KOPSAK
KONSELING PSIKOANALISIS KLASIK
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Teori
konseling merupakan upaya untuk menjelaskan proses melalui mana seperangkat
kegiatan konseling dimulai, berkembang dan berakhir. Teori konseling dapat
melayani sejumlah fungsi; sebagai seperangkat pedoman untuk menjelaskan
cara-cara manusia belajar, berubah, dan berkembang. Mengusulkan suatu model
perkembangan normal dan bentuk-bentuk ekspresi gangguan perilaku; dan apa yang
perlu dilakukan dan dapat diharapkan pada proses konseling. Singkatnya, teori
konseling merupakan peta proses konseling, serta apa yang harus dilakukan oleh
orang-orang yang terlibat dalam proses konseling untuk mencapai tujuan yang
diinginkan. Dalam konseling, kita selalu membutuhkan teori sebagai kerangka
kerja guna mengorganisasikan informasi-informasi.
Konselor
perlu menggunakan teori sebagai dasar untuk menerapkan asumsi-asumsi tentang
sifat konseling dan sifat dasar manusia, menetapkan tujuan umum konseling,
menetapkan teknik atau metode yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut,
menstrukstur peran dan tanggung jawab konselor dan klien dalam hubungan
terapeutik. Melakukan konseling tanpa teori sama halnya dengan terbang ke
planet tanpa peta dan instrumen. Di antara kesekian pendekatan tersebut salah
satunya adalah psikoanalisis klasik yang dikembangkan oleh Sigmund Freud.
B. Rumusan
Masalah
a. Apa
Definisi dari Manusia, Kepribadian, Kasus, Tujuan dan Tekhnik dari Kopsak?
b. Bagaimana
penerimaan terhadap klien?
c. Bagaimana
sikap dan jarak duduk terhadap klien?
d. Bagaimana
kontak mata terhadap klien?
C. Tujuan
a. Supaya
dapat mengetahui definisi dari manusia, kepribadian, kasus, tujuan dan tekhnik
dari Kopsak.
b. Supaya
dapat mengetahui penerimaan terhadap klien.
c. Supaya
dapat mengetahui sikap dan jarak duduk terhadap klien.
d. Supaya
dapat mengetahui kontak mata terhadap klien.
BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSELING PSIKOANALISIS KLASIK (KOPSAK)
a.
Pengertian kopsak
Psikoanalisis
adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia,
dan metode psikoterapi , berorientasi untuk berusaha membantu individu untuk
mengatasi ketegangan psikis yang bersumber pada rasa cemas dan rasa terancam
yang berlebih-lebihan (anxiety) sehingga menganggu dalam proses
perkembangan individu. Psikoanalisis klasik merupakan sebuah teori yang
ditemukan oleh Sighmund Freud pakar psikologi yang merupakan pijakan awal bagi
terbentuknya teori-teori baru yang semua merupakan berasal dari dasar,
pendalaman, kritik dan saran bagi teori ini.
b.
Asumsi tentang
manusia
Freud berpendapat
bahwa kebanyakan tingkah laku kita di tentukan oleh peristiwa-peristiwa masa
lampau, bukan dibentuk oleh tujuan-tujuan sekarang serta kurang mengontrol
tindakan-tindakan kita sekarang karena banyak tingkah laku kita berakar dalam
dorongan-dorongan tak sadar di luar kesadaran kita. Meskipun kita berpendapat
bahwa kita mengontrol kehidupan kita sendiri, namun dalam kenyataannya kita
kurang mengontrol kekuatan yang membentuk kepribadian kita. Freud juga
berpendapat bahwa kita datang kedunia dalam suatu keadaan konflik dasar, dimana
kekuatan dan dorongan hidup beroperasi dalam diri kita dari segi yang
bertentangan.
Manusia
dideterminasi oleh kekuatan-kekuatan irasional, motivasi-motivasi tak sadar,
kebutuhan biologis, naluriah dan instinknya. Masa lampau yang mempengaruhi
terhadap tingkah laku individu itu sendiri. Tindakan laku individu ditentukan
oleh faktor intrapsikis, interpersonal, dan psikis determinisme.[1]
c.
