Selasa, 11 Desember 2018

MAKALAH EKONOMETRI PELANGGARAN ASUMSI MODEL KLASIK (HETEROSKEDASTISITAS)


MAKALAH EKONOMETRI

PELANGGARAN ASUMSI MODEL KLASIK
(HETEROSKEDASTISITAS)


BAB I
PENDAHULAN
A.    Latar Belakang
Dalam analisis regresi dimana sustu model telah dapat dikatakan baik apabila telah memenuhi asumsi klasik yaitu, identik, independen, dan berdistribusi normal. Selain itu, terdapat asumsi lainnya bagi residual salah satunya adalah homoskedastisitas, yaitu adanya variansi yang konstan. Sedangkan pada kenyataannya sangat sering terjadi fluktuasi varian sehingga suatu model tidak dapat lagi dikatakan homoskedastisitas. Kondisi semacam ini disebut dengan heteroskedastisitas.
Pada makalah ini akan dibahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pengertian heteroskedastisitas, penyebab dan akaibat heteroskedastisitas, cara menguji heteroskedastisitas dan cara mengatasi heteroskedastisitas.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud heteroskedastisitas?
2.      Bagaimana cara menguji heteroskedastisitas?
3.      Bagaimana cara mengatasi heteroskedastisitas?

C.    Tujuan
Dari rumusan masalah di atas maka dapat disimpulkan bahwa tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui maksud heteroskedastisitas.
2.      Untuk mengetahui cara menguji heteroskedastisitas.
3.      Untuk mengetahui cara mengatasi heteroskedastisitas.









BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Heteroskedastisidas
Heteroskedastisitas berarti ada varian variabel pada model regresi yang tidak sama (konstan). Residual adalah factor-faktor lain yang terlibat akan tetapi tidak termuat dalam model. Karena residual ini merupakan variable yang tidakdiketahui, maka di asumsikan bahwa nilai residual bersifat acak.
Masalah ini merupakan salah satu pelanggaran terhadap asumsi klasik. Sebaliknya, jika varian variabel pada model regresi memiliki nilai yang sama (konstan) maka disebut dengan homoskedastisitas. Jika kergaman residual/error tidak bersifat konstan, data dapat dikatakan bersifat heteroskedastisitas. [1]

B.     Penyebab dan Akibat Terjadinya Heteroskedastisitas
Ada beberapaalasan yang menyebabkan varians kesalahan pengganggu menjadi variabel yang selalu berubah, antara lain sebagai berikut:
1.     Basis data dari satu atau lebih variabel mengandung nilai-nilai dengan satuan jarak yang lebar, yaitu jarak antara nilai yang paling kecil dengan  yang paling besar adalah lebar.
2.     Perbedaan laju pertumbuh anantara variabel-variabel dependen dan independen adalah signifikan dalam periode pengamatan untuk data time series.
3.     Terdapat situasi error learning, misalnya kita ingin mengetahui hubungan tingkat kesalahan mengetik terhadap berbagaivariabel. Jika kita menggunakan sampel yang bersifat panel/time saries akan sangat mungkin model yang dimiliki akan bersifa theteroskedastisitas. Hal ini disebabkan kesalahan pengetikan akan menurun dari waktu kewaktu dan terjadi konvergensi diantara elemen sampel (kesalahananggota sample yang paling tidak terampil akan menurun mendekati mereka yang awalnya sudah terampil).
4.     Sifat data yang digunakan dalam analisis. Pada penelitian dengan menggunakan data runtut waktu, kemungkinan asumsi itu mungkin benar. Data itu pada umumnya mengalami perubahan yang relative sama atau proporsional, baik yang menyangkut data variabel bebas maupun data variabel tak bebas. Tetapi pada penelitian dengan menggunakan data seleksi hilang, kemungkinan asumsi itu benar adalah lebih kecil. Hal ini disebabkan data itu pada umumnya tidak mempunyai tingkatan yang sama atau sebanding.
Keadaan heteroskedastisitas diatas akan mengakibatkan hal-hal berikut:
1.      Penduga OLS yang diperoleh tetap memenuhi persyaratan tidak bias.
2.      Varian yang diperoleh menjadi tidak efisien, artinya cendrung membesar sehingga tidak lagi merupakan varian yang terkecil. Kecendrungan semakin membesarnya varian tersebut akan mengakibatkan uji hipotesis yang dilakukan juga tidak akan memberikan hasil yang tidak baik (tidak valid). Dengan demikian, model perlu diperbaiki dulu agar pengaruh dari heteroskedastisitasnya hilang.[2]

