Sabtu, 27 April 2019

MAKALAH EKONOMI DALAM LANDASAN PENDIDIKAN


 MAKALAH EKONOMI DALAM LANDASAN PENDIDIKAN
BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Pendidikan dalam Islam merupakan sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia  menuju kedewasaan, baik secara  akal, mental maupun moral, untuk menjalankan fungsi kemanusiaan yang diemban sebagai seorang hamba dihadapan Khaliq-nya dan juga sebagai Khalifatu filardhi (pemelihara) pada alam semesta ini. Dengan demikian, fungsi utama pendidikan adalah mempersiapkan generasi penerus (peserta didik) dengan kemampuan dan keahliannya ( skill ) yang diperlukan agar memiliki kemampuan dan kesiapan untuk terjun ketengah lingkungan masyarakatyang berbekalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.Pendidikan sebagaimana dikemukakan dalam berbagai kesempatan dalam tulisan ini merupakan sebuah sistem yang mengandung aspek visi, misi, tujuan, kurikulum, bahan ajar, proses belajar mengajar,guru, murid, manajemen, saran prasarana, biaya, lingkungan, dan lain sebagainya. Berbgai komponen pendidikan tersebut memebentuk sebuah sistem yang memiliki konstruksi atau bangunan yang khas. Agar kontruksi atau bangunan pendididkan tersebut kokoh, maka ia harus meiliki dasar, fundament  atau asas yang menopang dan menyangganya,bangunan konsep pendidikan tersebut dapat berdiri kokoh dan dapat digunakan sebagai acuan dalam praktik pendidikan. Dasar adalah tempat untuk berdirinya sesuatu. Fungsi dasar adalah memberikan arah kepada tujuan dicapai dan sekaligus sebagai landasan berdirinya sesuatu. Setiap Negara mempunyai dasar pendidikan sendiri. Ia merupakan pencerminan falsafah hidup suatu bangsa. Berdasarkan kepada dasar itulah pendidikan suatu bangsa disusun.
  
1.2              Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini adalah
1.      Apa itu landasan sosial budaya ?
2.      Apa itu landasan psikologi ?
3.      Apa itu ekonomi dalam landasan pendidikan  ?
4.      Apa itu politik dalam landasan pendidikan ?
5.      Apa itu adimistrasi dalam landasan pendidikan?

1.3     Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah
1.     Memahami sosial budaya dalam dasar pendidikan .
2.     Memahami psikologi dalam landasan pendidikan.
3.     Mengetahui arti politik dalam landasan  pendidikan .
4.     Mengetahui administrasi dalam landasan pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1     Landasan Sosial Budaya
          Sosial mengacu kepada hubungan antar individu, antar masyarakat, dan individu secara alami, artinya aspek itu telah ada sejak manusia dilahirkan. Sama halnya dengan social, aspek budaya inipun sangat berperan dalam proses pendidikan. Malah dapat dikatakan tidak ada pendidikan yang tidak dimasuki unsure budaya. Materi yang dipelajari anak-anak adalah budaya, cara belajar mereka adalah budaya, begitu pula kegiatan-kegiatan mereka dan bentuk-bentuk yang dikerjakan juga budaya. Sosiologi dan Pendidikan Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur sosialnya.Proses sosial dimulai dari interaksi sosial dan dalam proses sosial itu selalu terjadi interaksi sosial.
Interaksi dan proses sosial didasari oleh factor-faktor berikut :
1. Imitasi
2. Sugesti
3. Identifikasi
4. Simpati
Kebudayaan dan Pendidikan Kebudayaan menurut Taylor adalah totalitas yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, huku, moral, adapt, dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh orang sebagai anggota masyarakat (Imran Manan, 1989)Hassan (1983) misalnya mengatakan kebudayaan berisi norma-norma,  folkways yang mencakup kebiasaan, adapt, dan tradisi, dan  mores.
sementara itu Imran Manan (1989) menunjukkan lima komponen kebudayaan sebagai berikut :
1.Gagasan
2. Ideologi
3. Norma
4. Teknologi
5. Benda

Agar menjadi lengkap, perlu ditambah beberapa komponen lagi yaitu :
1. Kesenian
2. Ilmu
3. Kepandaian

