Selasa, 13 Agustus 2019

MAKALAH PENDIDIKAN ANAL DALAM KELUARGA “Inetraksi Perngasuhan dalam Keluarga”


MAKALAH PENDIDIKAN ANAL DALAM KELUARGA

“Inetraksi Perngasuhan dalam Keluarga”




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang memegang peranan penting dalam pembentukan kepribadian anak hingga menjadi dewasa. Karena itu keluarga sebagai lembaga pertama dalam kehidupan anak akan memberikan pola dan corak bagi konsep diri anak yang berbeda-beda sesuai dengan perkembangannya. Pengalaman interaksi dalam keluarga akan menentukan pola tingkah laku anak terhadap orang lain dalam masyarakat. Kesalahan interaksi dalam keluarga yang dikarenakan kurang optimalnya anggota keluarga dalam melaksanakan peran dan fungsinya masing-masing dapat menimbulkan berbagai permasalahan dalam keluarga. Pandangan konstruksi perkembangan percaya bahwa ketika individu itu tumbuh mereka mendapatkan model berhubungan dengan orang lain. Ada dua variasi utama dalam pandangan ini yang satu menekankan kontinuitas dan stabilitas dalam hubungan (pandangan kontinuoitas) dan satu lagi berfokus pada diskontinuitas dan perubahan dan hubungan (pandangan diskontinuitas). Bagi sebagian orang, peran orang tua direncanakan dan dikoordinasikan dengan baik. Bagi orang lain, peran orang tua datang sebagai kejutan.
Ada banyak mitos tentang pengasuhan, termasuk mitos bahwa kelahiran anak akan menyelamatkan perkawinan yang gagal. Tren yang makin berkembang adalah memandang orang tua sebagai manajer atas kehidupan anak. Orang tua memegang peranan penting sebagai manajer atas kesempatan anak, dalam memantau hubungan anak dan sebagai inisiator dan pengatur hubungan sosial. Orang tua perlu menyesuaikan pengasuhan mereka seiring dengan bertambahnya usia anak, mengurangi penggunaan manipulasi fisik dan lebih menggunakan logika dan prosesnya. Orang tua menghabiskan waktu yang lebih sedikit dalam perawatan, instruksi, membaca, berbincang dan bermain dengan anak pada pertengahan masa kanak-kanak dibandingkan dengan pada awal masa perkembangan anak. Pada pertengahan dan akhir masa kanak-kanak, kontrol menjadi lebih bersifat regulasi bersama. Otoritarian, otoritatif, mengabaikan dan menuruti adalah empat kategori utama gaya pengasuhan. Pengasuhan otoritatif diasosiasikan dengan perilaku sosial anak yang lebih kompeten dibanding dengan gaya yang lain. Ada sejumlah alasan untuk tidak menggunakan hukuman fisik dalam mendisiplinkan anak dan dibeberapa negara hukuman fisik telah dilarang. Perlakuan yang salah terhadap anak adalah dengan banyak sisi. Memahami perlakuan yang salah terhadap anak membutuhkan informasi tentang konteks budaya dan pengaruh keluarga. Perlakuan yang salah terhadap anak membuat anak beresiko mengalami sejumlah masalah perkembangan. Pengasuhan yang baik membutuhkan waktu dan usaha.

B.     Rumusan Masala
    1.      Bagaimana Definisi Interaksi?
    2.      Bagaimana Pengasuhan Anak Dalam Keluarga?
    3.      Bagaimana Fungsi Keluarga Dalam Menerapkan Pola Asuh Terhadap Anak Dalam Keluarga?
   4.      Bagaimana Faktor Yang Mempengaruhi Interaksi ?
   5.      Bagaimana Keterkaitan Antara Interaksi Dengan Pola Pengasuhan Anak Dalam Keluarga?

C.     Tujuan
    1.      Untuk mengetahui Definisi Interaksi
   2.      Untuk mengetahui Pengasuhan Anak Dalam Keluarga
   3.     Untuk mengetahui Fungsi Keluarga Dalam Menerapkan Pola Asuh Terhadap Anak Dalam Keluarga
   4.      Untuk mengetahui Faktor Yang Mempengaruhi Interaksi 
    5.      Untuk mengetahui Keterkaitan Antara Interaksi Dengan Pola Pengasuhan Anak Dalam Keluarga



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Interaksi
Interaksi  adalah hubungan timbal balik antarindividu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok lainnya. merupakan hubungan-hubungan sosial yang menyangkut hubungan antarindividu, individu (seseorang) dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok.[1]
Menurut Bonner ( dalam Ali, 2004) merupakan suatu hubungan antara dua orang atau lebih individu, dimana kelakuan individu mempengaruhi, mengubah atau mempengaruhi individu lain atau sebaliknya.
Menurut Shaw. Interaksi sosial  adalah suatu pertukaran antarpribadi yang masing- masing orang menunjukkan perilakunya satu sama lain, dan masing- masing perilaku mempengaruhi satu sama lain.
Thibaut dan Kelley bahwa interaksi sosial sebagai peristiwa saling mempengaruhi satu sama lain ketika dua orang atau lebih hadir bersama, mereka menciptakan suatu hasil satu sam lain atau berkomunikasi satu sama lain. Jadi dalam kasus interaksi, tindakan setiap orang bertujuan untuk mempengaruhi individu lain.
Syarat-Syarat Terjadinya Interaksi
1.      kontak sosial
Kontak sosial tidak hanya dengan bersentuhan fisik, seperti berkomunikasi secara langsung/tatap muka, berdiskusi, bermain dan lain sebagainya.
2.      komunikasi sosial
Dengan perkembangan teknologi manusia dapat berhubungan tanpa bersentuhan, tanpa bertemu langsung. Misalnya  melalui telepon, telegrap dan lain-lain.

