Sabtu, 20 April 2019

MAKALAH LEMBAGA ZISWAF


MAKALAH LEMBAGA  ZISWAF 

BAB I
PENDAHULUAN
    A.    LATAR BELAKANG
Zakat adalah perintah dinul Islam yang ke-4, untuk wajib dilaksanakan oleh setiap manusia yang mengaku dirinya sebagai seorang muslim, untuk menyalurkan dan mendistribusikan zakat dari tangan muzakki ke musthadid, maka perlu peran dari badan amil zakat sebagai lembaga penyalur zakat yang resmi dan amanah, sehingga peran fungsi dan dari lembaga tersebut dapat maksimal, dan selanjutnya akan berdampak positif terhadap umat Islam secara makro. Hal yang masih perlu digaris bawahi bahwa perenan fungsi manajemen dari badan amil zakat belum maksimal disamping dari kalangan muzakki terdapat kecenderunan yang terjun langsung ke tempat mustahik dalam mendistribusikan sendiri zakat mereka, sehingga pemetaan dalam pendistribusian menjadi marjinal dan tidak merata serta tidak maksimal. Disamping itu seakan melupakan fungsi manajemenn dari badan amil zakat sebagai lembaga lembaga resmi dalam penghimpunan dan pendistribusian zakat .  Kata Kunci : Fungsi Manajemen, dan distribusi zakat. Oleh karena itu  kami tertarik untuk membuat maalah yang berudul “Manajemen Pengelolah Lembaga Dana ZISWAF”
    B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana fakta yang terjadi dilapangan tentang manajemen pengelolah dana ZISWAF?
2.       Bagaimana prosedr mengalirnya dna dalam lembaga ZISWAF?

    C.    Tujuan
1.      Mengeahui  fakta yang terjadi dilapangan tentang manajemen pengelolah dana ZISWAF.
2.      Mengeahui Bagaimana prosedr mengalirnya dna dalam lembaga ZISWAF .

