Senin, 08 April 2019

Makalah Pendekatan Dalam Kurikulum


Pendekatan Dalam Kurikulum



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Kurikulum sebagai suatu rancangan dalam pendidikan memiliki posisi yang strategis, karena seluruh kegiatan pendidikan bermuara kepada kurikulum. Begitu pentingnya kurikulum sebagaimana sentra kegiatan pendidikan, maka didalam penyusunannya memerlukan landasan atau fondasi yang kuat, melalui pemikiran dan penelitian secara mendalam.
Dan pada dasarnya kurikulum merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa pendekatan-pendekatan pengembangan kurikulum, komponen-komponen kurikulum, serta struktur kurikulum. Suatu lembaga pendidikan dapat diidentifikasi dengan cara mengkaji buku kurikulum lembaga pendidikan itu. Dari buku kurikulum tersebut kita dapat mengetahui fungsi suatu komponen kurikulum terhadap komponen-komponen kurikulum yang lain. Melihat bahwa sangat pentingnya komponen-komponen dalam kurikulum maka pemakalah mengambil tema “pendekatan, komponen dan struktur kurikulum”

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja pendekatan dalam pengembangan kurikulum?
2.      Apa saja komponen-kopmponen kurikulum?
3.      Apa saja struktur dalam kurikulum?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui pendekatan-pendekatan dalam pengembangan kurikulum.
2.      Untuk mengetahui komponen-komponen kurikulum.
3.      Untuk mengetahui struktur dalam kurikulum.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pendekatan Dalam Kurikulum
Pendekatan lebih menekankan pada usaha dan penerapan langkah-langkah atau cara kerja dengan menerapkan suatu strategi dan beberapa metode yang tepat, yang dijalankan sesuai dengan langkah-langkah yang sistematik untuk memperoleh hasil kerja yang lebih baik. Kurikulum merupakan rencana dan pengaturan mengenai bahan pelajaran yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Caswell mengartikan pengembangan kurikulum sebagai alat untuk membantu guru melakukan tugas mengerjakan bahan, menarik minat murid dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan uraian diatas maka pendekatan pengembangan kurikulum adalah usaha dan langkah-langkah menerapkan strategi dan beberapa metode yang tepat dengan mengikuti prosedur pengembangan yang sistematis untuk menghasilkan kurikulum yang lebih baik. Berikut macam-macam pendekatan dalam pengembangan kurikulum, antara lain sebagai berikut.
1.      Pendekatan Bidang Studi (Pendekatan Subjek atau Disiplin Ilmu)
Pada pendekatan subjek akademik menggunakan bidang studi atau mata pelajaran sebagai dasar organisasi kurikulum, misalnya matematika, sains, sejarah, geografi, IPA dan IPS dan sebagainya seperti yang lazim didapati dalam sistem pendidikan sekarang ini di semua sekolah dan perguruan tinggi. Prioritas pendekatan ini adalah mengutamakan sifat perencanaan program dan juga mengutamakan penguasaan bahan dan proses dalam disiplin ilmu tertentu.[1] Kurikulum subjek akademik tidak berarti hanya menekankan pada materi yang disampaikan, dalam perkembangannya berangsur-angsur memperhatikan proses belajar yang dilakukan siswa.
Dalam pendekatan subjek akademik memiliki tujuan untuk pemberian pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan ide-ide dan proses penelitian. Siswa harus belajar menggunakan pemikiran, sehingga diharapkan siswa mempunyai konsep dan cara yang terus dapat dikembangkan dalam masyarakat yang luas. Metode yang digunakan dalam pendekatan akademik adalah pendekatan metodeekspositori dan inkuri. Ide-ide diberikan guru kemudian dielaborasi siswa sampai mereka kuasai. Konsep utama disusun dengan sistematis dan diberi ilustrasi yang jelas untuk selanjutnya dikaji, diharapkan siswa akan menjadi lebih mengerti tentang materi dan bisa mengkaji materi juga menemukan solusi atas problematikanya sendiri.
2.      Pendekatan Interdisipliner
Pendekatan interdispliner dibagi menjadi beberapa dalam pengembangan kurikulum, yaitu sebagai berikut:[2]
a.      Pendekatan Broad-Field
Pendekatan ini berusaha mengintregasikan beberapa disiplin atau mata pelajaran yang saling berkaitan agar siswa memahami ilmu pengetahuan tidak berada dalam vakum atau kehampaan akan tetapi merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Misalnya banyak sekolah mengajarkan IPS dengan membicarakan “lingkungan rumah” atau “ orang yang berjasa di rumah”. Untuk itu guru menyiapkan suatu unit yang antara lain dapat membicarakan letak rumah (dibuat peta), ibu yang tiap hari mengurus rumah tangga, kakak membantu membersihkan rumah, pendapatan tukang sayur, tukang koran yang mengantarkan koran tiap pagi, biaya rumah tangga tiap hari, dan lain-lain.
