Selasa, 18 Desember 2018

Makalah Sejarah Teologi Islam


Makalah Sejarah Teologi Islam

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
            Teori islam (ilmu kalam) adalah ilmu yang mempelajari tentang Tuhan. Ilmu kalam merupakan ilmu yang membahas tentang sifat Allah dan semua yang berkaitan dengan Allah dari yang mengenai dunia sampai masalah sesudah mati yang berdasarkan dengan dokrin-dokrin islam. Ilmu kalam mengandung berbagai argumentasi tentang akidah imani yang diperkuat dengan dalil-dalil-Nya. Ilmu yang berkaitan dengan akidah imani ini sebenarnya didasari denganargumentasi-argumentasi rasional atau bisa dibilang ilmu yang berkaitan dengan akidah islam ini bertolak atas bantuan nalar.
            Selain itu ilmu kalam juga mengandung arti yang berisi tentang hal-hal yang diperdebatkan dalam hubungannya dengan Tuhan, dan juga memperdebatkan masalah lain. Dalam hubungan ini, Abu Zahrah dalam kitabnya Tarikh al-Madzahib al-islamiyah mengatakan “bahwa adanya permasalahan yang diperdebatkan dalam ilmu kalam ini tidak berkaitan dengan hal-hal yang bersifat inti dari ajaran agama”

B. Rumusan Masalah

1.    Apa itu Teologi Islam ?
2.    Bagaimana Sejarah Teologi Islam ?
3.    Apa saja aliran yang ada di Teologi Islam ?

C. Tujuan
1.      Agar mengetahui dan dapat belajar tentang Teologi islam
2.      Agar Mengetahui bagaimana sejarah studi islam
3.      Agar mengetahui apa saja aliran-aliran teologi Islam beserta ajarannya

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Islam
          Islam menurut harfiyah ialah damai, aman, taat, dan bersih. Kata islam terwujud dari 3 huruf, yaitu S (sin), L (lam), M (mim) yang artinya “selamat” dan menurut bahasa islam berasal dari kata ASLAMA yang berasal dari kata SALAMA. islam berasal dari bahasa arab, yaitu al-islam, yang artinya agama yang mempercayai satu tuhan, yakni Allah SWT. Islam mempunyai maksut penyerahan, atau pelimpahan diri sepenuhnya kepada tuhan. Pengikut ajaran agama islam disebut dengan muslim (muslimin untuk laki-laki dan muslimat untuk perempuan) yang artinya seseorang yang taat kepada tuhan. Islam mengajarkan bahwa Allah SWT menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan mengimani dengan benar-benar bahwa Muhammda ialah rasul dan rasul terakhir yang di utus ke bumi oleh allah.

B.     Pengertian Teologi islam
Secara estimologi teologi berasal dari bahasa yunani yaitu Theologia yang terdiri dari kata “Theos” artinya tuhan dan “logos” artinya ilmu. Jadi teologi berarti ilmu yang mempelajari tentang tuhan.
            Teologi juga dikenal sebagai ilmu kalam yaitu ilmu yang membicarakan tentang wujudnya Tuhan (Allah).sifat-sifat yang harus ada pada-Nya, sifat yang tidak ada pada-Nya,dan sifat-sifat yang mungkin ada pada-Nya
Selanjutnya ada pula yang berpendapat,bahwa ilmu kalam ialah ilmu yang membicarakan bagaimana menetapkan kepercayaan keagamaan(Agama Islam) dengan bukti yang meyakinkan.
Ibn Khaldun, sebagaimana dikutip A. hanafi berpendapat, bahwa teologi islam  ialah ilmu yang berisi alasan-alasan mempertahankan kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisi bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan aliran golongan Salaf dan Ahli Sunah.
            Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Teologi islam adalah salah satu cabang ilmu studi islam yang lebih fokus pada pembahasan wujud Allah dengan segala sifat dan perbuatanNya dengan berbagai pendekatan.

C.    Sejarah lahirnya teologi islam
Sebenarnya perselisihan dan perbedaan pemahaman telah muncul semenjak wafatnya Rasullulah SAW. Inti masalah yang diperdebatkan yaitu siapakah yang berhak untuk menggantikan Rasullulah SAW dan memegang gelar khalifah (pemimpin umat muslimin). Kemudian permasalahan serupa muncul kembali setelah wafatnya Usman, peristiwa ini menimbulkan sengketa pendapat dikalangan umat muslimin dan berlarut-larut bahkan menimbulkan perpecahan dan perang sesama umat Islam, bahkan menurut Abdullah bin Salam pembunuhan yang terjadi pada usman telah membuka pintu bencana bagi diri mereka sendiri dan tidak akan tertutup lagi hingga kiamat. Setelah terpilihnya Khalifah Ali bin Abi Thalib dan pada masa kepemimpinannya ada pihak yang tidak mau mengakui dan menolak Ali bin Abi Thalib disini mulai terbentuk aliran-aliran yang memegang teguh pendapat mereka masing-masing.

D.    Macam-macam Aliran Teologi Islam
Dalam Teologi islam terdapat beberapa Aliran yang masing-masing Aliran paham teologi yang berbeda antar satu dan yang lainnya, berikut penjelasannya secara singkat:

1)      Aliran Khawarij
Jika ditinjau dari segi bahasa Khawarij berasal dari kata Kharaja yang berarti “keluar”. Aliran ini lahir setelah peristiwa TAHKIM, yaitu upaya penyelesaian peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah. Peperangan kedua pihak itu terjadi disebabkan karena Mu’awiyah menolak mengakui kekhalifahan atau kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. karena Ali bin Abi Thalib memindahkan ibu kotanya ke al-kufah dan memecat Gubernur yang telah diangkat oleh Khalifah Usman bin Affan termasuk salah seorang dari mereka yang bernama Mu’awiyah merupakan Gubernur dari Damaskus. Akibatnya Mu’awiyah tersebut menghimpun pasukannya untuk menghadapi kekuatan Ali sehingga pecah lah perperangan Siffin pada tahun 37 H/658 M[1]. Adapun Pokok-pokok ajaran Khawarij diberbagai bidang yaitu:
a)      Bidang Teologi
a.    Setiap orang yang berbuat dosa besar adalah kafir yang bearti telah keluar dari islam dan wajib dibunuh karena Khawarij mengartikan iman adalah amal shalih dan apabila mukmin adalah orang yang berbuat amal shalih yang melakukan dosa besar dipandang tidak beriman atau telah khafir wajib di laknat (dibunuh).
b.    Ibidat termasuk rukun iman maka tarikush shalat dinyatakan kafir.
c.    Jika anak orang kafir yang mati pada waktu kecilnya juga masuk neraka.
b)      Bidang Ketatanegaraan
Bidang ketatanegaraan kaum Khawarij lebih bersifat demokratis karena untuk menjadi pemimpin umat (iman atau khalifah) tidak mesti dari ahli dan berbangsa Quraisy. siapa pun berhak untuk menjadi pemimpin asal disepakati bersama. tetapi memiliki syarat khusus, yakni harus orang yang taqwa, tidak berbuat dosa dan kesalahan. Dan kaum Khawarij beranggapan bahwa kaumnya boleh tidak mematuhi aturan-aturan kepala Negara bila ternyata ia seorang yang dhalim[2].
c)      Menurut Asy’ari yang dianggap khafir oleh Quraisy ialah Ali, Usman yang ikut perang Jamal, pelaku yang menerima dan yang membenarkan Tahkim maka wajib meninggalkan dari penguasa yang dhalim[3].

