Rabu, 26 Desember 2018

MAKALAH TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF PIAGET


MAKALAH TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF PIAGET

PENDAHULUAN
          A.    Latar Belakang
   “Pengetahuan itu bukanlah salinan dari obyek dan juga bukan berbentuk kesadaran apriori yang sudah ditetapkan di dalam diri subyek, ia bentukan perseptual, oleh pertukaran antara organisme dan  dari sudut tinjauan biologi dan antara fikiran dan obyeknya menurut tinjauan kognitif.”
                 Teori Jean Piaget tentang perkembangan kognitif memberikan batasan kembali tentang kecerdasan, pengetahuan dan hubungan anak didik dengan lingkungannya. Kecerdasan merupakan proses yang berkesinambungan yang membentuk struktur yang diperlukan dalam interaksi terus menerus dengan lingkungan. Struktur yang dibentuk oleh kecerdasan, pengetahuan sangat subjektif waktu masih bayi dan masa kanak – kanak awal dan menjadi objektif dalam masa dewasa awal. Perkembangan cara berfikir yang berlainan dari masa bayi sampai usia dewasa meliputi tindakan dari bayi, pra operasi, operasi kongkrit dan opersai formal.
            Piaget juga memberikan proses pembentukan pengetahuan dari pandangan yang lain, ia menguraikan pengalaman fisik atau pengetahuan eksogen, yang merupakan abstraksi dari ciri – ciri dari obyek, pengalaman logis matematis atau pengetahuan endogen disusun melalui reorganisasi proses pemikiran anak didik.  Sumbangan bagi praktek pendidikan untuk karya – karya Piaget mengenali pengetahuan yang disosialisasikan dari sudut pandangan anak. Implementasi kurikulum menjadi pelik oleh kenyataan bahwa teorinya tidak memasukan hubungan antara berfikir logis dan pelajaran – pelajaran pokok seperti y dan menulis.
B.     Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui dan menjelaskan Tahap-tahap Perkembangan kognitif
2.      Untuk mengetahui dan menjeaskan Faktor-faktor yang mempengaruhi Perkembangan kognitif.
3.      Untuk mengetahui dan menjelaskan Perkembangan permanensi Objek


BAB II
PEMBAHASAN


          A.    Pengertian Kognitif
     
Kognitif adalah salah satu ranah dalam taksonomi pendidikan. Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan : pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehensions), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa (sinthesis), evaluasi (evaluation)Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan  kemampuan rasional(akal).
       Teori kognitif lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain.
 Jean Piaget (1896-1980), pakar psikologi dari Swiss, mengatakan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Dalam pandangan Piaget, terdapat dua proses yang mendasari perkembangan dunia individu, yaitu pengorganisasian dan penyesuaian (adaptasi)

          B.     Prinsip Dasar Teori Piaget
     Jean Piaget dikenal dengan teori perkembangan intelektual yg menyeluruh, yg mencerminkan adanya kekuatan antara fungsi biologi & psikologis( perkembanganjiwa)
     Piaget menerangkan inteligensi itu sendiri sebagai adaptasi biologi terhadap lingkungan. Contoh: manusia tidak mempunyai mantel berbulu lembut untuk melindunginya dari dingin; manusia tidak mempunyai kecepatan untuk lari dari hewan pemangsa; manusia juga tidak mempunyai keahlian dalam memanjat pohon. Tapi manusia memiliki kepandaian untuk memproduksi pakaian & kendaraan untuk transportasi.
      C.    Tahap-tahap kognitif
     Tahap perkembangan
Rentang Usia
Karakteristik
Sensorimotor
Lahir sampai 2 tahun
-Dunianya terbatas
-Belum mengenal bahasa
-Belum memiliki pikiran pada masa-masa awal
-Belum mampu memahami realitas objektif 
Pra-operasional
2 sampai 7 tahun
-Pikirannyabersifat egosentris
-Pemikirannya didominasi oleh persepsi
-Intuisinya lebih mendominasi dari pada pikiran logisnya
-Belum memiliki kemampuan konservasi
Operasional- konkret
7 sampai 11 tahun
-Kemampuan konservasi
-Kemampuan mengklasifikasikan
-Berfikir konkret
Operasional-Formal
11 tahun sampai dewasa
-Pikiran bersifat umum dan menyeluruh
-Berpikir proposisional
-kemampuan membuat hipotesis
-Perkembangan idealisme yang kuat

Tahap sensorimotor merupakan tahap awal perkembangan mental anak. Perkembangan mental itu terus bertambah hingga mencapai puncaknya pada tahap operasional formal. Dicirkan dengan fase interkoordinasi progesif dari skema menjadi lebih kompleks dan terintegrasi. (Tritanto,2010:70-73)
(Ciri dasar perkembangannya: anak-anak melalui perjalanan dan inderanya dan juga belajar objek permanen)
Tahap pertama awal kognitif terjadi pada saat bayi lahir sampai sekitar kelahiran 2 tahun. Tahap ini disebut tahap sensorimotor oleh Piaget.
Pada tahap sensorimotor, intel lebih bertindak pada tindakan inderawi anak terhadap lingkungannya, seperti melihat, meraba, menjamah, mendengar, membau dan lain-lain.
Pada tahap sensorimotor, gagasan anak-anak muncul dari periode "belum memiliki ide" menjadi "sudah memiliki gagasan".
Gagasan sangat penting dengan konsep anak tentang ruang dan waktu yang juga belum terakomodasi dengan baik. Struktur ruang dan waktu belum jelas dan masih terpotong-potong, belum dapat disistematisir dan diurutkan dengan logis.
Menurut Piaget, perkembangan sensorimotor ini menggunakan proses asimilasi dan domestik. Tahap-tahap perkembangan kognitif anak-anak yang dikembangkan dengan proses-proses asimilasi dan mengakomodasi siswa-siswa karena adanya masukan, rangsangan, atau kontak dengan pengalaman dan pengamatan yang baru.
Piaget membagi sensorimotor dalam periode enam, yaitu:

