Selasa, 30 Oktober 2018

MAKALAH METODELOGI STUDI ISLAM

MAKALAH METODELOGI STUDI ISLAM
“Pendekatan Teologis Normatif dalam Studi Islam”

BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Agama Islam adalah agama yang sempurna.Kehadiran agama dituntut untuk terlibat aktif dalam memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi manusia. Tuntutan tersebut dapat dijawab dengan mudah oleh seorang muslim tatkala ia memahami agamanya sendiri.
Agama tidak boleh hanya menjadi lambang kesalehan atau disampaikan ketika kotbah, melainkan secara konsepsional menunjukkan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan masalah.Agama merupakan ujung tombak dari suatu kehidupan.
Tuntunan terhadap agama yang demikian itu dapat dijawab manakala pemahaman agama yang selama ini banyak mengunakan pendekatan.Berbagai pendekatan meliuti pendekatan teologis normatif, Antropoligis, sosiologi, psikologi, histori, kebudayaan, dan pendekatan fisiologis.Mengenai pendekatan yang pertama adalah teologis normatif untuk itu tema pokok yang kami angakat yaitu pendekatan teologis normatif.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat diketahui rumusan masalahnya yaitu:
a. Apa pengertian teologis?
b. Apa saja ciri-ciri yang melekat?
c. Apa saja kelebihan dan kekurangan?
d.      Bagaimana pengembangan yang diharapkan?

C.    Tujuan
Dari rumusan masalah diatas dapat diketahui tujuan penulisan masalahnya yaitu:
a. Untuk mengetahui pengertian teologis
b. Untuk mengetahui ciri-ciri yang melekat
c. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan
d. Untuk mengetahui pengembangan yang diharapkan

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Teologis
Secara etomologis, kata teologi diartikan ilmu agama, ilmu tentang Tuhan berkaitan dengan sifat-sifatnya, khususnya berkaitan dengan kitab suci.Sedangkan dalam arti istilah teologi adalah ilmu yang membicarakan tentang masalah ketuhanan, sifat-sifat wajibNya, sifat-sifat mustahilNya dan hal-hal lain yang berhubungan dengan pembuatanya.Dengan demikian teologi adalah istilah ilmu agama yang membahas ajaran ajaran dasar dari suatu agama atau suatu keyakinan yang tertanam dihati sanubari. Setiap orang yang ingin memahami seluk beluk agamanya, maka perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang diyakininya.
Adapun kata normatif berasal dari bahasa Ingris norm yang berarti norma, ajaran, acuan, ketentuan tentang masalah yang baik dan buruk yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Sedangkan istilah normatif adalah prinsip-prinsip atau pedoman pedoman yang menjadi petunjuk manusia pada umumnya untuk hidup bermasyarakat. Adapun yang diamaksud pendekatan disini adalah cara pandang atau paradikma dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan untuk memahami agama.
Pendekatan teologis normatif dalam memahami agama secara harfiah dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu Ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan yang lainnya.Amin Abdullah mengatakan, bahwa teologi, sebagaimana kita ketahui, tidak bisa tidak pasti mengacu pada agama tertentu.Loyalitas terhadap kelompok sendiri, komitmen, dan dedikasi yang tinggi serta penggunaan bahasa yang subjektif, yakni bahasa sebagai pelaku, bukan sebagai pengamat adalah merupaka ciri yang melekat pada bentuk pemikiran teologis. Karena sifat dasarnya yang pertikular, maka dengan mudah kita dapat menemukan  teologi Kristen-Katolik, teologi Kristen-Protestan dan lain sebagainya .
Jika diteliti lebih mendalam, dalam intern umat beragama tertentu dijumpai berbagai paham atau sekte keagamaan. Menurut informasi yang diberikan The Encyclopaedia ofAmerican Religion, di Amerika terdapat 1200 sekte keagamaan satu diantaranya adalah sekte Davidian yang pada bulan April 1993 pemmpin sekte bersama 80 orang pengikut fanatiknya melakukan bunuh diri  masal setelah berselisih dengan pemmerintahan Amerika Serikat. Dalam Islam sendiri, secara tradisional, dapat dijumpai teologi Mu’tazilah, teologi Asy’ariyah, dan Maturidiyah.Dan sebelumnya terdapat pula teologi yang bernama Khawarij dan Murji’ah. Menurut pengamatan Sayyed Hosein Nasr, dalam era komtemporer ini ada 4 prototipe pemikiran keagamaan Islam, yaitu pemikiran keagamaan fundamentalis, modernis, mesianis, dan tradisionalis. Keempat prototipe pemikiran keagamaan tersebut sudah barang tentu tidak mudah disatukan dengan begitu saja.Masing-masing mempunyai “keyakinan” teologi yang seringkali sulit untuk didamaikan.Mungkin kurang tepat menggunakan istilah “teologi” di sini, tapi menunjuk pada gagasan pemikiran keagamaan yang terinspirasi oleh paham ketuhanan dan pemahaman kitab suci serta penafsiran ajaran agama tertentu adalah juga bentuk dari pemikiran teologi dalam bentuk dan wajah yang baru.
Dari pemikiran tersebut, dapat diketahui bahwa pendekatan teologi dalam pemahaman kagamaan adalah pendekatan yang menekankan pada bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan yang masing-masing bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan tersebut mengklaim dirinya sebagai yang paling benar sedangkan yang lainnya sebagai salah. Aliran teologi yang satu begitu yakin dan fanatik bahwa pahamnyalah yang benar sedangkan paham lainnya salah, sehingga memandang paham orang lain itu keliru, sesat, kafir, murtad dan seterusnya. Demikian pula paham yang dituduh keliru, sesat, dan kafir itu pun menuduh bahwa lawannya sebagai yang sesat dan kafir .