C.    Uji Heteroskedastisitas
1.      Uji heteroskedastisitas menggunakan uji korelasi rank spearman
Uji terhadap ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan menggunakan Uji Korelasi Rank Spearman. Langkah-langkah pengujian rank spearman adalah sebagai berikut :
a.       Carilah nilai-nilai variabel gangguan penduga
b.      Rengking nilai-nilai  serta nilai-nilai  yang bersangkutan dalam urutan yang semakin kecil atau semakin besar.
c.       Hitunglah koofesien regresi penduga rank spearman ( ) dengan rumus :

Di mana  : menunjukan perbedaan setiap pasang rank
             n   : menunjukan jumlah pasangan rank
d.      Bila  mendekati  1, maka kemungkinan besar terdapat heteroskedastisitas dalam model itu, sekarang bila  mendekati 0, maka kemungkinan adanya heteroskedastisitas kecil.
Contoh :
Ujilah data dibawah ini dengan uji korelasi rank spearman ada tidaknya heteroskedastisitas.
Uji Korelasi Rank Spearman
Rank X
Rank e
d
1
7
-6
36
2
3
-1
1
3
6
-3
9
4
8
-4
16
5
9
-4
16
6
2
4
16
7
4
3
9
8
1
7
49
9
5
4
16
10
12
-2
4
11
13
-2
4
12
16
-4
16
13
11
2
2
14
19
-5
25
15
17
-2
4
16
18
-2
4
17
21
-4
16
18
15
3
9
19
20
-1
1
20
24
-4
16
21
10
11
121
22
23
-1
1
23
25
-2
4
24
30
-6
36
25
27
-2
4
26
26
0
0
27
14
13
169
28
28
0
0
29
22
7
49
30
29
1
1

       = 1-  = 0,8541
Melihat tingginya koefisien regresi antara variabel bebas X dan fakor kesalahan pengganggu e, maka diperkirakan bahwa model itu mengandung geteroskedastisitas.[3]

2.      Uji Heteroskedastisitas Dengan Metode Glejser SPSS
Uji heteroskedastisitas dengan metode glejser dilakukan dengan mengregresikan semua variabel bebas terhadap nilai mutlak residualnya. Jika terdapat pengaruh variabel bebas yang signifikan terhadap nilai mutlak residualnya maka dalam model tersebut terdapat masalah heteroskedastisitas.
Contoh :
Berikiut ini adalah data hasil survai:
Pendapatan (X1)
Jmlh anggota keluarga (X2)
pengeluaran
90
5
75
60
3
45
60
4
55
85
4
60
70
3
65
40
3
40
55
2
45
80
6
80
70
5
60
80
4
65
75
5
68
70
6
65
Berdasarkan data di atas. Ujilah persamaan regresi tersebut, apakah terjadi masalah heteroskedastisitas.
Cara menguji heteroskedastisitas dengan metode glejser menggunakan SPSS adalah sebagai berikut :
a.       Mengregresikan variabel bebas terhadap variabel tergantung dengan langkah sebagai berikut :
1)      Buka file Uji Asumsi Klasik.
2)      Klik Analiyze, Regression, Linier.
3)      Masukkan variabel Pengeluaran pada kotak Dependent.
4)      Masukkan variabel Pendapatan dan Jumlah Anggota Keluarga pada kotak Independent.
5)      Klik save, pada kotak Residual, klik Unstandardized lalu klik Continue.
6)      Abaikan pilihan yang lain lalu klik Ok.
7)      Kembali ke data editor. Sekarang kita sudah memiliki variabel unstandardized residual baru, yaitu Res_1.
b.      Selanjutnya adalah memutlakkan nilai residualnya dengan langkah sebagai berikut :
1)      Dari menu utama SPSS, klik Transfom lalu Complete.
2)      Isi Target Variable dengan ABRESID
3)      Isi Numeric Expression dengan ABS(RES_1) (dapat dengan diketik atau melalui functions :ABS(numexpr), Unstandardized Residual.
4)      Klik Ok
Pada data view terjadi penambahan 2 kolom sebagai akibat proses perhitungan (save..) dan transfom di atas, yaitu sebagai berikut:
c.       Regresikan variabel bebas terhadap nilai residual mutlaknya dengan langkah sebagai berikut :
1)      Klik Analize, Regression, Linear.
2)      Masukan variabel ABRESID pada kotak Dependent.
3)      Masukkan variabel Pendapatan dan Jumlah Anggota Keluarga pada kotak Independent.
4)      Abaikan pilihan yang lain dan biarkan pada posisi default.
5)      Klik Ok
Output yang dihasilkan sebagai berikut:
Analisis Coeffeciens:
Gejala heteroskedastisitas ditunjukan oleh koefisien regrsi dari masing-masing variabel bebas terhadap nilai absolute residualnya (e). jika nilai probabilitas lebih besar dari nilai alpha (sig.> ), maka dapat dipastikan model tidak mengandung gejala heteroskedastisitas atau dikatakan tidak terjadi heteroskedastisitas apabila t hitung < t tabel.
Berdasarkan output di atas diketahui bahwa pada model regresi tidak terjadi gejala heteroskedastisitas. Hal ini karena sig. variabel pendapatan terhadap absolute residual sebesar 0,332 > 0,05, sedangkan sig. variabel jumlah anggota keluarga terhadap absolute residual sebesar 0,614 > 0,05.[4]

