Kamis, 01 November 2018

MAKALAH EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM

MAKALAH EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang   
Pendidikan adalah upaya sadar dan tanggung jawab untuk memelihara ,membimbing dan mengarah kan pertumbuhan dan perkembangan kehidupan peserta didik  ,agar ia memiliki makna dan tujuan hidup yang hakiki.Sementara proses pendidikan bertujuan  untuk menimbulkan perubahan perubahan yang diinginkan pada setiap peserta didik.
Perubahan perubahan yang diinginkan pada peserta didik meliputi tiga bidang yaitu(1)tujuan yang personal dan yang berkaitan dengan individu-individu yang sedang belajar untuk terjadinya perubahan yang diinginkan ,baik perubahan tingkah laku ,aktivitas dan pencapai nya ,serta pertumbuhan yang diingini pada peserta didik ;(2)tujuan sosial yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat  sebagai unit sosial berikut dengan dinamika masyarakat umumnya;(3)tujuan tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu,seni dan profesi.proses pendidikan yang dimaksud tidak terlepas dari beberapa komponen yang mendukung.salah satu nya komponen yang urgen dalam melihat keberhasilan pendidikan adalah evaluasi.

1.2 Rumusan Masalah   
Ø Menjelaskan pengertian evaluasi dalam pendidikan islam?
Ø Menjelaskan tujuan evaluasi dalam pendidikan islam?
Ø Menjelaskan fungsi evaluasi dalam pendidikan islam?
Ø Menganalisa prinsip-prinsip evaluasi dalam pendidikan islam?
Ø Apa jenis-jenis evaluasi dalam pendidikan islam?
Ø Bagaimana prosedur evaluasi dalam pendidikan islam?




1.3 Tujuan Penulisan
Ø  Pembaca mampu memahami evaluasi dalam pendidikan islam
Ø  Pembaca mampu memahami fungsi dan tujuan evaluasi dalam pendidikan islam
Ø  Pembaca mampu mengetahui jenis-jenis evaluasi dalam pendidikan islam

BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN EVALUASI
     Secara harfiah kata evaluasi berasal dari bahasa Ingris evaluation; dalam bahasa Arab at-Taqdir; dalam bahasa Indonesia berarti: penilaian. Dalam pendidikan terjadi proses belajar mengajar yang sistematis, yang terdiri dari banyak komponen. Masing-masing komponen pengajaran tidak bersifat terpisah atau berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus berjalan secara teratur, saling bergantung dan berkesinambungan. Dalam system pengajaran terjadi proses belajar mengajar secara sistematis yang terdiri dari banyak komponen. Masing-masing komponen pengajaran tidak bersifat terpisah atau berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus berjalan secara teratur, saling bergantung dan berkesinambungan untuk mencapai suatu tujuan. Sebuah system tidak bisa berjalan secara sendiri-sendiri demi untuk mencapai suatu tujuan, karena system adalah satu kesatuan komponen yang satu sama lain saling berkaitan dan saling berinteraksi untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan secara optimal sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.[1]
     Proses belajar mengajar pada dasarnya adalah interaksi yang terjadi antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. Guru sebagai pengarah dan pembimbing, sedang siswa sebagai orang yang mengalami dan terlibat aktif untuk memperoleh perubahan yang terjadi pada diri siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar, maka guru bertugas melakukan suatu kegiatan yaitu penilaian atau evaluasi atas ketercapaian siswa dalam belajar. Selain memiliki kemampuan untuk menyusun bahan pelajaran dan keterampilan menyajikan bahan untuk mengkondisikan keaktifan belajar siswa, guru diharuskan memiliki kemampuan mengevaluasi ketercapaian belajar siswa, karena evaluasi merupakan salah satu komponen penting dari kegiatan belajar mengajar. Adapun dari segi istilah, sebagaimana dikemukakan oleh:

Ø  Edwind Wandt dan Gerald W.Brown
Menurut definisi ini, maka istilah evaluasi itu menunjuk kepada atau mengandung pengertian: suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.[2]
Ø  Bloom et,al (1971)
Evaluasi sebagaimana kita lihat, adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa.[3]
Ø  Stufflebeam (1971)
Evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan.[4]
Ø  Menurut Suchman
sebagaimana yang dikutip oleh Arikunto bahwa memandang evaluasi sebagai sebuah proses menentukan hasil yang telah dicapai bebarapa kagiatan yang direncanakan untuk mendukung tercapainaya tujuan.[5]
Ø  Menurut Abdul Basir
evaluasi adalah proses pengumpulan data yang deskriptif, informative, prediktif, dilaksanakan secara sistematik dan bertahap untuk menentukan kebijaksanaan dalam usaha memperbaiki pendidikan.
Ø  Menurut Mehrens dan Lehman yang dikutip oleh Ngalim Purwanto
evaluasi dalam arti luas adalah suatu proses merencanakan, memperoleh dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan.
Ø  Menurut Oemar Hamalik
evaluasi adalah proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan penafsiran informasi untuk menilai (assess) keputusan-keputusan yang dibuat dalam merancang suatu system pengajaran.
     Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu dalam proses kegiatan yang berkenaan dengan mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi terebut digunakan untuk menentukan alternative yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan tentang bagaimana berbuat baik pada waktu-waktu mendatang sesuai dengan yang telah direncanakan. Perancanaan pada hakikatnya adalah keputusan atas sejumlah alternatif (pilhan) mengenai sasaran dan cara-cara yang akan dilaksanakan dimasa yang akan dating guna mencapai tujuan yang dikehendaki serta pemantauan dan penilaiannya atas hasil pelaksanaannya, yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan.
     Seorang pendidik harus mengetahui sejauh mana keberhasilan pengajarannya tercapai dengan baik dan untuk memperbaiki serta mengarahkan pelaksanaan proses belajar mengajar, dan untuk memperoleh keputusan tersebut maka diperlukanlah sebuah proses evaluasi dalam pembelajaran atau yang disebut juga dengan evaluasi pembelajaran. Evaluasi merupakan proses penilaian pertumbuhan siswa dalam proses belajar mengajar. Pencapaian perkembangan siswa perlu diukur, baik posisi siswa sebagai individu maupun posisinya di dalam kelompok. Hal yang demikian perlu disadari oleh seorang guru karena pada umumnya siswa masuk kelas dengan kamampuan bervariasi. Ada siswa yang cepat menangkap materi pelajaran, tetapi ada pula yang tergolong memiliki kecepatan biasa dan ada pula yang tergolong lambat. Guru dapat mengevaluasi pertumbuhan kemampuan siswa tersebut dengan mengetahui apa yang mereka kerjakan dari awal sampai akhir belajar. Pencapaian belajar siswa dapat diukur dengan dua cara, yaitu :
Ø  Mengukur dengan tingkat kecapaian standart yang ditentukan.
Ø  Melalui tugas-tugas yang dapat diselesaikan siswa secara tuntas.
     Evaluasi dilihat dari fungsinya yaitu dapat memperbaiki program pengajaran, maka evaluasi pembelajaran dikategorikan ke dalam penilaian formatif atau evaluasi formatif, yaitu evaluasi yang dilaksanakan pada akhir program belajar mengajar untuk melihat tingkat keberhasilan proses belajar mengajar itu sendiri, atau dilakukan pada akhir program untuk memberi informasi kepada konsumen yang potensial tentang manfaat atau kegunaan program. Menurut Anas Sudijono, evaluasi formatif ialah evaluasi yang dilaksankan ditengah-tengah atau pada saat berlangsungnya proses pembelajaran, yaitu dilaksanakan pada setiap kali satuan program pelajaran atau subpokok bahasan dapat diselesaikan, dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik "telah terbentuk" sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditentukan.
     Evaluasi pendidikan dalam islam dapat diberi batasan sebagai suatu kegiatan untuk menentukan kemajuan sutu pekerjaan dalam proses pendidikan islam.(Nizar,2002:77) dalam ruang lingkup terbatas, evaluasi dilakukan dalam rangka mengetahui tingkat keberhasilan pendidik dalam menyampaikan materi pendidikan islam pada peserta didik .sedang dalam ruang lingkup luas, evaluasi dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan tingkat kelemahan suatu proses pendidikan islam(dengan seluruh komponen yang terlibat didalam nya) dalam mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan .
Penilaian dalam pendidikan dimaksudkan untuk menetapkan berbagai keputusan kependidikan, baik yang menyaangkut perencanaan pengelolaan ,prosesdan tindak lanjut pendidikan, baik yang menyangkut perorangan, kelompok maupun kelembagaan (Depdikbud,1983/1984:1).
Disamping evaluasi terdapat pula istilah measurement measurement  berasal dari kata to measure yang berarti mengukurmeasurement berarti perbandingan data kualitif dengan data kuantitatif yang lainnya yang sesuai dalam kerangka mendapatkan nilai (angka) (Qahar ,1972:7) pengukuran dalam pendidikan adalah usaha untuk memahami kondisi-kondisi objektif tentang sesuatu yang akan dinilai. Dalam pendidikan islam, evaluasi akan objektif apabila didasarkan dengan tolak ukur Al-Qur’an atau Hadits.

