Selasa, 13 Agustus 2019

MAKALAH Analisis Pembelajaran PAI di Sekolah/Madrasah dan PT


MAKALAHMata kuliah Analisis Pembelajaran PAI di Sekolah/Madrasah dan PT  ANALISIS BUKU TEKS PENDIDIKAN AGAMA ISLAMSMP KELAS IX KURIKULUM 2013  


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Seiring dengan berkembang pesatnya teknologi yang ada, tentunya dapat membantu proses pembelajaran dalam lembaga pendidikan formal seperti sekolah, banyak sumber belajar pada saat ini mudah untuk di dapatkan secara cepat dan praktis. Namun meski demikian, dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah, buku teks adalah sumber belajar yang masih menjadi pegangan dan acuan wajib bagi pendidik dan peserta didik.
 Bahan ajar bukan semata-mata dibuat berdasarkan imajinasi sang pendidik saja, akan tetapi yang jauh lebih penting adalah berbasis pada kebutuhan peserta didik.[1] Untuk itu, bahan ajar harus mendukung dan memuaskan peserta didik dalam soal keilmuan dan kedalaman materi.
Pemilihan buku teks sebagai pegangan baik bagi pendidik maupun peserta didik dalam mata pelajaran pendidikan agama islam, menjadi hal yang sangat penting di awal sebelum proses belajar itu dilaksanakan. Karena mulai dari penyajian materi sampai teknik evaluasi khususnya dalam mata pelajaran agama islam, masih banyak yang kurang sesuai dengan perkembangan peserta didik.
Disamping itu, polemik kebijakan baru Kurikulum 2013 sebagai perbaikan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Standar Kompetensi Kelulusan berubah dari SK (Standar Kompetensi) dan KD (Kompetensi Dasar) menjadi KI (Kompetensi Inti) dan KD (Kompetensi Dasar), sehingga dalam hal ini pemerintah juga menyediakan buku pelajaran untuk guru dan siswa sebagai bahan ajar di sekolah. Buku yang disusun langsung oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan disesuaikan dengan KI dan KD yang telah disusun dalam kurikulum 2013, salah satunya adalah pelajaran tematik di semua jenjang SD, SMP dan SMA dengan menggunakan pendekatan ilmiah (saintific approach). Idealnya penyajian materi yang dijelaskan dalam buku teks tetap harus disesuaikan dengan perkembangan peserta didik.
Buku-buku yang ditulis hendaknya diarahkan pada peningkatan wawasan dan perkembangan jiwa yang positif, tidak hanya masalah iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), tetapi juga masalah sosial dan imtak (iman dan takwa).[2]
Maka dengan adanya buku teks tersebut akan sangat mempengaruhi bagi si pembaca, sehingga dengan membaca buku teks tersebut dapat memberikan pengaruh positif terhadap peserta didik. Karena pada dasarnya perkembangan peserta didik berbeda-beda sesuai dengan usia. Begitu juga karakteristik pola pikir peserta didik pada jenjang SMP tentunya berbeda dengan jenjang SMA.
Buku teks sebagai suatu sumber yang digunakan oleh peserta didik
hendaknya mempunyai bentuk atau cara penyajian yang menarik untuk selalu dipelajari oleh peserta didik. Karena kualitas penyajian buku teks yang menarik dan memudahkan untuk dipelajari akan sangat mempengaruhi perkembangan peserta didik, khususnya dari tingkat penyajian materi dan bahasa yang tersaji dalam buku teks tersebut.
Penulis memilih buku teks SMP kelas IX kurikulum 2013 karena materi ajar kelas IX sangat padat, dalam artian di samping guru  mengajarkan materi kelas IX juga beberapa kali mengulang materi kelas VII dan kelas VIII sebagai bentuk dari persiapan ujian sekolah siswa.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
     1.      Apa itu buku teks pembelajaran PAI?
     2.      Apa saja aspek yang menjadi bahan analisis buku teks PAI  SMP?
     3.      Apa  saja muatan buku teks PAI SMP elas IX kurikulum 2013?
     4.      Bagaimana analisis buku teks PAI SMP kelas IX kurikulum 2013?
C.    Tujuan Penulisan
     1.      Mengetahui buku teks pembelajaran PAI
     2.      Mengetahui aspek yang menjadi bahan analisis buku teks PAI  SMP
     3.      Mengetahui muatan buku teks PAI SMP elas IX kurikulum 2013
     4.      Mengetahui kelayakan buku teks PAI SMP kelas IX kurikulum 2013

D.    Prosedur Pemecahan Masalah
Dalam memecahkan masalah ini, penulis menggunakan metode studi kepustakaan, dengan mengumpulkan referensi-referensi terkait seperti buku dan jurnal penelitian untuk mengambil pendapat umum yang menunjang analisis buku teks PAI SMP kelas IX kurikulum 2013.

BAB II
PEMBAHASAN


A.    Buku Teks Pendidikan Agama Islam
    1.      Pengertian Buku Teks
Buku teks adalah buku sekolah yang memuat bahan yang telah diseleksi mengenai bidang studi tertentu, dalam bentuk tertulis yang memenuhi syarat tertentu dalam kegiatan belajar mengajar dan disusun secara sistematis untuk diasimilasikan.[3]
Sedangkan menurut Dedi, buku teks (buku pelajaran) merupakan media instruksional yang peranya sangat dominan di kelas dan merupakan alat yang penting untuk meyampaikan materi kurikulum, dari sinilah buku sekolah menduduki peranan sentral pada semua tingkatan.[4]
Dari pengertian diatas, dapat dijelaskan bahwa buku teks adalah buku yang berisi tentang uraian mata pelajaran dalam bidang tertentu, yang disusun secara sistematis dan disesuaikan dengan panduan kurikulum, berdasarkan tujuan, orientasi pembelajaran serta menyesuaikan dengan perkembangan peserta didik. Dalam konteks ini buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti adalah salah satu buku yang disusun langsung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk digunakan sekolah-sekolah baik dari tingkat dasar, menengah pertama maupun menengah atas sebagai bahan ajar.
    2.      Fungsi Buku Teks
Fungsi dan peranan dari buku teks, menurut Green dan Petty dalam Tarigan, antara lain:
    a.       Mencerminkan suatu sudut pandang yang tangguh dan modern mengenai pengajaran serta mendemonstrasikan aplikasi dalam pengajaran yang disajikan.
     b.      Menyajikan suatu sumber pokok masalah atau subject matter yang kaya, mudah dibaca dan bervariasi, yang sesuai dengan minat dan kebutuhan para siswa, sebagai dasar bagi programprogram kegiatan yang disarankan dimana keterampilanketerampilan ekspresional diperoleh pada kondisi yang menyerupai kehidupan yang sebenarnya.
      c.       Menyediakan suatu sumber yang tersusun rapi dan bertahap mengenai keterampilan-keterampilan ekspresional.
    d.      Menyajikan (bersama-sama dengan buku manual yang mendampinginya), metode-metode dan sarana-sarana pengajaran untuk memotivasi siswa.
    e.       Menyajikan fiksasi awal yang perlu sekaligus juga sebagai penunjang bagi latihan dan tugas praktis.
f.       Menyajikan bahan atau sarana evaluasi dan remedial yang serasi dan tepat guna.[5]