B.     Pengasuhan Anak Dalam Keluarga
1.      Pengertian pengasuhan
Pengasuhan merupakan  cara mengasuh anak mencakup yaitu pengalaman, keahlian, kualitas, dan tanggungjawab yang dilakukan orang tua dalam mendidik dan merawat anak, sehingga anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang diharapkan oleh keluarga dan masyarakat dimana ia berada atau tinggal.   Pengasuhan sering  disebut juga “parenting” adalah proses menumbuhkan dan mendidik anak dari kelahiran anak hingga anak memasuki usia dewasa dan mampu menjadi individu yang mandiri.[2]
2.      Pola asuhan anak dalam keluarga
Usaha orang tua dalam membina anak dan membimbing anak baik jiwa maupun raganya sejak lahir sampai dewasa (18 tahun). Selain itu, yang dimaksud dengan  pola asuh adalah kegiatan kompleks yang meliputi banyak perilaku spesifik yang bekerja sendiri atau bersama yang memiliki dampak pada anak. Tujuan utama pola asuh yang normal adalah menciptakan kontrol. Meskipun tiap orang tua berbeda dalam cara mengasuh anaknya, namun tujuan utama orang tua dalam mengasuh anak adalah sama yaitu untuk mempengaruhi, mengajari dan mengontrol anak mereka.[3]
Beberapa cara yang bisa dilakukan  untuk membuat anak menjadi lebih pintar sebagai berikut:
a.       pemberian ASI, asi merupakan makanan otak yang paling dasar. Anak yang mengkomsumsi asi eksklusif akan memiliki tingkat kepintaran yang tinggi.
b.      Bermain permainan yang berfikir, bermain catur, teka-teki, selain menyenagkan juga mendukung strategi berfikir anak, bagaimana cara menyelesaikan masalah dan membuat keputusan yang kompleks.
c.       Bermain musik,
d.      Membiasakan berolahraga, hubungan yang kuat antara kebugaran dan prestasi akademik, semakin anak sehat maka semakin semangat anak untuk belajar.
e.       Pola Asuh Permisif
Pola asuh permisif adalah jenis pola mengasuh anak yang cuek terhadap anak. Jadi apa pun yang mau dilakukan anak diperbolehkan seperti tidak sekolah, bandel, melakukan banyak kegiatan maksiat, pergaulan bebas negatif, matrialistis, dan sebagainya.
Anak yang diasuh orangtuanya dengan metode semacam ini nantinya bisa berkembang menjadi anak yang kurang perhatian, merasa tidak berarti, rendah diri, nakal, memiliki kemampuan sosialisasi yang buruk, kurang menghargai orang lain, dan lain sebagainya
f.       Pola Asuh Otoriter
Pola asuh otoriter adalah pola pengasuhan anak yang bersifat pemaksaan, keras dan kaku di mana orangtua akan membuat berbagai aturan yang saklek harus dipatuhi oleh anak-anaknya tanpa mau tahu perasaan sang anak. Anak yang besar dengan teknik asuhan anak seperti ini biasanya tidak bahagia, mudah sedih dan tertekan.
g.      Pola Asuh Otoritatif
P    ola asuh otoritatif adalah pola asuh orangtua pada anak yang memberi kebebasan pada anak untuk berkreasi dan mengeksplorasi berbagai hal sesuai dengan kemampuan anak dengan sensor batasan dan pengawasan yang baik dari orangtua.
3.      Pola Asuh Orang Tua Dalam Mengembangakan Kecerdasan Motorik, Kognitif, Emosi, Intelektual,Dan Sosial Anak
Anak selain tumbuh secara fisik, juga berkembang secara psikologi. Ada fase-fase perkembangan yang dilalui dan anak menapilkan perilaku sesuai dengan cirri-ciri fase perkembangan tersebut. anak pada dasar senang meniru, karena salah satu proses pembentukan perilaku meka peroleh dengan cara meniru. Orang tua dituntut untuk memberikan contoh-contoh yang baik yang nyata akan hal-hal yang baik.
a.       Pengasuhan orang tua dalam mengembangkan kecerdasan kognitif anak antara lain:
b.      Meceritakan dongeng pada anak sebelum tidur.
c.       Memperdengarkan dan mengajari anak dalam bernyanyi serta bermain musik.
d.      Mengajak anak untuk mengimajinasikan dalam bentuk gambar atau lukisan.
e.       Mengajak anak untuk melakukan eksperimen, misalnya mengajak anak untuk memasak bersama.
f.       Mengasah kemampuan mengingat anak dengan bermain puzzle.
g.      Mengajak anak dengan bermain tebak-tebakan.
h.      Mengajak anak dengan bermain peran/drama.
i.        Pengasuhan orang tua dalam mengembangkan kecerdasan motorik anak antara lain:
j.        Mengajak anak bermain dihalaman rumah, seperti main ayunan, menanam bunga dan lain-lain.
k.      Mengajak anak dengan bermain petak umpet
l.        Mengajak anak membersihkan halaman dan lain sebagainya.
Motorik dapat diartikan sebagai proses belajar keahlian gerak dan penghalusan kemampuan motorik yang memdukung kemahiran dan tumbuh kembang anak.[4]
Perkembangan motorik kasar pada anak usia dini, memiliki rangkaian tahapan yang berurutan, anak harus melalui tahapan-tahapan khusus dan menguasai setiap tahapan sebelum menuju ketahapan selanjutnya. Pembelajaran motorik kasar merupakan gerakan fisik yang membutuhkan keseimbangan anggota tubuh anak.
Perkembangan motorik halus ialah pembelajaran yang berhubungan dengan keterampilan fisik anak yang melibatkan otot kecil serta koordinasi antara mata dan tangan. Koordinasi ini dimulai dengan pembawaan dan stimulus yang diperolehnya.
a.       Perkembangan emosi anak
Emosi pada anak berkembang sesuai dengan usia anak pada umumnya. Anak-anak usia 1-2 tahun, umumnya menujukkan rasa ketidaksukaannya atau marah, menangis, dan lain sebagainya. Sebenarnya ituklah cara mereka mengungkapkan emosinya.
b.      Perkembangan intelektual
Perkembangan intelektual adalah perkembangan yang datang secara alami. Perkembangan ini berhubungan dengan perkembangan kemampuan berbicara atau berbahasa pada anak.setiap hari anak akan mendengar, menangkap pembicaraan dan mengeluarkan pembicaraan lewat untaian kata-kata.
c.       Perkembangan sosial anak
Anak usia dua tahun lebih sering menghabiskan waktunya untuk bermain. Mereka juga lebih egois dan memiliki rasa ingin menang sendiri yang tinggi, seperti berebut mainan dengan teman seusianya atau mengambil sesuatu yang dia sukai walau bukan miliknya. Selain bermain anak-anak juga akan melakukan komunikasi dengan teman bermainnya.

