Selasa, 18 Desember 2018

MAKALAH PENILAIAN PORTOPOLIO


 MAKALAH PENILAIAN PORTOPOLIO


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Beragam teknik dapat dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar siswa, baik yang berhubungan dengan proses beajar maupun hasil belajar. Teknik pengumpulan informasi tersebut pada prinsipnya adalah cara penilaian kemajuan belajar peserta didik berdasarkan standar yang ditentukan oleh kurikulum. Pada standar pendidikan, kita temukan indikator-indikator pembelajaran. Dalam indikator pembelajaran inilah nantinya seorang guru dapat menentukan cara penilaian yang sesuai. Ada tujuh teknik penilain yang dapat digunakan salah satunya yaitu penilaian unjuk kerja/kinerja/performance.
Penilaian kinerja siswa merupakan salah satu alternatif penilaian yang difokuskan pada dua aktivitas pokok, yaitu: Observasi proses saat berlangsungnya unjuk keterampilan dan evaluasi hasil cipta atau produk. Penilaian bentuk ini dilakukan dengan mengamati saat siswa melakukan aktivitas di kelas atau menciptakan suatu hasil karya sesuai dengan tujuan pembelajarannya. Kecakapan yang ditampilkan siswa adalah variabel yang dinilai. Penilaian terhadap kecakapan siswa didasarkan pada perbandingan antara kinerja siswa dengan target yang telah ditetapkan.
Proses penilaiannya dilakukan mulai persiapan, melaksanakan tugas sampai den-gan hasil akhir yang dicapainya. Oleh karena itu penilaian dengan tertulis dan lisan saja tidak dapat mewakili secara keseluruhan segala penilaian yang di inginkan apalagi dengan materi pembahasan yang menuntut siswa agar dapat memecahkan masalah dan menentukan sikap, bekerja sama dengan teman sekelompoknya dan lain-lainnya. Maka penilaian kinerja akan menjawab semua pertanyaan yang belum bisa terjawab pada penilaian secara lisan dan tulisan.

B.     Rumusan masalah
1.      Apa Yang Dimaksud dengan Penilaian Unjuk Kerja/ Peformance?
2.      Apa Saja Langkah-Langkah Membuat Penilaian Unjuk Kerja?
3.      Bagaimana Pelaksanaan Penilaian Peformance?
4.      Apa Yang Dimmaksud Dengan Penilaian Portopolio?
5.      Apa Saja Teknik dalam Penilaian Portopolio?
6.      Apa Saja Keuntungan dan Kelemahan Penilaian Portopolio?

C.    Tujuan
1.      Mengetahui Apa Itu Penilaian Performance
2.      Mengetahui Langkah-Langkah dalam Penilaian Performance
3.      Mengetahui Pelaksanaan Penilaian Performance
4.      Mengetahui Apa Itu Penilaian Portopolio
5.      Mengetahui Teknik-Teknik Penilaian Portopolio
6.      Mengetahui Keuntungan dan Kelemahan Penilaian Portopolio

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Penilaian Unjuk Kerja/Perfomance
1.      Pengertian Penilaian Unjuk Kerja
Penilaian kinerja pada prinsipnya lebih di tekankan pada proses keterampilan dan kecakapan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu seperti: praktek di laboratorium, praktek sholat, praktek olahraga, bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi, membaca puisi/ deklamasi dan lain-lain. Cara penilaian ini dianggap lebih otentik daripada tes tertulis karena apa yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya.
Performance assessment adalah penilaian berdasarkan hasil pengamatan penilai terhadap aktivitas siswa sebagaimana yang terjadi. Penilaian dilakukan terhadap unjuk kerja, tingkah laku, atau interaksi siswa. Performance assessment digunakan untuk menilai kemampuan siswa melalui penugasan. Penugasan tersebut dirancang khusus untuk menghasilkan respon (lisan atau tulis), menghasilkan karya (produk), atau menunjukkan penerapan pengetahuan. Tugas yang diberikan kepada siswa harus sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai dan bermakna bagi siswa (Setyono,2005:3).
Sedangkan menurut Majid (2006:88) performance assessment merupakan penilaian dengan berbagai macam tugas dan situasi di mana peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan pemahaman dan mengaplikasikan pengetahuan yang mendalam, serta keterampilan di dalam berbagai macam konteks. Jadi boleh dikatakan bahwa performance assessment adalah suatu penilaian yang meminta peserta tes untuk mendemostrasikan dan mengaplikasikan pengetahuan ke dalam berbagai macam konteks sesuai dengan kriteria-kriteria yang diinginkan.
Berdasarkan kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa performance assessment adalah suatu bentuk penilaian untuk mendemostrasikan atau mengaplikasikan pengetahuan yang telah diperoleh oleh siswa dan menggambarkan suatu kemampuan siswa melalui suatu proses, kegiatan, atau unjuk kerja
2.      Langkah-langkah Membuat Penilaian Performance
Adapun langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam membuat performance assessment adalah 1) Identifikasi semua langkah penting atau aspek yang diperlukan atau yang akan mempengaruhi hasil akhir; 2) Menuliskan kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas; 3) Mengusahakan kemampuan yang akan diukur tidak terlalu banyak sehingga semua dapat diamati; 4) Mengurutkan kemampuan yang akan diukur berdasarkan urutan yang akan diamati; 5) Bila menggunakan skala rentang, perlu menyediakan kriteria untuk setiap pilihan (Hutabarat, 2004: 17).
Menurut Majid (2006: 88) langkah-langkah membuat performance assessment adalah 1) Melakukan identifikasi terhadap langkah-langkah penting yang diperlukan atau yang akan mempengaruhi hasil akhir (output yang terbaik); 2) Menuliskan perilaku kemampuan spesifik yang penting dan diperlukan untuk menyelesaikan dan menghasilkan output yang terbaik; 3) Membuat kriteria-kriteria kemampuan yang akan diukur, jengan terlalu banyak sehingga semua kriteria- kriteria tersebut dapat diobservasi selama siswa melaksanakaan tugas; 4) Mengurutkan kriteria-kriteria kemampuan yang akan diukur berdasarkan urutan yang dapat diamati; 5) Kalau ada periksa kembali dan bandingkan dengan kriteria-kriteria kemampuan yang dibuat sebelumnya oleh orang lain.      
3.      Pelaksanaan Penilaian Performance
  Dalam melaksanakan penilaian unjuk kinerja perlu diperhatikan langkah-langkah berikut :           
a)      Langkah-langkah kinerja yang diharapkan dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja dari suatu kompentesi.
b)      Kelengkapan dan ketepatan aspek yang akan dinilai dalam kinerja tersebut.
c)      Kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas.
d)     Upayakan kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak, sehingga semua dapat diamati.
e)      Kemampuan yang akan dinilai diurutkan berdasarkan urutan yang akan diamati.
Ø  Menurut Dr. Ari Widodo, Dra. Sri Wuryastuti, M.pd, Dra. Margaretha, M.pd cara melaksanakan asesmen kinerja, dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a)      Asesmen kinerja klasikal digunakan untuk mengakses kinerja siswa secara keseluruhan dalam satu kelas.
b)      Asesmen kinerja kelompok untuk mengakses kinerja siswa secara berkelompok.
c)      Asesmen kinerja individu untuk mengakses kinerja siswa secara individ
                                                                                                   
