1

loading...

Saturday, March 24, 2012

Pengendalian Hama Penyakit Cabe.

Pengendalian Hama Penyakit Cabe


PERTANYAAN:
Pengendalian Hama Penyakit.
” Pak SUKAM, Saya menanam cabe rawit bangkok dengan sistem organik dari pupuk dan pestisidanya, tapi kendalanya yg namanya walang banci datang terus, dengan resep apa untuk mengatasi binatang tersebut, terimakasih ”
”Batang cabai bagian bawah tidak ada kulitnya, kenapa ya apa dimakan ulat, gasir? & bagaimana solusinya”
”Obat apa yang mujarap untuk ulat ya suka makan daun cabe dan cabe ?
”Bagaimana cara membrantas lalat buah pada cabe besar”
“Bagaimana cara mngatasi wereng dan apa pestisidanya pada cabe”
JAWABAN:
Hama Cabe dan cara pengendaliannya : 
  1. Lalat Tanah (Agrotis ipsilon), biasa menyerang tanaman cabe yang baru pindah tanam, yaitu dengan cara memotong batang utama tanaman hingga roboh bahkan bisa sampai putus. Pengendalian ulat tanah secara mekanis dilakukan dengan mengumpulkan dan kemudian memusnahkannya. Bila populasi ulat tanah tinggi, tanaman disemprot dengan insektisida Curacron 500 EC, Desis 2,5 EC.Untuk tindakan pencegahan dapat dilakukan penyemprotan insektisida Turex WP dengan konsentrasi 0,25 – 0,5 g/liter bergantian dengan insektisida Direct 25ec dengan konsentrasi 0,4 cc/liter atau insentisida Raydok 28ec dengan konsentrasi 0,25-0,5 cc/liter sehari sebelum pindah tanam.
  2. Ulat grayak (S. litura) pada tanaman cabe biasa menyerang daun, buah dan tanaman yang masih kecil. Untuk tindakan pengendalian dianjurkan menyemprot pada sore atau malam hari dengan insektisida biologi TurexWP bergantian dengan insektisida Pentacron 500 EC atau insektisida Posban 200 EC, atau insektisida yang lainnya.Sex pheromone, yaitu perangkap ngengat (kupu-kupu) jantan. Sex pheromone merupakan aroma yang dikeluarkan serangga betina dewasa yang dapat menimbulkan rangsangan sexual (birahi) pada serangga jantan dewasa untuk menghampiri dan melakukan perkawinan sehingga membuahkan keturunan. Salah satu jenis sex pheromone yang ada di Indonesia adalah "Ugratas" (buatan Taiwan) atau Ulat Grayak Berantas Tuntas berwarna "merah" sangat efektif untuk dijadikan perangkap kupu-kupu dewasa dari ulat grayak (S. litura). Cara pemasangan Ugratas merah ini adalah dimasukkan ke dalan botol bekas aqua volume 500 cc yang diberi lubang kecil untuk tempat masuknya kupu-kupu jantan. Untuk 1 hektar kebun cabai cukup dipasang 5-10 buah Ugratas merah, dengan cara digantungkan sedikit lebih tinggi di atas tanaman cabai. Daya tahan (efektivitas) Ugratas ini + 3 minggu, dan tiap malam bekerja efektif sebagai perangkap ngengat jantan. Keuntungan penggunaan Ugratas ini antara lain : aman bagi manusia dan ternak, tidak berdampak negatif terhadap lingkungan, dapat menekan penggunaan insektisida, tidak menimbulkan kekebalan hama, dan dapat memperlambat perkem-bangan hama tersebut.
  3. Lalat buah (B.ferruginous). Lalat buah gejala awalnya adalah buah berlubang kecil, kulit buah menguning dan kalau dibelah biji cabe berwarna coklat kehitaman dan pada akhirnya buah rontok. Pengendalian diawali dengan memusnahkan buah yang terserang. Selanjutnya dapat dilakukan dengan memasang trap (perangkap) berupa botol aqua besar yang didalamnya diberi kapas yang mengandung sexferomon petrogenol. Bau petrogenol itu mirip seperti bau lalat buah betina yang sedang birahi, sehingga akan menarik lalat buah jantan untuk masuk dan terperangkap didalam botol. Akibatnya, lalat betina yang masih hidup bebas diluar akan menjadi mandul, sehingga perkembangannya terhenti.Untuk setiap hektar dipasang 20-40 trap. Apabila masih ditemukan serangan, tanaman dapat disemprot dengan insektisida Pentacron 500 EC, bergantian dengan insektisida Curacron 500 EC, atau dengan insektisida Decis 2,5 EC. Penyemprotan harus dilakukan sesuai petunjuk penggunaan pestisida yang aman.
  4. Hama Tungau atau mite menyerang tanaman cabe hingga daun berwarna kemerahan, menggulung ke atas, menebal akhirnya rontok. Untuk pengendalian dan pencegahan semprot dengan akarisida Samite 135EC dengan konsentrasi 0,25 – 0,5 ml / liter air bergantian dengan insektisida Posban 200 EC.
  5. Trips. Tanaman yang terserang hama thrips, bunga akan mengering dan rontok. Sedangkan apabila menyerang bagian daun pada daun terdapat bercak keperakan dan menggulung. Jika daun terserang aphids, daun akan menggulung kedalam, keriting, menguning dan rontok. Untuk pencegahan dan pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan dua cara :
    • Lakukan penyemprotan dengan pestisida organik secara kontinyu, seminggu sekali. Pestisida organik dapat dibuat sendiri dengan ”resep” : daun Suren 0,5 kg, daun Mahoni 0,5 kg, daun Sirsat 0,5 kg, daun kayu manis 0,5 kg, sirih 1 ikat, Serai harum 5 batang. Semua bahan tersebut ditumbuk hingga halus. Lalu rendam dalam air kencing (urine) kambing 5 liter. Tambahkan garam dapur 1 ons dan aduk sampai merata. Diamkan selama 3 x 24 jam, lalu disaring, ampasnya dibuang, pestisida siap digunakan. Penggunaannya : larutkan 0,5 lt pestisida organik itu pada 10 liter air, lalu semprotkan pada tanaman yang terserang trips hingga merata, terutama dibagian bawah daun. Trips tidak langsung mati, tetapi silahkan diamati tiga hari setelah disemprot. Kalau masih ada sisa hama Trips, silahkan disemprot lagi. Selain mengendalikan trips, pestisida organik itu juga memupuk tanaman. 
    • Apabila serangannya berat dan belum terkendali dengan pestisida organik, lakukan penyemprotan dengan insektisida, seperti Marcis, Pentacron 500 EC, dsb. .
  6. Kutu daun (M.persicae) dikendalikan dengan memasang Yellow trap sebanyak 40 trap/ha. Selain itu, dapat dikendalikan juga dengan menggunakan pestisida organik seperti pada pengendalian trips diatas. Apabila serangannya berat dan belum terkendali dengan pestisida organik, tanaman dapat disemprot dengan insektisida Pentacron 500 EC.