Dalam pelajaran itu telah dilibatkan berbagai disiplin ilmu seperti geografi (lokasi rumah), ekonomi (biaya rumah tangga), sosial (saling membantu dalam lingkungan keluarga).
Pendekatan Broad-Field pada hakekatnya adalah penyatuan beberapa mata pelajaran yang sejenis, seperti IPA (didalamnya tergabung ada fisika, biologi dan kimia) dan IPS. Kurikulum bentuk ini sebagai upaya penggabungan dari mata pelajaran-mata pelajaran yang terpisah-pisah dengan maksud untuk mengurangi kekurangan yang terdapat dalam bentuk mata pelajaran. Korelasi kurikulum merupakan penggabungan dari mata pelajaran yang sejenis secara insidental.
Dari bahan kurikulum yang terlepas-lepas diupayakan disatukan dengan bahan kurikulum atau mata pelajaran yang sejenis sehingga dapat memperkaya wawasan siswa dari berbagai disiplin ilmu. Tetapi kenyataan di lapangan atau di sekolah terbukti bahwa guru-guru masih berpegang pada latar belakang pendidikannya. Seumpamanya seorang guru sejarah mengajarkan bidang studi IPS, tetapi dalam pelaksanaan nya masih mengutamakan pelajaran sejarahnya daripada substansi IPS itu sendiri.
Bahan pelajaran dalam kurikulum ini memungkinkan substansi pelajarannya memiliki pengertian-pengertian yang lebih mendalam dibanding dengan mata pelajaran yang terpisah-pisah. Dalam korelasi kurikulum masih memungkinkan guru akan lebih banyak memberikan substansi prinsip-prinsip dan generalisasi, sehingga guru dapat menyampaikan materi atau membimbing siswa untuk mempelajari bahan pelajaran secara utuh (dalam lingkup bord field) dan dapat meningkatkan daya tarik siswa terhadap pelajaran tersebut.
b.      Pendekatan Kurikulum Inti (core curriculum)
Kurikulum ini banyak persamaannya dengan broad-field, karena juga menggabungkan berbagai disiplin ilmu. Kurikulum diberikan berdasarkan suatu masalah sosial atau personal. Untuk memecahkan masalah itu digunakan bahan dari berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan masalah ituKurikulum ini merupakan bagian dari kurikulum terpadu (integrated curriculum). Beberapa karakteristik yang dapat dikaji dalam kurikulum ini adalah:
1)      Kurikulum ini direncanakan secara berkelanjutan (continue) selalu berkaitan dan direncanakan secara terus-menerus.
2)      Isi kurikulum yang dikembangkan merupakan rangkaian dari pengalaman yang saling berkaitan.
3)       Isi kurikulum selalu mengambil atas dasar masalah maupun problema yang dihadapi secara aktual.
4)      Isi kurikululm cenderung mengambil atau mengangkat substansi yang bersifat pribadi maupun sosial.
5)      Isi kurikulum ini lebih difokuskan berlaku untuk semua siswa, sehingga kurikulum ini sebagai kurikulum umum tetapi substansinya bersifat problema, pribadi, sosial dan pengalaman yang terpadu.
Kurikulum ini selalu menggunakan bahan-bahan dari berbagai mata pelajaran atau disiplin ilmu guna menjawab atau menyelesaikan permasalahan yang dihadapi atau yang dipelajari siswa. Tidak menutup kemungkinan bahwa aspek lingkungan pun menjadi bahan yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum ini. Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa core curriculum adalah bagian dari kurikulum terintegrasi atau kurikulum terpadu, sehingga program pembelajaran untuk kurikulum ini harus dikembangkan secara bersama-sama antara guru dengan siswa. Dalam prosesnya, kurikulum terpadu perlu didukung oleh kemampuan guru dalam mengelola waktu dan kegiatan sehingga aktivitas dan substansi materi yang dipelajari siswa menjadi lebih efektif, efisien dan bermakna.
c.       Pendekatan Kurikulum Inti di Perguruan Tinggi
Istilah inti (core) juga digunakan dalam kurikulum perguruan tinggi. Dengan “core” dimaksud pengetahuan inti/pokok yang diambil dari semua disiplin ilmu yang esensial mengenai kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang dianggap layak dimiliki oleh tiap orang terdidik dan terpelajar.
d.      Pendekatan Kurikulum Fusi
Kurikulum ini men-fusi-kan atau menyatukan dua atau lebih disiplin tradisional menjadi studi baru misalnya: geografi + botani + arkeologi menjadi earth sciences. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sering memaksa diadakannya fusi antara beberapa disiplin tradisional, misalnya:
biologi + fisika      => biofisika
biologi + kimia      => biokimia atau biogenetika
Semua pendekatan interdisipliner ini mempunyai tujuan yang sama, yakni agar mengajar-belajar lebih relevan dan bermakna serta lebih mudah dipahami dalam konteks kehidupan kita.


