Rabu, 24 Oktober 2018

MAKALAH PEMUDA DAN PANCASILA

MAKALAH PEMUDA DAN PANCASILA



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

 “Pancasila merupakan payung yang sengaja diciptakan oleh para pendiri bangsa ini sebagai pelindung pembangunan bangsa. Tidak ada yang salah dengan Pancasila, yang salah adalah penerapannya. Problema bangsa ini hanya akan selesai dengan jalan kultural, pembatinan dengan menghargai sikap-sikap menghargai perbedaan,” ujar Pengajar di Universitas Indonesia Mudji Sutrisno atau Romo Mudji.
Ketika bangsa ini mulai tak tolelir terhadap perbedaan, menurut Romo Mudji, kunci paling penting untuk menanamkan toleransi adalah menghargai orang lain. Konsep ini sudah ada dalam Pancasila yang dibuat oleh para pembangun bangsa. Dalam konsep ini semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Setiap warga negara harus dihargai dan dihormati termasuk ketika terdapat perbedaan yang memang sudah ada dalam kehidupan bangsa Indonesia sejak dulu.
Bagian tersulit dalam pendidikan toleransi menurut Romo Mudji adalah membuat toleransi mendarah daging  dan menjadi kesadaran setiap anak. Pendidikan toleransi bukan hanya hapalan di luar kepala. Pendidikan toleransi akan berhasil dengan cara mengajak anak untuk melakukan tolerasni. “Semua itu dimulai dari keluarga, disini kuncinya,” kata Romo Mudji.
Di sekolah dasar hingga atas, generasi muda memperoleh pemahaman mendalam mengenai latar belakang historis, dan konseptual tentang Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 bagi setiap warga negara, merupakan suatu bentuk kewajiban sebelum dapat melaksanakan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
Dalam perjalanan waktu, ketika terbentuk sebuah negara bernama Indonesia, perjalanan hidup bangsa Indonesia sangat ditentukan oleh efektivitas penyelenggaraan negara. Untuk itu Pancasila difungsikan sebagai dasar dalam mengatur penyelenggaraan negara, di bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya dan hankam. Bahkan saat globalisasi masuk ke dalam tiap inchi kehidupan bangsa, Pancasila dijadikan sebagai penyaring dampak negatif yang kemungkinan muncul.
Maka bagi pemerintah dan rakyat Indonesia, kesetiaan, nasionalisme (cinta tanah air) dan patriotisme (kerelaan berkorban) kepada bangsa dan negaranya dapat diukur dalam bentuk kesetiaan (loyalitas) mereka terhadap filsafat negara (Pancasila) yang secara formal diwujudkan dalam bentuk Peraturan perundang-undangan (Undang-Undang Dasar 1945, Ketetapan MPR, Undang-Undang, dan Peraturan Perundangan lainnya). Kesetiaan warga negara tersebut akan nampak dalam sikap dan tindakan, yakni menghayati, mengamalkan dan mangamankan. Kesetiaan ini akan semakin mantap jika mengakui dan meyakini kebenaran, kebaikan dan keunggulan Pancasila sepanjang masa.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Itu Pemuda ?
2.      Pengaruh Globalisasi Terhadap Pancasila ?
3.      Bagaimana Kolerasi Pancasila Terhadap Generasi Penerus Bangsa ?
4.      Peran Pemuda Dalam Upaya Merostasi Pancasila ?

C.    Manfaat dan Tujuan
1.      Dengan adanya makalah ini kita dapat mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan oleh generasi penerus bangsa terhadap pancasila agar terus tetap bertahan dan semakin maju.
2.      Dapat memahami aktualisasi, dan mengetahui cara yang paling efektif untuk menanamkan peran penting pancasila di era global terhadap generasi muda.
3.      Untuk mengingatkan generasi muda untuk tetap memahami dan menjaga nilai-nilai kebangsaan.
4.      Untuk memberikan evaulasi kembali generasi muda untuk menjawab permasalahan di bangsa ini.









BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pemuda Sebagai  Generasi Bangsa
Pemuda adalah individu yang bila dilihat secara fisik dan psikis sedang mengalami perkembangan, yang mempunyai tugas menjadi generasi penerus untuk membangun negeri. Secara internasional, WHO menyebut sebagai” young people” dengan batas usia 10-24 tahun, sedangkan usia 10-19 tahun disebut ”adolescenea” atau remaja.
Sementara itu, Undang – Unndang Nomor 40 Tahun 2009 mendefinisikan arti pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun. Ditinjau dari usianya, Mulyana mendefinisikan pemuda sebagai individu dengan karakter yang dinamis, bahkan bergejolak dan optimis namun belum memiliki pengendalian emosi yang stabil. Dengan gejolak dan semangat yang tinggi, pemuda diyakini bisa melakukan hal yang besar.
Soekarno dalam salah satu pidatonya mengatakan “Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut gunung semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda, akan aku guncangkan dunia”. Pemuda sejatinya adalah refleksi masa depan bangsa. Maju atau mundurnya suatu bangsa ada di  tangan pemudanya. Untuk itu,  jiwa dan gelora pemuda perlu terarah ke jalur yang benar. Pandangan hidupnya dan pemikirannya harus tetap berlandaskan Pancasila.
Pancasila yang merupakan dasar Negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia dimaknai sebagai saalah satu hasil budaya yang sangat penting. Oleh karena itu, pancasila harus diwariskan kepada generasi penerus, yaitu pemuda. Nilai – nilai yang  terkandung di dalamnya bukan hanya sekedar dipahami namun diamalkan di kehidupan sehari – hari. 



B.     Pengaruh Globalisasi Terhadap Pancasila
Dewasa ini, kita melihat pengamalan pancasila oleh pemuda semakin melemah. Hal ini karena pancasila hanya  dimaknai sebagai symbol Negara. Salah satu contoh kasus yang belum lama terjadi adalah kasus Zaskia Gotik,  penyanyi kondang itu menjadikan pancasila sebagai bahan guyonan di salah satu acara televise swasta Indonesia. 
Dia menyebutkan lambang sila yang ketiga yaitu pohon beringin dengan sengaja diganti menjadi bebek nungging. Hal ini tentu mencederai esensi Pancasila, yang apabila ditinjau dari landasan historisnya, merupakan nilai – nilai yang digali dari sejarah Indonesia, dimulai dari masa kerajaan, penjajahan kemudian sampai proklamasi kemerdekaan.
Selain itu era sekarang yaitu era globalisasi, menyebabkan bangsa satu dengan yang lainnya seolah tidak ada sekat yang menghalangi. Hal ini mengakibatkan, berbagai budaya masuk ke Indonesia, baik itu paham yang berguna untuk kemajuan bangsa maupun budaya yang dapat merusak moral bangsa.
Pemuda tak luput dari pengaruh kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia. Dari cara berpakaian, pemuda cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Tak ketinggalan gaya rambut yang dicat beraneka warna.
Perkembangan Ilmu  dan Teknologi yang semakin berkembang, menyebabkan informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. Internet menjadi salah satu bentuk perkembangan Teknologi. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan internet tidak semestinya. Misalnya untuk membuka situs-situs porno. Bukan hanya internet saja, ada lagi pegangan wajib mereka yaitu handphone. Rasa sosial terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih sibuk dengan menggunakan handphone.



C.    Kolerasi Pancasila Terhadap Generasi Penerus Bangsa
Melihat fenomena tersebut, moral pemuda perlu  diperbaiki dan kembali ke jati diri bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Nilai – nilai yang terkandung di dalamnya perlu direstorasi artinya seluruh usaha yang dilakukan untuk mengembalikan Pancasila berperan sebagai Dasar Negara Republik Indonesia.
Restorasi Pancasila mempunyai tiga aspek. Pertama adalah pendalaman dan pemahaman nilai-nilai Pancasila yang jauh lebih intensif di seluruh masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan terpelajar dan kalangan pimpinan bangsa dan daerah. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah agar pemuda khususnya mahasiswa memahami pancasila adalah dengan menjadikan pancasila yang dikemas dalam bentuk Pendidikan pancasila sebagai mata kuliah yang wajib ada di kurikulum pendidikan tinggi sesuai dengan bunyi pasal 35 (3), Undang – Undang  Nomor 12 Tahun 2012 tentang Kurikulum Pendidikan Tinggi.
 Aspek kedua adalah Pancasila berperan sebagai faktor utama dalam hakikat pembangunan nasional, yaitu  pembangunan manusia Indonesia dan pembangunan masyarakat dan bangsa Indonesia (Nation and Character Building).Aspek ketiga Restorasi Pancasila adalah menjadikan Pancasila sebagai referensi utama untuk memperkaya kebudayaan Indonesia dengan mengadopsi nilai-nilai bukan-Indonesia. Karena Pancasila adalah paham terbuka, maka tidak mustahil bangsa Indonesia merasa perlu mengadopsi hasil kebudayaan bangsa lain untuk peningkatan kehidupan sendiri, seperti dilakukan bangsa Indonesia di masa dahulu ketika mengadopsi nilai-nilai agama Hindu, Buddha, dan Islam.
Kemudian, peran pemuda dalam merestorasi pancasila adalah dengan menjadikan pancasila sebagai gaya hidup masa kini dan mengubah kebudayaan hedonis yang identik  dengan sikap anak muda sekarang ini. Langkah awal dalam mengintegrasikan nilai – nilai pancasila sebagai style atau gaya hidup pemuda adalah mencintai Negara ini, termasuk di dalamnya adalah Pancasila. Dengan rasa cinta terhadap lima sila di dalamnya, maka sikap dan tindakan pemuda berlandaskan dan sesui dengan hakekat pancasila.