B.     Ciri-ciri yang Melekat
Sebagai sebuah bentuk pendekatan, Pendekatan teologis normatif  mempunyai ciri- ciri yang malekat, yakni:
1. Loyalitas terhadap diri sendiri
Yang dimaksud loyalitas terhadap diri sendiri adalah bahwa kebenaran keagaaman dimaknai dengan kebenaran sebagaimana dipahami oleh dirinya sendiri. Kebenaran sebagaimana diyakni oleh seseorang merupakan kebenaran yang tidak bisa lagi di ungkit-ungkit dan konsekuensinya kebenaran yang ditunjukkan orang lain dianggap kurang benar atau salah sama sekali.
2. Komitmen
Pendekatan teologis normatif menghasilkan orang-orang yang berkomitment tinggi terhadap kepercayaan. Seseorang yang telah meyakini kebenaran yang diyakini siap “berjuang” mempertahankan keyakinannya itu, siap berkorban, siap menghadapi tantangan dari pihak-pihak lain yang mencoba menyerang kebenaran  yang telah mereka yakini secara mutlak.

3. Dedikasi
Hasil dari loyalitas dan komitmen yang tinggi tersebut akan menghasilkan dedikasi yang tinggi dari penganut agama sesuai dengan kebenaran yang diyakini. Dedikasi itu diwujudkan dalam bentuk ketaatan terhadap ritual keagamaan, antusiasme menjalankan keyakinan dan menyebarkannya, kerelaan untuk berkorban demi pengembangan keyakinannya dan sebagainya .
4. Bersifat subyektif
Penggunaan bahasa yang bersifat subyektif, yakni bahasa sebagai pelaku bukan sebagai pengamat.
Secara umum, pendekatan teologis normatif menggunakan cara berpikir deduktif yaitu cara berpikir yang berawal dari keyakinan yang diyakini benar dan mutlak adanya, karena ajaran yang berasal dari tuhan sudah pasti benar, sehingga tidak perlu dipertanyakan lebih dahulu melainkan dimulai dari keyakinan yang selanjutnya diperkuat dengan dalil- dalil dan argumentasi.