Melihat penjelasan fungsi dari buku teks diatas, jelaslah bahwa peranan buku teks dalam proses pembelajaran menjadi sangat penting, oleh karena itu buku pelajaran yang digunakan haruslah memiliki sudut pandang yang jelas baik dari prinsip-prinsip, pendekatan maupun metode yang digunakan. Buku ajar sebagai salah satu sumber belajar haruslah menyajikan bahan-bahan ajar yang baik, susunanya juga harus sistematis, bervariasi serta mempunyai daya tarik yang kuat, karena akan mempengaruhi minat siswa dalam menggunakan buku tersebut.

B.     Aspek-Aspek Analisis Buku Teks Pendidikan Agama Islam
Menurut Hadari Nawawi langkah-langkah yang harus ditempuh dalam menganalisis buku teks adalah sebagai berikut:
     1.      Menyeleksi teks (buku, majalah, dokumen) yang akan diselidiki yaitu dengan mengadakan observasi untuk mengetahui keluasan pemakaian buku tersebut, menetapkan standar isi buku di dalam bidang tersebut dari segi teoritis dan praktisnya.
    2.      Menyusun item-item yang spesifik tentang isi dan bahasa yang akan diteliti sebagai alat pengumpulan data.
    3.      Menetapkan cara yang ditempuh, yaitu dengan meneliti keseluruhan isi buku dan bab per bab.
   4.      Melakukan pengukuran terhadap teks secara kualitatif dan kuantitatif, misalnya tentang tema dalam paragraf, dan pesan yang akan disampaikan.
   5.      Membandingkan hal berdasarkan standar yang telah ditetapkan.
    6.      Mengetengahkan simpulan sebagai hasil analisis.[6]

Sedangkan menurut Mungin Eddy Wibowo menyebutkan bahwa buku pelajaran yang baik harus memenuhi:
     1.      Aspek isi materi pelajaran, Materi pelajaran merupakan bahan pelajaran yang disajikan dalam buku pelajaran.
Buku pelajaran yang baik memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.       relevansi, yaitu buku pelajaran yang baik memuat materi yang relevan dengan tuntutan kurikulum yang berlaku, relevan dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh lulusan tingkat pendidikan tertentu, serta relevan dengan tingkat perkembangan dan karakteristik siswa yang akan menggunakan buku pelajaran tersebut.
b.      Adekuasi/kecukupan, yaitu buku tersebut memuat materi yang memadai dalam rangka mencapai kompetensi yang diharapkan.
c.       Keakuratan, yaitu isi materi yang disajikan dalam buku benar-benar secara keilmuan, mutakhir, bermanfaat bagi kehidupan, dan pengemasan materi sesuai dengan hakikat pengetahuan.
d.      Proporsionalitas, yaitu uraian materi buku memenuhi keseimbangan kelengkapan, kedalaman, dan keseimbangan antara materi pokok dengan materi pendukung.
2.    Aspek Penyajian, dalam hal ini buku pelajaran yang baik, menyajikan bahan secara lengkap, sistematis, sesuai dengan tuntutan pembelajaran yang berpusat pada siswa, dan cara penyajian yang membuat enak dibaca dan dipelajari.
3.    Bahasa dan Keterbacaan, bahasa adalah sarana penyampaian dan penyajian bahan, seperti kosakata, kalimat, paragraf, dan wacana. Keterbacaan berkaitan dengan tingkat kemudahan bahasa bagi tingkatan siswa.
4.    Aspek Grafika. Grafika merupakan bagian dari buku pelajaran yang berkaitan dengan fsik buku, meliputi ukuran buku, jenis kertas, cetakan, ukuran huruf, warna, dan ilustrasi, yang membuat siswa menyenangi buku yang dikemas dengan baik dan akhirnya juga meminati untuk membacanya.[7]
Karena fokus analisisnya adalah Pendidikan Agama Islam, maka buku teks Pendidikan Agama Islam haruslah memuat nilai-nilai anak seusianya, yaitu SMP kelas IX. Hal ini akan mempengaruhi cara berfikirnya dalam menanggapi lingkungan dan kehidupan sehari-hari.
C.    Muatan Buku Teks Pendidikan Agama Islam SMP Kelas IX Kurikulum 2013
     1.      KI dan KD
Kompetensi Inti adalah tingkat kemampuan untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan yang harus dimiliki oleh peserta didik pada setiap tingkat, kelas atau program. Kompetensi Inti dirancang dalam empat kelompok yang saling terkait yaitu berkenaan dengan sikap keagamaan, sikap sosial, pengetahuan, dan penerapan pengetahuan. Keempat kelompok itu menjadi acuan dari Kompetensi Dasar dan harus dikembangkan dalam setiap peristiwa pembelajaran secara integratif. Kompetensi yang berkenaan dengan sikap keagamaan dan sosial dikembangkan secara tidak langsung (indirect teaching).
Kompetensi Dasar adalah kemampuan untuk mencapai Kompetensi Inti yang harus diperoleh oleh peserta didik melalui pembelajaran. Kompetensi Dasar adalah konten atau kompetensi yang terdiri atas sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang bersumber pada kompetensi inti yang harus dikuasai peserta didik. Kompetensi tersebut dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu mata pelajaran.