D.    Peran Pemuda Dalam Upaya Merostasi Pancasila
Bentuk mencintai pancasila adalah dengan mengamalkannya di kehidupan sehari – hari dan merefleksikan perilaku serta kebiasaan pemuda masa kini dengan pancasila, misalnya menerapkan musyawarah pada organisasi atau kelompok diskusi atau bersikap toleran dengan perbedaan yang ada.
Berikut ini adalah penjelasan mengenai peran pemuda dalam upaya merestorasi Pancasila:
1.      Ketuhanan yang Maha Esa
Sebagai pemuda wajib bertaqwa kepada Tuhan YME serta menjalankan segala perintah-Nya. Selain itu  sebagai makhluk tuhan harus bisa mengamalkan ajaran-ajaran agama dengan baik dan menjadi generasi muda yang berbasis agama, agar hidup lebih terarah.
2.      Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Pemuda mempunyai susunan, sifat, kedudukan kodrat yang sama kita harus dapat mencintai sesama, mengembangkan sikap tenggang rasa, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
3.      Persatuan Indonesia
Didalam pergaulan satu sama lain, pemuda harus dapat menunjukan rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang berbhineka tunggal ika, meskipun berbeda  tetap saling menghormati dan menghargai. Pemuda  perlu menyadari untuk bertanah air satu yaitu tanah air Indonesia.
4.      Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawarakatan Perwakilan
Sikap saling bekerja sama, bergotong royong untuk mewujudkan cita-cita  bangsa perlu diimplementasikan pemuda. Selain itu, bersama - sama menjawab tantangan, memecahkan persoalan dan musyawarah dengan sistem kekeluargaan merupakan penerapan sila keempat.


5.      Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Sifat adil terhadap diri kita, orang lain, alam,  dan tuhan perlu diterapkkan oleh pemuda. Jangan sampai melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum dan tiddak memperhatikan hak dan kewajiban orang lain.
Penjelasan mengenai sila – sila di atas perlu dicermati dengan baik oleh pemuda, agar nilai – nilai yang terkandung merasuk ke dalam jiwa pemuda dan bisa menjadi gaya hidup untuk pengamalan kehidupan sehari – hari. Sehingga upaya untuk merestorasi Pancasila bisa terwujud.























BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Sebagai generasi bangsa indonesia harus memiliki kesadaran yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai isi dari pancasila tersebut, yaitu :
1.      Ketuhanan yang Maha Esa
Sebagai pemuda wajib bertaqwa kepada Tuhan YME serta menjalankan segala perintah-Nya. Selain itu  sebagai makhluk tuhan harus bisa mengamalkan ajaran-ajaran agama dengan baik dan menjadi generasi muda yang berbasis agama, agar hidup lebih terarah.
2.      Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Pemuda mempunyai susunan, sifat, kedudukan kodrat yang sama kita harus dapat mencintai sesama, mengembangkan sikap tenggang rasa, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
3.      Persatuan Indonesia
Didalam pergaulan satu sama lain, pemuda harus dapat menunjukan rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang berbhineka tunggal ika, meskipun berbeda  tetap saling menghormati dan menghargai. Pemuda  perlu menyadari untuk bertanah air satu yaitu tanah air Indonesia.
4.      Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawarakatan Perwakilan
Sikap saling bekerja sama, bergotong royong untuk mewujudkan cita-cita  bangsa perlu diimplementasikan pemuda. Selain itu, bersama - sama menjawab tantangan, memecahkan persoalan dan musyawarah dengan sistem kekeluargaan merupakan penerapan sila keempat.
5.      Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Sifat adil terhadap diri kita, orang lain, alam,  dan tuhan perlu diterapkkan oleh pemuda. Jangan sampai melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum dan tiddak memperhatikan hak dan kewajiban orang lain.