Periode 1: Refleks (umur 0 - 1 bulan)
Periode paling awal tahap sensorimotor adalah periode refleks. Tahap berkembang sejak bayi lahir sampai sekitar berumur 1 bulan. Pada periode ini, tingkah laku bayi kebanyak bersifat refleks, spontan, tidak disengaja, dan tidak terbedakan. Tindakan seorang bayi didasarkan pada adanya rangsangan dari luar yang ditanggapi secara refleks
  Periode 2: Kebiasaan (umur 1 - 4 bulan)
Pada saat perkembangan ini, bayi mulai membentuk kebiasan-kebebasan pertama. Kebiasaan yang diproduksi dengan mencoba dan mengulang-ngulangi tindakan. Refleks-refleks yang dibuat diasimilasikan dengan skema yang telah melahirkan dan menjadi semacam kebiasaan, pertama dari refleks tersebut menghasilkan sesuatu.
Pada periode ini, seorang bayi mulai membedakan benda-benda di dimensi. Ia mulai menyelenggarakan diferensiasi akan macam-macam benda yang dipegangnya. Pada tahap ini pula, tindakan yang dilakukan dengan menggunakan mata dan telinga.
Bayi memulai benda yang bergerak dengan matanya. Ia juga mulai menggerakkan kepala ke suara yang ia dengar. Suara dan penglihatan bekerja bersama. Ini merupakan hal yang penting untuk menumbuhkan konsep benda.
    Periode 3: Reproduksi kejadian yang menarik (4-8 bulan)
Pada periode ini, seorang bayi mulai menjamah dan memanipulasi sesuatu yang ada di sekitarnya. Tingkah laku bayi yang paling berpengaruh pada objek dan kejadian di luar tubuh sendiri. Ia menunjukkan pelatih antara penglihatan dan rasa.
Pada periode ini, seorang bayi juga menciptakan kembali kejadian-kejadian yang menarik untuk itu. Ia bisa menghadirkan dan mengulang kembali gejala yang (reaksi sirkuler sekunder).
Piaget mengamati bahwa ketika seorang anak dihadapkan pada sebuah objek yang dikenal, karena ia hanya melihat reaksi singkat dan tidak akan mau lama. Oleh Piaget, ini diartikan sebagai “pengiyan” akan arti benda itu seakan ia sudah mengetahuinya.
    Periode 4: Koordinasi Skema (umur 8 - 12 bulan)
Pada periode ini, seorang bayi mulai membedakan antara sarana dan hasil tindakannya. Ia sudah mulai menggunakan sarana untuk mencapai hasil.
Sarana-sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan. Bayi mulai memiliki kemampuan untuk menyatukan tingkah laku yang sebelumnya telah didapat untuk mencapai tujuan tertentu.
Pada periode ini, seorang bayi mulai membentuk konsep tentang tetapnya (permanensi). Dari fakta bahwa ia dapat mencari benda-benda yang berbeda, tampak yang ia mulai memiliki konsep tentang ruang.
       Periode 5: Eksperimen (umur 12 - 18 bulan)
Unsur pokok pada perode ini adalah mulainya anak-anak mengembangkan cara-cara baru untuk mencapai tujuan dengan cara mencoba (percobaan) bila dihadapkan pada tindakan yang tidak bisa dipecahkan dengan aturan yang ada, anak-anak akan mulai mecoba-coba dengan Trial dan Kesalahan untuk mengeluarkan cara yang baru untuk digunakan dengan cara lain mengembangkan kincir angin yang baru.
Pada periode ini, anak-anak lebih banyak benda-benda yang hidup dan melihat bagaimana benda-benda di sekitarnya bertingkah laku dalam memori yang baru.
Menurut Piaget, tingkah anak ini menjadi intelegensi ketika ia menemukan kemampuan untuk memecahkan masalah yang baru. Pada tahap ini pula, konsep anak akan objek mulai maju dan lengkap. Tentang keruangan anak-anak akan mengubah benda-benda yang dilakukan saat benda-benda itu dapat dilihat secara bersamaan.   
      Periode Refresentasi (umur 18 - 24 bulan)
Periode ini adalah tahap terakhir pada tahap intelegensi sensorimotor. Seorang anak tidak dapat menemukan cara-cara baru yang tidak hanya berdasarkan rabaan fisis dan eksternal, tetapi juga dengan internal internal dalam pikirannya.
Pada periode ini, anak berpindah dari periode intelegensi sensori motor ke intelegensi refresentatif. Secara mental, seorang anak-anak bisa membuat objek dan peristiwa, dan dapat membantu dengan keras.
Karakteristik anak yang berada pada fase ini adalah sebagai berikut:
·         Berfikir melalui perbuatan (gerak)
·         Perkembangan fisik yang dapat digunakan adalah gerak-gerak refleks sampai ia dapat berjalan dan bicara.
·         Belajar mengkoordinasi akal dan geraknya.
·         Cenderung intuitif egocentrics, tidak rasional dan tidak logis
Tahap pra-operasional merupakan tahap prilaku anak berubah dari dependesi tindakan menuju pemanfaatan representasi mental dalam tindakan-tindakannya atau yang biasa disebut berfikir. Namun, anak pada tahap pra-operasional belum mengembangkan sistem organisasi pikiran-pikirannya. Ketika kita berada di sekitar mereka dan mereka tidak melihat kita, mereka tidak berpikir bahwa kita dapat melihat mereka. Mereka masih sulit untuk membedakan antara presepsi mereka dengan oranglain. Tritanto,2010:70-73)
Ciri sebenarnya adalah penggunaan simbol dan bahasa intuitif)
Istilah "operasi" di sini adalah proses berfikir logis, dan merupakan aktivitas sensorimotor. Dalam proses ini anak sangat egosentris, mereka sulit menerima orang lain.
Anak-anak percaya apa yang mereka dan alami juga menjadi pikiran dan pengalaman orang lain. Mereka percaya bahwa benda yang tidak bernyawa memiliki sifat bernyawa.
Tahap pra operasional ini dapat dibedakan atas dua bagian.
·         Pertama, tahap pra konseptual (2-4 tahun), dimana mempopulerkan objek-objek dengan bahasa, gambar dan permainan khayalan.
·         Kedua, tahap intuitif (4-7 tahun). Pada tahap ini, proyek menjadi kenyataan, tidak untuk hukuman.
Karakteristik anak pada saat ini adalah sebagai berikut:
·         Anak dapat mengaitkan pengalaman yang ada di lingkungan bermain dengan pengalaman pribadi dan kepribadian menjadi egois. Anak-anak tidak rela bila barang miliknya dipegang oleh orang lain.
·         Anak-anak tidak memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah yang membutuhkan pikiran “yang dapat dibalik (reversible).” Pikiran mereka masih bersifat irreversible .
·         Anak-anak belum mampu melihat dua aspek dari satu objek atau kamera, dan juga mampu bernalar ( bernalar ) secara individu dan deduktif.
·         Anak bernalar secara transduktif (dari khusus ke khusus). Anak-anak juga belum mampu membedakan antara fakta dan fantasi.
·         Anak belum memiliki konsep kekekalan (kuantitas, materi, luas, berat dan isi).
Tahap operasional konkret adalah tahap penyempurnaan 3 arah penting dalam pertumbuhan intelektual yaitu: Konservasi, klasifikasi, dan transivitas. Konservasi adalah kemampuan untuk mentransformasikan sifat objek. Klasifikasi adalah pengelompokkan dan kategorisasi objek-objek yang mirip. Transivitas adalah seorang anak mampu menyelesaikan bentuk permasalahan. Tritanto,2010:70-73)
 Tahap operasi konkret ( operasi konkrit)dicirikan dengan sistem pengembangan yang ditemukan pada aturan-aturan tertentu yang logis. Anak-anak tidak mengembangkan operasi-oprasi logis.
Operasi ini bersifat reversibel , artinya dapat mengukur dalam dua arah, yaitu proses yang dapat berubah menjadi perintah lagi. Tahap operasi konkret dapat ditandai dengan adanya sistem operasi berdasarkan apa-apa yang kelihatan nyata / konkret.
Ciri-ciri operasi konkret yang lain, yaitu:
·         Adaptasi dengan mencerminkan yang menyeluruh
Pada tahap ini, seorang anak-anak dapat belajar secara bebas, pengalaman dan objek yang dialami. Menurut Piaget, adaptasi dengan lingkungan disatukan dengan lingkar akan lingkungan itu.
·         Melihat berbagai macam segi
Anak-anak pada tahap ini bisa mendapatkan informasi atau informasi secara akurat dengan melihat apek-aspeknya. Ia tidak hanya memusatkan pada titik tertentu, tetapi dapat bersam-sama mengamati titik-titik yang lain dalam satu waktu yang bersamaan.
·         Seriasi
Proses seriasi adalah proses yang tidak banyak terjadi atau lebih kecilnya. Menurut Piaget, jika seorang anak telah dapat membuat seriasi maka ia tidak akan melakukan banyak hal untuk membuat seri berikutnya.