2)      Aliran Syiah
Secara estimologi Syi’ah berarti “para pengikut, penyokong, pendukung atau pembela”
Contohnya: Syiah Ali, yaitu kelompok yang “mengikuti, menyokong, mendukung, membela ali” Syiah Ali juga Menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib sangat utama dari pada sahabat dan lebih berhak untuk menjadi pemimpin kaum muslimin, dan mereka sangat membenci 3 (tiga) Khalifah pertama yaitu Abu Bakar, Umar Bin Khatab, Ustman Bin Affan bahkan sampai ketingkat pengkafiran, Selain itu kaum Syi’ah Ali percaya bahwa para imam Syi’ah adalah sumber pengetahuan terbaik tentang Al-Qur’an dan Sunnah
a)         Abdullah bin Saba’ (Pemrakarsa Syi’ah)
Dalam sejarahnya Syi’ah digagas oleh seorang yahudi yang bernama Abdullah bin Saba’
Yang berpura-pura masuk islam (secara nifak) di zaman Ustman bin Affan. Ditangannhya dia menciptakan Syi’ah yang ekstream yang menjadi puncak bersemaraknya perpecahan dalam kalangan masyarakat islam, bahkan Abdullah bin Saba’ pernah berkata berkata langsung kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib: “Engkaulah Allah”[4] Maka Ali memerintahkan untuk membunuh Abdullah bin Saba’ tetapi segera dicegah oleh Ibn Abbas
            Abdullah bin Saba’ dialah orang yang pertama mengkafirkan Abu Bakar, Umar, dan Ustman dan tidak mengakui keKhalifahan mereka membuat kesesatan pada kaum Syi’ah jadi  Ajaran Syi’ah hanya Ideologi dan doktrin sesat Abdullah bin Saba’ yang di sampaikan dan dipeliharan dalam bentuk riwayat hadis yang dinasabkan kepada keluarga Nabi dengan penuh kebohongan tetapi diterima oleh mereka orang-orang yang jahil.

b)   Doktrin Syi’ah
Dalam Syi’ah ada yang namanya ushuluddin (pokok-pokok agama) dan furu’uddin (masalah penerapan agama). Syi’ah memiliki Lima pokok-pokok agama:
1)      Tauhid, Bahwa Allah swt adalah Maha Esa.
2)      Al-“Adl, Bahwa Allah swt adalah Maha Adil
3)      An-Nubuwwah, Bahwa kepercayaan Syi’ah pada keberadaan para nabi sama seperti muslimin lainnya.
I’tikadnya tentang kenabian adalah:
a.       Jumlah nabi dan rasul Allah ada 124.000
b.      Nabi dan rasul terakhir adalah Nabi Muhammad saw.
c.       Nabi Muhammad saw suci dari segalah aib dan tidak ada cacat sama sekali. Dari seluruh nabi yang ada beliau lah yang yang paling utama.
d.      Ahlul Baitnya, ialahAli, Fatimah, Hasan, Husain dan 9 imam dari keturunan Husain, yaitu manusia-manusia suci.
e.       Al-Qur’an adalah mukjizat kekal Nabi Muhammad saw.
4)      Al-Imamah, bahwa bagi Syi’ah bearti pemimpin urusan agama dan dunia, adalah orang yang dapat menggantikan peran Nabi Muhammad saw sebagai pemelihara syariah isalm, untuk mewujudkan kebaikan dan ketenteraman umat.
5)      Al-Ma’ad, bahwa Syi’ah percaya akan kehidupan akhirat.

c) Sekte dalam Syi’ah
            Syi’ah terpecah menjadi 22 sekte. Dari 22 sekte itu, hanya tiga sekte yang masih ada sampai sekarang, yaitu:
1)      Dua Belas Imam
Disebut juga dengan Imamiah atau Itsna’Asyariah, dinamakan seperti itu karena mereka percaya bahwa yang berhak memimpin ialah imam, dan mereka juga yakin ada dua belas imam. Aliran ini ialah aliran terbesar di dalam Syiah.
a.    Ali bin Abi Thalib (600-661), dikenal dengan Amirul Mukminin.
b.    Hasan bin Ali (625- 669), dikenal dengan Hasan al-Mujtaba.
c.    Husain bin Ali (626-680), dikenal dengan Husain asy-Syahid.
d.   Ali bin Husain (658-713), dikenal dengan Ali Zainal Abidin.
e.    Muhammad bin Ali (678-743), dikenal dengan Muhammad al-Baqir.
f.     Ja’far bin Muhammad (703-765), dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq.
g.    Musa bin Ja’far (745-799), dikenal denggan Musa al-kadzim.
h.    Ali bin Musa (765-818), dikenal dengan Ali ar-Ridha.
i.      Muhammad bin Ali (810-835), dikenal dengan Muhammad al-Jawad atau Muhammad at Taqi
j.      Ali bin Muhammad (827-868), dikenl dengan Ali al-Hadi
k.    Hasan bin Ali (846-874), dikenal dengan Hasan al-Asykari
l.      Muhammad bin Hasan (868-), dikenal dengan Muhammad al-Madi
2)      Ismailiyah
Ismailiyah disebut dengan Tujuh Imam, karena mereka percaya bahwa imam hanya ada tujuh orang dari Ali bin Abi Thalib, dan imam ketujuh adalah Isma’il.
a.    Ali bin Abi Thalib (600-661), dikenal dengan Amirul Mukminin.
b.    Hasan bin Ali (625- 669), dikenal dengan Hasan al-Mujtaba.
c.    Husain bin Ali (626-680), dikenal dengan Husain asy-Syahid.
d.   Ali bin Husain (658-713), dikenal dengan Ali Zainal Abidin.
e.    Muhammad bin Ali (678-743), dikenal dengan Muhammad al-Baqir.
f.     Ja’far bin Muhammad (703-765), dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq.
g.    Ismail bin Ja’far (721-755), ialah anak pertama dari Ja’far ash-shadiq dan merupakan kakak dari Musa al-kadzim.
3)      Zaidiyah
Disebut juga 5 imam karna mereka merupakan pengikut Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Mereka tidak menganggap ke tiga khalifah  tidak sah karna dianggap muderat.
a.    Ali bin Abi Thalib (600-661), dikenal dengan Amirul Mukminin.
b.    Hasan bin Ali (625- 669), dikenal dengan Hasan al-Mujtaba.
c.    Husain bin Ali (626-680), dikenal dengan Husain asy-Syahid.
d.   Ali bin Husain (658-713), dikenal dengan Ali Zainal Abidin.
e.    Zaid bin Ali(658-740), di kenal dengan Zaidbin Ali asy-Syahid, ialah anak Ali bin Husain dan saudara tiri dari Muhammad al-Baqir.

3)       Aliran Murji’ah
Mujri’ah memiliki asal kata arja’a yang mempunyai beberapa pengertian, yakni:
a)      Menunda atau mengembalikan[5], bermaksud kepada mukmin yang melakukan dosa besar dan meninggal dunia sebelum bertaubat yang hukumnya ditunda dan dikembalikan urusannya kepada Allah kelak diakhirat
b)      Memberikan harapan[6], yakni untuk kaum mukmin yang melakukan dosa besar. Tidak dihukum kafir melainkan tetap mukmin dan masih  ada harapan untuk memperoleh pengampunan dari Allah
c)      Menyerahkan[7] dalam menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar persoalan diserahkan pada putusan Tuhan kelak
Jadi Sikap yang menunda keputusan bagi orang yang berdosa kepada Tuhan di akhirat itulah yang menjadi pangkal kelompok tersebut dinamakan kaum Murjiah, yakni kaum yang menunda keputusan.
Aliran yang dipelopori oleh Hasan bin Bilal al-Muani, Abu salat as-Samauan dan Dhirah bin Umar ini mengalami perpecahan dan perbedaaan pendapat secara umum kaum Murji’ah terdiri dari 2 golongan yaitu golongan yang moderat dan golongan yang ekstrem
1)      Aliran Murji’ah Moderat
Aliran ini berpendapat bahwa orang yang berdosa besar itu tidaklah kafir dan tidak kekal didalamnya, tetapi ada hukuman yang diberikan didalam neraka dan mereka akan keluar setelah dosa-dosa mereka habis terbakar, bahkan ada kemumngkinan bahwa Tuhan akan mengampuni dosanya oleh karena itu dia tidak akan masuk neraka sama sekali. Golongan ini berpendapat bahwa iman itu mempunyai arti pengetahuan dan pengakuan tentang Tuhan, Rasul, dan segala apa yang datang dari Tuhan, mereka juga beranggapan bahwa iman itu tidak mempunyai sifat bertambah dengan perbuatan baik, dan berkurang dengan perbuatan dosa.
2)      Aliran Murji’ah Ekstream
Cabang Murji’ah yang satu ini di tokohi oleh al-Jahmiah serta para pengikutnya Jahm Ibn Safwan yang memiliki asumsi bahwa orang islam yang percaya pada Allah Swt kemudian menyatakan kekufurannya secara lisan atau melalui kata-kata tidak membuat mereka menjadi kafir, karena mereka mengartikan iman dan kufur letaknya hanya ada dihati dan bukan bagian lain dari tubuhnya. Jadi orang yang demikian tetap dianggap mukmin  dan tidak dinyatakan sebagai kafir, meski orang tersebut telah menyembah berhala,menjalankan ajaran yahudi atau Kristen dengan menyembah salib, dan menyatakan percaya kepada kitab-kitab lain kemudian meninggal dunia. Orang tersebut masih dianggap mukmin yang sempurna Imannya[8].

Paham Murji’ah yang moderat tersebut selanjutnya memiliki kesamaan pendapat dengan kaum Asy’ariyah. Bahwa iman ialah pengakuan dalam hati tentang keesaan Tuhan dan tentang kebenaran Rasul-rasulnya serta segala apa yang mereka bawa. Mengucapkannya melalui lisan dan mengerjakan rukun-rukunnya melalui perbuatan. Orang yang meninggal dunia dan pernah melakukan dosa besar tanpa sempat bertaubat maka nasibnya terletak pada keputusan Tuhan yang dimana mungkin Tuhan akan mengampuni dosa-dosanya dan ada juga kemungkinan bahwa dia akan disiksaa sesuai dengan dosa-dosa yang dibuatnya semasa hidup dan kemudian barulah dia dimasukan kedalam surga.

