Rabu, 27 Maret 2019

Makalah Riwayat Hidup Ibnu Bajjah


Makalah Riwayat Hidup Ibnu Bajjah

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Riwayat Hidup Ibnu Bajjah
Abu Bakar Muhammad Ibnu Yahya Ibnu Bajjah lahir di Saragossah pada perempatan akhir abad V H, dan wafat di Fez (Maroko) pada tahun 533 H / 1138 M. Meskipun tidak diketahui secara jelas masa kecil dan remajanya, para ahli menduga bahwa ia berhasil mematangkan dirinya dengan pengetahuan di kota kelahirannya. Ibnu Bajjah tidak melulu menekuni ilmu dan falsafat, tetapi juga terlibat politik, khusus nya sejak di angkat menjadi wazir di Saragossah oleh penguasa Abu Bakr Assah-Rowi yang berasa dikekuasaan daulah Murabithun. Setelah kota itu direbut oleh Raja Alfonso dan Arragon pada tahun 512 H / 1118 M, Ibnu Bajjah pindah ke Kota Seville dan bekerja di sana sebagai Dokter. Dari Seville, ia bertolak ke Granada, dan kemudian ke Maroka. Karena dituduh zindik (kafir) atau bid’ah oleh kalangan ulama, ia dipenjara di syathibah. Setelah bebas, ia berhubungan lagi dengan penguasa tertinggi daulah Murabithun, di Fez, dan diangkat sebagai wazir. Setelah memegang jabatan selama 20 tahun, Ibnu Bajjah wafat dan dimakamkan di Fez dalam suasana kekacauan (chaos) di daulah murabithun. Kondisi masyarakat Baeber yang belum bisa berfikir filoshofis tersebut, menyebabkan ia melanjutkannnya ke Frez di Maroko. disini ia masih dapat melanjutkan kariernya sebagai ilmuan dibawah perlindungan penguasa Murabithun yang ad disana. bahkan, hubungannya debngan pihak penguasa istana berjalan baik, sehingga ia diangkat sebgai menteri oleh Abu Bakar Yahya Bin Yusuf Ibn Tasifin untuk waktu yang lama. Akirnya ia meninggal pada tahun 533 H (1138 M) di Frez dan dimakamkan disamping ibn arabi. Menurut riwayat ia meninggal karena diracun oleh seorang dokter bernama  abu al-ala  ibn zuhri yang iri hati terhadap kecerdasan ,ilmu dan ketenarannya.[1]

Karena keterlibatannya di bidang politik, Ibnu Bajjah tidak seproduktif filsuf lainnya. Beberapa karya tulisnya berkenaan dengan logika, jiwa, etika, astronomi, kedoktoran dan lain sebagainya. Karya tulisnya antara lain Risalah Al-wada’ yang berisi uraiaan tentang penggerak pertama dan tujuan sesungguhnya dari wujud alam dan manusia, dan Tadbir Al-mutawahid tentang penataan diri mutahid (sang pribadi unik).