C.    Fungsi Keluarga Dalam Menerapkan Pola Asuh Terhadap Anak Dalam Keluarga
Pola asuh di atas harus disesuaikan dengan determinasi yang jelas antara hak dan kewajiban anak, tetapi terutama hak anak. Hak anak yang dimaksud ialah bermain, belajar, kasih sayang, nama baik, perlindungan, dan perhatian. Pengasuhan erat kaitannya dengan kemampuan suatu keluarga atau rumah tangga dan komunitas dalam hal memberikan perhatian, waktu dan dukungan untuk memenuhi kebutuhan fisik, mental, dan sosial anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan serta bagi anggota keluarga lainnya. Keluarga juga merupakan pendidik paling vital bagi anak yang menjadi tempat anak untuk menemukan pengetahuan yang berada di lingkungan keluarga.[5]
1.      Fungsi Biologis.
Secara biologis, keluarga menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, dan papan dengan syarat-syarat tertentu. Berkaitan dengan fungsi ini, pola asuh anak di bidang kesehatan juga harus mendapat perhatian para orangtua.
2.      Fungsi Pendidikan dan Fungsi Perlindungan
Orangtua menjadi pemegang peran utama dalam proses pembelajaran anak-anaknya, terutama di kala mereka belum dewasa. Kegiatannya antara lain melalui asuhan, bimbingan dan pendampingan, dan teladan nyata. Fungsi perlindungan dalam keluarga ialah untuk menjaga dan memelihara anak dan anggota keluarga lainnya dari tindakan negatif yang mungkin timbul.
3.      Fungsi Religius
Para orangtua dituntut untuk mengenalkan, membimbing, memberi teladan dan melibatkan anak serta anggota keluarga lainnya mengenal kaidah-kaidah agama dan perilaku keagamaan. Di sini para orangtua diharuskan menjadi tokoh inti dan panutan dalam keluarga, untuk menciptakan iklim keagamaan dalam kehidupan keluarganya.  Berkatian dengan pola asuh anak di bidang agama, banyak orangtua sepakat bahwa agama adalah solusi terakhir dan tertinggi bagi setiap persoalan hidup anak-anak mereka. Di titik ini para orangtua harus menyadari fungsi mereka sebagai  teladan atau pemberi contoh terlebih dahulu.

D.    Faktor Yang Mempengaruhi Interaksi 
1.      Imitasi
Faktor imitasi mempunyai peran yang sangat penting dalam prosesi interaksi. Imitasi adalah proses meniru perilaku dan gaya seseorang yang menjadi idolanya. Tindakan meniru dilakukan dengan belajar dan mengikuti perbuatan orang lain yang menarik perhatiannya. Imitasi dapat terjadi contohnya cara berpakaian, model rambut, gaya bicara, cara bertingkah laku, dan sebagainya. Imitasi dapat bersifat positif jika mendorong seseorang untuk mempertahankan, melestarikan, serta menaati norma dan nilai yang berlaku.[6]
2.      Sugesti
 Sugesti adalah pandangan atau sikap seseorang yang kemudian diterima dan diikuti oleh pihak lain. Pihak pemberi sugesti biasanya adalah orang yang beribawa dan dihormati, seperti dokter dan psikiater. Berlangsungnya sugesti dapat terjadi karena pihak penerima sugesti sedang berada dalam keadaan kalut atau emosi yang tidak stabil sehingga menghambat daya pikirnya
3.      Identifikasi
 Identifikasi adalah keinginan seseorang untuk sama dengan orang lain. Sifat identifikasi lebih mendalam dari pada imitasi karena dalam proses ini kepribadian seseorang turut terbentuk. Proses identifikasi dapat berlangsung tanpasengaja atau dengan sengaja. Melalui identifikasi, diri seseorang seolah-olah menjadi pihak lain atau identik dengan tokoh idolanya. Prosesi identifikasi dapat membentuk kepribadian seseorang.
simpati adalah proses ketika seseorang merasa tertarik dengan pihak lain. Simpat akan dapat berkembang jika terdapat saling pengertian dari kedua belah pihak. Simpati disampaikan kepada seseorang pada saat-saat tertentu, bisa saat bergembira bisa pula saat bersedih.
Motivasi adalah dorongan yang diberikan kepada seseorang individu kepada individu lainnya. Motivasi bertujuan agar orang yang diberi motibasi tersebut menuruti atau melaksanakan apa yang dimotivasikan. Selain diberikan kepada individu, motivasi juga dapat diberikan individu kepada kelompok, kelompok kepada kelompok, dan kelompok kepada individu.
6.      Empati
Empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengindentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Misalnya, jika melihat seseorang mengalami kecelakaan dan luka berat. kita berempati seolah-olah juga ikut merasakan sakit orang tersebut. Dengan kata lain, kita memposisikan diri kita pada orang lain.