·         Klasifikasi
Menurut Piaget, bila anak yang disebut 3 tahun dan 12 tahun diberi bermacam-maam objek dan disintegrasi membuat yang berbeda menjadi satu, ada beberapa kemungkinan yang terjadi.
·         Bilangan
Dalam percobaan Piaget, ada anak-anak pada tahap pra-operasi konkret belum dapat memahami korespondensi satu-satu dan kekekalan, namun pada tahap-tahap operasi konkret, anak-anak sudah bisa mengerti tentang karespondensi dan kekekalan dengan baik. Dengan perkembangan ini berarti konsep tentang bilangan bagi anak telah berkembang.
·         Ruang, waktu, dan kecepatan
Pada umur 7 atau 8 tahun sudah ada anak tentang mengetahui ruang dengan melihat selang intervalitas benda. Pada umur 8 tahun anak sudan sudah susah mengerti hubungan waktu dan jug akoordinasi dengamn waktu, dan pada umur 10 atau 11 tahun, anak akan sadar konsep waktu dan kecepatan.
·         Probabilitas
Pada tahap ini, konsep probabilitas yang disebut antara hal-hal yang terjadi dengan kasus-kasus yang mulai terbentuk.
·         Penalaran
Dalam masalah sehari-hari, anak pada tahap ini jarang berbicara dengan alasan, tetapi lebih mengatakan apa yang terjadi. Pada tahap ini, menurut Piaget masih ada masalah dalam melihat masalah secara menyeluruh.
·         Egosentrisme dan Sosialisme
Pada tahap ini, anak sudah tidak terlalu egosentris dalam pemikirannya. Ia sadar bahwa orang lain dapat memiliki pikiran lain.

Tahap operasional formal adalah tahap ditandai dengan kemampuan anak untuk memformulasikan hipotesis dan mengujinya terhadap relitas (Tritanto,2010:70-73)
Tahap operasi formal ( operasi formal)merupakan tahap terakhir dalam perkembangan kognitif menurut Piaget.
Pada tahap ini, seorang remaja sudah dapat berpikir logis, berpikir dengan menggunakan teoritis formal berdasarkan proposisi-proposisi dan hipotesis, dan dapat mengambil kesimpulan dari apa yang dapat terbaca saat itu. Cara berpikir yang abstrak mulai jelas. Sifat dasar dari aktivitas formal adalah sarana deduktif hipotesis, induktif saintifik, dan abstrak reflektif.
·         Pemikiran Deduktif Hipotesis
Pemikiran deduktif adalah pemikiran yang menarik yang spesifik dari sesuatu yang umum. Kesimpulan hanya jika premis-premis yang dipakai dalam pengambilan keputusan benar.
Alasan deduktif adalah alasan / argumentasi yang berkaitan dengan kesimpulan yang ditarik dari premis-premis yang masih hipotetis. Jadi, seseorang yang mengambil kesimpulan dari proposisi yang diasumsikan, tidak perlu diperhitungkan dengan kenyataan yang nyata.
Dalam pikiran remaja, Piaget dapat mendeteksi ada yang mengenali yang logis, meskipun para remaja sendiri tidak tahu atau belum mengetahui cara berpikir mereka itu logis. Dengan kata lain, model logis itu lebih merupakan hasil kesimpulan Piaget dalam menuntun ungkapan remaja, terlepas dari apakah para remaja sendiri tahu atau tidak.
·         Pemikiran Induktif Saintifik
Pemikiran induktif adalah pengukuran yang lebih umum berdasarkan kejadian-kejadian yang khusus. Pemikiran ini disebut juga dengan metode ilmiah. Pada tahap ini, anak-anak dapat membuat hipotesis, menentukan eksperimen, menentukan variabel, kontrol, mencatat hasil, dan menarik kesimpulan. Disamping itu mereka sudah dapat mempelajari berbagai variabel yang berbeda pada waktu yang sama.
·         Pemikiran Abstraksi Reflektif
Menurut Piaget, pemikiran analogi dapat juga digunakan sebagai abstraksi reflektif karena kekhawatiran itu tidak dapat disimpulkan dari pengalaman.

