Sabtu, 12 Oktober 2019

MAKALAH PENYULUHAN AGAMA ISLAM



MAKALAH PENYULUHAN AGAMA ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Metode bimbingan penyuluhan Islam berperan sebagai  sebuah  proses  membangun  masyarakat  yang  islami, Penyuluhan Islam tentu saja harus berpedoman kepada apa yang telah dituntun dan digariskan oleh al-Qur‟an dan sunnah Rasul. Menurut al-Qur‟an, penyuluhan (dakwah Islam) antara  lain  harus  dilaksanakan  secara  hikmah  (bijaksana).
Kesalahpahaman  tentang  makna  penyuluhan  (Islam)  akan  mengakibatkan kesalahan   langkah   dalam   operasional   penyuluhan,   demikian   metode   yang   tidak   tepat   justru   akan mengakibatkan pemahaman  dan  persepsi  yang  keliru.[1]
Menurut Arif Burhan, Metode menunjukkan pada proses, prinsip serta prosedur yang kita gunakan untuk mendekati masalah dan mencari jawaban atas masalah tersebut. Setelah dipaparkan beberapa makna dari metode, maka dapat dipahami bahwa metode ialah sebuah cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan agar tujuan yang ingin dicapai lebih terarah dalam hal pengerjaan dan lebih tersistematis dalam menetapkan tindakan lain yang akan dikerjakan.[2]
B.     Rumusan Masalah
Dari penjelasan latar belakang di atas maka pada rumusan masalah ini akan membahas tentang:
1.    Apa yang dimaksud dengan metode?
2.    Bagaiamana metode bimbingan dan penyuluhan agama Islam?
3.    Apa saja bentuk-bentuk metode?
4.    Bagaimana penyuluhan agama Islam dengan pendekatan kelompok?
C.   Tujuan
Masalah Dari rumusan di atas, maka tujuan yang dapat diambil yaitu:
         1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan metode.
      2.      Untuk mengetahui dan memahami tentang Bagaiamana metode bimbingan dan penyuluhan agama Islam.
         3.      Memahami dan mengetahui bentuk-bentuk metode.
        4.      Mengetahui dan memahami bagaimana penyuluhan agama Islam dengan pendekatan kelompok.
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Metode
Secara etimologi, istilah metode berasal dari bahasa Yunani yang bermakna jalan. Kata ini terdiri dari dua suku kata: “metha” dan “hodos” yang berarti jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. Dalam bahasa Jerman, metode berasal dari kata methodica yang artinya ajaran tentang metode, yang dalam bahasa Arab disebut thariq. Metode berarti cara yang telah diatur dan melalui proses pemikiran untuk mencapai suatu maksud. Dengan demikian dapat diartikan bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan.[3]
Metode adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan apa yang dikehendaki, dan juga merupakan cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang direncanakan. Sedangkan Menurut Arif Burhan, Metode menunjukkan pada proses, prinsip serta prosedur yang kita gunakan untuk mendekati masalah dan mencari jawaban atas masalah tersebut. Setelah dipaparkan beberapa makna dari metode, maka dapat dipahami bahwa metode ialah sebuah cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan agar tujuan yang ingin dicapai lebih terarah dalam hal pengerjaan dan lebih tersistematis dalam menetapkan tindakan lain yang akan dikerjakan.[4]
B.  Metode Bimbingan dan Penyuluhan Agama Islam
Dalam rangka memberikan bimbingan diperlukan metode yang sesuai, agar dapat mengembalikan motivasi dan dapat memecahkan masalah. Sejalan dengan hal tersebut, pembimbing memerlukan beberapa metode sebagai berikut:
a.    Metode Interview (wawancara), sebagai salah satu cara untuk memperoleh fakta. Metode wawancara masih banyak dimanfaatkan, karena interview bergantung pada tujuan fakta apa yang dikehendaki serta untuk siapa fakta tersebut akan digunakan.
b.    Group guidance (bimbingan kelompok). Dalam bimbingan bersama (group guidance), ada kontak antara ahli bimbingan dengan sekelompok klien yang agak besar, mereka mendengarkan ceramah, ikut aktif berdiskusi, serta menggunakan kesempatan untuk Tanya jawab. Tujuan utama bimbingan kelompok ini adalah penyebaran informasi mengenai penyesuaian diri dengan berbagai kehidupan klien.
c.    Client Centered Method (metode yang dipusatkan pada keadaan klien). Metode ini sering disebut non directive (tidak mengarah). Metode ini cocok dipergunakan oleh pastoral counselor (penyuluh agama), karena counselor akan lebih memahami permasalahan klien yang bersumber pada perasaan dosa, serta banyak menimbulkan perasaan cemas, konflik kejiwaan dan gangguan jiwa lainnya.
d.   Directive Counseling, merupakan bentuk psikoterapi yang sederhana, karena konselor, atas dasar metode ini, secara langsung memberikan jawaban-jawaban terhadap problem yang oleh klien didasari menjadi sumber kecemasannya. Dengan mengetahui keadaan masing-masing klien tersebut, konselor dapat memberikan bantuan pemecahan problem yang dihadapi. Apabila Problemnya menyangkut penyakit jiwa yang serius, maka konselor melakukan pelimpahan atau mengirimkan ke psikiater (dokter jiwa).
e.    Educative Method (metode pencerahan). Metode ini hampir sama dengan metode client-centered. Inti dari metode ini adalah pembersihan insight dan klarifikasi (pencerahan) terhadap unsur-unsur kejiwaan yang menjadi sumber konflik seseorang. Jadi sikap konselor ialah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada klien untuk mengekspresikan (melahirkan) segala gangguan kejiwaan yang disadari menjadi permasalahan baginya.
Al-Qur’an sebagai sumber atau pedoman kehidupan bagi orang muslim, di dalamnya banyak ayat yang membahas tentang masalah dakwah. Diantara ayat tersebut terdapat sejarah ataupun kisah para rasul dalam menghadapi umatnya dan menunjukkan metode yang harus dipahami dan dipelajari oleh setiap orang muslim. Dalam penerapan metode bimbingan mengacu pada teori bimbingan penyuluhan Islam yang dimaksud disini adalah landasan yang benar dalam melaksanakan proses bimbingan dan konseling agar dapat berlangsung dengan baik dan menghasilkan perubahan-perubahan positif bagi klien mengenai cara dan paradigma berfikir, cara menggunakan potensi nurani, cara berperasaan, cara berkeyakinan dan cara bertingkah laku berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah.