E.     Keterkaitan Antara Interaksi Dengan Pola Pengasuhan Anak Dalam Keluarga
Keterkaitan antara interaksi dengan pengasuhan anak dalam keluarga terlihat sangat jelas, karena didalam pengasuhan orang tua sering kali mengajak anaknya untuk berkomunikasi, bercengkrama, bersosialaisa dan lain sebagainya. Untuk mejalin hubungan yang baik dengan anak-anaknya orang tua harus mampu meluangkan waktu dengan anak mereka. Karena dengan adanya interaksi anak dan orang tua akan menjadi hubungan yang lebih dekat dan harmonis. Interaksi terjadi karena adanya reaksi, dan adanya reaksi dari orang tua maka anak akan melakukan aksi.
Interaksi pengasuhan pada anak yaitu pola hubungan timbale-balik antara pengasuh/orang tua dan anak yang di asuh. Interaksi atau perilaku seorang anak sangat dipengaruhi oleh pola pengasuhan orang tua, jika pengasuhan orang tua baik maka anak akan menjadi individu yang baik begitupun sebaliknya jika orang tua melakukan pengasuhan yang kurang baik maka anak pun akan tumbuh menjadi individu yang kurang baik.
Tanpa adanya interaksi orang tua dengan anak akan menimbulkan kejenuhandan kejangguhan antara anak dengan orang tuanya, kurangnya komunikasi antara mereka. Namun disetia keluarga pastilah terjalin komunikasi antara anak dan orang tua dan anggota lainnya yang saling membutuhkan satu sama lain yang sering melakukuan percakapan dan lain sebagainya.
Mengasuh anak adalah proses mendidik agar kepribadian anak dapat berkembang dengan baik dan ketika dewasa menjadi orang yang mandiri dan bertanggung jawab. Mengasuh anak bukanlah dimulai saat anak dapat berkomunikasi dengan baik, tetapi dilakukan sendiri oleh orang tua sedini mungkin (sejak lahir).[7]
1.      Sejak lahir sampai 1 tahun
Dalam kandungan, anak hidup serba teratur, hangat, dan penuh penlindungan. Setelah dilahinkan, anak sepenuhnya bengantung terutama pada ibu atau pengasuhnya. Pencapaian pada tahap ini untuk mengembangkan rasa percaya pada lingkungannya. Bila rasa percaya tak didapat, maka timbul rasa tak aman, rasa ketakutan dan kecemasan. Bayi belum bisa bercakap-cakap untuk menyampaikan keingmnannya, ia menangis untuk menarik perhatian orang. Segala hal yang dapat mengganggu proses menyusui dalam hubungan ibu anak pada tahap ini akan menyebabkan terganggunya pembentukan rasa percaya dan rasa aman.
2.      Usia 1 – 3 tahun
Pada tahap ini umumnya anak sudah dapat berjalan. Ia mulai menyadari bahwa gerakan badannya dapat diatur sendiri, dikuasai dan digunakannya untuk suatu maksud. Tahap ini merupakan tahap pembentukan kepercayaan diri. Orang tua hendaknya mendorong agar anak dapat bergerak bebas, menghargai dan meyakini kemampuannya. Usahakan anak mau bermain dengan anak yang lain untuk mengetahui aturan permainan. Hal ini jadi dasar terbentuknya rasa yakin pada diri dan harga diri di kemudian hari.
3.      Usia 3 – 6 tahun,
Tahap ini anak dapat meningkatnya kemampuan berbahasa dan kemampuan untuk melakukan kegiatan yang bertujuan, anak mulai memperhatikan dan berinteraksi dengan dunia sekitarnya.
4.      Usia 6 – 12 tahun,
Pada usia ini teman sangat penting dan ketrampilan sosial mereka semakin berkembang. Hubungan mereka menjadi lebih baik dalam berteman, mereka juga mudah untuk mendekati teman baru dan menjaga hubungan pertemanan yang sudah ada.
5.      Usia 12 – 18 tahun,
Masa remaja bervariasi pada setiap anak, tapi pada umumnya berlangsung antara usia 11 sampai 18 tahun. Di dalam masa remaja pembentukan identitas diri merupakan salah satu tugas utama, sehingga saat masa remaja selesai sudah terbentuk identitas diri yang mantap.
Sejak anak masih ada didalam kandungan ibunya seorang ibu sudah melakukuan interaksi dengan buah hatinya, dengan mengajaknya berbcara dan lain sebagainya. Jadi hubungan interasi dengan pengasuhan orang tua sudah ada sejak anak dalam kandungan sampai anak lahir dan tumbuh dewasa serta mampu menjadi individu yang mandiri.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang posisi strategis bagi perkembangan kepribadian anak. keluarga yang ideal akan membentuk pribadi-pribadi anak-anak yang ideal pula dan pada akhirnya anak-anak yang ideal akan mewujudkan  masa depan masyarakat dan Negara yang ideal juga. Perwujudan kesejahteraan keluarga tidak terlepas dari pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga yaitu dalam suatu keluarga diharapkan ada suatu keharmonisan, hubungan yang penuh kemesraan dan kasih sayang yang merupakan dambaan setiap orang. Keharmonisan tersebut akan diperlihatkan melalui jalinan relasi baik yang bersifat fisik maupun relasi psikis.  Pengasuhan (parenting) keluarga pada anak-anak memerlukan sejumlah kemampuan interpersonal dan mempunyai tuntutan emosional yang besar, namun sangat sedikit pendidikan formal mengenai tugas ini. Kebanyakan orang tua mempelajari praktek pengasuhan dari orang tua mereka sendiri. Sebagian praktik tersebut mereka terima, namun sebagian lagi mereka tinggalkan. Suami dan istri mungkin saja membawa pandangan yang berbeda mengenai pengasuhan ke dalam pernikahan.

B.     Saran
  1. Pengasuhan dalam keluarga tidak boleh di abaikan atau berjalan seadanya, namun pengasuhan adalah tugas utama didalam hidup berumah tangga dan jangan sampai kesibukan pekerjaan melupakan tugas pengasuhan.
  2. Konflik perkawinan, berbagai bentuk kekerasan, dan penggunaan hukuman harus dihindari dalam proses pengasuhan terhadap anak.
  3. Pemerintah, diharapkan dapat membuat kebijakan yang ketat  berupa perumusan undang-undang dalam hal pengasuhan keluarga pada anaknya karena apabila pengasuhan anak baik, maka akan tumbuh menjadi manusia yang baik dan berprestasi serta akan memajukan negara di masa mendatang.
  4. Sosialisasi pentingnya pola pengasuhan keluarga terhadap anak harus terus dilakukan baik oleh pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Djamarah Syaiful Bahri. Pola Asuh Orang Tua dan Komunikasi dalam Keluarga. (Jakarta :  Asdi Mahasatya. 2014)

Hermawati. Pendidikan keluarga. (Bandung :  Remaja Rosdakaria. 2014)

Littlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. Teori Komunikasi(Edisi 9). Jakarta: Salemba Humanika. 2009)

Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya. 2007)

Wadyaningrum, Damayanti. (2010). Pola Komunikasi Keluarga dalam Menentukan Konsumsi Nutrisi bagi Anggota Keluarga. Jurnal Ilmu KomunikasiFISIP UPN Yogyakarta 8 (3): 289-298.



[1] Djamarah Syaiful Bahri. Pola Asuh Orang Tua dan Komunikasi dalam Keluarga. (Jakarta :  Asdi Mahasatya. 2014) h. 78
[2] Littlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. Teori Komunikasi(Edisi 9). Jakarta: Salemba Humanika. 2009) h. 33
[3] Wadyaningrum, Damayanti. (2010). Pola Komunikasi Keluarga dalam Menentukan Konsumsi Nutrisi bagi Anggota Keluarga. Jurnal Ilmu KomunikasiFISIP UPN Yogyakarta 8 (3): 289-298.
[4] Hermawati. Pendidikan keluarga. (Bandung :  Remaja Rosdakaria. 2014) h. 33
[5] Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya. 2007) h. 15
[6] Djamarah Syaiful Bahri. Pola Asuh Orang Tua dan Komunikasi dalam Keluarga. (Jakarta :  Asdi Mahasatya. 2014) h. 124
[7] Wadyaningrum, Damayanti. (2010). Pola Komunikasi Keluarga dalam Menentukan Konsumsi Nutrisi bagi Anggota Keluarga. Jurnal Ilmu KomunikasiFISIP UPN Yogyakarta 8 (3): 289-298.