Kepribadian
Freud berpendapat
bahwa kepribadian telah cukup terbentuk pada akhir tahun kelima, dan bahwa perkembangan
selanjutnya sebagian besar hanya merupakan elaborasi terhadap struktur dasar
itu. Eksplorasi-eksplorasi mental mereka menjurus kearah pengalaman masa
kanak-kanak awal,yang ternyata berperan menentukan terhadap berkembangnya
neurosis di kemudian hari.
B. Stuktur kepribadian
a.Id
Id adalah
lapisan psikis yang paling besar atau dapat dikatakn dorongan dari dalam diri
individu berupa kebutuhan-kebutuhan, keinginan dan kehendak. Dalam id terdapat
naluri-naluri dalam bentuk dorongan seksual, sikap agtresig dan keinginan yang
direpresi.
b.Ego
Ego merupakan
perantara (mediator) antara Id dengan lingkungan. Kegiatannya mengarahkan Id
untuk memperoleh sesuatu dalam pemenuhan kebutuhannya. Aktifitas ego bersifat
sadar, pra-sadar dan tidak sadar. Ego bersifat sadar contohnya adalah persepsi
lahiriah dan persepsi bathiniah. Contoh aktifitas pra-sadar dapat dikemukakan
seperti fungsi ingatan. Aktifitas tak sadar dijalankan dengan mekanisme
pertahanan diri (defence mechanism). Ego dikuasai oleh prinsip realitas, dalam
arti ego lebih menekankan bagaimana sesuatu yang dibutuhkan dapat terpenuhi
dalam dunia nyata. Dalam perwujudannya, prinsip realitas ini tidak boleh
dianggap bertentangan dengan prinsip kesenangan yang disesuaikan dengan
kenyataan.
c. Super
Ego
Super Ego
merupakan rambu-rambu yang menjadi petunjuk individu bertingkah laku dalam
usaha memenuhi kebutuhan Id-nya. Super Ego berfungsi untuk menentukan apakah
sesuatu itu susila atau tidak, pantas atau tidak pantas, benar atau salah, dan
dengan berpedoman kepada isi pribadi akan dapat bertingkah laku sesuai dengan
moral-moral yang berlaku di masyarakat
.
Super Ego
berfungsi melalui hubungan dengan ketiga unsur kepribadian yaitu dengan cara:
a. Merintangi impuls-impuls Id, terutama impuls seksual
dan agresif yang pernyataannya sangat ditentang oleh masyarakat.
b. Mendorong Ego untuk lebih mengejar hal-hal yang
bersifat moralistis daripada yang realistis.
c.
Mengejar kesempurnaan.
D.
Dinamika
kepribadian
a. Insting
Insting
didefinisikan sebagai perwujudan psikologi dari suatu sumber rangsangan somatik
dalam yang dibawa sejak lahir. Perwujudan psikologinya disebut hasrat sedangkan
rangsangan jasmaniahnya dari mana hasrat itu muncul disebut kebutuhan. Hasrat
itu berfungsi sebagai motif tingkah laku. Dengan kata lain insting menjalankan
kontrol selektif terhadap tingkah laku dengan meningkatkan kepekaan orang
terhadap jenis-jenis stimulus tertentu. Menurut teori freud tentang insting,
sumber insting dan tujuan insting akan tetap konstan selama hidup, kecuali jika
sumber tersebut diubah atau dihilangkan akibat pematangan fisik.
b.
Distribusi dan penggunaan energi psikis
Dinamika kepribadian di tentukan oleh id, ego, dan
superego. Karena jumlah energi itu terbatas ketiga sistem mengontrol energi itu
dengan mengorbankan kedua sistem itu. Kalau salah satu sistem menjadi lebih
kuat maka kedua sistem lain dengan sendirinya menjadi lemah; kecuali energi
baru ditambahkan pada seluruh sistem.
Energi id sangat mudah berubah, yang berarti ia dapat
dengan mudah dipindakan dari satu gerak atau gambaran ke gerakan atau gambaran
lain. Sifat mudah dipindahkan dari insting ini disebabkan karena id tidak mampu
mengadakan diskriminasi secara cermat diantara suatu objek-objek. Objek-objek yang
berbeda diperlukan seolah-olah sama. Bayi yang lapar, misalnya, akan mengambil
apa saja yang dapat dipegangnya dan memasukanya kedalam mulut.
d.