4)      Aliran Mu’tazillah
             Adalah salah satu aliran yang memiliki pengaruh besar terhadap sejarah pemikiran umat islam. Dan merupakan golongan yang tertua dalam alam pikiran umat islam. Kaum mereka banyak dari ulama-ulama yang sangat rasionalistis dan kritis, bukan saja terhadap hadits-hadits Nabi dan cara-cara penafsiran al-Qur’an, tetapi juga terhadap pengaruh ajaran filsafat Yunani.
            Aliran mu’tazillah lahir ketika Hasan al-basri ditanyai oleh seseorang ketika sedang memberikan pelajaran di masjid Basrah orang tersebut bertanya mengenai pendapat Hasan al-Basri te ntang orang yang berbuat dosa besar dan meninggal sebelum bertaubat, ketika Hasan al-Basri masih berfikir tentang jawabannya Wahsil bin atha yang merupakan murid dari Hasan sendiri tegak dan mengeluarkan pendapatnya sendiri dengan mengatakan: “Saya  berpendapat, bahwa orang yang berdosa besar itu bukanlah mukmin dan bukan juga kafir, tetapi mengambil posisi dari keduanya” kemudian Wahsil meninggalkan tempat tersebut sambil mengulangi pendapatnya, maka atas peeristiwa tersebut Hasan al-Basri mengatakan bahwa Wahsil menjauhkan diri dari kita (I’tazala ‘anna). Dengan demikian Wahsil bin Atha’ dan teman-temannya disebutt kaum Mu’tazilah.
            Kemudian kaum Muta’zilah merumuskan ajaran pokoknya yang dikenal dengan nama al-Ushul al-Khamsah, atau lima jaran dasar, yaitu:
1.      al-tauhid (Pengesaan)
2.      al-‘adl (Keadilan)
3.      al-wa’d wa al-wa’id (Janji dan ancaman)
4.      al-manzilah bain al-manzilatain (Tempat diantara dua tempat)
5.      dan amar ma’aruf nahi munkar (perintah kebaikan dan melarang kejahatan)[9]
Kelima ajaran diatas ini adalah dasar ajaran utama dan telah disepakati dan harus diakui oleh setiap orang yang mengaku dirinya sebagai orang Mu’tazilah, Akan tetapi dalam merincikannya atau dalam memperdalam lima ajaran ini terdapat beberapa perbedaaan yang membuat ajaran ini pecah lagi menjadi 22 golongan dan 2 diantaranya dianggap keluar dari Islam .
Berdasarkan lima pokok-pokok ajaran tersebut maka ada beberapa pandangan aliran Mu’tazilah yang berhubungan dengan permasalahan dasar pemikiran alirannya antara lain:
1.      Pelaku dosa besar, kaum Muta’zilah berasumsi bahwa mereka yang melakukan dosa besar tidak dapat digolongkan sebagai kaum kafir dan kaum mukmin tapi mereka menduduki posisi diantara keduanya[10]
2.      Dalam aliran Mu’tazilah tidak ada yang namanya seorang Imamah karena  dalam pandangan mereka seorang imam hanyalah penguasa politik bukan penguasa agama. Karena itu untuk mengetahui syarat agam tidak perlu melalui seorang imam melainkan melalui al-Qur’an, al-Sunnah langsung.
3.      Mereka berpendapat bahwa al-Quran itu tidak bersifat Qadim atau kekal dan hanya ciptaan Tuhan dan mereka memandang orang yang mengangap al-Qur’an itu Qadim adalah kafir
4.      Tentang sifat tuhan kaum Muta’zillah membaginya menjadi 2 yaitu
a.       Sifat yang merupakan esensi Tuhan disebut sifat zatiah
b.      Sifat yang merupakan perbuatan-perbuatan Tuhan disebut sifat fi’liah
5.      Berpendapat bahwa Tuhan itu tidak dapat dilihat dengan mata kepala di akherat