B.     TUJUAN DAN FUNGSI EVALUASI DALAM PENDIDIKAN ISLAM
a.fungsi
     Secara umum evaluasi sebagai suatu tindakan atau proses setidak-tidaknya memiliki fungsi pokok, yaitu:
Ø  Mengukur kemajuan
Ø  Menunjang penyusunan rencana
Ø  Memperbaiki atau melakukan penyempurnaan kembali
Ø  Dari segi pendidikan ,evaluasi berfungsi untuk membantu seorang pendidik mengetahui sejauh mana hasil yang dicapaidalam pelaksanaan tugasnya.
Ø  Dari segi peserta didik,evaluasi membantu peserta didik untuk dapat mengubah atau mengubah tingkah laku nya secara sadar kearah yang lebih baik.
Ø  Dari segi ahli pemikir pendidikan islam,evaluasi berfumgsi untuk membantu para pemikir pendidikan islam mengetahui kelemahan teori-teori pendidikan islam dan membantu mereka dalam merumuskan kembali teori-teori pendidikan islam yang relevan dengan arus dinamika zaman yang senantiasa berubah.
Ø  Dari segi politik pengambil kebijakan pendidikan islam (pemerintahan )evaluasi berfungsi untuk membantu mereka dalam membenahi sistem pengawasan dan mempertimbangankan kebijakan yang akan diterapkan dalam sistem pendidikan islam.
Ø  Memperoleh data pembuktian yang akan menjadi petunjuk sampai dimana tingkat kemampuan dan tingkat keberhasilan peserta didik dalam pencapaian tujuan-tujuan kurikuler setelah menempuh proses pembelajaran dalam jangka waktu yang telah ditentukan.
Ø  Mengukur dan menilai sampai di manakah efektifitas mengajar dan metode-metode mengajar yang telah diterapkan atau dilaksanakan oleh pendidik, serta kegiatan belajar yang dilaksanakan oleh peserta.
Ø  Adapun yang menjadi tujuan khusus dari kegiatan evaluasi dalam bidang pendidikan adalah: 
Ø  Untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan.
Ø  Untuk mencari dan menemukan faktor-faktor penyebab keberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan, sehingga dapat dicari dan ditemukan jalan keluar atau cara-cara perbaikannya.
Ø  Evaluasi dalam pembelajaran dilakukan untuk kepentingan pengambilan keputusan, misalnya tentang akan digunakan atau tidaknya suatu pendekatan, metode, atau teknik. Tujuan utama dilakukan evaluasi proses pembelajaran adalah sebagai berikut:
Ø  Menyiapkan informasi untuk keperluan pengambilan keputusan dalam proses pembelajaran.
Ø  Mengidentifikasi bagian yang belum dapat terlaksana sesuai dengan tujuan.
Ø  Mencari alternatif tindak lanjut, diteruskan, diubah atau dihentikan.
     Dalam keadaan pengambilan keputusan proses pembelajaran, evaluasi sangat penting karena telah memberikan informasi mengenai keterlaksanaan proses belajar mengajar, sehingga dapat berfungsi sebagai pembantu dan pengontrol pelaksanaan proses belajar mengajar. Di samping itu, fungsi evaluasi proses adalah memberikan informasi tentang hasil yang dicapai, maupun kelemahan-kelemahan dan kebutuhan tehadap perbaikan program lebih lanjut yang selanjutnya informasi ini sebagai umpan balik (feedback) bagi guru dalam mengarahkan kembali penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaan rencana dari rencana semula menuju tujuan yang akan dicapai. Dengan demikian, betapa penting fungsi evaluasi itu dalam proses belajar mengajar.[6]
Dalam keseluruhan proses belajar mengajar, secara garis besar evaluasi mempunyai beberapa fungsi penting, yaitu:
Ø  Sebagai alat guna mengetahui apakah peserta didik telah menguasai pengetahuan atau ketrampilan yang telah diberikan oleh seorang guru.
Ø  Untuk mengetahui kelemahan peserta didik dalam melakukan kegiatan beajar.
Ø  Mengetahui tingkat ketercapaian siswa dalam kegiatan belajar.
Ø  Sebagai sarana umpan balik bagi guru, yang bersumber dari siswa.
Ø  Sebagai alat untuk mengetahui perkembangan belajar siswa.
Ø  Sebagai laporan hasil belajar kepada para orang tua wali siswa.
Apabila evaluasi dilihat dari masing-masing pihak, dapat di uraikan sebagai berikut:
a. Fungsi evaluasi pendidikan bagi guru
Ø  Mengetahui kemajuan belajar peserta didik.
Ø  Mengetahui kedudukan masing-masing individu peserta didik dalam kelompoknya.
Ø  Mengetahui kelemahan-kelemahan dalam cara belajar mengajar dalam PBM.
Ø  Memperbaiki proses belajar mengajar.
Ø  Menentukan kelulusan peserta didik.
b. Bagi peserta didik, evaluasi pendidikan berfungsi:
Ø  Mengetahui kemampuan dan hasil belajar.
Ø  Memperbaiki cara belajar.
Ø  Menumbuhkan motivasi dalam belajar.
c. Bagi sekolah, evaluasi pendidikan berfungsi:
Ø  Mengukur mutu hasil pendidikan.
Ø  Mengetahui kemajuan dan kemunduran sekolah.
Ø  Membuat keputusan kepada peserta didik.
Ø  Mengadakan perbaikan kurikulum.
d. Bagi orang tua peserta didik, evaluasi pendidikan berfungsi:
Ø  Mengetahui hasil belajar anaknya.
Ø  Meningkatkan pengawasan dan bimbingan serta bantuan kepada anaknya dalam usaha belajar.
Ø  Mengarahkan pemilihan jurusan, atau jenis sekolah pendidikan lanjutan bagi anaknya.
e. Bagi masyarakat dan pemakai jasa pendidikan, evaluasi berfungsi:
Ø  Mengetahui kemajuan sekolah.
Ø  Ikut mengadakan kritik dan saran perbaikan bagi kurikulum pendidikan pada sekolah tersebut.
Ø  Lebih meningkatkan partisipasi masyarakat dalam usahanya membantu lembaga pendidikan.
Fungsi evaluasi di dalam pendidikan tidak dapat dilepaskan dari tujuan evaluasi itu sendiri. Di dalam batasan tentang evaluasi pendidikan yang telah dikemukakan dimuka, tersirat bahwa tujuan evaluasi pendidikan adalah untuk mendapat data pembuktian yang akan menunjukan sampai dimana tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam tujuan-tujuan kurikuler.
Secara lebih rinci, fungsi evaluasi dalam pendidikan dan pengajaran dapat dikelompokan menjadi empat fungsi, yaitu:

