Bukhari Manusia Super
Syi’ah dan Sunni sepakat tentang keorisinilan Al Quran. Syi’ah tidak
sepakat tentang keorisinilan semua hadis sunni yang “berlabel shahih”.
Logika : Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis tetapi Cuma 7000 yang dia
anggap orisinil pasca seleksi ? Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi
dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat
buat !
Tidak ada kesepakatan sunni – syi’ah tentang keorisinilan semua hadis Nabi SAW, ini berbeda dengan masalah ayat ayat Al Quran
Karena hadis sunni tidak dihapal dan tidak dicatat sejak awal secara
sistematis, maka ahlul hadis sunni kebingungan untuk memastikan mana
hadis yang betul betul berasal dari Nabi (orisinil) dan mana hadis yang
dibuat buat…
Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi
Pertanyaan :
- Apakah Bukhari maksum sehingga kitab hadisnya 100% benar ?
- Ada hadis hadis dalam kitab Bukhari yang saling bertentangan, Apakah masuk akal Nabi SAW mengucapkan sabda sabda yang saling saling berlawanan alias plin plan ??? Ingat, Nabi SAW itu maksum (infallible)
Legenda :
1. Imam Ahmad bin Hanbal yg hafal 1.000.000 hadits (1 juta hadits)
tapi hanya sempat menulis sekitar 20.000 hadits saja, maka 980.000
hadits lainnya sirna ditelan zaman ????????????? Apakah yang hilang itu
benar benar hilang atau cuma mitos legenda ???
2. Bukhari hafal 600.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya
dimasa mudanya, namun beliau hanya sempat menulis sekitar 7.000 hadits
saja pada shahih Bukhari dan beberapa kitab hadits kecil lainnya, dan
593.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman ?????? Apakah yang hilang itu
benar benar hilang atau cuma mitos legenda ???
Syi’ah dan Sunni sepakat tentang keorisinilan Al Quran. Syi’ah tidak
sepakat tentang keorisinilan semua hadis sunni yang “berlabel shahih”.
Logika : Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis tetapi Cuma 7000 yang dia
anggap orisinil pasca seleksi ? Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi
dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat
buat !
3. Albani bukan pula Hujjatul Islam, yaitu gelar bagi yg telah hafal
300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya, bagaimana ia mau hafal
300.000 hadits, sedangkan masa kini jika semua buku hadits yg tercetak
itu dikumpulkan maka hanya mencapai kurang dari 100.000 hadits.
AL Imam Nawawi itu adalah Hujjatul islam, demikian pula Imam Ghazali,
dan banyak Imam Imam Lainnya juga gemar mengedit dan meringkas ringkas
hadis…. Kenapa hadis sunni diedit dan diringkas ??? ya agar mazhab sunni
tetap tegak, segala bau syi’ah dibuang dari hadis
.
Bukhari manusia super ??? 16 tahun adalah 8.409.600 menit, jika dalam
tempo 16 tahun Bukhari mampu mengumpulkan 600 ribu hadis saja berarti
Bukhari adalah manusia super yang mampu mencari, menyeleksi dan
menshahihkan 1 hadis dalam tempo 14 menit !!! itu belum dipotong waktu
makan – shalat – tidur – perjalanan… Wow !!
60 minit x 24 jam x365hari x 16 tahun =8.409.600 minit (16 tahun)
hadis yang dikumpul 600,000 dalam tempoh 16 tahun.
8.409.600 dibahagi 600.000 =14,016 minit untuk 1 hadis
adakah imam bukhari mampu mencari,menyeleksi dan mensahihkan hadith itu dalam tempoh 14,016 minit?
itu belum ditolak waktu tidur,makan,solat,aktiviti memanah dan lain
lain.jika ditolak waktu itu mungkin masanya lagi kurang mungkin sekitar 7
minit saja masa yang tinggal.
belum dikira lagi masa perjalanan dari kota ke kota lain dalam mencari hadith.
kita selalu diberikan angka angka ini untuk mewujudkan kekaguman
kepada imam bukhari.tapi adakah angka ini betul setelah dikira
berasaskan matematik
Bukhari lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama lengkapnya
adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin
Badrdizbah Al-Ju’fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama
Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal
194 H (21 Juli 810 M). Kakeknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang
masih beragama Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk
Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-Ja’fiy.