Allah berfirman dalam Al-Quran Surat An-Nahl ayat 125 :

اُدْعُ إِلى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَاْلمَوْعِظَةِاْلحَسَنَةِ وَجَادِ لْهُمْ بِا لَّتِى هِيَ اَحْسَنُ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِه وَهُوَاَعْلَمُ بِاْلمُهْتَدِيْنَ.

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

Ayat tersebut menjelaskan beberapa teori atau metode dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling. Teori-teori bimbingan dan penyuluhan agama Islam tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Teori Al-Hikmah, sebuah pedoman, penuntun dan pembimbing untuk memberi bantuan kepada individu yang sangat membutuhkan pertolongan dalam mendidik dan mengembangkan eksistensi dirinya hingga ia dapat menemukan jati diri dan citra dirinya serta dapat menyelesaikan atau mengatasi berbagai permasalahan hidup secara mandiri.
2.    Teori Al-Mauidhoh Hasanah, yaitu teori bimbingan atau konseling dengan cara mengambil pelajaran-pelajaran dari perjalanan kehidupan para Nabi dan Rasul. Bagaimana Allah membimbing dan mengarahkan cara berfikir, cara berperasaan, cara berperilaku serta menanggulangi berbagai problem kehidupan.
3.    Teori Mujadalah yang baik, yang dimaksud teori mujadalah ialah teori konseling yang terjadi dimana seorang klien sedang dalam kebimbangan. Prinsip-prinsip dari teori ini adalah sebagai berikut:
a.    Harus adanya kesabaran yang tinggi dari konselor.
b.    Konselor harus menguasai akar permasalahan dan terapinya dengan baik.
c.    Saling menghormati dan menghargai.
d.   Bukan bertujuan menjatuhkan atau mengalahkan klien, tetapi membimbing klien dalam mencari kebenaran.
e.    Rasa persaudaraan dan penuh kasih saying.
f.     Tutur kata dan bahasa yang mudah dipahami dan halus.
g.    Tidak menyinggung perasaan klien.
h.    Mengemukakan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan tepat dan jelas.
i.      Ketauladanan yang sejati. Artinya apa yang konselor lakukan dalam proses konseling benar-benar telah dipahami, diaplikasikan dan dialami konselor. Karena Allah sangat murka.[5]
C.  Bentuk-Bentuk Metode
Metode penyuluhan dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu penggolongan metode penyuluhan berdasarkan pendekatan sasaran yang ingin dicapai, penggolongan berdasarkan teknik komunikasi, dan penggolongan berdasarkan indera penerima.
1.    Metode penyuluhan berdasarkan pendekatan sasaran. Berdasarkan pendekatan sasaran yang ingin dicapai, ada tiga metode yang dapat digunakan yaitu:
a)    Metode berdasarkan pendekatan perorangan (personal approach), yaitu penyuluh berhubungan secara langsung dengan sasarannya secara perorangan. Metode ini sangat efektif digunakan dalam penyuluhan karena sasaran dapat secara langsung memecahkan masalahnya dengan bimbingan khusus dari penyuluh. Namun dilihat dari segi jumlah sasaran yang ingin dicapai, metode ini kurang efektif karena terbatasnya jangkauan penyuluh untuk mengunjungi dan membimbing sasaran secara individu. Termasuk dalam metode pendekatan perorangan antara lain: kunjungan rumah, kunjungan ke lokasi, surat menyurat, hubungan telepon, kontak informal, magang, dan lain sebagainya.