Ø  Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan siswa setelah mengalami atau melakukan kegiatan belajar selama jangka waktu tertentu.
Ø  Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pembelajaran.
Ø  Untuk keperluan Bimbingan dan Konseling (BK).
Ø  Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang bersangkutan.
Menurut Sukardi, dilihat dari segi aspeknya, fungsi evaluasi pendidikan yang dilaksanakan dalam proses belajar mengajar pada prinsipnya dapat dikelompokan menjadi dua macam, yaitu:
Ø  Membantu guru dalam menentukan derajat tujuan pengajaran agar dapat dicapai.
Ø  Membantu guru untuk mengetahui keadaan yang benar pada siswanya.
Bagi guru fungsi evaluasi perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar evaluasi yang diberikan benar-benar mengenai sasaran. Hal ini didasarkan karena hampir setiap saat guru melaksanakan kegiatan evaluasi untuk menilai keberhasilan belajar siswa serta program pengajaran.

b.tujuan
     Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi penguasaan siswa atas materi lama yang mendasari materi baru yang akan diajarkan.Contoh, evaluasi penguasaan penjumlahan bilangan sebelum memulai pelajaran perkalianbilangan, karena penjumlahan merupakan prasyarat atau dasar pekalian.6. Ujian Akhir Nasional (UAN)Ujian Akhir Nasional (UAN) yang dulu disebutEBTANAS bahkan sekarang diganti menjadi Ujian.[7]
     Menurut Sumadi Suryabrata (1993: 34-48)tujuan evaluasi pendidikan dapat  di kelompokan dalam tiga klasifikasi.
1.    Klasifikasi berdasarkan  fungsinya ,evaluasi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan.
Ø  Psikologis ;evaluasi dipakai sebagai kerangka acuan kearah mana ia harus bergerak menuju tujuan pendidikan.
Ø  Didaktik/instruksiona;evaluasi bertujuan memotivasi peserta didik, memberikan pertimbangan dalam penentuan bahan pengajaran dan mengajar, serta dalam kerangka mengadakan bimbingan-bimbingan secara khusus kepada peserta didik.
Ø  Administratif /manajerial;bertujuan untuk pengisian buku rapor;menentukan indeks Prestasi, pengisian STTB,dan menngenai ketentuan kenaikan peserta didik.
2.    Klasifikasi berdasarkan keputusan pendidikan
Tujuan evaluasi dapat digunakan untuk mengambil keputusan individual,institutional, didaktik instruksional, dan keputusan –keputusan penelitian.
3.    Klasifikasi formatif dan sumatif
a. Evaluasi formatif diperlukan untuk mendapatkanumpan balik guna untuk menyempurnakan perbaikan proses belajar mengajar.
b. Evaluasi sumatif bertujuan untuk mengukur keberhasilan seluruh program pendidikan yang dilaksanakan pada akhir pelaksanaan proses belajar mengajar(akhir semster /tahun).
Tujuan utama melakukan evaluasi dalam proses belajar mengajar adalah untuk mendapatkan informasi  yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa sehingga dapat diupayakan tindak lanjut.Tindak lanjut termaksud merupakan fungsi evaluasi dan dapat berupa:
1)  Penempatan pada tempat ang tepat.
2)  Pemberian umpan balik.
3)  Diagnosis kesulitan belajar mengajar.
4)  Penentuan kelulusan.
Untuk masing-masing tindak lanjut yang dikehendaki ini diadakan tes yang diberi nama :
1) Tes penempatan.
2) Tes formatif.
3) Tes  diagnostik dan
4) Tes sumatif.
Manfaat Evaluasi
1)   Manfaat bagi siswa
Ø       Hasil evaluasi tidak memuaskan.
Ø       Hasil evaluasi memuaskan.
2)   Manfaat bagi guru.
Ø Keadaan siswa.
Ø Keadaan materi pengajaran.
Ø Keadaan metode pengajaran.
3)   Manfaat bagi pembimbing/penyuluh.
4)   Manfaat bagi sekolah.
5)   Manfaat bagi oramg tua siswa .
Dalam pendidikan islam , tujuan evaluasi lebih ditekankan pada penguasaan sikap (afektif dan psikomotor) ketimbangan aspek kognitif (Nizar,2002:80). Penekanan ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan peserta didik yang secra garis besar meliputi 4 hal yaitu sebagai berikut.
Ø  Sikap dan pengalaman terhadap hubungan pribadinya dengan tuhannya.
Ø  Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan dirinya dengan masyarakat.
Ø  Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan kehidupan nya dengan alam sekitarnya.
Ø  Sikap dan dan pandangan terhadap dirinya sendiri selaku hamba allah ,anggota masyarakat ,serta khalifah allah.