Tempat beliau lahir kini termasuk wilayah lepasan Rusia, yang waktu
itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan Islam sesudah
Madinah, Damaskus dan Bagdad. Daerah itu pula yang telah melahirkan
filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan
ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan
lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah.
Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang
masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia
mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah, dimana di kedua kota suci itu
beliau mengikuti kuliah para guru-guru besar ahli hadits. Pada usia 18
tahun beliau menerbitkan kitab pertamanya “Qudhaya as Shahabah wat
Tabi’ien” (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien).
Bersama gurunya Syekh Ishaq, Bukhari menghimpun hadits-hadits shahih
dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadits yang diriwayatkan oleh
80.000 perawi disaring lagi menjadi 7275 hadits. Diantara guru-guru
beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain adalah Ali
bin Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf Al
Faryabi, Maki bin Ibrahim Al Bakhi, Muhammad bin Yusuf al Baykandi dan
Ibnu Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip
dalam kitab Shahih-nya.
Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya, diantaranya adalah
Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim
bin Al Hajjaj (pengarang kitab Shahih Muslim).
Penelitian Hadits
Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan
waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para
perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara
kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah,
Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari
sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali.
Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari
merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.
Namun tidak semua hadits yang ia hapal kemudian diriwayatkan,
melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat,
diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan
apakah perawi (periwayat / pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqqah
(kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan
sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami’ as-Shahih yang
dikenal sebagai Shahih Bukhari.
Kepada para perawi yang sudah jelas kebohongannya ia berkata, “perlu
dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam dari
hal itu” sementara kepada para perawi yang haditsnya tidak jelas ia
menyatakan “Haditsnya diingkari”. Bahkan banyak meninggalkan perawi yang
diragukan kejujurannya. Beliau berkata “Saya meninggalkan 10.000 hadits
yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan dan
meninggalkan hadits-hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang
diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan”.
Menurut Ibnu Shalah, dalam kitab Muqaddimah, kitab Shahih Bukhari itu
memuat 7275 hadits. Selain itu ada hadits-hadits yang dimuat secara
berulang, dan ada 4000 hadits yang dimuat secara utuh tanpa pengulangan.
Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh Muhyiddin An Nawawi dalam
kitab At-Taqrib. Dalam hal itu, Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kata
pendahuluannya untuk kitab Fathul Bari (yakni syarah atau penjelasan
atas kitab Shahih Bukhari) menulis, semua hadits shahih yang dimuat
dalam Shahih Bukhari (setelah dikurangi dengan hadits yang dimuat secara
berulang) sebanyak 2.602 buah. Sedangkan hadits yang mu’allaq (ada
kaitan satu dengan yang lain, bersambung) namun marfu (diragukan) ada
159 buah. Adapun jumlah semua hadits shahih termasuk yang dimuat
berulang sebanyak 7397 buah. Perhitungan berbeda diantara para ahli
hadits tersebut dalam mengomentari kitab Shahih Bukhari semata-mata
karena perbedaan pandangan mereka dalam ilmu hadits.
Sesuai dengan fitrahnya yang selalu ingin mendapatkan yang terbaik
untuk dirinya dan selalu ingin bersama kebenaran kapanpun dan dimanapun
ia berada, manusia dalam mengarungi kehidupannya selalu berfikir dan
merenungi fenomena-fenomena yang terjadi di planet bumi ini. Proses
tersebut menumbuhkan benih-benih pemikiran yang dapat membuahkan sesuatu
yang bernama ilmu. Tetapi yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah,
apakah ilmu itu sebenarnya? Lebih dalamnya lagi, apakah hakikat ilmu itu
sebenarnya? Kemudian bagaimanakah cara untuk mendapatkan ilmu tersebut?
dan apa konsekuensi yang muncul setelah mendapatkan ilmu tersebut? Apa
yang akan dicapai manusia dengan ilmu yang telah diperolehnya? dan
pertanyaan terakhir adalah, buah ilmu yang sebenarnya itu apa?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang selalu dicari jawabannya oleh setiap
manusia.