Adapun KI dan KD buku teks Pendidikan Agama Islam SMP kelas IX Kurikulum 2013 di sajikan pada gambar berikut:
    2.      Materi Pembelajaran
Materi pembelajaran didalam buku teks PAI SMP kelas IX Kurikulum 2013 terdiri dari 12 bab yang meliputi:
     a.       Bab 1: Meyakini Hari Akhir, Mengakhiri Kebiasaan Buruk
     b.     Bab 2: Menatap Masa Depan dengan Optimis, Ikhtiar, dan Tawakal
    c.       Bab 3: Mengasah Pribadi yang Unggul dengan Jujur, Santun, dan Malu
    d.      Bab 4: Akikah dan Kurban Menumbuhkan Kepedulian Umat
     e.       Bab 5: Kehadiran Islam Mendamaikan Bumi Nusantara
f.       Bab 6: Meraih Kesuksesan dengan Optimis, Ikhtiar, dan Tawakal
    g.      Bab 7 :Beriman kepada Qada' dan Qadar Berbuah Ketenangan Hati
    h.      Bab 8 :Damaikan Negeri dengan Toleransi
i.        Bab 9: Menuai Keberkahan dengan Rasa Hormat, Taat kepada Orangtua dan Guru
j.        Bab 10: Dahsyatnya Persatuan dalam Ibadah Haji dan Umrah
    k.      Bab 11: Menelusuri Tradisi Islam di Nusantara
l.        Bab 12: Menyuburkan Kebersamaan dengan Toleransi dan Menghargai Perbedaan.[8]


D.    Analisis Buku Teks Pendidikan Agama Islam SMP Kelas IX Kurikulum 2013
1.      Kesesuaian KI, KD, dan Tujuan Pembelajaran
KI dan KD sudah sesuai dan sejalan dengan tujuan dan Standar Kompetensi lulusan peserta didik untuk kelas IX SMP.
Berikut contoh pada materi pembelajaran BAB I tentang Meyakini Hari Akhir, Mengakhiri Kebiasaan Buruk:
Kompetensi Inti
KI 1 : Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 : Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.
KI 3 : Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya terkait fenomena dan kejadian yang tampak mata.
KI 4 : Mencoba, mengolah, dan menyaji, dalam ranah konkret menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.
Kompetensi Dasar
1.2 : Beriman kepada hari akhir.
2.7 : Menghargai sikap mawas diri sebagai implementasi dari pemahaman
        Iman kepada hari akhir.
3.6 : Memahami makna iman kepada hari Akhir berdasarkan pengamatan
         terhadap dirinya, alam sekitar, dan makhluk ciptaan-Nya.
4.6 : Menyajikan dalil naqli yang menjelaskan gambaran kejadian hari
        akhir.
Tujuan Pembelajaran
Peserta didik mampu:
a.       Mendeskripsikan pengertian iman kepada hari akhir dengan benar.
b.      Menunjukkan dalil iman kepada hari akhir dengan benar.
c.       Menyebutkan macam-macam kiamat dengan benar.
d.      Menjelaskan contoh kejadian kiamat sugra dengan benar.
e.       Menjelaskan proses kejadian kiamat kubra dengan benar.
f.       Menjelaskan kehidupan yang dialami manusia setelah hari kiamat
dengan benar.
g.      Berperilaku beriman kepada hari akhir dalam kehidupan sehari-hari dengan benar.
h.      Berperilaku mawas diri sebagai implementasi dari pemahaman Iman
kepada hari akhir dengan benar.[9]

2.      Penyajian Materi
Materi pembelajaran pada Buku teks SMP kelas IX terbitan Kemendikbud  ini terdiri atas 12 bab, terdiri dari 2 bab materi akidah, 4 bab materi akhlak, 2 bab materi Al-Qur’an, 2 bab materi fiqh, dan 2 bab materi SKI. Berdasarkan bab yang terlihat tidak ada materi hadis, namun ketika kita buka ternyata ada beberapa hadis, namun tidak dibahas kandunganya baik secara umum maupun khusus. Berikut contoh hadisnya:
Gambar 2.4 Hadis tentang Santun[10]
Dari kutipan hadis diatas, tidak ada penjelasan lanjutan tentang hadis, dan sangat disayangkan tidak di beri keterangan nomor hadis dan derajat hadisnya. Sebaiknya, dicantumkan nomor dan derajat hadis agar siswa lebih tahu dan guru juga dapat memberi penguatan. Misalnya, jika hadisnya shahih, maka hukum pengamalan hadisnya menjadi wajib, dan begitu pula sebaliknya, jika hadisnya dhaif, atau malah maudhu’, seharusnya tidak dicantumkan di buku teks ini. Jadi, dari segi materi, buku ini dari sisi kedalaman materi, kurang mendalam. Butuh revisi lebih lanjut.
Untuk penyajian materi dan gambar, sudah sangat menarik, dengan kreasi warna yang tidak terlalu tajam namun enak untuk dilihat. Hal ini akan mengundang ketertarikan siswa untuk membaca. Diawal bab disajikan renungan beserta gambar untuk memancing daya tarik dan daya pikir siswa.
Selain itu, diakhir bab juga dicantumkan kisah-kisah Islami yang akan memancing siswa kepada kebermaknaan, dan memetik hikmahnya.
Masih terkait dengan penyajian, jika kita lihat dari 12 bab materi pelajaran pada halaman sebelumnya, terlihat ada 2 bab materi pelajaran dengan judul sama namun isinya berbeda. Misalnya, Bab 2: Menatap Masa Depan dengan Optimis, Ikhtiar, dan Tawakal. Bab 2 berisikan materi tentang akhlak, namun di Bab 6: Meraih Kesuksesan dengan Optimis, Ikhtiar, dan Tawakal, dengan judul yang hampir sama, ternyata materinya adalah Al-Qur’an.
Begitu juga dengan Bab 8 :Damaikan Negeri dengan Toleransi, hampir sama pula judulnya dengan Bab 12: Menyuburkan Kebersamaan dengan Toleransi dan Menghargai Perbedaan. Bab 8 berisikan materi akhlak dan bab 12 berisikan materi Al-Qur’an. Ke empat bab ini sejatinya tidak efektif dan menjadi pemborosan materi. Jika kita lihat dari daftar bab, maka tidak bisa kita tebak yang mana materi akhlak, mana yang materi Al-qur’an. Sehingga menjadi tidak efektif bagi guru.
Berbeda halnya dengan buku PAI SMP kelas IX yang ditulis Sri Prabandani dan Siti Masuroh, yang berisikan 13 bab dan memisahkan materi Al-Qur’an dan hadis dalam bab yang berbeda, seperti berikut ini:
Akan lebih efektif jika daftar isi dan muatan materinya seperti pada gambar diatas. Guru akan lebih mudah dalam melakukan pengamatan umum terhadap buku. Siswa juga tidak bingung jika melihat bab, karena dari segi judul sudah berbeda. Atau, untuk bab-bab dengan judul sama, di gabung saja karena saling berhubungan.