D.    Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif
1.      Lingkungan Fisik
Artinya, kontak dengan lingkungan fisik perlu karena interaksi antara individu dan dunia luar merupakan sumber pengetahuan baru. Namun kontak dengan dunia fisik itu tidak cukup untuk mengembangkan pengetahuan kecuali jika intelegensi individu dapat memanfaatkan pengalaman. Karena itu, kematangan sistem saraf menjadi penting untuk memungkinkan anak memperoleh manfaat secara maksimum dari pengalaman fisik.
2.      Kematangan
Artinya, membuka kemungkinan untuk perkembangan. Sedangkan kurang hal itu akan membatasi secara luas prestasi kognitif. Meskipun kematangan suatu kondisi yang penting bagi perkembangan kognitif, kejadian-kejadian tertentu tidak ditentukan sebelumnya. Perkembangan berlangsung dengan kecepatan yang berlainan, bergantung pada sifat kontak dengan lingkungan dan kegiatan belajar sendiri.
3.      Lingkungan sosial
Artinya, penanaman bahasa dan pendidikan pentingnya lingkungan sosial adalah bahwa pengalaman speerti itu, seperti halnya pengalam fisik dapat mengacu atau menghambat perkembangan struktur kognitif.


4.      Equlibrasi
Artinya, proses pengaturan. Equlibrasi menyebabkan perkembangan kognitif berjalan secara terpadu dan tersusun baik(Yatim Riyanto, 2009:125-126

E.     Perkembangan permanensi objek

Perkembangan Permanensi dapat di lihat dari :
1.      Tahapan-tahapan secara Umum:
·         Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.
·         Universal (tidak terkait budaya)
1.      Bisa digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan
2.      Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis
3.      Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi)
4.      Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif

2.      Proses Perkembangan

   Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan lingkungan. Dengan berinteraksi tersebut, seseorang akan memperoleh skema. Skema berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi dan memahami dunia. Skema juga menggambarkan tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu.
·         Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya. Dalam contoh di atas, melihat burung kenari dan memberinya label "burung" adalah contoh mengasimilasi binatang itu pada skema burung si anak.
5.      Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali. Dalam contoh8 di atas, melihat burung unta dan mengubah skemanya tentang burung sebelum memberinya label "burung" adalah contoh mengakomodasi binatang itu pada skema burung si anak.
6.      Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.
7.      Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya.
3.      Isu dalam Perkembangan Kognitif
   Isu utama dalam perkembangan kognitif serupa dengan isu perkembangan psikologi secara umum.

Tahapan perkembangan


·         Perbedaan kualitatif dan kuantitatifTerdapat kontroversi terhadap pembagian tahapan perkembangan berdasarkan perbedaan kualitas atau kuantitas kognisi.
·         Kontinuitas dan diskontinuitasKontroversi ini membahas apakah pembagian tahapan perkembangan merupakan proses yang berkelanjutan atau proses terputus pada tiap tahapannya.
·         Homogenitas dari fungsi kognisi
Terdapat perbedaan kemampuan fungsi kognisi dari tiap individu

·         Natur dan nurtur

Kontroversi natur dan nurtur berasal dari perbedaan antara filsafat nativisme dan filsafat empirisme. Nativisme mempercayai bahwa pada kemampuan otak manusia sejak lahir telah dipersiapkan untuk tugas-tugas kognitif. Empirisme mempercayai bahwa kemampuan kognisi merupakan hasil dari pengalaman.

·         Stabilitas dan kelenturan dari kecerdasan

Secara relatif kecerdasan seorang anak tetap stabil pada suatu derajat kecerdasan, namun terdapat perbedaan kemampuan kecerdasan seorang anak pada usia 3 tahun dibandingkan dengan usia 15 tahun.

4.      Sudut Pandang lain
Pada saat ini terdapat beberapa pendekatan yang berbeda untuk menjelaskan perkembangan kognitif.
·         Teori perkembangan Kognitif Neurosanis
Kemajuan ilmu neurosains dan teknologi memungkinkan mengaitkan antara aktivitas otak dan perilaku. Biologis menjadi dasar dari pendekatan ini untuk menjelaskan perkembangan kognitif. Pendekatan ini memiliki tujuan untuk dapat mengantarai pertanyaan mengenai umat manusia yaitu

a.       Apakah hubungan antara Pemikiran dan tubuh, khususnya antara otak secara fisik dan mental proses
b.       Apakah filogeni atau ontogeni yang menjadi awal mula dari struktur biologis yang teratur


·         Teori Konstruksi pemikiran-sosial
Selain biologikonteks sosial juga merupakan salah satu sudut pandang dari perkembangan kognitif. Perspektif ini menyatakan bahwa lingkungan sosial dan budaya akan memberikan pengaruh terbesar terhadap pembentukan kognisi dan pemikiran anak. Teori ini memiliki implikasi langsung pada dunia pendidikan. Teori Vygotsky menyatakan bahwa anak belajar secara aktif lebih baik daripada secara pasif. Tokoh-tokohnya diantaranya Lev VygotskyAlbert BanduraMichael Tomasello

·         Teori Theory of Mind (TOM)
Teori perkembangan kognitif ini percaya bahwa anak memiliki teori maupun skema mengenai dunianya yang menjadi dasar kognisinya. Tokoh dari ToM ini diantaranya adalah Andrew N. Meltzoff
                                                                       BAB III
                                                                    PENUTUP
a)      Kesimpulan
Belajar bukanlah sesuatu yang diturunkan oleh guru, melainkan sesuatu yang berasal dari dalam diri anak sendiri. Belajar merupakan sebuah proses penyelidikan dan penemuan spontan. Berkaitan dengan belajar, Piaget berpendapat bahwa belajar merupakan proses menyesuaikan pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif yang telah dipunyai seseorang.
Seorang guru harus mampu memahami tahapan perkembangan kognitif manusia. Mulai dari lahir hingga dewasa yang terbagi dalam tahap sensorimotorik, pra-operasional, operasional konkret, dan operasional formal, agar mampu melaksanakan proses pembelajaran dan memahami psikologis anak didi
b)      Saran
Semoga Makalah “Teori perkembangan Jean Piaget” dapat bermanfaat bagi kita mahasiswa calon-calon pahlawan tanpa jasa. Semoga mampu menerapkan teori perkembangan Jean Piaget dalam metode belajar dan pembelajaran

