Senin, 03 Desember 2018

MAKALAH AQIDAH / AKHLAQ


MAKALAH AQIDAH /  AKHLAQTENTANG AKHLAQ TERHADAP ORANGTUA

i
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Sebagai seorang muslim yang baik kita tentu tahu bahwa akhlak terhadap orang tua merupakan sesuatu hal yang sangat penting. Karena, orang tua adalah orang yang mengenalkan kita pada dunia dari kecil hingga dewasa. Dan setiap orang tua pun pasti mempunyai harapan terhadap anaknya agar kelak menjadi anak yang sukses, berbakti kepada orang tua, serta menjadi lebih baik dan sholeh.
Maka dari itu, jika kita memang seorang muslim yang baik hendaknya kita selalu berbakti kepada orang tua, melakukan apa yang telah diperintahkan oleh orang tua, dan pantang untuk membangkang kepada orang tua.
 Orang tua adalah manusia yang sangat mendapatkan perhatian khsus dalam ajaran islam. orang tua walaupun berbeda agama atau keyakina, tetapi harus dihormati menurut perspektif Islam dan perintah untuk menghormati orangtua disebutkan dalam Al-Qur’an dan juga dalam hadits Rasullah SAW. Penghormatan anak terhadap kedua orangtua adalah sangat wajar ini disebabkan aatara anak dan orang tua memiliki hubungan batin yang sangat kuat dan erat. ibu mengandung nya selama sembilan bulan dan sangat menderita , demikan pu;la seorang ayah dalam mencari rezeki siang dan malam demi anak dan keluarga.
Namun di zaman dewasa ini banyak dari kita seperti lupa terhadap kewajiban kita terhadap orang tua sebagai muslim yang baik, yaitu adalah kita harus memiliki akhlak yang sempurna terhadap orang tua kita. Makalah ini mengandung poin-poin penting bagaimana menjadi seorang anak yang berbakti terhadap orang tuanya. Maka selain sebagai upaya untuk mengerjakan tugas akhlak, saya berharap bahwa tugas makalah ini juga dapat dijadikan sebagai pengingat bagi setiap orang muslim yang membacanya  akan pentingnya akhlak terhadap orang tua.

B.     Perumusan  Masalah
Rumusan Masalah yang penulis ambil dari Makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Pengertian Akhlak kepada Orang Tua
2.      Kewajiban Berbakti kepada Orang Tua
3.    Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua
4.    Adapun Hak-Hak Orangtua yang Harus Dilakukan Seorang Anak
5.    Berbakti kepada Orang Tua Menurut Pendekatan Rasional
6.      Beberapa Hal yang Perlu Dilakukan Terhadap Orangtua
7.    Pahala bagi orang yang berbakti kepada  OrangTua
8.    Sebab-sebab Durhaka Kepada OrangTua
9.    Balasan Orang yang durhaka Kepada Orangtua
ii
BAB II
PEMBAHASAN

      A.    Pengertian Akhlak kepada Orang Tua
Akhlak berasal dari bahasa arab yaitu Al-khulq, Al-khuluq yang mempunyai arti watak, tabiat. Secara Istilah Akhlak menurut Ibnu MaskawiAkhlak adalah sesuatu keadaan bagi jiwa yang mendorong ia melakukan tindakan-tindakan dari keadaan itu tanpa melalui pikiran dan pertimbangan. Sedangkan yang dimaksud kedua orang tua adalah Bapak Ibu baik itu dari keturunan (Nasab) atau susuan, baik keduanya orang muslim ataupun kafir, termasuk juga kedua orang tua adalah nenek dan kakek dari kedua belah pihak.
Menurut Ad-Durjani Birul Walidain adalah mengormati dan berbakti kepada kedua orang tua. Menurut Imam As-Syafii Birul Walidain adalah berbakti kepada orang tua baik yang masih hidup ataupun yang telah meninggal dunia. Menurut Muhammad Abduh Birul Walidain adalah taat melaksanakan apa-apa yang diperintahkan oleh kedua orang tua dalam kebaikan. Menurut Ibnu Qoyim Birul Walidain adalah Berbakti kepada kedua orang tua semata-mata karena Allah SWT.
Jadi bisa disimpulkan bahwa Akhlak kepada Orang Tua adalah Menghormati dan menyayangi mereka berdua dengan sopan santun dan berbakti kepada keduanya dalam keadaan hidup dan dalam keadaan sudah meninggal dunia. Rosulullah SAW menjelaskan dalam Haditsnya bahwa Kita harus menghormati kedua orang tua :
“  Hormatilah Bapak dan Ibumu “

    B.     Kewajiban Berbakti kepada Orang Tua
     Berbakti (Al Birr) adalah kata yang mencakup kebaikan dunia dan akhirat, berbakti kepada kedua orang tua adalah dengan berbaik kepada keduanya, memenuhi hak-hak keduanya, dan mentaati keduanya.
     Allah SWT Berfirman dalam Surat Al-Isra ayat 23 :
وبالوالدين إحساناً
     “ Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua “
      Hal ini menunjukan bahwa akhlak menghormati orang tua adalah suatu hal yang sangat penting yang dianjurkan oleh Rosulullah kepada Umatnya.Adapun akhlak anak terhadap orang tua adalah sebagai berikut : Sayangilah, cintailah, hormatilah, patuhlah kepadanya rendahkan dirimu, sopanlah kepadanya. Ketahuilah bahwa kita hidup bersama orang tua merupakan nikmat yang luar biasa, kalau orang tua kita meninggal alangkah sedihnya hati kita karena tidak ada yang dipandang lagi.
      Allah SWT telah memerintahkan supaya Kita jangan menyembah selain Dia dan hendaklah Kita berbuat baik pada Ibu Bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.[1]
1
Allah SWT Berfirman dalam Surat Al-Isra ayat 23:
فلا تقل لهما أف ولا تنهرهما وقل لهما قولا كريماً
“Maka janganlah Kamu mengatakan ah kepada orang tua dan janganlah membentaknya dan ucapkanlah kepada keduanya dengan perkataan yang baik”.
     Kita juga diperintahkan oleh Allah SWT untukmerendahkanlah diri terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:
"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".(QS Al-Isra : 24)