Kebudayaan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu :
1. Kebudayaan umum, misalnya kebudayaan Indonesia.
2. Kebudayaan daerah, misalnya kebudayaan Jawa, Bali, Sunda,
Nusa  Tenggara Timur dan sebagainya.
3. Kebudayaan popular, suatu kebudayaan yang masa berlakunya rata-rata lebih  pendek daripada kedua macam kebudayaan terdahulu.
2.2     Landasan Psikologi
Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia. Jiwa itu sendiri adalah roh dalam keadaan mengendalikan jasmani, yang dapat dipengaruhi oleh alam sekitar. Karena itu jiwa atau psikis dapat dikatakan inti dan kendali kehidupan manusia, yang berada dan melekat dalam manusia itu sendiri.   Psikologi Perkembangan Ada tiga teori atau pendekatan tentang perkembangan. Pendekatan-pendekatan yang dimaksud adalah : (Nana Syaodih, 1988).
1. Pendekatan pentahapan. Perkembangan individu berjalan melalui tahapan- tahapan tertentu. Pada setiap tahap memiliki ciri-ciri pada tahap-tahap yang lain.
2. Pendekatan diferensial. Pendekatan ini memandang individu-individu itu memiliki kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan. Atas dasar ini lalu orang-orang membuat kelompok-kelompok.
3. Pendekatan ipsatif Pendekatan ini berusaha melihat karakteristik setiap individu, dapat saja disebut sebagai pendekatan individual.
Melihat perkembangan seseorang secara individual. Sementara itu Stanley Hall penganut teori Evolusi dan teori Rekapitulasi membagi masa perkembangan anak sebagai berikut (Nana Syaodih, 1988).
1.     Masa kanak-kanak ialah umur 0 – 4 tahun sebagai masa kehidupan binatang.
2.     Masa anak ialah umur 4 – 8 tahun merupakan masa sebagai manusia pemburu.
3.     Masa muda ialah umur 8 – 12 tahun sebagai manusia belum berbudaya.
4.     Masa adolesen ialah umur 12 – dewasa merupakan manusi berbudaya.   Psikologi Belajar Belajar adalah perubahan perilaku yang relative permanent sebagai hasil pengalaman (bukan hasil perkembangan, pengaruh obat, atau kecelakaan) dan bias melaksanakannya pada pengetahuan lain serta mampu mengkomunikasikan kepada orang lain.
Ada sejumlah prinsip belajar menurut Gagne (1979) sebagai berikut :
1. Kontiguitas, memberikan situasi atau materi yang mirip dengan harapan pendidikan tentang respon anak yang diharapkan, beberapa kali secara berturut-turut.
2. Pengulangan, situasi dan respon anak diulang-ulang atau dipraktekkan agar belajar lebih sempurna dan lebih lama diingat.
3. Penguatan, respon yang benar misalnya diberi hadiah untuk mempertahankan dan menguatkan respon itu.
4. Motivasi positif dan percaya diri dalam belajar.
5. Tersedia materi pelajaran yang lengkap untuk memancing aktivitas anak-anak.
6. Ada upaya membangkitkan keterampilan intelektual untuk belajar, seperti apersepsi dalam mengajar.
7. Ada strategi yang tepat untuk mengaktifkan anak-anak dalam belajar.
8. Aspek-aspek jiwa anak harus dapat dipengaruhi oleh factor-faktor dalam pengajaran.