RESUME MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK


 RESUME MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK


A. Manajemen Talking Stick
1. Pengertian Model Pembelajaran Talking Stick
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial (Trianto, 2007:5).Sedangkan menurut Suprijono (2010:46) menyatakan bahwa model pembelajaran dapat didefinisikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalamanbelajar untuk mencapai tujuan belajar.Selain itu, Anurrahman (2009:146) juga mengutarakan pendapatnya bahwa model pembelajaran merupakan suatu perangkat rencana atau pola yang dapat dipergunakan untuk merancang bahan-bahan pelajaran serta membimbing aktivitas pembelajaran di kelas. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran merupakan suatu perangkat rencana atau kerangka konseptual yang dipergunakan sebagai pedoman dalam merancang bahan-bahan pembelajaran serta membimbing aktivitas di kelas atau pembelajaran dalam tutorial guna mencapai tujuan belajar.Adapun model pembelajaran yang didasarkan pada pandangan konstruktivisme adalah pembelajaran cooperative. Menurut Anita Lie (2008:12) mendefinisikan pembelajaran cooperative merupakan sistem pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama antar siswa pada saat mengerjakan tugas terstruktur. Sedangkan menurut Eggen dan Kauchak dalam Hasan Fauzi Maufur (2009:129) menjelaskan bahwa pembelajaran cooperative merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara kolaborasi untuk mencapai tujuan bersama.[1]
Model pembelajaran Talking Stick adalah suatu model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan bantuan tongkatdengan memberikan kesempatan kepada kelompok atausiswa yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah mempelajari materi pokoknya, selanjutnya kegiatan tersebut diulang terus menerus sampai semua kelompok atau siswa mendapatkan giliran untuk menjawab pertanyaan dari guru. [2]
2. Prinsip Model Pembelajaran Talking Stick
   Talking Stick (tongkat berbicara) adalah metode yang pada mulanya digunakan oleh penduduk asli amerika untuk mengajak semua orang berbicara atau menyampaikan pendapat dalam suatu forum (pertemuan antar suku). Sebagai mana yang dikemukakan oleh Carol Locust berikut ini: “The talking stick has been used for centuries by many Indian tribes as a means of just and impartial hearing. The talking stick was commonly used in council circles to decide who had the right to speak. When matters of great concern would come before the council, the leading elder would hold the talking stick, and begin the discussion. When he would finish what he had to say, he would hold out the talking stick, and whoever would speak after him would take it. In this manner, the stick would be passed from one individual to another until all who wanted to speak had done so. The stick was then passed back to the elder for safe keeping.”
3. Tujuan Model Pembelajaran Talking Stick
Model pembelajaran Talking Stick ini berkembang dari penelitian belajar kooperatifoleh Slavin pada tahun 1995. Model pembelajaran ini merupakan suatu cara yang efektif untuk melaksanakan pembelajaran yang mampu mengaktifkan siswa. Karena didalam pelaksanaan model pembelajaran ini siswa dituntut mandiri sehingga tidak bergantung pada siswa yang lainnya.Sehingga siswa harus mampu bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan siswa juga harus percaya diri dan yakin dalam menyelesaikan masalah. Sebagaimana yang telah diuraikan diatas mengenai jenis dari model pembelajaran ini, dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Talking Stick ini bertujuan pada penggalian kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan dari guru atau melatih mental berbicara siswa secara mandiri, berani dan bertanggung jawab didepan forum atau kelas, sehingga dapat membentuk karakter siswa yang berani mengemukakan pendapat dengan penuh tanggung jawab. Selain untuk melatih berbicara, model pembelajaran ini juga bertujuan untuk mengembangkan sikap saling menghargai pendapat dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengemukakan gagasannya dengan menyampaikan pendapat mereka secara kelompok (Isjoni, 2010: 21). Sedangkan menurut Eggen dan Kauchak (1996: 279) model pembelajaran Talking stick ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang memiliki perbedaan latar belakangnya.
4. Langkah-langkah Model Pembelajaran Talking Stick
Dalam melaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran tersebut, terdapat beberapa langkah sebagai berikut:Pembelajaran dengan model pembelajaran Talking Stick diawali oleh penjelasan guru mengenai materi pokok yang akan dipelajari. Siswa diberikan kesempatan membaca materi tersebut.berikan waktu yang cukup untuk aktivitas ini. Guru selanjutnya meminta kepada siswa menutup bukunya. Guru mengambil tongkat yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tongkat tersebut diberikan kepada salah satu siswa.Siswa yang menerima tongkat diwajibkan menjawab pertanyaan dari guru demikian seterusnya. Ketika stick bergulir dari siswa ke siswa lainnya, sebaiknya diiringi musik. Langkah terakhir dari model pembelajaran ini adalah guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan refleksi terhadap materi yang telah dipelajari. Guru memberikan ulasan terhadap seluruh jawaban yang diberikan siswa  yang selanjutnya bersama-sama siswa merumuskan kesimpulan.
Adapun menurut Suyatno (2009:124) langkah-langkah dalam melaksanakan model pembelajaran Talking Stick iniadalah sebagai berikut:
·         Guru menyiapkan tongkat.
·         Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi tersebut.
·         Setelah selesai memberikan waktu kepada siswa untuk mempelajari materi yang pokok yang akan dibahas, guru menyuruh siswa untuk menutup bukunya.
·         Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa. Setelah itu, guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya. Demikian seterusnya sampai sebagian besar atau keseluruhan siswa mendapat kesempatan untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
·         Guru memberikan kesimpulan.
·         Evaluasi.
·         Penutup.
Kemudian menurut Widodo (2009) menjelaskan bahwa sintaks atau langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan Model Pembelajaran Talking Stick ini adalah sebagai berikut:
1)      Guru menjelaskan tujuan pembelajaran/ KD.
2)      Guru menyiapkan sebuah tongkat.
3)      Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi lebih lanjut.
4)      Setelah siswa membaca materi/ buku pelajaran dan mempelajarinya, siswa menutup bukunya dan mempersiapkan diri menjawab pertanyaan guru.
5)      Guru memberikan tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya. Jika siswa sudah dapat menjawabnya maka tongkat diserahkan pada siswa lainnya. Demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
6)      Guru memberikan kesimpulan.
7)      Evaluasi
8)      Penutup
5. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Talking Stick
            Pembelajaran dengan model Talking stick ini sangat cocock diterapkan bagi siswa SD, SMP, dan SMA/ SMK. Selain untuk melatih kemampuan berbicara, pembelajaran ini juga akan menciptakan suasana yang menyenangkan dan membuat siswa aktif pada pembelajaran. Adapun beberapa kelebihan pada model pembelajaran Talking Stick ini diantaranya:
a. Menguji kesiapan dari siswa dalam pembelajaran.
b. Melatih para siswa memahami materi dengan cepat.
c. Memacu agar para siswa lebih giat belajar (belajar dahulu sebelum pelajaran dimulai).
d. Membuat para siswa berani untuk mengemukakan pendapat.
e. Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain atau siswa lain yang dirasakan lebih baik.
f. Meningkatkan motivasi, kepercayaan diri dan life skill yang mana pendekatan tersebut ditujukan untuk memunculkan emosi dan sikap positif belajar dalam proses belajar mengajar yang berdampak pada peningkatan kecerdasan otak.
            Sedangkan kelemahan dari penggunaan startegi ini adalah diantaranya:
a. Membuat senam jantung para siswa.
b. Membuat para siswa tegang, ketakutan akan pertanyaan yang akan diberikan oleh guru.
c. Siswa cenderung individu.
d. Siswa yang lebih pandai lebih mudah menerima materi, sedangkan siswa yang kurang pandai kesulitan menerima materi.
e. Ketenangan kelas kurang terjaga.
Pembelajaran yang bermutu dihasilkan oleh guru yang bermutu pula. Kecakapan guru dalam mengelola proses pembelajaran menjadi inti persoalannya. Tahapan-tahapan dalam proses pembelajaran sedikitnya harus meliputi fase-fase berikut :
1) Menetapkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
2) Memilih dan melaksanakan metode yang tepat dan sesuai materi pelajaran serta memperhitungkan kewajaran metode tersebut dengan metode-metode yang lain
3) Memilih dan mempergunakan alat bantu atau media guna membantu tercapainya tujuan
4) Melakukan penilaian atau evaluasi pembelajaran.
Hal-hal di atas menjadi tugas guru. Guru dituntut untuk mempunyai kecakapan dan pengetahuan dasar agar mampu melaksankaan tugasnya secara professional. Dengan demikian, pembelajaran yang akan diterapkan akan menjadi hal yang bermutu bagi para siswa. Adapun pembelajaran yang bermutu adalah pembelajaran yang efektif yang pada intinya adalah menyangkut kemampuan guru dalam proses pembelajaran di kelas. Proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru akan sangat menentukan mutu hasil pembelajaran yang akan diperoleh siswa.Mutu pembelajaran pada hakikatnya menyangkut mutu proses dan mutu hasil pembelajaran. Hadis (2010:97) menjelaskan bahwa mutu proses pembelajaran diartikan sebagai mutu aktivitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dan pesrta didik di kelas dan tempat lainnya. Sedangkan mutu hasil pembelajaran adalah mutu aktivitas pembelajaran yang terwujud dalam bentuk hasil belajar nyata yang dicapai oleh peserta didik berupa nilai-nilai.