b)   Metode berdasarkan pendekatan kelompok (group approach), dimana penyuluh berhubungan langsung dengan sasaran penyuluhan secara kelompok. Dalam menggunakan pendekatan kelompok, memungkinkan adanya umpan balik, dan interaksi kelompok yang memberi kesempatan bertukar pengalaman maupun pengaruh terhadap perilaku dan norma para anggotanya, sehingga akan terjadi proses transfer informasi, tukar pendapat, tukar pengalaman antar sasaran penyuluhan dalam kelompok yang bersangkutan. Termasuk metode pendekatan kelompok di antaranya adalah diskusi, demonstrasi cara, demonstrasi hasil, karyawisata, kursus, temu karya, mimbar sarasehan, perlombaan, dan sebagainya.
c)    Metode berdasarkan pendekatan massal (mass approach). Pendekatan ini dapat menjangkau sasaran dengan jumlah yang cukup banyak. Dipandang dari penyampaian informasi, metode ini cukup baik, namun terbatas hanya dapat menimbulkan kesadaran atau keingintahuan semata. Beberapa peneliti menunjukan bahwa metode pendekatan massa dapat mewujudkan proses perubahan, tetapi jarang dapat mewujudkan perubahan dalam perilaku karena adanya distorsi pesan. Termasuk dalam metode ini yaitu rapat umum, siaran radio, kampanye, pemutaran film, surat kabar, penyebaran leaflet, poster, dan lain sebagainya.
2.    Metode penyuluhan berdasarkan teknik komunikasi
Metode penyuluhan juga dapat digolongkan berdasarkan teknik komunikasinya yaitu:
a)      Metode penyuluhan langsung yaitu penyuluhan yang dilaksanakan secara bertatap muka antara penyuluh dan sasaran, sehingga akan terjadi proses interaksi.
b)   Metode penyuluhan tidak langsung yaitu proses penyampaian program penyuluhan, dimana seorang penyuluh tidak langsung terjun ke tempat penyuluhan, melainkan menggunakan media untuk menyampaikan program penyuluhan pada sasarannya.
c)    Berdasarkan indera penerima. Metode penyuluhan berdasarkan indera penerima dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
1)      Metode yang disampaikan dengan melalui indera penglihatan, misalnya pemutaran film, pemutaran slide, penyajian poster atau gambar-gambar yang menarik.
2)      Metode disampaikan melalui indra pendengaran, misalnya pemutaran kaset, rekaman, radio, ceramah.
3)      Metode yang disampaikan dengan memanfaatkan semua indera yang ada atau berbagai kombinasi, misalnya demonstrasi hasil dapat didengar, dilihat, bahkan diraba atau disentuh, siaran melalui televisi.[6]
D.  Penyuluhan Agama Islam Dengan Pendekatan Kelompok
Penyuluhan agama Islam dengan menggunakan metode pendekatan kelompok dalam hal ini, penyuluh berhubungan dengan sekelompok orang untuk menyampaikan pesannya. Dalam pendekatan kelompok ini banyak manfaat yang diambil, disamping transfer informasi juga terjadinya tukar pendapat dan pengalaman antar sasaran penyuluhan dalam kelompok bersangkutan.
Dalam penyuluhan berbasis kelompok atau metode kelompok memiliki beragam teknis diantaranya:
1.    Metode Ceramah
Penyuluh didorong untuk berusaha memperkenalkan pokok-pokok terpenting dari isi pesan yang akan disampaika. Dengan demikian diharapkan pesan yang disampaikan berhasil ditunjang pula oleh keterampilan penyuluh dalam menyampaikan isi materi penyuluhan. Adapun langkah-langkah dalam metode ceramah:
a)    Tahap persiapan, menyusun kerangka yang hendak diceramahkan dan dapat pula mudah dimengerti oleh peserta. Selain itu membuat pokok-pokok persoalan yang akan dibicarakan.
b)   Tahap penyajian, menyampaikan bahan-bahan atau pokok-pokok pelajaran yang telah disiapkan.
c)    Tahap asosiasi, memberikan kesempatan kepada peserta untuk menghubungakan dan membandingkan bahan ceramah yang telah diterima bilamana ada suatu pokok yang tidak dimengerti.
d)   Tahap generalisasi atau kesimpulan, menyimpulkan isi ceramah, umumnya mencatat isi ceramah yang telah disampaikan.
