Rabu, 12 Desember 2018

MAKALAH FIQIH WUDHU’


MAKALAH FIQIH
WUDHU’


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Para pembaca rahimakumullah, diantara permasalahan penting yang harus dipelajari oleh seorang muslim adalah permasalahan yang berkaitan dengan kaifiyah atau tata cara berwudhu’. Yang demikian ini dikarenakan berwudhu’ merupakan salah satu syarat sahnya shalat yang wajib untuk dilaksanakan dengan sempurna. Maka tidak sah shalat seseorang tanpa berwudhu’.
Wudhu’ dapat didefinisikan menysucikan wajah, dua tangan, kepala,dan kaki dengan air. Wudhu merupakan syarat sah shalat dan merupakan sarana pembersih dosa. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah  bersabda;
Jika seorang hamba muslim atau hamba mukmin berwudhu lalu dia membasuh wajahnya, maka  keluarlah  dari  wajahnya semua kesalahan yang dia lihat dengan kedua matanya bersama air atau tetes air yang terakhir. Jika dia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dari keduanya semua kesalahan yang dilakukan oleh tangannya bersama air atau tetes air yang terakhir. Jika dia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah dari keduanya semua kesalahan yang dia berjalan dengan keduanya bersama air atau tetes air yang terakhir, sehingga    dia keluar dalamkeadaan bersih dari dosa-dosa. [1]
Dan seorang mukmin yang biasa berwudhu’ ketika di dunia, maka pada Hari Kiamat akan dijadikan wajahnya dan tangannya berkilauan karena bekas wudhu tersebut.  Diriwayatkan  dari  Abu  Hurairah  ia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda;
Sesungguhnya umatku akan datang pada  hari kiamat dalam keadaan ber-kilauan dari bekas wudhu.”[2]

B.       Rumusan Masalah
1. Apa pengertian wudhu’?
2. Apa syarat sah dan rukun-rukun wudhu’.?
4. Apa saja sunah-sunah dalam wudhu’
5. Apa saja hal-hal yang membatalkan wudhu’?
6. Apa keutamaan dari berwudhu’?

C.      Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian wudhu’
2. Mengetahui apa saja dasar hukum wudhu’
3. Memahami dan dapat membedakan syarat sah dan rukun-rukun wudhu’
3. Mengetahui apa saja sunah-sunah dalam wudhu’
4. Mengetahui apa saja hal-hal yang membatalkan wudhu’
5. Memahami keutamaan dari berwudhu








                                                                                 


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Wudhu
       [3]Wudhu menurut bahasa artinya bersih dan indah, sedankan menurut syara’ artinya membersihkan anggota wudhu untuk menghilangkan hadas kecil.
       Wudhu adalah suatu syarat untuh sahnya shalat yang dikerjakan sebelum seseorang mengerjakan shalat. Perintah wajib wudhu’ ini sebagaimana firman Allah SWT. Yang bunyinya sebagai berikut:     

وَامْسَحُوْا  الْمَرَافِقِ  اِلَى وَاَيْدِيَكُمْ  وُجُوْهَكُمْ  فَاغْسِلُوْا الصَّلٰوةِ اِلَى قُمْتُمْ اِذَا اٰمَنُوْۤا الَّذِيْنَ يٰۤـاَيُّهَا
ۗ الْـكَعْبَيْنِ اِلَى وَاَرْجُلَكُمْ كُمْسِوْءُرُبِوْ
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu izaa qumtum ilash-sholaati faghsiluu wujuuhakum wa aidiyakum ilal-maroofiqi wamsahuu biru`uusikum wa arjulakum ilal-ka'baiin,
Artinya :
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki”.
(Qs. Al-Maidah,5 : 6)
B. Fardu ( Rukun ) Wudhu’
[4]Fardu (rukun) wudhu’ ada enam yaitu niat, membasuh wajah, membasuh kedua tangan hingga siku, mengusap sebagian rambut kepala, membasuh kedua kaki hingga  mata kakai, dan tertib.Berikut merupakan penjalasan dari tiap-tiap fardu (rukun) wudhu’
b. Membasuh muka, berdasarkan ayat (AL-Ma’idah:6). Batas muka yang wajib dibasuh ialah dari tempat tumbuhnya rambut kepala sebelah atas sampai kedua tulang dagusebelah bawah,. Lintangannya, dari telinga ke telinga, seluruh bagian wajah tersebut wajib dibasuh.
c. Membasuh kedua tangan sampai siku. Maksudnya, kedua siku juga wajib dibasuh. Keteranagnnya terdapat dalam surah (AL-Ma’idah:6). Dibasuh dari ujung-ujung jari hingga.  Kesiku dan siku masuk dalam daerah basuhan. Ini adalah pendapat Jumhur ulama. Al-Mubarrid  berkata;
Jika batasan itu termasuk dalam jenis yang dibatasi, maka ia termasuk di dalamnya.”
d. Mengusap sebagian rambut atau kulit kepala. [5]Cara mengusap kepala adalah dengan mengusapkan kedua tangannya ke kepala dari muka ke belakang sampai tengkuk dan dikembalikan dari belakang ke muka, kemudian disambung dengan mengusap telinga. Mengusap kepala sekaligus telinga tersebut dengan satu kali usapan. Hal iniberdasarkan hadits dari Abdullah bin Zaid”