B.     Saran dan Kritik

Sebagai generasi penerus bangsa agar lebih memahami dan memaknai Pancasila secara menjiwai lebih mendalam, agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Pancasila juga harus ditanam sejak dini, agar bangsa indonesia menjadi bangsa yang berdidiksi tinggi dalam hukum namun tetap menjujung tinggi keluhuran cita-cita bangsa seperti yang terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.



























DAFTAR PUSTAKA

Wiherun. 2011. “Makalah Tentang Pancasila Dengan Pemuda”,   
https://shiningbolt.wordpress.com/2011/11/03/makalah-tentang-pemuda-dengan-pancasila. Diakses pada 26 Dsember 2017


Khulafa, Faris Nur. 2016.” Restorasi Pancasila Sebagai Upaya Pemuda Mempertahankan                         Pancasila”,https://www.kompasiana.com/fariskhulafa/restorasi-pancasila-sebagai-   upaya-pemuda-mempertahankan-pancasila_579243bfa2afbd061e61aa4c. Diakses pada 26 Desember 2017



MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

MAKALAH  FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM  

“ KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT AHMAD DAHLAN”


BAB I

PENDAHULUAN

Sejarah pemikiran dalam Islam memang merupakan bawaan dari ajaran Islam sendiri. Karena dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat-ayat yang memerintahkan untuk membaca, berfikir, menggunakan akal, yang kesemuanya medorong umat Islam terutama pada ahlinya untuk berfikir mengenai segala sesuatu guna mendapatkan kebenaran dan kebijaksanaan.
Kebangkitan pemikiran dalam dunia Islam baru muncul abad 19 yang dipelopori oleh Sayyid Jamalludin al-Afghani di Asia Afrika, Muhammad Abduh di mesir. Kedua tokoh ini di bawa oleh pelajar Indonesia yang belajar di Timur Tengah seperti diantaranya K.H. Ahmad Dahlan. Berbekal ilmu agama yang ia kuasai dan ide-ide pembaru dari Timur Tengah, K.H. Ahmad Dahlan mencoba menerapkannya di bumi Nusantara.
Muhammad Dahlan dididik dalam lingkungan pesantren sejak kecil yang mengajarinya pengetahuan agama dan bahasa Arab. la menunaikan ibadah haji ketika berusia 15 tahun (1883), lalu dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa Arab di Mekkah selama lima tahun.
Di sinilah ia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharuan dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibn Taimiyah. Buah pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunyai pengaruh yang besar pada Darwisy. Jiwa dan pemikirannya penuh disemangati oleh aliran pembaharuan ini yang kelak kemudian hari menampilkan corak keagamaan yang sarna, yaitu melalui Muhammadiyah, yang bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (keIslaman) di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks (kolot).

Agar pembahasan makalah ini tidak melenceng dari pembahasan, maka penulis menarik rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana Biografi K.H. Ahmad Dahlan ?
2.      Bagaimana Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan?
3.      Bagaimana relevansi pemikiran Pendidikan Islam Tokoh K.H. Ahmad Dahlan dengan pendidikan masa terkini ?

1.      Untuk mengetahui beografi K.H. Ahmad Dahlan
2.      Untuk mengetahui pemikiran K.H. Ahmad Dahlan
3.      Untuk mengetahui relevansi pemikiran Pendidikan Islam Tokoh K.H. Ahmad Dahlan dengan pendidikan masa terkini