  7. Nematoda puru akar, merupakan organisme pengganggu tanaman yang menyerang daerah perakaran tanaman cabe. Jika tanaman terserang maka transportasi bahan makanan terhambat dan pertumbuhan tanaman terganggu. Selain itu kerusakan akibat nematode dapat memudahkan bakteri masuk dan mengakibatkan layu bakteri. Pencegahan yang efektif adalah dengan menanam varietas cabe yang tahan terhadap nematode dan melakukan penggiliran tanaman. Dan apabila lahan yang ditanami merupakan daerah endemi, pemberian nematisida (Jordan 5 GR, Furadan 3 G atau lainnya) dapat diberikan bersamaan dengan pemupukan.
  8. Hama pengisap daun (T.palmi)dikendalikan dengan memasang White Trap sebanyak 40 Trap/ha. Selain itu, dapat dikendalikan juga dengan menggunakan pestisida organik seperti pada pengendalian trips diatas. Apabila serangannya berat dan belum terkendali dengan pestisida organik, tanaman dapat disemprot dengan insektisida Pentacron 500 EC.
  9. Hama lain seperti belalang, ulat jengkal (Plusia calsites) dan lainnya yang menyerang daun dikendalikan dengan insektisida setelah mencapai ambang ekonomi. Untuk hama tikus, 
  10. Pestisida Hayati (biologis). Selain pestisida kimia, pengendalian hama terutama ulat dan belalang dapat juga menggunakan pestisida hayati, yaitu disemprot dengan insektisida berbahan aktif Bacilus thuringiensis seperti Dipel, Florbac, Bactospeine, dan Thuricide. 
Penyakit penting Tanaman cabe.
  1. Rebah semai ( dumping off ) . Penyakit ini biasanya menyerang tanaman saat dipersemaian. Jamur penyebabnya adalah Phytium sp. Untuk tindakan pencegahan dapat dilakukan perlakuan benih dengan Saromyl 35SD dan menyemprot fungisida sistemik Kudanil 75 WP saat dipersemaian dan saat pindah tanam.
  2. Penyakit anthracnose buah, disebabkan oleh jamur Coletroticum capsii. Penyakit antracnose sering disebut sebasgai penyakit patek oleh kalangan petani. Gejala awalnya adalah kulit buah akan tampak mengkilap, selanjutnya akan timbul bercak hitam yang kemudian meluas dan akhirnya membusuk. Untuk pengendaliannya, ada beberapa hal yang perlu dilakukan:
    1. Sejak awal pertanaman, siapkan lahan dengan baik, pH netral dan selalu bersih terus menerus selama pertanaman, tidak ada air tergenang disaluran air kebun. 
    2. Berikan pupuk berimbang, dimulai dengan pupuk organik yang ”matang” ditambah pupuk kimia yang seimbang N-P-K, Ca – Mg – S, dan unsur mikro. Dimusim hujan hindari penggunaan pupuk Urea sebagai sumber N. Jangan memberikan pupuk berlebihan. 
    3. Lakukan pengamatan setiap hari. Bila ditemukan ada gejala awal patek dibuah cabe, ambil semua cabe yang terserang lalu musnahkan dengan cara dibakar atau dibenam ketanah sedalam > 60 cm. 
    4. Kalau masih ada tanda serangan didaun atau batang, lakukan penyemprotan dengan fungisida Pentacur 722 AS dengan konsentrasi sesuai petunjuk pada label. Penyemprotan fungisida sebaiknya bergantian jenis dengan fungisida lain yang digunakan, sampai tanaman sembuh. Lakukan penyemprotan dengan baik dan benar.
  3. Penyakit busuk tanaman, disebabkan oleh jamur Phytopthora. Gejalanya adalah bagian tanaman yang terserang terdapat bercak coklat kehitaman dan lama kelamaan membusuk. Penyakit ini dapat menyerang tanaman cabe pada bagian daun, batang maupun buah. Pengendaliannya adalah dengan menyemprot fungisida Pentacur 722 AS bergantian dengan fungisida Kudanil 75 WP (sistemik) atau lainnya.
  4. Penyakit layu fusarium. Disebabkan oleh jamur Fusarium capsii. Pada tanaman cabe biasanya mulai menyerang tanaman saat fase generatif. Serangan biasanya pada bagian pangkal batang, sehingga apabila serangan jamur sampai melingkari batang, tanaman akan menjadi lalu permanen atau mati. Untuk mencegahnya dianjurkan penyiraman Kudanil 75 WP pada lubang tanam dengan konsentrasi 5 gram/liter/lima tanaman, mulai saat tanaman menjelang berbunga dengan interval 10 sampai 14 hari.
  5. Penyakit layu bakteri. Disebabkan oleh Bacterium solanacearum. Penyakit ini dapat menyerang sejak dipesemaian, sehingga penangannya dimulai dari saat bibit masih dipesemaian. Beberapa langkah pengendalian yang dilakukan adalah:
    1. Lakukan prinsip budidaya tanaman sehat, mulai dari persiapan lahan yang bukan bekar tanaman famili terong-terongan. Tanah subur, pupuk berimbang, jangan menggunakan Urea sebagi sumber N, dan pH netral. Hindarkan mengairi tanaman yang bersumber dari air yang melewati kampung atau pasar. 
    2. Media pesemaian sehat, sehari sebelum pindah tanam, celupkan bibit beberapa menit kelarutan bakterisida (Agrep, Agrimycin dsb).
    3. Lakukan pengamatan pertanaman tiap hari. Biasanya tanaman rentan terserang bakteri saat menjelang berbunga. Kenali gejala awalnya, yang biasanya dapat dilihat saat panas terik, tanaman layu sementara dan sorenya segar kembali. Lakukan pengocoran bakterisida ditanaman itu dan beberapa tanaman disekitarnya, beberapa kali sampai gejala layu tidak berkembang lagi. 
  6. Penyakit bercak daun cabe disebabkan oleh cendawan Cercospora capsici. Gejalanya berupa bercak bercincin, berwarna putih pada tengahnya dan coklat kehitaman pada tepinya. Pencegahannya dapat dilakukan dengan menyemprot fungisida Pentacur 722 AS bergantian dengan fungisida Kudanil 75 WP atau lainnya sesuai dengan kondisi serangan.Khusus penyakit cabe yang sekarang sedang ”populer”, yaitu penyakit virus kuning atau bule, banyak kasus yang dialami petani diberbagai daerah. Wilayah penyebaran penyakit yang belum ada obatnya itu sudah begitu luasnya. 
  7. Penyakit mozaik virus. Penyakit ini dilapangan dikenal dengan ”penyakit virus kuning”. Penyebab dari penyakit ini adalah virus. Para ahli sampai sekarang bahkan belum dapat menentukan apakah virus itu termasuk makhluk hidup atau bukan. Karena virus memiliki sifat yang tidak dimiliki makhluk hidup umumnya. Virus dapat dikristalkan, lalu setelah kristal dihancurkan, virus akan aktif kembali.