Rasulullah mengusap kepalanya dengan kedua tangannya, mengusap dengannya ke belakang dan  ke  depan.  Memulainya  dari bagian depan kepalanya, kemudian membawanya ke bagian belakang (kepala)nya.  Lalu  mengembalikannya  ketempat semula (ke depan)”.
Dalil tentang mengusap kepala adalah dengan sekali usapan adalah  sebagaimana hadits dari Ali  tentang cara berwudhu Nabi dia berkata;


Beliau mengusap kepalanya satu kali.[6]
Adapun cara mengusap telinga adalah dengan memasukkan kedua jari telunjuk ke dalam kedua telinga dan mengusap bagian luar kedua telinga dengan ibu jari.  Hal ini sebagaimana     hadits    dari     Amr     dan
Abdullah bin  Syu’aib ,  dari  ayahnya dari kakeknya tentang cara berwudhu


Kemudian beliau mengusap kepalanya dan memasukkan kedua jari telunjuknya ke dalam kedua telinganya dan mengusap bagian luar kedua telinganya dengan ibu jarinya.[7]
e. Membasuh kedua kaki hingga mata kaki. Dalil tentang membasuh wajah
 hinggamembasuh kaki adalah firman Allah.

وَامْسَحُوْا  الْمَرَافِقِ  اِلَى وَاَيْدِيَكُمْ  وُجُوْهَكُمْ  فَاغْسِلُوْا الصَّلٰوةِ اِلَى قُمْتُمْ اِذَا اٰمَنُوْۤا الَّذِيْنَ يٰۤـاَيُّهَا
ۗ الْـكَعْبَيْنِ اِلَى وَاَرْجُلَكُمْ كُمْسِوْءُرُبِوْ
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki”.
(QS. AL-MAIDAH,5 : 6)
f. Tertib (berurutan), artinya mendahulukan rukun yang harus didahulukan dan mengakhiri rukun yang harus diakhirkan.
C. Syarat-syarat Wudhu’
[8]Wudhu’ dikatakan sah apabila memenuhi syarat-syarat berikut:
a. Islam : orang yang beragama diluar islam tidak sah mengerjakan wudhu’
b. . Niat, hendaklah berniat ( menyengaja ) menghilangkan hadas atau    menyengaja berwudhu’ ketika membasuh muka.
Syarat   sahnya   wudhu   adalah   niat. Sebagaimana hadits dari Amirul Mu‟minin, Umar bin Al Khattab  dia berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda;


“Sesungguhnya  setiap  perbuatan  tergantung   pada  niatnya.    Dan  se-sungguhnya      setiap      orang      (akan dibalas)     berdasarkan     apa  yang ia niatkan.[9]
c. Mumayyiz : artinya adalah orang yang sudah bisa membedakan  antara baik
dan buruk dari pekerjaan yang dikerjakannya.
d. Tidak berhadas besar.
e. Dengan air yang suci dan mensucikan
f. Tidak ada sesuatu yang menghalangi air, sampai keanggota wudhu.
Misalnya getah, cat, dan sebagainya.
g. Mengetahui mana yang wajib dan yang mana yang sunah.