B.     Penilaian Portofolio
1.      Pengertian Penilaian Portopolio
                           
Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didik, hasil tes (bukan nilai) atau bentuk informasi lain yang terkait dengan kompetensi tertentu dalam satu mata pelajaran. Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya siswa secara individu pada satu periode untuk suatu mata pelajaran. Akhir suatu periode hasil karya tersebut dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan peserta didik sendiri. Berdasarkan informasi perkembangan tersebut, guru dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan peserta didik dan terus melakukan perbaikan. Dengan demikian, portofolio dapat memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar peserta didik melalui karyanya, antara lain: karangan, puisi, surat, komposisi musik, gambar, foto, lukisan, resensi buku/ literatur, laporan penelitian, sinopsis, dsb.
                                             
Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pedoman dalam penggunaan penilaian portofolio di sekolah, antara lain:
                                                                                                       
a.       Karya siswa adalah benar-benar karya peserta didik itu sendiri.
Guru melakukan penelitian atas hasil karya peserta didik yang dijadikan bahan penilaian portofolio agar karya tersebut merupakan hasil karya yang dibuat oleh peserta didik itu sendiri.

b.      Saling percaya antara guru dan peserta didik
Dalam proses penilaian guru dan peserta didik harus memiliki rasa saling percaya, saling memerlukan dan saling membantu sehingga terjadi proses pendidikan berlangsung dengan baik.

c.       Kerahasiaan bersama antara guru dan peserta didik
Kerahasiaan hasil pengumpulan informasi perkembangan peserta didik perlu dijaga dengan baik dan tidak disampaikan kepada pihak-pihak yang tidak berkepentingan sehingga memberi dampak negatif proses pendidikan

d.      Milik bersama (joint ownership) antara peserta didik dan guru
Guru dan peserta didik perlu mempunyai rasa memiliki berkas portofolio sehingga peserta didik akan merasa memiliki karya yang dikumpulkan dan akhirnya akan berupaya terus meningkatkan kemampuannya.

e.       Kepuasan
Hasil kerja portofolio sebaiknya berisi keterangan dan atau bukti yang memberikan dorongan peserta didik untuk lebih meningkatkan diri.

f.       Kesesuaian
Hasil kerja yang dikumpulkan adalah hasil kerja yang sesuai dengan kompetensi yang tercantum dalam kurikulum.

g.      Penilaian proses dan hasil
Penilaian portofolio menerapkan prinsip proses dan hasil. Proses belajar yang dinilai misalnya diperoleh dari catatan guru tentang kinerja dan karya peserta didik.

h.      Penilaian dan pembelajaran
Penilaian portofolio merupakan hal yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Manfaat utama penilaian ini sebagai diagnostik yang sangat berarti bagi guru untuk melihat kelebihan dan kekurangan peserta didik.