BAB II

PEMBAHASAN

Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir di Kauman, Yogyakarta, 1 Agustus 1868 adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah putera ke empat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. K.H Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu,[1] dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat sebagai penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu. Dalam sumber lain K.H. Ahmad Dahlan dilahirkan pada tahun 1869.
K.H. Ahmad Dahlan meninggal pada tanggal 7 Rajab 1340 H atau 23 Pebruari 1923 M dan dimakamkan di Karang Kadjen, Kemantren, Mergangsan, Yogyakarta.
Nama kecil K.H. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis. Saat masih kecil beliau diasuh oleh ayahnya sendiri yang bernama K.H. Abu Bakar. Karena sejak kecil Muhammad Darwis mempunyai sifat yang baik, budi pekerti yang halus dan hati yang lunak serta berwatak cerdas, maka ayah bundanya sangat sayang kepadanya. Ketika Muhammad Darwis menginjak usia 8 tahun Ia dapat membaca Al-Qur’an dengan lancar. Dalam hal ini Muhammad Darwis memang seorang yang cerdas pikirannya karena dapat mempengaruhi teman-teman sepermainannya dan dapat mengatasi segala permasalahan yang terjadi diantara mereka.
Sebelum mendirikan organisasi Muhammadiyah, KH.Ahmad Dahlan mempelajari perubahan-perubahan yang terjadi di Mesir, Arab, dan India, untuk kemudian berusaha menerapkannya di Indonesia. Ahmad Dahlan juga sering mengadakan pengajian agama di langgar atau mushola.
Ada beberapa faktor intern dan faktor ekstern, yang mendorong mengapa KH. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah[2]. Faktor interennya adalah:
1.      Kehidupan beragama tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits, karena merajalelanya taklid, bid’ah dan churafat (TBC), yang menyebabkan Islam menjadi beku.
2.      Keadaan bangsa Indonesia serta umat Islam yang hidup dalam kemiskinan,   kebodohan, kekolotan dan kemunduran.
3.      Tidak terwujudnya semangat ukhuwah Islamiyah dan tidak adanya organisasi Islam yang kuat.
4.      Lembaga pendidikan Islam tak dapat memenuhi fungsinya dengan baik, dan sistem pesantren yang sudah sangat kuno. Adanya pengaruh dan dorongan, gerakan pembaharuan dalam Dunia Islam.
Faktor-faktor ekstern, mencakup:
1.      Adanya kolonialisme Belanda di Indonesia.
2.      Kegiatan serta kemajuan yang dicapai oleh golongan Kristen dan Katolik di Indonesia.
3.      Sikap sebagian kaum intelektual Indonesia yang memandang Islam sebagai agama yang telah ketinggalan zaman.
4.      Adanya rencana politik kristenisasi dari pemerintah Belanda, demi kepentingan politik kolonialnya.
Karya-karya K.H. Ahmad Dahlan diantaranya sebagai berikut:
1.      Rukuning Islan lan Iman.
2.      Aqaid, Salat, Asmaning Para Nabi kang selangkung.
3.      Nasab Dalem Sarta Putra Dalem Kanjeng Nabi.
4.      Sarat lan Rukuning Wudhu Tuwin salat.
5.      Rukun lan Bataling Shiyam.
6.      Bab Ibadah lan Maksiyating Nggota utawi Poncodriyo.