Setidaknya ada dua macam kemungkinan hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi; yaitu yang pertama: Hasil evaluasi itu ternyatamenggembirakan, sehingga dapat memberikan rasa lega bagi evaluator, sebab tujuan yang telah ditentukan dapat dicapai sesuai dengan yang direncanakan. Sedangkan yang kedua: Hasil evaluasi itu ternyata tidak menggembirakan atau bahkan mengkhawatikan, dengan alasan bahwa berdasar hasil evaluasi ternyata dijumpai adanya penyimpangan-penyimpangan, hambatan atau kendala, sehingga mengharuskan evaluator untuk bersikap waspada. Evaluasi yang dilaksanakan secara berkesinambungan, akan membuka peluang evaluator untuk membuat pikiran, apakah tujuan yang telah dirumuskan akan dapat tercapai pada waktu yang telah ditentukan,ataukah tidak. Adapun secara khusus, fungsi evaluasi dalam dunia pendidikan dapat ditilik dari tiga segi, yaitu: segi psikologis,segi didaktik, dan segi administratif.
C.     PRINSIP-PRINSIP EVALUASI DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Menurut  slameto (1998:16-19),prinsip-prinsip yang harus ada dalam evaluasi,sebagai berikut.
Ø   Prinsip keterpaduan.
Ø   Prinsip belajar siswa aktif.
Ø   Prinsip kontinuitas.
Ø   Prinsip koherensi.
Ø   Prinsip diskriminalitas.
Ø   Prinsip keseluruhan.
Ø   Prinsip pedagogis.
Ø   Prinsip akuntabilitas.
Prinsip diperlukan sebagai pemandu dalam kegiatan evaluasi. Oleh karena itu evaluasi dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila dalam pelaksanaannya senantiasa berpegang pada prinsip-prinsip berikut ini:
a.    Prinsip Kontinuitas (terus menerus/ berkesinambungan)
Artinya bahwa evaluasi itu tidak hanya merupakan kegiatan ujian semester atau kenaikan saja, tetapi harus dilaksanakan secara terus menerus untuk mendapatkan kepastian terhadap sesuatu yang diukur dalam kegiatan belajar mengajar dan mendorong siswa untuk belajar mempersiapkan dirinya bagi kegiatan pendidikan selanjutnya.
b.   Prinsip Comprehensive (keseluruhan)
Seluruh segi kepribadian murid, semua aspek tingkah laku, keterampilan, kerajinan adalah bagian-bagian yang ikut ditest, karena itu maka item-item test harus disusun sedemikian rupa sesuai dengan aspek tersebut (kognitif, afektif, psikomotorik)
c.    Prinsip Objektivitas
Objektif di sini menyangkut bentuk dan penilaian hasil yaitu bahwa pada penilaian hasil tidak boleh memasukkan faktor-faktor subyektif, faktor perasaan, faktor hubungan antara pendidik dengan anak didik. Evaluasi harus menggunakan alat pengukur yang baik evaluasi yang baik tentunya menggunakan alat pengukur yang baik pula, alat pengukur yang valid. Evaluasi harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh kesungguhan itu akan kelihatan dari niat guru, minat yang diberikan dalam penyelenggaraan test, bahwa pelaksanaan evaluasi semata-mata untuk kemajuan anak didik, dan juga kesungguhan itu diharapkan dari semua pihak yang terlibat dalam kegiatan belajar mengajar itu, bukan sebaliknya.
d.   Mengacu pada tujuan
Setiap aktifitas manusia sudah pasti mempunyai tujuan tertentu, karena aktifitas yang tidak mempunyai tujuan berarti merupakan aktifitas atau pekerjaan yang sia-sia. Seorang manusia (apalagi menjadi dosen dan mahasiswa Pendidikan Agama Islam) yang mengerti akan potensi yang dimilikinya tidak akan melakukan suatu pekerjaan yang sia-sia sebab segala yang dilakukan olehnya baik berpikir, merasa, maupun bertindak harus membawa kebaikan sehingga kualitas dan kapasitas dirinya meningkat.  Pendidikan Islam bertujuan untuk mendidik individu agar berjiwa bersih dan suci,  agar mampu menjalin hubungan terus menerus dengan Allah, mengantar individu untuk mencapai kematangan emosional, mendidik individu untuk bertanggung jawab, menumbuhkan dalam diri individu rasa keterkaitan dengan komunitasnya dan sebagainya.  Mengacu pada tujuan pendidikan Islam ini, maka evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan sudah tercapai.
e.    Validitas
Evaluasi yang dilakukan berdasarkan hal-hal yang seharusnya dievaluasi yaitu meliputi seluruh bidang-bidang tertentu yang ingin dan diselidiki. Penggunaan test (sebagai alat evaluasi) harus menggambarkan secara keseluruhan (representative) dan kesanggupan peserta didik mengenai bidang tersebut.
f.  Reabilitas
Pelaksanaan evaluasi dapat dipercaya. Artinya memberikan evaluasi pada peserta didik sesuai dengan tingkat kesanggupannya dan keadaan sesungguhnya (terukur). Test (sebagai alat evaluasi) diberikan tidak membawa tafsiran bermacam-macam, sehingga mudah dimengerti oleh peserta didik.
g. Efisiensi
Evaluasi yang dapat dilaksanakan secara cermat dan tepat pada sasarannya.
h. Ta’abbudiyah dan ikhlas
Evaluasi dilakukan dengan penuh ketulusan dan pengabdian kepada Allah SWT. Apabila prinsip ini dilakukan, maka upaya evaluasi akan mebuahkan kesan  husn al-zhan ( prasangka baik ), terjadi perbaikan tingkah laku secara positif, dan menutupi rahasia-rahasia buruk pada diri seseorang.[8]