B. Manajemen Model Talking Stick untuk Meningkatkan Mutu Pembelajaran
Manajemen menurut Ricky W. Griffin adalah sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordiansian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efisien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan.Sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir dan sesuai dengan jadwal.Adapun fungsi dari manajemen adalah sebagai berikut:
a. Perencanaan (planning) adalah memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber daya yang dimiliki. Hal ini bertujuan agar dapat mengevaluasi dengan berbagai rencana alternative sebelum mengambil tindakan. Dengan demikian, akan dapat diketahui mengenai rencana yang dipilih, apakah cocok dan dapat digunakan untuk memenuhi tujuan atau tidak. Perencanaan ini merupakan hal terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan, fungsi-fungsi yang lainnya tidak dapat berjalan.
b. Pengorganisasian (organizing) dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil.
c. Pengarahan (directing) adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan tujuan yang direncanakan.
Dalam sebuah kegiatan pembelajaran, perlu adanya manajemen yang mengatur bagaiman kegiatan pembelajaran tersebut berjalan.Hal tersebut dikarenakan kegiatan pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang sistematis dan terencana.Dalam penyusunan perencanaan pembelajaran ini dibutuhkan kejelian dari guru atau pendidik untuk memilih dan menerapkan model pembelajaran yang mana harus disesuaikan denganmata pelajaran dan kondisi kelas.Pemilihan model pembelajaran ini sangat memiliki peran penting dalam menunjang keberhasilan dalam pembelajaran.Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya bahwa kegiatan pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang disusun untuk membuat siswa bisa belajar.Serangkain kegiatan dalam pembelajaran tentu harus direncanakan terlebih dahulu juga harus disusun sebaik mungkin disesuaikan dengan konteks situasi, materi, kondisi siswa, dan ketersediaan media pembelajaran. Oleh karena itu, seorang guru ditugaskan untuk mengetahui keadaan dan kondisi kelas yang akan ditempati untuk kegiatan belajar mengajar agar dalam pemilihan metode pembelajaran tidak salah sasaran.
Dalam kaitannya dengan pemilihan model pembelajaran, penulis ingin menguraikan bagaimana pengaruh dari penerapan model pembelajaran Talking stick yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran.Dalam model talking stick ini, sebagaimana filosofi dari penggunaan talking stick yakni memberikan kesempatan untuk berbicara didalam forum yang dilakukan oleh suku Indian di Amerika, siswa dituntut untuk berani berbicara didalam forum untuk mengemukakan pendapatnya atau menjawab pertanyaan dari guru secara tanggung jawab.Kemampuan berbicara didalam forum ini sebenarnya hal yang sangat mudah dibayangkan, namun dalam pelaksanaannya itu sangat sulit.Ini disebabkan karena kurang terbiasanya siswa mengemukakan atau berbicara didalam forum yang mana menjadi sorotan oleh pendengar lainnya. Untuk itu, tujuan dari penggunaan model ini adalah untuk membiasakan daripada siswa berbicara dan mengemukakan pendapatnya secara tanggung jawab sehingga akan tertanam jiwa yang aktif, kritis, dan bertanggung jawab dengan apa yang dikatakannya. Selain dari itu, siswa juga dilatih agar dapat menghargai dan mendengarkan pendapat orang lain sehingga tetap akan menghasilkan pribadi yang bisa menghargai orang lain. Dengan begitu, selain dari jiwa partisipasi dan keberanian dalam mengemukakan pendapatnya, jiwa kesantunan juga akan dapat tertanam pada diri siswa.


[1]Isjoni.Cooperative Learning, EfektivitasPembelajaran Kelompok. Bandung: Alfabeta

[2]Lie, Anita. 2010. Cooperative Learning. Jakarta:Grasindo.