BAB II
PEMBAHASAN
A.       Zakat dan  Manajemen
Manajemen zakat, keberadaanya merupakan tuntutan dalam pengaturan kehidupan masyarakat. Manajemen zakat adalah pekerjaan intelektual yang dilakukan orang dalam hubungannya dengan organisasi bisnis, ekonomi, sosial dan yang lainnya.[1]
Zakat merupakan salah satu ibadah yang mengandung dimensi vertikal (manusia-Tuhan) dan horizontal (manusia-manusia) sekaligus. Secara vertikal, zakat adalah perintah Allah kepada manusia yang wajib ditunaikan dan itu sudah final (tauqify), tidak bisa ditawar-tawar lagi. Secara horizontal, pengelolaan zakat untuk disalurkan kepada yang berhak (mustahiq) terbuka peluang untuk ijtihad (ijtihady).Aspek horizontal inilah yang perlu didiskusikan dan dikembangkan terus-menerus mengingat zakat memiliki potensi yang besar dalam menyejahterakan rakyat dan mengandung nilai humanisme, tapi pengelolaannya selama ini belum maksimal.
Tragedi pembagian zakat yang memakan korban (mati, terinjak, berdesak-desakan) di sejumlah daerah, seperti  di Pasuruan, beberapa tahun lalu, merupakan contoh kecil dari buruknya manajemen dan strategi.Dalam hal ini, setidaknya ada empat unsur penting yang harus dipenuhi. Pertama, badan atau lembaga sebagai pengumpul zakat bisa berupa Islamic Center, masjid, dan lain-lain. Kedua, proses kerja, yakni sebuah usaha untuk mengumpulkan, mengelola, mengoptimalkan, dan memberikan zakat. Ketiga, orang yang melakukan proses dalam hal ini adalah amil zakat. Keempat, tujuan, yakni terkumpul sekurang-kurangnya 25-50 persen dari wajib zakat.
Untuk melakukan kerja-kerja tersebut, seorang manajer akan melakukan kegiatan-kegiatan yang disebut fungsi manajemen sebagai berikut. Pertama, planning, yakni harus ditentukan goal yang ingin dicapai dalam waktu  tertentu di masa depan dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Kedua, organizing, harus ada pengelompokan kegiatan dan pembagian tugas terhadap apa yang akan dikerjakan dalam rangka mencapai goal tersebut. Ketiga, staffing, harus ada penentuan sumber daya manusia yang diperlukan, pemilihan mereka, pemberian trainning, dan pengembangannya. Keempat, motivating, pemberian motivasi dan arahan untuk menuju goal. Kelima, controlling, pengukuran performance untuk mencapai goal yang telah ditentukan, penentuan sebab-sebab terjadinya penyimpangan dari goal, dan sekaligus usaha pelurusan kembali untuk menuju goal yang ada. Fungsi manajemen yang standar di atas acapkali diabaikan untuk mengatakan dianggap tidak penting. Padahal, tanpa fungsi manajemen tersebut, pengorganisasian apa pun akan tidak maksimal dan tidak tepat sasaran. Akhirnya, tujuan mulia zakat hanya menguap begitu saja di udara. Naudzubillah. Apabila fungsi manajemen dilakukan dengan baik (well-done), tinggal dilakukanlah strategi-strategi pembangunan zakat.
Potensi dana zakat dan realisasi pengumpulannya dapat gap yang besar. Salah satu bentuk sosialisasinya adalah kampanye sadar zakat yang dilakukan oleh komponen bangsa, bahkan kalau perlu sosialisasi tersebut dilakukan mulai dari tingkat presiden sampai RT. Pasalnya, masyarakat hanya menyadari bahwa zakat fitrah sajalah yang wajib di bayarkan. Padahal, masih banyak jenis zakat lainnya yang harus dibayarkan, seperti zakat ternak, tanaman, profesi, dan lain-lain.Bahkan, mungkin juga perlu dibentuk semacam NPWZ (nomor pokok wajib zakat) sebagai bukti keterlibatan mereka dalam mendukung sosialisasi zakat. Seiring perkembangan teknologi informasi, zakat pun sebenarnya bisa dilakukan dengan media IT sebagaimana di Singapura dan Malaysia, yakni e-Zakat: Zakat System Online.
Kedua, membangun citra lembaga zakat yang amanah dan profesional. Hal ini penting untuk dilakukan mengingat saat ini telah terjadi krisis kepercayaan antarsesama komponen masyarakat.Pembangunan citra ini merupakan hal yang sangat fundamental. Citra yang kuat dan baik akan menggiring masyarakat yang berka tegorikan muzaki untuk mau menyalurkan dana zakat melalui amil. Amanah, equitable, akuntabilitas, transpa ransi, dan coorporate culture merupakan tiga hal pokok dalam menentunkan citra lembaga zakat (zakat coorporation) yang profesional.
     B.     Manajemen ZISWAF
Secara operasional dan fungsional manajemen zakat dapat dejelaskan secara rinci di
antaranya berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan :
1.      Perencanaan Zakat
Dalam manajemen zakat proses awal perlu dilakukan perencanaan. Secara
konseptual perencanaan adalah proses pemikiran penentuan sasaran dan tujuan yang
ingin di capai, tindakan yang harus dilaksanakan, bentuk organisasi yang tetap untuk
mencapainya, dan orang-orang yang bertanggung jawab terhadap kegiatan yang hendak dilaksanakan oleh Badan atau LAZ. dengan kata lain perencanaan menyangkut pembuatan keputusan tentang apa yang hendak dilakukan, bagaiman cara melakukan, kapan melakukan dan siapa yang akan melakukan secara terorganisasi. Perencanaan zakat tentunya berkaitan dengan kegiatan dengan proses sebagai berikut:[2]
a.       Menetapkan sasaran dan tujuan zakat. sasaran zakat berkaitan dengan orang yang berkewajiban membayar zakat (muzakki>) dan orang yang berhak menerima zakat (Mustahik). sedangkan tujuannya adalah menyantuni orang yang berhak agar terpenuhi kebutuhan dasarnya atau meringankan beban mereka.
b.      Menetapkan bentuk organisasi atau kelembagaan zakat yang sesuai dengan tingkat kebutuhan yang hendak dicapai dalam pengelolaan zakat.
c.       Menetapkan cara melakukan penggalian sumber dan distribusi zakat. dalam hal ini dilakukan identifikasi orang-orang yang berkewajiban zakat dan orang-orang yang berhak menerima zakat.
d.      Menentukan waktu untuk penggalian sumber zakat dan waktu untuk mendistribusikan zakat dengan skala prioritas.
e.       Menetapkan amil atau pengelola zakat dengan menentukan orang yang memiliki komitmen, kompetensi mindset dan profesionalisme untuk melakukan pengelolaan zakat.
f.       Menetapkan sistem pengawasan terhadap pelaksanaan zakat, baik mulai dari pembuatan perencanaan, pembuatan pelaksanaan, pengembangan secara terus menerus secara berkesinambungan.
2.      Pelaksanaan Kegiatan Zakat
Pengelolaan zakat diperlukan pengelola zakat yang profesional, mempunyai kompetensi dan komitmen sesuai dengan kegiatan yang dilakukan. berkaitan dengan kriteria pelaksana zakat dan kriteria pemimpin Badan/Lembaga Amil Zakat Menurut Yusuf Qardawi petugas pelaksana zakat (amil) harus memenuhi beberapa kriteria diantaranya ialah:[3]
a.       Beragama Islam. Zakat adalah urusan yang sangat penting dalam Islam dan termasuk rukun Islam yang ke tiga oleh karena itu urusan ini harus di urus oleh sesama muslim.