5)      Aliran Ahl al-Sunah Wal-Jama’ah (Asy’ariyah dan Maturidiah)
A. Al-Asy’ari
          Al-Asy’ari mempunyai nama lengkap, yaitu Abu Al-Hasan Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismai’il bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari. Al-Asy’ari lahir di Bashra pada tahun 260 H/875 M. Saat berusia lebih dari 40 tahun, dia berhijrah ke kota Baghdad dan wafat disana pada tahun 324 H/935 M.
          Menurut Ibn Asakir, ayah dari Al-Asy’ari adalah seorang yang berpaham Ahlussunnah dan Ahli Hadist. Dia wafat ketika A-Asy’ari masih kecil. Ia mempunyai wasiat sebelum ia meninggal kepada seorang sahabatnya yang bernama Zakaria bin yahya As-Saji agar mendidik Al-Asy’ari. Setelah kejadian itu Ibu nya Al-Asy’ari menikah Abu Ali Al-jubba’i yang mana dia adalah seorang tokoh Mu”tazilah. Kemudian Al-Asy’ari menjadi tokoh Mu’tazilah. Ia sering menggantikan posisi Al-jubba’I dalam perdebatan menentang lawan-lawan Mu’tazilah[11] dan dia juga banyak menulis buku yang membela alirannya. Tapi Al-Asy’ari manganut aliran Mu’tazilah hanya batas umur 40 tahun. Ia meninggalkan faham itu karena ia telah bermimpi sebanyak tiga kali bertemu dengan Rasullulah saw, yaitu pada malam ke-10, ke-20 dan ke-30 bulan Ramadhan. Dalam mimpinya Rasullah berkata dan memperingatinya untuk meninggalkan faham tersebut dan mulai mebela faham yang sudah di riwatkan oleh beliau.
1)        Dokrin-dokrin Teologi Al-Asy’ari
Pemikiran-pemikiran Al-Asy’ari:
a)      Tuhan dan Sifatnya
Al-Asy’ari dihadapkan pada dua pandangan ekstrim, di satu pihak ia  dihadapkan pada kelompok mujassimah (antropomarfis) dan kelompok musyabbihah yang berpendapat bahwa Allah mempunyai sifat yang ada di al-Qur’an dan menurut arti harfiahnya Sunah dan sifat-sifat itu harus dipahami. Di satu pihak yang lain, ia dihadapkan dengan kelompok Mu’tazilah yang beranggapan bahwa sifat-sifat Allah adalah esensi-Nya. Secara harfiah tangan, kaki, telingga Allah atau Arsy atau kursi tidak boleh di artikan, melainkan harus dengan secara elogores.
Setalah menghadapi dua pandangan tersebuat Al-Asy’ari berpendapat bahwa Allah memang memiliki sifat-sifat itu, dan tidak bisa diartikan se   cara harifah tetapi secara simbolis (berbeda dengan kelompok sifatiah) kemudian, Al-Asy’ari juga berpendapat bahwa Allah mempunyai sifat-sifat yang unik dan tidak bisa dibandingan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip.
b)      Kebebasan dalam berkehendak (free-will)
Dari dua pendapat yang ekstrim, yaitu Jabariyah dan Mu’tazilah. Al-Asy’ari berpendapat bahwa khaliq dan kasb itu berbeda. Yang mana Allah yang menciptakan (khaliq) perbuatan manusia, sedangakan yang mengupayahkan (kasb) dalah mereka sendiri. Hanya Allah lah yang mempu menciptakan segala sesuatu termasuk keinginan manusia[12].
c)      Akal dan Wahyu dan Kriteria baik dan Buruk
Meskipun Al-Asy’ari dan Mu’tazilah mengakui pentingnya akal dan wahyu, tetapi Al-Asy’ari ebih mengutamakan wahyu sedangkan Mu’tazilah sebaliknya ia lebih mengutamakan akal[13].
Al-Asy’ari beranggapan bahwa baik buruknya harus didasari dengan wahyu, sedangkan Mu’tazilah beranggapan bahwa baik buruknya harus didasari oleh akal.
d)     Qadimnya dan Al-Qur’an
Dalam qadinya Al-Qur’an, Al-Asy’ari dihadapkan pada pandangan yang ekstrim. Untuk mendamaikan kedua pandangan tersebut, Al-Asy’ari mengatakan bahwa Al-Qur’an terdiri dari huruf dan bunyi, dan tidak melekat pada esensi Allah dan karenanya tidak qadim[14].
e)      Melihat Allah
Al-Asy’ari meyakini di akhirat Allah bisa dilihat tetapi tidak bisa digambarkan. Saat ru’yat terjadi itu bisa saja disebabkan oleh Allah yang menginginkannya terjadi atau seperti dia memberikan manusia kemampuasn agar dapat melihatnya.
f)       Keadilan
Al-Asy’ari tidak sependat dengan Mu’tazilah yang mengharuskan Allah bersifat Adil sehingga dia harus menyiksa manusia yang berbuat doa dan yang berbuat baik agar mendapatakn pahala. Al-Asy’ari beranggapkan bahwa Allah adalah penguasa mutlak .
B. Al-Maturidi
          Abu Manshur Al-Maturidi dilahirkan di Muturid, sebuah kota di daerah Samarkand, wilayah Trmsoxiana di Asia Tengah, daerah yang sekarang disebut Uzbekistan. Sekitaran pertengahan abad ke 3 Hijriah. Ia wafat pada tahun 333 H/944 M[15].
Al-Maturidi lebih mendalami pendidikannya di bidang teologi dan fiqih. Ini disebabkan karena ia ingin lebih memahami tentang faham-faham teologi yang sudah banyak berkembang di kalangan islam, yang ia pikir tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada dan menurut akal dan syara.
1.        Dokrin-dokrin Teologi Al-maturidi
a)      Akal dan Wahyu
Al-Maturidi lebih mendasarkan pada Al-Qur’an dan Akal.
Menurutnya dengan menggunakan akal dapat mengetahui tuhan dan kewajiban tuhan.
Dalam masalah baik dan buruknya, Al-Maturidi berpendapatan bahwa baik dan buruknya sesuatu terletak pada sesuatu itu sendiri, sedangkan larangan dan syari’ah hanya mengikuti ketentuan akal mengenai baik dan buruknya sesuatu ia mengakui bahwa akal tidak selalu bisa menetukan baik buruknya sesuatu dan disini lah wahyu dibutuhkan sebagai pembimbing[16].
Kaitan sesuatu dengan akal
1.  akal hanya bisa mengetahui kebaikannya sendiri
2.  akal hanya bisa mengetahui keburukannya sendiri
3. akal tidak bisa menentukan kebaikan dan keburukannya sendiri, kecuali dengan adanya arahan dari wahyu.
b)      Perbuatan Manusia
Al-Maturidi beranggapan bahwa segalah sesuatu adalah ciptan Allah, termasuk perbuatan manusia itu sendiri. Manusia harus mempunyai kemampuan perbuatan supaya kewajiban-kewajibannya bisa dilakukan.
Dalam melakukan keburukan perbuatan baik dan buruknya manusia, Allah yang mengendalikannya, tetapi ia dapat memilih yang mana yang di bolehkan dan tidak dibolehkan.
c)      Kekuasaan dan Kehendak Mutlak Tuhan
Setelah dijelaskan di atas segalah perbuatan manusia dalam hal baik atau buruknya sesuatu adaalah ciptaan Tuhan, tapi bukan berarti Tuhan bisa berbuat dan melakukan dengan sewenang-wenang, karena dalam qudrat tuhan tidak sewenang-wenang tetapi sesuai dengan hikmah dan keadilan yang sudah ditetapkan.
d)     Sifat Tuhan
Ada persamaan pendapat antara Al-Maturidi dan Al-Asy’ari, yakni tuhan mempunyai pendapat bahwa tuhan mempunyai sifat-sifat yang sama. Tetapi dengan begitu tetap saja pengertiaan Al-Maturidi berbeda dengan Al-Asy’ari. Menurut Al-Asy’ari sifat tuhan sebagai sesuatu yang bukan dzat, akan tetapi melekat pada dzat itu sendiri, sedangkan menurut Al-Maturidi sifat Tuhan  tidak bisa dikatakan dengan esensi-Nya dan bukan pula dari esensi-Nya.
Perbedannya terletak pada Al-Maturidi yang mengakui adanya sifat-sifat tuhan dan Al-Asy’ari yang menoolak adanya sifat-sifat Tuhan.
e)      Melihat Tuhan
Al-Maturidi mengatakan bahwa manusia bisa melihat Tuhan (QS. Al-Qiyamah:22-23)
Manusia bisa melihat Tuhan didunia akhirat karena Tuhan mempunyai wujud meskipun ia immaterial, tetapi saat melihat Tuhan di akhirat tidak akan sama seperti bentuknya karena dunia dan akhirat berbeda.
f)       Kalam Tuhan
Menurut Mu’tazilah kalam Tuhan adalah sifatnya dan bukan dari dzatnya.
Pendapat Al-Asy’ari juga mempunyai kesamaan dengan Al-maturidi, karena Al-Asy’ari menyatakan dengan sabda adalah makna abstrak tidak lain dari kalam nafsi pendapat Al-Maturidi dan memang itu sudah jadi sifat tuhan yang kekal.
g)      Perbuatan Manusia
Segalah perbuatan Tuhan yang bersifat mencita atau kewajiban-kewajiban yang diberikan kepada manusia tidak pernah lepas dari hikamah dan keadilan yang dikehendakinya.
Kewajiban-kewajiban:
1.    Tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada manusia diluar kemampuannya karena itu tidak termasuk dalam keadilan dan manusia juga diberi kebebasan oleh tuhan dalam kehidupannya
2.    hukuman yang sudah ada terjadi karena itu adalah tuntunan keadilan.
h)      Pengutusan Rasul
Manusia tidak bisa terus-menerus menggunakan akal agar mengetahui kewajiban Tuhan. Seperti untuk mengetahu baik buruknya sesuatu, jadi akal harus mendapat ajaran wahyu agar mendapat kewajiban-kewajiban tersebut.
Pandangan ini tidak jauh berbeda dengan pandangan Mu’tazilah yang mana pengutusan Rasul bertujuan agar manusia dapta berbuat baik dalam kehidupannya.
i)        Pelaku Dosa besar (Murtakib Al-kabir)
Menurut Al-Maturidi berpendapat bahwa orang-orang yang melakukan dosa besar tidak akan kekal di dalam neraka, karena Tuhan akan membalas pelaku dosa itu sesuai dengan perbuatannya dan baginya manusia yang kekal di neraka hanya lah oranng—orang yang syrik (menduakan tuhan) selain itu semua pelaku dosa besar ataupun kecil akan mendapatkan balasan sesuai dengan perbuatannya. Jadi, amal tidak akan mengurangi ataupun menambah esensi imam, tetapi hanya menambah atau mengurangi sifatnya saja.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
            Teologi Islam adalah ilmu yang membicarakan tentang wujudnya Tuhan (Allah), sifat-sifat yang mesti ada pada-Nya, sifat-sifat yang tidak boleh ada pada-Nya, dan sifat-sifat yang mungkin ada pada-Nya, serta membicarakan tentang Rasul-rasul-Nya, dan untuk menetapkan kerasulannya dan mengetahui sifat-sifat yang mesti ada padanya, sifat-sifat yang boleh ada padanya dan sifat-sifat yang mungkin ada padanya. Ada pula yang berpendapat bahwa ilmu kalam  adalah membicarakan tentang bagaimana meyakini keagamaan (Agama Isalm) dengan bukti-bukti yang menyakinkan.
Namun, dalam perkembangan teknologi ilmu kalam tidak lagi dibatasi oleh firman-firman Allah yang mempunyai pengertian yang menimbulkan beda faham bagi para ahli.
             Islam yang di dasari oleh pandangan yang utuh, integrated, dan holistis mengenai berbagai aspeknya sehingga membentuk satu kesatuan pandangan yang antara satu dan lainnya saling berkaitan dan saling menjelaskan adalah islam yang komprehensif. Dan bisa di ibaratkan sebagai sebuah bangunan yang kukuh yang berdiri dari fondasi, dinding, lantai, atap, jendela, pintu, kamar, taman, dan lainnya yang di antaranya saling berkaitan.
Dalam Al-Qur’an islam komprehensif adalah ajaran yang sesuai antara satu ayat dengan ayat lainnya saling menjelaskan. Ajaran islam yang komprehensif ialah ajaran yang memperlihatkan tentang konradiksi antara satu pihak aspek dengan pihak yang lainnya. Ajaran ini juga memiliki visi dan misi serta tujuan  yang sama dan saling berkaitan antara yang satu dengan yan lainnya

B. Saran
            Penulis sangat menyadari bahwa makalahnya sangat lah jauh dari kata sempurna, maka dari itu mereka sangat berharap kalau pembaca dan pendengar bisa memberikan kritik dan sarannya.