Ilmu dan hakikat ilmu
Jikalau kita ingin mengetahui sesuatu, maka yang pertama kali harus kita
lakukan adalah menganalisa objek yang ingin kita ketahui tersebut,
mulai dari keberadaannya, sifat-sifat yang disandangnya, keistimewaan
dan kekurangannya, dan begitu seterusnya sampai pada pertanyaan terakhir
apakah buah yang dapat dihasilkan oleh pengetahuan terhadap objek
tersebut. Adalah sesuatu yang pasti bahwasanya hal ini bukanlah
pekerjaan yang mudah dan dapat di lakukan oleh setiap manusia, hanya
mereka yang mencintai pengetahuan serta mau berjalan seiring dengan
kodrat yang ditentukan oleh Yang Maha Kuasa pada dirinya, dan yang mau
menggerakkan fasilitas kodrat tersebut sebagai jalan untuk mencapai
hakikat sajalah yang dapat melakukannya, sehingga pada akhirnya proses
tersebut dapat mengantarkannya kepada kebahagian dunia dan akhiratnya
kelak.
Kita beranjak dari pertanyaan yang pertama, apakah ilmu itu, dengan
kata lain apakah hakikat ilmu itu? Untuk menjawab pertanyaan pertama
ini, kita membutuhkan kepada beberapa analisa masalah. Jika kita
menengok kembali peradaban manusia mulai dari Nabi Adam as hingga
sekarang, maka kita akan menemukan begitu banyak persepektif tentang
ilmu dari para ilmuwan yang hidup sepanjang sejarah.
Terlepas dari siapakah ilmuwan tersebut, sebagian mereka
mengungkapkan bahwa ilmu adalah kebisaan seseorang untuk melakukan suatu
hal, sebagian yang lain menyatakan bahwa ilmu adalah suatu kekuatan
yang dapat mengantarkan manusia pada tujuannya dan sebagian lagi
meyakini bahwa ilmu adalah ruh yang dapat menghidupkan manusia. Masih
banyak lagi persepektif lainnya tentang definisi ilmu tersebut, sampai
pada masa kejayaan Yunani kuno, di mana kejayaan tersebut berhasil
menembus dunia Islam yang pada akhirnya melahirkan tokoh-tokoh filosof
ternama.
Apabila kita masuk kepada wilayah filosofis, yang mana akar-akar
pemikirannya banyak bergantung pada akal murni (Logical Knowledge), maka
di situpun kita akan menemukan berbagai persepektif dalam
mendefinisikan ilmu yang satu sama lain berbeda. Namun sampai sekarang
ini kalau kita kembali merujuk pada buku-buku logika, maka kita akan
menemukan definisi yang kurang lebih baku tentang ilmu, definisi
tersebut mengatakan ilmu yaitu hadirnya suatu gambaran ke dalam benak
manusia, akan tetapi definisi ini masih bisa kita diskusikan dan kita
pertanyakan kembali, apakah gambaran yang masuk ke dalam benak manusia
itu merupakan hakikat ilmu itu sendiri, atau hanya sekedar bentuk
dzhohirinya ilmu saja?
Kalu kita melihat literatur khazanah Islam, maka di situ kita akan
menemukan bahwa Islam itu sendiri membagi ilmu menjadi dua bagian, yaitu
ada hakikat (asli), dengan kata lain dzat ilmu itu sendiri, dan ada
pula dzohir atupun far’i (cabang), nah jika yang dimaksud hadirnya
gambaran sesuatu di atas tadi adalah hakikat ilmu itu sendiri, maka
konsekuensinya adalah gambaran yang masuk ke benak tadi akan membawa
manusia tersebut kepada kesempurnaan maknawi, yang mana kesempurnaan
tersebut dapat diaplikasikan di berbagai sisi kehidupan manusia. Akan
tetapi kita menemukan begitu banyak maklumat yang masuk ke benak
manusia, yang saking banyaknya sampai-sampai tidak dapat kita hitung
dengan angka nominal, tetapi gambaran (ilmu) tersebut tidak bisa
mengantarkan manusia kepada kesempurnaan, bahkan sebaliknya gambaran
(ilmu) tersebut justru mengantarkan manusia pada jurang kehancuran.
Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa gambaran yang masuk ke
dalam benak manusia bukanlah hakikat ataupun dzat ilmu, melainkan
bentuk dzohiri ataupun kulit ilmu itu sendiri, karena Islam menjelaskan
bahwa ilmu memiliki jauhar (substansi), dan jauhar tersebutlah yang
memberi arti pada ilmu sehingga manusia dengan ilmunya dapat menjadi
manusia seutuhnya yang dapat berbakti pada sesama manusia dan
meyampaikannya pada puncak kesempurnaan. Apabila jauhar tadi hilang,
maka ilmu tersebut tidaklah berarti lagi dan tidak ada bedanya dengan
kebodohan, sebagaimana Imam Ali (as) menjelaskan hal ini dalam kata
mutiara beliau:
“Berapa banyak orang alim, akan tetapi kebodohannya telah membunuhnya dan ilmu yang bersamanya tidaklah bermanfaat sama sekali”.
Dari pernyataan beliau bisa kita ambil kesimpulan bahwa ilmu adalah
sesuatu dan hakikat ilmu sesuatu yang lain. Akan tetapi apabila manusia
dapat mengaplikasikan kulit atau gambaran ilmu tersebut dengan baik maka
melalui sebuah proses maknawiah, manusia tersebut akan sampai kepada
hakikat ilmu, sekarang apa sebenarnya hakikat ilmu itu? Bagaimana
mungkin seseorang yang sudah menuntut ilmu puluhan tahun bahkan seumur
hidup tapi yang di dapat hanya kulitnya dan sama sekali tidak pernah
merasakan intisarinya!
Hakikat dan buah ilmu dalam perspektif Islam
Untuk mendapatkan definisi ilmu yang hakiki, maka kita harus merujuk
pada Sohib hakikat yang mengetahui dzohir dan batinnya segala sesuatu,
yang ilmunya tidak akan pernah salah dan tidak terbatas, karena jika
kita mengkaji ilmu mantiq (logika) kita akan menemukan bahwa sampai saat
ini bahkan sampai hari kiamat nanti, tidak ada satu manusiapun baik ia
pakar logika ataupun filosof yang dapat mendefinisikan sesuatu dengan
definisi yang hakiki kecuali para manusia suci yang merupakan
pengejawantahan ilmu Ilahi. Hal ini tidak lain dikarenakan keterbatasan
manusia dalam pengetahuan, oleh karena itulah mereka membuat suatu
konsep dengan berbagai penjelasan dan perinciannya yang sesuai dengan
daya faham yang mereka miliki dan tidak lebih dari itu! Jika kita
kembali pada nas (baik itu ayat ataupun riwayat), maka kita akan
menemukan definisi hakiki dari ilmu itu sendiri.
Kita sering mendengar hadis dari Rasulullah saww yang mana beliau bersabda: “Ilmu adalah cahaya yang Allah swt letakkan di hati hamba-Nya yang Ia iginkan.”
Jadi hakikat ilmu menurut paling sempurnanya manusia di alam jagat
raya ini adalah sebuah cahaya dan bukan gambaran sesuatu yang masuk ke
dalam benak manusia, sebagimana kita ketahui bahwa cahaya adalah suatu
zat yang suci, dan hal yang suci tidak akan bertemu dengan dengan
sesuatu yang kotor, oleh karena itu dalam proses penerimaan cahaya
diperlukan tata cara yang khusus dan tidak semua orang mempunyai potensi
untuk hal itu.
Adapun gambaran-gambaran yang masuk ke dalam benak manusia merupakan
salah satu perantara untuk menerima cahaya tersebut, yang kemudian
gambaran-gambaran tersebut direnungkan dan difahami serta diamalkan
dengan baik dan ikhlas sehingga pada akhirnya sampai pada cahaya itu
sendiri, jikalau gambaran-gambaran yang masuk ke benak manusia adalah
hakikat ilmu itu sendiri maka kita tidak akan menemukan kefasadan
(kerusakan) serta kehancuran di muka bumi ini, akan tetapi sangat
disayangkan bahwa mayoritas manusia hanya bisa mengambil gambaran ilmu
tersebut tanpa bisa merealisasikannya hingga menjadi cahaya
kesempurnaan.
