah spiritual dan intelektual manusia, mesipun didasari batas-batasnya dalam tugas memasuki kedalaman pengalaman dari suatu jiwa religious.

C. ANALISIS DAN DISKUSI 
1. Analisis 
Pada dasarnya ilmu sosiologi berbeda dengan ilmu antropologi. Ilmu sosiologi lebih mengajarkan pada kehidupan masyarakatnya. Jika dipandang dari tujuannya, ilmu sosiologi sendiri adalah menarik antar hubungan, antara gejala-gejala yang ada dalam alam dan ditegakkan hukum sebab- akibat. Para pakar sosiologi termasuk bapak August Comte merupakan salah satu filosof pendiri ilmu sosiologi, beliau yang mengadakan penelitian akan tindakan masyarakatnya, mulai dari pemeluk agama yang menjadikan kelemahan dari pemeluk agama tersebut. Banyak dari ide-ide yang dikembangkan oleh beliau ,ulai dari dalam filsafat dan politik juga dipakai dalam bidang sosiologi. 
Dalam melakukan penelitian tersebut para filosof menggunakan metode dan pendekatan untuk meneliti apa yang menjadikan pokok permasalahan kehidupan masyarakat. Pada dasarnya metode penelitian sosiologi sama halnya dengan penelitian lainya. Yakni kualitatif dan kuantitatif. Akan tetapi berangkat dari metode kuantitaif dan kualitatif dipilah-pilah lagi yang lebih rinci untuk mencari kebenaran akan kehidupan masyarakanya sosialnya. Seperti kutipan dari August Comte berpendapat bahwa sosiologi memakai kajian ilmiah dengan menggunakan pendekatan empiris. Artinya dalam mengakaji ilmu sosiologi lebih dalam tindakan yang empiris yang diyakini akan kebenaran dari penelitian tersebut yag didukung oleh fakta/ fenomena yang ada. Dalam ilmu sosiologi dapat menemilih berbagai metode dalam pelaksanakan apa yang akan dikaji. Pemilihan metode itu juga tentunya yang sesuai dengan prosedur dan alat desain penelitian yang telah dipilih.  
Metode sosiologi yang saya ketahui ada 4 yakni metode eksperimental, sains, ilmiah dan metode deskriptif. Metode tersebut mempunyai pengertian masing-masing sesuai dengan konteks penelitianya. Para sosiolog tidak sembarang dalam menentukan metode dalam menentukan penyelasaian kajianya. Sedangkan jika dipandang dari pendekatanya, biasanya dilkukan oleh para ulama untuk mengakajinya. Dalam ilmu sosiologi agama ini ada beberapa pendekatan yang diperlukan, antara lain : pendekatan teologis, pendekatan ilmuwan dan pendekatan ilmiah. Para ulama biasanya menggunakan pendekatan itu untuk mengakaji ilmu-ilmu agama yang ada dalam masyarakat itu. Contohnya saja hasil dari para ulama‟ yang telah diteliti seerti, ilmu tafsir, ilmu kalam, dan „Ulumul Hadist. Penelitian tersebut yang mengatasnamakan agama juga memerlukan ilmu sosial, dilakukan dengan penggunaan cara-cara penelitian yang sedapat mungkin menaati dari berbagai aturan penelitian ilmiah dan oleh sebab itu sebenarnya tidak boleh terikat atura –aturan kebudayaan manapun, kecuali pada aturan ilmiah yang berlaku. 
Bidang- bidang pengetahuan utama yang didasarkan atas penelitian sosial, dalam hal ini diarahkan pada usaha untuk memperoleh pengetahuan mengenai hubungan antara ilu keagamaan dan tindakan-tindakan yang diwujudkan oleh para pengikutnya, antara lian antropologi, sosiologi , psikologi, dsb. Sosiologi juga dapat menentukan antara negara maju dan Negara terbelakang. Karena yang yang mencolok dari ilmu sosiologi agama ini adalah tindakanya, oleh karena itu dengan adanya tindakan itu masyarakat akan terbentuk norma-norma agama yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Sosiologi juga berperan sebagai penjaga tertib sosial penjaga moral intelektual dlm masyarakat dan pemerintah. Oleh karena itu ilmu sosiologi agama dalam kehidupan masyarakat lebih baik terapan, agar dalam kehidupan masyarakat dapat didorong untuk kehidupan yang lebih baik dengan niila-nilai agama yang baik.

BAB III
PENUTUP
A . KESIMPULAN
Sosiologi adalah suatu kajian ilmiah tentang kehidupan masyarakat manusia. Sosiolog berusaha untuk mengadakan penelitian yang mendalam tentang hakikat dan sebab dari berbagai keteraturan pola pikir dan tindakan pola pikir dan tindakan manusia secara berulang-ulang. Istilah metode, secara etimologis berasal dari bahasa Yunani “meta” yang berarti sesudah dan kata “hodos” yang berarti “jalan”. Dengan demikian metode merupakan langkah-langkah yang diambil menurut urutan tertentu untuk mencapai pengetahuan yang telah dirancang dan dipakai dalam proses memperoleh pengetahuan. keidentikan model penelitian dengan metode penelitian hampir sama maknanya akan tetapi sesungguhnya berbeda karena penentuan suatu metode dipengaruhi oleh desain dan penelitian yang ada. Adapun metode yang ada dalam sosiologi agama antara lain: metode deskriptif, metode komparatif, metode eksperimental, metode eksplanatori, metode historis komparatif, metode fungsionalisme, metode studi kasus, dan metode survey. Istilah pendekatan atau approach menurut Vernon van Dyke bahwa suatu pendekatan pada prinsipnya adalah ukuran-ukuran untuk memilih masalah-masalah dan data-data yang berkaitan antara satu sama lain.
Definisi lain pendekatan atau rancangan ilmiah merupakan bentuk sistematis yang khusus dari seluruh pemikiran dan telaah reflektif. 20 Suatu pendekatan dalam menelaah sesuatu, dapat dilakukan berdasarkan sudut pandang ataupun tinjauan dari berbagai karakteristik maupun cabang ilmu, seperti antropologi, psikologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, termasuk sosiologi. Jika pada cabang ilmu sosiologi maka pola pendekatan yang digunakan ukuran-ukuran sosiologi untuk menentukan masalah, pertanyaan penelitian maupun data yang akan ditelaah. Adapun pendekatan-pendekatan yang ada dalam sosiologi agama, yaitu sebagai berikut: pendekatan institusional, pendekatan fungsional, dan pendekatan relasional.

DAFTAR PUSTAKA 
  • Mubaraq, Zulfi. 2010. Sosiologi Agama. Malang: UIN- Maliki Press. 
  • Kahmad. 2000. Sosiologi Agama. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 
  • Abdullah, Syamsuddin. 1997. Agama dan Masyarakat (Pendekatan Sosiologi Agama). Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 
  • Soekanto, Soerjono. 2012. Sosiologi Sebagai Suatu Pengantar

MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...