    C.    Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua
Rosulullah SAW Bersabda :
“Dari Abdullah Bin Mas’ud berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah: “Amalan apakah yang dicintai oleh Allah” Beliau menjawab: “Sholat pada waktunya. Aku bertanya lagi: “Kemudian apa” Beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua”. Aku bertanya lagi: “Kemudian apa” Beliau menjawab: “Jihad dijalan Allah”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dari Hadits tersebut bisa disimpulkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua itu merupakan amal perbuatan yang paling dicintai oleh Allah SAW.

    D.    Adapun Hak-Hak Orangtua yang Harus Dilakukan Seorang Anak
1.      Anak harus patuh kepada setiap perintah dan larangan orangtua selama perkara tersebut sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul.
2.      Anak harus memuliakannya dan menghornati nya dalam segala kondisi dan berbagai kesempatan baik dalam ucapannya maupun tindakannya.
3.      Anak harus memuliakan tugas terbaik terhadap kedua orangtua.
4.      Anak harus medahulukan hal yang terbaik kepada keduanya[2].

       E.      Berbakti kepada Orang Tua Menurut Pendekatan Rasional
Karena semenjak awal bulan kehamilan dan menjelang kelahiranya kita dijaga keselamatan kita dengan taruha nyawa.Belaian kasih sayangnya memanjakan kita dan do’a nya selalu menyertai kita.Dan karena itulah Allah mewasiatkan kepada seluruh manusia agar berbuat baik kepada Ibu Kita.2
Dan Ibu Kita merawat jasmani dan rohani kita sejak kecil secara langsung, maka bapak pun juga merawat kita, mencari nafkah untuk kita, membesarkan kita, mendidik kita dan menyekolahkan kita, disamping usaha ibu. Kalau mulai mengandung sampai masa muhariq (masa dapat membedakan mana yang baik dan buruk), seorang ibu sangat berperan, maka setelah mulai memasuki masa belajar, ayah lebih tampak kewajibannya, mendidik kita dan mempertumbuhkannkia menjadi dewasa, namun apabila dibandingkan antara berat tugas ibu dengan ayah, mulai mengandung sampai dewasa dan sebagaimana perasaan ibu dan ayah terhadap putranya, maka secara perbandingan, tidaklah keliru apabila dikatakan lebih berat tugas ibu dari pada tugas ayah.
Coba bandingkan, banyak sekali yang tidak bisa dilakukan oleh seorang ayah terhadap anaknya, yang hanya seorang ibu saja yang dapat mengatasinya tetapi sebaliknya banyak tugas ayah yang bisa dikerjakan oleh seorang ibu.Barangkali karena demikian inilah maka penghargaan kepada ibunya. Walaupun bukan berarti ayahnya tidak dimuliakan, melainkan hendaknya mendahulukan ibu daripada mendahulukan ayahnya dalam cara memuliakan orang tua.
Allah SWT Berfirman dalam Surat Al-Luqman : 1
Artinya:“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah dan bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu” (QS.Luqman:14)
      F.     Beberapa Hal yang Perlu Dilakukan Terhadap Orangtua
Syeikh Muhammad bin Jamil Zainu mengatakan bahwa ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh seorang  anak terhadap orangtua supaya ia berhasil didunia dan diakhirat . Pendapat-pendapat beliau didasarkan atas Al-Qur’an dan sunnah Rasullah SAW. diantaranya adalah :
1.      Berbicaralahh kepada orang tua dengan penuh sopan santun.Jangan mengucapkan kata “ah” kepada mereka, jangan hardik mereka akan tetapi berbicaralah dengan perkataan yang baik dan halus,
2.      Taatlah selalu kepada kedua orangtua mu salama tidak bermaksiat kepada Allah Swt.
3.      Bersikap lemah lembut terhadap orangtua, jangan bermuka masam dan jangan melihat keduanya dengan rasa marah.
4.      Jagalah nama baik keduanya. kehormatannya dan janganlah mengambil miliknya tanpa seizin lebih dahulu kepada keduanya.
5.      Lakukan hal-hal yang meringankan mereka walaupun tanpa diperintah.
6.      Selalu bermusyawarah dengan orangtua dalam setiap pekerjaan dan meminta maaf kalau ada perselisihan paham dengan keduanya.
7.      Bersegaralah mmemenui panggilan keduanya dengan wajah yang berseri seri dengan mengeluarkan kata kata yang lembut dan bijak.