Dari sinilah kita harus bisa menerima realitas dan janganlah kita
terkejut jikalau kita menemukan manusia yang bertahun-tahun menuntut
ilmu, bahkan sampai orang terkagum-kagum dengan hasil penemuannya, dan
mereka mampu menciptakan berbagai teori yang manusia di zamannya tidak
dapat mencernanya dengan baik, akan tetapi perilakunya tidak sesuai
dengan norma-norma kemanusian, dengan berbagai macam teori dan konsep
yang ia ketahui ia berani melanggar ketetapan-ketetapan agama, bahkan
sampai berani mengorbankan status sosialnya hanya karena ingin mencapai
tujuan dan manfaat pribadinya.
Kondisi yang lebih memprihatinkan kita adalah, realitas tersebut
justru menimpa mereka yang memiliki status sebagai pelajar agama, mereka
yang memiliki peran begitu besar untuk membangun kondisi spiritualitas
bangsa dan negara, kehadiran mereka sebagai pelita-pelita yang dapat
menerangi kegelapan, kemanapun mereka pergi maka di situ akan
terpancarkan cahaya sehingga manusia yang ada di sekitarnya tidak lagi
merasa kegelapan dan pada akhirnya mereka dapat menyampaikan manusia
yang berada di sekelilingnya tersebut pada tujuan mereka.
Akan tetapi apa daya dan upaya kita, ternyata realitas berbicara
lain, kita melihat dan menemukan dengan mata kepala kita sendiri bahwa
begitu banyak orang-orang yang mengaku sebagai pecinta ilmu dan
berstatus sebagai pewaris para Nabi dalam menyampaikan misi-misi suci
Ilahi, ternyata telah menyelewengkan fungsi ilmu itu sendiri. Mereka
mempelajari khazanah ilmu-ilmu Islam akan tetapi mereka tidak
mengamalkan apa yang mereka dapatkan selama masa belajarnya. Mereka
memperdalam ilmu tapi bukan untuk mencapai keridhoan Ilahi melainkan
demi mencapai tujuan dan manfaat pribadi.
Mereka pintar dan dapat mengagumkan setiap orang dalam berargumen
akan tetapi pada saat yang sama mereka melupakan jati diri mereka,
karena kepintaran mereka bukan semata-mata untuk membimbing orang lain
menuju ke jalan Allah melainkan mereka ingin mendapatkan posisi yang
sesuai dengan kecerdasan yang mereka miliki. Jika Islam mengajarkan
untuk tidak memandang kemuliaan manusia hanya dari banyak dan lamanya ia
belajar, maka hari ini realitas itu telah barubah, mereka mengukur
kemuliaan manusia hanya dari kuantitas dan lamanya ia belajar, walaupun
sering sekali kita menemukan orang-orang yang banyak dan lama belajar
cenderung meremehkan orang lain dan menganggap orang lain tidak tahu
apa-apa dan menganggap merekalah yang paling bisa.
Mereka tidak lagi memperhatikan ucapan dan garak gerik mereka yang
bertentangan dengan akhlak islami, hal inilah yang dari jauh-jauh hari
telah diperingatkan oleh Imam Shodiq as:
” Bukanlah ilmu itu dikarenakan banyaknya belajar, sesungguhnya ilmu
adalah cahaya yang mana Allah swt meletakkannya di dalam hati hamba-Nya
yang Ia inginkan”.