DAFTAR PUSTAKA

A. Hanafi, Op. Cit, hlm. 65.
Abd Al-Qahir bin Thahir bin Muhammad al- Baqdadi
Abu al-Hasan bin ismail al-Asyari, al-Ibadana al-Ushul ad Diyanah, Hyderabat, Deccan, 1903
Abu al-Hasan Ibn Isma’il, Al-Asy’ari, Kitab al-Ibanah ‘an Ushul al-Dinayah
Abu Zahrah, Muhammad,. Tarikh al-madzab al-islamiyah al-juz al-Awwal fi al-siyasah wa al-A’qaid. Beriut: Dar al-Fikr, 1987)
Ahmad Amin, Op.Cit,
Bashori, Mulyono Studi Ilmu Tauhid/Kalam(Malang: UIN  Maliki Press),
Bashori, Mulyono. 2010. Studi Ilmu Tauhid/Kalam. Malang: UIN-Maliki Press
Hanan Nasution, Op. Cit, M. Tib Thakir abd. Mu’in, Op. cit,
Muhammad bin Abdul Al-karim 1990.
Nata, Abuddin. 2011. Studi Islam Komprehensif. Jakarta: Kencana Prenada Media
Qadir, op, cit,
Rijal al-Kusyi. Hlm. 106-108 yang merupakan kitab tertua dan menjadi pegangan umat Syi’ah
Rozak, Abdul, Rosihon Anwar. 2001. Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka Setia.





[1] Bashori, Mulyono Studi Ilmu Tauhid/Kalam(Malang: UIN  Maliki Press), hlm. 101.
[2] Ibid, hlm, 17,18,19
[3] Ahmad Amin, Op.Cit, hlm. 330.
[4] Rijal al-Kusyi. Hlm. 106-108 yang merupakan kitab tertua dan menjadi pegangan umat Syi’ah
[5] M. Tib Thakir abd. Mu’in, Op. cit, hlm. 180.
[6] Hanan Nasution, Op. Cit, hlm.23.
[7] Ibid, hlm. 23.
[8] Abu al-Hasan Ibn Isma’il, Al-Asy’ari, Kitab al-Ibanah ‘an Ushul al-Dinayah, hlm. 198.
[9] A. Hanafi, Teologi Islam (Ilmu Kalam)(Jakarta: Bulan Bintang,Cetakan II,1979), hlm. 47.
[10] A. Hanafi, Op. Cit, hlm. 65.
[11] Lihat  Zuhr Islam, hlm. 65.
[12] Abu al-Hasan bin ismail al-Asyari, al-Ibadana al-Ushul ad Diyanah, Hyderabat, Deccan, 1903, hlm. 9
[13] Qadir, op, cit, hlm. 70.
[14] Muhammad bin Abdul Al-karim 1990. Hlm. 115
[15] Abd Al-Qahir bin Thahir bin Muhammad al- Baqdadi, hlm. 351
[16] Abu Zahrah, Op, cit hlm. 178-109.

MAKALAH PERKEMBANGAN PEMIKIRAN DAN PERADABAN ISLAM


MAKALAH PMDI
PERKEMBANGAN PEMIKIRAN DAN PERADABAN ISLAM

PADA ABAD MODERN


BAB 1
Latar Belakang
Pendahuluan

Sebelum membicarakan soal perkembangan pemikiran dan peradaban Islam, ada baiknya penulis memberikan definisi terlebih dahulu tentang variabel-variabel judul di atas. Kata “Perkembangan” berasal dari kata kembang, yang berarti mekar, terbuka atau terbentang menjadi luas, banyak dan sebagainya.[1] Secara harfiyah, peradaban Islam berasal dari bahasa Arab yaitu: al-Hadarah al-Islamiyah,[2] yang berarti kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin.[3] Sementara itu, kata “pemikiran” berasal dari kata pikir “akal budi”, ingatan.
Pemikiran berarti cara atau hasil berpikir.[4] Pengertian yang dapat diungkapkan dari pemikiran Islam, ialah kegiatan manusia dalam mencari hubungan sebab akibat ataupun asal mula dari sesuatu materi ataupun esensi serta renungan terhadap sesuatu wujud, baik materinya maupun esensinya, sehingga dapat diungkapkan hubungan sebab dan akibat dari sesuatu materi ataupun esensi, asal mula  kejadiannya serta substansi dari wujud atau eksistensi sesuatu yang menjadi objek pemikiran.[5] Abad berarti masa seratus tahun, modern berarti yang terbaru.
Abad modern dimulai setelah terlaksananya perjanjian Carltouiz (carlouiz) melumpuhkan Usmani menjadi negara kecil. Secara umun, istilah modern berasal dari kata moderna yang artinya: “sekarang” (Jerman: Jetzeit). Dengan pengertian itu, ditahui bahwa yang disebut modern, manakala semangat kekinian menjadi kesadaran seseorang. Jadi, kalau ada orang atau masyarakat yang hidup di era sekarang tetapi kesadarannya berada di abad pertengahan, maka pertanda mereka belum modern, dan bisa dikatakan manusia primitif.
Abad modern ini merupakan spirit zaman baru (zeitgeist) yang dimulai pada abad ke-19. Sebagai bentuk peradaban dan semangat zaman, modernitas dicirikan oleh tiga hal yaitu: indifidualistik, rasionalisme dan kemajuan. Dalam bahasa Indonesia, untuk merujuk suatu kemajuan selalu dipakai kata modern, modernisasi, atau modernisme. Masyarakat Barat menggunakan istilah modernisme tersebut untuk suatu yang mengandung arti pikiran, aliran atau paradigma baru. Istilah ini disesuaikan untuk suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan, baik oleh ilmu pengetahuan maupun teknologi. Dari penjelasan definisi di atas dapat diartikan bahwa perkembangan pemikiran dan peradaban berarti terbukanya pikiran manusia dan kebudayaannya pada era saat ini.
Untuk itu, pada makalah ini penulis akan membahas tentang: Bagaimana perkembangan pemikiran dan peradaban Islam pada abad modern ini? Serta bidang-bidang apa saja yang berkembang pada abad ini?
·         BAB 2
ISI

A.    Perkembangan Pemikiran Islam pada Abad Modern
Pemikiran modern dimulai sekitar paroh kedua abad ke-17M hingga sekarang, dengan
munculnya tokoh-tokoh pembaharuan di kalangan Timur Tengah (Saudi Arabia dan Mesir). Istilah modern di atas hanya sekedar untuk mempermudah melihat ciri perkembangan pemikiran yang ada, sebagaimana digunakan oleh Prof. Dr. Harun Nasution. Munculnya pemikiran modern, tidak lepas dari tiga latar belakang penyebab.
Pertama, munculnya kesadaran pembaruan secara intern sebagai akibat dari dampak pemikiran-pemikiran Ibnu Taimiyah. Kedua, lahirnya peradaban baru dari Barat yang disebut masa Renaissance (masa keemasan Barat) yang memunculkan ide sentral modernisasi serta pemikiran rasional-ilmiah sehingga melahirkan sains dan teknologi yang dimulai sekitar abad ke-16. Ketiga, kondisi negara-negara Arab, seperti Mesir dan Turki yang sangat memprihatinkan di bawah imprialisme negara-negara Eropa khususnya Prancis. [6]Kesadaran untuk mencapai kemerdekaan, kesadaran akan bangkitnya Eropa dan Barat, serta kesadaran akan eksistensi umat Islam yang selama berabad-abad mengalami kejumudan, adalah penyebab kuat lahirnya gerakan pembaharuan dalam Islam.
Keunggulan-keunggulan Barat dalam bidang industri, teknologi, tatanan politik, dan militer tidak hanya menghancurkan pemerintahan negara-negara muslim yang ada pada waktu itu, tetapi lebih jauh dari itu, mereka bahkan menjajah negara-negara muslim yang ditaklukkannya. Sehingga, pada penghujung abad XIX hampir tidak ada satu negeri muslim pun yang tidak tersentuh penetrasi kolonial Barat. Sebagaimana diketahui bahwa pada tahun 1798 M, Napoleon Bonaparte berhasil menduduki Mesir. Walaupun pendudukan Perancis itu berakhir dalam tiga tahun, mereka dikalahkan oleh kekuatan Angkatan Laut Inggris, bukan oleh perlawanan masyarakat muslim.
Hal ini menunjukkan ketidakberdayaan Mesir, sebagai salah satu pusat Islam untuk menghadapi kekuatan Barat.[7] Sejak Napoleon menduduki Mesir, umat Islam mulai sadar akan kelemahan dan kemundurannya, sementara mereka juga merasa terkejut dengan kemajuan yang telah dicapai oleh Barat.
Gelombang ekspansi Barat ke negara-negara muslim yang tidak dapat dibendung itu memaksa para pemuka Islam untuk mulai berpikir, guna merebut kembali kemerdekaan yang dirampas. Salah seorang tokoh yang pikirannya banyak mengilhami gerakan-gerakan kemerdekaan adalah Sayyed Jamaluddin Al Afghani. Ia dilahirkan pada tahun 1839 di Afghanistan dan meninggal di Istambul 1897.[8] Pemikiran dan pergerakan yang dipelopori Afghani ini disebut Pan-Islamisme, yang dalam pengertian luas berarti solidaritas antara seluruh umat muslim di dunia internasional. Tema perjuangan yang terus menerus dikobarkan oleh Afghani dalam kesempatan apa saja adalah semangat melawan kolonialisme dengan berpegang kepada tema-tema ajaran Islam sebagai stimulasinya.
 Murtadha Muthahhari menjelaskan bahwa diskursus tema-tema itu antara lain diseputar: Perjuangan melawan absolutisme para penguasa; Melengkapi sains dan teknologi modern; Kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya; Iman dan keyakinan aqidah; Perjuangan melawan kolonial asing; Persatuan Islam; Menginfuskan semangat perjuangan dan perlawanan kedalam tubuh masyarakat Islam yang sudah separo mati; dan Perjuangan melawan ketakutan terhadap Barat.[9] Selain Afghani, terdapat dua orang ahli pikir Arab lainnya yang telah mempengaruhi hampir semua pemikiran politik Islam pada masa berikutnya. Dua pemikir itu adalah Muhammad Abduh (1849-1905) dan Rasyid Ridha (1865-1935).
Mereka sangat dipengaruhi oleh gagasan-gagasan guru mereka yakni Afghani, dan berkat mereka berdualah pengaruh Afghani diteruskan untuk mempengaruhi perkembangan nasionalisme Mesir. Seperti halnya Afghani dan Abduh, Ridha percaya bahwa Islam bersifat politis, sosial dan spiritual. Untuk membangkitkan sifat-sifat tersebut, umat Islam mesti kembali kepada Islam yang sebenarnya sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi dan para sahabatnya atau para salafiah. Untuk menyebarkan gagasan-gagasannya ini, Ridha menuangkannya dalam bingkai tulisan-tulisan yang terakumulasi dalam majalah Al Manar yang dipimpinnya.
Di daratan Eropa, Syakib Arsalan selalu memotori gerakan-gerakan guna kemerdekaan Arab. Misi Arsalan adalah menginternasionalkan berbagai masalah pokok yang dihadapi negara-negara muslim Arab yang berasal dari kekuasaan negara-negara Barat; dan menggalang pendapat seluruh orang Islam Arab sehingga membentuk berdasarkan ikatan ke-Islaman, mereka dapat memperoleh kemerdekaan dan memperbaiki tata kehidupan sosial yang lebih baik. [10]
Sementara pimpinan masyarakat Druze dan pembesar Usmaniyah yang mengasingkan diri ke Eropa setelah Istambul diduduki Inggris ini menyebarluaskan propagandanya melalui berbagai penerbitan berkala, diantarannya melalui jurnal La Nation Arabe yang dicetak di Annemasse Prancis.[11] Meskipun pada awalnya Arsalan mengambil alih konsep-konsep Pan Islamismenya Afghani karena merasakan perlunya pembaharuan dalam masyarakat. Namun dalam praktiknya, ia lebih menitikberatkan perjuangannya pada Pan-Arabisme. [12] Gerakan perjuangan yang dilakukan oleh para tokoh tersebut, walaupun belum mencapai hasil yang diinginkan yakni kemerdekaan, namun gema pemikiran Islam mereka sangat mewarnai era generasi selanjutnya, untuk membebaskan negerinya dari penetrasi kolonial Barat.