B.     Pemikiran Filsafat Ibnu Bajjah
Biografi Ibnu Bajjah adalah seorang tokoh pertama  dalam sejarah filsafat Arab Spanyol. Dalam sumber latin, ia dinamai Avempace. Nama Lengkapnya Abu bakar Muhammad Bakar Bin Yahya Bin Asy-sa’ikh At Tujubi Al-Andalusi As –saraqusti. karena berasal dari keluarga at-tujubi, ia juga biasa disebut at-Tujibi yang beerja sebagai pedagang emas (Bajjah /Emas). ia dibesarkan dan merampugkan pendidikannnya di Zaragoza.[2]
Selain sebagai filsuf, Ibnu Bajjah dikenal sebagai penyair, komponis, bahkan sewaktu Saragossa berada dibawah kekuasaan Abu Bakar Bin Ibnu Ibrahim Al-Sharawi (terkenal sebagai Ibnu Tufalwit) dari Daulah l-Nurhabirthun.namun pada tahun 512 H, Saragossa jatuh ketangan Raja Alfanso I Dari Arogan Bin Bajjah terpaksa pindh ke Sevila . dikota ini ia bekerja sebagai dokter, kemudian ia pindah ke Granadia ,dari sana ia pindah ke Afrika Utara, pusat dinasti murabithun. Malang bagi Ibnu Bajjah, ketika dikota Syatibah ia ditangap oleh Amir Abu Ishak Ibrahim Bin Yusuf Ibn Tasifin yang mnuduhnya sebagai murtad dan membawa bid’ah. hal tersebut disebabkan pikiran-pikiran filsafatnya yang asing bagi masyarakat islam di Maghribi yang sangat kental dengan faham sunni artodoks. atas jasa Ibnu  Rusyd yang pernah menjadi muridnya, Ibnu Bajjah dilepaskan.
C.    Karya -Karya Ibnu Bajjah
Diantara karya Ibnu Bajjah yang terpenting adalah sebagai berikut .
a)      Risalah Al-Wada’ berisi tentang penggerak pertama bagi wujud manusia, alam, serta beberapa uraian mengenai kedokteran.
b)      Risalah Tadbir Al-Mutawahhid (tingkah laku sang penyendiri ),yang sampai sekarang dikenal melalui slinan salmon munk dari terjemahan bahasa ibrani ,tetapi dicetak oleh asin dari perpustakaan bodleian dan kitab ini mirip dengan kitab Al-Farabi, Al-Madinah Al-Fadhilah. hanya ia yang lebih menekankan kehidupan individu dalam masyarakat, yang disebut Mutawahid. Pemikiran filsfatnya terbuat dalam kitab ini.
c)      Kitab Al-Nafs, berisi keteangan mnegenai kegemaran Ibnu Bajjah, pemusatan dalam batas kemungkinan persatuan jiwa manusia dengan tuhan, sebagai aktivitas manusia yang tertinggi dan kebahagiaan yang tertinggi, yang merupakan tujuan akhir dari  wujud manusia .
d)     Rishalah Al-Ittishal Al-Aql Bi Al-Insan (perhubungan akal dengan manusia ),berisi uraian tentang pertemuan manusia dengan akal fa’al .
e)      Komentar terhadap logika Al-Farabi, sampai sekarang masih tersimpan diperpustakaan Escuuria (spanyol).
f)        Beberapa ulasan terhadap buku –buku filsafat, antar lain dari Aristoteles, Al-Farabi porphiyrius .menurut carra di perpustakaan berlin ada 24 risalah manuskrift karangan Bajjah, diantaranya tadiyyah.
g)      Kitab Al-Nabat
h)      Risalah Al-ghayah Al-insaniyyah

D.    Filsuf dan Nabi
Menurut Ibnu Bajjah, filsuf adalah manusia mulia karena selalu condong kepada kebaikan (al-hanafiyah al-samhah). Bila tujuan dari segala perbuatan telah tercapai, yakni tatkala memahami wujud-waujud ruhaniah berupa akal-akal sederhana dengansegala ide rasional yag melekat didalamnya, maka seorang filsuf akan menjadi bagian dari akal- akal tersebut dan layak dusebut wujud bersifat ilahi.[3]
E. Filsafat Ibnu Bajjah
Filsafat Ibnu Bajjah banyak terpengaruh oleh pemikiran islam dari kawasan ditimur, seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina. Hal ini disebabkan kawasan islam ditimur lebih dahulu melakukan penelitian ilmiah dan kajian filsafat dari kawasan islam di barat (andalusia).untuk lebih jelasnya,dibawah ini kita akan menelusuri pemikiran filasafatnya.
1)      Metafisika (Ketuhanan)
Menurut Ibnu Bajjah, segala yang ada (al-maujudat) terbagi dua : yang bergerak dan tidak bergerak. Yang bergerak adalah jisim (materi) yang sifatnya finite (terbatas). Gerak terjadi dari perbuatan yang menggerakan terhadap yang digerakkan. Gerakan ini di gerakan pula lh gerakan yang lain, yang akhir rentetan gerakan ini digerakkan oleh penggerak yang tidakbergerak. Dalam arti penggerak yang tidak berubah yang berbeda dengan jisim (materi). Penggerak ini bersifat azali. Gerak jisim mustahil timbul dari substansinya sendiri sebab ia terbatas. Oleh karena itu, gerakan ini mesti berasal dari gerakan yang infinite (tidak terbatas), yang oleh ibnu bajjah disebut dengan ‘Aql.