b.      Mukallaf yaitu orang Islam dewasa yang sehat akal pikiranya yang siap menerima tanggung jawab mengurus urusan umat.
c.       Memiliki sifat amanah atau jujur. sifat ini sangat penting karena berkaitan dengan kepercayaan umat.
d.      Mengerti dan memahami hukum-hukum zakat yang menyebabkan ia mampu melakukan sosialisasi segala sesuatu yang berkaitan dengan zakat kepada masyarakat.
e.       Memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas dengan sebaikbaiknya.
f.       Kesungguhan amil zakat dalam melaksanakan tugasnya. Amil zakat yang baik adalah amil zakat yang full time dalam melaksanakan tugasnya, tidak asal-asalan dan tidak pula sambilan.[4]
3.      Pengawasan Zakat
Secara konsepsional dan operasional pengawasan adalah suatu upaya sistimatis, untuk menetapkan kinerja setandar pada perencanaan untuk merancang sistem umpan balik informasi, untuk membandingkan kinerja aktual dengan standar yang telah ditentukan untuk menetapkan apakah terjadi suatu penyimpangan dan mengukur siknifikansi penyimpangan tersebut untuk mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya Badan atau LAZ telah digunakan seefektif dan seefisien mungkin guna mencapai tujuan Badan atau LAZ.[5]
Secara menejerial pangawasan zakat adalah mengukur dan memperbaiki kinerja amil zakat guna memastikan bahwa Lembaga atau Badan Amil Zakat di semua tingkat dan semua yang telah dirancang untuk mencapainya yang telah sedang dilaksanakan. Adapun pola pengawasannya adalah sebagai berikut:
a.       Menetapkan sistem dan standar operasional pengawasan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditentukan oleh Badan atau LAZ.
b.      Mengukur kinerja. Pengawas dalam hal ini melakukan pengukuran atau mengevaluasi kinerja dengan standar yang telah ditentukan dengan proses yang berkelanjutan.
c.       Memperbaiki penyimpangan. Proses pengawasan tidak lengkap jika tidak ada tindakan perbaikan terhadap penyimpangan-penyimpangan yang telah terjadi.[6]
     C.    Distribusi Zakat dan Pengembangannya
Distribusi zakat dapat dilakukan dengan berbagai pola, tergantung dari kebijakan manajerial Badan atau Lembaga Zakat yang bersangkutan. Adakalanya disalurkan langsung pada mustah}ik dengan pola konsumtif dan adakalanya diwujudkan dalam bertuk produktif atau dengan cara memberikan modal atau zakat dapat dikembangkan dengan pola investasi.
Ketua Umum BAZNAS, Didin Hafidhuddin, mengatakan zakat sangat berperan penting dalam kesejahteraan masyarakat Indonesia. Meski demikian, negara memiliki andil dalam zakat. "Amil berperan penting dalam pengelolaan zakat. Sedangkan dalam Fatwa MUI No. 8 tahun 2011, posisi amil diangkat ataupun disahkan oleh pemerintah,"[7] Adapun sebagai penyebab rendahnya realisasi zakat yang terkumpul di lembaga pengumpul zakat antara lain : Pertama, pengetahuan masyarakat terhadap sumber sumber harta yang menjadi objek zakat masih terbatas pada sumber-sumber konvensional seperti yang dinyatakan dalam Alquran dan hadits.
Sementara sumbersumber objek zakat yang wajib dizakatkan sesuai dengan perkembangan ekonomi moderen saat ini sudah semakin berkembang jenisnya. Kedua, kegagalan dalam pengelolaan zakat pada masa lalu masih menyisakan ketidakpercayaan masyarakat terhadap lembagalembaga pengumpul zakat. Sehingga banyak diantara masyarakat yang masih mempertahankan pola penyalur zakat secara tradisional yaitu, penyaluran zakat secara langsung oleh muzakki kepada individu yang dianggap berhak menerimanya. Dengan pola penyaluran zakat seperti ini kurang memberikan kontribusi besar bagi perekonomian.[8]
Zakat dapat diberikan secara konsumtif dan dapat pula deberikan secara produktif. Penyaluran zakat produktif pernah terjadi di zaman Rasulallah Saw. Pemberian zakat secara produktif, sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Yusuf Qardawi, pemerintah Islam dapat mengembangkan harta zakat dengan cara membangun pabrik-pabrik atau perusahaanperusahaan, kemudian keuntungannya dipergunakan untuk kepentingan fakir miskin sehingga akan terpenuhi kebutuhan hidup mereka sepanjang masa.
Pengganti pemerintah dapat diperankan oleh LAZ atau Badan Amil Zakat yang kuat amanah dan profesional. Lembaga atau Badan Amil Zakat bila memberikan zakat secara produktif harus melakukan pembinaan/pendampingan kepada para Mustahik zakat agar kegiatan usahanya dapat berjalan dengan baik, dan agar mereka semakin meningkat kualitas keimanan dan keislamanya, karena ini termasuk salah satu tujuan dari zakat.[9]
Selanjutnya zakat merupakan salah satu solusi alternatif dalam mengurangi kemiskinan. Dari hasil penelitian lapangan menunjukkan bahwa aktivitas devisi pengumpulan zakat pada Badan Amil Zakat Daerah (BAZDA) mempunyai kinerja yang cukup baik, tetapi belum optimal. Walaupun dana ZIS meningkat dari tahun ke tahun namun realisasinya masih kurang dari 0.02% dari potensi zakat yang ada (PDRB). Di sisi lain, program pendayagunaan zakat untuk tujuan pemberdayaan ekonomi produktif belum menjadi prioritas utama, sehingga tujuan dan maksud dari pelaksanaan zakat sebagai upaya mengurangi kemiskinan ekonomi fakir miskin belum sesuai dengan apa yang diharapkan.
Dengan kata lain, perubahan status dari penerima zakat (mustahik) fakir miskin menjadi pembayar zakat (muzakki) masih jauh dari realitasnya. Meskipun demikian, peran penting yang dimainkan oleh lembaga pengumpulan zakat di daerah penelitian yang terpenting saat ini adalah:
1.       Meringankan beban penderitaan sebagian kaum fakir miskin berupa bantuan biaya pendidikan, biaya sekolah, bantuan korban bencana alam.
2.      Meningkatkan status sosial diantara sejumlah fakir miskin menjadi munfiq (orang yang telah mampu membayar infaq).
3.      Menciptakan beberapa lapangan kerja bagi mustahik.
4.      Meningkatkan pendidikan dan kerampilan kaum perempuan dalam menggerakkan usaha rumah tangga.
Berdasarkan analisis SWOT ditemukan bahwa peran srtategi zakat sebagai alat pengentasan kemiskinan ekonomi perlu dilakukan hal-hal berikut:
1.       untuk pemberdayaan ekonomi fakir miskin dilakukan melalui dana bergulir yang dikelola oleh MisYkat.
2.      Sosialisasi zakat perlu ditingkatkan.
3.      Kelembagaan amil zakat baik BAZ maupun LAZ perlu dibenahi untuk meningkatkan kepercayaan dari pembayar zakat.[10]
Selama ini potensi dan pentingnya zakat sebagai usaha untuk pengentasan kemiskinan masih dianggap sebelah mata, padahal zakat sesungguhnya memiliki potensi ekonomi yang sangat besar bagi bangsa Indonesia. Perkiraan besarnya potensi zakat di Indonesia telah dilakukan oleh berbagai kalangan, misalnya, Dompet Dhuafa Republika memperkirakan potensi zakat minimal di Indonesia bisa mencapai angka Rp. 5,1 triliun

BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Manajemen zakat, keberadaanya merupakan tuntutan dalam pengaturan kehidupan masyarakat. Manajemen zakat adalah pekerjaan intelektual yang dilakukan orang dalam hubungannya dengan organisasi bisnis, ekonomi, sosial dan yang lainnya.  Zakat merupakan salah satu ibadah yang mengandung dimensi vertikal (manusia-Tuhan) dan horizontal (manusia-manusia) sekaligus. Secara vertikal, zakat adalah perintah Allah kepada manusia yang wajib ditunaikan dan itu sudah final (tauqify), tidak bisa ditawar-tawar lagi. Secara horizontal, pengelolaan zakat untuk disalurkan kepada yang berhak (mustahiq) terbuka peluang untuk ijtihad (ijtihady).
Ketua Umum BAZNAS, Didin Hafidhuddin, mengatakan zakat sangat berperan penting dalam kesejahteraan masyarakat Indonesia. Meski demikian, negara memiliki andil dalam zakat. "Amil berperan penting dalam pengelolaan zakat. Sedangkan dalam Fatwa MUI No. 8 tahun 2011, posisi amil diangkat ataupun disahkan oleh pemerintah,"  Adapun sebagai penyebab rendahnya realisasi zakat yang terkumpul di lembaga pengumpul zakat antara lain : Pertama, pengetahuan masyarakat terhadap sumber sumber harta yang menjadi objek zakat masih terbatas pada sumber-sumber konvensional seperti yang dinyatakan dalam Alquran dan hadits.
B.     SARAN
Pembagian dana zakat, sebenarnya, harus memberikan keutamaan dengan tujuan yang memungkinkan si miskin dapat menjalankan usaha sehingga mampu berdikari, sebab merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk dapat menghidupi dirinya. Ajaran Islam sangat melarang seseorang menjadi pengemis untuk menghidupi dirinya. Dengan demikian dana zakat, juga infaq & sadaqah, hanya dapat menjadi suplemen pendapatan permanen bagi orang−orang yang benar−benar tidak dapat menghidupi dirinya lewat usahanya sendiri karena ia seorang yang menderita cacat seumur hidup atau telah uzur. Sedangkan bagi yang lain, dana tersebut harus digunakan sebagai bantuan keringanan temporer disamping sumber−sumber daya esensial untuk memperoleh pelatihan, peralatan, dan materi sehingga memungkinkan mereka mendapatkan penghasilan yang mencukupi.            