3
8.      Hormatilah kawan dan karib kerabat keduanya baik ketika mereka masih hidup maupun mreka sudah meninggal.
9.      Jangan membantah keduanya jangan pula menyalahkan keduaya,t etapi berusaha menjelaskan keduanya dengan sopan dan kebenaran.
10.  Jangan membantah perintah kedunaya. Dengarkan pembicaraan keduanya, bersikap sopan santunlah dan jangan mengganggu saudaramu karena mungkin hal itu menyakiti hati keduanya.
11.  Bangunlah jika orangtuamu masuk ketempat mu dan ciumlah kepala dan tangannya.
12.  Bantulah ibu dan ayahmu baik didalam rumah ataupun ditempat keduanya bekerja.
13.  Jangan pergi sebelum ada izin dari keduannya walaupun itu penting sekali, jika pun harus pergi maka usahakanlah minta maaf kepadanya.
14.  Jangan masuk ketempat keduanya sebelum meminta izin kepadanya, mungkin mereka sedang istirahat.
15.  Jangan makan sebelum mereka dan jangan mencela kalau ada seesuatu yang tidak kamu senangi.
16.  Jangan utamakan istrimu dan anak-anakmu atas keduanya, minta Ridholah kepada kedunya sebelum melakukan sesuatu. karena Ridho Allah terletak pada Ridho keduanya, dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaannya.
17.  Jangan duduk ditempat yang lebih tinggi dari keduanya dan jangan menyelonjorkan kedua kakimu dengan congkak didepan keduanya.
18.  Jangan sombong dan merasa malu akan nasib orangtuamu karena kamu seorang penjabat tinggi, usahakanlah agar tidak pernah menyakitinya walapun hanya satu perkataan.
19.  Jangan terlalu kikir terhadap orangtua dan infaklah hartamu kepada keduanya . Jangan sampai ia mengadu padamu, itu merupakan kehinaanmu bagimu. dan kamu akan mendapatkan balasandari anak-anakmu.
20.  Perbanyaklah melakukan kunjungan terhadap orangtuamu, berilah hadiah, dan ucapankan rasa terimakasih kepadanya dan bantuannya sehingga dapat menyelasaikan program pendidikanmu, atas segala bantuan dan kepeduliannya dalam membesarkan, mendidikmu di waktu kecil[3].

                                              
     G.     Pahala bagi orang yang berbakti kepada  OrangTua
Allah telah menjanjikan orang-orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya dengan kebaikan yang banyak di dunia dan akhirat dan dia akan mendapatkan pahala yang besar di akhirat, dan diantaranya adalah sebagai berikut4
1.      Pahala di Dunia
·         Dipanjangkan umurnya
·         Diperbanyak rizkinya
·         Dikabulkan doanya
·         Anak dan cucunya akan berbakti kepadanya
·         Dicintai keluarganya dan tetangganya
·         Dijauhkan dari mati dalam keburukan
·         Dipuji oleh manusia dan mereka akan berterima kasih padanya
·         Allah akan meridhainya
2.      Pahala di Akhirat
·         Berbakti adalah salah satu penyebab utama masuk surga
·         Dimasukan surga dengan orang-orang yang pertama kali dimasukkan surga
·         Penebus dosa[4]

     H.    Sebab-sebab Durhaka Kepada OrangTua
Durhaka adalah setiap perbuatan dan perkataan seorang anak yang dapat menyakiti kedua orang tuanya.Durhaka adalah perbuatan yang dilarang (haram) dan termasuk dosa besar. Tidak seorangpun yang berani berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya kecuali orang yang sakit dan bodoh, berikut beberapa penyebab kedurhakaan :
1.      Kebodohan akan keutamaan kedua orang tua, dan kebodohan terhadap akibat yang akan ditanggungnya bila seseorang melakukan perbuatan durhaka kepada keduanya didunia dan akhirat, oleh karena itu Ibnu Abbas RA berkata : Setiap orang yang melakukan kemaksiatan kepada Allah dialah orang yang bodoh, dan oleh karena itu dikatakan : “Barang siapa yang bodoh akan sesuatu maka dia akan melanggarnya”.
2.        Mengutamakan dan mendahulukan sebagian anaknya terhadap anak-anaknya, oleh karena itu syariat melarang perbuatan ini, dan mengingatkan akibat yang akan ditimbulkan, ketika datang Basyir bin Saad kepada Nabi Saw untuk memberikan hadiah pada anaknya Nu'man, Beliau berkata padanya : Apakah setiap anakmu menerima pemberian ini ? dia menjawab : tidak, Beliau berkata : Jangan jadikan aku sebagai saksi kedzaliman, jadikan selain aku sebagai saksi, tidakkah kamu suka mereka berbakti padamu secara sepadan.
3.      Tidak memperhatikan nafakah dimasa kanak-kanak mereka dan tidak memperdulikannya.
4.      Tidak memperhatikan hak-hak isteri dan cenderung memperhatikan sebagian isterinya tanpa memperhatikan isteri lainnya.
5.       Teman yang tidak baik
5
Rosulullah SAW Bersabda :
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "أعينوا أولادكم على البر، من شاء استخرج العقوق  من ولده
“Dari Abu Hurairah RA berkata : Rasulullah Saw bersabda : berilah pertolongan kepada anakmu untuk berbakti, bila seseorang mampu maka keluarkan sifat durhaka dari anaknya”.( HR,Bukhari Muslim )

I     .       Balasan Orang yang durhaka Kepada Orangtua
1.      Balasan Di Dunia
·         Disempitan rizki.
·         Tidak dipanjangkan umurnya
·          Amalanya tidak diangkat pada hari kamis
·         Pintu-pintu langit tidak dibuka untuk amalannya
·          Allah akan memurkainya
·         Keluarga dan tetangganya akan memurkainya
·         Ditakutkan akan meninggal dalam keburukan
·         Para malaikat dan orang-orang mukmin akan melaknatnya
·         Doanya tidak dikabulkan
·         Balasannya akan diberikan didunia dan diakhirat akan mendapatkan balasan juga
·         Anak-anak dan cucunya akan mendurhakainya
2.       Balasan Di Akhirat
·         Haram masuk surga
”Tidak akan masuk surga, pendurhaka terhadap kedua orang tua”. (H.R. Nasa’i danAhmad)
·         Dimurkai Allah SWT
“keridhaan Allah tergantung keridhaan orang tua, dan murka Allah pun tergantung pada murka kedua orang tua”.(H.R. Al-Hakim)
·         Allah tidakmenerima Shalatnya
“Allah tidak akan menerima shalat orang yang durhaka kepada orang tuanya “.(H.R.  Abu Daud)
·         Anak-anak yang mendurhakai orangtuanya akan di kutuk oleh Allah
·          Disegerakan siksanya di dunia[5]
BAB III
PENUTUP