2)      Materi dan Bentuk
Bentuk, menurut Ibnu Bajjah, bertingkat-tingkat. Tingkat yang paling rendah adalah bentuk materi pertama dan yang paling tinggi adalah bentuk akal pemisah (Al-‘aql Al-mufariq). Dari bentuk yang paling rendah sampai pada waktu yang paling tinggi terjalin seperti mata rantai. Jiwa seperti ini dapat berhubungan dngan akal aktif.
Setiap materi menurut Ibnu Bajjah, mempunyai tiga bentuk, bentuk rohani umum atau bentuk intelekual, bentuk rohani khusus dan bentuk fisik.[4]
Jenis bentuk yang pertama memiliki satu hubungan, yakni hubungan dengan yang menerima. Jenis bentuk kedua (khusus) mempunyai dua hubungan, satu hubngan khusus dengan yang berakal sehat, yang satu lagi hubungan umum dengan yang terasa. Jenis bentuk yang ketiga ialah bentuk yang bereksistensi pada materi. Contoh : kita ingat bentuk Ka’bah . bentuk Ka’bah yang kita ingat sama dengan bentuk Ka’bah yang kita ingat yang nyata. Kalau Ka’bah tersebut berada di depat mata, ini dinamakan bentuk Rohani umum. Bentuk ini juga mempunyai hubungan dengan wujud umum yang terasa sebab banyak orang yang melihat Ka’bah, ini dinamakan bentuk khusus. Sedangkan bentuk fisik, yaitu Ka’bah itu benar.



3)      Jiwa
Menurut pendapat Ibnu Bajjah, setiap manusia mempunyai satu jiwa. Jiwa ini tidak mengalami perubahan sebagaimana jasmani. Jiwa adalah penggerak bagi manusia. Jiwa di gerakkan dengan dua jenis alat : alat-alat jasmaniah dan alat-alat rohaniah. Alat-alat jasmaniah diantaranya ada berupa perbuatan dan ada pula yang berupa alamiah, seperti kaki dan tangan.
Jiwa menurut Ibnu Bajjah, adalah jauhar rohani, akan kekal setelah mati. Diakhirat jiwalah yang akan menerima pembalasan, baik balasan kesenangan (syurga) maupun balasan siksaan (neraka). Akal, daya berfikir bagi jiwa, adalah suatu bagi setiap orang yang berakal. Ia dapat bersatu dengan akal Fa’al yang diatas nya dengan jalan ma’rifa filsafat. Filsafat Ibnu Bajjah tentang jiwa pada prinsipnya di dasarkan pada Filsafat Al-Farabi Dan Ibnu Sina.

4)      Akal dan Ma’rifah
Ibnu Bajjah menempatkan akal dalam posisi yang sangat penting. Dengan perantara akal, manusia dapat mengetahui segala sesuatu, termasuk dalam mencapai kebahagian dan masalah Illahiat.
Menurut Ibnu Bajjah manusia dapat mencapai puncak ma’rifah dengan akal semata, bukan dengn jalan sufi malalui al-qalb, atau al-zau. Manusia kata ibnu Bajjah, setelah bersih dari sifat kerendahan dan keburukan masyarakat akan dapat bersatu dengan Akal Aktif dan ketika itulah ia akan memperoleh puncak Ma’rifah karena limpahan dari Allah.

5)      Akhlak
Ibnu Bajjah membagi membagi perbuatan manusia menjadi perbuatan hewani dan manusiawi. Perbuatan hewani didasarkan atas dorongan naluri untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan keinginan hawa nafsu. Sementara itu perbuatan manusiawi adalah perbuatan yang didasarkan atas pertimbangan rasio dan kemauan yang bersih lagi luhur. Padandangan ibnu Bajjah sejalan dengan ajaran islam, yang juga mendasarkan perbuatan pada motivasi pelakunya.[5]




Secara ringkas Ibnu Bajjah membagi tujuan perbuatan manusia menjadi tiga tingkatan sebagai berikut :
a)      Tujuan Jasmaniah, dilakukan atas dasar kepuasan jasmaniah semata. Pada tujuan ini manusia sama derajatnya dengan hewan.
b)      Tujuan rohani khusus, dilakukan atas dasar kepuasan rohaniah. Tujuan ini akan melahirkan keutamaan akhlaqiah dan aqliyah.
c)      Tujuan rohaniah umum (rasio), dilakukan atas dasar kepuasan pemikiran untuk dapat berhubungan dengan Allah. Inilah tingkat manusia yang sempurna dan taraf inilah yang ingin dicapai manusia penyendiri Ibnu Bajjah.