2.3     Landasan Ekonomi
          Pada zaman pasca modern atau globalisasi sekarang ini, yang sebagian besar manusianya cenderung mengutamakan kesejahteraan materi disbanding kesejahteraan rohani, membuat ekonomi mendapat perhatian yang sangat besar. Tidak banyak orang mementingkan peningkatan spiritual. Sebagian besar dari mereka ingin hidup enak dalam arti jasmaniah. Seperti diketahui dana pendidikan di Indonesia sangat terbatas. Oleh sebab itu ada kewajiban suatu lembaga pendidikan untuk memperbanyak sumber-sumber dana yang mungkin bias digali adalah sebagai berikut :
a. Dari pemerintah dalam bentuk proyek-proyek pembangunan, penelitian-penelitian bersaing, pertandingan karya ilmiah anak-anak, dan perlombaan perlombaan lainnya.
b. Dari kerjasama dengan instansi lain, baik pemerintah, swasta, maupun dunia usaha. Kerjasama ini bias dalam bentuk proyek penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan proyek pengembangan bersama.
c. Membentuk pajak pendidikan, dapat dimulai dari satu desa yang sudah  mapan, satu daerah kecil, dan sebagainya. Program ini dirancang bersama  antara lembaga pendidikan dengan pemerintah setempat dan masyarakat. Dengan cara ini bukan orang tua siswa saja yang akan membayar dana pendidikan, melainkan semua masyarakat.
a. Usaha-usaha lain, misalnya:
Mengadakan seni pentas keliling atau dipentaskan di masyarakat. Menjual hasil karya nyata anak-anak. Membuat bazaar. Mendirikan kafetariae. Mendirikan took keperluan personalia pendidikan dan anak-anak. Mencari donator tetap. Mengumpulkan sumbangan. Mengaktifkan BP 3 khusus dalam meningkatkan dana pendidikan. Seperti diketahui setiap lembaga pendidikan mengelola sejumlah dana pendidikan yang bersumber dari pemerintah (untuk lembaga pendidikan negeri), masyarakat, dan usaha lembaga itu sendiri. Menurut jenisnya pembiayaan pendidikan dijadikan tiga kelompok yaitu :
1. Dana rutin, ialah dana yang dipakai membiayai kegiatan rutin, seperti gaji, pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, perkantoran, biaya pemeliharaan, dan sebagainya.
2. Dana pembangunan, ialah dana yang dipakai membiayai pembangunan-pembangunan dalam berbagai bidang. Yang dimaksudkan dengan pembangunan disini adalah membangun yang belum ada, seperti prasarana dan sarana, alat-alat belajar, media, pembentukan kurikulum baru, dan sebagainya.
3. Dana bantuan masyarakat, termasuk SPP, yang digunakan untuk membiayai hal-hal yang belum dibiayai oleh dana rutin dan dana pembangunan atau untuk memperbesar dana itu.
Dana usaha lembaga sendiri, yang penggunaannya sama dengan butir 3 di atas.
2.4     Ilmu Politik
Ilmu politik adalah ilmu yang  mempelajari    tentang tujuan, cita-cita, dan ideology yang akan  diperjuangkan, cara-cara  mendapatkan, mengelola, menggunakan dan mempertahankan kekuasaan Ilmu politik  sangat  diperlukan  untuk  kegiatan  pendidikan, karena akan memberikan jaminan dan Dukungan
 atas berlangsungnya kegiatan pendidikan, sesuai dengancita-cita dan ideology yang ingin diperjuangkan. Denganilmu politik, maka dapat dirumuskan berbagai undang-undang, peraturan dan kebijakan tentang berbagai aspek pendidikan, seperti pembiayaan, kurikulum, pengadaanguru, pengadaan buku ajar, pengadaan bangunan daninfrastruktur pendidikan, dan lain sebagainya.f.

2.5     Ilmu Administrasi
Ilmu administrasi adalah ilmu yang mempelajari tentang cara merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, mengawasi, mengevaluasi dan memperbaiki sebuah kegiatan. Ilmu ini diperlukan sebagai dasar bagi perencanaan berbagai aspek yangterkait dengan pendidikan. Dengan dasar ilmu administrasi dapat dilakukan pengelolaan secara sistematik dan terencana tentang sarana prasarana, keuangan, kepegawaian, kegiatan belajar mengajar dan
BAB III
PENUTUP
3.1            Simpulan
Komponen merupakan bagian dari suatu sistem yang memiliki peran dalam berlangsungnya suatu proses untuk mencapai tujuan sistem. Pendidikan pada hakikatnya adalah interaksi komponen-komponen yangesensial dalam upaya mencapai tujuan pendidikan. Prinsip dasar pendidikan Islam bermakna pandangan yangmendasar terhadap sesuatu yang menjadi sumber pokok sehingga menjadikonsep, nilai dan asas bangunan pendidikan Islam.
Landasan Pendidikan Islam ialah dasar untuk membentuk pribadi seseorang agar bertakwa kepada Allah SWT, menjalankan segala perintah nya dan menjauhi segala larangannya, menghormati dan menyayangi orang tua dan sesamanya serta mencintai tanah air sebagai karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT. Dasar pendidikan islam adalah segala sesuatu yang konsep, pemikiran dan gagasan yang mendasari, melandasi dan mengasasi pendidikan islam. Asas pendidikan islam adalah prinsip pendidikan islam yaitu kebenaran yang dijadikan pokok dasar dalam merumuskan dan.