3.    Pendekatan Kompetensi
Pendekatan kompetensi merupakan pendekatan pengembangan kurikulum yang memfokuskan pada penguasaan kompetensi tertentu berdasarkan tahap-tahap perkembangan peserta didik. Peserta didik berada dalam proses perkembangan yang berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian, sebagai pemekaran terhadap potensi-potensi bawaan sesuai dengan kesempatan belajar yang ada dan diberikan oleh lingkungan. Setiap tahap perkembangan memiliki sejumlah potensi bawaan yang dapat dikembangkan, tetapi pemekarannya sangat tergantung pada kesempatan yang ada dan kondisi lingkungannyaAdapun tujuan pendekatan kompetensi adalah penjaringan dan pengelolaan informasi dengan imbal balik secara teratur untuk melakukan perbaikan secara berkesinambungan sehingga kurikulum memiliki mekanisme untuk memperbaiki diri, baik dari tingkat lembaga maupun tingkat nasional. Sedangkan metode yang digunakan diantaranya, yaitu: mengidentifikasi kompetensi, merumuskan tujuan pendidikan, menyusun pengalaman belajar, menetapkan topik dan subtopik, menetapkan waktu, mengalokasikan waktu,nama mata pelajaran.
4.      Pendekatan Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme berasal dari bahasa inggris Reconstruct yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Pendekatan ini juga disebut rekonstruksi sosial karena memfokus kurikulum pada masalah-masalah penting yang dihadapi dalam masyarakat, seperti polusi, ledakan penduduk, dan lain-lain. Dalam gerakan rekonstruksionisme terdapat dua kelompok utama yang sangat berbeda pandangan tentang kurikulum, antara lain sebagai berikut.
a.      Rekonstruksionisme Konservatif
Aliran ini menginginkan agar pendidikan ditujukan kepada peningkatan mutu kehidupan individu maupun masyarakat dengan mencari penyelesaian masalah-masalah yang paling mendesak yang dihadapi masyarakat, masalah-masalah dapat bersifat lokal dan bersifat daerah nasional, regional dan internasional bagi pelajar SD sampai dengan Perguruan Tinggi. Peranan guru sebagai orang yang menganjurkan perubahan (agent of change) mendorong siswa menjadi partisipan aktif dalam proses perbaikan masyarakat.
b.      Rekonstruksionisme Radikal
Pendekatan ini berpendapat bahwa banyak Negara mengadakan pembangunan dengan merugikan rakyat kecil, yang miskin yang merupakan mayoritas masyarakat. Golongan radikal ini menganjurkan agar pendidikan formal maupun pendidikan nonformal mengabdikan diri demi tercapainya orde sosial baru berdasarkan pembagian kekuasaan dan kekayaan yang lebih adil dan merata.
5.      Pendekatan Humanistik
Pendekatan pembelajaran humanistik memandang manusia sebagai subyek yang bebas merdeka untuk menentukan arah hidupnya. Manusia bertanggungjawab penuh atas hidupnya sendiri dan juga atas hidup orang lain. Pendekatan yang lebih tepat digunakan dalam pembelajaran yang humanistik adalah pendekatan dialogis, reflektif, dan ekspresif. Pendekatan dialogis mengajak peserta didik untuk berpikir bersama secara kritis dan kreatif.
Pendidikan yang humanistik menekankan bahwa pendidikan pertama-tama dan yang utama adalah bagaimana menjalin komunikasi dan relasi personal antara pribadi-pribadi dan antar pribadi dan kelompok di dalam komunitas sekolah. Relasi ini berkembang dengan pesat dan menghasilkan buah-buah pendidikan jika dilandasi oleh cinta kasih antar mereka.
6.      Pendekatan Pembangunan Nasional
Pendekatan ini mengandung tiga unsur, antara lain sebagai berikut.
a.      Pendidikan kewarganegaraan
Berorientasi pada sistem politik negara yang menentukan peranan, hak dan kewajiban tiap warganegara.
b.      Pendidikan Pembangunan Nasional
Tujuan pendidikan ini ialah mempersiapkan tenaga kerja yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan. Untuk itu harus diadakan proyeksi kebutuhan tenaga kerja yang cermat.
c.       Pendidikan Keterampilan untuk Kehidupan Praktis
Keterampilan yang diperlukan bagi kehidupan sehari – hari dapat dibagi dalam beberapa kategori yang tidak hanya bercorak keterampilan akan tetapi juga mengandung aspek pengetahuan dan sikap, yakni:
1)      Keterampilan untuk mencari nafkah dan rangka sistem ekonomi sauatu negara.
2)      Keterampilan untuk mengembangkan masyarakat.
3)      Keterampilan untuk menyumbang kepada kesejahteraan umum.
4)      Keterampilan sebagai warga negara yang baik.

