Senin, 06 Januari 2020

MAKALAH PENDEKATAN DAN METODE

MAKALAH
PENDEKATAN DAN METODE


BAB I

PENDAHULUAN

Pendekatan dalam pendidikan Islam merupakan suatu proses, perbuatan dan cara mendekati peserta didik dan mempermudah pelaksanaan pendidikan Islam itu sendiri. Metode Pembelajaran merupakan cara atau tekhnik pengkajian bahan pelajaran yang akan digunakan oleh guna saat pengkajian bahan pelajaran, baik secara individual maupun kelompok.
Dalam proses pembelajaran yang berlangsung pasti akan didukung oleh metode dan pendekatan pembelajaran, karena dalam pembelajaran, apabila sudah menggunakan kedua sistem diatas maka komponen-komponen pendidikan akan berjalan dengan baik, khususnya pendidikan Islam baik secara efektif dan efisien. Dalam pembelajaran metode dan pendekatan tidak bisa dipisahkan karena kedua unsur ini merupakan alat dan cara yang digunakan untuk menunjang kelancaran pendidikan. Dilihat dari permasalahan diatas, maka penulis membuat makalah ini dengan judul “Pendekatan dan Metode dalam Pendidikan Islam ” 

1.      Apa pengertian pendekatan dalam pendidikan Islam?
2.      Apa saja macam-macam pendekatan dalam pendidikan Islam?
3.      Apa pengertian metode pendidikan dan pengajaran dalam pendidikan Islam?
4.      Apa saja macam-macam metode pendidikan dan pengajaran dalam pendidikan Islam?

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.      Dapat memahami proses pendekatan dalam pendidikan Islam
2.      Memahami metode pengajaran dalam pendidikan Islam



BAB II

PEMBAHASAN

Pendekatan adalah suatu proses untuk mengidentifikasi kebutuhan, menyelesaikan masalah, menemukan persyaratan untuk memilih alternatif pemecahan masalah, mendapatkan metode-metode dan alat-alat serta mengimplementasikannya, untuk kemudian dievaluasi.[1]
Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses, perbuatan, dan cara mendekati serta mempermudah pelaksanaan pendidikan. Jika dalam kegiatan pendidikan, metode berfungsi sebagai cara mendidik, maka pendekatan berfungsi sebagai alat bantu agar penggunaan metode tersebut mengalami kemudahan dan keberhasilan. Selain metode-metode memiliki peranan penting dalam kegiatan pendidikan Islam, pendekatan-pendekatan juga menempati posisi yang berarti pula untuk memantapkan penggunaan metode-metode tersebut dalam proses pendidikan, terutama proses belajar mengajar. Pendekatan dalam pendidikan Islam merupakan suatu cara untuk mempermudah dalam kelangsungan belajar mengajar. Sehingga tercapai tujuan pendidikan yang diharapkan dan lebih bisa menunjukkan keberhasilan pendidikan anak didik yang berdasarkan skill yang dimilikinya.