6)      Politik
Pandangan politik Ibnu Bajjah dipengaruhi oleh pandangan politik Al-Farabi, sebagaimana Al-Farabi, dalam buku Ara’ Ahl al-Madinat al-Fadhilat, ia (Ibnu Bajjah) juga membagi negara menjadi negara utama (al-madinat al-Fadhilat) atau sempurna dan negara yang tidak sempurna.
Warga negara utama, menurut Ibnu Bajjah, merea tidak lagi memerlukan dokter dan hakim. Sebab mereka hidup dalam keadaan puasterhadap segala rezeki yng diberikan Allah, yang dalam istilah agama disebut dengan Al-qana’ah. Mereka tidak mau memakan makanan yang akan merusak kesehatan. Mereka juga hidup saling mengasihi, saling menyayangi, dan saling menghormati. Oleh karena itu, tidaklah akan ditemukan perselisihan antara mereka. Mereka seluruhnya mengerti undang-undang negara dan mereka tidak mau melanggarnya.[6]





7)      Manusia Penyendiri
Filsafat Ibnu Bajjah yang paling populer ialah manusia peyendiri (al-ihsan al-munfarid). Pemikiran ini termuat dalam magnum opum-nya Kitab Tadbir-Mutawahhid. Sebagaimana Al-Farabi, pembicaraan Ibnu Bajjah tentang hal ini erat kaitannya dengan politik dan akhlak.
Lafal tadbir ialah mengatur perbuatan-perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan, dengan kata lain, aturan yang sempurna. Hanya dapat dilakukan oleh manusi melalui perantara akal dan juga ikhtiar hal ini lah yang membedakan manusia dari makhluk hewan.
            Adapun yang dimaksud dengan Al-Mutawwahid ialah manusia penyendiri. Dengan kata lain, seseorang mengasingkan diri masing-masing secara sendiri-sendiri, tidak berhubungan dengan orang lain. Perlu dijelaskan bahwa manusia penyendiri (‘uzlah) yang dikemukakan Ibnu Bajjah adalah ‘uzlah aqliyyah berbeda dengan ‘uzlah sufi yng dikmukkan Al-Ghazali. Manusia penyendiri Ibnu Bajjah ialah seorang filososf hidup pada suatu negara yang tidak sempurna, mereka harus mengasingkan diri dari sikap dan perbuatan-perbuatan masyarakat yang tidak baik dan tidak akan mencapai akal Mustafad, yakni akal yang dapat berhubungan dengan akal Fa’al. Itulah sebabnya Ibnu Bajjah menyamakan manusia penyendiri bagaikan tumbuhan. Jika ia tidak menyendiri dalam menghadapi kondisi seperti itu, ia akan layu, artinya pemikiran filsafatnya mangalami kemuduran. Jika ini terjadi, filosof dimaksud tidak akan pernah mencapai kebahagiaan (sa’adah).[7]


DAFTAR PUSTAKA
Zar, Sirajuddin. 2014.  Filsafat Islam. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada.
Ismail. 2013. Filsafat Islam (Tokoh Dan Pemikirannya). Bogor: Percetakan IPB.
Drajat, Amroeni. 2006.  Filsafat Islam. Jakarta : PT Gelora Aksara Pratama.



[1] Ismail. Filsafat Islam (Tokoh Dan Pemikirannya). Bogor: Percetakan IPB, hlm 59

[2] Sirajuddin zar. Filsafat islam. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, hlm 197
[3] Drajat, Amroeni. Filsafat Islam. Jakarta : PT  Gelora Aksara Pratama, hlm 66.
[4] Sirajuddin zar. Filsafat islam. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, hlm 197-200
[5] Sirajuddin zar. Filsafat islam. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, hlm 200-202
[6] Sirajuddin zar. Filsafat islam. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, hlm 204
[7] Sirajuddin zar. Filsafat islam. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, hlm 205