DAFTAR PUSTAKA

Tritanto.2010.Model Pembelajaran Terpadu.Surabaya:PT Bumi Aksara
Yatmin Riyanto.2009.Paradigma Baru Pembelajaran.Jakarta:Kencana
Bjorklund, D.F. (2000) Children's Thinking: Developmental Function and individual differences. 3rd ed. Bellmont, CA : Wadsworth
Cole, M, et al. (2005). The Development of Children. New York: Worth Publishers.
Johnson, M.H. (2005). Developmental cognitive neuroscience. 2nd ed. Oxford : Blacwell publishing
Piaget, J. (1954). "The construction of reality in the child". New York: Basic Books.
Piaget, J. (1977). The Essential Piaget. ed by Howard E. Gruber and J. Jacques Voneche Gruber, New York: Basic Books
Piaget, J. (1983). "Piaget's theory". In P. Mussen (ed). Handbook of Child Psychology. 4th edition. Vol. 1. New York: Wiley.
Piaget, J. (1995). Sociological Studies. London: Routledge.
Piaget, J. (2000). "Commentary on Vygotsky". New Ideas in Psychology18, 241–259.
Piaget, J. (2001). Studies in Reflecting Abstraction. Hove, UK: Psychology Press.
Seifer, Calvin "Educational Psycho

MAKALAH PENGORGANISASIAN


BAB I
PENDAHULUAN

       A.    Latar belakang
Organisasi dapat di definisikan sebagai sekelompok orang yang saling berinteraksi dan bekerja sama untuk merealisasikan tujuan bersama.
Gareth Morgan(1986) dan Stephen P.Robin(1990: 12-13) mengemukakan bahwa organisasi seringkali dikonsepkan dengan cara yang berbeda.
Menurut Robbins (1994:6), menyatakan struktur organisasi menetapkan bagaimana tugas akan dibagi, siapa melapor kepada siapa, serta mekanisme koordinasi yang formal dan pola interaksi yang akan diikuti.
Reksohadiprodjo, dan Handoko (1992:74); Struktur organisasi merupakan suatu kerangka yang menunjukkan seluruh kegiatan untuk pencapaian tujuan organisasi, hubungan antar fungsi, serta wewenang dan tanggung jawabnya

B.      Rumusan masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan pengorganisasian?
2.      Apakah yang dimaksud dengan struktur organisasi?
3.      Apakah yang dimaksud dengan prinsip organisasi proses organisasi?

C.     Tujuan penulis
1.      Agar pembaca dapat mengetahui apa itu pengorganisasian
2.      Agar pembaca dapat mengetahui apa itu struktur organisasi
3.      Agar pembaca mengetahui bagian dari pengorganisasian
D.    Manfaat
1.      Bermanfaat untuk dosen karena dpat menambah referensi dalam pengajaran
2.      Bermanfaat untuk masyarakat, agar masyarakat mengetahui apa pengorganisasian dan struktur organisasi
3.      Bermanfaat untuk siswa, agar siswa dapat banyak lebih mengetahui tentang pengorganisasian dan struktur organisasi

BAB  II
MENURUT PARA AHLI DAN  KESIMPULAN

A.    Menurut para ahli
Organisasi dapat di definisikan sebagai sekelompok orang yang saling berinteraksi dan bekerja sama untuk merealisasikan tujuan bersama.
Gareth Morgan(1986) dan Stephen P.Robin(1990: 12-13) mengemukakan bahwa organisasi seringkali dikonsepkan dengan cara yang berbeda
Robbins (1996:10)
menyatakan bahwa organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar relatif, terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.
Organisasi merupakan unsur yang utama karena menyangkut kerja sama antara orangorang yang terlibat dalam kegiatan yang saling berhubungan untuk mencapai tujuan-tujuan publik seperti pembangunan dan pelayanan
masyarakat (Kasim, 1993:15).
     A.    Kesimpulan menurut penulis
Pengorganisasian merupakan suatu langkah untuh menetapkan , menggolongkan dan mengatur berbagai macam kegiatan yang di pandang.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengorganisasian
Organisasi merupakan unsur yang sangat penting dalam masyarakat modern baik di sektor publik (negara) maupun di sektor swasta. Dalam masyarakat modern seperti Indonesia, masa kini dikenal berbagai macam organisasi seperti rumah sakit, sekolah, universitas, yayasan, badan usaha milik negara dan kantor-kantor pemerintah. Dalam administrasi negara, organisasi merupakan unsur yang utama karena menyangkut kerja sama antara orang-orang yang terlibat dalam kegiatan yang saling berhubungan untuk mencapai tujuan-tujuan publik seperti pembangunan dan pelayanan masyarakat (Kasim, 1993:15) [1].
Organisasi dapat di definisikan sebagai sekelompok orang yang saling berinteraksi dan bekerja sama untuk merealisasikan tujuan bersama.
Gareth Morgan(1986) dan Stephen P.Robin(1990: 12-13) mengemukakan bahwa organisasi seringkali dikonsepkan dengan cara yang berbeda. Cara  tersebut antara lain sebagai berikut.
1.      Kesatuan rasional dalam mengejar tujuan
Organisasi ada untuk mencapai tujuan dan perilaku anggota organisasi dapat dijelaskan sebagai pengejaran rasional terhadap tujuan tersebut.
2.      Koalisi dari para pendukung(constituency) yang kuat
Organisasi terdiri atas kelompok yang masing-masing mencoba untuk memuaskan kepentingan sendiri.kelompok tersebut menggunakan kekuasaan mereka untuk memengaruhi sumber daya dalam organisasi.
3.      Sistem terbuka
Organisasi adalah sistem transformasi masukan dan keluaran yang bergantung pada lingkungan untuk kelangsungan hidupnya.
4.      Sistem yang memproduksi arti
Organisasi adalah kesatuan yang diciptakan secara artifisial. Maksudnya diciptakan secara simbolis dan dipertahankan oleh manajemen
5.      Sistem yang digabungkan secara longgar
Organisasi terdiri atas unit-unit yang relatif berdiri sendiri, dapat mengejar tujuan yang tidak sama, atau bahkan saling bertentangan.
6.      Sistem politik
Organisasi terdiri atas pendukung internal yang mencoba memperoleh kendali dalam proses pengambilan keputusan agar dapat memperbaiki posisi mereka.
7.      Alat dominasi
Organisasi menempatkan para anggotanya ke dalam kotak-kotak pekerjaan yang menghambat apa yang mereka lakukan dan individu yang dengannya mereka berinterksi. Selain itu, mereka diberi atas yang memiliki kekuasaan terhadap mereka
8.      Unit pemrosesan informasi
Organisasi menafsirkan lingkunganya, mengoordinasikan aktifitas, dan memudahkan pembuatan keputusan dengan memproses informasi secara horozontal dan vertikal melalui sebuah struktur hierarki.
9.      Penjara psikis
Organisasi menghabat para anggota dengan membuat deskripsi pekerjaan, departemen, divisi, dan prilaku standar yang dapat diterima dan tidak dapat diterima.
10.  Kontrak sosial
Organisasi terdiri atas sejumlah persetujuan yang tidak tertulis ketika para anggota melakukan perilaku tertentu dan untuk itu mereka menerima imbalan.