3.      Model dan Metode Pembelajaran
Untuk materi akidah maupun akhlak model discovery learning, active learning, cooperative learning, kontekstual, problem based learning, project based learning[15] sudah sesuai tujuan pembelajaran. Karena untuk materi akidah dan akhlak, konteksualiasi atau kebermaknaan antara materi dengan keadaan lingkungan sekitar harus didapat oleh siswa. Terlebih lagi persoalan akidah, yang sifatnya akhirat dan abstrak. Tentu butuh perenungan secara mendalam terkait dengan peristiwa dan kejadian di sekitar kita.
Namun, perlu di koreksi untuk materi Al-Qur’an, terkhusus untuk tajwid, dan membaca ayat, rasanya model discovey learning, problem based learning, maupun project based learning tidak akan efektif di gunakan. (Lihat gambar 2.9)
            Untuk mengajarkan tata cara membaca Al-Qur’an, tajwid, waqaf, dan sejenisnya, lebih efektif jika menggunakan metode konvensional seperti sorogan, bandongan, ataupun simulasi, dengan guru menjadi contoh dan teladan utama.
4.      Bahasa dan keterbacaan
Untuk penggunaan bahasa tidak ada yang terlalu “aneh” dan membingungkan siswa. Hanya saja guru perlu memberi penguatan dan memberi contoh-contoh faktual menggunakan bahasa yang lebih sederhana.

5.      Evaluasi/ Penilaian Pembelajaran
Dari segi pemaparan penilaian atau evaluasi siswa pada buku pegangan guru, tampak sudah ada aspek pengetahuan, keterampilan, spiritual, dan sosial, serta didukung dengan interaksi dengan orang tua. Guru dapat memilih metode penilaian apa yang cocok terkait dengan materi. Misalnya untuk materi haji dan umroh, guru dapat memberikan tugas proyek kepada siswa untuk wawancara dengan orang-orang yang sudah pernah haji/umroh, agar lebih bermakna.



PENUTUP

A.    Kesimpulan
Buku teks sebaiknya berisikan materi pembelajaran yang tidak terlalu rumit dengan bahasa yang sederhana agar dapat di cerna siswa. Sejatinya buku teks di buat untuk mencapai tujuan pembelajaran, namun untuk pengembangan, guru dapat memberikan tugas proyek atau portofolio sehingga pembelajaran lebih faktual.

B.     Saran
Kritik dan saran penulis harapkan untuk pengembangan makalah yang lebih baik di masa mendatang.


DAFTAR PUSTAKA


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Buku Pegangan Guru Pendidikan Agama Islam Kelas IX Kurikulum 2013 Revisi 2017.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Buku Pegangan Siswa Pendidikan Agama Islam Kelas IX Kurikulum 2013 Revisi 2017.
Muslich, Masnur. Teks Book Writing Dasar-dasar Pemahaman, Penulisan, dan Pemakaian Buku Teks, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2010
Nawawi, Hadari. dan Mimi Martini, Penelitian Terapan, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005.
Prabandani, Sri. dan Siti Masuroh, PAI 3 SMP, Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, 2011
Prastowo, Andi. Pengembangan Sumber Belajar, Yogyakarta: Pedagogia, 2012
Supriadi, Dedi. Anatomi Buku Sekolah di Indonesia, Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2001
Susanti, Rini Dwi. Studi Analisis Materi Ajar Buku Teks Pelajaran Pada Mata Pelajaran Bahasa Arab, Jurnal Arabia, Vol. 5 No. 2
Tarigan, Henry Guntur. Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia, Bandung: Angkasa, 1989


[1]Andi Prastowo, Pengembangan Sumber Belajar, (Yogyakarta: Pedagogia, 2012), h.
36
[2]Masnur Muslich, Teks Book Writing Dasar-dasar Pemahaman, Penulisan, dan Pemakaian Buku Teks, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), h. 2
[3]Masnur Muslich, Text Book Writing (Dasar-dasar Pemahaman, Penulisan dan Pemakaian Buku Teks)...h. 50
[4] Dedi Supriadi, Anatomi Buku Sekolah di Indonesia, (Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2001), h. 46
[5] Henry Guntur Tarigan, Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia, (Bandung: Angkasa, 1989), h. 27
[6]Hadari Nawawi dan Mimi Martini, Penelitian Terapan, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 20050,  h.  90
[7] Rini Dwi Susanti, Studi Analisis Materi Ajar Buku Teks Pelajaran Pada Mata Pelajaran Bahasa Arab, Jurnal Arabia, Vol. 5 No. 2, 2013, h. 210
[8] Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Buku Pegangan Siswa Pendidikan Agama Islam Kelas IX Kurikulum 2013 Revisi 2017.
[9] Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Buku Pegangan Guru Pendidikan Agama Islam Kelas IX Kurikulum 2013 Revisi 2017.
[10]Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Buku Pegangan Siswa Pendidikan Agama Islam Kelas IX Kurikulum 2013 Revisi 2017, h. 54
[11] Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Buku Pegangan Siswa Pendidikan Agama Islam Kelas IX Kurikulum 2013 Revisi 2017, h. 51
[12] Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Buku Pegangan Siswa Pendidikan Agama Islam Kelas IX Kurikulum 2013 Revisi 2017, h. 45
[13] Sri Prabandani dan Siti Masuroh, PAI 3 SMP, (Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, 2011), h. xi
[14]Sri Prabandani dan Siti Masuroh, PAI 3 SMP, (Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, 2011), h. xii
[15]Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Buku Pegangan Guru Pendidikan Agama Islam Kelas IX Kurikulum 2013 Revisi 2017, h. 9
[16] Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Buku Pegangan Siswa Pendidikan Agama Islam Kelas IX Kurikulum 2013 Revisi 2017, h. 200