D.    Penanggulangan Adanya Heteroskedastisitas
Apabila melalui salah satu uji terbukti bahwa bahwa model itu mengandung heteroskedastisitas, maka model itu harus disempurnakan dulu agar model itu dapat dipergunakan dengan baik. Salah satu cara untuk menyempurnakan model tersebut adalah dengan mentransporformasikanmodel asli ke model yang baru, sehingga diharapkan mempunyai  dengan varian yang konstan.[5]

  
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Heteroskedastisitas berarti ada varian variabel pada model regresi yang tidak sama (konstan). Residual adalah factor-faktor lain yang terlibat akan tetapi tidak termuat dalam model. Karena residual ini merupakan variable yang tidakdiketahui, maka di asumsikan bahwa nilai residual bersifat acak.
Cara menguji heteroskedastisitas dapat menggunakan metode glejser. Uji heteroskedastisitas dengan metode glejser dilakukan dengan mengregresikan semua variabel bebas terhadap nilai mutlak residualnya. Jika terdapat pengaruh variabel bebas yang signifikan terhadap nilai mutlak residualnya maka dalam model tersebut terdapat masalah heteroskedastisitas.
Salah satu cara untuk menyempurnakan model tersebut adalah dengan mentransporformasikanmodel asli ke model yang baru, sehingga diharapkan mempunyai  dengan varian yang konstan

B.     Saran
Dengan adanya makalah ini kami berharap dapat membantu pembaca untuk memperoleh informasi Mengenai uji heteroskedastisitas. Namun kami sadar bahwa dalam makalah ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu kami mengharapkan bantuan pembaca untuk membantu kami dalam pembuatan makalah selanjutnya dengan memberikan saran. Terima kasih atas perhatiannya, kami tunggu saran dari pembaca.



DAFTAR PUSTAKA
Suliyanto. 2011. ekonometri terapan. Yogyakarta : ANDI.
Firdaus, Muhamad. 2011. Ekonometrika. Jakarta: Bumi Aksara.
Yuwono, Prapto. 2005. Ekonometri. Yogyakarta : ANDI OFFSET.


[1] Suliyanto, ekonometri terapan, (Yogyakarta : ANDI , 2011). Hal. 95
[2] Muhamad Firdaus, Ekonometrika, (Jakarta:Bumi Aksara, 2011). Hal. 169-170
[3] Muhamad Firdaus, Ekonometrika…Hal. 170-172
[4] Suliyanto, ekonometri terapan…Hal. 98-102
[5] Muhamad Firdaus, Ekonometrika…Hal. 175-176