Selasa, 26 Maret 2019

LINGUISTICS FORMS AND FUNCTIONS


CHAPTER I: LINGUISTICS FORMS AND FUNCTIONS

A.    The functions of language
The analysis of discourse is, necessarily, the analysis of language in use. As such, it cannot be restricted to the description of linguistic forms independent of the purposes or functions which those forms are designed to serve in human affairs. While some linguists may concentrate on determining the formal properties of a language, the discourse analyst is committed to an investigation of what that language is used for. While the formal approach has a long tradition, manifested in innumerable volumes of grammar, the functional approach is less well documented. Attempts to provide even a general set of labels for the principal functions of language have resulted in vague, and often confusing, terminology. We will adopt only two terms to describe the major functions of language and emphasise that this division is an analytic convenience. It would be unlikely that, on any occasion, a natural language utterance would be used to fulfil only one function, to the total exclusion of the other. That function which language serves in the expression of ‘content’ we will describe as transactional, and that function involved in expressing social relations and personal attitudes we will describe as interactional. Our distinction, ‘transactional / interactional’, stands in general correspondence to the functional dichotomies – ‘representative / expressive’, found in Bühler (1934), ‘referential / emotive’ (Jakobson, 1960), ‘ideational / interpersonal’ (Halliday, 1970b) and ‘descriptive / social-expressive’ (Lyons, 1977).
Within discourse analysis it is often the case that the functions of linguistic items in both spoken and written text are not predictable simply from a consideration of their forms. Chaudron (1988: 39) states that although many verbal behaviours can be quickly and confidently identified, there are “frequently finer nuances of meaning and tacit rules of discourse implicit in even the simplest expression…” This can result in the conversion of linguistic items from one function to another relative to the overall proceedings of the discourse. Nunan (1991: 42) adds that in terms of the discourse we are engaged in, “predictability will depend on whether the discourse or text type contain predictable patterns, and also the extent to which we are familiar with these patterns…” Therefore, the contextual environment in which items appear in either a descriptive, expressive or social role has to be considered in order for their function to be accurately evaluated. A detailed summary of the approaches to the analysis of discourse on this issue appears below. In addition, a review of a spoken text in which linguistic items whose functions are not predictable merely from their forms is highlighted. It will be argued that much of the text under examination involves dialogue that is discourse internal and largely interpretable only with reference to the background information the speakers share or from a close evaluation of tone choices each make. In many cases utterances are made under circumstances where the respondent assumes certain background knowledge already ‘in play’ in the discourse that an uninitiated listener might have difficulty interpreting. For a complete version of the transcripts under discussion.
B. Spoken and Written Language
Spoken language is a vast subject, and little is known in hard statistical terms of the distribution of different types of speech in people’s everyday lives. If we list at random a number of different types of speech and consider how much of each day or weak we spend engaged in each one, we can only roughly guess at some sort of frequency ranking other than to say that casual conversation is almost certainly the most frequent for most people. The rest will depend on our daily occupation and what sorts of contacts we have with others. Some different types of speech might be:
1.      Telephone calls (business or private)
2.      Service counters (shops, tickets, offices)
3.      Interviews (jobs, journalistic in official setting etc.)
Advantage of Spoken Language:
1.      Spoken language takes in some context of situation and hence is supported by extra-linguistic elements including all in the surrounding.
2.      In a face to face interaction, the interlocutor can reformulate his/her language according to the situation or taking into consideration the reaction shown by the other interlocutor.
3.      While speaking, the speaker has available to him/her the full range of ‘voice quality’ efforts as well as paralinguistic expressions.
4.      In a conversation, non-linguistic events naturally contribute to spoken language and make it lively.
5.      Spoken language is only interactional.
6.      Finally, spoken language contains interactive markers and planning ‘filers’ and thus makes communication effective.