D. Sunah-sunah Wudhu’
[10]Sunah-sunah dalam wudhu’ dapat diurutkan sebagai berikut:
1. Membaca “ Bismillahirohmaanirrahiim “ sebelum melakukan wudhu’
(dikerjakan  pada  permulaan  wudhu’).  Jumhur   ulama   (Imam   Malik,  Imam Syafi'i,  dan  Imam  Abu  Hanifah,  serta satu riwayat  dari  Imam  Ahmad  berpen dapat bahwa membaca basmalah ketika akan berwudhu hukumnya adalah Mustahab, tidak wajib. Diriwayatkan dari Abu   Hurairah  bahwa  Rasulullah bersabda;

”Dan  tidak  ada  wudhu  untuk  seseorang yang tidak menyebut nama Allah.[11]
2. Bersiwak ( menggosok gigi )
Sebagaimana  diriwayatkan   dari   Abu  Hurairah  dari   Rasulullah  bahwa beliau bersabda;
Description: C:\Users\Administrator\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\71-tuntunan-wudhu-pdf_015.jpg
Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka agar bersiwak setiap berwudhu.[12]
3. Membasuh telapak tangan sampai pergelangan tangan. Dari Humran -mantan budak Utsman ia mengatakan;


Bahwa Utsman  meminta air wudhu. Ia membasuh kedua telapak tangannya tiga kali, lalu berkumur, dan beristintsar.[13]
Berkata Syaikh Alu Bassam:
Disunnahkan mencuci dua tangan tiga kali hingga ke pergelangan tangan sebelum memasukkan   kedua   tangan   tersebut   ke dalam air tempat wudhu, dan ini merupakan sunnah menurut ijma.
4. Berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung (istinsyaq). Imam Ahmad  berpendapat akan wajibnya  berkumur-kumur  dan beristinsyaq. Dan ini juga pendapat yang dipilih oleh Ibnu Abi Laila dan Ishaq. Dalil tentang perintah berkumur adalah sabda Rasulullah.
Description: C:\Users\Administrator\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\71-tuntunan-wudhu-pdf_005.jpg
Jika engkau berwudhu, maka berkumurlah”.[14]
5. Memasukkan air kelubang hidung dan mengeluarkannya lagi. Memasukkan air kelubang hidung dan mengeluarkannya lagi, ini dilakukan sebnyak tiga kali.Sebagaimana  diriwatkan  dari  Laqith bin Shabirah y berkata, bahwa Rasulullah bersabdah:
Description: C:\Users\Administrator\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\71-tuntunan-wudhu-pdf_018.jpg
    “Hiruplah  air  ke  dalam  hidung  dengan kuat, kecuali jika engkau sedang berpuasa.[15]
6. Menyapukan sebagian  kepala dengan air. Cara mengusap kepala adalah dengan mengusapkan kedua tangannya ke kepala dari muka ke belakang sampai tengkuk dan dikembalikan dari belakang ke muka, kemudian disambung dengan mengusap telinga. Mengusap kepala sekaligus telinga tersebut dengan satu kali usapan. [16]Hal ini berdasarkan hadits dari Abdullah bin Zaid.

Rasulullah mengusap kepalanya dengan kedua tangannya, mengusap dengannya ke belakang dan  ke  depan.  Memulainya  dari bagian depan kepalanya, kemudian membawanya ke bagian belakang (kepala)nya.  Lalu  mengembalikannya  ketempat semula (ke depan).
7. Mengusap kedua telinga bagia luar dan dalam.
8. Mendahulukan anggota wudhu’ bagian kanan daripada yang kiri.   Diriwayatkan   dari   Aisyah  ia berkata;  Adalah Nabi suka mendahulukan yang kanan dalam bersandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam segala hal.
9. Menyela-nyela jari. Dan  hadits  dari  Laqith  bin  Shabirah   berkata,  bahwa Rasulullah bersabda; Sempurnakanlah       dalam       berwudhu usaplah sela-sela jari-jemari.[17]
10. Menyela-nyelai  jenggot  yang  tebal. Diriwayatkan dari Utsman bin
    Affan  ia  berkata; Bahwa Nabi menyela-nyelai jenggotnya (dalam
     berwudhu).[18]
11. Meniga kalikan pada tiap-tiap membasuh anggota wudhu’ Nabi pernah wudhu dengan sekali kali basuhan, dua kali basuhan, dan tiga kali basuhan. Basuhan pertama adalah wajib, sedangkan basuhan kedua dan ketiga adalah sunnah. Diriwayatkan dari Jabir  berkata;
Bahwasanya  Nabi   pernah  berwudhu satu kali satu kali, dua kali dua kali, dan tiga kali tiga kali.[19]
12. Tertib  artinya berurutan tidak lama selang waktu dalam  mengerjakan
anggota yang satu dengan anggota yang lain. Tertib merupakan rukun karena Allah menyebutkan  rukun-rukun  wudhu didalam firmanNya Surat Al-Maidah ayat yang  keenam  secara  tertib.  Dan sebagiamana  hadits  dari  Jabir   bahwa Rasulullah bersabda;
Description: C:\Users\Administrator\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\71-tuntunan-wudhu-pdf_012.jpg
Mulailah dengan apa yang telah dimulai oleh Allah.”[20]
13. Membaca do’a sesudah selesai wudhu’; Diriwayatkan    dari    Umar  ia berkata, Rasulullah  bersabda;