B.     Komponen-Komponen Kurikulum
Komponen-komponen kurukulum ini meliputi komponen tujuan, komponen isi atau materi, komponen motede atau komponen organisasi, dan komponen evaluasi, sebagai berikut:[3]
1.      Komponen Tujuan
Tujuan kurikulum adalah arah atau sasaran yang hendak dituju oleh proses penyelenggaraan pendidikan. ” Dalam setiap kegiatan sepatutnya mempunyai tujuan, karena tujuan menuntun kepada apa yang hendak dicapai, atau sebagai gambaran tentang hasil akhir dari suatu kegiatan. Tujuan yang hendak dicapai, adakalanya memerlukan waktu panjang, dan adakalanya waktu pendek. Tujuan yang pencapaiannya lama, disebut dengan tujuan jangka panjang sedangkan tujuan yang pencapaiannya memerlukan waktu pendek, disebut tujuan jangka pendek.
2.      Isi Kurikulum
Pengalaman belajar yang diperoleh siswa dari sekolah menjadi isi kurikulum. Siswa melakukan berbagai kegiatan dalam rangka memperoleh pengalaman belajar tersebut. Pengalam-pengalaman ini dirancang dan diorganisasi sedemikian rupa sehingga apa yang diperoleh siswa seusai dengan tujuan. Dalam menentukan jenis pengalaman yang menjadi isi kurikulum, adakalahnya tujuan digunakan sebagai acuan, adakalanya sebaliknya, isi menjadi acuan bagi tujuan. Hal ini bergantung pada konsep, rancang-bangun dan acuan filosifi yang digunakan.
Pemikiran tentang isi kurikulum diarahkan pada jenis-jenis bahan pelajaran apa yang memungkinkan dapat dipelajri secara lebih baik. Pemikiran itu pada dasranya didasarkan atas kajian tentang nilai penguasaan suatu jenis bahan bagi siswa
Dewasa ini pemikiran tentang fungsi kurikulum cendrung lebih menekankan pada ide-ide dasar dari berbagai disiplin ilmu. Ide-ide dasar itu disebut dengan “struktur” ilmu pengetahuan, yang keberadaanya merupakan hal-hal yang asasi dari berbagai mata pelajaran. Yang termasuk dalam struktur adalah konsep dasar, dalil, hukum, atau teori. Untuk menentukan isi kurikulum diperlukan keterlibatan ahli bidang studi yang terkait.
3.      Organisasi dan Metode
Organisasi erat kaitannya dengan metode belajar mengjar, yang merupakan implementasi kurikulum, karena pola yang digunakan dalm menyusun isi kurikulum turut mewarnai metode tersebut. Bentuk organisasi ditentukan oleh bentuk atau jenis kurikulum yang disusun. Kurikulum yang berpusat pada anak mislnya, sangat menekankan agar pelaksanannya bertujuan untuk membentuk pribadi secara utuh. Pada kurikulum yang berpusat pada pelajaran, isi kurikulum diorganisasikan dalm bentuk mata pelajaran-mata pelajaran.[4]
4.      Evaluasi Kurikulum
Komponen evaluasi sangat penting artinya bagi pelaksanaan kurikulum. Hasil evaluasi dapat memberikan petunjuk apakah sasaran yang ingin dituju dapat dicapai atau tidak. Dismping itu, evaluasi juga berguna untuk menilai apakah proses kurikulum berjalan secara optimal atau tidak. Dengan demikian, dapat diperoleh balikan tentang pelaksaanaan kurikulum itu. Berdasarkan balikan yang diperoleh dapat dilakukan perbaikan.
Evaluasi kurikulum sebaiknya dilakukan secara terus menerus. Sehubungan dengan rancang bangun kurikulum ini, evaluasi dilakukan untuk mencapai dua sasaran utama yaitu:[5]
a.       Evaluasi terhadap hasil atau produk kurikulum
b.      Evaluasi terhadap proses kurikulum
Evaluasi hasil bertujuan menilai sejauh mana keberhasilan kurikulm dalam menghantarkan siswa mencapai tujuan. Dengan kata lain, evaluasi ini bertujuan menilai keberhasilan pencapaian tujuan.
Untuk dapat melakukan evaluasi kurikulum secara lebih baik harus dipegang prinsip-prinsip dalam melakukan evaluasi. Prinsip-prinsip itu adalah sebagi berikut:
a.       Evaluasi mengacu pada tujuan. Agar dapat diketahui secara jelas apakah pelaksanaan kurikulum telah mencapai tujuan, maka evaluasi harus mengacu kepada tujuan yang telah dirumuskan.
b.      Evaluasi dilakukan secara menyeluruh. Evaluasi kurikulum seharusnya menjangkau aspek yang luas, termasuk hasil belajar, juga kegunaan dari apa yang dipelajari bagi kehidupan.
c.       Evaluasi harus objektif. Keputusan yang dibuat terhadap hasil evaluasi kurikulum harus dibuat berdasarkan data yang sebenarnya. Data itu diperoleh berdasarkan hasil yang dicapai dengan teknik-teknik pengumpulan tertentu, sehingga apa yang digambarkan itu dipandang sebagai suatu yang realita.