Upaya mengaktualisasikan gagasan tersebut maka konsep pendidikan K.H. Ahmad Dahlan ini meliputi:
1.      Tujuan Pendidikan
Menurut K.H. Ahmad Dahlan, pendidikan Islam hendaknya diarahkan pada usaha membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur, alim dalam agama, luas pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan, serta bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya. Tujuan pendidikan tersebut merupakan pembaharuan dari tujuan pendidikan yang saling bertentangan pada saat itu yaitu pendidikan pesantren dan pendidikan sekolah model Belanda. Di satu sisi pendidikan pesantren hanya bertujuan utnuk menciptakan individu yang salih dan mendalami ilmu agama. Sebaliknya, pendidikan sekolah model Belanda merupakan pendidikan sekuler yang didalamnya tidak diajarkan agama sama sekali.
Melihat ketimpangan tersebut KH. Ahamd Dahlan berpendapat bahwa tujuan pendidikan yang sempurna adalah melahirkan individu yang utuh menguasai ilmu agama dan ilmu umum, material dan spritual serta dunia dan akhirat. Bagi K.H. Ahmad Dahlan kedua hal tersebut (agama-umum, material-spritual dan dunia-akhirat) merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Inilah yang menjadi alasan mengapa KH. Ahmad Dahlan mengajarkan pelajaran agama dan ilmu umum sekaligus di Madrasah Muhammadiyah.
2.      Materi pendidikan
KH. Ahmad Dahlan berpendapat bahwa kurikulum atau materi pendidikan hendaknya meliputi:
a.       Pendidikan moral, akhlaq yaitu sebagai usaha menanamkan karakter manusia yang baik berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
b.      Pendidikan individu, yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan kesadaran individu yang utuh yang berkesinambungan antara perkembangan mental dan gagasan, antara keyakinan dan intelek serta antara dunia dengan akhirat.
c.       Pendidikan kemasyarakatan yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan kesediaan dan keinginan hidup bermasyarakat.
3.      Metode Mengajar
Ada dua sistem pendidikan yang berkembang di Indonesia, yaitu pendidikan pesantren dan pendidikan Barat. Pandangan Ahmad Dahlan, ada problem mendasar berkaitan dengan lembaga pendidikan di kalangan umat Islam, khususnya lembaga pendidikan pesantren. Menurut Syamsul Nizar, dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, menerangkan bahwa problem tersebut berkaitan dengan proses belajar-mengajar, kurikulum, dan materi pendidikan.
Dari realitas pendidikan tersebut, K.H. Ahmad Dahlan menawarkan sebuah metode sintesis antara metode pendidikan modern Barat dengan metode pendidikan pesantren. Dari sini tampak bahwa lembaga pendidikan yang didirikan K.H. Ahmad Dahlan berbeda dengan lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat pribumi saat ini. Metode pembelajaran yang dikembangkan K.H. Ahmad Dahlan bercorak kontekstual melalui proses dialogis dan penyadaran. Contoh klasik adalah ketika beliau menjelaskan surat al-Ma’un kepada santri-santrinya secara berulang-ulang sampai santri itu menyadari bahwa surat itu menganjurkan supaya kita memperhatikan dan menolong fakir-miskin, dan harus mengamalkan isinya.
Hal ini karena pelajaran agama tidak cukup hanya dihafalkan atau dipahami secara kognitif, tetapi harus diamalkan sesuai situasi dan kondisi. Adapun perbedaan model belajar yang digunakan antara pendidikan di pesantren dengan pendidikan yang diajarka oleh Ahmad Dahlan adalah sebagai berikut:
a.       Cara belajar-mengajar di pesantren menggunakan sistem Weton dan Sorogal, madrasah yang dibangun Ahmad Dahlan menggunakan sistem masihal seperti sekolah Belanda.
b.      Bahan pelajaran di pesantren mengambil kitab-kitab agama. Sedangkan di madrasah yang dibangun Ahmad Dahlan bahan pelajarannya diambil dari buku-buku umum.
c.       Hubungan antara guru-murid, di pesantren hubungan guru-murid biasanya terkesan otoriter karena para kiai memiliki otoritas ilmu yang dianggap sakral. Sedangkan madrasah yang dibangun Ahmad Dahlan mulai mengembangkan hubungan guru-murid yang akrab.[3]