e)    Tahap aplikasi, diadakan penilaian terhadap pemahaman mengenai bahan yang telah diberikan.
2.    Metode Evaluasi
Metode evaluasi bisa dilaksanakan berupa tulisan, tugas, lisan dan lain-lain serta kursus atau pelatihan. Kursus dan pelatihan adalah bentuk pendidikan berkelanjutan untuk mengembangkan kemampuan dengan penekanan pada penguasaan keterampilan, standar kompetensi, pengembangan sikap kewirausahaan serta pengembangan kepribadian yang professional.
3.    Metode Diskusi
Diskusi adalah suatu percakapan ilmiah oleh beberapa orang yang tergabung dalam satu kelompok untuk saling bertukar pikiran dan pendapat mengenai sesuatu masalah atau bersama-sama mencari pemecahan untuk mendapatkan jawaban dan kebenaran suatu masalah.
Dalam diskusi dibedakan melalui pesertanya, yakni:
a)    Whole group, suatu diskusi dimana anggota kelompok tidak lebih dari 15 orang.
b)   Buzz group, suatu kelompok besar dibagi menjadi 2 sampai 8 kelompok.
c)    Panel, dimana suatu kelompok kecil antara 3 sampai 6 orang.
d)   Symposium, teknik menyerupai panel, hanya sifatnya lebih formal.
e)    Caologium, yaitu berdiskusi yang dilakukan oleh satuatau beberapa orang sumber yang berpendapat dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tapi lewat pidato.
f)    Parsipatorik/ partisipatif (praktik ibadah, wisata ziarah dan bakti sosial), partisipasif adalah proses yang aktif, yang mengandung arti bahwa orang atau kelompok terkait mengambil inisiatif dan menggunakan kebebasan untuk melakukan hal itu. Kegiatan partisipatif dalam kegiatan penyuluhan agama ialah praktik ibadah, wisata ziarah dan bakti sosial.[7]
BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpuan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah pemakalah lakukan, maka di bawah akan dikemukakan kesimpulan terkait dengan metode bimbingan penyuluhan Islam. Maka dapat disimpulkan bahwa:
1.    Metode adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan apa yang dikehendaki, dan juga merupakan cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang direncanakan.
2.    Dalam rangka memberikan bimbingan diperlukan metode yang sesuai, agar dapat mengembalikan motivasi dan dapat memecahkan masalah. Sejalan dengan hal tersebut, pembimbing memerlukan beberapa metode sebagai berikut:
a.    Metode Interview (wawancara).
b.    Metode Group guidance (bimbingan kelompok).
c.    Metode Client Centered Method (metode yang dipusatkan pada keadaan klien).
d.   Metode Directive Counseling.
e.    Metode Educative Method (metode pencerahan).
3.    Bentuk-Bentuk Metode penyuluhan Islam dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu penggolongan metode penyuluhan berdasarkan pendekatan sasaran yang ingin dicapai, penggolongan berdasarkan teknik komunikasi, dan penggolongan berdasarkan indera penerima.
4.    Dalam penyuluhan berbasis kelompok atau metode kelompok memiliki beragam teknis diantaranya, metode ceramah, metode evaluasi, dan metode diskusi.
B.  Saran
Berdasarkan hasil pembahasan terkait dengan Metode Bimbingan Penyuluhan Islam, maka diharapkan tidak ada kesalahpahaman  tentang  makna  penyuluhan  (Islam)  yang akan  mengakibatkan kesalahan   langkah   dalam   operasional   penyuluhan. Demikian   metode   yang   tidak   tepat   justru   akan mengakibatkan pemahaman  dan  persepsi  yang  keliru, sehingga bimbingan penyuluhan Islam tidak tersampaikan dengan baik.