DAFTAR PUSTAKA

 Ismail, Nawawi, 2010, Zakat dalam Perpektif Fiqh, Sosial dan Ekonomi, Surabaya: Putra                      Media Nusantara,
Halifuddin,Didin, 2012. Distribusi zakat terbukti mengurangi 21 persen warga miskin.                          Jakarta.
Mustafa Edwin Nasution, Public Finance: Konseptualisasi, Implementasi, Aktualisasi
dan Perkembangannya dalam Masa Kontemporer di Indonesia (disampaikan
pada seminar “Potensi Lembaga Keuangan Sosial dalam Sistem Keuangan Islam” di Universitas Islam Negeri Jakarta, Rabu 17 Januari 2007
Indirijatiningrum, Mustiko Rini, 2005. Zakat sebagai Alternatif Penggalangan Dana
Masyarakat Untuk Pembangungan, Jurnal Ekonomi Keuangan dan Bisnis (Eksis) vol1 No.4


MAKALAH PENDEKATAN SISTEM

MAKALAH PENDEKATAN SISTEM 


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Dalam kegiatan belajar mengajar sangat diperlukan interaksi antara guru dan murid yang memiliki tujuan. Agar tujuan ini dapat tercapai sesuai dengan target dari guru itu sendiri, maka sangatlah perlu terjadi interaksi positif yang terjadi antara guru dan murid. Dalam interaksi ini, sangat perlu bagi guru untuk membuat interaksi antara kedua belah pihak berjalan dengan menyenangkan dan tidak membosankan. Hal ini selain agar mencapai target dari guru itu sendiri, siswa juga menjadi menyenangkan dalam kegiatan belajar mengajar, serta lebih merasa bersahabat dengan guru yang mengajar.
Sehingga dalam  mengajar diperlukan pendekatan dalam pembelajaran , pendidik harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan perbuatan. Setiap pendidik tidak selalu memiliki suatu pandangan yang sama dalam hal mendidik anak didik. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang pendidik ambil dalam  pengajaran