MAKALAH SEJARAH KEGEMILANGAN ISLAM

MAKALAH SEJARAH KEGEMILANGAN ISLAM 

MAKALAH SEJARAH MASA KEGEMILANGAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Masa berkembang pesatnya kebudayaan Islam, ditandai dengan berkembang luasnya lembaga- lembaga pendidikan Islam dan madrasah-madrasah formal serta universitas-universitas dalam berbagai pusat kebudayaanIslam. Lembaga-lembaga pendidikan, sekolah – sekolah dan universitas –universitas tersebut nampak sangat dominan pengaruhnya dalam membentuk pola kehidupan dan pola budaya kaum muslimin. Berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang melalui lembaga pendidikan itu menghasilkan pembentukan danpengembangan berbagai macam aspek budaya kaum muslimin. Jika masa sebelumnya, pendidikan hanya sebagai jawaban terhadap tantangan dari pola budaya yang telah berkembang dari bangsa – bangsa baru yang memeluk agama Islam, akan tetapi sekarang harus merupakan jawaban terhadap tantangan perkembangan dan kemajuan kebudayaan Islam sendiri yang tumbuh sangat pesat.
Kebudayaan Islam telah berkembang demikian cepatnya sehingga menjadi unggul dan bahkan menjadi puncak kebudayaan umat manusia pada zaman itu. Kebudayaan Islam pada masa ini, bukan saja mendatangkan kesejahteraan bagi kaum muslimin, tetapi juga mendatangkan kesejahteraan bagi umat manusia pada umumnya, mendatangkan rahmatan lil’aalamin.Dalam perkembangan kebudayaan Islam, nampak adanya dua factor yang saling mempengaruhi, yaitu faktor intern atau pembawaan dari ajaran Islam itu sendiri, dan faktor ekstern, yaitu berupa rangsangan dan tantangan dari luar. Tetapi sebenarnya pengaruh dari luar tersebut, hanyalah berupa sekedar sebagairangsangan atau tantangan saja, agar potensi pembawaan dari ajaran Islam itu sendiri bisa tumbuh dan berkembang. Yang paling menentukan adalah jiwa dan semangat kaum muslimin, terutama para ahlinya dalam penghayatan dan pengalaman ajaran Islam sebagaimana terangkum dalam Al-Qur’an.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana perkembangan pendidikan Islam itu?
2.       Apa saja yang faktor-faktor yang mempengaruhi kejayaan pendidikan Islam itu?
3.       Bagaimana bentuk-bentuk kemajuan pendidikan Islam masa lalu itu?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui perkembangan pendidikan Islam
2.      Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejayaan pendidikan Islam.
3.      Untuk mengetahui bentuk-bentuk kemajuan pendidikan Islam masa lalu itu.