[1] [1] 4_bab1.pdf. Hal. 6-7.  Diambil dari: http://digilib.uinsgd.ac.id/2208/4/4_bab1.pdf
[2] Syamsul Azman, “Metode Penyuluhan Agama Dinas Syariat Islam Dalam Pencegahan Perilaku Menyimpang Pada Remajadi Kabupaten Aceh Selatan”, Skripsi, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan: 2017. Hal. 13-14. Diambil dari: http://repository.uinsu.ac.id/3513/1/Syamsul%20Skripsi.pdf.
[3] Ma’luf Fadli,” Metode Penyuluhan Agama Islam Dalam Pembinaan Akhlaknarapidana Di Lp Wanita Klasii A Semarang”, Skripsi, IAIN Walisongo Semarang: 2015, Hal. 22-23. Diambil dari: http://eprints.walisongo.ac.id/5267/1/091111078.pdf.
[4] Syamsul Azman, “Metode Penyuluhan Agama Dinas Syariat Islam Dalam Pencegahan Perilaku Menyimpang Pada Remajadi Kabupaten Aceh Selatan”, Skripsi, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan: 2017. Hal. 13-14. Diambil dari: http://repository.uinsu.ac.id/3513/1/Syamsul%20Skripsi.pdf.
[5] “Metode, Bimbingan Dan Penyuluhan Agama Islam, Pemberdayaan Perempuan”, pdf, Hal. 37-43. Diambil dari: http://eprints.walisongo.ac.id/3455/3/091111088_Bab2.pdf.
[6] Ma’luf Fadli,” Metode Penyuluhan Agama Islam Dalam Pembinaan Akhlaknarapidana Di Lp Wanita Klasii A Semarang”, Skripsi, IAIN Walisongo Semarang: 2015, Hal. 23-27. Diambil dari: http://eprints.walisongo.ac.id/5267/1/091111078.pdf.
[7] [7] Syamsul Azman, “Metode Penyuluhan Agama Dinas Syariat Islam Dalam Pencegahan Perilaku Menyimpang Pada Remajadi Kabupaten Aceh Selatan”, Skripsi, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan: 2017. Hal. 18-21. Diambil dari: http://repository.uinsu.ac.id/3513/1/Syamsul%20Skripsi.pdf.