Barangsiapa      yang   berwudhu   denganmembaguskan wudhunya. Lalu  berdoa;”
E. Yang Membatalkan Wudhu
Ada empat hal yang membatalkan wudhu’ yaitu:
1. Keluar sesuatu dari qubul dandubur mekipun hanya angin. Segala sesuatu yang keluar dari dubur dan qubul baik berupa; benda padat, cair, angin, dan sebagainya, maka ini semua membatalkan    wudhu.    Dintara    dalilnya adalah hadits dari Ali bin Thalib  bahwa Rasulullah  bersabda;
Description: C:\Users\Administrator\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\71-tuntunan-wudhu-pdf_026.jpg
Apabila seseorang di antara kalian buang angin dalam shalat, maka hendaknya ia membatalkan shalat, berwudhu, dan mengulangi shalatnya.[21]
2. Tidur yang  nyenyak. Dari  Ali     bin  Abi  Thalib ia berkata, Rasulullah  bersabda;

     Pengikat   dubur   (adalah)   kedua   mata, maka barangsiapa yang tidur hendaklah ia berwudhu.”[22]

3.  Hilang   akal   kerena   sakit   (gila), pingsan, atau mabuk; Ini adalah salah  satu pembatal wudhu berdasarkan  ijma‟. Karena  hilangnya  akal pada   keadaan   seperti   ini   lebih   besar daripada tidur.
 4. Menyentuh kemaluan tanpa penghalang dan dengan syahwat
Menyentuh   kemaluan   yang   dapat membatalkan wudhu’ adalah menyentuh dengan menggunakan telapak tangan (batasan telapak tangan adalah  dari ujung jari-jari  hingga  ke  pergelangan  tangan), baik itu dengan telapak tangan atau dengan punggung  tangan.  Dan  menyentuh kemaluan  tidak  membatalkan  wudhu selama tidak  disertai  dengan  syahwat.  Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah dan Syikh Al-Albani . Diriwayatkan dari Busrah binti Shafwan bahwa Rasulullah  bersabda;

Barangsiapa    menyentuh    kemaluannya, maka hendaklah ia berwudhu[23]
5. Memakan daging unta
Memakan  daging  unta  membatalkan wudhu’. Ini adalah pendapat Ahmad, Ishaq, Abu Khaitsamah, Ibnul Mundzir, Ibnu Hazm, salah satu dari dua pendapat Asy- Syafii, dan  inilah  pendapat  yang  dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah . Dalilnya adalah hadits dari Jabir bin Samurah;

Bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ,  Apakah  aku  harus berwudhu (setelah makan) daging kambing? Beliau menjawab, Jika engkau menghendaki berwudhu (silakan), jika engkau menghendaki tidak berwudhu (tidak apa-apa)”  Orang  tersebut  bertanya  lagi,
Apakah aku harus berwudhu (setelah memakan) daging unta? Beliau menjawab:Ya, engkau harus berwudhu (setelah memakan) daging unta.
F. Cara Berwudhu’
[24]Sebelum berwudhu’ hendaklah terlepas dari hadas dan najis yang ada pada tubuh. Berikut adalah urutan dan cara-cara berwudhu’:
a. Membaca bismillahirrahmaanirahiim, sambil mencuci kedua belah tangan
sampai pergelangan tangan. Jumhur  ulama  (Imam  Malik,  Imam
Syafi'i, dan Imam Abu Hanifah, serta satu riwayat  dari  Imam  Ahmad berpendapat bahwa membaca basmalah ketika akan berwudhu hukumnya adalah Mustahab, tidak wajib. Diriwayatkan dari Abu   Hurairah R.A bahwa  Rasulullah bersabda;
                                               