Senin, 29 Juli 2019

MAKALAH PRINSIP-PRINSIP EVALUASI


MAKALAH PRINSIP-PRINSIP EVALUASI 

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses pembelajaran dengan mengaplikasikan berbagai model-model pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan minat, motivasi, aktivitas, dan hasil belajar. Hasil belajar siswa dapat diketahui meningkat atau rendah setelah dilaksanakan sebuah evaluasi. Proses evaluasi meliputi pengukuran dan penilaian. Pengukuran bersifat kuantitatif sedangkan penilaian bersifat kualitatif. Proses evaluasi bukan sekedar mengukur sejauh mana tujuan tercapai, tetapi digunakan untuk membuat keputusan. Keputusan dan pendapat akan dipengaruhi oleh kesan pribadi dari yang membuat keputusan.
Pengukuran dalam bidang pendidikan erat kaitannya dengan tes. Hal ini dikarenakan salah satu cara yang sering dipakai untuk mengukur hasil yang telah dicapai siswa adalah dengan tes. Penilaian merupakan bagian penting dan tak terpisahkan dalam sistem pendidikan saat ini. Peningkatan kualitas pendidikan dapat dilihat dari nilai-nilai yang diperoleh siswa. Tentu saja untuk itu diperlukan sistem penilaian yang baik dan tidak bias. Sistem penilaian yang baik akan mampu memberikan gambaran tentang kualitas pembelajaran sehingga pada gilirannya akan mampu membantu guru merencanakan strategi pembelajaran. Bagi siswa sendiri, sistem penilaian yang baik akan mampu memberikan motivasi untuk selalu meningkatkan kemampuannya. Oleh karena itu, penulis membahas dalam makalah ini mengenai prinsip dan alat evaluasi.
B. Rumusan Masalah
Adapun permasalahan dalam makalah ini, yaitu :
 1.  Apa saja alat atau teknik evaluasi ?
 2.  Apa  prinsip-prinsip evaluasi ?
C. Tujuan
1.      Untuk memenuhi tugas terstruktur dalam mata kuliah Evaluasi Pendidikan.
2.      Untuk mengetahui dan memahami alat-alat evaluasi.
3.      Untuk mengetahui dan memahami prinsip-prinsip evaluasi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Alat-alat Evaluasi
Untuk keperluan evaluasi diperlukan alat evaluasi yang bermacam- macam, seperti kuisioner, tes, skala, format observasi, dan lain-lain. Khusus untuk evaluasi hasil pembelajaran alat evaluasi yang paling banyak digunakan adalah tes. Pembahasan evaluasi hasil pembelajaran lebih menekankan pada pemberian nilai terhadap skor hasil tes.[1]
1.      Tes
Tes merupakan alat ukur yang standar dan obyektif sehingga dapat digunakan secara meluas untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu. Dapat dipastikan akan mampu memberikan informasi yang tepat dan obyektif tentang obyek yang hendak diukur baik berupa psikis maupun tingkah lakunya , sekaligus dapat membandingkan antara seseorang dengan orang lain.
Tes adalah suatu cara atau alat untuk  mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh siswa atau sekelompok siswa sehingga menghasilkan nilai tentang tingkah laku atau prestasi siswa tersebut.
Beberapa istilah-istilah yang berhubungan dengan tes ini :
1). Tes
Tes merupakan prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan.
2). Testing
Testing merupakan saat pada waktu tes itu dilaksanakan. Dapat juga dikatakan testing adalah saat pengambilan tes.
3). Testee
Testee adalah merupakan responden yang sedang mengerjakan tes.
4). Tester
Tester adalah orang yang melaksanakan pengambilan tes terhadap responden. Dengan kata lain, tester adalah subjek evaluasi (tetapi adakalanya hanya orang yang ditunjuk oleh subjek evaluasi untuk melaksanakan tugasnya).[1]
Sebagai alat evaluasi hasil belajar, tes mempunyai fungsi, yaitu:
a.       Untuk mengukur tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi atau tingkat pencapaian terhadap seperangkat tujuan tertentu.
b.         Untuk menentukan kedudukan atau seperangkat siswa dalam kelompok, tentang penguasaan materi atau pencapaian tujuan pembelajaran.
Tes berdasarkan fungsinya sebagai alat pengukur perkembangan/kemajuan belajar peserta didik yaitu:
1. Tes seleksi
Tes seleksi sering dikenal dengan tes saringan atau ujian masuk. Tes ini dilaksanakan dalam rangka penerimaan calon siswa baru, di mana hasil tes digunakan untuk memilih calon peserta didik yang tergolong paling baik dari sekian banyak calon yang mengikuti tes. Tes seleksi merupakan materi prasyarat untuk mengikuti program pendidikan yang akan diikuti oleh calon. Sifatnya yaitu menyeleksi atau melakukan penyaringan.
2. Tes awal
Tes awal dikenal pre-test. Tes awal dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh manakah materi atau bahan pelajaran yang akan diajarkan telah dapat dikuasai oleh peserta didik. Isi atau materi tes awal pada umumnya ditekankan pada bahan-bahan penting yang sudah diketahui atau dikuasai oleh peserta didik. Setelah tes awal berakhir, sebagai tindak lanjutnya adalah (a) jika dalam tes awal itu semua materi yang dinyatakan dalam tes sudah dikuasai dengan baik oleh peserta didik, maka materi yang telah dinyatakan dalam tes awal tidak akan diajarkan lagi, dan (b) jika materi yang dapat dipahami oleh peserta didik baru sebagian saja, maka yang diajarkan adalah materi pelajaran yang belum cukup dipahami oleh para peserta didik tersebut .
3. Tes akhir
Tes akhir dikenal dengan istilah post-test. Tes akhir dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui apakah semua materi pelajaran yang tergolong penting sudah dapat dikuasai dengan sebaik-baiknya oleh peserta didik. Isi atau materi tes akhir adalah bahan-bahan pelajaran yang tergolong penting, yang telah diajarkan kepada peserta didik. Jika hasil tes akhir itu lebih baik daripada tes awal maka dapat diartikan bahwa program pengajaran telah berjalan dan berhasil dengan sebaik-baiknya.
4. Tes Diagnostik
 Adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa sehingga berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat. Tes diagnostik juga digunakan untuk mengetahui sebab kegagalan peserta didik dalam belajar, oleh karena itu dalam menyusun butir-butir soal seharusnya menggunakan item yang memiliki tingkat kesukaran rendah.
5. Tes Formatif
 Adalah tes untuk mengetahui sejauhmana siswa telah terbentuk setelah mengikuti suatu program tertentu. Tes formatif adalah tes yang digunakan untuk mengetahui atau melihat sejauhmana kemajuan belajar yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu program pelajaran.
6. Tes Sumatif
 Yaitu tes yang dilaksanakan setelah berakhirnya pemberian sekelompok program atau sebuah program yang lebih besar. Tes sumatif ini dapat disamakan dengan ulangan umum yang biasanya dilaksanakan pada tiap akahir semester, catur wulan atau akhir semester. Tes sumatif ini diarahkan kepada tercapai tidaknya tujuan-tujuan intruksional umum.