Dalam hal pencapaian tujuan, suatu organisasi yang berhasil dapat diukur dengan melihat sejauh mana organisasi tersebut dapat mencapai tujuan yang sudah ditetapkan sehingga organisasi tersebut dapat dikatakan efektif apabila banyak tujuan-tujuan organisasi tercapai
Efektivitas atau keefektifan organisasi dapat didefinisikan sebagai tingkatan pencapaian organisasi atas tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang didekati berdasarkan nilai-nilai bersaing dan nilai-nilai inti organisasinya[2].


B.     Struktur organisasi
Struktur organisasi (disain organisasi) dapat didefinisikan sebagai mekanisme-mekanisme formal dengan mana organisasi dikelola. Struktur organisasi menunjukkan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan-hubungan di antara fungsi-fungsi, bagian-bagian atau posisi-posisi, maupun orang-orang yang menunjukkan kedudukan, tugas wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam suatu organisasi. Struktur ini mengandung unsur-unsur spesialisasi kerja, standardisasi, koordinasi, sentralisasi atau desentralisasi dalam pembuatan keputusan dan besaran (ukuran) satuan kerja[3].
Stoner dan Wankell (1986: 243) membatasi bahwa struktur organisasi adalah susunan dan hubungan antar bagian komponen dan posisi dalam suatu perkumpulan.
Gibson dan kawan kawan (1980) menekankan bahwa struktur bertalian dengan hubungan yang relatif pasti terdapat di antara pekerjaan dalam organisasi. Hubungan yang pasti tersebut timbul dari proses keputusan sebagai berikut:
1.      Pembagian kerja
Permasalahan yang berhubungan dengan pembagian kerja bertalian dengan sampai seberapa jauh pekerjaan dispesialisasi. Seluruh pekerjaan dispesialisasi sampai suatu tingkat dan kemampuan untuk membagi pekerjaan di antara pemegang pekerjaan.
2.      Departementalisasi
Proses penentuan deretan dan kedalaman pekerjaan individual adalah bersifat analitis, yaitu jumlah tugas organisasi dipecah-pecah ke dalam beberapa tugas yang lebih kecil berurutan. Selanjutnya, tugas yang dibagi harus digabungkan pekerjaan ke dalam kelompok dinamakan depertementalisasi, dan permasalahan manajerial yang muncul adalah memilih suatu dasar bagi penggabungan pekerjaan tersebut.
3.      Permasalahan rentang kendali
Pada umumnya,permasalahan rentang kendali akan sama dengan keputusan mengenai beberapakah jumlah bawahan yang dapat dikendalikan oleh seorang manajer. Selain itu rentang kendali harus ditentukan untuk mencakup bukan saja bawahan yang ditugaskan secara formal, tetapi juga mereka berhubungan dengan manajer.
4.      Delegasi kekuasaan
Permasalahan delegasi kekuasaan bertalian dengan keuntungan relatif dari desentralisasi, yaitu delegasi kekuasaan sampai tingkat paling rendah dalam hierarki manajerial.konsep desentralisasi tidak berkenaan dengan penyebaran geografis dari unit-unit organisasi yang terpisah tetapi konsep tersebut berhubungan dengan hal yang didelegasi kepada manajer untuk mengambil keputusan tenpa persetujuan dari manajemen yang lebih tinggi.
Adapun faktor-faktor utama yang menentukan perancangan struktur organisasi adalah sebagai berikut
1. Strategi organisasi untuk mencapai tujuannya. (Chandler) telah menjelaskan hubungan strategi dan struktur organisasi dalam studinya pada perusahaan-perusahaan industri di Amerika.
2. Dia pada dasarnya menyimpulkan bahwa "struktur mengikuti strategi". Strategi akan menjelaskan bagaimana aliran wewenang dan saluran komunikasi dapat disusun di antara para manajer dan bawahan. Aliran kerja sangat dipengaruhi strategi, sehingga bila strategi berubah maka struktur organisasi juga berubah.
3. Teknologi yang digunakan. Perbedaan teknologi yang digunakan untuk memproduksi barang barang atau jasa akan membedakan bentuk struktur organisasi. Sebagai contoh, perusahaan mobil yang mempergunakan teknologi industri masal akan memerlukan tingkat standardisasi dan spesialisasi yang lebih tinggi dibanding perusahaan industri pakaian jadi yang mengutamakan perubahan mode.
Adapun langkah-langkah dalam mendesain struktur organisasi, sebagai berikut:
1.      Bagang tanggung jawab, bagan organisasi, dan prosedur standar hendaknya ditulis dan diperinci serinci mungkin dengan mengingat tujuan umum, kemungkinan adanya reorganisasi di kemudian hari, dan menjamin kelangsungan karier personalianya.
2.      Apabila organisasi berkembang dan perlu penambahan tanggung jawab untuk personalianya, hendaknya didasarkan pada fungsi atau spesialisasi dari operasi.
3.      Pucuk pimpinan diberikan tanggung jawab untuk menetapkan kebijakan yang menyangkut keseluruhan kegiatan organisasi.
4.      Jika penetapan kebijakan ini di desentralisasikan, hendaknya dijelaskan batas-batasnya.
5.       Garis pertanggungjawaban hendaknya dirumuskan dengan jelas, sehingga terpisah dengan garis komando.
6.      Struktur hendaknya cukup luwes guna memberi kesempatan perubahan seandainya dikehendaki, namun agar menjamin kesuksesan organisasi, perlu ditetapkan garis-garis besar dan kode-kode yang fundamental. Hal ini untuk menjamin daya guna organisasi, walaupun ada reorganisasi.
7.      Tidak ada tipe organisasi tertentu yang dapat diterapkan untuk semua kepentingan, khususnya sejak dipertimbangkannya karakteristik individu, yaitu sejak personalia ditempatkan sebagai pusat kekuatan sedemikian rupa sehingga mampu memanfaatkan segala kekuatan personalianya, dan terhindar dari pengaruh yang merupakan kelemahan personalianya.