”Dan  tidak  ada  wudhu  untuk  seseorang yang tidak menyebut nama Allah.[25]
b. Berkumur-kumur tiga kali sambil membersihkan gigi ( Bersiwak )
Sebagaimana  diriwayatkan  dari  Abu Hurairah  dari   Rasulullah  bahwa beliau bersabda;

Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka agar bersiwak setiap berwudhu.[26]
c. Menghiru air sampai pangkal hidung dan mengeluarkannya kembali hingga
Sebagaimana  diriwatkan  dari  Laqith bin Shabirah  berkata, bahwa Rasulullah bersabda;
“Hiruplah  air  ke  dalam  hidung  dengan kuat, kecuali jika engkau sedang berpuasa.[27]
d. Membasuh wajah tiga kali, mulai dari tempat tumbuhnya rambut kepala
hingga dagu dan dari telinga kanan ketelinga kiri, sambil berniat wudhu’.
e. Mencuci kedua tangan hingga siku, tiga kali.
f. Mengusap sebagian rambut kepala,tiga kali.
g. Mengusap bagian luar dan dalam telinga, tiga kali.
h. Membasuh kaki dari telapak hingga mata kaki, tiga kali.
i. Berdoa, selesai berwudhu’ disunahkan membaca do’a sambil menghadap
kiblat, danmengangkat kedua belah tangan .

  
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
       [28] Wudhu menurut bahasa artinya bersih dan indah, sedankan menurut syara’ artinya membersihkan anggota wudhu untuk menghilangkan hadas kecil.
       Wudhu adalah suatu syarat untuh sahnya shalat yang dikerjakan sebelum seseorang mengerjakan shalat. Perintah wajib wudhu’ ini sebagaimana firman Allah SWT. Yang bunyinya sebagai berikut:   
وَامْسَحُوْا  الْمَرَافِقِ  اِلَى وَاَيْدِيَكُمْ  وُجُوْهَكُمْ  فَاغْسِلُوْا الصَّلٰوةِ اِلَى قُمْتُمْ اِذَا اٰمَنُوْۤا الَّذِيْنَ يٰۤـاَيُّهَا
ۗ الْـكَعْبَيْنِ اِلَى وَاَرْجُلَكُمْ كُمْسِوْءُرُبِوْ
Artinya :
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki”.
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 6)



B. Saran
       Wudhu’  adalah suatu syarat untuk sahnya shalat yang dikerjakan sebelum seseorang muslim mengerjakan shalat jadi hendaklah setiap muslim memahami dan benar-benar mengerti setiap rukun dan syarat sahnya wudhu’, sebab tidak sahnya wudhu’ berarti tidak sah juga sholat seorang muslim.

DAFTAR PUSTAKA


Fiqih Islam: Oleh H. Sulaiman Rasjid.
FQIH  4 Mazhab: Oleh M. Imam Pamungkas, M.Ag Dan H. Maman Suherman, Lc,M.Ag.
Ilmu Fiqih Islam Lengkap: Oleh Drs. Moh. Rifa’i.
Buletin Saku, Edisi:07/1439/2017m. Al-Ilmu Pengajaran Wudhu’ Nabi.
HR. Abu Dawud : 144. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani.
HR. Ahmad, Abu Dawud : 101, Tirmidzi : 25, dan Ibnu Majah : 397. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani  dalam Irwaul Ghalil : 81.