2.      Teknik Penilaian Portofolio
Teknik penilaian portofolio di dalam kelas memerlukan langkah-langkah sebagai berikut:
·         Jelaskan kepada peserta didik bahwa penggunaan portofolio, tidak hanya merupakan kumpulan hasil kerja peserta didik yang digunakan oleh guru untuk penilaian, tetapi digunakan juga oleh peserta didik sendiri. Dengan melihat portofolionya peserta didik dapat mengetahui kemampuan, keterampilan, dan minatnya. Proses ini tidak akan terjadi secara spontan, tetapi membutuhkan waktu bagi peserta didik untuk belajar meyakini hasil penilaian mereka sendiri.
·         Tentukan bersama peserta didik sampel-sampel portofolio apa saja yang akan dibuat. Portofolio antara peserta didik yang satu dan yang lain bisa sama bisa berbeda. Misalnya, untuk kemampuan menulis peserta didik mengumpulkan karangan-karangannya. Sedangkan untuk kemampuan menggambar, peserta didik mengumpulkan gambar-gambar buatannya.
·         Kumpulkan dan simpanlah karya-karya tiap peserta didik dalam satu map atau folder di rumah masing-masing atau loker masing-masing di sekolah.
·         Berilah tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan peserta didik sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu.
·         Sebaiknya tentukan kriteria penilaian sampel portofolio dan bobotnya dengan para peserta didik sebelum mereka membuat karyanya. Diskusikan cara penilaian kualitas karya para peserta didik. Contoh, Kriteria penilaian kemampuan menulis karangan yaitu: penggunaan tata bahasa, pemilihan kosa-kata, kelengkapan gagasan, dan sistematika penulisan. Dengan demikian, peserta didik mengetahui harapan (standar) guru dan berusaha mencapai standar tersebut.
·         Minta peserta didik menilai karyanya secara berkesinambungan. Guru dapat membimbing peserta didik, bagaimana cara menilai dengan memberi keterangan tentang kelebihan dan kekurangan karya tersebut, serta bagaimana cara memperbaikinya. Hal ini dapat dilakukan pada saat membahas portofolio.
·         Setelah suatu karya dinilai dan nilainya belum memuaskan, maka peserta didik diberi kesempatan untuk memperbaiki. Namun, antara peserta didik dan guru perlu dibuat “kontrak” atau perjanjian mengenai jangka waktu perbaikan, misalnya 2 minggu karya yang telah diperbaiki harus diserahkan kepada guru.

3.      Keuntungan dan Kelemahan Portofolio
Apapun teknik penilaian yang diterapkan dalam pembelajaran memiliki keuntungan dan kelemahan, sebagaimana portofolio mempunyai kedua-duanya yakni keuntungan potensial sekaligus kelemahan.
a.      Keuntungan Portofolio
Keuntungan kedua dari penilaian portofolio adalah bahwa portofolio dikhususkan untuk masing-masing kebutuhan individu siswa. Kebanyakan teknik penilaian kelas dirancang untuk diberikan kepada semua siswa di dalam kelas pada waktu yang bersamaan dan sedang mengukur bagian dari tujuan pendidikan yang objektif. Bagaimanapun, jika guru mengorganisir kelas sedemikian rupa sehingga tujuan individual dibedakan dari yang lain untuk masing-masing siswa, kemudian jenis test kelas tidak dapat bekerja dengan baik.