A.        Kesimpulan
Akhlak terhadap orang tua merupakan akhlak yang sangat penting, hingga dosa dari berbuat durhaka kepada orang tua berada di tingkat kedua setelah dosa menyekutukan Allah. Ibu merupakan orang tua yang wajib kita hormati, atas apa yang telah beliau berikan kepada kita dari mengandung kita selama sekitar 9 bulan 10 hari hingga sekarang. Penerapan dalam akhlak menghormati orang tua sangat diperlukan karena itu merupakan kewajiban kita sebagai seorang muslim, cara menghormati orang tua ang masih hidup dapat dimulai dari hal-hal yang kecil, contohnya: Berbakti dengan melaksanakan nasehat dan perintah yang baik dari keduanya, selalu melaksanakan perintah orangtua dan masih banyak yang lainnya.
Dan untuk berbakti kepada orangtua yang sudah meninggal ada beberapa cara yang dapat dilakukan contohnya: Merawat Jenazahnya, menyambung silaturahmi dengan kerabatnya, dan juga masih banyak yang lainnya. Diantara sebab-sebab seseorang durhaka kepada orang tua diantaranya adalah bodoh dan tidak mengetahui keutamaan orang tua serta adanya sifat pilih kasih terhadap yang lainya.
Sementara akibat-akibat bagi orang yang mendurhakai orang tua sebagai contoh: Allah akan mengutuk dan Allah akan menyegerakan azab serta Allah akan murka kepadanya. Untuk mngatasi anak yang sering membantah kepada orang tuanya bisa dilakukan dengan berbagai cara,diantaranya meningkatkan kasih sayang dan perhatian terhadap anak serta arahkanlaah anak kepada pergaulan yang baik dan benar.
B.        Saran
Diharapkan kepada semua generasi Muda agar menghormati dan menyayangi Orang Tua Kita kapanpun dan dimanapun Kita berada, berbaktilah kepada kedua orang tua kita dan janganlah kita durhaka kepada keduanya. 
7
DAFTAR PUSTAKA

ü  Abdurrahman, Muhammad. Akhlak Menjadi Seorang Muslim Berakhlak Mulia.Jakarta : Rajawali Pers. 2016.
ü  Nasution, Lahmudin. Akhlak Mahmudah Kepada Orang Tua. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Cet. 1. 2001
ü  Ritonga, A. Rahman.Berbuat baik kepada Orang Tua. Surabaya: Amalia. 2005



