1

loading...

Wednesday, March 21, 2012

Makalah Tafsir Ayat-ayat Tentang Manusia


PEMBAHASAN


A.    SURAT AL-MU’MIN AYAT : 5
Asbabul Nuzul Surat AL-Mu’min
Abu Malik telah mengatakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Al-Harits Ibnu Qais As Sahmi.
Ibnu Abu Hatim telah mengetengahkan sebuah hadist melalui Abul Aliyah yang telah menceritakan, bahwa pada suatu hari orang-orang Yahudi dating kepada Nabi saw. Lalu mereka menyebutkan tentang Dajjal seraya mengatakan : Kelak Dajjal itu dari kalangan kami, ia akan muncul di akhir zaman, maka hati-hatilah kalian kepadanya, dan merekapun mengatakan pula, bahwasanya Dajjal itu berbuat demikian dan demikian. Maka Allah menurunkan firman-Nya :





Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alas an yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. (QS. 40 Al-Mu’min: 5)

Mereka yang memperdebatkan ayat-ayat Allah itu adalah orang-orang Yahudi. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan apa yang mereka tunggu-tunggu, yaitu perkara munculnya Dajjal.



Sebelum mereka, kaum nuh dan golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka telah mendustakan Rasulullah dan tiap-tiap umat telah merencanakan makar membantah dengan alasan yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu aku azab mereka. Maka betapa (Pedihnya) azabku-Ku?




Al -  Jadal        :
Pembantahan sengit dalam perdebatan



Taqallubuhum :
Tindakan-tindakan orang kafir dalam negeri untuk melakukan perdagangan dan mencari penghidupan



Al-Ahzab         :
Kelompok-kelompok yang membentuk pasukan-pasukan dan bersekutu untuk memusuhi Rasul-rasul Allah.

Hammat           :
Bertekat


Ya’khuzuhu     :
Mereka membunuh dan menyiksa Rasul.
Pengertian Secara Umum
Setelah Allah SWT. Menerangkan bahwa Al-Qur’an ini adalah sebuah kitab yang telah Dia turunkan untuk memberi petunjuk kepada umat manusia agar mereka bahagia di dunia dan akhirat manakala melaksanakan petunjuk-petunjuk-Nya, maka dilanjutkan dengan tujuan menyebutkan ihwal orang yang memperdebatkan Al-Qur’an dengan tujuan membatalkan dan menyembunyikan cahayanya. Kemudian, Allah SWT. Membimbing Rasul-Nya agar jangan sampai terpedaya dengan ikhwal orang-orang yang memperdebatkan itu, dan jangan terpedaya dengan dibiarkannya mereka dalam keadaan sehat, baik tubuh maupun harta benda mereka. Mereka bertindak bebas dalam negeri untuk melakukan perdagangan karena luasnya rizki dan dapat menikmati perhiasan dunia. Karena sesungguhnya Allah akan bertindak terhadap mereka sebagai Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Kuasa, sebagaimana yang pernah Allah lakukan terhadap umat-umatterdahulu seperti mereka, yaitu orang-orang yang mendustakan Rasul-rasul mereka,

B.     Sutrat At-Tin ayat 1-6
Surat At-Tin (Buah Tin)

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang


(1)   Demi Buah tin, demi buah zaitun.