Pendidikan Islam dan Pengajaran Islam dapat diterima oleh obyek pendidikan dengan menggunakan pendekatan yang bersifat multi approach yang pelaksanaannya meliputi hal-hal berikut :[2]
1.      Pendekatan Religius, yang menitik beratkan kepada pandangan bahwa manusia adalah makhluk yang berjiwa religius dengan bakat-bakat keagamaan. Pandangan ini memandang bahwa ajaran Islam yang bersumberkan Kitab suci Alquran dan sunah Nabi menjadi sumber inspirasi dan motivasi pendidikan Islam.
2.      Pendidikan Filosofis, yang memandang bahwa manusia adalah makhluk rasional atau “homo rationale”, sehingga segala sesuatu yang menyangkut pengembangannya didasarkan pada sejauh mana kemampuan berfikirnya dapat dikembangkan sampai pada titik maksimal perkembangannya. Berdasarkan pendekatan filosofis, ilmu pnedidikan Islam dapat diartikan sebagai studi tentang proses kependidikan yang didasari oleh nilai-nilai ajaran Islam yang bersumber pada kitab suci Alquran dan sunah Nabi Muhammad SAW.
3.      Pendekatan Sosio Kultural, yang bertumpu pandangan bahwa manusia dipandang sebagai “homo sosius” dan “homo sapines” dalam kehidupan bermasyarakat yang berkebudayaan. Dengan demikian pengaruh lingkungan masyarakat dan perkembangan kebudayaannya sangat besar artinya bagi proses pendidikan dan individunya. Pendekatan sosio kultural memandang bahwa pendidikan Islam merupakan sarana enkulturasi (pembudayaan) umat manusia melalui agama Islam. Sebagai alat enkulturasi, pendidikan Islam berwatak lentur yang akomodatif terhadap asprasi umat Islam di satu segi dan berwatak iluminatif (menerangi) terhadap kemajuan pemikiran aktual dan intelektual serta kontekstual terhadap kebutuhan hidup yang seirama dengan tuntunan ajaran Islam.
4.      Pendekatan Scientific, dimana titik beratnya terletak pada pandangan bahwa manusia memiliki kemampuan menciptakan (koginit), berkemauan (konatif) dan merasa (emosional atau affektif). Pendidikan harus dapat mengembangkan kemampuan abalisis-analitis dan reflektif dalam berfikir.pendekatan ini menuntut kita untuk berpandangan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang berada  dalam proses perkembangan dan pertumbuhan rohaniah  dan jasmaniah yang memerlukan bimbingan dan pengarahan melalui proses kependidikan.
5.      Pendekatan Sistem (System Approach), dalam konteks ini pendidikan Islam dipandang sebagai proses yang terdiri dari sub-sub sistem atau  komponen-komponen yang saling berkaitan  dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam.[3]
6.      Pendekatan Historis, dimana analsis ilmu pendidikan Islam dilihat dari latar belakang historis, berarti menempatkan sasaran analisis pada fakta-fakta sejarah umat Islam yang berawal dari Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasulullah saw. Analisis yang berdasarkan pendekatan historis mebatasi studi pada ruang lingkup pemikiran tentang proses dan nilai-nilai perkembangan sasaran analisis, dari sudut pandang sejarah.[4]
Selanjutnya, menurut Akmal Hawi, bahwasannya pelaksanaan PAI disekolah umum pada dasarnya melalui kegiatan intra dan ekstrakurikuler yang satu sama lain melengkapi, yaitu :[5]
1.      Pendekatan pengalaman yaitu pemberian pengalaman keagaaman kepada peserta didik dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan,
2.      Pendekatan pembiasan yaitu dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk senantiasa megamalkan ajaran agamanya.
3.      Pendekatan emosional yaitu usaha untuk mengunggah perasaan dan emosi peserta didik dalam meyakini, memahami dan mngehayati ajaran agamanya.
4.      Pendekatan rasional yaitu memberikan peranan kepada rasio (akal) dalam memahami dan menerima kebenaran jaran agama.

Metode Berasal dari dua perkataan yaitu meta yang artinya “melalui” dan hodos yang artinya” jalan atau cara”. Jadi metode artinya suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan[6]
Metode mempunyai peranan penting dalam upaya menjamin kelangsungan proses belajar mengajar lebih-lebih lagi bagi seorang guru yang akan menyampaikan meteri pelajaran, cara dalam penyampaian materi tersebut dapat diterima oleh murid, sesuai dengan apa yang diharapkan guru dan sekolah dalam proses belajar mengajar.
Menurut winarno surakhmad bahwa pemilihan dan penentuan metode dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut :[7]
1.      Anak didik
2.      Tujuan
3.      Situasi
4.      Fasilitas
5.      Guru