Menurut Sudijono (2001:73) tes berdasarkan aspek psikis yang ingin diungkap dibedakan menjadi lima golongan, yaitu:
a. Tes intelengensi yakni tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap atau mengetahui tingkat kecerdasan seseorang,
b. Tes kemampuan yaitu tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap kemampuan dasar atau bakat khusus yang dimiliki testee
c. Tes sikap yaitu salah satu jenis tes yang dipergunakan untuk mengungkap predisposisi atau kecendrungan seseorang untuk melakukan suatu respon tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik berupa individu-individu maupun obyek-obyek tertentu.
d. Tes keperibadian yakni tes yang dilaksanakan dengan tujuan mengungkap cirri-ciri khas dari seseorang yang banyak sedikitnya besifat lahiriah, seperti gaya bicara, cara berpakaian, nada suara, hobi atau kesenangan, dan lain-lain.
e. Tes hasil belajar, yang juga sering dikenal dengan istilah tes percapaian yakni tes yang biasa digunakan untuk mengungkap tingkat pencapaian atau prestasi belajar. Tes hasil belajar atau tes prestasi belajar dapat didefinisikan sebagai cara (yang dapat dipergunakan) atau prosedur (yang dapat ditempuh) dalam rangka pengukuran dan penilaian hasil belajar, yang terbentuk tugas dan serangkaian tugas (baik berupa pertanyaan-pertanyaan atau soal-soal) yang harus dijawab, atau perintah-perintah yang harus dikerjakan oleh testee, sehingga (berdasar atas data yang diperoleh dari kegiatan pengukuran itu) dapat menghasilkan nilai yang melambankan tingkah laku atau prestasi belajar testee; nilai mana dapat dibandingkan dengan nilai-nilai standar tertentu, atau dapat pula dibandingkan dengan nilai-nilai yang berhasil dicapai oleh testee lainnya.
Dilihat dari segi banyaknya orang yang mengikuti tes, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
1) Tes individual yakni tes dimana tester berhadapan dengan satu orang testee saja, dan
2) Tes kelompok yakni tes dimana tester berhadapan lebih dari satu orang testee.
Dilihat dari segi waktu yang disediakan bagi testee utuk menyelesaikan tes, tes dapat dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
1) Power test yakni tes di mana waktu yang disediakan buat testee untuk menyelesaikan tes tersebut tidak dibatasi,
2) Speed test yaitu tes di mana waktu yang disediakan buat testee untuk menyelesaikan tes tersebut dibatasi.
Dilihat dari segi bentuk responnya, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
1) Verbal test yakni suatu tes yang menghendaki respon (jawaban) yang tertuang dalam bentuk ungkapan kata-kata atau kalimat, baik secara lisan maupun secara tertulis, dan
2) Nonverbal test yakni tes yang menghendaki respon (jawaban) dari testee bukan berupa ungkapan kata-kata atau kalimat, melainkan berupa tindakan atau tingkah laku, jadi respon yang dikehendaki muncul dari testee adalah berupa perbuatan atau gerakan-gerakan tertentu.
Ditinjau dari segi cara mengajukan pertanyaan dan cara memberikan jawabannya, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu :
1) Tes tertulis yakni jenis tes di mana tester dalam mengajukan butir-butir pertanyaan atau soalnya dilakukan secara tertulis dan testee memberikan jawabannya juga secara tertulis, dan
2) tes lisan yakni tes di mana tester di dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau soalnya dilakukan secara lisan dan testee memberikan jawabannya secara lisan pula.
Dengan mempertimbangkan kriteria- kriteria dapat dihasilkan alat tes ( soal-soal ) yang berkualitas  memenuhi syarat- syarat diantaranya:
-          Shahih ( valid) yaitu mengukur yang harus diukur, sesuai dengan tujuan.
-          Relevan yaitu diuji sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
-          Spesifik, soal hanya dapat dijawab oleh peserta didik.
-          Representif, soal mewakili materi ajar secara keseluruhan.
Sebuah tes yang bisa dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memenuhi persyaratan tes, yaitu memiliki
a.Validitas
Sebuah tes disebut valid apabila tes tersebut dapat tepat mengukur apa yang hendak diukur. Contoh, untuk mengukur partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar, bukan diukur melalui nilai yang diperoleh pada waktu ulangan, tetapi dilihat melalui: kehadiran, terpusatnya perhatian pada pelajaran, ketepatan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru dalam arti relevan pada permasalahannya.[2]
b. Reliabilitas
Berasal dari kata asal reliable yang artinya dapat dipercaya. Tes dapat dikatakan dapat dipercaya jika memberikan hasil yang tetap apabila diteskan berkali-kali. Sebuah tes dikatakan reliabel apabila hasil-hasil tes tersebut menunjukan ketetapan. Jika dihubungkan dengan validitas, maka: Validitas adalah ketepatan dan reliabilitas adalah ketetapan.
c.Objektivitas
Sebuah dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam melaksanakan tes itu tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhi. hal ini terutama terjadipada sistem scoringnya. Apabila dikaitkan dengan reliabilitas maka objektivitas menekankan ketetapan pada sistem scoringnya, sedangkan reliabilitas menekankan ketetapan dalam hasil tes.
d. Prakitikabilitas
Sebuah tes dikatakan memiliki praktibilitas yang tinggi apabila tes tersebut bersifat praktis dan mudah pengadministrasiannya. tes yang baik adalah yang: mudah dilaksanakan, mudah pemeriksaannya, dan dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk yang jelas.
e. Ekonomis
Yang dimaksud ekonomis disini ialah bahwa pelaksanaan tes tersebut tidak membutuhkan ongkos atau biaya yang mahal, tenaga yang banyak, dan waktu yang lama.[5]
2.      Teknik Nontes
Teknik nontes sangat penting dalam mengevaluasi siswa pada ranah afektif dan psikomotor, berbeda dengan teknik tes yang lebih menekankan asfek kognitif. Teknik penilaian nontes berarti melaksanakan penilaian dengan tidak mengunakan tes. Tehnik peniaian ini umunya untuk menilai keperibadian anak secara  menyeluruh meliputi sikap, tingkah laku, sifat, sosial, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain yang berhubungan dengan kegiatan belajar dalam pendidkan baik individual maupun secara kelompok.
Yang tergolong teknik non tes adalah
a.    Skala bertingkat (rating scale)
Skala yang menggambarkan suatu nilai yang berbentuk angka terhadap suatu hasil perkembangan.
Contoh : kecenderungan seseorang terhadap jenis kesenian tertentu.
b.    Kuesioner
Kuesioner juga sering dkenal dengan nama angket. Pada dasarnya, kuesioner adalah berupa daftar pertanyaan yang harus diisi oleh seseorang yang akan diukur (responden). Adapun macam-macam kuesioner dapat ditinjau dari beberapa segi, di antaranya :
1)        Ditinjau dari segi persiapan
a)    Kuesioner langsung : dikatakan langsung jika kuesioner tersebut dikirimkan dan  diisi langsung oleh orang yang akan dimintai jawaban tentang dirinya.
b)   Kuesioner tak langsung : adalah kuesioner yang dikirimkan dan diisi oleh bukan orang yang dimintai keterangannya.
2)        Ditinjau dari segi cara menjawab
a)    Kuesioner tertutup : adalah kuesioner yang disusun dengan menyediakan pilihan jawaban lengkap sehingga pengisi hanya tinggal memberi tanda pada jawaban yang dipilih.
b)   Kuesioner terbuka : adalah kuesioner yang disusun sedemikian rupa sehingga para pengisi bebas mengemukakan pendapatnya.