B.     Bidang Perkembangannya
1.      Bidang Akidah
Salah satu pelopornya dalam dunia Islam adalah aliran yang bernama Wahabiyah yang sangat berpengaruh di abad ke-19. Tokohnya adalah Muhammad Abdul Wahab (1703- 1787M) yang berasal dari Nejed, Saudi Arabia.
Pemikiran yang dikemukakannya adalah upaya memperbaikai kedudukan umat Islam dan merupakan reaksi terhadap paham tauhid  yang terdapat di kalangan umat Islam saat itu. Paham tauhid mereka telah tercampur aduk oleh ajaran-ajaran tarekat yang sejak abad ke 13 tersebar meluas di dunia Islam. Sebagai contohnya, Muhammad Abdul Wahab melihat makam-makam Syekh tarekat yang tersebar di berbagai tempat banyak dikunjungi oleh umat Islam dan mereka meminta pertolongan dari syekh atau wali untuk menyelesaikan masalah kehidupan mereka sehari-hari.
Ada yang minta diberi anak, jodoh, disembuhkan dari penyakit dan ada pula yang minta diberi kekayaan. Perbuatan ini menurut paham Wahabiyah termasuk Syirik, karena permohonan dan doa tidak lagi dipanjatkan kepada Allah SWT. Pemikiran-pemikiran Muhammad Abdul Wahab yang mempunyai pengaruh pada perkembangan pemikiran di abad ke 19 adalah sebagai berikut:
1. hanya al-Quran dan Hadis yang merupakan sumber asli ajaran Islam
2. taklid kepada ulama tidak dibenarkan
3. pintu ijtihad senantiasa terbuka.
Muhammad Abdul Wahab merupakan pemimpin yang aktif dan berusaha mewujudkan pemikirannya. Ia mendapat dukungan dari Muhammad Ibn Su’ud dan putranya Abdul Aziz di Nejed. Paham-pahamnya tersebar luas dan pengikutnya bertambah banyak, sehingga di tahun 1773M mereka dapat menjadi mayoritas di Riyadh. Pada tahun 1787, beliau wafat tetapi ajaran tetap dan mengambil bentuk aliran yang dikenal dengan nama Wahabiyah.