Pada dasarnya metode pendidikan Islam sangat efektif dalam membina kepribadian anak didik dan memotivasi mereka sehingga aplikasi metode ini memungkinkan puluhan ribu kaum mukminin dapat membuka hati manusia untuk menerima petunjuk ilahi dan konsep-konsep pendekatan Islam. Selain itu, metode pendidikan Islam akan mampu menempatkan manusia diatas. luasnya permukaan bumi dan dalam masa yang tidak demikian kepada penghuni bumi lainnya. Berikut jenis-jenis metode pendidikan menurut para ahli pendidikan antara lain, adalah:
a.       Metode situasional yang mendorong manusia didik untuk belajar dengan perasaan gembira dalam berbagai tempat dan keadaan. Metode ini dapat memberikan kesan-kesan yang menyenangkan, sehingga melekat pada ingatan yang cukup lama.
b.      Metode Tarhib wa Targhib, mendorong manusia didik untuk belajar suatu bahan pelajaran atas dasar minat yang berkesadaran pribadi, terlepas dari paksaan atau tekanan mental. Belajar berdasarkan motif-motif yang bersumber dari kesadaran pribadi dipandang oleh ahli psikologi suatu kegiatan yang positif yang membawa keberhasilan proses belajar.
c.       Metode belajar yang berdasarkan condotioning dapat menimbulkan konsentrasi perhatian anak didik ke arah bahan-bahan pelajaran yang disajikan oleh guru (pendidik).
d.      Metode yang berdasarkan prinsip bermakna, menjadikan anak didik menyukai dan bergairah untuk mempelajari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Dengan perasaan suka tersebut proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan lancar, karena manusia didik menyadari bahwa yang dipelajari gurunya terdiri dari bahan-bahan ilmu pengetahuan yang akan memberikan makna bagi hidupnya lebih lanjut.
e.       Metode dialogis yang melahirkan sikap saling keterbukaan antara guru dan murid akan mendorong untuk saling memberi dan menerima (take and give) antara guru dan murid dalam proses belajar mengajar.
f.       Prinsip inovasi dalam proses belajar mengajar menjadikan manusia didik diberi pelajaran ilmu pengetahuan bagus yang dapat menarik minat mereka. Mereka didorong secara aktif dan inovatif serta kreatif melalui metode inquiry (menyelidiki) dan metode discovery (menemukan) fakta-fakta pengetahuan yang baru dari lingkungan sekitar dirinya sendiri.
g.      Metode pemberian contoh teladan yang baik (uswatun hasanah) terhadap manusia didik, terutama anak-anak yang belum mampu berpikir kritis, akan banyak mempengaruhi pola tingkah laku mereka dalam kehidupan sehari-hari. Guru sebagai pembawa dan pengenal nilai-nilai agama, kultural dari ilmu pengetahuan akan memperoleh manfaat dalam mendidik anak apabila menerapkan metode ini, terutama dalam pendidikan akhlak dan agama serta sikap mental anak didik. Sistem sekolah aktif dalam melahirkan metode “belajar dengan berbuat” (learning by doing) dari ahli Amerika Serikat oleh Miss Helen Parkhuest. Dalam proses pendidikan Islam yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW sendiri metode ini lebih banyak mendapatkan perhatian dalam berbagai kesempatan. Pengaruh praktik dalam proses belajar mengajar telah banyak diselidiki oleh para ahli pendidik yang membuktikan bahwa dengan melalui praktik, seseorang akan lebih mendalam dan diingat dalam jangka lama daripada hanya belajar teori saja. Dalam penelitian dapat diketahui berbagai pengaruh cara belajar sebagai berikut:
1)      Belajar hanya dengan mendengarkan (learning by learning) hanya berhasil diserap oleh manusia didik sebesar 15 persen materi pelajaran.