B.     Rumusan masalah
1.      Apa itu sistem?
2.      Apa pengertian pendekatan sistem?
3.      Bagaimana pembelajaran sebagai suatu sistem?
4.      Apa manfaat penerapan pendekatan sistem dalam perencanaan pembelajaran?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian sistem.
2.      Untuk mengetahui pendekatan sistem.
3.      Untuk mengetahui pembelajaran sebagai suatu sistem.
4.      Untuk mengetahui manfaat penerapan pendekatan sistem dalam perencanaan pembelajaran.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian sistem
Istilah sistem meliputi spectrum konsep yang sangat luas. Sebagai seorang manusia, organisasi, mobil, susunan tata surya merupakan suatu sistem, dan masih banyak lagi. Semua contoh tersebut memiliki batasan sendiri-sendiri yang satu sama lain berbeda. Meskipun demikian terdapat kesamaan dari segi prosesnya dalam hal ini terdapat masukan dan menghasilkan keluaran.
sistem lebih menitikberatkan pada prosedur yang sudah direncanakan dengan mengikuti pola-pola tertentu. Dalam hal ini pola dibuat agar bisa menggerakkan suatu fungsi agar bisa bekerja dengan baik. Tanpa perencanaan yang matang, maka hasil kerja tidak akan maksimal.
Hal-hal yang bersifat alami yang terjadi pada tubuh manusia juga disebut dengan sistem. Semua organ yang ada di badan Anda bekerjasama agar bisa bekerja dengan maksimal. contoh sistem reproduksi. Jika ada beberapa bagian yang tidak berfungsi secara normal, maka kinerjanya akan terkendala bahkan bisa menyebabkan kelainan. Jika sudah begini salah satu jalan untuk mengembalikan fungsinya adalah dengan cara pengobatan.
Kinerja komputer pun dipengaruhi oleh sebuah system. Dimana hal ini dimulai dari input data, analisa, proses, dan hasil akhir berupa output. Tentu saja hasil yang dicapai bisa sesuai dengan keinginan jika masing-masing komponen bisa bekerja dengan baik. Jika terjadi error maka proses hanya akan sampai pada tahap tertentu saja dan tidak akan menghasilkan output yang diinginkan.[1]
Suatu sistem tentu saja memiliki beberapa komponen yang saling berhubungan, artinya komponen-komponen tersebut saling bekerja sama demi membentuk satu kesatuan. Komponen sistem terdiri dari bagian sistem, atau yang biasa disebut dengan istilah "subsistem". Sistem memiliki bagian pengolah yang bertugas untuk mengubah masukan menjadi keluaran. Sebagai contoh, sistem produksi bertugas mengubah bahan baku menjadi bahan jadi. Sedangkan sistem akuntansi bertujuan mengolah data menjadi laporan keuangan, dan masih banyak lagi. Sistem juga memiliki tujuan (goal) yang ingin dicapai. Biasanya, sasaran sistem ini dalam bentuk objek. Objek inilah yang akan menentukan apasaja masukan yang diperlukan sistem dan apasaja keluaran yang akan dihasilkan sistem.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, setiap sistem pasti memiliki tujuan. Entah itu satu tujuan, atau bahkan lebih. Jika tak ada tujuan yang ingin dicapai, hal ini justru membahayakan sistem. Karena sistem akan bergerak tanpa adanya arah yang jelas (tak terkendali). Secara umum, ada tiga tujuan sistem dalam suatu perusahaan.
1.      Untuk mendukung sistem manajemen.
2.      Untuk membantu pengambilan keputusan yang paling tepat.
3.      Untuk membantu kegiatan operasional suatu perusahaan.[2]
Segala hal bisa dianggap sebagai sistem hanya jika memenuhi lima unsur utama berikut ini:
1.       Terdapat kumpulan objek
2.       Terdapat hubungan / interaksi antar unsur-unsur yang ada di dalamnya
3.       Ada sesuatu yang sifatnya mengikat unsur-unsur tersebut menjadi satu kesatuan
4.       Terletak pada lingkungan yang utuh dan kompleks
5.       Memiliki tujuan bersama (output) yang ingin dicapai