Senin, 07 Oktober 2019

Example The Post Method Era : Toward Informed Approaches


The Post Method Era : Toward Informed Approaches


 A language teaching method is a single set of procedures which teachers are to follow in the classroom. Methods usually based on a set of beliefs about the nature of language and learning” (Nunan, 2003) in Thornbury (2009:1). At around the same time,  Kumaravadivelu (1994) in Thornbury  (2009:1) identified what he called the ‘post method condition’, a result of ‘the widespread dissatisfaction with the conventional concept of method’ ..
 Post-method, despites its disparagement of innovations called methods, can be seen as an attempt to unify these disparate element in to a more holistic, redefined communicative language teaching (CLT) through a dialectical process of building and deconstructing  forces. Brown (2007:40) states “By the early 1990s it was readily apparent that we didn’t need a new method. We needed, instead, to get on with the business of unifying our approach to language teaching and designing effective tasks and techniques that were informed by that approach.” So, in short, the post method era was the era when there was not a specific language teaching method used.
        1.      ELT Methodologies and Emerging Issues
Forty-seven years ago, Teachers of English to Speakers of other Languages (TESOL) was founded with the aim to offer teachers and administrators an opportunity to discuss issues related to ELT (Alatis, 1987). This prominent organization has been connecting professionals worldwide through conferences and publications by examining concerns related to the diversity of student populations, geographical and social contexts as well as methodologies and approaches considered more suitable for a particular class. Although language methodologies started being conceptualized as early as the 1880s with the Reform Movement (Danesi, 2003), I will provide an analysis from a more current perspective, when the ELT profession began to burgeon. The history of ELT methodologies is somewhat extensive (see Brown, 2014 for a comprehensive overview). In the 1960s, the Audiolingual Method gained popularity with its overemphasis on oral drills and production.
Until recently, one of the most infamous misconceptions was that methodologies were being implemented as a “one-size-its-all” in classrooms across the globe and were expected to be successful. Using one single methodology was assumed to be effective in a class of young English learners in Japan as well as among internationally educated professionals living in Canada, for example. Also, these methods did not take affective or cognitive variables into account.
Do learners who have very limited knowledge of the language feel anxious when making an oral presentation in front of a class? Do all learners have the same ability to recognize grammatical structures of the language and apply hypotheses when learning other structures? The 2000s introduced the post-method era: a shift from using methods in the purist sense to recognizing that the nature of language learning is complex and non-linear.
Choosing one method and expecting that a prescribed set of instructions will be effective with every learner is discouraged (Larsen-Freeman, 2011). Yet, having a solid understanding of these methods is invaluable as it equips teachers with several tools that can be implemented in their lessons. Ultimately, merging the knowledge of teaching methodologies with other aspects that are not only linguistic in nature will enhance ELT, and consequently English learning.