3.2     Kritik dan Saran
Demikian yang dapat penulis paparkan mengenai materi tentangAsas, Prinsip dan Landasan Pendidikan. Penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih jauh memaparkan materi dan lebih fokus mengenai makalah di atas dengan sumber-sumber yang lebih banyak dan dapat dipertanggung jawabkan.
DAFTAR PUSTAKA

Hasan basri. Landasan pendidikan (Bandung : pustaka setia, 2013)
Wjs purwadarminta, kamus umum bahasa indonesia (Jakarta : balai pustaka 2001)
Abudin nata, ilmu pendidikan islam (Jakarta : kencana prenada media grup. 2012)

RESUME DISCOURSE FRAGMENTS AND THE NOTION ‘TOPIC’

RESUME DISCOURSE FRAGMENTS AND THE NOTION ‘TOPIC’ 
  
A.  DISCOURSE FRAGMENTS AND THE NOTION ‘TOPIC’ 
This part try to explain about a fragment of a sentence and word chunk can lead people to know where the sentence goes or where the sentence begin and where its end.  From the chunk of a word also, we can mark the kind of the discourse. Is it the mark of joking, anecdote, sentence for clarifying, asking etc.
For example:
            The word “once upon a time” can be mark as the beginning of a narrative story of fairy, sometimes we can mark that this story will be end with the fragment “they lived happily ever after”
B.     Discourse Topic and Sentence Topic
What is Topic?
·         According to Nunan (1993: 125). Topic is “the subject matter of a text.”
·         The concept of topic is elusive; different scholars use it to refer to different phenomena, from a constituent of a clause to proposition of a text.
Based on those definitions above, generally we can conclude that topic is what is being talked about in discourse.
The notion of topic is used in different ways. One important distinction is the one between
Discourse topic (what a part of a discourse is about) and  sentence topic (what is predicated about an entity in a sentence). (cf. van Dijk 1977).
Example:
(1)   Mr. Morgan is a careful researcher and a knowledgeable Semitists, but his originality leaves something to be desired.
-          Sentence topic: Mr. Morgan.
- Discourse topic: Mr. Morgan’s scholarly abilities.         
C.    Approaches to Sentence Topics
            Classical definition in Hockett (1958):The most general characteristic of predicative constructions is suggested by theterms ‘topic’ and ‘comment’ for their ICs [immediate constituents]: thespeaker announces a topic and then says something about it.
D.    Topic Framework
Defining a topic of a discourse can be seen from two points of view. They are:
1.      Defining topic from the viewpoint of form, and structure
It is also can be said defining topic from grammar point of view. Based on this issue, the topic of a sentence is its subject.
For example:

Subject             Predicate
Mary                 saw John
In the sentence, we see that the subject is “Mary” and the predicate is “saw John”. Since the theory say that the subject is a topic of that sentence, it means that “Mary” is the topic and “saw John” is the comment.

Topic               Comment  
Mary                saw John
In addition to that, defining a topic of a discourse can be seen from the structural boundaries of discourse. The structural boundaries of a discourse can be seen in the written discourse. It means, all of points that are being talked in the paragraph are related to the topic, no matter it is on the beginning (deductive) or at the end (inductive) of a paragraph. Meanwhile, when a new paragraph starts to be written, it will talk a different new topic with the previous paragraph before and after it.
2.      Defining topic based on the content
Defining topic of discourse based on the content can be seen from the summative topic and the topic framework a discourse 
 