C.     Prinsip organisasi
Prinsip adalah suatu pernyataan dan suatu kebenaran yang pokok, yang memberikan suatu petunjuk kepada pemikiran dan tindakan.
Dalam suatu organisasi prinsip sangat diperlukan, terutama dapat dijadkan pedoman sehingga organisasi menjadi tumbuh dan berkembang. Prinsip organisasi yang dimasud adalah sebagai berikut.
1.      Organisasi dan tujuan
Prinsip ini menunjukan terdapatnya hubungan yang erat antara organisasi dan tujuan. Organisasi dirancang untuk mencapai tujuan.
2.      Esensi organisasi
p rinsip organisasi adalah tanggung jawab pengorganisasian maupun tanggung jawab pelaksanaan selalu bersifat individual. Tanggung jawab didelegasikan dari seseorang kepada orang lain.
3.      Tanggung jawab dan otoritas
Prinsip ini berarti bahwa otoritas harus seimbang dengan tanggung jawab, artinya seseorang yang diberi tanggung jawab harus juga dibri otiritas untuk melaksanakan tanggung jawab mereka.
4.      Spesialisasi untuk efisiensi
Organisasi yang efektif membagi tanggung jawab dalam bagian sehingga mengadakan spesialisasi dan menambah efisiensi dalam masing-masing bagian tersebut.
5.      Rentang kendali
Rentang kendali adalah tingkat pengendalian atau tingkat delegasi tanggung jawab. Prisip ini menganggap bahwa terdapat batas tertentu terhadap jumlah bawahan yang dapat dikelola oleh seorang manajer.
Selain prinsip yang telah dideskripsikan diatas terdapat sejumlah
prinsip yang dipandangnya bermanfaat mengelola organisasi. Prinsip tersebut memberikan pedoman untuk menyusun suatu sistem tugas atau otoritas yang saling berkaitas.
a.       Prinsip pembagian kerja
Dengan adanya spesialisasi, jumlah objek yang harus diperhatikan dan dikerjakan orang menjadi berkuran, dan memang spesialisasi sebagai cara yang paling baik untuk manfaat orang dan kelompok orang.
b.      Prinsip satu arah
Prinsip ini menjelaskan keharusan untuk menunjuk satu orang manajer untuk mengkoordinasikan aktivitas yang berkaita, tetapi tidak menjelaskan sama sekali jangkauan daari peran manajer.
c.       Prinsip sentralisasi
Pada setiap situasi terdapat keseimbangan optimum antara sentralisasi dan desentralisasi. Keseimbangan tersebut tidak dapat ditentukan tanpa memperhatikan kecakapan para manajer yang ditunjuk untuk mengoorganisasi departemen.
d.      Prinsip otoritas dan tanggung jawab
Perlu adanya kaitan antara tanggung jawab para manajer dan otoritas, kaitan yang diperlukan adalah kesamaan antar keduanya. Namun tidak ada cara yang mudah untuk menilai kaitan, khususnya apabila orang memeriksa tugas dari para manajer hierarki puncak.hal ini menambah rumitnya pekerjaan, dan menambah bayang bawahan yang terlibat, oleh karena itu, semakin bertambah sulit untuk mengisolasi bagian dan pelaksanaan otoritas yang pertama kalinya dalam hasil akhir dan menetapkan besarnya tanggung jawab manajer.


e.       Prinsip rantai komando
Rantai bertangga adalah jalan yang harus ditempuh oleh semua komunikasi vertikal dalam suatu organisasi. Sesuai dengan itu, semua komunitas yang hierarki yang paling rendah harus melewati setiap atasan dalam rantai komando.