2.      Bidang Ilmu Pengetahuan
Islam merupakan agama yang sangat mendukung kemajuan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, Islam menghendaki manusia menjalankan kehidupan yang didasarkan pada rasioanlitas atau akal dan iman. Ayat-ayat Al Qur’an banyak memberi tempat yang lebih tinggi kepada orang yang memiliki ilmu pengetahuan, Islam pun menganjurkan agar manusia jangan pernah merasa puas dengan ilmu yang telah dimilikinya, karena berapapun ilmu dan pengetahuan yang dimiliki itu, masih belum cukup untuk dapat menjawab pertanyaan atau masalah yang ada di dunia ini.
Firman Allah SWT( lihat Al_qur’an ) Artinya : “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepada tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habishabisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana.” (QS. Luqman : 27)
Ajaran Islam tersebut mendapat respon yang positif dari para pemikir Islam sejak zaman klasik (650-1250 M), zaman pertengahan (1250-1800 M) hingga periode modern (1800 M dan seterusnya). Masa pembaruan merupakan zaman kebangkitan umat Islam.
Jatuhnya mesir ke tangan Barat menyadarkan umat Islam bahwa di Barat, telah menimbulkan peradaban baru yang lebih tinggi dan merupakan ancaman bagi Islam. Rajaraja dan pemuka-pemuka Islam mulai memikirkan cara untuk meningkatkan mutu dan kekuatan umat Islam. Dalam bidang ilmu pengetahuan, di Turki Usmani mengalami kemajuan dengan usaha-usaha dari Sultan Muhammad II yang melakukan terhadap umat Islam di negaranya untuk dapat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dengan upaya melakukan pembaharuan di bidang pendidikan dan pengajaran, lembaga-lembaga Islam diberikan muatan pelajaran umum dan upaya mendirikan “Mektebi Ma’arif” guna menghasilkan tenaga ahli dalam bidang administrasi dan “Mektebi Ulumil Edebiyet” guna menghasilkan tenaga penterjemah yang handal serta upaya mendirikan perguruan tinggi dengan berbagai jurusan seperti kedokteran, teknologi dan militer.
            Beberapa tokoh terkenal dalam dunia ilmu pengetahuan antara lain sebagai berikut:
1.      Jamaluddin al-Afghani (Iran 1839 – Turki 1897)
Salah satu sumbangan terpenting di dunia Islam yang diberikan oleh Jamaluddin berupa gagasan yang mengilhami kaum muslimin di Turki, Mesir dan India. Ia mengagungkan pencapaian ilmu pengetahuan barat, meskipun ia sangat anti imperialisme Eropa. Islam menurutnya adalah sebuah keyakinan transendensi Tuhan dan akal. Ijtihad adalah hal yang diperlukan, dan tugas manusia adalah melakukan prinsip-prinsip al-Quran dalam cara yang baru untuk mengatasi masalah-masalah di zaman mereka.
Jika masyarakat tidak melakukan hal itu akan terjadi kemandegan atau meniru-meniru saja. Peniruan merugikan masyarakat, menurutnya: jika kaum muslimin mengikuti orang Eropa, mereka tidak akan menjadi orang Eropa, karena tingkah laku dan prinsip-prinsip tertentu pada umumnya dapat dipahami oleh orang Eropa itu sendiri.[13]
2.      Muhammad Abduh (Mesir 1849 – 1905) dan Muhammad Rasyid Rida (Suriah 1865 –1935)
Guru dan murid tersebut sempat mengunjungi beberapa negara Eropa dan amat terkesan dengan pengalaman mereka disana. Rasyd Rida mendapat pendidikan Islam tradisional dan menguasai bahasa asing (Perancis dan Turki) yang menjadi jalan masuknya untuk mempelajari ilmu pengetahuan secara umum.
Oleh karena itu, tidak sulit bagi Rida untuk bergabung dengan gerakan pembaruan Al-Afgani dan Muhammad Abduh di antaranya melalui penerbitan jurnal Al-Urwah Al-Wustha yang diterbitkan di Paris dan disebarkan di Mesir. Muhammad Abduh sebagaimana Muhammad Abdul Wahab dan Jamaludin Al Afgani, berpendapat bahwa masuknya bermacam bid’ah ke dalam ajaran Islam membuat umat Islam lupa akan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Bid’ah itulah yang menjauhkan masyarakat Islam dari jalan yang sebenarnya.
3.      Toha Husein (Mesir Selatan 1889-1973)
Beliau adalah seorang sejarawan dan filusuf yang amat mendukung gagasan Muhammad Ali Pasya. Ia merupakan pendukung modernisme yang gigih. Pengadobsian terhadap ilmu pengetahuan modern tidak hanya penting dari sudut nilai praktisnya saja, tetapi juga sebagai perwujudan suatu kebudayaan yang amat tinggi. Pandangannya dianggap sekularis karena mengunggulkan ilmu pengetahuan.
4.      Sayid Qutub (Mesir 1906-1966) dan Yusuf
Al- Qardawi al- Qardawi menekankan perbedaan modernisasi dan pembaratan. Jika modernisasi yang dimaksud bukan berarti upaya pembaratan dan memiliki batasan pada pemanfaatan ilmu pengetahuan modern serta penerapan teknologinya, Islam tidak menolaknya bahkan mendukungnya. Pandangan al- Qardawi ini cukup mewakili pandangan mayoritas kaum muslimin.
Secara umum, dunia Islam relatif terbuka untuk menerima ilmu pengetahuan dan teknologi sejauh memperhitungkan manfaat praktisnya. Pandangan ini kelak terbukti dan tetap bertahan hingga kini di kalangan muslim. Akan tetapi, di kalangan pemikir yang mempelajri sejarah dan filsafat ilmu pengetahuan, gagasan seperti tidak cukup memuaskan mereka.
5.      Sir Sayid Ahmad Khan (India 1817-1898)
Beliau adalah pemikir yang menyerukan saintifikasi masyarakat muslim. Seperti halnya al- Afgani, ia menyerukan kaum muslim untuk meraih ilmu pengetahuan modern. Akan tetapi berbeda dengan al- Afgani, ia melihat adanya kekuatan yang membebaskan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Kekuatan pembebasan itu itu antara lain meliputi penjelasan mengenal suatu peristiwa dengan sebab-sebabnya yang bersifat fisik materiil.
Di Barat, nilai-nilai ini telah membebaskan orang dari tahayyul dan cengkraman kekuasaan gereja. Kini, dengan semanat yang sama, Ahmad Khan merasa wajib membebaskan kaum muslim dengan meleyapkan unsur yang tidak ilmiyah dari pemahamnan terhadap al-quran. Ia amat serius dengan upayanya ini antara lain dengan menciptakan sendiri metode baru penafsiran al-Quran. Hasilnya adalah teologi yang memiliki karakter atau sifat ilmiyah dalam tafsir al-quran.
6.      Sir Muhammad Iqbal (Punjab 1873-1938)
Generasi awal abad ke-20 yang merupakan salah seorang muslim pertama di anak benua India yang sempat mendalami pemikiran barat modern dan mempunyai latar belakang pendidikan yang bercorak tradisional Islam. Kedua hal ini muncul dari karya utamanya di tahun 1930 yang berjudul “The Reconstruction of Religion Thought in Islam (Pembangunan kembali Pemikiran Keagamaan dalam Islam).
Melalui penggunaan istilah reconstruction, ia mengungkapkan kembali pemikiran keagamaan Islam dalam bahasa modern untuk dikonsumsi generasi baru muslim yang telah berkenalan dengam perkembangan mutakhir ilmu pengetahuan dan filsafat barat abad ke-20.

3.      Bidang Politik
Ide politik yang pertama muncul yaitu Pan Islamisme atau persatuan Islam sedunia yang digencarkan oleh gerakan Wahhabiyah dan Sanusiyah, setelah itu diteruskan dengan lebih gencar oleh tokoh pemikir Islam yang bernama Jamaluddin Al Afghani (1839-1897). Menurut Jamaluddin, untuk pertahanan Islam, harus meninggalkan perselisihanperselisihan dan berjuang dibawah panji bersama dan juga berusaha membangkitkan semangat lokal dan nasional negeri-negeri islam. Dengan ide yang demikian, ia dikenal atau mendapat julukan bapak nasionalisme dalam Islam.
Gagasan atau ide Pan Islamisme yang digelorakan oleh jamaluddin disambut oleh Raja Turki Usmani yang bernama Abd. Hamid II (1876-1909) dan juga mendapat sambutan yang baik di negeri-negeri Islam. Akan tetapi setelah Turki Usmani kalah dalam perang dunia pertama dan kekhalifahan dihapuskan oleh Musthofa Kemal seorang tokoh yang mendukung gagasan nasionalisme, rasa kesetiaan kepada Negara kebangsaan.
Di Wilayah Mesir, Syiria, Libanon, Palestina, Hijaz, irak, Afrika Utara, Bahrein dan Kuwait, nasionalismenya bangkit dan nasionalisme tersebut terbentuk atas dasar kesamaan  bahasa. Dalam penyatuan Negara arab dibentuk suatu liga yang bernama Liga Arab yang didirikan pada tanggal 12 Maret 1945. Di India dibentuk gerakan nasionallisme yang diwakili oleh Partai Kongres Nasional India dan juga dibentuk komunalisme yang digagas oleh Komunalisme Islam yang disuarakan oleh Liga Muslimin yang merupakan saingan bagi Partai Kongres nasional. Di India terdapat pembaharu yang bernama Sayyid Ahmad Khan (1817-1898), Iqbal (1876-1938) dan Muhammad Ali Jinnah (1876-1948). [14] Munculnya gagasan nasionalisme yang diiringi oleh berdirinya partai-partai politik tersebut merupakan asset utama umat Islam dalam perjuangan untuk mewujudkan Negara merdeka yang bebas dari pengaruh politik barat. Sebagai gambaran dengan nasionalisme dan perjuangan dari partai-partai politik yang penduduknya mayoritas muslim adalah Indonesia. Indonesia merupakan Negara yang mayoritas muslim yang pertama kali berhasil memproklamirkan kemerdekaannya yaitu tanggal 17 Agustus 1945. Negara kedua yang terbebas dari penjajahan yaitu Pakistan.
Merdeka pada tanggal 15 agustus 1947 dengan presiden pertamanya Ali Jinnah. Pada masa sekarang ini kepemimpinan politik dan budaya muslim benar-benar menghadapi berbagai tantangan dari budaya luar. Tentu saja budaya-budaya tersebut sangatlah berbeda dengan budaya yang ada pada zaman nabi Muhammad. Sejarah muslim juga memiliki kesamaan proses pasang surut seperti halnya dalam dunia Kristen barat. Jadi tidaklah tepat jika mengatakan bahwa sejarah Islam ternyata diatandai dengan adanya penurunan pada beberapa abad paling awal. Cerita-cerita kemerosotan Islam pada masa awal hanyalah karangan dari beberapa orientalis.
Pada masa sekarang ini kepemimpinan politik dan budaya muslim benar-benar menghadapi berbagai tantangan dari budaya luar. Tentu saja budaya-budaya tersebut sangatlah berbeda dengan budaya yang ada pada zaman nabi Muhammad. Sejarah muslim juga memiliki kesamaan proses pasang surut seperti halnya dalam dunia Kristen barat. Jadi tidaklah tepat jika mengatakan bahwa sejarah Islam ternyata diatandai dengan adanya penurunan pada beberapa abad paling awal. Cerita-cerita kemerosotan Islam pada masa awal hanyalah karangan dari beberapa orientalis.[15]