 Bagaimanapun, portofolio secara rinci dirancang untuk masing-masing siswa berdasarkan pada sasaran hasil dan tujuan yang telah diatur sesuai waktunya pada siswa. Oleh karena itu, portofolio mungkin menjadi alternatif penilaian terbaik di dalam suatu kelas yang lebih memusatkan pada tujuan pendidika secara individul.
Ada satu keuntungan lain dari portofolio yaitu: portofolio menyediakan para guru dengan suatu alternatif bentuk penilaian. Pengajaran yang baik secara khas memerlukan fleksibilitas. Guru akan menghadapi para siswa yang memberi alasan lain, secara sederhana tidak melaksanakan sebagaimana halnya yang mereka perlu lakukan dengan teknik penilaian yang lebih tradisional. Dalam kasus itu, guru mempunyai teknik penilaian alternatif yang mungkin tersedia. Sesungguhnya, beberapa negara sekarang mengijinkan penilaian portofolio untuk menggantikan alat penilaian yang diperlukan dan distandardisasi secara tradisional untuk para siswa tertentu. Bahwasanya jenis penilaian yang fleksibel adalah penting di dalam dunia pendidikan.
Dengan portofolio, yang semua isinya akan dinilai, siswa dapat diharapkan akan memberikan perhatian yang tinggi pula kepada bagian-bagian yang tidak diujikan atau tidak masuk dalam tes. Jika guru ingin agar siswanya suka melakukan penyelidikan atau melakukan eksplorasi, tidak sekedar menghafal, dan siswanya tidak mudah melupakan materi tertentu, maka penggunaan portofolio penilaian merupakan jalan yang cocok untuk maksud itu.
 Dengan demikian penggunaan portofolio untuk penilaian juga bermanfaat, karena hal-hal berikut. (1) Portofolio menyajikan atau memberikan: “bukti” yang lebih jelas atau lebih lengkap tentang kinerja siswa daripada hasil tes di kelas; (2) Portofolio dapat merupakan catatan penilaian yang sesuai dengan program pembelajaran yang baik; (3) Portofolio merupakan catatan jangka panjang tentang kemajuan siswa; (4) Portofolio memberikan gambaran tentang kemampuan siswa; (5) Penggunaan portofolio penilaian memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan keunggulan dirinya, bukan kekurangan atau kesalahannya dalam mengerjakan soal atau tugas;
 (6) Penggunaan portofolio penilaian mencerminkan pengakuan atas bervariasinya gaya belajar siswa; (7) Portofolio memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam penilaian hasil belajar; (8) Portofolio membantu guru dalam menilai kemajuan siswa; (9) Portofolio membantu guru dalam mengambil keputusan tentang pembelajaran atau perbaikan pembelajaran; (10) Portofolio merupakan bahan yang relatif lengkap untuk berdiskusi dengan orang tua siswa, tentang perkembangan siswa yang bersangkutan; (11) Portofolio membantu pihak luar untuk menilai program pembelajaran yang bersangkutan.
b.      Kelemahan Portofolio
Portofolio juga memilki kelemahan.Pertama,  Portofolio adalah suatu jenis penilaian pencapaian yang spesifik, yang mana kita telah membicarakannya didalam bab yang sebelumnya. Walaupun para guru sering memandang portofolio sebagai cara untuk mengukur dan menunjukkan kemajuan siswa, portofolio bekerja dengan baik dalam mengukur hasil kerja siswa.
Kedua  portofolio adalah waktu yang sangat intensif. Mereka melibatkan banyak waktu antara guru dan para siswa. Pertama, guru dan siswa harus duduk bersama dan merencanakan portofolio. Portofolio memerlukan suatu usaha kolaboratif yang efektif. Kedua, sedikitnya sekali dalam proses mengembangkan portofolio guru dan siswa harus bertemu untuk memeriksa kemajuan sebuah program. Misalnya program yang bisa secara mudah berakhir selama 30 menit. Yang akhirnya, guru harus mengevaluasi masing-masing portofolio. Tinjauan portofolio secara hati-hati juga memerlukan banyak waktu yang pantas dipertimbangkan dalam jumlah waktu.
Kelemahan ketiga dari portofolio adalah bahwa mereka sulit untuk mencetak prestasi yang nyata. Jika portofolio diharapkan untuk berdiri sendiri dalam menunjukkan kemajuan siswa, kemudian guru mengevaluasinya kemungkinan tidak menjadi mudah ketika kemajuan dari sebuah program berdiri sendiri. Bagaimanapun, dalam banyak kasus, portofolio digunakan sebagai suatu alat penilaian dan digunakan untuk membantu mengembangkan nilai seorang siswa. Di dalam kasus tersebut, guru harus mengevaluasi dan menilainya. Sama dengan penggunaan rencana penilaian atau rubrik yang dikembangkan, hal itu menyulitkan penilaian portofolio secara nyata. Walaupun tidak banyak diterbitkan laporan tentang keandalan portofolio, ketika studi seperti itu telah diselesaikan, persetujuan yang secara nyata menghasilkan keandalan di bawah 50, yang mana adalah rendah diterima.
Dengan demikian portofolio memiliki kelemahan antara lain: (1) Penggunaan portofolio tergantung pada kemampuan siswa dalam menyampaikan uraian secara tertulis. Selama siswa belum lancar berbahasa tulis Indonesia, penggunaan portofolio akan merupakan beban tambahan yang memberatkan sebagian besar siswa. (2) Penggunaan portofolio untuk penilaian memerlukan banyak waktu dari guru untuk melakukan penskoran; apalagi kalau kelasnya besar. Oleh karena itu, portofolio yang ditugaskan untuk dibuat perlu disesuaikan dengan kemampuan siswa berbahasa tulis Indonesia dan waktu yang tersedia bagi guru untuk membacanya.
 BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Tujuan tugas penilaian unjuk kerja adalah untuk mengetahui apa yang siswa ketahui dan apa yang mereka lakukan. Tugas tersebut harus bermakna, autentik, dan dapat mengukur penguasaan siswa. Evaluasi hasil tugas penilaian unjuk kerja melibatkan pemahaman dan langkah-langkah.
Dalam penilaian unjuk kerja siswa dibandingkan dengan tugas itu sendiri. Tujuan guru adalah untuk melihat perkembangan intelektual atau kekurangannya. Guru dapat mengembangkan standar unjuk kerja sendiri untuk menilai kualitas pekerjaann siswanya.
B.     Saran
Penyusun dalam menyusun makalah ini banyak menemukan hambatan dari segi isi maupun literatur, penyusun menyarankan pembaca untuk memberikan kritikan dan saran yang membangun untuk kesuksesan makalah selanjutnya.
                                                              
DAFTAR PUSTAKA
Grace & Catly. 1992. Portopolio and its use: A Developmentally Apprepriate Assessment. Wasington DC: Office of Educational Research and Improvement (ED).
Shaklee, B. D. et. All, (1997). Designing and Using Portopolis. United States of America: Allyan & Bacon.
Zainul. A. (2001). Alternative Assessmennt. Jakarta: Dirjen Dikti.

 http://www.kajianpustaka.com/2012/11/penilaian-kinerja-performance-assessment.html
http://www.madrasahmedia.web.id/2014/09/pengertian-dan-langkah-penilaian-unjuk-kerja.html
http://www.academia.edu/6543246/Penilaian_dalam_Pembelajaran_Bahasa_Indonesia_di_Sekolah_Dasar
                       