2)      Belajar dengan menggunakan mata (visualisasi) dapat menghasilkan 55 persen dari bahan yang disajikan.
3)      Belajar dengan praktik menghasilkan apersepsi sampai dengan 90 persen dari bahan yang diajarkan.
h.      Metode yang menitikberatkan pada bimbingan yang berdasarkan rasa kasih sayang terhadap anak didik akan menghasilkan rasa kasih sayang terhadap anak didik akan menghasilkan kedayagunaan proses belajar mengajar. Rasa kasih sayang akan mampu memperlancar kegiatan belajar dari hambatan-hambatan psikologis akibat ketakutan atau keresahan batin dan sebagainya.
i.        Di samping metode-metode di atas, dalam pendidikan Islam masih didapati metode-metode lain seperti metode cerita, metode metafora, metode tanya jawab, metode induktif, metode verbalistik, metode pemberian hukuman dan pemberian hadiah.
1)      Metode cerita banyak terdapat dalam al-Quran yang bertujuan suatu cerita adalah untuk menunjukkan fakta kebenaran. Pengulangan suatu cerita menunjukkan bahwa cerita tersebut amat besar artinya bagi manusia untuk dijadikan ingatan dan peringatan serta bahan pelajaran yang diambil hikmahnya bagi kehidupan generasi berikutnya. Seluruh cerita dalam al-Quran adalah mengandung iktibar yang bersifat mendidik manusia. Dari segi psikologis, metode cerita mengandung makna reinforcement (penguatan) kepada seseorang untuk bertahan uji dalam berjuang melawan keburukan. Khusus bagi Nabi Muhammad SAW., cerita dalam Al-Quran adalah untuk menguatkan tekad Nabi dalam perjuangan melawan musuh-musuh, yaitu kaum kafir dan musyrikin.
2)      Metode tanya jawab atau dialogis, seperti telah disinggung dalam metode butir lima di atas perlu ditambahkan sedikit contoh tentang penerapannya seperti dialog Tuhan dengan Nabi Ibrahim dalam surah al-Anbiya ayat 21 yang Artinya: Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)?
3)      Metode dengan metafora, yang tujuannya untuk memudahkan pengertian manusia didik tentang suatu konsep melalui pertimbangan akal. Misalnya firman Alah dalam surah al-Ankabut ayat 41 tentang perumpamaan orang-orang yang mengambil perlindungan selain dari Allah digambarkan sebagai laba-laba yang membuat rumahnya yang sangat lemah. Firman Allah yang artinya: Artinya: Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah, dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.
Dalam surah Ibrahim ayat 18, Allah menggambarkan bahwa amalan orang kafir bagaikan abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang, mereka tidak mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang mereka usahakan (di dunia) dan yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. Firman Allah yang artinya:"orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti Abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.
4)      Metode hukuman dan hadiah atau pemberian (tsawab/pahala) dan iqab (siksa) yang tujuan pokoknya untuk membangkitkan perasaan tanggung jawab manusia didik. Efektifitas ini terletak pada hubungannya dengan kebutuhan individual. Seorang anak didik bila diberi hadiah, akan merasa bahwa hal itu merupakan bukti tentang penerimaan dirinya dalam berbagai ukuran norma-norma kehidupan (dalam hal ini misalnya dalam kegiatan belajar) dan karena diberi hadiah ia menjadi tenang dan tenteram hatinya. Rasa tenang dan aman adalah merupakan kebutuhan anak didik dalam belajar, sedangkan hukuman sebaliknya, merupakan ancaman terhadap rasa aman itu.