D.    JENIS-JENIS EVALUASI DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Berbicara mengenai  Jenis-jenis evaluasi pendidikan ,hal ini dapat diklasifikasikan dalam tiga segi ,sebagai berikut:
1.    klasifikasi dilihat dari fungsinya.
Ø Evaluasi formatif yaitu evaluasi yang menetapkan tingkat penguasaan manusia didik dan menentukan bagian-bagian tugas yang belum dikuasai dengan tepat.
Ø Evaluasi sumatif,yaitu penilaian secara umum tentang keseluruhan hasil dari proses belajar mengajar yang dilakukan pada setiap akhir periode belajar mengajar secara terpadu.
Ø Evaluasi diagnostik ialah penilaian yang dipusatkan pada proses belajar mengajardengan melokalisasikan suatu titik keberangkatan yang cocok.
Ø Evaluasi penempatan (placement evaluation) yang menitik beratkan pada penilaian berbagai permasalahan yang berkaitan dengan:
1)      Ilmu pengetahuan dan keterampilan peserta didik yang di perlukan untuk awal proses belajar mengajar.
2)      Pengetahuan peserta didik tentang tujuan pengajaran yang telah di tetapkan sekolah.
3)      Minat dan perhatian,kebiasaan bekerja,corak kpribadia yang menonjol yang mengandung  konotasi kepada suatu metode tertentu.
2.    Klaksifikasi evaluasi dilihat dari cara nya.
Ø Evaluasi kuantitatif,dinyatakan dengan angka dapat dilakukan untuk menilai aspek-aspek tingkahlaku peserta didik dalam bidang kognitif.
Ø Evaluasi kualitatif,dinyatakan dengan ungkapan dan dilakukan untuk menilai aspek-aspek afektif.
Ø Kedua cara evaluasi tersebut membutuhkan tehnik  pelaksanaan ,yaitu tehnik tes dan non-tes.
3.    klasifikasi dilihat dari tehniknya.
1) Tehnik tes;dibedakan menurut materi yang akan dinilai ,bentuk,dan cara membuatnya.
2) Tehnik non-tes;dapat dilaksanakan melalui pengamatan ,wawancara ,angket,hasil karya/laporan dan skala sikap (slameto:1998:25-30).
Menurut chalib thaha (1996:46-64)tehnik tes dapat dibedakan menjadi sembilan yaitu:
1). Tes penempatan.
2). Tes pembedaan.
3). Tes sumatif.
4). Tes diagnostik.
5). Tes standar, yaitu tes yang di susun oleh tim ahli atau lembaga khusus yang menyelenggarakan secara profesional.
6). Tes non-standar kebalikan dari tes standar .
7). Tes tulis,disajikan dalam bentuk bahasa tulisan .
8). Tes lisan,disajikan dengan menggunakan bahasa lisan.
9). Tes tindakan,yaitu tes yang respons atau jawabannya berupa tindakan atau tingkah laku yang koonkrit peserta didik.

  1. PROSEDUR EVALUASI DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Secara umum, proses pengembangan penyajian dan pemanfaatan evaluasi belajar dapat digambarkan dalam langkah-langkah berikut:
Ø  Penentuan tujuan evaluasi
Ø  Penyusunan kisi-kisi soal
Ø  Telaah atau riviewdan revisi soal
Ø  Uji coba(try out)
Ø  Penyusunan soal
Ø  Penyajian tes
Ø  Scorsing
Ø  Pengolahan hasil tes
Ø  Pelaporan hasil tes
Ø  Pemanfaatan hasil tes
Prosedur  dalam mengadakan evaluasi dapat dibagi kepada beberapa langkah:
Ø  Perencanaan
Ø  Pengumpulan data
Ø  Vervikasi data
Ø  Analisis data dan
Ø  Penafsiran data.
Yang harus dilakukan dalam langkah perencanaan ini ialah
Ø  Merumuskan evaluasi yang hendak dilaksanakan dalam suatu proses belajar- mengajar yang didasarkan atas tujuan yang hendak dicapai program belajar-mengajar tersebut.
Ø  Menetapkan aspek-aspek yang harus di nilai
Ø  Menentukan metode evaluasi yang akan dipergunakan.metode ini ditentukan oleh aspek yang akan di nilai. Untuk menilai sikap, misalnya, dipergunakan checklist.
Ø  Memiliki atau menyusun alat-alat evaluasi yang akan dipergunakan. Alat-alat evaluasi yang ditentukan oleh metode evaluasi yang kita pergunakan. Apabilah alat-alat yang akan dipergunakan cukup tersedia, maka tinggal memiliki salah satu dari alat tersebut
Ø  Menentukan kriteria yang dipergunakan. Setelah alat-alat evaluasi dipilih dan disusun serta telah ditetapkan kreterianya, maka selanjutnya ditentukan frekuensi evaluas

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Evaluasi berasal dari kata to evaluate yang berarti menilai.Nilai dalam bahasa arab di sebut al qimat.istilah nilai ini mulanya di populerkan oleh para filsuf.
Merupakan cara atau tehnik untuk mengamati tingkah laku peserta didik berdasarkan  standar p    erhitungan yang bersifat kompreherensifdari seluruh aspek kehidupan mental,psikologis,dan spiritual –religius.
Evaluasi adalah suatu proses dan tindakan yang terencana untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan,pertumbuhan dan pekembangan (perserta didik) terhadap tujuan (pendidikan), sehingga dapat disusun penilaiannya yang dapat dijadikan dasar untuk membuat keputusan.
Evaluasi pendidikan islam adalah suatu proses dan kegiatan penilaian yang terencana terhadap perserta didik dari keseluruan aspek mentalpsikologis dan spiritual religius dalam pendidikan islam untuk mengetahui taraf kemajuan dalam pendidikan islam.
Fungsi evaluasi tidak hanya ditekankan kepada aspek konektif akan tetapi meliputi ketiga rana tersebut (konektif, apektif dan psikomotorik).
Prinsip evaluasi yaitu: valid, berorintasi kepada kopentensi, berkemajuan/berkesenabungan (kontinuitas), menyeluruh (komprehensif), bermakna, adil dan objektif, terbuka, ikhlas, praktis, dicatat dan akurat.