C.    Perkembangan Peradaban Islam Pada Abad Modern
Bangsa Turki tercatat dalam sejarah Islam dengan keberhasilannya mendirikan dua dinasti yaitu Dinasti Turki Saljuk dan Dinasti Turki Usmani. Di dunia Islam, ilmu pengetahuan modern mulai menjadi tantangan nyata sejak akhir abad ke-18, terutama sejak Napoleon Bonaparte menduduki Mesir pada tahun 1798 [16] dan semakin meningkat setelah sebagian besar dunia Islam menjadi wilayah jajahan atau dibawah pengaruh Eropa. Akhirnya
serangkaian kekalahan berjalan hingga memuncak dengan jatuhnya dinasti Usmani di Turki.
Proses ini terutama disebabkan oleh kemajuan tekhnologi Barat. Setelah pendudukan Napoleon, Muhammad Ali memainkan peranan penting dalam kampanye militer melawan Perancis. Ia diangkat oleh pengusaha Usmani menjadi Pasya pada tahun 1805 dan memerintah Mesir hingga tahun 1849.[17]
Buku-buku ilmu pengetahuan dalam bahasa Arab diterbitkan. Akan tetapi, saat itu terdapat kontroversial percetakan pertama yang didirikan di Mesir ditentang oleh para ulama karena salah satu alatnya menggunakan kulit babi. Muhammad Ali Pasya mendirikan beberapa sekolah tekhnik dengan guru-gurunya dari luar negaranya. Ia mengirim tiga ratus sebelas mahasiswa ke Eropa (Italia, Prancis, Inggris, dan Austria) atas biaya pemerintah,[18] untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dan tekhnologi.
Secara khusus yang dipelajari adalah militer dan angkatan laut, teknik mesin, kedokteran, farmasi, kesenian dan kerajinan.[19] Kebudayaan turki merupakan perpaduan antara kebudayaan Persia, Bizantium dan Arab. Dari kebudayaan Persia, mereka banyak menerima ajaran-ajaran tentang etika dan tatakrama kehidupan kerajaan atau organisasi pemerintahan. Prinsip kemiliteran mereka dapatkan dari Bizantium, sedangkan dari Arab, mereka mendapat ajaran tentang prinsip ekonomi, kemasyarakatan, dan ilmu pengetahuan.
Orang-orang Turki Usmani dikenal sebagai bangsa yang senang dan mudah berasimilasi dengan bangsa lain dan bersikap terbuka terhadap kebudayaaan luar. Para ilmuwan ketika itu tidak menonjol. Namun demikian, mereka banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan masjid yang indah seperti masjid Sultan Muhammad Al Fatih, masjid Sulaiman, dan masjid Abu Ayub Al Ansari. Masjid-masjid tersebut dihiasi pula dengan kaligrafi yang indah.
Salah satu masjid yang terkenal dengan keindahan kaligrafinya adalah masjid yang awalnya berasal dari gereja Aya Sophia. Islam dan kebudayaannya tidak hanya merupakan warisan dari masa silam yang gemilang, namun juga salah satu kekuatan penting yang cukup diperhitungkan dunia dewasa ini. Al Qur’an terus menerus dibaca dan dikaji oleh kaum muslim. Budaya Islam pun tetap merupakan faktor pendorong dalam membentuk kehidupan manusia di permukaan bumi.
Toleransi beragama merupakan salah satu kebudayaan Islam dan tidak ada satupun
ajaran Islam yang bersifat rasialisme. Dalam hal ini, agama yang ditegakkan oleh Muhammad mengandung amanat yang mendorong kemajuan bagi seluruh umat manusia, khususnya umat Islam di dunia.

D.    Bidang-bidang Peradaban yang Berkembangan
Selain yang tersebut di atas, dalam hal perkembangan peradabaan pada masa modern juga mengalami kemajuan di berbagai Negara Islam artinya Negara yang mayoritas berpenduduk Islam seperti Mesir, Arab Saudi, Irak, Iran, Malaysia, Brunai Darussalam, Kuwait dan indonesia.
1.      Bidang arsitek
Di Arab Saudi mengalami perkembangan yang pesat. Pembangunan-pembagunan fisik sangat dahsyat dari pembangunan jalan raya, jalan kereta, pelabuhan sampai Maskapai penerbangan Internasional, perhotelan, peribadatan seperti Masjidil Haram yang ditengah masjid terdapat Kakbah dan baitul Atiq, Hajar Aswad, Hijr Ismail, Makam Ibrahim dan sumur Zam-Zam yang letaknya berdekatan dengan Kakbah.
Bangunan Masjidil Haram sangat luas, sangat indah dan megah. Masjid Nabawi yaitu Masjid yang indah dan megah pula serta ber AC. Di Iran terdapat bangunan yang indah yaitu berupa bangunan arsitektur peninggalan Dinasti Qatar yaitu Istana Niavarand, pekuburan Behesyti Zahra.
2.      2 Bidang Sastra
Pada masa pembaharuan terdapat nama-nama sastrawan yang Islami di berbagai Negara seperti sastrawan dan pemikir ulung yang lahir di Pakistan tahun 1877 dan wafat tahun 1938 bernama Muhammad Iqbal, Mustafa Lutfi Al Manfaluti tahun 1876-1926 yaitu sastrawan dan ulama al Azhar Mesir, Muhammad Husain Haekal tahun 1888-1956 ia adalah seorang pengarang Mesir yang menulis Hayatu Muhammad, Jamil Sidi Az Zahawi tahun 1863-1936 di Irak daln lain-lain.
3.      Bidang kaligrafi
Di abad modern juga berkembang yaitu biasanya digunakan sebagai hiasan di masjid, hiasan di rumah, perabotan rumah tangga dan lain-lain dengan media seperti kertas, kayu, kain, kulit, keramik dan lain-lain.


BAB 3
Kesimpulan

Modernisasi dalam berbagai bidang sosial hingga tauhid, benar-benar dijadikan pondasi hidup bermasyarakat, serta berfikir ilmiiah-rasional sangat dihargai oleh masyarakat untuk memahami Islam dan mengembangkannya.
Sikap yang perlu dikembangkan dalam memahami Islam pada masa modern adalah sebagai berikut:
1.      Menjadikan al-Quran dan as-Sunnah sebagai rujukan utama dan berusaha menangkap nilai serta ajarannya.
2.      Melihat kenyataan alam dan lingkungan serta fenomena yang ada; dan hal ini
membutuhkan pengetahuan tentang dunia.
3.      Mendialogkan, menafsirkan keduanya dengan menghubungkannya. Selain itu, perkembangan Islam pada abad modern dapat disikapi dengan melihat sejarah.
 Hal ini dapat memberikan ide dan kreatifitas tinggi untuk mengadakan perubahan-perubahan supaya lebih maju dengan cara yang efektif dan efisien. Problema-problema masa lalu dapat menjadi pelajaran dalam bidang yang sama pada masa yang selanjutnya. Pembaharuan dapat dilakukan dalam berbagai bidang, baik ekonomi, pendidikan, politik maupun kebudayaan.



[1] Lihat Kamus Umum Bahasa Indonesia, susunan W.J.S. Poerwadarminta, ed.3, dioleh Balai Pustaka,
Jakarta. 2003. cet.I. hal. 556
[2]Lihat dalam Makalah seminar Soleh Sakni, 2011, hal. 5 dan Ahmad Salaby, Tarikh al-Islamiyah
(Kairo..cet. IV, 1978) hal. 10
[3] Kamus Umun Bahasa Indonesia. hal. 6
[4] Kamus Umum Bahasa Indonesia, hal. 892
[5] 5Longman Group, Longman Dictionary of contemporary English, England: 1987, hal. 1105 dan Ibnu
[6] Suyoto, dkk., Al-Islam 2, cet.II, 1992, Malang: Pusat Dokumentasi dan Kajian al-Islam–
Kemuhammadiyahan Univ. Malang. hal. 202

[7] Baca Philip K. Hitti, Histori of Arabs, penerj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi,
Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, cet.II, hal. 924
[8] Harun Nasution, 1985, hal. 51
[9] Baca : Murtadha Muthahhari, 1986, Gerakan Islam Abad XX, terj. Rineka Cipta, Jakarta
[10] William I. Cleveland, Islam Menghadapi Barat, terj. Ahmad Niamullah Muiz, 1991, Jakarta: PustakaFirdaus,  hlm. 92.
[11] 15 M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Cet.II, Yogyakarta: Pustaka Book publiher, hal. 361-362.
[12] 16William I. Cleveland, Islam Menghadapi Barat, terjemahan Ahmad Niamullah Muiz, 1991, Jakarta: Pustaka Firdaus, hlm. 19. Dalam M. Abdul kaarim, Sejarah Pemikiran....hal.362

[13] Jhon Cooper, dkk., Islam and Modernity, terj. Wahid Nur Efendi, Erlangga, 2002, hal. xvi
[14]  http://sejarah.kompasiana.com/2010/10/09
[15] http://abdicted.wordpress.com/2009/02/19/islam-dan-politik
[16] Baca: Philip. K. Hitti, History of The Arabs, Serambi Ilmu Semesta, 2010, hal. 924
[17] Baca: Philip. K. Hitti, History of The Arab, hal. 925
[18] Umar Thusun, Al-Ba’atsat al-‘Ilmiyah (Iskandariyah,1934), hal .414 dalam Philip. K. Hitti, History of The Arabs, hal. 926
[19] Philip. K. Hitti, History of The Arabs, hal. 926

MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...