BAB III

PENUTUP

Pendekatan dalam pendidikan Islam merupakan suatu cara untuk mempermudah dalam kelangsungan belajar mengajar. Sehingga tercapai tujuan pendidikan yang diharapkan dan lebih bisa menunjukkan keberhasilan pendidikan anak didik yang berdasarkan skill yang dimilikinya.
Berikut adalah Macam-Macam Pendekatan Dalam Pendidikan Islam :
a.       Pendekatan Religius
b.      Pendidikan Filosofis
c.       Pendekatan Sosio Kultural
d.      Pendekatan Scientific
e.       Pendekatan Sistem
f.       Pendekatan Historis
Metode Berasal dari dua perkataan yaitu meta yang artinya “melalui” dan hodos yang artinya” jalan atau cara”. Jadi metode artinya suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. Macam-macam metode dalam pendidikan Islam adalah :
a.       Metode situasional
b.      Metode Tarhib wa Targhib
c.       Metode belajar yang berdasarkan condotioning
d.      Metode yang berdasarkan prinsip bermakna
e.       Metode dialogis
f.       Prinsip inovasi dalam proses belajar mengajar
g.      Metode pemberian contoh teladan yang baik

Dari makalah yang kami buat semoga akan menjadikan manfaat bagi kita semua. Namun, penulis menyadari dari pembuatan makalah ini banyak sekali kesalahan baik dari tulisan maupun kata-katanya. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun. Terima kasih

DAFTAR PUSTAKA

Arifin.2016.Ilmu Pendidikan Islam, Tinjauan Teorititis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner.Jakarta:PT. Bumi Aksara.
Basuki dan Ulum, Miftahul.2007.Pengantar Ilmu Pendidikan Islam. Ponorog: STAIN Po PRESS.
Hawi,Akmal.2013.Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam.Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.



[1] Arifin. Ilmu Pendidikan Islam, Tinjauan Teorititis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner. (Jakarta: PT. Bumi Aksara). 2016. Hlm. 83.
[2] Basuki dan Miftahul Ulum. Pengantar Ilmu Pendidikan Islam. ( Ponorogo: STAIN Po PRESS). 2007. Hlm. 141
[3] Arifin. Ilmu Pendidikan Islam, Tinjauan Teorititis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner. (Jakarta: PT. Bumi Aksara). 2016. Hlm. 90.
[4] Arifin, Ibid. Hlm. 119-120.
[5] Akmal Hawi. Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam. (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada). 2013. Hlm. 26.
[6] Ibid. Hlm. 27
[7] Ibid. Hlm. 28-29.

MAKALAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN BELAJAR

MAKALAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN 
BELAJAR


BAB I

PENDAHULUAN
           
    A.    Latar Belakang
Sebagaian terbesar dari proses perkembangan berlangsung melalui kegiatan belajar. Belajar selalu berkenaan dengan perubahan-perubahan pada diri orang yang belajar, apakah itu mengarah kepada yang lebih baik ataupun yang kurang baik, direncanakan atau tidak. Hal lain yang selalu terkait dalam belajar adalah pengalaman, pengalaman yang berbentuk interaksi dengan orang lain atau lingkunganya.
Belajar bukanlah sekedar mengumpulkan pengetahuan. Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan prilaku. Aktivitas mental itu terjadi karena adanya intraksi individu dengan lingkungan yang disadari. Perubahan yang terjadi dalam dari adanya gejala-gejala perubahan prilaku yang tampak pada seseorang.
            Proses pembelajaran yang berlaku pada seorang pelajar dengan pelajar lain berbeda. Ada pelajar yang lebih gemar membaca buku pada tempat yang tidak begitu formal seperti diruang tamu atau dibilik tidur, ada juga yang bisa belajar pada keadaan formal seperti disebuah ruang belajar yang di lengkapi dengan kursi dan meja.
   B.     Rumusan Masalah
a.       Apa pengertian belajar?
b.      Bagaimana kondisi belajar siswa?
c.       Sebutkan ciri-ciri belajar?
d.      Apa saja unsur-unsur belajar?
e.       Apa saja jenis- jenis belajar?
    C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan kami menyusun makalah ini adalah :
1.      Menambah wawasan tentang belajar;
2.      Memahami ciri- ciri belajar, unsure dan jenis belajar.

BAB II

PEMBAHASAN

    A.    Pengertian Belajar
Belajar merupakan sebuah proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak masih bayi (bahkan dalam kandungan) hingga liang lahat. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Belajar adalah proses penambahan pengetahuan.
Menurut Gagne bahwa belajar adalah sebuah proses perubahan tingkahlaku yang meliputi perubahan kecenderungan manusia, seperti sikap, minat, atau nilai dan perubahan kemampuanya, yakni peningkatan kemampuan untuk melakukan berbagai jenis pekerjaan.
            H.C. Witherington dalam Educational Psychology menjelaskan pengertian belajar sebagai suatu perubahan didalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi berupa kecakapan, sikap, dan kebiasaan. Gage beringer mendefinisikan belajar sebagai suatu proses di mana suatu organisme berubah prilakunya sesuai akibat dari pengalaman.[1]
    B.     Ciri – Ciri Belajar
Dari beberapa pengertian diatas, belajar sesungguhnya memiliki cirri-ciri (karakteristik) tertentu:
a.       Belajar berbeda dengan kematangan
Pertumbuhan merupakan faktor utama dari pengubah tingkah laku. Bila serangkaian tingkah laku matang secara wajar tanpa adanya pengaruh dari latihan, maka dikatakan bahwa perkembangan itu adalah berkat kematangan bukan karena belajar. bila prosedur latihan tidak secara cepat mengubah tingkah laku maka prosedur itu tidak dapat dijadikan penyebab yang penting dan perubahan tidak dapat digolongkan sebagai belajar.