B.     Pengertian Pendekatan Sistem
                                                                                                                                                                                   Pendekatan Sistem adalah Serangkaian langkah-langkah pemecahan masalah
yang memastikan bahwa masalah dipahami, solusi alternative dipertimbangkan dan solusi yang dipilih bekerja. Tahap dan Langkah Pendekatan Sistem.
1.      Usaha Persiapan Mempersiapkan manajer untuk memecahkan masalah, menyediakan orientasi sistem. Langkah Memandang perusahaan sebagai suatu sistem, menggunakan model sistem umum perusahaan. Mengenali sistem lingkungan,  menempatkan perusahaan sebagai suatu sistem dalam lingkungannya. Mengidentifikasi subsistem perusahaan, subsistem sebagai bentuk area-area fungsional, tingkat-tingkat manajemen sebagai subsitem, arus sumber daya sebagai dasar membagi perusahaan menjadi subsistem.
2.      Usaha definisi identifikasi masalah. Pemahaman masalah mempelajari untuk mencari solusi pemicu masalah sinyal umpan balik yang menunjukkan hal-hal lebih baik atau buruk. Langkah bergerak dari tingkat sistem ke subsistem tiap tingkatan manajemen adalah suatu subsistem.[3]
C.    Pembelajaran Sebagai Suatu Sistem
Pendekatan sistem yang diterapkan dalam pembelajaran bukan saja sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga sesuai dengan perkembangan dalam psikologi belajar sistematik, yang dilandasi dengan prinsip-prinsip psikologi behavioristik dan humanistik. Aspek-aspek pendekatan sistem pembelajaran, meliputi aspek filosofis dan aspek proses. Aspek filosofis ialah pandangan hidup yang melandasi sikap si perancang, sistem yang terarah pada kenyataan. Sedangkan aspek proses ialah suatu proses dan suatu perangkat alat konseptual.
Ciri-ciri pendekatan sistem pembelajaran, yaitu ada dua ciri utama, yakni:
1.   Pendekatan sistem sebagai suatu pandangan tertentu mengenai proses pembelajaran dimana berlangsung kegiatan belajar mengajar, terjadinya interaksi antara siswa dan guru, dan memberikan kemudahan bagi siswa untuk belajar secara efektif.
2.   Penggunaan metodologi untuk merancang sistem pembelajaran yang meliputi prosedur perencanaan, perancangan, pelaksanaan dan penilaian keseluruhan proses pembelajaran yang tertuju pada konsep pencapaian tujuan pembelajaran. Pola pendekatan sistem pembelajaran melalui langkah-langkah sebagai berikut:
a)      Identifikasi kebutuhan pendidikan (merumuskan masalah)
b)      Analisis kebutuhan untuk mentransfomasikan menjadi tujuan pembelajaran     (analisis masalah)
c)      Merancang metode dan materi pembelajaran (pengembangan suatu pemecahan)
d)     Pelaksanaan pembelajaran (eksperimental)
e)      Menilai dan merevisi.

Untuk mencapai pembelajaran efektif dan efisien dibutuhkan pengelolaan komponen pembelajaran secara baik. Dalam pendekatan sistem bahwasanya untuk mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal harus didukung dengan komponen pembelajaran yang baik, yang meliputi tujuan, siswa, guru, metode, media, sarana, lingkungan pembelajaran dan evaluasi. Masing-masing komponen memberikan pengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran.[4]