(2)   Demi gunung Sinai


(3)   Demi Negeri yang aman ini



Penafsiran
Dalam ayat yang pertama; "Demi buah tin, demi buah Zaitun."(ayat 1). Terdapat berbagai tafsiran. Menurut Mujahid dan Hasan, kedua buah-buahan itu diambil jadi sumpah oleh Tuhan untuk diperhatikan. Buah TIN diambil sumpah karena dia buah yang terkenal untuk dimakan, buah ZAITUN karena dia dapat ditempa dan diambil minyaknya. Kata. -Qatadah: Tin adalah nama sebuah bukit di Damaskus dan Zaitun nama pula dari sebuah bukit di Baitul­ Magdis." Tandanya kedua negeri itu penting untuk diperhatikan. Dan rnenurut sebuah riwayat pula, yang diterima dari Ibnu Abbas, "Tin adalah mesjid yang mula didirikan oleh Nuh di atas gunung al- Judi, dan Zaitun adalah Baitul maqdis”
Banyak ahli tafsir menyatakan bahwa kepentingan kedua buah-buahan itu sendirilah yang menyebabkan keduanya diambil jadi sumpah. Buah Tin adalah buah yang lunak lembut, kemat, hampir berdekatan rasanya dengan buah serikaya yang tumbuh negeri kita dan banyak sekali tumbuh di Pulau Sumbawa. Zaitun masyhur karena minyaknya.
Demi Gunung Sinai. “ayat 2. di ayat ini disebutkan namanya Thurisinia, disebut juga Thursina. Disebut juga Sinai dan disebut juga Thur saja.
Kita kenal sekarang dengn sebutan Semenanjung Sinai.
“Demi negeri yang aman ini.”(ayat 3). Negeri yang aman ini ialah Makkah, tempat ayat ini drturunkan. Sebab itu dikatakan “INI”.
Berkata Ibnu Katsir:  Berkata setengah imam-imam: Inilah tiga tempat, yang di masing-masing tempat itu Allah telah membangkitkan Nabi-nabi utusan-Nya, Rasul-rasul yang terkemuka ; mempunyai syariat yang besar-besar. Pertama tempat yang di sana banyak tumbuh Tin dan Zaitun. Itulah Baitul-Maqdis. Disanalah Tuhan mengutus Isa bin Maryam `alaihis-salam.
Kedua :  Thurisinina yaitu Thurisina, tempat Allah bercakap-cakap dengan Musa bin Imran, `alaihis-salam’.
Ketiga: Negeri yang aman, yaitu Makkah. Barang siapa yang masuk kesana, terjaminlah keamanannya. Di sanalah diutus Tuhan Rasul-Nya Muhammad s.a.w.
Sesungguhnya telah kami ciptakan manusia itu atas sebaik-baiknya pendirian.

Kemudian itu. Kami jatuhkan dia kepada serendah-rendahnya yang rendah

Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Maka untuk mereka adalah ganjaran yang tiada putus-putus.

“Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia itu, atas sebaik-baik pendirian (ayat 4)”.
Ayat inilah permulaan dari apa yang telah Allah mulaikan lebih dahulu dengan sumpah.
Yaitu_bahwasanya di antara makhluk Allah di atas permukaan bumi ini manusialah yang diciptakan oleh Allah dalam sebaik-baik bentuk ; bentuk lahir dan bentuk batin. Bentuk tubuh dan bentuk nyawa. Bentuk tubuhnya melebihi keindahan bentuk tubuh hewan yang lain. Tentang ukuran dirinya tentang manis air-mukanya, sehingga dinamai basyar, artinya wajah yang mengandung gembira. sangat berbeda dengan binatang yang lain. Dan manusia diberi pula diberikan akal, Bukan semata-mata nafasnya yang turun naik. Maka dengan perseimbangan sebaik-baik tubuh dan pedoman pada akalnya itu dapatlah dia hidup di permukaan bumi ini menjadi pengatur. Kemudian itu Tuhan pun mengutus pula Rasul-rasul membawakan petunjuk bagaimana caranya menjalani hidup ini supaya selamat.
"Kemudian itu, Kami jatuhkan dia kepada serendah- rendah yang rendah,” (ayat 5).
Demikianlah Allah mentakdirkan kejadian manusia itu. Sesudah lahir ke dunia, dengan beransur tubuh menjadi kuat dan dapat berjalan, dan akal pun berkembang, sampai dewasa, sampai di puncak kemegahan umur. Kemudian itu beransur menurun badan tadi, beransurlah tua. Beransur badan lemah dan fikiran mulai pula lemah, tenaga mulai berkurang, sehingga mulai rontok gigi, rambut hitam berganti dengan uban, kulit yang tegang menjadi kendor, telinga pun beransur kurang pendengarannya, dan mulailah pelupa. Dan kalau umur itu masih panjang juga mulailah padam kekuatan akal itu samasekali, sehingga kembali seperti kanak-kanak, sudah minta belas kasihan anak dan cucu. Malahan ada yang sampai pikun tidak tahu apa-apa lagi. lnilah yang dinamai                 “Ardzalil umur” ; tua nyanyuk. Sehingga tersebut di dalam salah   satu doa yang diajarkan Nabi s.a.w agar kita memohon juga kepada Tuhan satu doa jangan sampai dikembalikan kepada umur sangat tua (Al harami) dan pikun itu.
"Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih. " (pangkal ayat 6). Menurut tafsir dari ibnu Jarir: "Beriman dan beramal shalih di waktu badan masih muda dan sihat. Maka untuk mereka adalah ganjaran yang tiada putus-putus. ujung ayat 6):
Doa yang diajarkan Nabi s.a.w. itu ialah:




Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dan ada bakhil dan pemalas, dan tua dan kembali pikun dan dari pada siksa kubur dan fitnah Dajjal dan fitnah hidup dan fitnah mati.” (Riwayat Bukhari daripada Anas bin Malik)
Menurut keterangan Saiyidina Ali bin Abu Thalib kembali kepada umur tua renta ardzalil- umur itu ialah tujuh lima tahun.
Di dalam al- Qur’an umur tua renta ardzalil-`umur itu sampai bertemu dua  kali. Yaitu ayat 70 dari Surat an- Nah1(lebah) Surat 16 dan Surat al-Haj, (22) ayat : 5.
Ketika menafsirkan Ardzalil-umur itu terdapatlah satu tafsi dari Ibnu Abbas demikian bunyinya : “Asal Saja dia taat kepada Allah di masa-masa mudanya jua. Dan tidaklah dia akan dianggap berdosa atas perbuatannya di waktu akalnya tidak ada lagi waktu itu. Sebab dia adalah beriman. Dia adalah taat kepada A11ah di masa mudanya.”

C.    Surat Al-A’raf ayat 175-176



dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami anugrahkan kepadanya ayat-ayat kami kemudian dia menguliti dirinya maka dia diikuti oleh setan sehingga jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat
Ulama menjadikan ayat ini sebagai perumpamaan bagi setiap orang yang telah mengetahui kebenaran dan memilikinya, tetapi enggan mengikuti tuntunan kebenaran bahkan menyimpang darinya, tetapi enggan mengikuti tuntunan kebenaran bahkan menyimpang darinya. Ada juga yang memahami ayat ini sebagai peristiwa seorang tertentu, yang hendaknya menjadi pelajaran bagi manusia. Yang bersangkutan telah dianugrahi Allah swt. Pengetahuan tetapi sedikit demi sedikit mengabaikan pengetahuannya dan terjerumus dalam kesesatan.
Ayat ini merupakan perumpamaan bagi setiap orang yang telah mengetahui kebenaran kemudian menolaknya.
Kata (               ) insalakhal/menguliti terambil dari kata (            ) salakha yaitu membeset atau mengupas kulit sesuatu sehingga terpisah secara penuh kulit dan daging/isi sesuatu.
Firman-Nya : (                               )  fa atba’abu asy-syaithan ada yang memahaminya dalam arti dia diikuti sehingga terkejar oleh setan lalau menggodanya sehingga dia terjerumus. Ada juga yang memahaminya, bahwa yang bersangkutan demikian bejat dan durhaka, maka setan sang pendurhaka itu yang mengikutinya, bukan  dia yang mengikuti setan.
Firman-Nya : (                               ) fakana minal Ghawin/sehingga jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat menunjukkan bahwa kesesatannya sudah demikian jauh sehingga ia telah wajar dimasukkan dalam kelompok itu.
Kata (                    ) al-ghawin terambil dari kata (                       ) al-Ghayy, yakni kesesatan. Penggalan ayat ini mengisaratkan bahwa yang bersangkutan telah tersesat dan keluar dari jalur yang benar, karena ia melupakan/meninggalkan arah dan tujuan yang harus dicapainya.
“Dan sekiranya kalau kami menghendaki, Sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.”
Yat ini menguraikan keadaan siapapun yang melepaskan diri dari pengetahuan yang telah dimilikinya. Allah swt, menyatakan bahwa dan sekiranya kami menghendaki, pasti kami menyucikan jiwanya dan meninggalkan derajatnya dengannya, yakni melaui pengalamannya terhadap ayat-ayat itu, tetapi ia mengekal, yakni cenderung menetap terus-menerus di dunia menikmati gemerlapnya serta merasa bahagia dan tenang mengahdapinya dan menurutkan dengan penuh antusias hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya adalah seperti anjing yang selalu menjulurkan lidahnya dan jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya juga. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah kepada mereka dan siapapun kisah-kisah itu agar mereka berfikir sehingga tidak melakukan apa yang dilakukan oleh yang dikecam ini. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Karena mereka mengabaikan tuntunan pengetahuan bahkan berbuat zalim dan terhadap diri mereka sendirilah bukan terhadap orang lain- mereka terus menerus berbuat zalim.