b.      Belajar dibedakan dari fisik dan mental
Perubahan tingkah laku juga dapat terjadi karena perubahan pada fisik dan mental karena melakukan sesuatu perbuatan berulang kali yang mengakibatkan badan menjadi lelah.
a.       Ciri belajar yang hasilnya relatif menetap
Hasil belajar dalam bentuk tingkah laku berlangsung dalam bentuk latihan (practice) dan pengalaman. Tingkah laku yang dihasilkaan bersifat menetap dan sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. [2]

    C.    Unsur-Unsur Belajar
Cronbach (1945 h.49-50), mengemukakan adanya tujuh unsur  utama dalam proses belajar,yaitu:
1.      Tujuan.Belajar dimulai karena adanya sesuatu tujuan yang ingin dicapai. Tujuan itu muncul untuk memenuhi sesuatu kebutuhan. 
2.      Kesiapan. Untuk dapat melakukan perbuatan belajar  dengan baik anak atau individu perlu memiliki kesiapan, baik kesiapan fisik, dan psikis, persiapan yang berupa kematangan untuk melakukan sesuatu, maupun penguasa pengetahuan dan kecakapan-kecakapan yang mendasarinya.
3.      Situasi. Kegiatan belajar berlangsung dalam situasi belajar. Dalam situasi belajar ini terlihat tempat, lingkungan sekitar, alat dan bahan yang dipelajari, orang-orang yang turut tersangkut dalam kegiatan belajar serta kondisi siswa yang belajar.
4.      Interpretasi. Dalam menghadapi situasi, individu mengadaan interpretasi, yaitu melihat hubungan antara komponen-komponen situasi belajar.
5.      Respon. Berpegang kepada hasil dari interpretasi apakah individu mungkin atau tidak mungkin mencapai tujuan yang diharapkan, maka ia memberikan respon.
6.      Konsekuensi. Setiap usaha akan membawa hasil, akibat atau konsekuensi entah itu keberhasilan atau kegagalan, demikian juga dengan respon atau usaha belajar siswa.
Reaksi terhadap kegagalan. Selain keberhasilan, kemungkinan lain yang diperoleh siswa dalam belajar adalah kegagalan. Peristiwa ini akan menimbulkan perasaan sedih dan kecewa.
   D.    Jenis-Jenis Belajar
Manusia mempunyai beragam potensi, karakter dan kebutuhan dalam belajar. Karena itu banyak tipe-tipe belajar yang dilakukan manusia.
1.      Belajar Menurut A.De Block
Sistematika bentuk belajar yang disusun oleh De blok adalah sabagai berikut :
    a.       Bentuk-bentuk belajar menurut fungsi psikis.
1.  Belajar dinamik
2.  Belajar afektif
3.  Belajar kognitif : mengingat, berfikir
4.  Belajar senso-motorik: mengamati, bergerak, berketrampilan.
    b.      Bentuk-bentuk belajar menurut materi yang dipelajari:
1.    Belajar teoritis
2.    Belajar teknis
3.    Belajar sosisal atau belajar bermasyarakat
4.    Belajar estetis
    c.       Bentuk-bentuk belajar yang tidak disadari
1.      Belajar insidental
2.      Belajar dengan mencoba-coba.
3.      Belajar tersmbunyi.
2.      Belajar menurut Benyamin S Bloom
Benyamin S Blom adalah ahli pendidikan yang terkenal seagai pencetus konsep Taksonomi belajar. Taksonomi belajar adalah pengelompokan tujuan belajar berdasarkan domain atau kawasan belajar.
Menurut Bloom ada tiga domain belajar, yaitu sebagai berikut.
1.      Cognitive Domain ( kawasan kognitif )
Prilaku yang merupakan proses berpikir atau prilaku yang temasuk hasil kerja otak.
Kemampuan kognitif antara lain :
a. Pengetahuan, tentang suatu materi yang dipelajari.
b.Pemahaman, memahami materi yang dipelajari.
c. Penerapan penggunaan materi.
d.            Analisa, proses analisis teoritis dengan mengunakan kemampuan akal.
e. Sintesa, kemampuan memadukan konsep, sehingga menemukan konsep baru.
f. Evaluasi, kemampuan melakukan evaluatif atas pengunaan mati pengetahuan.
3.      Affective domain (kawasn afektif)
Prilaku yang dimunculkan seseorang sebagai pertanda kecenderunganya untuk membuat pilihan atau keputusan untuk bereaksi didalam lingkungan tertentu. Beberapa contoh kawasan afektif :
·         Menganggukkan kepala sebagai tanda setuju,
·         Meloncat dengan muka berseri-seri sebagai tanda kegirangan,
·         Pergi kemasjid sebagai prilaku orang beriman kepada Tuhan YME.
4.      Psychomotor Domain (kawasan psikomotor)
Prilaku yang dimunculkan oleh hasil kerja fungsi tubuh manusia. Domain ini berbentuk gerakan tubuh, antara ain seperti berlari, melompat, melempar,berputar, memukul, menendang dan lain-lain. Dave (1970), mengemukakan lima jenjang tujuan belajar pada ranah psikomotor :
a. Meniru, kemampuan mengamati suatu gerakan agar dapat merespon.
b.Menerapkan, kemampuan mengikuti pengarahan, gerakan pilihan dan pendukung dengan membayangkan gerakan orang lain.
c. Menerapkan, kemampuan memberikan respon.
d.             Merangkai, koordinasi rangkaian gerak dengan membuat aturan yang tepat.
e. Naturalisasi, gerakan yang dilakukan secara rutin dengan mengunakan energy fisik dan psikis yang minimal.