BAB II
PEMBAHASAN
 A. Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam
            Sebelum timbulnya sekolah dan universitas yang kemudian dikenalsebagai lembaga pendidikan formal, dalam dunia Islam sebenarnya telah berkembang lembaga–lembaga pendidikan Islam yang bersifat non formal. Lembaga–lembaga ini berkembang terus dan bahkan bersamaan dengan tumbuh dan berkembangnya bentuk – bentuk lembaga pendidikan non formal yang semakin luas.
 Diantara lembaga – lembaga pendidikan Islam yang bercorak non formal tersebut adalah :
              Kuttab sebagai lembaga pendidikan dasar Kuttab atau maktab, berasal dari kata dasar kataba yang berarti menulis atau tempat menulis. Jadi katab adalah tempat belajar menulis. Diantara penduduk Mekkah yang mula – mula belajar menulis huruf arab adalah sufyan Ibnu Umayyah Ibnu Abdu Syams, dan Abu Qais Ibnu Abdi Manaf Ibnu zuhroh Ibnu Kilat. Keduanya mempelajarinya di negeri Hirah. Sewaktu agama Islam diturunkan Allah sudah ada di antara para sahabat yang pandai tulis dan membaca.ayat alquran yang pertama diturunkan adalah memerintahkan untuk membaca dan memberikan gambaran bahwa kepandaian membaca dan menulis merupakan sarana utama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam. Karena tulis baca semakin terasa perlu maka khuttab sebagai tempat belajar tulis membaca terutama bagi anak-anak berkembang dengan pesat. Pada mulanya kuttab dilaksanakan dirumah-rumah, guru-guru yang bersangkutan dan diajarkan adalah menulis dan membaca. Kemudian pada akhir abad pertama hijriah mulai timbul jenis kuttab yang disamping memberikan pelajaran menulis dan membaca juga mengajarkan membaca alquran dan pokok-pokok ajaran agama. Selanjutnya, berkembang kuttab tersebut manjadi lembaga pandidikan dasar yang bersifat formal yang mengajarkan ilmu bacaan, hitungan, tulisan, dan tempat para remaja belajara dasar-dasar ilmu agama fiqih, hadis, dan bahasa.
                       Pendidikan rendah di istana Timbulnya pendidikan rendah di isatana untuk anak-anak para pejabat adalah berdasarkan pemikiran bahwa pedidikan itu harus bersifat menyiapkan anak didik agar mampu melaksanakan tugas-tuganya kelak setelah ia dewasa. Olek karena itu mereka memanggil guru-guru khusus pad anak-anak mereka. Pendidikan di istanberbeda dengan pendidikan anak-anak di kuttab pada umumnya. Istana, orang tua yang membuat rencana pembelajaran agarselaras dengan anaknya dan tujuan yang dihendaki orang tua tercapai. Guru yang mengajar di istana disebut mu’addib, karena berfungsi mendidik budi pengerti dan mewariskan kecerdasan, pengetahuan-pengetahuan orang-orang terdahulu kepada anak pejabat.
         Toko-toko kitab Pada permulaan daulat abbasiah, di mana ilmu pengetahuan dan kebuadayaan islam sudah tumbuh dan berkembang yang diikuti oleh penulisan kitab-kitab dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan maka berdirilah tokotoko kitab. Saudagar-saudagar buku itu bukanlah semata- semata mencari keuntungan akan tetapi kebanyakan mereka sastrawa-sastrawan yang telah memilih usaha sebagai pedagang kita agar mereka dapat kesempatan yang baik untuk membaca, menelaah dan bergaul dengan para ulama dan para pujangga. Dengan demikian toko-toko kitab berkembang fungsinya sebagai tempat berkumpulnya para ulama dan ahli ilmu untuk berdiskusi, berdebat dalam berbagai masalah ilmiah. Jadi segalikus sebagi lembaga pendidikan dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
     Rumah-rumah para ulama Walaupun sebenarnya rumah bukanlah tempat yang baik untu memberikan pelajaran namun pada zaman kejayaan perkembanga ilmu pengetahuan, kebudayaan islam banyak juga rumah para ulama di jadikan tempat belajar dan perkembangan ilmu pengetahuan di antaranya : Rumah Ibnu Sina, Algazali, Ali Ibnu Muhammad Fasihi, Ya’kub Ibnu Killis, Wazir khalifah Al Aziz dan lain-lain.
       Majelis atau salon kesusastraan Majlis maksudnya adalah suatu majelis khusus yang diadakan khalifah untuk membahas macam- macan ilmu pengetahuan. Majelis ini bermula sejak khalifah al rasyidin. Pada harun alrasid (170- 193 hijriyah) majlis sastra ini mengalami kemajuan yang luar bisaa karena khalifah sendiri adalah ahli ilmu pengetahuan dan juga mempunyai kecerdasan sehingga khalifah aktif didalamnya. Di samping itu pada masa tersebut dunia islam diwarnai oleh perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masanya sering di adakan pelombaan antar ahli-ahli syair, perdebatan antar fuqaha, dan diskusi diantara para sarjana berbagi macan ilmu pengetahuan, juga diadakan sayembara diantara ahli kesenian dan pujangga