MAKALAH ETIKA PROFESI GURU DI MI, MTs DAN MA

MAKALAH ETIKA PROFESI GURU DI MI, MTs DAN MA


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam proses beiajar mengajar, guru menempati posisi penting dan penentu berhasil tidaknya pencapaian tujuan suatu proses pembelajaran. Sekalipun proses pembelajaran telah menggunakan berbagai model pendekatan dan metode yang lebih memberi peluang siswa aktif, kedudukan dan peran guru tetap penting dan menentukan.
Dalam sebuah ungkapan bahasa Arab dinyatakan, "ath-thoriqotu ahammu minal maadah, wal mudarrisu ahammu min kulli sya’i " (Metode atau cara pembelajaran lebih penting daripada materi pembelajaran, dan guru lebih penting dari segalanya). Ungkapan ini mengandung makna bahwa seorang guru harus menguasai materi pembelajaran yang akan disampaikan. Lebih baik dari itu, penguasaan metode pembelajaran oleh seorang guru memiliki arti lebih penting lagi dan menentukan keberhasilan suatu proses pembelajaran dari pada hanya penguasaan materi. Di atas itu semua, posisi dan peran guru jauh lebih penting dan menentukan atas segalanya. Materi, metode, media, dan sumber pembelajaran, semuanya menjadi tidak bermakna apabila guru tidak mampu memerankan tugasnya dengan baik.
B. Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian Kepribadian Guru ?
2.      Bagaiamana Karakteristik Kepribadian Guru Di MI, MTS, Dan MA?
3.      Apa Saja Komponen -Komponen Yang Ada Dalam Kepribadian Guru?
C. Tujuan.
1.      Untuk mengetahui Apa itu Pengertian Kepribadian Guru.
2.      Untuk mengetahui Bagaiamana Karakteristik Kepribadian Guru Di MI, MTS, Dan MA.
3.      Untuk mengetahui Apa Saja Komponen -Komponen Yang Ada Dalam Kepribadian Guru.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Kepribadian Guru.
Faktor terpenting dari seorang guru adalah kepribadiannya. Karena dengan kepribadian itulah seorang guru bisa menjadi seorang pendidik dan pembina bagi anak didiknya atau bahkan malah sebaliknya akan menjadi perusak dan penghancur bagi masa depan anak didiknya. Kepribadian yang sesungguhnya adalah abstrak, sulit dilihat dan tidak bisa diketahui secara nyata yang dapat diketahui yaitu hanyalah penampilan dari segi luarnya saja yaitu misalnya : dalam tindakannya, ucapannya, cara bergaul, berpakaian dan menghadapi segala persoalan atau masalah baik yang ringan ataupun yang berat.
Kepribadiaan adalah sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri-ciri khas dan prilaku seseorang. Pola berarti sesuatu yang sudah menjadi standar atau baku, sehingga kalu dikatakan pola sikap itu sudah berlaku terus-menerus secara konsisten dalam menghadapi situasi yang dihadapi. 
Menurut Zakiah Darajat ada 2 macam kepribadian guru yaitu :
1.      Guru yang menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang memerintah dan menyumh yaitu hal seperti ini kurang menyenangkan dalam pendidikan.
2.      Guru yang menempatkan sebagai pembimbing bagi anak didiknya yaitu biasanya guru seperti ini sangat menarik dan menyenangkan. Maksudnya yaitu ia akan disenangi dan disayangi oleh anak didiknya. 
Bagaimanapun seorang guru memberikan pelajaran bahkan penguasaan materi yang matang tanpa diiringi oleh kepribadian yang baik dan menarik seorang guru bisa menjadi guru yang ideal. Menurut Thomas Gordon yang disebut oleh Drs. Mudjito definisi guru ideal diambil dari mitos umum tentang guru dan pengajaran yaitu:
1.       Guru yang baik adalah guru yang kalem tidak pernah berteriak dan bertempramen baik selalu tenang dan tak pernah menunjukkan emosi yang tinggi.
2.       Guru yang tidak pernah berprasangka buruk.
3.      Menerima anak didik dengan semua pandangan yang sama.
4.       Menyediakan lingkungan belajar yang menarik,merangsang atau stimulus, tenang bebas dan sesuai dengan aturan setiap saat.
5.      Selalu konsisten dan mempunyai pengetahuan yang banyak dibandingkan oleh anak-anak muridnya. 
Menurut M.L Soelaiman, ada resep tentang bagaimana mengolah dan memasak guru yang diambil dari inggris yang kira-kira berbunyi "carilah seorang ppribadi yang muda, kuat dean menarik, kemudian kupaslah segala sifatnya yang berlebih-lebihan dalam bentuk suara, pakaian dan tindak tanduknya yang mungkin membungkusnya. Kemudian tuangkanlah dengan suatu adonan berupa campuran dank keberanian Abu Daud, kebijaksanaan seperti nabi Sulaiman, seperti kekuatan Samson dan Kesabaran nabi Ayyub, yaitu dalam takaran sama banyaknya. Bumbunya adalah garamnya pengalaman, ladanya semangat, dan minyaknya simpati dan jangan lupa humor sebagai bumbu penyedapnya. Maksudnya dari penjelasan diatas adalah untuk menjadi guru yang baik, kepribadian guru harus lebih kuat baik fisik maupun mental. Sebab dalam tugasnya guru mempunyai wewenang dalam mengahadapi tugas dan tanggung jawab yang cukup berat, kemudian guru harus berjiwa muda yang dapat menyelami gejolak perasaan serta liku-liku hidup generasi muda dan harus mempunyai daya tarik agar dapat mendekati dan didekati oleh siswa. 
Untuk menjadi guru yang berkompetensi, maka guru harus mengembangkan kepribadiannya yang meliputi:
1.      Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.      Berperan sebagai masyarakat sebagai warga negara yaitu yang berjiwa Pancasila.
3.      Mengembangkan sifat-sifat terpuji yang dipersyaratkan bagi jabatan guru. 
Ketiga hal diatas dianggap perlu karena seluruh ranah kompetensi guru wajib menjalankan apa-apa yang dianggap sebagai norma dan falsafah hidup suatu bangsa, beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah syarat wajib yang harus dimilikioleh setiap warga negara bukan hanya seorang guru yang memilikinya, karena syarat dari warga negara Indonesia diantaranya adalah beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Selain beriman kepada tuhan Yang Maha Esa seorang guru hendaknya harus menyatu dengan masyarakat karena disamping sebagai guru tersebut sebagai contoh panutan/tauladan bagi anak didiknya dimasyarakat tersebut juga bagian dari masyarakat yang mempunyai satu kesatuan dan saling ketergantungan. Namun hal yang paling terpenting dalam kehidupan seorang guru adalah pengembangan sifat-sifat terpuji dan akhlakul karimah yaitu sesuai dengan tujuan pendidikan agama Islam bagi seorang guru. Kepribadian guru juga merupakan salah satu faktor terpenting didalam melakukan atau melaksanakan penciptaan suasana yang menguntungkan dalam proses belajar mengajar.
Menurut Abu Ahmadi seorang guru yang berhasil dituntut untuk beriskap hangat, adil, objektif, dan fleksibel sehingga terbina suasana emosional yang menyenangkan dalam proses belajar mengajar. Kompetensi adalah seperangkat tindakan inteligen penuh tanggung jawab yang harus dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu melaksanakan tugas-tugas dalam bidang pekerjaan tertentu. Sifat inteligen harus ditunjukkan sebagai kemahiran, ketepatan dan keberhasilan bertindak. Sifat tanggung jawab harus ditunjukkan sebagai kebenaran tindakan baik dipandang dari susut ilmu pengetahuan, teknologi maupun etika. Dalam arti tindakan itu benar ditinjau dari sudut ilmu pengetahuan, efisien, efektif dan memiliki daya tarik dilihat dari sudut teknologi dan baik ditinjau dari sudut etika. 
Secara etimologis kata guru berasal dari bahasa sansekerta yang mempunyai arti yang dihormati. Seorang guru pada hakikatnya adalah seorang pembimbing spiritual bagi seseorang atau kelompok yang dirinya telah menguasai kemampuan spiritual. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya) mengajar.
Dalam UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (pasal 1 Ketentuan Umum), definisi Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Jadi, Kompetensi guru adalah himpunan pengetahuan, kemampuan, dan keyakinan yang dimiliki seorang guru dan ditampilkan untuk situasi mengajar. Atau dengan kata lain kompetensi guru adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.[1]