     2.       Affective and Cognitive       
 Variables Brown (2014) has raised important aspects to consider when guiding students through their language learning journey; essentially, beyond methods, teachers should implement metacognitive, cognitive, and socio-affective strategies. Having students relect on their own learning process, or learning about how they learn a language best, can be facilitative. At this point, teachers and students can collaborate and choose from the multiple directions available so they can get to their destination.
 For example, given that each learner has a preferred cognitive strategy for learning vocabulary items, simply asking them to relect on what they ind the most effective way to learn and remember vocabulary words can be helpful. Rather than having all learners conform to one particular path, it is important to remind them about the several strategies to learn vocabulary and encourage them to choose the ones they ind most helpful. A useful strategy suggested by Brown (2014) is to implement activities that lower learners’ inhibitions, encourage risk-taking, and build self-conidence.
 In many English programs in Canada, learners are often required to make oral presentations in front of the class: students who do not feel conident speaking English might resist this type of assignment. One way to help students reach the inal outcome is to start building their conidence early in the program by following a few steps. Teachers can ask students to:
1) write down sentences they plan to use in their presentations;
2) audio-record their speech and have teachers listen and provide constructive feedback;
3) listen to teacher’s feedback and follow suggestions given; and
4) rehearse in pairs or in small groups. Guiding learners through this path can give them the conidence needed to present their speech in front of the clas