Hal ini merupakan khayalan orang-orang yang menganggap bahwa mereka
sudah berilmu, padahal mereka telah lalai akan hakikat dan buahnya ilmu
itu sendiri. Ilmu hakiki tidaklah membuahkan sesuatu yang lain kecuali
rasa takut pada Allah swt, sebagimana Allah menerangkan dalam Al-qur’an
bahwa buah dari ilmu yang hakiki adalah rasa takut kepada-Nya
” Sesungguhnya hanya dari hamba-hamba-Nya yang berilmu yang takut kepada-Nya”(Al-Fathir:28)
Dan jika kita merujuk kembali kepada nas, maka di situ makna hakikat
ilmu dan siapa saja yang menyandang hakikat tersebut, serta bagaimana
kriteria orang-orang yang menyandang ilmu hakiki akan semakin jelas,
sehingga kita bisa membedakan mana orang yang benar-benar berilmu dengan
orang yang berkhayal bahwa ia berilmu. Wahai para pecinta ilmu! Marilah
kita merenungi kembali apa sebenarnya hakikat ilmu itu, sehingga kita
ataupun mereka yang mengaku pecinta ilmu dan pecinta kebenaran tidak
terjerumus ke dalam jurang kehancuran yang akibat dari semua itu adalah
murka Allah swt, Rasul-Nya dan para penerusnya yang di sucikan oleh
Allah swt dari segala dosa dan kesalahan.[]
Syi’ah dan Sunni sepakat tentang keorisinilan Al Quran. Syi’ah tidak
sepakat tentang keorisinilan semua hadis sunni yang “berlabel shahih”.
Logika : Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis tetapi Cuma 7000 yang dia
anggap orisinil pasca seleksi ? Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi
dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat
buat !
Tidak ada kesepakatan sunni – syi’ah tentang keorisinilan semua hadis Nabi SAW, ini berbeda dengan masalah ayat ayat Al Quran
Karena hadis sunni tidak dihapal dan tidak dicatat sejak awal secara
sistematis, maka ahlul hadis sunni kebingungan untuk memastikan mana
hadis yang betul betul berasal dari Nabi (orisinil) dan mana hadis yang
dibuat buat…
Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi..
Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi dan meninjau ulang mana hadis
yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat antek antek raja zalim
!!
Pertanyaan :
- Apakah Bukhari maksum sehingga kitab hadisnya 100% benar ?
- Ada hadis hadis dalam kitab Bukhari yang saling bertentangan, Apakah masuk akal Nabi SAW mengucapkan sabda sabda yang saling saling berlawanan alias plin plan ??? Ingat, Nabi SAW itu maksum (infallible)
Legenda :
1. Imam Ahmad bin Hanbal yg hafal 1.000.000 hadits (1 juta hadits)
tapi hanya sempat menulis sekitar 20.000 hadits saja, maka 980.000
hadits lainnya sirna ditelan zaman ????????????? Apakah yang hilang itu
benar benar hilang atau cuma mitos legenda ???
2. Bukhari hafal 600.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya
dimasa mudanya, namun beliau hanya sempat menulis sekitar 7.000 hadits
saja pada shahih Bukhari dan beberapa kitab hadits kecil lainnya, dan
593.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman ?????? Apakah yang hilang itu
benar benar hilang atau cuma mitos legenda ???
Syi’ah dan Sunni sepakat tentang keorisinilan Al Quran. Syi’ah tidak
sepakat tentang keorisinilan semua hadis sunni yang “berlabel shahih”.
Logika : Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis tetapi Cuma 7000 yang dia
anggap orisinil pasca seleksi ? Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi
dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat
buat !
3. Albani bukan pula Hujjatul Islam, yaitu gelar bagi yg telah hafal
300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya, bagaimana ia mau hafal
300.000 hadits, sedangkan masa kini jika semua buku hadits yg tercetak
itu dikumpulkan maka hanya mencapai kurang dari 100.000 hadits.
AL Imam Nawawi itu adalah Hujjatul islam, demikian pula Imam Ghazali,
dan banyak Imam Imam Lainnya juga gemar mengedit dan meringkas ringkas
hadis…. Kenapa hadis sunni diedit dan diringkas ??? ya agar mazhab sunni
tetap tegak, segala bau syi’ah dibuang dari hadis
.
Bukhari manusia super ??? 16 tahun adalah 8.409.600 menit, jika dalam
tempo 16 tahun Bukhari mampu mengumpulkan 600 ribu hadis saja berarti
Bukhari adalah manusia super yang mampu mencari, menyeleksi dan
menshahihkan 1 hadis dalam tempo 14 menit !!! itu belum dipotong waktu
makan – shalat – tidur – perjalanan… Wow !!