Kecemasan
freud memedakan tiga macam kecemasan, realitas atau rasa
takut akan bahaya-bahaya nyata didunia luar. Kecemasan neorotik adalah rasa
takut jangan-jangan isnting akan lepas dari kendali dan menyebabkan sang
pribadi berbuat sesuatu yang bisa membuatnya dihukum. Kecemasan neorotik
bukanlah ketakutan tehadap insting-insting itu sendiri melainkan ketakutan terhadap
hukuman yang mungkin terjadi jika suatu insting dipuaskan. Kecemasan moral
adalah rasa takut terhadap suara hati. Orang-orang yang super egonya berkembang
dengan baik cenderung merasa bersalah jika mereka melakukan atau bahkan
berfikir untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan norma moral dengan
dimana mereka dibesarkan. Fungsi kecemasan adalah memperingatkan sang pribadi
akan adanya bahaya, iya merupakan isyarat bagi ego bahwa kalau tidak dilakukan
tindakan-tindakan tepat, maka bahaya itu akan meningkat sampai ego dikalahkan.[2]
e.
Kasus
Pendekatan teori KOPSAk sangat cocok digunakan pada klien
yang mengalami masalah phobia, stres,
traumatic, kekecewaan yang berlebihan, frustasi dan rasa tertekan.
f.
Tujuan
Tujuan konseling pendekatan
Psikoanalaisis Klasik adalah menjadikan hal-hal yang tidak disadari klien
menjadi disadarinya. Tujuan itu dicapai dengan membuat konflik-konflik yang
tidak dapat disadari menjadi disadari dan dengan menguji dan menjajaki materi
yang bersifat intra psikis. Dalam hal ini konselor membantu klien menghidupkan
kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak dini dengan menembus
konflik-konflik yang direpresi. Setelah pengungkapan materi yang tidak disadari
dan mengganggu itu, kemudian konselor berusaha merasionalkan kesan-kesan itu,
sehingga klien menyadari bahwa kesan yang dibawanya tersebut tidaklah sesuai
dengan keadaan yang sebenarnya.
Strategi pokok dari konseling Psikoanalisis Klasik ini adalah “khataris”,
yaitu usaha melepaskan kesan-kesan yang selalu mendesak dari bawah sadar klien,
yang selama ini tidak bisa dilepaskan atau selalu direpresi. Pelepasan
kesan-kesan tersebut akan dapat membantu suasana perasaan klien menjadi lega.
Untuk itu suasana yang bebas ancaman amat diperlukan dalam kegiatan konseling.
Tujuan konseling dalam pendekatan-pendekatan
konseling adalah :
Membantu klien untuk membentuk
kembali struktur karakternya dengan menjadikan hal-hal yang tidak disadari
menjadi disadari oleh klien.l
Secara spesifik :
a. Membawa klien dari dorongan-dorongan yang ditekan
(ketidaksadaran) yang mengakibatkan kecemasan kearah perkembangan kesadaran
intelektual.
b. Menghidupkan kembali masa lalu klien dengan menembus
konflik yang direpres.
c. Memberikan kesempatan kepada klien untuk menghadapi
situasi yang selama ini ia gagal mengatasinya.
F. Teknik
a. Assosiasi Bebas
Merupakan alat untuk mengungkapkan bahan-bahan yang terdesak atau yang
berada dalam ketidaksadaran klien. Melalui asosiasi bebas, dapat dipanggil
kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang
berkaitan dengan situasi traumatik di masa lampau. Pelepasan emosi-emosi yang
tertahan selama ini disebut juga dengan “katarsis”.
Cara melakukan asosiasi bebas ini misalnya dengan mempersilahkan klien
untuk tidur berbaring, kemudian mengajak klien dan memberikan kesempatan
sebebas-bebasnya untuk menceritakan tentang apa saja yang dirasakan atau yang
dialaminya di masa lalu.
b. Analisis Mimpi
Bagi Pendekatan Psikoanalisis, mimpi dianggap penting sebab melalui mimpi
dapat diungkapkan kesan-kesan yang direpresi dan mimpi merupakan pemuasan
keinginan-keinginan yang tidak dapat dicapai dalam kenyataan. Bagi Freud,
analisa tentang mimpi membawa banyak keuntungan, analisa ini dapat meneguhkan
hipotesisnya tentang susunan dan berfungsinya hidup psikis dan karena lewat
mimpi dapat dibongkar ingatan-ingatan dari masa lampau yang tidak mungkin
ditemukan lagi dengan cara lain.