    E.     Faktor – Faktor Yang Mempengarui Belajar
Usaha dan keberhasilan belajar dipengarui oleh banyak faktor. Faktor-fakor tersebut data bersumber pada dirinya atau diluar dirinya atau lingkunganya.[3]
a.      Faktor – faktor dalam diri individu
Banyak faktor yang ada dalam diri individu atau si pelajar yang mempengarui usaha dan keberhasilan belajarnya. Faktor-faktor tersebut menyangkut aspek jasmaniah maupun rohaniah dari individu.
Aspek jasmaniah mencakut kondisi dan kesehatan jasmani dari individu. Tiap orang memiliki kondisi fisik yang berbeda, ada yang tahan belajar lima atau enam jam terus meneus, tetapi ada juga yang tahan satu dua jam saja. Kondisi fisik menyangkut pula kelengkapan dan kesehatn indra penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecapan.
Aspek psikis atau rohaniah tidak kalah pentingnya dalam belajar dengan aspek jasmaniah. Aspek psikis mencangkup kondisi kesehatan psikis, kemampuan-kemampuan intelektual, sosial, psikomotor serta kondisi afektif dan konatif dari individu.
b.      Faktor – faktor lingkungan
Keberhasian belajar juga dpengarui oleh faktor-faktor diluar diri siswa, baik faktor fisik maupun sosial – psikologis yang berada pada lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Lingkungan sekolah juga memegang peranan penting bagi perkembangan belajar para siswanya. Lingkungan ini meliputi lingkungan fisik sekolah seperti lingkungan kampus, sarana dan prasarana yang ada, sumber belajar, media dan lain-lain. Sekolah yang kaya dengan aktivitas belajar, memiliki sarana dan prasarana yang memadai, terkelola dengan baik, diliputi dengan suasana akademis yang wajar, akan sangat mendorong semangat belajar para siswanya.