D.    Surat Al-Imron Ayat 102



“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”
Untuk menjamin tidak terulangnya peristiwa diatas, serta membentengi kaum muslimin dari maker dan tipu daya lawan, maka orang-orang yang beriman diberi petunjuk oleh lanjuttan ayat di atas, yakni firman-Nya : bertakwalah kepada Allah sebenarbenar takwa kepada-Nya; jauhi seluruh larangan-Nya dan ikuti seluruh perintah-Nya sampai pada batas akhir kemampuan kamu, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan berserah diri kepada Allah, yakni memeluk Agama Islam.
Sementara sahabat Nabi saw. Memahami arti    (                     ) haqqa tuqqatihi dalam arti menaati Allah dan tidak sekali pun durhaka, mengingat-Nya dan tidak dan tidak sesaat pun lupa, serta mensyukuri nikmat-Nya dan satu pun yang diingkari. Demikian penafsiran sahabat Nabisaw., ‘Abdullah Ibn Mas’ud’.
Ayat Al-Imran ini menjelaskan batas akhir dari puncak takwa yang sebenarnya, sedang ayat at-Taqhabun berpesan agar tidak meninggalkan takwa sedikitpun, karena setiap orang pasti memiliki kemampuan untuk bertakwa, dan tentu saja kemampuan itu bertingkat-tingkat. Yang penting bertakwalah sepanjang kemampuan, sehingga jika puncak dari taqwa yang dijelaskan diatas dapat diraih, maka itulah yang ditambahkan, tetapi bila tidak, maka Allah tidak membebani seorang melebihi kemapuannya. Dengan demikian, melalui ayat Al-Imran ini, semua dianjurkan untuk berjalan pada jalan takwa, semua diperintahkan berupaya menuju puncak, dan masing- masing selama berada dijalan itu, akan memperoleh anugrah sesuai hasil usahanya.

E.     Surat Al-Isra’ : Ayat : 70



Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan.

Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam itu, (Pangkal 70)
Banyak sekali kemuliaan yang diberikan kepada Anak Adam. Yang terutama ialah dia diberi akal dan fikiran, diberi khayal untuk memikirkan zamannya yang lampau. Yang sekarang dan zaman depan; dan diberi dia ilham. Ath-Thabari mengatakan : “manusia makan dengan jarinya. Tidak mulutnya yang langsung tercecah ke tanah.” Adh-Dhahhak mengatakan : “Manusia pandai berkata-kata dan membedakan” Atha’ mengatakan : “Tegak manusia lurus” yaman mengatakan : “Rupa manusia cantik !” Ath-Thabari mengatakan : “Manusia dapat memerintah segala Makhluk.” “Dan kami beri mereka kendaraan di darat dan di laut. ”Kendaraan dilaut sejak dari biduk, sekunar, jung, perahu, bahtera sampai kepada kapal yang modern-modenya. Sebagai yang telah disebutkan di ayat-ayat yang lalu. Alamat sayang Allah kepada manusia.” Di darat ada kuda. Dan ada kendaraan Modern. Sampai kepada kendaraan di udara. “dan kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan” (Ujung ayat 70).
Seber-benarnya kelebihan  itu dapat dilihat pada kemajuan hidup manusia, bertambah lama bertambah maju, dari gua batu, sampai bertani, menangkap ikan dan sampai berniaga dari pulau ke pulau, benua ke benua dan sampai terbang di udara, menyelam di laut dan di zaman mutakhir ini telah mencapai bulan.



DAFTAR PUSTAKA

-          Katsier, Ibnu. Terjemahan singkat tafsir. Jilid II. Surabaya, bina Ilmu 1967
-          Mustafa Ahmad. Tafsir Al-Maragi, Semarang. Toha Putra 1993
-          Jalaluddin Imam, Tafsir Jalaluddin, Bandung, Sinar Baru. 1990
-          Quraish Shihab, tafsir Al-Misbah, Jakarta. Lentera hati 2002





KATA PENGANTAR

Alhamdulillah Puji Syukur Penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunianya yang dilimpahkan kepada kita semua, shalawat serta salam semoga senantiasa di tunjukkan kepada nabi Muhammad SAW, atas ridho Allah SWT penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Tidak lupa penulis mengucapkan maaf karena dalam pembuatan makalah ini, masih banyak kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran guna perbaikan makalah ini, yang diharapkan dapat memberi manfaat bagi kita semua…. Amin.





















DAFTAR ISI

Halaman Judul.........................................................................................        i
Kata pengantar........................................................................................        ii
Daftar isi..................................................................................................        iii
 PEMBAHASAN...................................................................................        3
  1. Surat Al-Mu’minun ayat 5..........................................................        1
  2. Surat At-Tiin 1-6.........................................................................        3
  3. Surat Al-A’raaf 175-176.............................................................        6
  4. Surat Ali-Imran ayat 102.............................................................        8
  5. Surat Al-Isra ayat 70...................................................................        9
  6. Fungsi masjid..............................................................................        5

DAFTAR PUSTAKA



No comments:

Post a Comment