B.     Kepribadian Guru Madrasah Ibtida'iyah.
Segenap guru hendaknya mengetahui dan menyadari betul bahwa kepribadiannya yang tercermin dalam berbagai penampilan itu ikut menetukan tercapai atau tidaknya tujuan pendidikan pada sebuah lembaga pendidikan itu sendiri, pada umumnya dan pada tempat ia mengajar pada khususnya. Kepribadian guru akan diserap dan diambil oleh anak didik menjadi unsur dalam kepribadiannya yang sedang tumbuh dan berkembang.
Madrasah Ibtida'iyah di Indonesia bertujuan untuk mencetak anak didik yang menjadi seorang warga negara yang baik, menerima dan mau melaksanakan pancasila dan UUD 1945. Selain itu juga madrasah ini bertujuan untuk menumbuhkan sikap dan nilai-nilai yang positif lainnya yang diperlikan bagi seorang muslim yang baik sehat jasmani maupun rohaninya, berpikiran maju dan berminat pada ilmu pengetahuan dan lain-lian. Semua yang ingin dicapai oleh tujuan madrasah ini yang dijabarka dalam kurikulumnya harus dapat benar-benar dipahami dan dilaksanakan oleh semua guru dan tercermin dalam bentuk penampilan kepribadinnya.

C.     Kepribadian Guru Madrasah Tsanawiyah
Syarat kepribadian bagi guru madrasah tsanawiyah tidak begitu banyak berbeda dengan guru madrasah ibtida'iyah. Artinya setiap guru yang mengajar pada madrasah Tsanawiyah harus memahami tujuan dari madrasah tsanawiyah tersebut dan selanjutnya harus tercermin dalam bentuk kepribadinnya. Hubungan yang tercermin antara guru dan murid hendaknya dekat kepada kakak dan adik, yang bersifat membimbing dengan penuh rasa pengertian karean para siswa sedang berada dalam umur goncang akibat pertumbuhan jasmani yang sedang dialaminya.
D.    Kepribadian Guru Madrasah Aliyah
Guru madrasah aliyah memerlukan persyaratan kepribadian yang hampir sama dengan kepribadian guru di madrasah Ibtida'iyah dan madrasah Tsanawiyah, walaupun bidang study dan keahliannya semakin banyak dan bermacam-macam sesuai dengan jurusannya masing-masing. Kepribadian seorang guru madrasah harus dapat menjamin tercapainya tujuan pendidikan pada madrasah aliyah tersebut secara khusus dan tujuan pendidikan secara umum.
Dalam mencapai tujuan yang berpijak kepada dasar yang telah ditentukan dalam kurikulum madrasah aliyah sangat diperlukan persyaratan kepribadian guru yang akan melaksanakan kuikulum itu. Betapapun baiknya kurikulum itu dan banyaknya buku-buku dan alat pelajaran namun tujuan kurikulum itu tidak tercapai, jika guru yang melaksanakan kurikulum tersebut tidak memahami, tidak menghayati, tidak berusaha mencapainya dengan keseluruhan pribadi dan tenaga yang ada pada guru tersebut.[2]