MAKALAH KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI


MAKALAH KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI 

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Pada dasarnya, satiap orang memerlukan komunikasi interpersonal sebagai salah satu bantu dalam kelancaran berkerja sama dengan orang lain dalam bidang apapun. Komunikasi interpersonal merupakan aktivitas yamg di lakukan dalam kehidupan sehari-hari,dan merupakan cara umtuk menyampaikan dan menerima pikiran-pikiran, informasi, gagasan, perasaan dan bahkan emosi seseorang, sampai pada titik tercapainya pengertian yang sama antara komunikator dan komunikan.
Komunikasi interpersonal merupakan komunikasi yang mempunyai efek besar dalam hal mempengaruhi orang lain terutama individu. Hal itu di sebabkan, biasanya pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi bertemu secara langsung, tidak menggunakan media dalam penyampaian pesannya sehingga tidak ada jarak yang memisahkan antara komunikator dengan komunikan (face to face). Oleh karena itu saling berhadapan muka. Maka masing-masing pihak dapat langsung mengetahui repon yang di berikan, serta mengurangi tingkat ketidak jujuranketika sedang terjadi komunikasi. Sedangkan apabila komunikasi interpersonal itu terjadi secara sekunder, sehingga antara komunikator dan komunikan terhubung media.efek komunikasi sangat di pengaruhi oleh karatristik interpersonalnya. Misalnya dua orang saling berkomunikasi melalui media telepon seluler, maka efek komunikasi tidak semata-mata di pengaruhi oleh kualitas pesan dan kecanggihan media, namun yang lebih penting adalah adanya ikatan interpersonal yang bersifat emosional.
Mesikupun komunikasi interpersonal merupakan aktivitas yang rutin kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari, namun kenyataan menunjukkan bahwa proses komunikasi interpersonal tidak selamanya mudah. Pada saat tertentu, kita menyadari bahwa perbedaan latar belakang social budaya antar individu telah terjadi faktor potensial menghambat keberhasilan komunikasi.[1]

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang di maksud komunikasi antar pribadi ?
2.      Apa tujuan komunikasi antar pribadi ?
3.      Bagaimana komunikasi antar pribadi sebagai proses trasaksional dan efektifitas komunikasi antar pribadi ?

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian, definisi komunikasi antar pribadi
2.      Untuk mengetahui tujuan komunikasi antar pribadi
3.      Untuk mengetahui ke efektifan komunikasi antar pribaadi
BAB II
PEMBAHASAN


A.  Pengetian komunikasi Antar Pribadi
 Komunikasi antar pribadi (interpersonal commication) adalah komunikasi antara individu-individu ( Littlejonh, 1999). Bentuk khusus dari komunikasi antar pribadi ini adalah komunikasi diadik yang melibatkan hanya dua orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal,  seperti suami-istri, dua sahabat dekat, seorang dosen dengan mahasiswanya, dan lain sebagainya.
Steward L. Tubbs dan Sylvia Moss ( dalam Deddy Mulyana, 2005) mengantakan ciri-ciri komunikasi diadik adalah
1.      Peserta komunikasi berada dalam jarak yang dekat
2.      Peserta komunikasi mengirim dan menerima pesan secara simultan dan spontan, baik secara verbal maupun nonverbal.

Komunikasi antar pribadi sangat potensial karena kita dapat menggunakan kelima alat untuk mempertinggi daya bujuk pesan yang kita komunikasikan kepadan komunikan kita.sebagai komunikasi yang paling lengkap dan paling sempurna, komunikasi antar pribadi berperan penting hingga kapanpun ,selama manusia masih mempunyai emosi. Kenyataannya komunikasi tatap muuka ini membuat manusian lebih akrab dengan sesamanya, berbeeda dengan komunikasi lewat media massa seperti surat kabar, televisi, ataupun lewar teknologi tercanggihpun.[2]

Terdapat beberapa definisi komunikasi antarpribadi menurut beberapa ahli, diantaranya adalah:
1.      Menurut Joseph A.Devito dalam bukunya The Interpersonal Communication Book komunikasi antarpribadi adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau di antara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika (the process of sending and receiving messages between two persons, or among a small group of persons, with some effect and some immediate feedback).
2.      Menurut Rogers dalam Depari, komunikasi antarpribadi merupakan komunikasi dari mulut ke mulut yang terjadi dalam interaksi tatap muka antara beberapa pribadi.
3.      Tan mengemukakan bahwa komunikasi antarpribadi adalah komunikasi tatap muka antara dua orang atau lebih.  Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang menimbulkan efek tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan oleh komunikator.[3]

B. Tujuan Komunikasi Antar Pribaadi

                   Setiap kegiatan manusia memiliki tujuan, tak terkecuali komunikasi antarpribadi.    Menurut Supratiknya komunikasi interpersonal memiliki lima tujuan utama dalam  pelaksanaanya, yang meliputi: 
1.      Belajar maksudnya dengan komunikasi individu dapat mengetahui dunia luar, luas wawasannya.
2.      Berhubungan menjalin relasi dengan individu lain dan optimalisasi dalam menilai diri dan individu lain secara positif
3.      Mempengaruhi mempengaruhi orang lain untuk mengikuti apa yang dikemukakan komunikator berpartisipasi dalam kegiatan bersama.
4.      Bermain. Mencapai tujuan kesenangan dan mencapai kesejahteraan bersama.
5.      Membantu membantu orang lain yang memiliki masalah.