D.    Proses organisasi
Dua aspek utama struktur organsasi adalah pembagian kerja dan departemen. Pembangunan kerja merupakan pemecah suatu tugas kerja sehingga setiap anggota dalam organisasi bertanggung jawab dan melaksanakan seperangkat aktivitas yang terbatas dan bukan keseluruhan tugas. Sedangkan departementalisasi adalah pengelompokan aktivitas pekerjaan sehingga aktivitas dan hubungan yang serupa dan logis dapat diselenggarakan secara serempak.
Tujuan utama dua aspek penting diatas adalah untuk mempermudah proses komunikasi, pengambilan keputusan, evaluasi hasil kerj, imbalan, sosialisasi, dan karier. Kelima aktivitas tersebut merupakan proses organisasi yang masing-masing akan dideskripsikan pada bagian berikut.
1.      Proses komunikasi
Komunikasi sangat penting karena para manajer dalam suatu organisasi jarang bekerja dengan menggunakan barang tetapi lebih sering menggunakan informasi mengenai barang itu.
Proses komunikasi dalam suatu organisasi harus memberi kemungkinan dalam empat arah yang berbeda, kebawah, keatas,horizontal, dan diagonal.
a.       Komunikasi kebawah
Komunikasi kebawah mengalir dari orang pada hierarki yang lebih tinggi ke jenjang yang lebih rendah. Misalnya, dalam bentuk instruksi,memo resmi, prosedur
b.      Komunikasi keatas
Komunikasi keatas mengalirdari orang pada hierarki yang lebih rendah ke jenjang lebih tinggi. Misalnya, dalam bentuk kotak saran, pertemuan kelompok, pengaduan.
c.       Komunikasi horizontal
Komunikasi horizontal sangar perlu bagi koordinasi dan integrasi dari beraneka ragam fungsi keorganisasian. Misalnya, komunikasi antara produksi dan pemasaran dalam organisasi bisnis atau antara berbagai macam departemen dan fakultas dalam sebuah universitas.
d.      Komunikasi diagonal
Komunikasi diagonal penting dalam situasi ketika para anggota tidak dapat berkomunikasi secara efektif melalui jalur lain. Misalnya, seorang penyelia finansial dari suatu oraganisasi besar mungkin ingin menyusun analisis biaya distribusi.
2.      Proses pengambilan keputusan
proses pengambilan keputusan adalah serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh seseorang dalam usaha memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi, kemudian menetapkan salah satu alteratif yang anggap paling rasional dan sesuai dengan sistem.
Pada permasalahan yang timbul jarang dengan hasil yang sangat tidak pasti, manajer perlu mempertimbangkan seluruh proses. Proses pengambilan keputusan yang dimaksud adalah
a.       Menetapkan tujuan dan sasaran khusus dan mengukur hasilnya
b.      Identifikasi permasalahan
c.       Mengembangkan alternatif
d.      Mengevaluasi alternatif
e.       Memilih alternatif
f.       Melaksanakan keputusan, dan
g.      Pengendalian dan penimbangan.

3.      Proses evaluasi hasil karya
Tujuan evaluasi hasil karya adalah untuk mencapai kesimpulan yang evaluatif atau yang memberi pertimbangan mengenai hasil karya dan untuk mengambangkan karya lewat program.
Di organisasi khususnya prusahaan besar yang berkembang di Amerika Serikat telah mengembangkan metode avaluasi hasil karya dengan lebih modern.
a.       Metode penilaian yang berjangkar pada perilaku(Behaviorally Anchored Rating Scales, BARS)
b.      Manajemen berdasarkan sasaran(Management by objective, MBO)
4.      Proses imbalan
Cara dan penetapan waktu pembagian imbalan merupakan permasalahan penting yang harus dihadapi oleh para manajer sehari-hari, imbalan yang dibagi oleh manajer meliputi upah, mutasi, promo, pujian, dang penghargaan. Imblan tersbut dapat juga membantu menciptakan suasana yang menimbulkan pekerjaan yang menantang dan memuaskan
Tujuan umum dari program imbalan
a.       Untuk menarik orang memenuhi syarat sehingga bersedia memasuki organisasi
b.      Menjaga supaya para bawahan datang ke pekerjaan
c.       Memotivasi para bawahan untuk bekerja lebih giat sehingga mencapai tingkat hasil karya lebih tinggi.
5.      Proses sosialisasi dan proses karier
Sosialisasi keorganisasian adalah proses yang dialami individu untuk menghargai nilai, kemampuan, perilaku, yang diharapkan, dan pengetahuan sosial yang diperlakukan untuk mengasumsikan peran keorganisasian dan untuk berpartisipasi sebagai anggota organisasi.
Proses sosialisasi berusaha agar orang mengartikan aktivitas yang memuaskan dirinya sebagai aktivitas yang menyebabkan hasil menjadi efektif, baik hasil karya kelompok maupun keorganisasian.
Proses sosialisasi meliputi tiga tahpan. Tiap tahap menyangkut aktivitas khusus yang apabila dilaksanakan dengan tepat akan meningkatkan kesempatan orang untuk memiliki karier yang efektif. Tahap sosialisasi yang dimaksud adalah sebagai berikut
a.       Sosialisasi persiapan
b.      Akomodasi
c.       Manajemen peran
BAB IV
PENUTUP

              A Kesimpulan
Disini dapat kita simpulkan bahwa Organisasi dapat di definisikan sebagai sekelompok orang yang saling berinteraksi dan bekerja sama untuk merealisasikan tujuan bersama.
Stoner dan Wankell (1986: 243) membatasi bahwa struktur organisasi adalah susunan dan hubungan antar bagian komponen dan posisi dalam suatu perkumpulan.
Prinsip adalah suatu pernyataan dan suatu kebenaran yang pokok, yang memberikan suatu petunjuk kepada pemikiran dan tindakan.
Dua aspek utama struktur organsasi adalah pembagian kerja dan departemen. Pembangunan kerja merupakan pemecah suatu tugas kerja sehingga setiap anggota dalam organisasi bertanggung jawab dan melaksanakan seperangkat aktivitas yang terbatas dan bukan keseluruhan tugas

B.     Kritik dan Saran
Mengingat pentingnya pengorganisasian maka perlu kiranya masalah ini diperhatikan dan dipahami sebaik-baiknya. Setelah mamahami pengorganisasian maka sebaiknya diterapkan dalam bentuk actual di lapangan. Dan untuk para pemimpin  sebaiknya harus mengetahui semua hal yang menyangkut tentang organisasi baik secara individu maupun kelompok.
Agar suatu organisasi berhasil para anggota harus saling bekerjasama dengan baik dan menjaga kebersamaan agar apabila terjadi masalah dapat diselesaikan dengan baik-baik tanpa jarus mengganggu proses organisasi.



[1] Devi Yulianti. . 2015. Desain struktur organisasi efektif untuk mencapai tujuan organisasi
. https://jurnal.uns.ac.id/spirit-publik/article/download/900/870 di akses pada tanggal 23 desember 2018
[2] Devi Yulianti., 2015. Desain struktur organisasi efektif untuk mencapai tujuan organisasi.
[3]Fianda Gammahendra , 2014. Pengaruh Struktur Organisasi terhadap Efektivitas Orgnisasi. https://media.neliti.com/media/publications/78826-ID-pengaruh-struktur-organisasi-terhadap-ef.pdf di akses pada tanggal 24 desember 2018

MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...