E.      Komponen-Komponen Kompetensi Pribadi
Kemampuan pribadi meliputi hal-hal sebagai berikut:
1.       Mengembangkan kepribadian.
a.        Bertaqwa kepada tuhan Yang Maha Esa.
-       Mengkaji ajaran-ajaran yang dianut
-       Mengamalkan ajaran yang dianut
-        Mencerminkan sikap sal ing menghargai antar umat beragama
b.      Berperan dalam masyarakat sebagai warga Negara yang berjiwa Pancasila
-       Mengkaji berbagai macam manusia pancasila.
-       Mengkaji sifat-sifat kepatriotan baangsa Indonesia. 
-       Menghayati pada patriot dalam merebut, mempertahankan dan  mengisi kemerdekaan.
-       Membiasakan diri menerapka nilai pancasila dalam kehidupan.
-       Mengkaji hubungan manusia dengan lingkungan alamiah buatan.
-       Membiasakan diri menghargai lingkungan hidup.
c.       Mengembangkan sifat-sifat terpuji yang dipersyartkan bagi jabatan guru
-       Mengkaji sifat-sifat yang harus dimiliki bagi jabatan guru
-       Membiasakan diiri menerapkan sifat-sifat sabar, demokratis, menghargai pendapat orang lain, sopan santun, tanggap terhadap pembaharuan.
2.       Berinteraksi berkomunikasi
a.       Berinteraksi dengan sejawat untuk meningkatkan profesional.
-        Mengkaji ajaran struktur organisasi Depdiknas
-       Mengkaji hubungan kerja professional "Berlatih menerima, memberikan balikan
-       Membiasakan diri mengikuti perkembangan profesi.
b.      Berinteraksi dengan masyarakat untuk penunaian misi pendidikan.
-       Mengkaji berbagai lembaga kemayarakatan yang berkaitan dengan pendidikan.
-       Berlatih menyelenggarakan kegiatan masyarakat yang menunjang usaha-usaha pendidikan.
3.      Melaksanakan bimbingan penyuluhan
a.       Membimbing siswa yang mengalami kesulitan
-       Mengkaji konsep dasar bimbingan.
-       Berlatih mengenai kesulitan belajar murid.
-       Berlatih memberikan bimbingan kepada murid yang mengalami kesulitan belajar.
4.      Melaksanakan Administrasi sekolah.
Mengenal pengadministrasian kegiatan sekolah
-        Mengkaji berbagai jenis sarana administrasi sekolah.
-       Mengkaji pedoman administrasi sekolah.
-       Melaksanakan kegiatan administrasi sekolah.
-       Berlatih membuat mengisi berbagai format administrasi sekolah.
-       Berlatih menyelenggarakan administrasi sekolah.
5.       Melaksanakan penelitian sedcrhana untuk keperluan pengajaran. 
a.        Mengakaji konsep dasar penelitian ilmiah.
-       Mengkaji konsep dasar ilmiah yang sederhana.
-       Memahami laporan penelitian sederhana untuk kepentingan pengajaran.
b.      Melaksanakan penelitian sederhana
-       Menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran.
-       Membiasakan diri untuk melakukan penelitian untuk keperluan pengajaran.
Adapun kemampuan kepribadian guru dalam proses belajar mengajar secara rinci yaitu sebagai berikut:
1.       Kemantapan integritas pribadi
Seorang guru dapat dituntut untuk dapat bekerja secara teratur tetapi kreatif dalam mengahadapi ppekerjaannya sebagai guru. Menurut Oemar Hamalik "Kemampuan dalam bekerja hendaknya merupakan karakteristik pribadinya, sehingga pola hidup seperti ini terhayati pula oleh siswa. Kemantapan integritas pribadi tidak terjadi, dengan sendirinya melainkan tumbuh melalui proses belajar yang sengaja diciptakan . Misalnya : Seorang guru dalam mengajarkan bab masalah muamalah kepada murid, guru tidak boleh sekedar hanya mengajarkan tetapi harus mampu mengaplikasikan juga dalam kehidupannya secara konsisten baik didalam sekolah maupun diluar sekolah dan hal ini pun harus dilatih dan terus dilatih melalui proses belajar mengajar.
2.      Peka terhadap perubahan atau pembaharuan
Dimaksudkan agar apa yang dilakukan oleh sekolah tetap konsisten dengan kebutuhan zaman. Untuk itu kemampuan penelitian merupakan karakteristik yang harus dikuasai oleh guru walaupun dalam bentuk sifat yang sederhana. Sebagai contoh seperti yang kita lihat sekarang dalam kehidupan masyarakat banyak hal-hal yang baru dalam tatanan kehidupannya. Mungkin sesuatu yang baru ini tidak terjadi pada zaman nabi, sehingga nabi tidak menjalaskan masalah hukumnya, jadi seorang guru harus peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dengan mengadakan suatu penelitian agar tidak terjadi ketinggalan zaman yang disebabkan adanya tatanan baru yang ada dalam kehidupan masyarakat.
3.      Berpikir alternative
Ini dimaksudkan untuk menghindari verbalisme dan absolutisme. Untuk itu panduan belajar untuk setiap pelajaran harus dibuat setiap semester. Guru harus mampu memberikan berbagai alternative jawaban memilih salah satu alternative untuk kelancaran proses belajar mengajar dan meningkatkan akan mutu pendidikan. Misalnya: dalam mengajarkan masalah do'a qunut pada shalat shubuh, seorang guru tidak boleh menekankan pada satu pendapat ulama saja, misalnya ulama mengatakan tidak boleh, karena ini akan mengakibatkan verbalisme tetapi seorang guru harus berpikir alternatif dengan cara memberikan berbagai pendapat-pendapat ulama dari dari berbagai macam rujukan/sumber buku untuk menghindarkan verbalisme pada diri anak didik.
4.        Adil, jujur dan objektif
Sifat-sifat ini harus ditunjang dengan mengamalkan nilai-nilai moral, social yang diperoleh dari kehidupan masyarakat serta pengalaman belajar yang diperolehnya. Adil artinya menempatkan sesuatu pada tempatnya sedangkan jujur adalah tulus ikhlas dalam menjalankan fungssinya sebagai guru. Objektif artinya menjalani aturan-aturan yang ditetapkan tidak pilih kasih. Hal ini memang sangat sesuai dengan kepribadian guru apalagi guru agama, karena dalam materi PAI ada yang membahas masalah tersebut, jadi seorang guru tidak hanya mengajarkan masalah-masalah tersebut, tetapi dituntut untuk mengaplikasikannya didalam kehidupannya sehari-hari bagaimana seorang siswa aka berlaku adil, jujur sesuai yang diajarkan oleh seorang pendidik kalau guru itu sendiri tidak melakukannya.
5.      Berdisiplin dalam melaksanakan tugas
Disiplin muncul dari kebiasaan hidup yang teratur serta mencintai dan menghargai pekerjaan. Disiplin memerlukan proses pendidikan untuk itu guru memerlukan pemahaman tentang landasan ilmu pendidikan. Disiplin adalah sesuatu yang terletak didalam hati didalam jiwa seseorang yang memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu tidak sebagaimana yang ditetapkan oleh norma-norma aturan yang berlaku. Misalnya, ketika mendapat tugas jam mengajar pada jam pertama,harus dating tepat waktu, jangan sampai terlambat karena hal ini akan menciptkan suatu kondisi yang teratur dalam proses belajar mengajar.
6.       Ulet tekun bekerja
Keuletan ketekunan dalam bekerja tanpa mengenal lelah serta tanpa pamrih yang harus diperhatikan oleh guru. Guru harus ulet tekun dalam bekerja sehingga program pendidikan yang telah digariskan dalam kurikulum dapat dijalankan agar dapat tercapai dengan baik. Misalnya, dalam pencapaian tujuan dari materi yang diajarkan, yaitu siswa dapat melaksanakan sekolah dengan baik dan benar. Maka seorang guru harus ulet dan tekun dalam menjalankan tugasnya untuk pencapaian dari tujuan sebuah materi sebelum anak didiknya bisa melaksanakan sholat yang baik dan benar, maka seorang guru harus terus mencoba sampai apa yang diinginkaan dari sebuah kurikulum tersebut dapat tercapai dan berjalan dengan baik.
7.        Berusaha memperoleh hasil kerja yang sebaik-baiknya
Guru diharapkan meningkatkan diri mencari cara baru agar mutu dan kualitas pendidikan selalu meningkat, pengetahuan yang dimilikinya selalu bertambah dengan membuka mata terhadap perkembangan zaman dan tidak peka terhadap perubahan-perubahan. Disamping itu guru perlu menjaga semangat kerja yang tinggi sehingga program pendidikan yang dicanangkan dapat memperoleh hasil yang memuaskan. Apalagi pada saat ini banyak anggapan bahwa pendidikan agama masih dalam tahap tradisional dan masih banyak ketertinggalan, misalnya keterbatasan dalam alat-alat peraga untuk menyampaikan sebuah materi PA1, saat calon guru itu belajar sehingga pemahamannya kurang dari kurangnya pemahaman tersebut menyebabkan ketertinggalan, oleh Karena itu seorang guru harus bekerja keras untuk meningkatkan diri dengan cara mencari hal-hal yang baru. 
8.       Simpatik,lues, arif/bijaksana sederhana dalam bertindak
Guru harus simpati karena sifat ini aka disenangi oleh siswa, jiwa siswa yang menyenangi gurunya sudah barang tentu akan menyenangi pelajarannya. Demikian juga dalam hal melaksnakan proses belajar mengajar harus menarik dengan daya tarik yang diungkapkan oleh motivasi belajar yang lebih meningkat. Keuletan merupakan factor pendukung untuk disenangi oleh siswa karena guru mampu bergaul berkomunikasi dengan baik. Kebijaksanaan dan kesederhanaan maka menjalin keterikatan batin dengan siswa. Dengan adanya keterkaitan tersebut, guru mampu mengendalikan proses belajar mengajar yang dilaksanakan. 