c.       Daftar cocok (chek list)
Adalah deretan pernyataan (yang biasanya singkat),  dimana responden yang dievaluasi tinggal membubuhkan tanda cocok ( √ ) di tempat yang sudah disediakan.
d.   Wawancara (interview)
Adalah suatu metode atau cara yang digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan jalan tanya jawab sepihak. Wawancara dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
1)   Interview bebas, dimana responden mempunyai kebebasan untuk mengutarakan pendapatnya tanpa dibataasi oleh patokan-patokan yang telah dibuat oleh subyek evaluasi.
2)  Interview terpimpin, yaitu interview yang dilakukan oleh subyek evaluasi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sudah disusun terlebih dahulu.
e.       Pengamatan (observasi)
Adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliiti serta pencatatan secara sistematis. Ada tiga macam ovservasi yaitu,
1. Observasi partisipan yaitu observasi yang dilakukan oleh pengamat, tetapi dalam pada itu pengamat memasuki dan mengikuti kegiatan kelompok yang sedang diamati. Observasi partisipan dilaksanakan sepenuhnya jika pengamat betul-betul mengikuti kegiatan kelompok, bukan hanya pura-pura. Dengan demikian, ia dapat menghayati dan merasakan seperti apa yang dirasakan orang-orang dalam kelompok yang diamati.
2. Observasi sistematik yaitu di mana faktor-faktor yang diamati sudah didaftar secara sistematis dan sudah diatur menurut kategorinya. Berbeda dengan observasi partisipan, maka dalam observasi sistematik ini pengamat berada di luar kelompok. Dengan demikian maka pengamat tidak dibingungkan oleh situasi yang melingkungi dirinya.
3. Observasi eksperimental terjadi jika pengamat tidak berpartisipasi dalam kelompok. Dalam hal ini ia dapat mengendalikan unsur-unsur penting dalam situasi sedemikian rupa sehingga situasi itu dapat diatur sesuai dengan tujuan evaluasi.
Pengamatan atau observasi sebagai alat atau teknik evaluasi harus memiliki sifat-sifat tertentu yaitu :
1.      harus dilakukan sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah dirumuskan.
2.      Direncanakan secara sistematis.
3.      Hasilnya dicatat dan diolah sesuai dengan tujuan.
4.      Dapat diperiksa validitas , reliabilitas dan ketelitiannya.[7]
f.       Riwayat hidup
Adalah gambaran tentang keadaan seseorang selama dalam masa kehidupannya. Dengan mempelajari riwayat hidup maka subyek evaluasi akan dapat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian, kebiasaan, dan sikap dari obyek yang dinilai.
Selain teknik-teknik di atas, ada juga teknik lain yaitu :
1)      Studi kasus (Case Study)
Adalah studi yang mendalam dan konprehensif tentang peserta didik, kelas atau sekolah yang memiliki kasus tertentu.
2)      Catatan insidental (anectodal recored)
Adalah catatan-catatan singkat tentang peristiwa sepintas yang dialami peserta didik secara perorangan.
3)      Sosiometri
Adalah suatu prosedur untuk merangkum, menyusun dan sampai batas tertentu dapat mengkuantifikasi pendapat-pendapt peserta didik tentang penerimaan teman sebayanya serta hubungan di antara mereka.
4)      Inventori kepribadian
Hampir serupa dengan tes kepribadian. Bedanya dalam inventori kepribadian jawaban peserta didik tidak mempunyai kriteria benar atau salah. Semua jawaban peserta didik adalah benar selama dia menyatakan yang sesungguhnya.
B. Prinsip-prinsip Evaluasi
Untuk memperoleh hasil evaluasi yang lebih baik, maka kegiatan evaluasi harus bertitik dari prinsip-prinsip umum sebagai berikut:
1.        Kontinuitas
Evaluasi tidak boleh dilakukan secara insedental karena pembelajaran itu sendiri adalah suatu proses yang kontinyu. Oleh sebab itu evaluasi pun harus dilakukan secara kontinyu pula.
2.        Komprehensif
Dalam melakukan evaluasi terhadap suatu obyek, guru harus mengambil seluruh obyek itu sebagai bahan evaluasi.
3.        Adil dan obyektif
Dalam melaksanakan evaluasi guru harus berlaku adil dan tanpa pilih kasih kepada semua peserta didik. Guru juga hendaknya bertindak secara obyektif, apa adanya sesuai dengan kemampuan peserta didik.
4.        Kooperatif
Dalam kegiatan evaluasi hendaknya guru bekerjasama dengan semua pihak, seperti orang tua peserta didik, sesama guru, kepala sekolah, termasuk dengan peserta didk itu sendiri.
5.        Praktis
Praktis mengandung arti mudah digunakan baik oleh guru itu sendiri yang menyusun alat evaluasi maupun orang lain yang akan menggunakan alat tersebut.[8]
Menurut Khusnuridlo (2010), prinsip-prinsip evaluasi terdiri dari :
1. Komprehensif
Evaluasi harus mencakup bidang sasaran yang luas atau menye¬luruh, baik aspek personalnya, materialnya, maupun aspek operasionalnya. Evaluasi tidak hanya dituju¬kan pada salah satu aspek saja. Misalnya aspek personalnya, jangan hanya menilai gurunya saja, tetapi juga murid, karyawan dan kepala sekolahnya. Begitu pula untuk aspek material dan operasionalnya. Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh.
2. Komparatif
Prinsip ini menyatakan bahwa dalam mengadakan evaluasi harus dilaksa-nakan secara bekerjasama dengan semua orang. Sebagai contoh dalam mengevaluasi keberhasilan guru dalam mengajar, harus bekerjasama antara pengawas, kepala sekolah, guru itu sendiri, dan bahkan, dengan pihak murid. Dengan melibatkan semua pihak diharapkan dapat mencapai keobyektifan dalam mengevaluasi.
3. Kontinyu
Evaluasi hendaknya dilakukan secara terus-menerus selama proses pelaksanaan program. Evaluasi tidak hanya dilakukan terhadap hasil yang telah dicapai, tetapi sejak pembuatan rencana sampai dengan tahap laporan. Hal ini penting dimaksudkan untuk selalu dapat memonitor setiap saat atas keberhasilan yang telah dicapai dalam periode waktu tertentu. Aktivitas yang berhasil diusahakan terjadi peningkatan, sedangkan aktivi-tas yang gagal dicari jalan lain untuk mencapai keberhasilan.
4. Obyektif
Mengadakan evaluasi harus menilai sesuai dengan kenya¬taan yang ada. Katakanlah yang hijau itu hijau dan yang merah itu merah. Jangan sampai mengatakan yang hijau itu kuning, dan yang kuning itu hijau. Sebagai contoh, apabila seorang guru itu sukses dalam mengajar, maka katakanlah bahwa guru ini sukses, dan sebaliknya apabila jika guru itu kurang berhasil dalam mengajar, maka katakanlah bahwa guru itu kurang berhasil. Untuk mencapai keobyektifan dalam evaluasi perlu adanya data dan fakta. Dari data dan fakta inilah dapat mengolah untuk kemudian diambil suatu kesimpulan. Makin lengkap data dan fakta yang dapat dikumpulkan maka makin obyektiflah evaluasi yang dilakukan.
5. Berdasarkan Kriteria yang Valid
Selain perlu adanya data dan fakta, juga perlu adanya kriteria-kriteria tertentu. Kriteria yang digunakan dalam evaluasi harus konsisten dengan tujuan yang telah dirumuskan. Kriteria ini digunakan agar memiliki standar yang jelas apabila menilai suatu aktivitas supervisi pendi¬dikan. Kekonsistenan kriteria evaluasi dengan tujuan berarti kriteria yang dibuat¬ harus mempertimbangkan hakikat substansi supervisi pendidikan.
6. Fungsional
Evaluasi memiliki nilai guna baik secara langsung maupun tidak langsung. Kegunaan langsungnya adalah dapatnya ¬hasil evaluasi digunakan untuk perbaikan apa yang dievaluasi, sedangkan kegunaan tidak langsungnya adalah hasil evaluasi itu dimanfaatkan untuk penelitian atau keperluan lainnya.
7. Diagnostik
Setiap hasil evaluasi harus didokumentasikan. Bahan-bahan dokumentasi hasil evaluasi inilah yang dapat dijadikan dasar penemuan kelemahan-kelemahan atau kekurangan-kekurangan yang kemudian harus diusahakan jalan pemecahannya.
Menurut Yunanda (2010), prinsip-prinsip evaluasi yaitu :
1. Keterpaduan
Evaluasi harus dilakukan dengan prinsip keterpaduan antara tujuan intruksional pengajaran, materi pembelajaran, dan metode pengajaran.
2. Keterlibatan peserta didik
Prinsip ini merupakan suatu hal yang mutlak, karena keterlibatan peserta didik dalam evaluasi bukan alternative, tapi kebutuhan mutlak.
3. Koherensi
Evaluasi harus berkaitan dengan materi pengajaran yang telah dipelajari dan sesuai dengan ranah kemampuan peserta didik yang hendak diukur.
4.Pedagogis
Aspek pedagogis diperlukan untuk melihat perubahan sikap dan perilaku sehingga pada akhirnya hasil evaluasi mampu menjadi motivator bagi diri siswa.
5. Akuntabel
Hasil evaluasi haruslah menjadi alat akuntabilitas atau bahan pertanggungjawaban bagi pihak yang berkepentingan seperti orangtua, siswa, sekolah, dan lainnya.
Menurut Sudijono (2001:31-33), evaluasi hasil belajar dikatakan terlaksan dengan baik apabila dalam pelaksanaannya senantiasa berpegang pada tiga prinsip dasar yaitu:
1. Prinsip keseluruhan
Prinsip keseluruhan dikenal dengan istilah prinsip komprehensif. Prinsip komprehensif dikatakan terlaksana dengan baik apabila evaluasi tersebut dilaksanakan secara bulat, utuh atau menyeluruh. Evaluasi hasil belajar harus dapat mencakup berbagai aspek yang dapat menggambarkan perkembangan atau perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri peserta didik sebagai makhluk hidup.
2. Prinsip Kesinambungan
Prinsip kesinambungan dikenal dengan istilah prinsip kontinuitas. Prinsip kontinuitas dimaksudkan bahwa hasil belajar yang baik adalah evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan secara teratur dan sambung menyambung dari waktu ke waktu. Evaluasi hasil belajar dilaksanakan secara berkesinambungan agar pihak evaluator dapat memperoleh kepastian dan kemantapan dalam menentukan langkah-langkah atau merumuskan kebijaksanaan untuk masa depan serta memperoleh informasi yang dapat memberikan gambaran mengenai kemajuan atau perkembangan peserta didik.
3. Prinsip obyektivitas
Prinsip objektivitas mengandung makna bahwa evaluasi hasil belajar dapat dinyatakan sebagai evaluasi yang baik apabila dapat terlepas dari factor-faktor yang sifatnya subyektif