C.    Struktur Kurikulum
Struktur kurikulum adalah susunan mata pelajaran yang harus ditempuh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran kedalam muatan kurikulum setiap mata pelajaran pada setiao tahun pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum.
Struktur kurikulum tingkat satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah tertuang dalam Standar Isi, yang dikembangkan dari kelompok mata pelajaran sebagai berikut:
1.       Kelompok pelajaran agama dan akhlak mulia
2.       Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian
3.      Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi
4.      Kelompok mata pelajaran estetika
5.      Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.
Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan pembelajaran sebagaimana diuraikan dalam PPNo. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 7.
Muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Dismping itu materi muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri termasuk dalam isi kurikulum.
Satuan pendidikan dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah, karakterestik sekolah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat, dengan memerhatikan kalender pendidikan sebagaimana tercantum dalam Standar Isi.
Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Berdasarkan sialabus inilah guru bisa mengembangkannya menjadi Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan diterapkan dalam kegiatan mengajar (KBM) bagi siswanya.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pendekatan lebih menekankan pada usaha dan penerapan langkah-langkah atau cara kerja dengan menerapkan suatu strategi dan beberapa metode yang tepat, yang dijalankan sesuai dengan langkah-langkah yang sistematik untuk memperoleh hasil kerja yang lebih baik. Macam-macam pendekatan dalam pengembangan kurikulum, antara lain sebagai berikut: (1) Pendekatan Subjek Akademik, (2) Pendekatan Rekonstruksionisme, (3) Pendekatan Humanistik, (5) Pendekatan Pembangunan Nasional, (6) Pendekatan Interdisipliner, (7) Pendekatan Kompetensi.
Komponen-komponen kurukulum ini meliputi komponen tujuan, komponen isi atau materi, komponen motede atau komponen organisasi, dan komponen evaluasi. Struktur kurikulum adalah susunan mata pelajaran yang harus ditempuh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran kedalam muatan kurikulum setiap mata pelajaran pada setiao tahun pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum.

B.     Saran
1.      Untuk pendidik dan calon pendidik diharapkan mampu memahami dan menerapkan pendekatan-pendekatan dalam pengembengan kurikulum dengan baik di dalam dunia pendidikan.
2.      Diharapkan antara pendidik dan peserta didik saling berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik agar pendekatan ini dapat berjalan sesuai dengan tujuan.



DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Ali.  2005. Kurikulum di Sekolah. Bandung: PT. Trigenda Karya
S. Nasution. 1999. Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara


[1] Nasution, Kurikulum dan Pengajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1999), hal. 43-44
[2] S. Nasution, Kurikulum dan Pengajaran (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 1999) hal. 44-47
[3] Muhammad Ali, Kurikulum di Sekolah (Bandung: PT. Trigenda Karya, 2005) hal. 52-56
[4] Muhammad Ali, Kurikulum di Sekolah (Bandung: PT. Trigenda Karya, 2005) hal. 57-59
[5] Ibid., hal 60-62

Makalah Konsep Manusia Menurut mazdhab Psikoanalisis dan Belaviorime Perspektif Psikoanalisis


Konsep Manusia  Menurut mazdhab Psikoanalisis dan Belaviorime Perspektif Psikoanalisis