9.      Bersifat terbuka
Dengan dimilikinya sifat terbuka oleh guru maka demokrasi dalam belajar akan terlaksana sebab dengan demokrasi akan mendidik mmelatih siswa untuk bersifat terbuka pula, tidak menutupi kesalahan terus terang mau dikritik untuk dimasa yang akan datang. Misalnya, dalam proses belajar mengajar, salah seorang siswa menanyakan pelajaran yang diajarkannya, karena tidak pahamnya, kemudian guru tersebut tidak bisa mnejawabnya, dikarenakan minimnya pengetahuan maka seorang guru haruslah terbuka dan berterus terang karena hal ini akan menciptakan kondisi belajar yang demokratis.
10.  Kreatif
Artinya guru harus mampu melihat berbagai kemungkinan yang menurut perkiraannya sama-sama jitu, kreatifitas itu erat sekali hubungannya dengan kecerdasan. Untuk memperoleh kreatifitas yang tinggi sudah tentu banyak bertanya, banyak belajar. Misalnya di lembaga pendidikan yang terbatas dengan tenaga pendidiknya, sehingga yang mengajarkan PAI bukan dari jurusannya melainkan dari jurusan matematika, hal ini guru tersebut dituntut untuk kreatif, dengan cara belajar kembali ataupun dengan cara banyak bertanya.
11.  Berwibawa
Dengan kewibawaan maka proses belajar mengajar akan terlaksana dengan baik, berdisiplin tertib. Dengan demikian kewibaan bukan berarti sisa harus takut kepada guru, melainkan siswa akan taat patuh pada peraturan yang berlaku pada peraturan yang berlaku sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh guru. Sebagai contoh dalam proses belajar mengajar seorang guru ketika menerangkan suatu mata pelajaran harus menjaga pembicaraannya guru tidak boleh bicara yang kotor/tidak masuk akal walaupun bertujuan untuk membuat anak didik senang hal ini tidak boleh dilakukan bagi seorang guru karena akan merusak citra/kewibawaan seorang guru.[3]



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, dengan tugas utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
2.      Kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi dan tempramen seseorang, hanya dapat diketahui lewat penampilan, tindakan, atau ucapan ketika menghadapi suatu pesroalan. Disamping perangkat dan segala hal yang berhubungan dengan pengajaran dan yang bermuara pada keberhasilan dalam tujuan pendidikan itu, ternyata adalah kepribadian guru juga merupakan hal yang sangat menentukan dalam keberhasilan pengajaran. Bahkan keberhasilan kepribadian ini dianggap vital karena anaak didik akan mencomtoh dan menyerap dari segala tingkah laku dan penampilan guru saat mengajar.
3.      Seorang guru diharapkan dapat mengimplementasikan baik secara emosional, intelegensi dan spiritual sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara baik, efektif dan efisien. Kepribadian guru PAI diharapkan benar-benar benar-benar teraplikasikan dalam kegiatan proses belajar mengajar, baik dari peserta didiknya maupun dari tenaga pendidiknya itu sendiri sehingga tercapainya tujuan dari pendidkan itu yaitu menciptakan manusia yang beriman dan bertaqwa.
B.     Saran
Penulis berharap agar makalah ini bisa menambah wawasan bagi pembacanya tentang keanekaragam makhluk hidup dan pesebarannya.



[1] Hawi Akmal, Kompetensi Guru PA I, Farah Press, (Palembang: 2010), hlm 51-53
[2] Wijaya dan Rusyan, Kemampuan dasar guru dalam proses belajar mengajar, Remaja Rosdakarya, (Bandung: 1991), hlm 78-79
[3] Daradjat, Zakiyah, Kepribadian Guru, Bulan Bintang, (Jakarta: 1978), hlm 20-25

MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...