   F.     Teori Belajar
Jadi teori belajar adalah sebuah konsep yang abstrak yang membantu peserta didik untuk belajar.
a.       Macam-macam Teori Belajar
Dengan berkembangnya psikologi dalam pendidikan, maka bersamaan dengan itu bermunculan pula berbagai teori tentang belajar. Di dalam masa perkembangan psikologi pendidikan ini muncullah beberapa aliran psikologi pendidikan, diantaranya yaitu :
    1.      Teori Belajar Behaviorisme
Teori behavioristik adalah sebuah teori tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologibelajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
     2.      Teori Kognitif
Psikologi kognitif lebih menekankan pendidikan sebagai proses internal mental manusia termasuk bagaimana orang berfikir, merasakan, mengingat, dan belajar. Tingkah laku manusia yang tampak tidak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mentalnya, seperti motivasi, keyakinan, dan sebagainya. 
3.      Teori Humanistik
Dalam teori belajar humanistik proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri.  Meskipun teori ini sangat menekankan pentingya isi dari proses belajar, dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. [4]



BAB III

PENUTUP

    A.    Kesimpulan
Dalam merumuskan pengertian belajar, para ahli berbeda pendapat dalam mendefinisikannya, antara lain:
·         Menurut rumusan G.A Kimble belajar adalah perubahan yang relative menetap dalam potensi tingkah laku yang terjadi sebagai akibat dari latihan dengan penguatan dan tidak termasuk perubahan-perubahan karena kematangan, kelelahan atau kerusakan pada susunan saraf.
·         Menurut Thursan Hakim, belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku.
Dalam merumuskan pengertian belajar, para ahli berbeda pendapat dalam mendefinisikannya, antara lain:
·         Menurut rumusan G.A Kimble belajar adalah perubahan yang relative menetap dalam potensi tingkah laku yang terjadi sebagai akibat dari latihan dengan penguatan dan tidak termasuk perubahan-perubahan karena kematangan, kelelahan atau kerusakan pada susunan saraf.
·         Menurut Thursan Hakim, belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku.
    B.     Saran
Untuk pengembangan lebih lanjut ,maka penyusun makalah memberikan saran yang sangat bermanfaat dan dapat membantu pembaca, yaitu :
1.      Menurut kami , kita sebagai warga negara Indonesia, harus senantiasa ikut membangun perekonomian Indonesia.
2.      Kita sebagai masyarakat harus dapat melaksanakan ekonomi rakyat mandiri dengan tepat, agar kita tidak terlalu bergantung kepada negara lain.
3.      Kita sebagai mahasiswa harus tetap menjaga dan mengembangkan kearifan lokal yang kita miliki agar potensi bangsa tidak pudar.

DAFTAR PUSTAKA


Eveline Siregar,  Hartini Nara, Teori belajar dapembelajaran, Ciawi-Bogor. Pt
Ghaila Indonesia, Oktober 2010.
Joko Susilo, Gaya Belajar Menjadikan Makin Pintar, Pinus Book Publisher :
Yogyakarta, 2006.
Najib Sulhan, Pembangunan karakter pada anak, Surabaya, Surabaya Intelektual
Club,2006
Oemar Hamalik, Psikologi dan belajar mngajar, Bandung, Pt.Sinar baru
algensindo, 2010.



[1] Eveline Siregar,  Hartini Nara, Teori belajar dapembelajaran, Ciawi-Bogor. Pt Ghaila Indonesia, Oktober 2010.          
[2] Joko Susilo, Gaya Belajar Menjadikan Makin Pintar, Pinus Book Publisher : Yogyakarta, 2006.
[3] Najib Sulhan, Pembangunan karakter pada anak, Surabaya, Surabaya Intelektual Club,2006

[4] Oemar Hamalik, Psikologi dan belajar mngajar, Bandung, Pt.Sinar baru Algensindo, 2010

MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...