      3.      An Enlightened , Ecletic Approach
The eclectic approach was born out of the realisation that each of the individual methods had strengths and weaknesses and that no one method was responsive to the dynamic classroom context.  Brown (2002) argues that eclecticism provides the solution because the approach allows the teacher to select what works within their own dynamic contexts.  Kumar (2013:1) notes that ―the eclectic method is a combination of different method of teaching and learning approaches‖. So, the eclectic approach is not a rigid approach, thus, its characteristics may not be limited to the ones presented in this study.
The following principles of eclecticisms:
·         Teachers are given a chance to choose different kinds of teaching techniques in each class period to reach the aims of the lesson.
·         There is flexibility in choosing any aspect or method that teachers think suitable for teaching inside the classroom .
·         Learners can see different kinds of teaching techniques, using different kinds of teaching aids, that help to make lessons much more stimulating and ensures better understanding of the material on the other hand.
·         Solving difficulties that may emerge from the presentation of the textbook materials
·         Finally, it saves both time and effort in the presentation of language activities. 
      4.      Communicative Language Teaching
Goals of the CLT approach are to encompass all of the components of communicative competence as well as organizational and pragmatic aspects of language. Characteristics of CLT as follows:
·         Overall goals : Grammatical, discourse, functional sociolinguistic, and strategic become the focus of classroom goals.
·         Relationship of form and function : Language technique is designed to engage learners in the pragmatic, authentic, functional use of language for meaningful purposes.
·         Fluency and Accuracy : as are seen as complementary principles underlying communicative technique, etc.
·         Focus on real-word contexts : Classroom tasks must therefore equip students with the skills necessary for communication in those contexts.
·         Autonomy and strategic involvement : Students are given opportunities to focus on their own learning process through raising their awareness of their own styles of learning .
·         Teacher roles : The role of teacher is thatof facilitatorand guideTask-Based Language Teaching
      5.      Task Based Language Teaching
TBL (Task-based learning), or TBLT (Task-based language teaching) is an approach in which learning revolves around the completion of meaningful tasks. In the TBL approach, the main focus is the authentic use of language for genuine communication. Taks best-based insrtuction is a persfective within a CLT framework that forces you to carefully concider all the techniques that you use in the clasroom in terms of a number of inportant pedagogical purposes.
Caracteristics of TBLT :
·         Tasks ultimetly point learners beyond the forms of language alone to real-world contexts.
·         Tasks specificly contribute to communicative goals.
·         Their elements are carefully desaigned and not simply haphazardly or idiosyncratically thrown together.
·         Their objectives are well specific so that you can at some later point accurately determain the succes of one task over another.
·         Tasks engage learners, at some level, in genuine problem-solfing activity.
      6.      Learner-Centered Instruction
Lea et al. (2003, P.322) maintain that one of the issues with student-centered learning is the fact that ‘many institutions or educators claim to be putting student-centered learning into practice, but in reality they are not. Learner-centered includes :
·         Techniques that focus on or account for leaners needs, styles, and goals.
·         Techniques that gives some control to the students (group work or strategy training, for example)
·         Curricula that include the consultation and input of students and that do not presuppose objectives in advanced.
·         Techniques that allow for student creativity and innovation.
·         Techniques that enhance a student’s sense of competence and self-worth. 
      7.      Cooperative Learning
a.       Definition of Cooperative Learning
Cooperative Learning is a teaching strategy where teams of two or more work together on learning tasks. Johnson and Johnson (2008) mention that cooperation is working together to accomplish shared goals. Cooperative and collaborative learning in some cases are used interchangeably. But they are not the same. Cooperative learning is a part of collaborative learning.
b.      Basic element of cooperative learning
Basic elements of cooperative learning Johnson and Johnson (2008, p. 11) named 5 basic elements of cooperative learning:
·         Positive interdependence: Positive interdependence exists when individuals perceive that they can reach their goals.
·         Individual accountability:   They must be accountable to the group for the work that they do. Failing oneself is bad, but failing others as well as oneself is worse.
·         Cooperative base groups, Cooperative base groups are Cooperation entails concern, assistance, support, sharing, engagement, and encouragement. Base group members show their concern by monitoring each other attendance, punctuality, attitude and progress.
·         Promotive interaction Promotive interaction isthe understanding trust, and respect necessary for balanced and successful cooperation can be derived.
·         The development of social skills The development of social skills is  Group members must be taught these social skills needed for high quality cooperation and be motivated to use them.
c.       Cooperative Learning Objectives
According to Slavin the aim of cooperative learning is Make decisions anywhere approval by the success of his group. In cooperative learning includes a variety of social goals, and improve student performance or other important academic assignments.
     8.      Interactive Learning
An interactive approach involves interaction in dialogue mode (“intеr” - reciprocally, “act” – do, perform). In other words, an interactive teaching method is a form of learning and communicative activity in which students are involved in the learning process and reflect on what they know and what they are thinking.  Based on his knowledge and experience, learners categorize, analyze, assume opinions, acquire new skills, and develop their attitudes towards facts and events. An interactive course or technique will provide for such negotiation. Interactive classes will most likely be found:
·         Doing a significant among of pair work and group work
·         Receiving authentic language input in real would context
·         Producing language for genuine, meaningful communication
·         Performing classroom task that prepare them for actual language use out there
·         Practicing oral communivation trhough the give and take and spontanity of actual conversation
·         Writing to and for real audience not contrived onces.
     9.      Other Candidates For CLT Approach
a.       Lexical Approach
ü  lexis plays a central role in designing language courses and classroom methodology teach prefabricated patterns (e.g., burst into tears) &
ü   collocations (e.g. take an exam/a chance) - corpus analysis
b.       Multiple Intelligences
ü  Gardner’s model of intelligence (8 types)
ü   multiplicity of types of activities

REFERENCES 
Brown, H Douglas. 2007. Teaching By Principles An Interactive Approach to Language Pedagogy, Third Edition. America :Pearson Education
Richards, C Jack and Theodore S.Rodgers.1986.Approaches and Methods in Languange Teaching.America:Cambridge University Press
Freeman, Diane Larsen and Marti Anderson. 2016. Techniques & Principles in Language Teaching. China : Oxford.
Hismanoglu, Murat and Sibel Hismanoglu. 2011. European: University Of Lefke:Elsevier Ltd. Task-Based Language Teaching: What EFL Teacher Should Do.
Wilkins, D.A.1976.Notional Sylabuses.London:Oxford University Press
Thornbury, Scott. 2009.Method, Post-Method, and Metodos. British Coucil. Accessed London: university press


MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...