[1] HR. Muslim Juz 1 : 244
[2]  Muttafaq alaih.  HR.  Bukhari  Juz  1  :  136  dan  Muslim Juz 1 : 246, lafazh ini miliknya.
[3], Pengarang Drs. Moh. Rifa’i Fiqih Islam Lengkap hal 63,
[4] Pengarang Drs. Moh. Rifa’i  Fiqih Islam Lengkap hal 64
[5] HR. Tirmidzi Juz 3 : 32.
[6] HR. Abu Dawud : 115.
[7] HR. Abu Dawud : 135.
[8] Pengarang Drs. Moh. Rifa’i Fiqih Islam Lengkap hal 63-64  
[9] Muttafaq alaih. HR. Bukhari Juz 1 : 1 dan Muslim Juz 3 : 1907.
[10] Oleh  Drs. Moh. Rifa’i Risalah Fiqih Islam Lengkap hal 64-65,  Fiqih Islam Hal 25-26
[11] HR. Ahmad, Abu Dawud : 101, Tirmidzi : 25, dan Ibnu Majah : 397. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani  dalam Irwaul Ghalil : 81.
[12] HR. Ahmad dan Malik : 146.
[13] Muttafaq  alaih.  HR.  Bukhari Juz 1  :  158 
[14] HR. Abu Dawud : 144. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani
[15] HR. Abu Dawud : 142, Nasai Juz 1 : 87, dan Ibnu Majah : 407.
[16]  HR. Tirmidzi Juz 3 : 32.
[17] HR. Abu Dawud : 142.
[18] HR. Tirmidzi Juz 1 : 31.
[19] HR. Tirmidzi Juz 1 : 45.
[20] HR.  Nasai   :  2962,  lafazh  ini  miliknya  dan  Muslim Juz 2 : 1218
[21] HR. Abu Dawud : 205.
[22] HR. Abu Dawud : 203. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani  dalam Irwaul Ghalil : 133
[23] HR. Ahmad, Abu Dawud : 181, Ibnu Hibban : 1116, da Baihaq Juz   1   :  639.   Hadit ini dishahihkan  oleh  Syaikh  Al-Albani  dalam Irwaul Ghalil : 116
[24] Oleh  Drs. Moh. Rifa’i Fiqih Islam Lengkap hal 63,
[25]  HR. Ahmad, Abu Dawud : 101, Tirmidzi : 25, dan Ibnu Majah : 397. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani  dalam Irwaul Ghalil : 81
[26] HR. Ahmad dan Malik : 146.
[27] HR. Abu Dawud : 142, Nasai Juz 1 : 87, dan Ibnu Majah : 407     
[28] Oleh  Drs. Moh. Rifa’i Fiqih Islam Lengkap hal 63,





MAKALAH KALIMAT DAN INTONASI KALIMAT


MAKALAH KALIMAT DAN INTONASI KALIMAT

BAB I
 PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Latar belakang pembuatan makalah tentang kalimat adalah selain untuk memenuhi tugas
Bahasa Indonesia juga untuk menambah wawasan pengetahuan mengenai kalimat, yang bersangkutan dengan pengertiannya, jenis-jenis kalimat dan lain sebagainya.
            Dengan perkataan lain,semua kalimat yang kita gnakan berasal dari beberapa pola kalimat dasar saja, Sesuai dengan kebutuhan masing-masing, kalimt dasar tersebut kita kembangkan, yang pengembanganya itu tentu saja harus didasarkan pada kaidah yang berlaku.

B.     Rumusan masalah

1.      Apa pengertian kalimat ?
2.      Apa saja jenis-jenis kalimat ?
3.      Apa yang dimaksud dengan intonasi kalimat ?






















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa yang mengandung pikiran lengkap. Sebuah kalimat paling kurang mengandung subjek dan predikat. Kalimat dalam wujud lisan diucapkan dengan suara naik turun, keras lembut,disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Dalam wujud tulisan
berhuruf latin kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. (.), tanda tanya (?) dan tanda seru (!).
Susilo (1990:2) mengemukakan lima ciri kalimat bahasa Indonesia kelima ciri tesebut ialah: bermakna, bersistem urutan frase, dapat berdiri sendiri dalam hubungannya dengan kalimat yang lain, berjeda dan berhenti dengan berakhirnya intonasi. Namun hal itu belum menjamin bahwa kalimat itu ialah kalimat bahasa Indonesia baku.
Contoh kalimat:
di tempat itu dijadidkan tempat pertemuan bagi pihak yang bertikai di Poso.
Kalimat ini bukanlah kalimat baku meskipun memiliki kelima ciri kalimat diatas. Hal itu karena tidak terlihat unsur subjek di dalam kalimat tersebut. Ciri kalimat baku menurut Susilo (1990:4), yaitu: gramatikal, masuk akal, bebas dari unsur mubazir, bebas dari kontaminasi, bebas dari interfensi, sesuai dengan ejaan yang berlaku dan sesuai dengan lafal bahasa Indonesia.