MAKALAH MENGEMBANGKAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI


MAKALAH
MENGEMBANGKAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI 



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pada awalnya yang pertama muncul adalah filsafat dan ilmu-ilmu khusus merupakan bagian dari filsafat, sehingga di katakan bahwa fisafat merupakan induk atau ibu dari semua ilmu(mater scientiarum).  Karena objek material filsafat bersifat umum yaitu seluruh kenyataan, pada hal ilmu-ilmu membutuhkan objek khusus.  Hal ini menyebabkan berpisahnya ilmu dari filsafat.
Meskipun pada perkembangannya masing-masing ilmu memisahkan diri dari filsafat, ini tidak berarti hubungan filsafat dengan ilmu-ilmu khusus menjadi terputus. Dengan ciri kekhususan yang dimiliki setiap ilmu, hal ini menimbulkan batas-batas yang tegas di antara masing-masing ilmu. Dengan kata lain tidak ada bidang pengetahuan yang menjadi penghubung ilmu-ilmu yang terpisah. Di sinilah filsafat berusaha untuk menyatu padukan masing-masing ilmu. Tugas filsafat adalah mengatasi spesialisasi dan merumuskan suatu pandangan hidup yang didasarkan atas pengalaman kemanusian yang luas.
Ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju dan mengalami perkembangan. Berkaitan dengan dunia pendidikan perkembangan pengetahuan dan teknologi terus berlangsung. Dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut dipergunakan untuk kemajuan kehidupan masyarakat. Sebagai generasi penerus bangsa, kita memang wajib untuk harus membudayakan gemar membaca dan melakukan penelitian pada alam sekitar.
     
B.     Rumusan Masalah
    1. Bagaimanakah membudayakan gemar membaca ?
    2. Apa pengaruh keutamaan ilmu pengetahuan?
    3. Apakah Pentingnya Melakukan Penelitian Alam Sekitar?


C.    Tujuan Penulisan
    1.      Mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
     2.      Membudayakan gemar membaca.
     3.      Memahami Pentingnya Melakukan Penelitian Alam Sekitar.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Membudayakan Gemar Membaca dan Keutamaan Ilmu Pengetahuan
Membaca, adalah suatu kegiatan yang melibatkan berbagai faktor dari sang pembaca, yang berupa intelegensi, minat, sikap, bakat, motivasi, tujuan membaca, dan lain sebagainya. Membaca baru bisa dikatakan membaca bila diikuti dengan daya pikir yang total, mengingat, menganalisa atau membayangkan implementasinya di kehidupan si pembaca. 
Membaca juga bisa menambah ilmu pengetahuan, karena dengan membaca, berarti telah mentransfer bahan bacaan ke otak kita. Kemudian sesuai dengan mind set kita, bahan bacaan itu akan terproses. Karena itu, saat kita membaca, kita harus mempersiapkan mind set kita dengan baik, agar informasi yang kita peroleh dari membaca sesuai dengan pikiran dari sang penulis.
Membaca dalam kondisi tertentu sangatlah penting. Misalnya, di kehidupan kita sehari-hari, di tempat bekerja, terjadi salah komunikasi, karena malasnya kita membaca. Ketika seharusnya kita membaca laporan, hanya sekilas membaca tanpa mengerti isi dari laporan itu. Padahal hal ini penting sekali. Akibatnya terjadi salah pemahaman dan mengakibatkan tertundanya suatu pekerjaan. Atau kita salah membaca tanggal suatu acara karena kita malas membacanya, kita akan malu karena datang tak tepat waktu. Jadi, dalam kondisi tertentu, membaca sangatlah penting.
Keutamaan Ilmu Pengetahuan, setiap orang bisa menjadi bermanfaat luas bagi banyak orang, dan dengan Ilmu segala efektifitas yang dilaksanakan bisa didapat. 
     a.      Keutamaan Ilmu Pengetahuan Bagi Pemiliknya
1.      Keutamaan Ilmu membuat Orang Diangkat Derajatnya
Sebuah kedudukan dunia maupun akhirat berkenaan dengan Akhlak dan manfaat seorang hamba pada tuhan nya dan seorang manusia pada manusia lain, dan hablumminallah yang baik berkaitan dengan bagaimana ibadah kita pada Allah tuhan sesembahan segala makhluk dan cara beribadah tidak akan bisa sempurna jika ibadah yang dilaksanakan tidak didasari Ilmu. hablumminannas berkaitan dengan bagaimana hubungan dan akhlak kita pada manusia, dimana kedudukan kita dalam kehidupan sosial bergantung dari seberapa bergunanya kita untuk orang lain. 
Besarnya manfaat seseorang bergantung pada kontribusi yang diberikan pada orang lain/ masyarakat luas, dan tidak ada hal lebih bermanfaat selain Ilmu dimana Ilmu yang bisa mendorong orang melakukan sesuatu menjadi lebih baik, dan dengan bermanfaat nya ilmu dari seseorang ini membuat orang itu mendapat kedudukan yang tinggi. 
2.      Keutamaan Ilmu membuat Orang Dimudahkan Jalan Ke Syurga
Salah satu keutamaan Ilmu bagi pemiliknya adalah dimudahkan nya jalan orang itu oleh Allah Robbul Aalamin dalam menuju Syurga Allah. dimana dalam sebuah Hadist Rasulullah. dari abu Hurairah.
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