    Virus dapat bertahan dan aktif ditanah hingga puluhan tahun. Virus tertentu dapat bertahan pada suhu 120 derajat Celsius, melebihi titik didik air. Virus menyerang tanaman atau mkhluk hidup lain dengan cara masuk kedalam sel, lalu larut dalam larutan sel dan makan protein yang menjadi penggerak utama kehidupan sel. Sel yang terserang menjadi keriput dan lama-lama mati. Kalau serangan itu merajalela kebeberapa sel, jadinya tanaman menjadi keriput, atau pada tanaman tertentu seperti cabe dapat disebut ”kriting”. Selain daun kriting, bagian sel yang terserang mati dan hilang hijau daunnya sehingga daun berubah warna menjadi kuning. Daun yang kuning tidak dapat melaksanakan asimilasi sehingga pertumbuhan tanaman terhambat.
    Saat ini belum ada pestisida yang mampu mengendalikan penyakit mozaik virus ini. Sebagai tindakan pengendalian dapat dilakukan penyemprotan terhadap hewan pembawa virus (vektor) tersebut yaitu insektisida aphids dengan menyemprot insektisida Marcis 25 EC bergantian dengan Kempo 400 SL, Pentacorn 500 EC atau lainnya. Kalau vektornya adalah akarina (kutu daun berkaki delapan) kendalikan dengan akarisida Samite 135EC. Untuk mengurangi gangguan penyakit yang belum ditemukan obatnya ini, beberapa ujicoba telah dilakukan, termasuk penggunaan tanaman pagar pembatas (border) yang mengelilingi kebun cabe.