B.     Jenis-jenis Kalimat

1.      Kalimat berdasarkan pengucapan
a.       Kalimat langsung adalah kalimat yang secara cermat menirukan ucapan orang. Kalimat langsung juga dapat diartikan kalimat yang memberitakan bagaimana ucapan dari orang lain (orang ketiga) dengan lngsung menirukan, mengutip atau mengulang kembali  ujaran dari sumber tersebut. Kalimat ini biasanya ditandai dengan tanda petik dua (“….”) dan Intonasi dari bagian kutipan bernada lebih tinggi dari bagian lainnya.
·         
b.      Kalimat tak langsung adalah kalimat yang menceritakan kembali ucapan atau perkataan  orang lain. Kalimat tak langsung tidak ditandai lagi dengan tanda petik dua, berkata tugas(bahwa,agar,sebab,untuk,supaya,tentang,dsb),Intonasi mendatar dan menurun pada akhir kalimat

2.      Kalimat berdasarkan jumlah frasa (struktur gramatikalnya)
a.       Kalimat tunggal, ialah kalimat yang hanya memiliki satu pola (klausa), yang terdiri dari subjek dan predikat. Kalimat tunggal merupakan kalimat yang paling sederhana. Kalimat tunggal yang sederhana ini dapat ditelusuri berdasarkan pola-pola pembentukannya.
Pola-pola kalimat dasar yang dimaksud adalah sebagai berikut :

KB + KK (kata benda + kata kerja)
Contoh:
Ibu  memasak
S          P

KB + KS (kata benda + kata sifat)
Contoh:
Anak itu sangat rajin.
S                  P

KB + KBil (kata benda + kata bilangan)
Contoh:
Apel itu ada dua buah.
S             P
Kalimat tunggal terdiri dari 2 jenis, yaitu:
-          Kalimat Nominal yaitu jenis kalimat yang pola predikatnya menggunakan kata benda.
Contoh: Adik perempuan saya ada dua orang.
-          Kalimat Verbal yaitu jenis kalimat yang menggunakan kata kerja sebagai predikatnya.
Contoh: Saya sedang mandi.
Dua jenis kalimat tunggal diatas dapat dikembangkan dengan menambahkan kata pada tiap unsur-unsurnya. Dengan adanya penambahan tiap unsur-unsur itu, unsur utama masih dapat dengan mudah dikenali. Perluasan kalimat tunggal itu terdiri atas:
1.      Keterangan tempat
 misalnya: disini, lewat jalan itu, di daerah ini.
 Contoh: Rumahnya ada di daerah ini.
2.      Keterangan waktu
            misalnya: setiap hari, pukul, tahun ini, tahun depan, kemaren, lusa.
 Contoh: Aktifitasnya dimulai pukul 08.30 pagi.
3.      Keterangan alat
misalnya: dengan baju, dengan sepatu, dengan motor.
Contohnya: Dia pergi dengan sepeda motor.
4.      Keterangan cara
 misalnya: dengan hati-hati, secepat mungkin.
Contoh: Prakarya itu dibuat dengan hati-hati.
5.      Keterangan modalitas
 misalnya: harus, mungkin, barangkali.
            Contoh: Saya harus giat berlatih.
6.      Keterangan aspek
            misalnya: akan, sedang, sudah, dan telah.
Contoh: Dia sudah menyelesaikannya.
7.      Keterangan tujuan
            misalnya: untuk dirinya, untuk semua orang,
Contoh: Orang itu membuat dirinya terlihat menawan.
8.      Keterangan sebab
 misalnya: karena rajin, karena panic.
            Contoh: Dia lulus ujian karena rajin belajar.
9.      Keterangan tujuan (ket. yang sifatnya menggantikan)
            contoh: penerima medali emas, taufik Hidayat.
10.  Perluasan kalimat yang menjadi frasa
 contoh: orang itu menerima predikat guru teladan.