1.      Mazhab Psikionalisis
          Mazhab psikoanalis yang menekankan analisis terhadap struktur kejiwaan manusia yang relative stabil dan menetap. Aliran ini dipelopori oleh Sigmund Freud (1856-1939) yang kemudian disempurnakan oleh Carl Gustav Jung dan Erik H. Erikson. Ciri utama mazhab ini yang penulis kutib dari Yudiani (2016) adalah:
a.       Menentukan aktivitas manusia berdasarkan dinamika struktur kejiwaan yang terdiri dari id, ego dan super ego. Lebih lanjut, id merupakan sumber dari impuls-impuls yang menuntut untuk dipuaskan dan ia tunduk pada kesenangan (pleasure principle), sementara ego merupakan sistem kesadaran manusia yang bertugas untuk memuaskan id cara yang disetujui oleh super ego. Sigmund Freud menggambarkan interaksi ketiga struktur ini dengan analogi orang berkuda. Id adalah kuda yang bergerak dan menerjang sesukanya, sementara ego adalah orang yang memegang tali kekang dan mengendalikan kuda agar berjalan sesuai dengan aturan lalu-lintas dan aturan itu sendiri adalah super ego.
b.      Motif dasar penggerak struktur jiwa manusia adalah libido dan insting yang terdiri dari eros (insting yang mengarah pada kehidupan – konstruktif – membangun dan memelihara) dan tanatos (insting yang mengarah kepada kematian – destruktif – merusak dan menghancurkan), motif-motif dasar ini berkedudukan di dalam id. Selanjutnya Freud lebih konsen membahas libido seksual, bahkan banyak teori-teorinya dilandaskan pada libido yang satu ini.
c.        Alam kesadaran manusia terbagi menjadi tiga tingkatan yaitu; alam pra sadar (pre-conscious), alam tak sadar (unconscious) dan alam sadar (conscious). Yang menjadi kedudukan dari masing masing struktur kepribadian.
d.      Memandang bahwa gangguan mental disebabkan oleh ketidakmampuan ego menyelaraskan pemenuhan id dengan nilai-nilai yang dianut super ego.
          Psikoanalisis bermula dari keraguan Freud terhadap kedokteran. Pada saat itu kedokteran dipercaya bisa menyembuhkan semua penyakit, termasuk histeria yang sangat menggejala di Wina. Pengaruh Jean-Martin Charcot, neurolog Prancis, yang menunjukkan adanya faktor psikis yang menyebabkan histeria mendukung pula keraguan Freud pada kedokteran (Berry, 2001:15). Sejak itu Freud dan doktor Josef Breuer menyelidiki penyebab histeria. Pasien yang menjadi subjek penyelidikannya adalah Anna O. Selama penyelidikan, Freud melihat ketidakruntutan keterangan yang disampaikan oleh Anna O. Seperti ada yang terbelah dari kepribadian Anna O. Penyelidikan-penyelidikan itu yang membawa Freud pada kesimpulan struktur psikis manusia: id, ego, superego dan ketidaksadaran, prasadar, dan kesadaran. Freud menjadikan prinsip ini untuk menjelaskan segala yang terjadi pada manusia, antara lain mimpi. Menurut Freud, mimpi adalah bentuk penyaluran dorongan yang tidak disadari. Dalam keadaan sadar orang sering merepresi keinginan-keinginannya. Karena tidak bisa tersalurkan pada keadaan sadar, maka keinginan itu mengaktualisasikan diri pada saat tidur, ketika kontrol ego lemah.  Dalam pandangan Freud, semua perilaku manusia baik yang nampak (gerakan otot) maupun yang tersembunyi (pikiran) adalah disebabkan oleh peristiwa mental sebelumnya. Terdapat peristiwa mental yang kita sadari dan tidak kita sadari namun bisa kita akses (preconscious) dan ada yang sulit kita bawa ke alam tidak sadar (unconscious). Di alam tidak sadar inilah tinggal dua struktur mental yang ibarat gunung es dari kepribadian kita, yaitu:
a.    Id, adalah berisi energi psikis, yang hanya memikirkan kesenangan semata.
b.    Superego, adalah berisi kaidah moral dan nilai-nilai sosial yang diserap individu dari lingkungannya.
c.    Ego, adalah pengawas realitas.