D.    Manfaat penerapan pendekatan sistem dalam perencanaan pembelajaran
Perencanaan adalah menentukan apa yang akan dilakukan. Perencanaan mengandung rangkaian-rangkaian putusan yang luas dan penjelasan-penjelasan dari tujuan, penentuan kebijakan, penentuan program, penentuan metode-metode dan prosedur tertentu dan penentuan kegiatan berdasarkan jadwal sehari-hari.
 Perencanaan pembelajaran adalah suatu proses penyusunan materi pelajaran, penggunaan media pengajaran, penggunaan pendekatan dan metode pengajaran, penilaian dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Dengan demikian, perencanaan pembelajaran yang di dalamnya terdiri dari proses kegiatan pembelajaran baik dalam penggunaan media pembelajaran penggunaan pendekatan atau metode pembelajaran, materi pembelajaran, dan sumber belajar dan penilaian hasil belajar.Dengan adanya perencanaan pembelajaran mempermudah kegiatan proses pembelajaran dengan begitu siswa dapat lebih mudah memahami dan tujuan pembelajaran pun dapat tercapai.
Prinsip Perencanaa Pembelajaran :
1.      Signifikasi
2.      Relevansi
3.      Adaptif
4.      Feasibilitas
5.      Kepastian
6.      Ketelitian
7.      Waktu
8.      Monitoring
9.      Isi perencanaan
Manfaat merencanakan pembelajaran dengan pendekatan sistem di antaranya sebagai berikut
1.          Dengan pendekatan sistem, arah dan tujuan pembelajaran dapat direncanakan dengan jelas. Dengan tujuan yang jelas, maka kita dapat menetapkan arah dan sasaran dengan pasti. Perumusan tujuan merupakan salah satu karakteristik pendekatan sistem. Penentuan komponen-komponen pembelajaran pada dasarnya diarahkan untuk mencapai tujuan. Melalui pendekatan sistem, setiap guru dapat lebih memahami tujuan dan arah pembelajaran untuk menentukan langkah-langkah pembelajaran dan pengembangan komponen yang lain, dan dapat dijadikan kriteria efektivitas proses pembelajaran. 
2.         Pendekatan sistem menuntun guru pada kegiatan yang sistematis. Berpikir secara sistem adalah berpikir runtut, sehingga melalui langkah-langkah yang jelas dan pasti memungkinkan hasil yang diperoleh akan maksimal.
3.         Pendekatan sistem dapat merancang pembelajaran dengan mengoptimalkan segala potensi dan sumber daya yang tersedia. Jadi berpikir sistematis adalah berpikir bagaimana agar tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai oleh siswa.
4.         Pendekatan sistem dapat memberikan umpan balik. Melalui umpan balik, dalam pendekatan sistem, dapat diketahui apakah tujuan telah berhasil dicapai atau belum.
5.         Dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kegiatan perencanaan pembelajaran.
6.          Menghasilkan rumusan rencana pembelajaran yang bermutu
7.          Dapat menyusun system pembelajaran yang efektif dan efisien.
8.          Memberikan kejelasan dalam pencapaian kompetensi peserta didik, dan prasyarat yang diperlukan oleh peserta didik untuk dapat mengikuti pembelajaran di sekolah tersebut. Situasi seperti ini menggambarkan bahwa perencanaan yang baik akan memudahkan pelaksanaannya.
9.         Melaksanakan proses pengembangan berkelanjutan. Adanya perencanaan dapat menentukan berbagai proses yang dibutuhkan pada kurun waktu tertentu. Dengan memperhatikan prioritas yang harus dicapai
10.     Perencanaan pembelajaran dapat digunakan untuk menarik sebagai suatu hasil karya ilmiah bagi seorang pendidik untuk jadikan bahan usulan dalam kenaikan jabatan/golongan, sehingga sangat perlu dilakukan mendasain suatu rencana pembelajaran yang sesuai dengan standar isi dan kompetensi dasar pada tingkatan kelas yang berbeda[5]
Sistem pembelajaran merupakan suatu kombinasi terorganisir yang meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Bentuk sederhana pendekatan system dalam pembelajaran.
1.      Mengidentifikasi. 
2.      Mengembangkan.
3.       Mengevaluasi.
4.       Merevisi.
Karakterisitik Perencanaan Pembelajaran
1.         Penyusunan perencanaan pembelajaran ditujukan kepada siswa yang belajar
2.       Memilki tahapan-tahapan (persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut)
3.        Sistematis
4.      Pendekatan sistem
5.       Pembelajaran yang humanis[6]

BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Pembelajaran merupakan proses komunikasi antara pendidik dengan peserta didik, dalam proses pembelajaran yang baik tentu diperlukan sebuah perencanaan yang matang. Salah satunya yaitu merencanakan sebuah pembelajaran dengan menggunakan pendekatan sistem.
Sistem merupakan satu kesatuan yang utuh, dimana satu kesatuan yang utuh tersebut saling berhubungan satu sama lain. Artinya saling membutuhkan satu sama lain demi mencapai suatu tujuan. Misalnya manusia. Manusia sebagai suatu sistem, karena mansia memiliki komponen-komponen tertentu yang satu sama lain saling berkaitan. Dalam tubuh manusia, ada komponen mata, hidung, mulut, tangan, kaki, dan lain sebagainya. Hidung berfungsi untuk mencium, telinga untuk mendengar, mata untuk melihat dan lain sebagainya. Manakala hidung terasa sakit atau nyeri bukan hanya hidung yang terasa nyeri akan tetapi seluruh tubuh akan ikut sakit yang berarti akan berpengaruh terhadap sistem tubuh secara keseluruhan.
Jadi kalau demikian, Sistem dapat diartikan sebagai satu kesatuan komponen yang satu sama lain saling berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu. Dari konsep tersebut, ada tiga ciri utama suatu sistem. Pertama, suatu sistem memiliki tujuan tertentu; Kedua, untuk mencapai tujuan suatu sistem memiliki fungsi masing-masing; Ketiga, untuk menggerakkan fungsi, suatu sistem harus ditunjang oleh berbagai komponen.

DAFTAR PUSTAKA

Hamzah. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara. 2009
Ihsan Fuad.  Dasar- dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta. 2005.
Pidarta Made  Landasan Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta. 2007.
Wahyudin. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka. 2007.


[1]  Hamzah. 2009. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara. Hlm 11
 [2]  Wahyudin. 2007. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka. Hlm 42
[3]  Hamzah. 2009. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara. Hlm 16
 [4]  Ihsan Fuad. 2005. Dasar- dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Hlm 34
 [5] Pidarta Made .2007. Landasan Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Hlm 68
 [6] Pidarta Made .2007. Landasan Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Hlm 70

MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...