B. Saran
Demikian yang dapat kami sampaikan ,semoga apa yang dibahas dalam makalah ini akan bermanfaat bagi kita semua.




DAFTAR PUSTAKA
Sudijono,Anas.Pengantar Evaluasi Pendidikan,Jakarta:Rajawali Pers.(2015:hal,1-16)
Daryonto,Haji. Evaluasi Prndidikan,Jakarta:Rineka Cipta.(2008:hal,4,14-19)
Moh.Haitami Salim & Syamsul Kurniawan.study ilmu pendidikan islam,Jakarta:hal,240-241
Drs.Bukhari Umar.M.Ag’’ilmu pendidikan islam’’
Dra.Hj.Nur Uhbiyati’’ilmu pendidikan islam(IPI)’’

Moh.haitami salim & syamsul kurniawan’’study ilmu pendidikan islam’’hal.252-253



[1] Sudijono,Anas.Pengantar Evaluasi Pendidikan,Jakarta:Rajawali Pers.(2015:hal,1-16)
[2] Sudijono,Anas.Pengantar Evaluasi Pendidikan,Jakarta:Rajawali Pers.(2015:hal,1-16)
[3] Daryonto,Haji. Evaluasi Prndidikan,Jakarta:Rineka Cipta.(2008:hal,4,14-19)
[4] Moh.Haitami Salim & Syamsul Kurniawan.study ilmu pendidikan islam,Jakarta:hal,240-241
[5] Drs.Bukhari Umar.M.Ag’’ilmu pendidikan islam’’
[6] [6] Sudijono,Anas.Pengantar Evaluasi Pendidikan,Jakarta:Rajawali Pers.(2015:hal,1-16)
[7] Sudijono,Anas.Pengantar Evaluasi Pendidikan,Jakarta:Rajawali Pers.(2015:hal,1-16)
[8] Drs.Bukhari Umar.M.Ag’’ilmu pendidikan islam’’

MAKALAH BAHASA INDONESIA "MEMBACA"

MAKALAH BAHASA INDONESIA "MEMBACA"

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah  bahasa. Membaca dan mendengar adalah 2 cara paling umum untuk mendapatkan informasi. Informasi yang didapat dari membaca dapat termasuk hiburan, khususnya saat membaca cerita fiksi atau humor.
Sebagian besar kegiatan membaca sebagian besar dilakukan dari kertas. Batu atau kapur di sebuah papan tulis bisa juga dibaca. Membaca dapat menjadi sesuatu yang dilakukan sendiri maupun dibaca keras-keras. Hal ini dapat menguntungkan pendengar lain, yang juga bisa membangun konsentrasi kita sendiri.
Membaca merupakan kegiatan menerima akan tetapi, untuk mendapatkan  pemahaman yang baik dan menyeluruh, kita tidak melakukannya dengan  berpasrah diri. Untuk memperoleh itu, kita secara aktif bekerja mengolah teks  bacaan menjadi bahan yang bermakna. Bagaimana kita bisa memperoleh makna yang terkandung jika hanya diam, sementara teks bacaan adalah benda mati ?  jadi, kitalah yang sebenarnya aktif.
Bahkan bukan hanya pemahaman yang di tuntut dalam membaca, melainkan juga penggolahan bahan bacaan secara kritis dan kreatif. Membaca  bukan hanya proses mengingat, melainkan juga proses kerja mental yang melibatkan Aspek-Aspek berpikir kritis dan kreatif seperti yang telah di singgung di atas tadi. Atau lebih berarti bila ia mampu menerapkanya dalam kehidupan secara nyata.
Tak bisa di pungkiri saat ini bahwa pengajaran membaca itu telah berakhir  bila seseorang dapat memvokalkan simbol-simbol tulis. Jangan heran bila ada seorang murid SMA masih terbiasa membaca buku pelajarannya dengan suara keras, Tak bisa di salahkan mereka itu. Sebab, selama itu pula tak ada yang mengoreksinMembaca sangat berpengaruh basar pada kehidupan sehari-hari, itulah makanya seseorang yang pengetahuannya luas dan Aktual selalu membaca , mambaca, dan membaca terus.

B.   Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud dengan membaca?.
2. Apa fungsi membaca?.
3. Apa saja jenis-jenis membaca?
4. Apa tujuan membaca?
5. Apa seja manfaat membaca?
6. Apa saja hambatan dalam membaca dan cara mengatsinya?

C.   Tujuan
1.      Untuk mengeratui arti membaca
2.      Untuk mengetahui bagaimana fungsi membaca
3.      Untuk mengetahui jenis-jenis dalam membaca
4.      Untuk mengetahui tujuan dari membaca
5.      Untuk mengetahui apa saja manfaat dalam membaca
6.      Untuk mengetahui hambatan-hambtan dalam membaca dan cara mengatasinya

BAB II
PEMBAHASAN
A.   Pengertian Membaca
Membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekedar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Sebagai proses visual membaca merupakan proses menerjemahkan simbol tulisan(huruf) ke dalam kata-kata lisan. Sebagai suatu proses berfikir membaca mencakup aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interprestasi, membaca kritis, dan pemahaman kreatif.
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui kata-kata atau bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas dan makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui.
Secara linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi, berlainan dengan berbicara dan menulis yang justru melibatkan penyandian. Sebuah aspek pmbacaan sandi adalah menghubungkan kata-kata tulis dengan makna bahasa lisan yang mencakup pengubahan tulisan/cetakan menjadi bunti yang bermakna.[1]
B.   Fungsi Membaca
1.      Fungsi intelektual
Dengan banyak membaca kita dapat meningkatkan kadar intelektualitas, membina daya nalar kita. Contoh : membaca buku-buku pelajaran, karya ilmiah, tesis, skrifsi , dll.[2]
2.      Fungsi pemacu kreatifitas
Hasil membaca kita dapat mendorong, menggerakan diri kita untuk berkarya didukung oleh keluasan wawasan dan pemilihan kosa kata.Contoh buku ilmiah, bacaan sastra.
3.      Fungsi praktis
Kegiatan membaca dilaksanakan untuk memperoleh pengetahuan praktis dalam kehidupan, misal:teknik memotret, cara merawat tanaman, resep membuat masakan dan minuman, dll.