        Sebagai contoh adalah berikut ini: Anda adalah seorang bendahara yang diserahi mengelola uang sebesar 1 miliar Rupiah tunai. Id mengatakan pada Anda: “Pakai saja uang itu sebagian, toh tak ada yang tahu!”. Sedangkan ego berkata:”Cek dulu, jangan-jangan nanti ada yang tahu!”. Sementara superego menegur:”Jangan lakukan!”. Pada masa kanak-kanak kira dikendalikan sepenuhnya oleh id, dan pada tahap ini oleh Freud disebut sebagai primary process thinking. Anak-anak akan mencari pengganti jika tidak menemukan yang dapat memuaskan kebutuhannya (bayi akan mengisap jempolnya jika tidak mendapat dot misalnya). Sedangkan ego akan lebih berkembang pada masa kanak-kanak yang lebih tua dan pada orang dewasa. Di sini disebut sebagai tahap secondary process thinking. Manusia sudah dapat menangguhkan pemuasan keinginannya (sikap untuk memilih tidak jajan demi ingin menabung misalnya). Walau begitu kadangkala pada orang dewasa muncul sikap seperti primary process thnking, yaitu mencari pengganti pemuas keinginan (menendang tong sampah karena merasa jengkel akibat dimarahi bos di kantor misalnya). (Yudiani, 2016)
     Mazhab yang pertama adalah psikoanalisis, dengan Sigmund Freud sebagai tokohnya. Psikoanalisis memandang manusia sebagai homo volens di mana perilakunya dikendalikan oleh dorongan alam bawah sadarnya. Secara singkat, menurut pendekatan psikoanalisis, perilaku manusia adalah hasil interaksi dari tiga pilar atau komponen kepribadian, yakni komponen biologis (Das Id), psikologis (Das Ego), dan sosial (Das Superego); atau unsur hewani, rasional, dan moral (hewani, akali, dan moral). Dengan menggunakan pendekatan psikoanalisis, kedua kasus di atas sebagai representasi perilaku menyampah di sekitar kita, dapat dijelaskan sebagai berikut. Perilaku menyampah yang dilakukan baik pria maupun perempuan pada kasus di atas –dan juga perilaku menyampah yang biasa terjadi di sekitar kita- lebih dikendalikan oleh alam bawah sadar yaitu Das Id, dorongan biologis, unsur hewani. Das Id bergerak berdasarkan prinsip kesenangan (pleasure principle), ingin segera memenuhi keinginannya, bersifat egoistis (ego-enhacement) dan tidak mau tahu dengan kenyataan. Dalam kaitannya dengan alam bawah sadar dan perilaku menyampah, kiranya tepatlah untuk mengemukakan tiga sifat dasar manusia yang menonjol (Tondok, 2008)
a.          Pertama, manusia itu mau mencari enak, dan bahkan mencari enaknya sendiri. Manusia pada dasarnya adalah pecandu kenikmatan dan bersifat egoistis. Dalam perilaku menyampah, sifat egoistis ini muncul dalam NIMBY syndrome (Not In My Back Yard syndrome: terserah mau buang sampah di manapun, asal tidak di halaman rumahku). Pada pria dan wanita dalam kasus di atas, menyampah di ruang tunggu bandara atau di jalanan adalah hal yang boleh-boleh saja karena itu bukan halaman atau teritori milik mereka. Akan tetapi, tunggu dulu! Sekiranya ada orang lain yang menyampah di teritori atau wilayah privasi semisal halaman rumah mereka, mereka berdua pasti akan marah. Sekiranya hal yang sama terjadi di teritori kita, kita pun pasti akan peduli, marah. Dalam NIMBY syndrome inilah egoisme perilaku menyampah mengemuka.
b.       Kedua, masih berkaitan dengan ciri manusia yang pertama, manusia itu malas atau tidak mau repot. Dalam konteks perilaku menyampah, pria dan wanita dalam kedua kasus di atas enggan mencari tempat sampah atau ’menyimpan’ sampah sampai menemukan tempat sampah yang sesungguhnya. 'Gitu aja koq repot-repot!”. Menurut prinsip kesenangan dari Das Id, menyampah lebih menyenangkan dibandingkan dengan harus membuang sampah pada tempat yang sesungguhnya. Ini merupakan cerminan kemalasan atau tidak mau repotnya manusia. Dalam kaitannya dengan sampah, kebiasaan dilayani oleh petugas khusus kebersihan, cleaning service Bandara Juanda atau pasukan kuning alias Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surabaya. Kita masih ’merasa’ bahwa urusan sampah adalah urusan petugas sampah; mereka ’diadakan’ untuk mengurusi sampah, termasuk sampah yang kita buang sembarangan. (Tondok, 2008)
c.         Ketiga, kebanyakan manusia juga pelupa. Meskipun telah berulang kali diingatkan dan upanya penyadaran sudah dilakukan, tetap saja manusia perlu diingatkan. Dalam kedua kasus di atas, kemungkingan besar tulisan ’buanglah sampah pada tempatnya’ tidak terlihat oleh pria perokok yang menyampah di ruang tunggu bandara. Sementara itu, kemungkinan besar dalam mobil perempuan yang menyampah di jalan raya tidak terdapat tulisan atau clue yang sewaktu-waktu bisa mengingatnya untuk tidak menyampah. (Tondok, 2008)