b.      Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari beberapa kalimat dasar. Struktur kalimat majemuk terdiri dari dua atau lebih kalimat tunggal yang saling berhubungan baik secara kordinasi maupun subordinasi. Ada berbagai macam kalimat majemuk yaitu :
1.      Kalimat majemuk koordinatif(kalimat majemuk setara)
Adalah kalimat majemuk yang klausa-klausa nya memiliki status yang sama,yang setara,atau yang sederajat.klausa-klausa dalam kalimat majemuk koordinatif secara eksplisit dihubungkan dengan konjungsi koordinatif,seperti dan, atau, tetapi, dan lalu.
Contoh :          nenek melirik, kakek tersenyum, dan adik-adik tertawa.
                        Dia membuka pintu,lalu menyilahkan kami masuk.
2.      Kalimat majemuk subornatif(kalimat majemuk bertingkat)
Adalah kalimat majemuk yang hubungan antara klausa-klausa nya tidak setara atau sederajat. Klausa yang satu merupakan klausa atasan,dan klausa yang lain merupakan klausa bawahan.kedua klausa itu biasanya dihubungkan dengan konjungsi subordinatif,seperti kalau, ketika, meskipun, dan karena.
Contoh :          kalau nenek pergi kakek pun akan pergi.
                        Karena hujan deras dan sekolah banjir, sekolah diliburkan.
3.      Kalimat majemuk kompleks
Adalah kalimat campuran antara kalimat majemuk koordinatif dan kalimat majemuk subornatif.
Contoh :          bibik membaca novel karena paman tidak ada dirumah dan tidak ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan.
c. Kalimat Mayor dan Minor
1.      Kalimat mayor adalah kalimat yang sekurang-kurangnya mengandung dua unsur pusat (inti). Kalimat mayor klausanya minimal harus terdiri atas subjek dan predikat.
       misalnya :
- Saya mengantuk.
- Presiden berkunjung ke Australia.
- Susilo pergi
2.      Kalimat minor adalah kalimat yang mengandung satu unsur pusat (inti). Kalimat minor hanya dibentuk oleh subjek atau predika atau objek bahkan keterangan saja. Meskipun hanya dibentuk dengan satu kata, kalimat minor dapat dipaham pesannya karena sudah diketahui konteksnya (kalimat,situasi,topic yang dibicarakan). Kalimat dapat berupa kalimat jawaban-jawaban singkat,seruan, pertanyaan, salam, dan sapaan.
Contoh :
- pergi!
- mana?
- hai!
-diam!

d.  kalimat bebas dan terikat
1)      Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap,atau dapat memulai sebuah paragraph atau wacana tanpa bantuan kalimat atau konteks lain yang menjelaskannya.
2)      Kalimat terikat adalah kaliamat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap,atau menjadi pembuka paragraph atau wacana tanpa bantuan konteks.
Contoh dari kalimat bebas dan terikat yaitu :
(a)Sekarang diriau amat sukar mencari terubuk. (b)Jangankan ikannya,telornya pun sukar di peroleh. (c)Kalau pun bisa diperoleh,harga melambung selangit.
(d)Mangkanya,ada kecemasan masyarakat nelayan disana bahwa terubuk yang spesifik itu akan punah.
Jadi,pada kalimat (a) pada teks diatas merupakat contoh kalimat bebas,tanpa harus diikuti kalimat (b),(c),(d), kalimat tersebut sudah dapat menjadi ujaran lengkap yang bisa dipahami.
Sedangkan kalimat (b,c,d) pada teks itu adalah contoh kalimat terikat.



C.     Intonasi kalimat

Dalam bahasa Indonesia tampaknya intonasi ini berupa( tekanan, nada, lafal, dan tempo).
·         Lafal adalah suatu cara seseorang atau sekelompok orang dalam mengucapkan bunyi bahasa. Contoh :            ijin = izin
Pitnah = fitnah
Rejeki = rezeki
·         Tekanan/nada adalah tinggi rendahnya pengucapan suatu kata.
Contoh: saya membaca buku bahasa Indonesia, pada kata “saya” mrngandung pengertian bahwa pelaku yang membaca buku adalah saya,bukan yang lainnya.

·         Intonasi adalah naik turunnya lagu kalimat.intonasi berfungsi sebagai pembentu makna kalimat.
Contoh:- apa maksudya ? -Kita harus rajin belajar.
-Tutup pintunya ! -“Besok pagi tugas ini hars selesai”, kata kakak.

·         Jeda adalah perhentian lagu kalimat. Jeda terbagi kedalam 3 jenis: jeda panjang(.) titik, jeda sedang (,) koma, jeda pendek (-) spasi. Contoh :
1.      Kata ayah. Ibu cantik.
2.      Kata ayah, ibu cantik.
3.      Kata ayah ibu cantik.

  


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Kalimat adalah satuan bahasa yang mengandung pikiran lengkap. Sebuah kalimat paling kurang mengandung subjek dan predikat. Kalimat dalam wujud lisan diucapkan dengan suara naik turun, keras lembut,disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Dalam wujud tulisan
berhuruf latin kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. (.), tanda tanya (?) dan tanda seru (!).


DAFTAR PUSTAKA


Abdul chaer.2014.linguistik umum,Jakarta Rineka Cipta.

MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...