"Barangsiapa yang melaksanakan Perjalanan dalam Rangka menuntut Ilmu maka Allah subhanahu wataala akan memudahkan jalan orang itu menuju syurga" 
3.      Keutamaan Ilmu Derajat Mujahid Bagi Penuntut dan Pengajar Ilmu
Derajat Mujahid ..... siapa muslim yang tidak ingin mendapatkan nya... syahid dalam berperang saja amat sangat diinginkan oleh banyak para sahabat Rasulullah Muhammad Sallallahu alaihi wasallam, dan derajat ini alkan didapat oleh para penuntut ilmu.
Dalam sebuah Sabda Rasulullah
:
Artinya : Barangsiapa orang yang datang ke masjidku ini dan tidaklah mereka datang kecuali untuk kebaikan belajar ( menuntut Ilmu ) atau mengajarkan Ilmu maka mereka selayaknya berada dalam tempat kedudukan orang -orang mujahid di jalan Allah, dan barang siapa orang yang datang kemasjidku bukan karena itu ( bukan untuk menuntut ilmu maupun mengajarkan Ilmu ) mereka seperti berada di tempat seseorang yang hanya dapat melihat perhiasan / perbekalan orang lain saja. 
     4.      Keutamaan Ilmu Bagi Penuntut nya Mendapat Ridho Malaikat
Dalam Sebuah Hadis Yang Artinya "Tidaklah Seseorang yang keluar dari tempat tinggalnya / Rumahnya demi untuk menuntut Ilmu kecuali para malaikat merentangkan sayap - sayap nya dikarenakan (Para malaikat itu) meridoi apa - apa yang dilakukan orang yang menuntut Ilmu"
     5.      Keutamaan Ilmu Sebagai Amal Abadi
Waktu didalam Islam mempunyai keutamaan tersendiri dimana sampai - sampai Allah bersumpah dengan nya / waktu dalam surah Al Ashr. manusia adalah mahkluk yang terikat oleh ruang dan waktu, dan umur manusia Akhir Zaman ( Umat Rasulullah ) tidaklah panjang seperti Umat - Umat terdahulu. setiap manusia tidak terkecuali pasti memiliki salah dan dosa, dan kita sebagai umat Rasulullah sudah di beri tau bagaimana cara mengimbangi kesalahan dengan kebaikan.
Amal kebaikan yang dilakukan seorang manusia terbatas dalam waktu karena memang manusia memiliki Umur terbatas, tetapi Ilmu bisa hidup dan bermanfaat sampai akhir zaman. dan dengan Ilmu yang bermanfaat seseorang bisa mendapatkan pahala sampai Akhir zaman meskipun sudah meninggal dunia.
B.     Pentingnya Melakukan Penelitian Alam Sekitar
Penelitian merupakan serangkain kegiatan yang memiliki tujuan untuk memperoleh informasi atau data yang akan dibutuhkan sebelum melakukan suatu riset atau eksperimen tertentu. Penelitian teriri dari penelitian yang bersifat ilmiah dan non ilmiah. Tujuan dari penelitian adalah, untuk mengetahui, dan membanduingkan antara data yang dihasilkan dari penelitian dengan fakta yang terjadi di masyarakat. Memecahkan masalah yang terjadi di masyarakat. Memeberikan jawaban dan solusi yang tepat bagi masyarakat.
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua unsur penting yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan bagi perkembangan peradaban dan kemajuan suatu negara bahkan dunia sekalipun. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua elemen yang bisa merubah peradaban dan kebiasaan lama yang bersiafat stagnasi (dogmatis) menjadi kebiasaan yang bisa merubah atau membentuk kebudayaan atau tradisi baru yang lebih berguna bagi masyarakat dunia. Banyak penemuan-penemuan ataupun inovasi yang telah ditemukan mulai dari zaman pra sejarah (megalitikum, mesolitikum, dan nelitikum) hingga zaman sejarah sekarang ini, dari mulai peradaban manusia yang sangat rendah, revolusi industri di inggris dan prancis hingga zaman modern merupakan peran dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin dikenal dan dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Penelitian dan eksperimen merupakan komponen atau bagian yang sangat penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Karena dengan penelitian dan eksperimen ini akan dihasilkan dan ditemulan temuan-temuan (inovasi) yang bersifat ilmiah dan dapat teruji kebenarannya. Sehingga dari penelitian dan eksperimen ini, para ilmuan bisa menjawab dan memberikan solusi yang tepat dalam memberikan jawaban serta solusi tepat dari berbagai macam masalah yang dihadapi umat manusia di muka bumi ini. Para ilmuan melakukan riset dan penelitian untuk meneliti dan mencari data-data yang diperlukan ketika mereka akan melakukan suatu eksperimen atau percobaan. Sehingga penelitian merupakan suatu langkah yang sangat penting dalam dunia pengetahuan dan teknologi. Penelitian disampingkan sebagai langkah penting dalam dunia pengetahuan sebagai langkah sebelum melakukan riset atau eksperimen, penelitian juga dianggap sebagai bukti penguat penemuan-penemuan yang sebelumnya telah ditemukan.
Di dunia barat penelitian sudah dilakukan sejak zaman revolusi industri, dengan ditandai atau ditemukannya beberapa teknologi canggih yang bisa memberikan atau memudahkan kerja manusia. Revolusi industri terjadi di negara inggris tepatnya pada abad ke 18. Sejak saat itu masyarakat mengalami perkembangan yang sanagat pesat dalam pemikiran dan peradaban. Dengan ditemukannya mesin uap, mesin pemintal dan mesin-mesin lainnya, waktu yang digunakan untuk memproduksi suatu bahan baku samapai barang jadi lebih hemat dan cepat. Atas dasar inilah, penelitian sangat penting bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Membaca, adalah suatu kegiatan yang melibatkan berbagai faktor dari sang pembaca, yang berupa intelegensi, minat, sikap, bakat, motivasi, tujuan membaca, dan lain sebagainya. Membaca baru bisa dikatakan membaca bila diikuti dengan daya pikir yang total, mengingat, menganalisa atau membayangkan implementasinya di kehidupan si pembaca. 
Membaca juga bisa menambah ilmu pengetahuan, karena dengan membaca, berarti telah mentransfer bahan bacaan ke otak kita. Kemudian sesuai dengan mind set kita, bahan bacaan itu akan terproses. Karena itu, saat kita membaca, kita harus mempersiapkan mind set kita dengan baik, agar informasi yang kita peroleh dari membaca sesuai dengan pikiran dari sang penulis.
Penelitian merupakan serangkain kegiatan yang memiliki tujuan untuk memperoleh informasi atau data yang akan dibutuhkan sebelum melakukan suatu riset atau eksperimen tertentu. Penelitian teriri dari penelitian yang bersifat ilmiah dan non ilmiah. Tujuan dari penelitian adalah, untuk mengetahui, dan membanduingkan antara data yang dihasilkan dari penelitian dengan fakta yang terjadi di masyarakat. Memecahkan masalah yang terjadi di masyarakat. Memeberikan jawaban dan solusi yang tepat bagi masyarakat.

B.     Saran
Demikian makalah yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Apabila ada saran dan kritik yang ingin di sampaikan, silahkan sampaikan kepada kami.
Apabila ada terdapat kesalahan mohon dapat mema'afkan dan memakluminya, karena kami adalah hamba Allah yang tak luput dari salah khilaf, alfa dan lupa

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neil A. Reece, Jane B. and Mitchell, Lawrence G. 2002. Biologi jilid 1.

Jakarta: Erlangga
Foster, Bob .2008. Koding IPA. Bandung : Ganesha Operation
Syamsuri, Istamar.2008.Biologi SMA 2B. Jakarta: Erlangga

MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...