60 minit x 24 jam x365hari x 16 tahun =8.409.600 minit (16 tahun)
hadis yang dikumpul 600,000 dalam tempoh 16 tahun.
8.409.600 dibahagi 600.000 =14,016 minit untuk 1 hadis
adakah imam bukhari mampu mencari,menyeleksi dan mensahihkan hadith itu dalam tempoh 14,016 minit?
itu belum ditolak waktu tidur,makan,solat,aktiviti memanah dan lain
lain.jika ditolak waktu itu mungkin masanya lagi kurang mungkin sekitar 7
minit saja masa yang tinggal.
belum dikira lagi masa perjalanan dari kota ke kota lain dalam mencari hadith.
kita selalu diberikan angka angka ini untuk mewujudkan kekaguman
kepada imam bukhari.tapi adakah angka ini betul setelah dikira
berasaskan matematik
Bukhari lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama lengkapnya
adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin
Badrdizbah Al-Ju’fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama
Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal
194 H (21 Juli 810 M). Kakeknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang
masih beragama Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk
Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-Ja’fiy.
Tempat beliau lahir kini termasuk wilayah lepasan Rusia, yang waktu
itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan Islam sesudah
Madinah, Damaskus dan Bagdad. Daerah itu pula yang telah melahirkan
filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan
ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan
lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah.
Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang
masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia
mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah, dimana di kedua kota suci itu
beliau mengikuti kuliah para guru-guru besar ahli hadits. Pada usia 18
tahun beliau menerbitkan kitab pertamanya “Qudhaya as Shahabah wat
Tabi’ien” (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien).
Bersama gurunya Syekh Ishaq, Bukhari menghimpun hadits-hadits shahih
dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadits yang diriwayatkan oleh
80.000 perawi disaring lagi menjadi 7275 hadits. Diantara guru-guru
beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain adalah Ali
bin Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf Al
Faryabi, Maki bin Ibrahim Al Bakhi, Muhammad bin Yusuf al Baykandi dan
Ibnu Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip
dalam kitab Shahih-nya.
Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya, diantaranya adalah
Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim
bin Al Hajjaj (pengarang kitab Shahih Muslim).
Penelitian Hadits
Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan
waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para
perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara
kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah,
Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari
sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali.
Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari
merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.
Namun tidak semua hadits yang ia hapal kemudian diriwayatkan,
melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat,
diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan
apakah perawi (periwayat / pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqqah
(kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan
sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami’ as-Shahih yang
dikenal sebagai Shahih Bukhari.
Kepada para perawi yang sudah jelas kebohongannya ia berkata, “perlu
dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam dari
hal itu” sementara kepada para perawi yang haditsnya tidak jelas ia
menyatakan “Haditsnya diingkari”. Bahkan banyak meninggalkan perawi yang
diragukan kejujurannya. Beliau berkata “Saya meninggalkan 10.000 hadits
yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan dan
meninggalkan hadits-hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang
diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan”.
Menurut Ibnu Shalah, dalam kitab Muqaddimah, kitab Shahih Bukhari itu
memuat 7275 hadits. Selain itu ada hadits-hadits yang dimuat secara
berulang, dan ada 4000 hadits yang dimuat secara utuh tanpa pengulangan.
Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh Muhyiddin An Nawawi dalam
kitab At-Taqrib. Dalam hal itu, Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kata
pendahuluannya untuk kitab Fathul Bari (yakni syarah atau penjelasan
atas kitab Shahih Bukhari) menulis, semua hadits shahih yang dimuat
dalam Shahih Bukhari (setelah dikurangi dengan hadits yang dimuat secara
berulang) sebanyak 2.602 buah. Sedangkan hadits yang mu’allaq (ada
kaitan satu dengan yang lain, bersambung) namun marfu (diragukan) ada
159 buah. Adapun jumlah semua hadits shahih termasuk yang dimuat
berulang sebanyak 7397 buah. Perhitungan berbeda diantara para ahli
hadits tersebut dalam mengomentari kitab Shahih Bukhari semata-mata
karena perbedaan pandangan mereka dalam ilmu hadits.
No comments:
Post a Comment