c. Transferensi (pengalihan)
Maksudnya adalah pengalihan objek perasaan pada orang lain, dalam hal ini
klien mengarahkan hal apa yang dirasakan dan dimauinya pada konselor, yang
selama ini tidak dapat dilakukannya. Melalui
transferensi ini memungkinkan klien mampu memperoleh pemahaman atas sifat dari
fiksasi-fiksasi dan depresi-depresinya, dan menyajikan pemahaman tentang
pengaruh masa lampau terhadap kehidupannya sekarang.
d. Penafsiran
Ini digunakan oleh konselor agar klien mampu menggunakan pikiran dan
mengfungsikan kembali kerja ego dan super egonya. Penafsiran dirancang agar
klien sedikit demi sedikit dapat menghadapi kenyataan.
Fungsi penafsiran itu adalah mendorong ego klien untuk menstimulasikan
bahan-bahan baru dan mempercepat proses penyingkapan bahan tak sadar lebih lanjut.
Penafsiran konselor menyebabkan pemahaman dan tidak terhalangnya bahan-bahan
yang tidak disadari pada pihak klien.
B.TEKNIK UMUM
a. Penerimaan terhadap
klien
Tahap acceptance (penerimaan) Pada
tahapan ini, individu
mulai hadir dengan kedamaian
dan rasa cinta.
Individu mulai menerima kenyataan-kenyataan yang terjadi di
dalam hidupnya. Kubler-Ross
menyatakan tahapan-tahapan tidak
selalu urut, atau dilalui semuanya oleh seorang individu,
tapi paling tidak ada 2 langkahyang pasti akan dilalui. Seringkali, individu
akan mengalami beberapa langkah
berulang-ulang. Seorang individu
tidak seharusnya
memaksakan proses yang
dilaui, Proses duka
adalah hal yang
sangat personal dan sebaiknya
tidak dipercepat (atau
diperpanjang). Kebanyakan
orang tidak siap
menghadapi duka, karena
seringkali, tragedi terjadi begitu
cepat, dan tanpa
peringatan. Individu harus bekerja
keras melalui proses
tersebut hingga akhirnya
sampai pada tahap Penerimaan.
Menurut Johnson dan
Medinnus (1967) penerimaan didefinisikan sebagai
“pemberian cinta tanpa
syarat sehingga penerimaan anak
terhadap orantua tercermin melalui adanya perhatian yang kuat,
cinta kasih terhadap
anak serta sikap
penuh kebahagiaan dalam
mengasuh anak” Sedangkan menurut
Coopersmith, 1967(dalam
Walgito 1993) penerimaan
anak terungkap melalui “perhatian pada anak, kepekaan
terhadap kepentingan anak, ungkapan kasih sayang dan hubungan yang penuh
kebahagiaan dengan anak”.
Serta pernyataan
Coopersmith 1967 (dalam
Walgito, 1993 menyatakan pula
penerimaan anak dicerminkan dalam perhatian orang tua terhadap
anak, tanggap kebutuhan
dan keinginan anak,
adanya kasih sayang dan
kehangatan orang tua dengan anak Definisi
lain yang dikemukakan
oleh Rogers, 1979
(dalam Safaria, 2005) penerimaan merupakan
sikap seseorang yang menerima orang
lain apa adanya
secara keseluruhan, tanpa
disertaipersyaratan ataupun penilaian.
Menurut Safaria (2005)
faktor-faktor yang
menyebabkan cepat atau
tidaknya seseorang menerima
suatu keadaan yang tidak
sesuai dengan harapannya
pada dasarnya tidak lepas
dari penafsiran orang
tersebut terhadap peristiwa
yang dialaminya. Seringkali kita
cenderung melihat suatu peristiwa dari sisi yang negatif dan jarang sekali kita
melihatnya dari sisi positif.Terdapat
ciri-ciri orang yang
menerima orang lain
dijelaskan oleh Suhriana (2011)
yaitu mempunyai keyakinan akan
kemampuan untuk menghadapi kehidupan,
menganggap orang lain
berharga, berani memikul tanggung
jawab terhadap perilakunya, menerima pujian atau
celaan secara objektif,
dan tidak menyalahkan
atas keterbatasan dan tidak pula mengingkari kelebihan orang lain.