4.      Pendidik
Muhammadiyah menanamkan keyakinan paham tentang Islam dalam sistem pendidikan dan pengajaran.  Penerapan sistem pendidikan Muhammadiyah ini ternyata membawa hasil yang tidak tenilai harganya bagi kemajuan, bangsa Indonesia pada umumnya dan khususnya umat Islam di Indonesia.
Muhammadiyah, berpendirian, bahwa para guru memegang peranan yang penting di sekolah dalam usaha menghasilkan anak-anak didik seperti yang dicita-citakan Muhammadiyah. Yang penting bagi para guru ialah memahami dan menghayati serta ikut beramal dalam Muhammadiyah. Dengan memahami dan menghayati serta ikut beramal dalam Muhammadiyah, para guru dapat menjalankan fungsinya sesuai dengan apa yang dicita-citakan Muhammadiyah.
5.      Peserta Didik
Muhammadiyah berusaha mengembalikan ajaran islam pada sumbernya yaitu Al-Qur’an dan Hadis. Muhammadiyah bertujuan meluaskan dan mempertinggi pendidikan agama Islam, sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenarnya. Untuk mencapai tujuan itu, muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia.
Dalam dunia pendidikan dan pengajaran Muhammadiyah telah mengadakan pembaruan pendidikan agama. Modernisasi dalam sistem pendidikan dijalankan dengan menukar sistem pondok pesantren dengan pendidikan modern sesuai dengan tuntutan dan kehendak zaman.Pengajaran agama Islam diberikan di sekolah-sekolah umum baik negeri maupun swasta. Muhammadiyah telah mendirikan sekolah-sekolah baik yang khas agama maupun yang bersifat umum.
Metode baru yang diterapkan oleh sekolah  Muhammadiyah mendorong pemahaman Al-Qur’an dan Hadis secara bebas oleh para pelajar sendiri. Tanya jawab dan pembahasan makna dan ayat tertentu juga dianjurkan dikelas. “Bocah-bocah dimardikaake pikire (anak-anak diberi kebebasan berpikir)”, suatu pernyataan yang dikutip dari seorang pembicara kongres Muhammadiyah tahun 1925, melukiskan suasana baik sekolah-sekolah Muhammadiyah pertama kali (Mailrapport No. 467X/25: 13).[4]
Dengan sistem pendidikan yang dijalankan Muhammadiyah, bangsa Indonesia dididik menjadi bangsa berkeperibadian utuh, tidak terbelah menjadi pribadi yang berilmu umum atau yang berilmu agama saja.
Relevansi pemikiran tokoh KH. Ahmad Dahlan tentang pendidikan terkini berpendapat bahwa kurikulum atau materi pendidikan hendaknya meliputi:
1.      Pendidikan moral, akhlaq yaitu sebagai usaha menanamkan karakter manusia yang baik berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
2.      Pendidikan individu, yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan kesadaran individu yang utuh yang berkesinambungan antara perkembangan mental dan gagasan, antara keyakinan dan intelek serta antara dunia dengan akhirat.
3.      Pendidikan kemasyarakatan yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan kesediaan dan keinginan hidup bermasyarakat.
Uraian di atas merupakan bagian dari konsep Islam tentang manusia. Kaitannya dengan persoalan pendidikan, maka secara ringkas dapat dikatakan bahwa dalam proses pendidikan haruslah mampu menghasilkan lulusan yang:
1.      Memiliki kepribadian yang utuh, seimbang antara aspek jasmani dan ruhaninya, pengetahuan umum dan pengetahuan agamanya, duniawi dan ukhrawinya.
2.      Memiliki jiwa sosial yang penuh dedikasi.
3.      Bermoral yang bersumber pada al-Qur’an dan sunnah.
Sebagaimana pelaksanaan pendidikan menurut KH. Ahmad Dahlan hendaknya didasarkan pada landasan yang kokoh. Landasan ini merupakan kerangka filosofis bagi merumuskan konsep dan tujuan ideal pendidikan Islam, baik secara vertikal (khaliq) maupun horizontal (makhluk). Dalam pandangan Islam, paling tidak ada dua sisi tugas penciptaan manusia, yaitu sebagai ‘abdAllah dan khalifah fil-ardh




BAB III

PENUTUP

Dari pembahasan di atas, pemakalah dapat menyimpulkan bahwasanya K.H. Ahmad Dahlan adalah merupakan tokoh pendidikan yang sangat besar jasanya bagi dunia pendidikan di Indonesia ini.
Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammad Darwis) lahir di Kauman, Yogyakarta, 1 Agustus 1868, Sebelum mendirikan organisasi Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan mempelajari perubahan-perubahan yang terjadi di Mesir, Arab, dan India, untuk kemudian berusaha menerapkannya di Indonesia. Ahmad Dahlan juga sering mengadakan pengajian agama di langgar atau mushola. Pada tahun 1912 beliau.
Ide-ide yang di kemukakan K.H.Ahmad Dahlan telah membawa pembaruan dalam bidang pembentukan lembaga pendidikan Islam yang semula bersistem pesantren menjadi sistem klasikal, dimana dalam pendidikan klasikal tersebut dimasukkan pelajaran umum kedalam pendidikan madrasah. Meskipun demikian, K.H. Ahmad Dahlan tetap mendahulukan pendidikan moral atau ahlak, pendidikan individu dan pendidikan kemasyarakatan.

Demikian pembuatan makalah ini kritik dan saran dari teman-teman sangat mendudkung untuk perbaikan makalah ini, mohon maap jika banyak terdapat kesalahan.








DAFTAR PUSTAKA


Muhammad Soedja, Cerita  tentang kyiai haji Ahmad Dahlan, Jakarta: Rhineka Cipta, 1993.
Syamsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Pers,2002.
Weinata Sairin, Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah.




MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...