4.      Fungsi religious
Membaca dapat digunakan untuk membina dan meningkatkan keimanan, memperluas budi, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
5.      Fungsi informative
Dengan banyak membaca bacaan, informasi lebih cepat kita dapatkan.Contoh : dengan membaca majalah dan Koran dapat kita peroleh berbagai informasi yang sangat penting atau kita perlukan dalam kehidupan sehari-hari.
6.      Fungsi Rekreatif
Membaca digunakan sebagai upaya menghibur diri, mengadakan tamasya yang mengasyikan.Contoh : novel-novel, cerita humor, karya sastra, dll.
7.      Fungsi Sosial
Kegiatan membaca mempuyai fungsi sosial yang tinggi manakala dilaksanakan secara lisan atau nyaring. Dengan demikian, kegiatan membaca tersebut langsung dapat dimanfaatkan oleh orang lain mengarahkan sikap berucap, berbuat dan befikir. Contoh : pembacaan berita, pengumuman, dll. 
8.      Fungsi pembunuh sepi
Kegiatan membaca dapat juga dilakukan untuk sekedar merintang-rintang waktu, mengisi waktu luang.Contoh : membaca majalah, surat kabar, dll.[3]
C.   Jenis-Jenis Membaca
1.      Membaca Nyaring
Membaca nyaring merupakan proses mengkomunikasikan isi bacaan (dengan nyaring) kepada orang lain. Karena tujuan utamanya mengkomunikasikan isi bacaan, maka si pembaca bukan hanya dituntut harus mampu melafalkan dengan suara nyaring lambing-lambang bunyi bahasa saja, melainkan juga dituntut harus mampu melakukan proses pengolahan agar pesan-pesan atau muatan makna yang terkandung dalam lambing-lambang bunyi bahasa tersebut dapat tersampaikan secara jelas dan tepat oleh orang-orang yang mendengarnya. Dengan demikian, jelaslah bahwa proses membaca nyaring sesungguhnya bukanlah hal yang mudah membaca nyaring lebih sulit dibandingkan dengan membaca dalam hati.[4]
2.      Membaca dalam Hati
Membaca dalam hati atau membaca diam, memang tidak ada suara yang keluar, yang aktif bekerja adalah mata dan otak saja, Ikhwal diamnya alat ucap ini saat melakukan membaca dalam hati perlu perlu dicermati oleh guru, sebab hingga saat ini masih banyak siswa saat mereka membaca dalam hati, tetapi pada saat yang sama alat ucap mereka turut aktif. Misalnya, membaca sambil bersuara seperti berbisik, atau dengan bibir bergerak-gerak, atau membaca dengan kepala bergerak mengikuti baris bacaan, atau membaca sambil menunjuk baris bacaan dengan jari, pensil, atau alat ucap lainnya. Hal-hal semacam ini secara perlahan harus segera dihilangkan karena akan menghambat lancarnya membaca dalam hati.[5]
3.      Membaca Intensif
Membaca intensif, merupakan program kegiatan membaca yang dilakukan secara saksama. Dalam membaca ini, para siswa hanya membaca satu atau beberapa pilihan dari bahan bacaan yang ada. Program membaca intensif merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan dan mengasah kemampuan membaca secara kritis.[6]
D.    Tujuan Membaca
Tujuan membaca menurut Henry Guntur Tarigan:
a.       Membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta
Misalnya untuk mengetahui penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh sang tokoh; apa-apa yang telah dibuat oleh sang tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau untuk memecahkan masalah-masalah yang dibuat oleh sang tokoh.

b.      Membaca untuk memperoleh ide-ide utama
Misalnya untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita, apa-apa yang dipelajari atau dialami sang tokoh, dan merangkum hal-hal yang dilakukan oleh sang tokoh untuk mencapai tujuannya.

c.      Membaca untuk mengetahui urutan atau susunan organisasi cerita
Seperti menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada setiap bagian cerita, apa yang terjadi mula-mula pertama, kedua, dan ketiga/seterusnya. Setiap tahap dibuat untuk memecahkan suatu masalah, adegan-adegan dan kejadian buat dramatisasi.
d.     Membaca untuk menyimpulkan (membaca inferensi)
Seperti menemukan serta mengetahui mengapa para tokoh merasakan seperti cara mereka itu, apa yang hendak diperlihatkan oleh sang tokoh berubah, kualitas-kualitas yang dimiliki para tokoh yang membuat mereka berhasil atau gagal.
e.      Membaca untuk mengelompokkan atau mengklasifikasikan
Misalnya untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak biasa, tidak wajar mengenai seseorang tokoh, apa yang lucu dalam cerita, atau apakah cerita itu benar atau tidak benar.
f.       Membaca menilai
Membaca mengevaluasi seperti untuk menemukan apakah sang tokoh berhasil atau hidup dengan ukuran-ukuran tertentu, apakah kita ingin berbuat seperti cara sang tokoh bekerja dalam cerita itu.
g.      Membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan
Dilakukan untuk menemukan bagaimana caranya sang tokoh berubah, bagaimana hidupnya berbeda dari kehidupan yang kita kenal, bagaimana dua cerita mempunyai persamaan, bagaimana sang tokoh menyerupai pembaca.
E.    Manfaat Membaca
1.      Melatih kemampuan berpikir atau mengasah otak
membaca mampuh melatih berpikir seseorang ,semakin banyak membaca maka semakin kuat kemampuan seseorang dalam berpikir .Otak ibarat sebuah pedang, semakin diasah akan semakin tajam. Kebalikannya jika tidak diasah, juga akan tumpul.
2.      Meningkatkan Pemahaman
Contohnya dengan kita membaca kita dapat ilmu baru atau pemahaman yang semula kita tidak mengerti menjadi mengerti setelah membaca. Dari sini jelas bahwa membaca sangat berperan dalam membantu seseorang untuk meningkatkan pemahamannya terhadap suatu ilmu yang dipelajari.
3.      Meningkatkan Konsentrasi
Orang yang suka membaca akan memiliki otak yang lebih konsentrasi dan fokus. Karena jika kita membaca dan perhatian kita teralihkan maka kita akan sulit untuk mencerna ilmu yang kitaa baca tersebut .Karena fokus ini, pembaca akan memiliki kemampuan untuk memiliki perhatian penuh dan konsentrasi yang tinggi.
4.      Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan
karena membacalah kita bisa mendapatkan ilmu yang berlimpah .Dan jika kita ingin wawasan kita luas maka rajinlah  kita membaca. Orang yang mempunyai wawasan yang luas jelas ia adalah orang yang rajin membaca[7].
5.      Mendukung kemampuan berbicara di depan umum
karena orang yang sering membaca akan mendapatkan ilmu yang banyak .Dan disanalah ia mempunyai kepercayaan diri yang kuat karena mempunyai bahan yang banyak dan mempunyai wawasan yang luas.
F.    Hambatan-hambatan dalam membaca dan Cara mengatasinya
1. Sulit Konsentrasi
Kesulitan konsentrasi bisa disebabkan beberapa faktor diantaranya: kelelahan fisik dan mental, bosan, atau banyak hal lain yang sedang dipikirkan. Konsentrasi juga dapat terganggu dengan adanya hal-hal yang dapat mengalihkan perhatian seperti suara musik yang keras, TV yang menyala, orang lalu-lalang, dan lain-lain. Kesulitan konsentrasi membuat pikiran melayang entah ke mana dan huruf-huruf yang dibaca pun ikut menguap terbang.
 Dalam membaca konsentrasi sangat penting karena menentukan kemampuan Anda menangkap dan memahami isi bacaan. Apalagi ketika Anda membaca cepat, maka konsentrasi yang baik akan memastikan bahwa kecepatan baca berbanding lurus dengan pemahaman dan bukan sebaliknya.
Untuk itu ketika mulai membaca, coba atasi faktor-faktor yang menyebabkan Anda sulit berkonsentrasi. Cari tempat yang tenang, memiliki penerangan yang cukup, suhu ruangan yang nyaman, dan tempat duduk yang enak dipakai. Jika ada gangguan, selesaikan dulu sebelum Anda mulai membaca.
Cara memusatkan konsentrasi Gunakan mata Anda dan rasakan otot-otok mata yang bekerja sambil mempertahankan konsentrasi agar jalur benang tidak tersesat.