    Tanaman pembatas itu berfungsi ”menghalangi/menghambat/mengurangi” peredaran aphids kekebun cabe. Beberapa tanaman yang terlihat ada pengaruh positif yang dapat digunakan untuk borders adalah jagung yang ditanam tiga baris zig-zag mengelilingi kebun. Namun karena umur jagung lebih pendek dari cabe, kadang saat jagung tua, border menjadi tidak rapat, sehingga aphids penular virus ada yang menerobos masuk kebun cabe, sehingga dapat terjadi serangan virus ini. Selain border tanaman, dapat digunakan border dari jaring penutup (sreen) yang memiliki lobang lebih kecil dari 0,5 mm. Sekarang screen itu sudah banyak digunakan oleh petani-petani modern diluar negeri. Beberapa petani dalam negri didaerah Lembang – Bandung, daerah Kecamatan Ngablak, Pakis – Kabupaten Magelang telah menggunakan screen itu. Screen yang memiliki daya tahan hingga empat tahun itu, cukup efektif dan menguntungkan. Serangan virus kuning akan berkurang didataran tinggi lebih dari 800 m dpl, karena aphids penular (vektor) kurang nyaman hidup didataran tinggi.
    Untuk pencegahan serangan hama penyakit, gunakan benih cabe yang sehat dan bibitnya diberi diberi perlakuan pestisida sebelum tanam. Apabila terjadi serangan atau untuk tujuan pencegahan lakukan aplikasi pestisida sesuai jenis hama dan penyakit yang menyerang.
Soekam Parwadi, 5 Januari 2012.

No comments:

Post a Comment