Ciri-ciri penerimaan
yang diungkapkan oleh
Suhriana (2011) merupakan ciri-ciri
yang mudah untuk
di ketahui pada
individu. Individu tersebut dapat
dikatakan menerima orang
lain apabila individu telah
menghadapi kehidupan dengan
segala kemampuannya, menganggap
bahwa orang lain itu sangat berharga Engel, 1964 (dalam Hidayat, 2006)
menuturkan proses penerimaan mempunyai
beberapa fase yang
dapat diaplokasikan pada
seseorang yang sedang berduka maupun menjelang ajal.
1. Fase
pertama shock dan
tidak percaya. Seseorang
menolak kenyataan atau kehilangan
dan mungkin menarik
diri, duduk malas, atau
pergi tanpa tujuan.
Reaksi secara fisik
termasuk pingsan, diaporesis, mual, diare, detak jantung cepat, tidak
bias istirahat, insomnia dan kelelahan.
2. Fase
kedua yaitu berkembangnya
kesadaran. Seseorang mulai merasakan kehilangan
secara nyata dan
mungkin mengalami putus asa.
Kemarahan, perasaan bersalah, frustasi, depresi, dan kekosongan jiwa tiba-tiba
terjadi.
3. Fase ketiga yaitu restitusi. Pada fase ini
seorang akan berusaha mencoba untuk sepakat
atau damai dengan
perasaan yang hampa atau kosong,
karena kehilangan masih tetap tidak dapat menerima perhatian
yang baru dari
seseorang yang bertujuan untuk mengalihkan kehilangan
seseorang.
4. Fase keempat yaitu menekan seluruh perasaan yang
negatif dan bermusuhan terhadap seoang
yang meninggal. Bisa
merasabersalah dan sangat
menyesal tentang kurang
perhatiannya di masa lalu
terhadap almarhum.
5. Fase
kelima yakni kesadaran
kehilangan yang tak
dapat dihindari harus mulai
diketahui dan disadari.
Sehingga padafase ini
diharapkan seseorang sudah
dapat menerima kondisinya.
Kemudian kesadaran baru telah berkembang.[3]
A. Contoh
MANKLIEN (Penerimaan Klien)
Menerima klien
berkaitan dengan rasa hormat terhadap individu sebagai pribadi yang memiliki
harga diri. Ada dua komponen dal hal menerima klien, yaitu : Kemampuan konselor dalam hal menerima
kebenaran bahwa individu/klien berbeda satu sama lain, demikian juga cara-cara
dan perilaku yang ditampilkan.
Perwujudan diri yang
berlangsung dalam pengalaman, bahwa setiap orang memiliki pola yang kompleks
dalam berbuat, merasa, bersikap, dan cara betanggung jawab atas diri klien.
Kualitas hubungan dalam
konseling juga sangat dipengaruhi oleh kepribadian konselor itu sendiri. Dalam
memulai hubungan konseling, konselor hendaknya bersikap: Luwes, yaitu bebas Dalam berbicara dan
tidak kaku. Hangat, yaitu salamnya dan senyumnya dari penerimaan konselor
terhadap klien dapat menerima orang lain (apa adanya) tidak berpura-pura
Terbuka, yaitu konselor menerima klien
dan meluangkan waktu kepada klien untuk konseling menghargai orang lain, tidak mau menang
sendiri, Penuh perhatian, bijaksana
Contoh
Penerimaan (Acceptenc)
Konselor : “ Bagaimana kabar mba Ita hari ini ?
Ita :” Alhamdulillah baik bu”,
Konselor :Barusan pelajaran apa?”(Konselor duduk
dengan tenang sambil sedikit mencondongkan badan pada klien)
Ita :“pelajaran kimia bu”
Konselor : “ Anda suka pelajaran tersebut?atau
sebaliknya?
Contoh
Penerimaan (Acceptenc)
Konseli : Assalamua’alaikum, siang Bu!
Konselor : Walaikumsalam, siang mbak Fishy!
Silahkan duduk! ( sambil berjabat tangan dan mempersilahkan duduk)
Konseli : Bu, maaf yah siang – siang
mengganggu Ibu.
Konselor : ahh…tidak apa – apa mbak Fishy.
Bagaimana kabarnya mbak? (dengan tersenyum dan memulai percakapan)
Konseli : Alhamdulliah baik Bu.
Konselor : syukurlah kalau begitu, bagaimana
kuliahnya?
Konseli : alhamdulillah lancar – lancar
saja Bu.