Sementara itu, merujuk pada pendapat Sugiyo, dikatakan bahwa terdapat sembilan tujuan komunikasi interpersonal yaitu: 
1.      Menemukan diri sendiri
2.      Menemukan dunia luar
3.      Membentuk dan memelihara hubungan yang bermakna
4.      Mengubah sikap dan perilaku sendri dan orang lain
5.      Barmain dan hiburan
6.      Belajar
7.      Mempengaruhi orang lain
8.      Merubah pendapat orang lain
9.      Membantu orang lain[4]
Adapun secara lengkap, Fungsi Komunikasi meliputi 8 fungsi yaitu :
1.      Informasi, yakni pengumpulan, penyimpanan, pemrosesan, fakta, pesan, yang dibutuhkan orang agar dapat mengerti dan bereaksi secara jelas dengan kondisi internasional, lingkungan, dan orang lain, dan agar mengambil keputusan dengan tepat.
2.      Sosialisasiatau pemasyarakatan.
3.      Motivasi, yakni menjelaskan tujuan setiap masyarakat jangka pendek maupun jangka panjang dan mendorong orang menentukan pilihannya, dan mendorong kegiatan individu dan kelompok berdasarkan tujuannya.
4.      Perdebatan atau diskusi, yakni menyediakan ruang dialog dan saling tukar pendapat untuk pemecahan problem.
5.      Pendidikan, yakni transformasi ilmu pengetahuan sehingga mendorong pengembangan intelektual, watak, dan ketrampilan  maupun sikap yang diperlukan dalam kehidupan.
6.      Memajukan kebudayaan, yakni penyebarluasan hasil budaya dan seni dengan maksud melestarikan warisan masa lalu, memperluas horizon seseorang, dan membangun imajinasi dan mendorong kreativitas serta kebutuhan estetika.
7.      Hiburan, yakni penyebarluasan sinyal, simbol, gambar, suara, dari drama, tari, sastra, olahraga, dan sebagainya untuk rekreasi dan kesenangan.
8.      Integrasi, yakni menyediakan bagi bangsa dan negara, kelompok, ataupun individu  kesempatan  memperoleh berbagai pesan untuk dapat saling mengenal dan menghargai kondisi, pandangan, dan keinginan orang lain.

Berdasarkan beberapa fungsi komunikasi yang telah tersebut di atas, dapat  kita sederhanakan fungsi-fungsi tersebut menjadi empat fungsi saja, yakni:
1.      Menyampaikan Informasi (to inform)
2.      Mendidik (to educate)
3.      Menghibur (to entertain)
4.      Mempengaruhi (to influence
Jadi Komunikasi merupakan proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pikiran itu dapat berwujud gagasan, ide, informasi, opini, dan lain sebagainya yang muncul dari benaknya. Komunikasi mengandung lima komponen, yakni; komunikator (communicator), pesan (message), media ( media), komunikan (communicant), dan efek (effect).[5]
                                                             
C.  Komunikasi Antar Pribadi Sebagai Proses Transaksional
Komunikasi  antarpribadi merupakan suatu proses yang sangat unik, artinya tidak seperti kegiatan lainnya. Selain itu, komunikasi  antarpribadi juga menuntut adanya tindakan saling memberi  dan menerima di antara pelaku yang terlibat komunikasi. Dengan adanya pertukaran ini komunikasi disebut sebagai proses transaksional

1. Komunikasi Antarpribadi Sebagai Proses
Sebagai suatu proses, komunikasi antarpribadi merupakan rangkaian tindakan, kejadian dan kegiatan yang terjadi secara terus-menerus atau bisa dibilang merupakan suatu yang dinamis. Artinya, segala sesuatu yang tercakup dalam komunikasi antarpribadi selalu dalam keadaan berubah, yakni para pelaku, pesan maupun lingkungannya. proses komunikasi antarpribadi dapat digambarkan sebagai proses yang sirkuler (artinya adalah bahwa setiap orang yang terlibat dalam komunikasi antarpribadi bertindak sebagai pembicara sekaligus pendengar dan sebagai actor sekaligus reactor) dan terus menerus (sebagai proses yang terus menerus diartikan bahwa komunikasi berlangsung tanpa henti, sehingga batasan awal dan berakirnya komunikasi antarpribadi menjadi tidak jelas).
2. Komponen-Komponen dalam Komunikasi Antarpribadi Saling Tergantung
Komponen-komponen dalam komunikasi antarpribadi saling berkaitan dan saling bergantung satu sama lain. Setiap komponen komunikasi antarpribadi mempunyai kaitan baik dengan komponen lain maupun dengan komponen secara kseluruhan. Oleh karena itu, dalam komunikasi antarpribadi tidak ada pengirim tanpa penerima, tidak ada pesan-pesan tanpa pengirim dan tidak ada umpan balik tanpa penerima. Karena bersifat saling tergantung maka perubahan yang terjadi pada suatu komponen akan menyebabkan perubahan pada komponen lainnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perubahan pada para pelaku komunikasi akan menyebabkan pada aspek lainnya. Adanya sifat saling tergantung dan perubahan dalam komunikasi antar pribadi ini, menyebabkan tidak ada aksi  atau reaksi yang dapat diulang. Tidak ada tindakan yang persis sama dari waktu ke waktu berikutnya. Komunikasi antarpribadi mempunyai ciri tidak dapat di ulang. Dengan demikian suatu interaksi antarpribadi adalah pengalaman-pengalaman baru.
3. Para Pelaku dalam komunikasi Antarpribadi Bertindak dan Bereaksi
Di dalam proses tradisional, setiap orang, melakukan tindakan memberi reaksi tindakan sebagai manusia yang utuh. Orang tidak dapat bertindak dan hanya dengan pikiran dan emosi saja, tetapi melibatkan pikiran, emosi, sikap, gerakan tubuh, pengalaman sebelumnya dan lan-lain.[6]    