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Jenis-jenis alat evaluasi yaitu tes berupa (tes awal, tes akhir, tes seleksi, tes diagnostik, tes formatif, tes sumatif, tes intelegensi, tes kemampuan, tes kepribadian, tes hasil belajar, tes sikap, tes individual, tes kelompok, power tes, speed tes, verbal tes, nonverbal tes, tes tertulis, dan tes lisan) dan nontes berupa (studi kasus, skala penilaian, inventory, dan kuesioner)
Prinsip-prinsip evaluasi yaitu komprehensif, komparatif, kontinyu, obyektif, criteria yang valid, fungsional, diagnostik, keterpaduan, keterlibatan peserta didik, koherensi, pedagogis, dan akuntabel.
B.     Saran
Penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca mengenai makalah ini. Karena penulis menyadari adanya kekurangan dalam pembuatan makalah ini.

  
DAFTAR PUSTAKA

Sudijono, A. 2001 Pengantar Evaluasi Pendidikan. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Thoha, C. 2003. Tekhnik Evaluasi Pendidikkan. Raja grafindo Persada. Jakarta
Hartoto. 2009. Pengertian dan Fungsi Pendidikan (Online).
Khusnuridjo. 2010. Prinsip-prinsipp Evaluasi Program Supervisi Pendidikan (Online)
Dimyati & Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta



[1] Hasnawati,Evaluasi pembelajaran. Stain Sjech M Djamil Djambak Bukittinggi. Hal 90-93
[2] Slameto. Evaluasi  Pendidikan. Bumi Aksara:(Jakarta). Hal 93-94

MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...