2.      Behaviorisme
       Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 yang berpendapat bahwa perilaku harus merupakan unsur subyek tunggal psikologi. Behaviorisme merupakan aliran revolusioner, kuat dan berpengaruh, serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam. Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata. Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalism. Berarti juga behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses-proses mental. (Yudiani,2016)
Behavioristik adalah aliran psikologi yang menekankan teorinya pada perubahan tingkah laku manusia. Aliran ini dipelopori oleh John Millar, BF. Skinner dan Neal E Miller.  Mazhab behavioristik menolak bahwa struktur kejiwaan manusia yang relative stabil dan menetap, mereka berkeyakinan bahwa tingkah laku individu mudah berubah yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Menurut pandangan mazhab ini, manusia dilahirkan dalam kondisi kosong atau netral, sehingga tingkahlaku yang ada merupakan wujud dari kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk olehlingkungan. Seiring dengan perkembangannya, mazhab ini banyak menyumbangkan teori-teori modifikasi perilaku termasuk teori-teori tentang belajar. Menurut pandangan mazhab ini perilaku manusia tidak lebih dari respon terhadap stimulus yang ia terima (teori S-R, teori awal aliran ini), respon-respon yang ditampilkan oleh manusia juga ikut dipengaruhi oleh penguatan (reinforcement) yang ia terima dari lingkungan. Pendek kata dalam pandangan mazhab ini tingkah laku manusia sangat mungkin untuk diprediksikan dan dimodifikasi. Lebih lanjut, mazhab ini sama sekali tidak tertarik pada pembahasan struktur kejiwaan, mereka hanya membahas perilaku, terutama proses terjadinya dan bagaimana caranya perilaku tersebut bisa jadi menetap. Lebih lanjut, objek penelitian yang dilakukan oleh ilmuan psikologi dari mazhab ini adalah hewan, kemudian hasil penelitian tersebut digunakan untuk membahasa dan mengkaji dinamika perilaku manusia, seperti; Pavlov dengan penelitiannya tentang perilaku anjing, skinner dengan penelitiannya tentang perilaku merpati, dan peneliti lain yang meneliti simpanse, tikus, dan lain-lain.  Pandangan Mazhab Behavioristik terhadap Perilaku Beragama Menurut Skinner, keyakinan manusia terhadap suatu agama dan upacara ritual untuk mengagungkan Tuhan yang terkandung dalam agama merupakan tingkahlaku tahayul, sepert halnya tingkah laku burung merpati kelaparan yang terus menerus mengulangi perilaku khusus untuk mendapatkan
penguatan (reinforcement) yang berupa makanan.(Yudiani, 2016)
Kritik terhadap Mazhab Behavioristik
·          Paham mazhab behavioristik anti agama, sehingga teoriteorinya melepaskan diri dari norma-norma agama.
·         Menurut kaum humanis, teori-teori behavioristik memandang manusia sebagai suatu mesin, yaitu system kompleks yang bertingkahlaku menurut cara yang sesuai dengan hukum. Lebih lanjut mereka memandang bahwa behavioristik melakukan dehumanisasi dengan cara mengindahkan keunikan individu.
.
        Behaviorisme yang dipelopori oleh John B. Watson, Ivan P. Pavlov, Burrhus F. Skinner, Edward L. Thorndike lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisa jiwa manusia berdasarkan laporanlaporan subyektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara alam bawah sadar yang tidak tampak). Menurut behaviorisme, perilaku manusia bukan dikendalikan oleh faktor dalam (alam bawah sadar), tetapi sepenuhnya dipengaruhi oleh faktor eksternal yakni lingkungan. Penganut behaviorisme memandang manusia sebagai homo mechanicus, manusia mesin. (Tondok, 2008)
        Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional. Behaviorisme hanya ingin mengetahui sebagaimana perilaku individu dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan. Individu bersifat sangat plastis, bisa dibentuk menjadi apa dan siapa, atau berperilaku apa saja sesuai dengan lingkungan yang dialami atau yang dipersiapkan untuknya. Dengan kata lain, respon atau perilaku individu dalam situasi tertentu sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh stimulus atau apa yang diterimanya dari lingkungan. Salah satu prinsip perilaku menurut pendekatan behavioristik adalah perilaku organisme terbentuk melalui pembiasaaan atau kondisioning. (Tondok, 2008)
         Perspektif behaviorisme, respon atau perilaku menyampah yang dilakukan baik oleh pria maupun perempuan dalam kasus di atas –termasuk perilaku menyampah yang sering terjadi di sekitar kita- merupakan perilaku hasil pembiasaan yang dibentuk oleh lingkungan. Kemungkinan besar, pengalaman menyampah pria dan perempuan tersebut selama ini di bandara atau di jalan atau bahkan juga di tempat-tempat umum lainnya, tidak mendapatkan hukuman (misalnya dimarahi petugas atau kena denda. Tentu saja, perilaku mereka akan sangat lain jika ketika menyampah, mereka segera mendapatkan konsekuensi yang tidak menyenangkan seperti dimarahi petugas atau kena denda. Oleh karena itu, sangat wajarlah jika perilaku menyampah di bandara, di jalan atau di tempat umum jarang ditemui di lingkungan ataupun di negara yang menindak tegas siapa saja yang menyampah.
        Perspektif psikologi behavioristik, pembentukan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, dapat dilakukan dengan ’latihan yang berulang-ulang’. Selain itu, tetap diperlukan tulisan-tulisan yang dapat mengingatkan individu untuk membuang sampah pada tempatnya. Aliran ini sering dikaitkan sebagai aliran ilmu jiwa namun tidak peduli pada jiwa. Pada akhir abad ke-19, Ivan Petrovic Pavlov memulai eksperimen psikologi yang mencapai puncaknya pada tahun 1940 – 1950-an. Di sini psikologi didefinisikan sebagai sains dan sementara sains hanya berhubungan dengan sesuatu yang dapat dilihat dan diamati saja. Sedangkan ‘jiwa’ tidak bisa diamati, maka tidak digolongkan ke dalam psikologi. Aliran ini memandang manusia sebagai mesin (homo mechanicus) yang dapat dikendalikan perilakunya melalui suatu pelaziman (conditioning). Sikap yang diinginkan dilatih terus-menerus sehingga menimbulkan maladaptive behaviour atau perilaku menyimpang.
DAFTAR PUSTAKA

-Yudiani, E. 2016. Komparasi Paradigma Psikologi Kontemporer Versus Psikologi Islam Tentang Manusia. (http://jurnal.radenfatah.ac.id<article>view) Di akses pada tanggal 16 April 2016.
-Tondok, MS.2008. ’Menyampah' dari Perspektif Psikologi (1). (http://docplayer.info/34099173-menyampah-dari-perspektif-psikiologi-1-mareslius-sampe-tondok-fakultas-psikologi-universitas-surabaya.html). Diakses pada tanggal 13 juli 2008.


MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...