            Karakteristik komunikasi sebagai suatu proses dapat dikelompokkan ke dalam berbagai prinsip:
1.      Tidak terelakkan Dalam banayak hal kita sering berkomunikasi tanpa tujuan atau dipikirkan terlebih dahulu. Ketika kita berada di kerumunan orang-orang pasti kita akan memandang atau memberi tanggapan terhadap segala sesuatu yang ada di sekitar kita.
2.      Tidak dapat diubahSesuatu yang sudah kita komunikasikan, tidak bisa diubah. Untuk itu kita pwerlu hati-hati untuk mengatakan sesuatu kepada orang lain. Hindari pernyataan maaf karena kata-kata yang telah kita lontarkan, terlebih-lebih dalam situasi konflik dengan suasana tegang.
3.      Mempunyai dimensi isi dan hubungan Dalam pengertian ini komunikasi menunjuk pada isi dan hubungan di antara para pelakunya.
4.      Melibatkan proses penyesuaian Komunikasi bisa berlangsung apabila saling memberi sistem sinyal yang sama. Sebaliknya, komunikasi menjadi kurang lancar apabila para pelakunya mempunyai sistem sinyal yang berbeda-beda.Hal ini terlihat jelas bila dua orang dengan bahasa berbeda saling berkomunikasi. Mungkin mereka akan mengalami kesulitan untuk bisa saling memahami pesan yang dikomunikasikan. Namun demikian, pada kenyataannya tidak ada dua orang yang meberisistem sinyal yang persis sama. Perbedaan budaya dan sub-budaya, bahkan bila kita menggunakan bahasa umum, seringkali mempunyai sistem komunikasi non verbal yang berbeda. Semakin luas perbedaan sistem-sistem ini, maka komunikasi akan semakin sulit terjadi. Prinsip ini menekankan bahwa melalui komunikasi kita belajar sinyal-sinyal orang lain, komunikasi melibatkan setiap pelaku untuk saling menyesuaikan diri.
5.      Dapat dilihat sebagai hubungan simetris atau hubungan saling melengkapi.Dalam hubungan simetrik, perilaku seseorang bercermin pada perilaku orang lain. Perilaku seseorang akan ditanggapi dengan perilaku yang sama. Hubungan ini merupakan kesamaan untuk mengurangi perbedaan di antara dua orang.[7]

D. Efektifitas Komunikasi Antar Pribadi
Efektivitas Komunikasi Interpersonal dimulai dengan lima kualitas umum yang dipertimbangkan yaitu keterbukaan (openness), empati (empathy), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality).

1. Keterbukaan (Openness)
Kualitas keterbukaan mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama, komunikator interpersonal yang efektif harus terbuka kepada orang yang diajaknya berinteraksi. Ini tidaklah berarti bahwa orang harus dengan segera membukakan semua riwayat hidupnya.memang ini mungkin menarik, tapi biasanya tidak membantu komunikasi. Sebaliknya, harus ada kesediaan untuk membuka diri mengungkapkan informasi yang biasanya disembunyikan, asalkan pengungkapan diri ini patut.
 Aspek keterbukaan yang kedua mengacu kepada kesediaan komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang. Orang yang diam, tidak kritis, dan tidak tanggap pada umumnya merupakan peserta percakapan yang menjemukan. Kita ingin orang bereaksi secara terbuka terhadap apa yang kita ucapkan. Dan kita berhak mengharapkan hal ini. Tidak ada yang lebih buruk daripada ketidak acuhan, bahkan ketidaksependapatan jauh lebih menyenangkan. Kita memperlihatkan keterbukaan dengan cara bereaksi secara spontan terhadap orang lain.
Aspek ketiga menyangkut “kepemilikan” perasaan dan pikiran (Bochner dan Kelly, 1974). Terbuka dalam pengertian ini adalah mengakui bahwa perasaan dan pikiran yang anda lontarkan adalah memang milik anda dan anda bertanggungjawab atasnya.