 B.  Faktor-Faktor yang mempengaruhi kejayaan Pendidikan Islam
1. Berdirinya sekolah-sekolah Diantara faktor-faktor yang menyebabkan berdirinya sekolah-sekolah di luar masjid adalah bahwa:
            Khalaqah-khalaqah (lingkaran) untuk mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan. Yang didalamnya juga terjadi diskusi dan perdebatan yang ramai, sering satu sama lain saling mengganggu, di samping mengganggu, orang-orang yang beribadah dalam masjid. Keadaan demikian mendorong untuk dipindahkannya khalaqah-khalaqoh tersebut keluar lingkaran masjid dan didirikan bangunan-bangunan sebagai ruang-ruang kuliah atau kelas-kelas tersendiri.dengan demikian kegiatan pengajaran dari khalaqoh-khalaqoh tidak saling mengganggu satu sama lain.
       Dengan berkembang luasnya ilmu pengetahuan, baik mengenai agama maupun umum maka diperlukan semakin banyak khalaqahkhalaqah (lingkaran pengajaran ),yang tidak mungkin keseluruhan tertampung dalam ruang masjid. Di samping itu terdapat faktor-faktor lainnya, yang mendorong bagi para penguasa dan pemegang pemerintahan pada masa itu untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai bangunan yang terpisah dari masjid antara lain:
                                i.            Pada masa Turki mulai berpengaruh dalam pemrintahan bani abbasiyah, dan untuk memprtahankan kedudukan mereka dan pemerintahan, mereka berusaha menarik hati kaum muslimin pada umumnya dengan jalan memperhatikan pendidikan dan pengajaran bagi rakyat umum.
                              ii.            Mereka mendirikan sekolah-sekolah diberbagai tempat dan dilengkapi dengan segala sarana dan fasilitas yang diperlukan. Mereka mendirikannya disamping dengan harapan untuk mendapatkan simpati dari umumnya dan juga berharap mendapat ampunan pahala dari tuhan.
              Para pembesar Negara pada masa itu dengan kekuasaannya telah berhasil mengumpulkan harta kekayaan yang banyak. Mereka kuatir kalau nantinya kekayaan tersebut tidak bisa diwariskan kepada anak-anaknya kaerna diambil oleh sultan, anak-anak mereka hidup terlantar dan hidup dalam kemiskinan. Di samping itu, didirikannya madrasah-madrasah tersebut ada hubungannya dengan usaha untuk mempertahankan dan mengembangakan aliran keagamaan dari para pembesar Negara yang bersangkutan. Dalam mendirikan sekolah ini, mereka mempersyaratkan harus diajarkan aliran agama tertentu, dan dengan demikian aliran keagamaan tersebut akan berkembanga dalam masyarakat.
C. Bentuk-bentuk Kemajuan Pendidikan Islam di Masa Lalu
Harun Nasution mengklasifikasikan sejarah Islam pada tiga masa yang mana periode pertama disebut dengan periode klasik dimulai tahun 650 hingga 1250 M.,sejak lahirnya islam sampai hancurnya pemerintahan Baghdad, sedangkan pada periode kedua disebut dengan periode pertengahan yaitu dari hancurnya baghdad sampai timbulnya ide-ide baru di Mesir yaitu sejak tahun 1250 hingga 1800 M. Dan terakhir periode modern yaitu mulai tahun 1800 M. hingga sekarang. Dan adapun bentuk-bentuk pendidikan islam masa klasik atau masa lalu yaitu antara lain:
            Kurikulum kurikulum dalam lembaga pendidikan islam dimasa klasik pada mulanya berkisar pada bidang study tertentu. Namun seiring perkembangan social dan cultural, materi kurikulum semakin luas. Pada masa Nabi di Madinah, materi pelajaran berkisar pada belajar menulis, membaca Al-Quran, keimanan, ibadah, akhlak, dasar ekonomi, dasar politik, dan kesatuan. Setelah wilayah Islam semakin luas, Islam harus bersentuhan dengan budaya masyarakat non Islam yang menyebabkan permaslahan social semakin kompleks. Problem social tersebut pada akhirnya berpengaruh besar terhadap kehidupan keagamaan dan intelektual Islam, termasuk ilmu helenistik yang terjalin kontak dengan Islam. Perkembangan kehidupan inteleketual dan kehidupan keagamaan dalam Islam membawa situasi lain bagi kurikulum pendidikan Islam. Maka, diajarkanlah ilmu-ilmu baru seperti tafsir, hadist, fikih, tata bahasa, sastra, matematika, teologi, filsafat, astronomi, dan kedokteran Pada masa kejayaan Islam, mata pelajaran bagi kurikulum sekolah tingkat rendah adalah al-Quran dan agama, membaca, menulis, dan syair. Dalam berbagai kasus-kasus lain dikhususkan untuk membaca al-Quran dan mengajaarkan sebagian prinsip-prinsip pokok agama. Sedangkan untuk anakanak amir dan penguasa, kurikulum tingkat rendah sedikit berbeda. Di istana-istana bisanya ditegaskan pentingnya pengajaran khitabah, ilmu sejarah, cerita perang, cara-cara pergaulan, disamping ilmu-ilmu pokok seperti al-Quran, syair, dan fikih.
           Metode Pengajaran Metode pengajaran merupakan salah satu aspek yang penting dalam proses belajar mengajar untuk mentransfer pengetahuan atau kebudayaan dari seorang guru kepada anak didiknya. Melalui metode pengajaran terjadi proses internalisasi dan pemilihan ilmu oleh murid, sehingga murid dapat menyerap apa yang disampaikan gurunya. Metode pengajaran yang dipakai pada masa Masa Abbasiyah dapat dikelompokkan menjadi 3 macam, yaitu :
              Metode lisan Metode ini dapat berupa dikte, ceramah, qira`ah, dan dapat berupa diskusi. Dikte (imla) adalah metode untuk menyampaikan pengetahuan yang dianggap baik dan aman sehingga pelajar mempunyai catatan yang dapat membantunya terutama bagi yang daya ingatnya tidak kuat. Metode ceramah (al asma`), yaitu guru membacakan bukunya atau menjelaskan isi buku dengan hafalan, sedangkan murid mendengarkannya. Pada saat tertentu guru memberi kesempatan kepada murid untuk menulis dan bertanya. Metode qira`ah (membaca) biasanya digunakan untuk membaca. Sedangkan diskusi merupakan metode pengajaran dalam pendidikan Islam dengan cara perdebatan.
               Metode hafalan Metode ini dilakukan oleh murid dengan cara membaca berulang-ulang sehingga pelajaran melekat di benak mereka. Dalam proses selanjutnya, murid mengeluarkan kembali pelajaran yang dihafalnya sehingga dalam suatu diskusi dia dapat merespon, mematahkan lawan, atau memunculkan ide baru.
                       Metode tulisan Metode ini merupkan metode pengkopian karya-karya ulama. Metode ini di samping bermanfaat bagi proses penguasaan pengetahuan juga sangat besar artinya bagi penggandaan jumlah buku karena pada masa itu belum ada mesin cetak.
 c. Kehidupan Murid Ciri utama kehidupan murid dalam pendidikan tingkat dasar adalah :
1. Diharuskannya belajar membaca dan menulis.
2. Bahan pengajarannya menggunakan syair-syair dan bukan al Qur`an karena dikhawatirkan mereka membuat kesalahan yang akan menodai al Qur`an.
3. Murid-murid diajarkan membaca dan menghafalkan al Qur`an.
 4. Pada sekolah dasar tidak ditentukan lamanya belajar dan tergantung pada kemampuan anak- anak.
 5. Hubungan guru dan murid sebagai hubungan orang tua dan anak. Pada pendidikan tingkat tinggi murid-murid bebas memilih guru yang mereka sukai yang dianggapnya paling baik.



BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Kejayaan pendidikan Islam dimulai dengan perkembangan lembaga-lembaga pendidikan Islam non formal diantaranya; kuttab, pendidikan rendah di istana, toko-toko kitab, rumah para ulama, majelis atau salon kesusastraan, badiah(padang pasir,dusun tempat tinggal badwi), rumah sakit, perpustakaan, masjid, dan ribath. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kejayaan pendidikan Islam; adanya lembaga-lembaga formal seperti sekolah-sekolah atau madrasah-madrasah, terjadinya asimilasi antara bangsa arab dengan bangsa lain yang lebih dahulu maju, dan pengaruh-pengaruh dari Persia, India dan pengaruh Hellenisme di masa Abbasiyah. Dari perkembangan lembaga-lembaga serta faktor-faktor yang mempengaruhi kejayaan pendidikan Islam itu sendiri maka lahirlah bentuk-bentuk kejayaan pendidikan islam pada masa klasik diantaranya; Kurikulum, metode pengajaran, kehidupan murid, rihlah ilmiyah, dan wakaf.

B.       Saran
 Demikianlah makalah ini penulis buat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam. Apabila dalam penulisan makalah ini terdapat kekurangan penulis meminta kepada pembaca umumnya dan khususnya kepada dosen mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam ini untuk memberikan saran dan kritik yang membangun untuk makalah ini. Mudah-mudahan Allah Swt senantiasa memberkahi kita semua.



DAFTAR PUSTAKA

Asrohah, Hanun. 2001. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Suwendi. 2004. Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam.Jakata: PT Raja Grafindo Persada.
Zuhairini. 2006. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara.

MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...