2. Rendahnya Motivasi
Hambatan berikutnya dalam membaca adalah motivasi. Gangguan ini terutama dialami mahasiswa ketika harus membaca text book tebal yang tidak disukai. Rendahnya motivasi akan muncul ketika Anda hendak membaca suatu buku tapi tidak terlalu tahu buku tersebut tentang apa. Maka Anda akan cenderung membaca sekedarnya saja dan tidak terlalu berminat untuk membaca dengan pemahaman yang baik.
Cara mengatasinya jika kita membaca buku perkuliahan yang tebal dan membosankan, coba bayangkan apa yang menarik dari judulnya, topik-topik yang dibahas di dalamnya, dan apa yang bisa Anda aplikasikan jika menguasai buku tersebut
     
3. Kebiasaan-Kebiasaan Buruk Dalam Membaca
            Hal terakhir yang kita bahas dalam hambatan membaca adalah kebiasaan buruk yang dimiliki seseorang. Kebiasaan buruk dalam membaca jika terus dipelihara akan membuat kecepatan baca Anda terganggu. Beberapa kebiasaan buruk yang lazim dimiliki orang adalah:
·         Vokalisasi
Hal ini dilakukan dengan cara melafalkan apa yang Anda baca. Dengan demikian, kecepatan baca Anda akan sama dengan kecepatan berbicara. Tahukah Anda berapa kecepatannya? Sangat lambat, kira-kira cuma 120 kata per menit. Silakan Anda coba sendiri dan hitung.[8]
·         Sub Vokalisasi
Ada orang membaca tanpa suara di bibir, tapi di hati. Dengan cara ini, dampaknya kurang lebih sama dengan vokalisasi yakni kecepatan baca sama dengan kecepatan berbicara.
·         Gerakan Bibir
Ada juga yang tidak bersuara, tapi bibir seperti orang berbicara dan melafalkan sesuatu. Kebiasaan ini berakibat sama dengan dua kebiasaan buruk yang kita bahas.

·         Gerakan Kepala
Banyak orang ketika membaca kepalanya ikut bergerak mengikuti kata demi kata dalam bahan bacaan. Dengan demikian kepala bergerak secara teratur dari kiri ke kanan kembali lagi ke kiri dan seterusnya. Kebiasaan ini akan menghambat kecepatan baca karena pergerakan kepala sebenarnya kalah jauh dengan pergerakan mata.
  • Regresi (Pengulangan ke belakang)
Pernahkah Anda membaca suatu kalimat atau paragraf kemudian tidak yakin dengan isinya atau merasa kurang paham kemudian Anda balik lagi dan mengulang kalimat atau paragraf tersebut. Bayangkan jika dalam satu halaman saja Anda melakukannya 10-15 kali, berapa banyak waktu yang telah terbuang.[9]

BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui kata-kata atau bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas dan makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui.       
Membaca hendaknya mempunyai tujuan, karena seseorang yang membaca dengan suatu tujuan, cenderung lebih memahami dibandingkan dengan orang yang tidak mempunyai tujuan. Tujuan membaca mencakup Kesenangan, menyempurnakan membaca nyaring, menggunakan strategi tertentu, memperbaharui pengetahuannya tentang suatu topik, mengaitkan suatu informasi baru dengan informasi yang telah diketahuinya, memperoleh informasi untuk laporan lisan atau tertulis, mengkonfirmasikan atau menolak prediksi, menampilkan suatu eksperimen atau mengaplikasikan informasi yang diperoleh dari suatu teks.
B.   Saran
Sebagai seorang mahasiswa yang mengkhususkan diri dalam bidang pendidikan membaca sangatla penting, dengan membacalah kita bisa mengetahui berbagai informasi dan sekalian menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.
Membaca murupakan salah satu wadah pengtahuan yang sanyat baik suntuk semua orang baik anak-anak maun orang yang sudah lanjut ujaia, jadi rajin-rajinla membaca walaupun itu hanya sedikit sesungguhnya membaca itu tidak akan rugi mala akan membawah kearah yang lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson. 1972. membaca. Bandung : Pustaka
Amir. 1996. membaca. Jakarta : Rhineka Cipta.

Soedarso. 1998. jenis-jenis membaca. Jakarta : Airlangga

Tampubolon. 1998. jenis-jenis membaca. . Bandung : Rineka Cipta.
Tarigan. 1990. Membaca sebagai suatu keterampilan berbahasa. Percetakan Angkasa.
Widyamartaya. 1992. manfaat membaca.Jakarta Pustaka
Sudarso. 2001.  Pemahaman atau Kompherensi Membaca.Bandung Airlangga



1.      Anderson, membaca. 1972 hal: 209-210
2.       Amir,membaca, 1996 hal:4

3.       Amir,membaca, 1996 hal:5
4.       Soedarso,jenis-jenis membaca, 1998 hal:18
5.       Tampubolon,jenis-jenis membaca. 1998 hal:21
6.       Tarigan, Membaca sebagai suatu keterampilan berbahasa, 1990 hal:32
7.       Widyamartaya, manfaat membaca, 1992 hal: 140-141
8.       Sudarso, Pemahaman atau Kompherensi Membaca, 2001 hal 37
9.       Sudarso, Pemahaman atau Kompherensi Membaca, 2001 hal 38

MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...