2.Empati  (empathy)
Henry Backrack (1976) mendefinisikan empati sebagai ”kemampuan seseorang untuk ‘mengetahui’ apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang orang lain itu, melalui kacamata orang lain itu.” Bersimpati, di pihak lain adalah merasakan bagi orang lain atau merasa ikut bersedih. Sedangkan berempati adalah merasakan sesuatu seperti orang yang mengalaminya, berada di kapal yang sama dan merasakan perasaan sama dengan cara yang sama.
Orang yang empatik mampu memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap mereka, serta harapan dan keinginan mereka untuk masa mendatang.
Kita dapat mengkomunikasikan empati baik secara verbal maupun non verbal. Secara nonverbal, kita dapat mengkomunikasikan empati dengan memperlihatkan keterlibatan aktif dengan orang itu melalui ekspresi wajah dan gerak-gerik yang sesuai, konsentrasi terpusat meliputi komtak mata, postur tubuh yang penuh perhatian, dan kedekatan fisik; serta dan sentuhan atau belaian yang sepantasnya.

      3. Sikap mendukung (supportiveness)
Hubungan interpersonal yang efektif adalah hubungan dimana terdapat sikap mendukung (supportiveness). Suatu konsep yang perumusannya dilakukan berdasarkan karya Jack Gibb. Komunikasi yang terbuka dan empatik tidak dapat berlangsung dalam suasana yang tidak mendukung. Kita memperlihatkan sikap mendukung dengan bersikap deskriptif bukan evaluatif,  spontan bukan strategic, dan  provisional bukan sangat yakin.

4. Sikap positif (positiveness)
Kita mengkomunikasikan sikap positif dalam komunikasi interpersonal dengan sedikitnya dua cara:  menyatakan sikap positif dan  secara positif mendorong orang yang menjadi teman kita berinteraksi. Sikap positif mengacu pada sedikitnya dua aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama, komunikasi interpersonal terbina jika seseorang memiliki sikap positif terhadap diri mereka sendiri.
Kedua, perasaan positif untuk situasi komunikasi pada umumnya sangat penting untuk interaksi yang efektif. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berkomunikasi dengan orang yang tidak menikmati interaksi atau tidak bereaksi secara menyenangkan terhadap situasi atau suasana interaksi.

5. Kesetaraan (Equality)
Dalam setiap situasi, barangkali terjadi ketidaksetaraan. Salah seorang mungkin lebih pandai. Lebih kaya, lebih tampan atau cantik, atau lebih atletis daripada yang lain. Tidak pernah ada dua orang yang benar-benar setara dalam segala hal. Terlepas dari ketidaksetaraan ini, komunikasi interpersonal akan lebih efektif bila suasananya setara. Artinya,, harus ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan bahwa masing-masing pihak mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan. Dalam suatu hubungan interpersonal yang ditandai oleh kesetaraan,
ketidak-sependapatan dan konflik lebih dillihat sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang pasti ada daripada sebagai kesempatan untuk menjatuhkan pihak lain.kesetaraan tidak mengharuskan kita menerima dan menyetujui begitu saja semua perilaku verbal dan nonverbal pihak lain. Kesetaraan berarti kita menerima pihak lain, atau menurut istilah Carl rogers, kesetaraan meminta kita untuk memberikan ”penghargaan positif tak bersyarat” kepada orang lain.[8]

BAB III
PENUTUP
  
A. Kesimpulan

Dari penjelasan diatas dapat penulis simpulkan bahwa Peran penting dari komunikasi dalam hubungan pribadi adalah bahwa hubungan pribadi tidak dapat terpisahkan dengan komunikasi karena dapat dinyatakan semakin baik suatu hubungan pribadi, semakin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya, semakin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi akan dirinya sendiri sehingga semakin efektif komunikasi yang berlangsung diantara komunikan.
Efektifitas komunikasi diawali oleh motivasi dari masing-masing individu. Pesan yang disampaikan harus mampu dimengerti, dipersepsi dan mampu menghasilkan reaksi (action) atau komunikasi antarpribadi dikatakan sukses apabila membuahkan hasil. Kualitas pesan yang disampaikan mempengaruhi efektifitas komunikasi baik secara verbal dan nonverbal. Konsep diri dari masing-masing individu yang berinteraksi menjadi point yang sangat penting dalam tercapainya efektifitas komunikasi. Namun perlu ditekankan bahwa tidak selamanya prinsip komunikasi efektif yang berhubungan dengan teori ekonomi bisa diaplikasikan, karena materi bukanlah segalanya, ada faktor-faktor lain yang sangat berpengaruh terhadap efektifitas komunikasi.
 DAFTAR PUSTAKA


Sumber Primer
Ø  Ngalimun. 2017. Ilmu Komunikasi. Yogyakarta : PT Pustaka Baru Press
Ø  Marhaeni fajar. 2009. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktik. Jakarta :graha Ilmu

Sumber Skunder
Ø  http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/29067/Chapter%20II.pdf?sequence=4




[2] Ngalimun, Ilmu Komunikasi, PT Pustaka Baru Press, Hal 63
[3] http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/29067/Chapter%20II.pdf?sequence=4
[6] Marhaeni fajar, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktik, Jakarta, graha Ilmu: 2009. Hal. 81
[7] Marhaeni fajar, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktik, Jakarta, graha Ilmu: 2009. Hal. 84



MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...