    Ø  Summative topic
Based on the summative viewpoint, the topic is the proposition which is expressed as a phrase or a sentence (similar to the title of discourse). It is the summary of a text.
Example:
     Ø  Topic framework
Meanwhile to defining topic, we need to know the topic frame work of the discourse.
A topic framework depends on which feature of context becomes activated in a particular piece of discourse.
Example:
(From the movie “Schinder’s List”)
What is the topic of the episode?
“Schindler needs some space?” or “Germans decline the offer?”
The condition on the episode:
“The speakers discuss several things: Schindler’s products, Schindler’s problem of space, Germans inability to help, Schindler offers to buy, Christmas presents.”
Topic framework for the episode:
Schindler’s factory, 4 participants: Schindler (has a factory, produces goods for the German Army), Kuhnpast and Hohne (army offices, have no space), Stern (secretary), lack of space, K. and H. can’t help, S. offers to buy, K and H decline, Christmas presents
Another example:
What is the topic of the followin g conversation in the kantine of NielsTreschowshus
E.     Presupposition Pools
Presupposition pool refers to the explicit area or situation where the speakers can connect each other when they have a conversation since the shared the same information or understanding towards the topic. When the speakers have good presupposition, it can make the speaker can connect as fast as he/she can to the topic of what being talked even it just a fragment of topic or sentence.
F.     Sentential Topic and the Presupposition pool
This part argues that sometimes, to identify the topic of a discourse just from a fragment of a sentence or discourse is difficult or it can lead to the misunderstanding. In the end of this part say  “the use of single constructed sentences as the basis for making claims about notions such as the topic of a discourse is extremely misleading..
Speaker Topics
               Speaker are very versatile .while they can discuss about their disability or physical conditions,they do talk about aspects of disability based on their personal experiences .their are speakers who specialize only on one or two topic areas.however there are others who are happy to talk about a range of issues and topics
G.    Topic Boundary Markers
            In the discourse sometimes we can identify the topic boundary markers. The topic boundary markers refer to the markers that mark when the topic is changed or shift from one topic to another topic. This term is known as topic shift. Topic shift is often employed as a device by speakers, to make a point or to introduce new information.
Example is can be really seen in a news anchor on TV. Topic shift in news can mark when the news anchor say, “beralihkeberita lain pemirsa,…” or in the presentation can be mark with the word  “moving to the next topicis about,…..”.
H.    Paragraph
Grimes (1975:109), who describes the marking of paragraph boundaries as one form of ‘partitioning’. The principles on which partitioning depends are related to change of setting (time or place) and theme (the person or thing talked about), .in narrative discourse. interesting though it may be to learn that there is a narrative  discourse paragraph introductory particle in Huichol or Shipibo, it becomes decidedly less interesting when one discovers that the identification of the significance of these particle depends on a prior identification of the paragraph as a unit in which the speaker continues talking about the same thing ( Galrimes, 1975:103).
I.       Paratone
Apart from a general cover term discourse Marker such as well, I mean, in English, paratone may be a highly phonological phenomenon which  would be familiar for those who specialize the meaning and function of  intonation. Paratone is an equivalent  of ‘paragraph’ in written language, and  carries implicit and/or unconscious meaning. From the functional viewpoint, paratone is similar to clause intonation as observed in Halliday (1967, 1970, 1994).
Discourse Topic and represntaion of discourse content
            In the course of this chapter, we shall examine some of the uses of the term topic in the study of discourse. In the process, we shall explore some recent attempts to construct a theoretical notion of ‘topic’, a notion which seems to be essential to concepts such as ‘relevance’ and ‘coherence’, but which itself is very difficult to pin down.
Problems with the Proposition-Based Representation of Discourse Content
Proposition-forming is a part of the process involved in producing sentence. It is the part of the meaning of the utterance of a declarative sentence which describes some state of affairs. The listener or the reader may have different interpretation on the sentence which appeals to the proposition.
e.g:
In Indonesian,we usually heard this sentence:
“Apisedangmenjalar”
The listener may interpret that there is a fire on a building or forest fire occurs.Others can interpret that someone is jealous looking his girlfriend with other guy.
            Any analysis of the sentences in a text which appeal to the propositions involved in the production of those sentences will necessarily have to appeal also to aspect of the context in which those sentences were produced. The problem of reconstructing the underlying propositions for a sentence should be quite apparent.

REFERENCES
Gillian brown ,george yule. Discourse analysis
Slembrouck,stef.2004.”what is meant by discourse analysis.http//bank.rug.ace.bee/da/da.htm
Nunan,David.1993.introduing Discourse Analysis London : Penguin Book

MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...