Disadvantage of Spoken Language:
1.      It does not maintain strict grammatical rules. So, grammatical mistakes are occurred often.
2.      It is devoid of the transactional function of the language.
3.      Spoken language cannot express emotions, sentiments and feelings.
4.      Spoken language cannot be checked, changed or reformulated if it is once uttered.
5.      It is the primary form of language. So, it is non-visible and it has no written document to prove.
6.      Spoken language is less planned rather than written language. So it would be affected on listeners if it is badly uttered.
Written language is the secondary form of a language. It is visible, written or printed and hence more permanent. Features of Written Language are:
1.      Written language is more structured.
2.      In written language, heavily pre-modified noun phrases are quite common, for example-a man who turned into a human torch ten days ago after snoozing in his locked car while smoking has pipe has died in hospital
3.      Written language sentences are generally structured in subject.
4.      The use of passive is found in written language.
5.      In written language, vocabulary for example-a lot of; thing, nice, do, stuff etc. is not taken generally.
6.      In written language, the some syntactic form is not repeated.
Advantage of Written Language:
1.      Written language is the secondary form of language.
2.      As written language is strictly governed by grammatical rules, non-native users are usually more aware of the rules of written language.
3.      We can express our feelings, ideas, emotions, sentiments, and so forth more freely in spoken language because the reader cannot show direct and immediate reaction.
4.      It may be checked, changed or reformulated if necessary grammatically and pragmatically.
5.      It performs both transactional and interactional functions of language.

Disadvantage of Written Language:
1.      It fails to establish and maintain direct role of relationships with the reader.
2.      In written language there is no proximity between the writer and reader.
3.      Written language does not take place in some context of situations. So it is not supported by extra linguistics elements including all is the surrounded.
4.      Written language does not contain interactive markers and planning filler and thus makes the communication less effective.
5.      It misses the para-linguistic expression and immediate reaction of the situation. So its effect is slow.
C. Sentence and Utterance
 Main difference between sentence and utterance is that the sentence coveys a complete meaning, either spoken or written, whereas utterance usually does not necessarily convey a complete meaning. Communication is the only way two human beings can interact and share their thoughts and sentiments with each other. There are two major means of communication as verbal and non-verbal communication. Sentences, therefore, belong to both verbal and non-verbal types of communication since they can either be spoken or written. Yet an utterance is typically a sound or incomplete spoken group of words that belong to the verbal type of communication.
A sentence is a group of words that conveys a complete meaning or thought. A sentence at least contains a subject and verb that highlights that a sentence conveys a complete meaning because it is a combination of words. For example, when we say ‘she left,’ even though it has just the subject and verb it conveys a meaning. However, sentences are not always simple in structure. There are a number of categories in sentences such as simple sentences, compound sentences, complex sentences, and also compound-complex sentences. Here are some examples that will highlight the nature of different types of sentences.
The word utterance can simply be understood as a unit of speech. Utterance can be defined as a part of speech between pauses and silence. This usually applies to spoken language and not for written language. This feature can be considered as a difference that exists between a sentence and an utterance. An utterance can be a single word, a group of words, a clause or even a complete sentence. Let us try to understand this a bit further. Unlike in written language, in spoken language, there are more pauses and silence.
REFERENCES
1983. Discourse Analysis. Cambridge: Cambridge University Press
Introduction Linguistics Forms and Function. Accessed on 25 March 2019 from https://www.cambridge.org/core/books/discourse-analysis/introduction-linguistic-forms-and-functions/BF9737B0F33BDD66847A84470EB3BAE8
Difference between Sentence and Utterance. Accessed on 25 March 2019 from http://pediaa.com/difference-between-sentence-and-utterance/
Difference between Sentence and Utterance. Accessed on 25 March 2019 from https://keydifferences.com/difference-between-rules-and-regulations.html
Language Forms and Functions. Accessed on 25 March 2019 http://www.englicious.org/lesson/form-and-function

INSTRUMEN OBSERVASI AKTIVITAS SISWA DI KELAS


INSTRUMEN OBSERVASI
AKTIVITAS SISWA DI KELAS

Sekolah                                   :
Kelas                                       :
Jam Ke                                    :
Mata Pelajaran                        :
Pokok Bahasan/ topik :
Praktikan (NIM)                     :
Hari, Tanggal              :

PETUNJUK:
1.      Amati aktivitas di kelas dalam melaksanakan interaksi belajar mengajar.
2.      Tuliskan tanda cek (ü) pada kolom YA atau TIDAK sesuai dengan keadaan yang anda amati.

No
BUTUR-BUTIR SARAN
YA
TIDAK
1.
Siswa siap mengikuti proses pembelajaran


2.
Siswa mempelajari penjelasan guru/ praktikan


3.
Siswa menanggapi pembahasan pelajaran


4.
Siswa mencatat hak-hal penting


5.
Siswa mengerjakan tugas dengan baik


6.



7.



8.



9.



10.







MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...