B. KOSJDUK (Sikap dan
Jarak Duduk)
Dalam penyelenggaraan
konseling jarak duduk ideal antara konselor dengan klien yang sebaiknya adalah
antara 80-100 cm. Disamping itu, posisi sikap badan yang sebaiknya adalah :
Duduk dengan posisi
badan menghadap klien dan menunjukkan sikap renponsif. Posisi tangan diatas
pangkuan dan melakukan gerakan-gerakan tangan yang seiring mengikuti gerakan
verbal.
Duduk dengan kepala
condong kepada klien untuk menunjukkan bahwa konselor “bersama” klien. Ekspresi
wajah hendaknya tidak kaku, tidak dingin, dan tidak juga menyeramkan atau
mencemaskan klien melainkan menampilkan senyuman yang tulus dan bersahabat.
C. KONMAT ( Kontak Mata)
Kontak mata yaitu pas
photo. Kontak mata yang baik adalah dengan cara melihat kepada klien ketika dia
sedang berbicara dan menggunakan pandangan mata yang menunjukkan perhatian dan
penerimaan konselor terhadap klien. Dalam kontak mata konselor hendaknya
menghindari melihat klien secara tidak terarah, misalnya melihat ke atas,
keluar jendela, ke arah buku atau kemna saja selain ke arah klien. Kontak mata
merupakan cara yang penting untuk dilakukan oleh konselor. Ketika mencoba
membantu orang, harus diingat bahwa kita dapat memberikan isyarat setuju atau
menolak secara halus dengan mata kita. Sama halnya, kita dapat menunjukkan
perasaan senang, atau memakai isyarat mata untuk menyampaikan pesan bahwa kita
serius memperhatikan dan mendengarkan apa yang sedang dikatakannya.[4]
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Teori konseling
psikoanalisis digolongkan ke dalam pendekatan psikodinamik, afektif, atau
konstekstual. Asumsi penting dari teori ini adalah bahwa perilaku manusia
dikendalikan oleh dorongan-dorongan atau instink-instink yang tidak disadari,
dan bahwa gangguan perilaku yang dialami oleh manusia pada saat sekarang
berkaitan dengan pengalaman kehidupannya di masa lampau, khususnya
peristiwa-peristiwa traumatik yang dialami pada masa kanak-kanak serta kompleks
terdesak. Kompleks terdesak adalah sekumpulan gerak hati dan dorongan-dorongan
yang tidak diterima atau dipenuhi dan yang kemudian ditekan ke alam bawah
sadar. Proses konseling psikoanalisa diarahkan pada upaya
mengungkap materi-materi kompleks terdesak dan kemudian membawanya ke alam bawah
sadar untuk disadari oleh individu. Ini dilakukan dengan cara mengajak klien
berbicara, mendorong transferen, menggunakan teknik kontraferensi, asosiasi
bebas, serta analisis dan intrepetasi. Kita memiliki akses untuk memecahkan
kesulitannya hanya jika ia mampu memperoleh insight tentang hubungan antara
kesulitannya dengan materi-materi kompleks terdesak dan pengalaman masa
kecilnya.
B.Saran
Mengingat
pendekatan merupakan aspek penting dalam pelaksanaan proses konseling, oleh
sebab itu bagi calon konselor, dosen, konsultan dan peneliti sangat disarankan
untuk memahami secara baik mengenai pendekatan-pendekatan tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
Gardner Lindzey & Calvin S.Hall. 1993. Teori-teori
Psikodinamik. Yogyakarta. Kanisius.
Semiun Yustinus. 2006. Teori Kepribadian dan terapi Psikoanalitik. Yogyakarta. Kanisius.
Prayitno. 1998. Konseling Pancaswakita. Padang.
Geldard Kathryn. 2004. Teknik Konseling. Yogyakarta.
Pustaka Pelajar.
Patraedison, “ Tekhnik umum dalam konseling”, diakses
dari (http://digilib.uinsby.ac.id/4847/5/Bab%202.pdf)
ss
[1] Semiun
Yustinus, terapi kepribadian & terapi Psikoanalitik, kanisius,
Yogyakarta,2006,hlm.114-115.
[3] Patraedison, “ Tekhnik umum dalam konseling”,
diakses dari (http://digilib.uinsby.ac.id/4847/5/Bab%202.pdf)
[4] Geldard Kathryn, Teknik Konseling, 2004, Yogyakarta,Pustaka
Pelajar, Hlm.102.
No comments:
Post a Comment