C.    Kekurangan dan Kelebihan
Sebagai sebuah metode, pendekatan teologis normative tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan, yaitu:
1. Kelebihan
Seseorang akan memilii sikap militansi dalam beragama, yakni berpegang teguh terhadap agama yang diyakininya sebagai yang benar, tanpa memandang dan meremehkan agama yan lain. Dengan pendekatan yang demikian seseorang akan memiliki sikap fanatis terhadap agama yang dianutnya.
2. Kekurangan
a. Bersifat eksklusif
Ketika seseorang meyakini sesuatu dengan kebenaran yang mutlak dan meyakini orang lain salah, maka ia akan menjadi pribadi yang tertutup, tidak mau menerima pendapat dan pemahaman orang lain, dan seterusnya. Dengan demikian, orang-orang yang memahami Islam dengan pendekatan teologis normatif akan “menutup” dirinya dari kebenaran yang dibawa orang lain. Namun demikian jika sikap ekskusif itu hanya berkaitan dengan masalah ke-tauhidan, maka hal itu bukan lagi menjadi suatu kekurangan.
b. Dogmatis
Pengertian dogma adalah pokok ajaran yang harus diterima sebagai hal yang baik dan benar, tidak perlu dipertanyakan lagi, tidak boleh dibantah dan diragukan.Orang-orang yang memahami Islam dengan pendekatan teologis normatif cenderung menganggap ajarannya sebagai ajaran yang tidak boleh dipertanyakan lagi kebenarannya, tidak boleh dikritisi dan dipertanyakan lagi.
c. Tidak mengakui kebenaran orang lain
Pendekatan teologis normatif menghasilkan orang-orang yang tidak mengakui kebenaran orang lain, karena menurut mereka yang mereka yakini adalah benar dan yang tidak sama dengan yang mereka yakini adalah salah .
Dengan memperhatikan uraian tersebut, terlihat bahwa pendekatan teologi dalam memahami agama cenderung bersikap tertutup, tidak ada dialog, parsial, saling menyalahkan, saling mengkafirkan, yang pada akhirnya terjadi perkotakan-perkotakan umat, tidak ada kerjasama dan tidak terlihat adanya kepedulian sosial. Dengan pendekatan demikian, agama cenderung hanya merupakan keyakinan dan pembentuk sikap keras dan tampak asosial.Melalui pendekatan teologi ini agama menjadi buta terhadap masalah-masalah sosial dan cenderung menjadi lambang atau identitas yang tidak memiliki makna.
Uraian diatas bukan berarti kita tidak memerlukan pendekatan teologi dalam memahami agama, karena tanpa adanya pendekatan teologi, keagamaan seseorang akan mudah cair dan tidak jelas identitas dan pelembagaannya. Proses pelembagaan perilaku keagamaan melalui mazhab-mazhab sebagaimana halnya yang terdapat dalam teologi jelas diperlukan. Antara lain berfungsi untuk mengawetkan ajaran agama dan juga berfungsi sebagai pembentukan karakter pemeluknya dalam rangka membangun masyarakat ideal menurut pesan dasar agama.

D.    Pengembangan yang diharapkan
Amin Abdullah mengatakan bahwa pendekatan teologi semata-mata tidak dapat memecahkan masalah esensial pluralitas agama saat sekarang ini.Terlebih lagi kenyataan demikian harus ditambahkan bahwa doktrin teologi, pada dasarnya memang tidak pernah berdiri sendiri, terlepas dari jaringan institusi atau kelembagaan sosial kemasyarakatan yang mendukung keberadaannya.Bercampur aduknya doktrin teologi dengan historisitas institusi sosial kemasyarakatan yang menyertai dan mendukungnnya menambah peliknya persoalan yang dihadapi umat beragama.Tapi, justru keterlibatan institusi dan pranata sosial kemasyarakatan dalam wilayah keberagamaan manusia itulah yang kemudian menjadi bahan subur bagi peneliti agama. Dari situ, kemudian muncul terobosan baru untuk melihat pemikiran teologi yang termanifestasikan dalam “budaya” tertentu secara lebih objektif lewat pengamatan empirik faktual, serta pranata-prana sosial kemasyarakatan yang mendukung keberadaannya .
Berkenaan dengan hal diatas, saat ini muncul apa yang disebut dengan istilah teologi masa kritis, yaitu suatu usaha manusia untuk memahami penghayatan imannya atau penghayatan agamanya, suatu penafsiran atas sumber-sumber aslinya dan tradisinya dalam konteks permasalahan masa kini, yaitu teologi yang bergerak antara dua kutub: teks dan situasi; masa lampau dan masa kini. Hal demikian mesti ada dalam setiap agama meskipun dalam bentuk dan fungsinya yang berbeda-beda.
Salah satu ciri dari teologi masa kini adalah sifat kritisnya.Sikap kritis ini ditujukan pertama-tama pada agamanya sendiri (agama sebagai institusi sosial dan kemudian juga kepada situasi yang dihadapinya). Teologi sebagai kritik agama berarti antara lain mengungkapkan berbagai kecenderungan dalam institusi agama yang menghambat panggilannya; menyelamatkan manusia dan kemanusiaan.
Teologi kritis bersikap kritis pula terhadap lingkungannya.Hal ini hanya terjadi kalau agama terbuka juga terhadap ilmu-ilmu sosial dan memanfaatkan ilmu tersebut bagi pengembangan teologinya.Teologi ini bukan hanya berhenti pada pemahaman mengenai ajaran agama, tetapi mendorong terjadinya transformasi sosial.Maka beberapa kalangan menyebut teologi kepedulian sosial itu sebagai teologi transformatife .









BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pendekatan teologis dalam memahami agama menggunakan cara berfikir deduktif, yaitu cara berfikir yang berawal dari keyakinan yang diyakini benar dan mutlak adanya, karena ajaran yang berasal dari Tuhan, sudah pasti benar, sehingga tidak perlu dipertanyakan lebih dahulu melainkan dimulai dari keyakinan yang selanjutnya diperkuat dengan dalil-dalil dan argumentasi. Namun pendekatan teologis ini menunjukkan adanya kekurangan antara lain berfiat eksklusif, dogmatis, tidak mau mengakui kebenaran agama lain, dan sebagainya. Kekurangan ini dapat diatasi dengan cara melengkapinya dengan pendekatan sosiologis.
Pendekatan teologis ini selanjutnya erat kaitannya dengan pendekatan normatif, yaitu suatu pendekatan yang memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari Tuhan yang di dalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia.Dalam pendekatan teologis ini agama dilihat sebagai suatu kebenaran mutlak dari Tuhan, tidak ada kekurangan sedikitpun dan tampak bersikap ideal.Dalam kaitan ini agama tampil sangat prima dengan seperangkat cirinya yang khas.Untuk agama Islam misalnya, secara normatif pasti benar, menjunjung nilai-nilai luhur.

B.     Saran
Dengan adanya makalah ini diharapkan bisa menjadi referensi tambahan bagi kalangan mahasiswa untuk mendapatkan wawasan dan ilmu pengetahuan. Dan kami sebagai penulis makalah ini mengharapkan saran dan kritik dari pembaca agar kedepannya kami bisa memperbaiki pembuatan makalah kami selanjutnya.



DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata. Cet ke 18. 2011. Metodologo Studi Islam. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Abdullah,Amin. 1997. Studi Agama. Yogyakarta: Pustaka Belajar.



MAKALAH GLOBALISASI DAN MODERNISASI

MAKALAH GLOBALISASIDANMODERNISASI

BAB I
PENDDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Globalisasi adalah sebuah term yang telah lama mewacana. Hingga kini, konsep globalisasi masih terus menjadi materi perbincangan di kalangan ilmuwan dari varian disiplin keilmuan. Ia adalah sebuah entri baru dalam leksikon. Ia merupakan sebuah istilah teknis yang sering digunakan dalam konferensi dan perbincangan intelektual masa kini. Kendati demikian, proses globalisasi itu sendiri telah memosisikan diri sejak permulaan sejarah umat manusia, kendati berjalan lambat. Satu hal yang menjadikannya terlihat baru hanyalah karena cepatnya perubahan yang terjadi sebagai imbas dari perkembangan teknologi.
Penemuan demi penemuan yang terjadi di bidang ipteek mengakibatkan bertumbuh kaembangnya dibidang-bidang tertentu misalnya di bidang indutri dan ekonomi. Penemuan serta pengembangan yang terjadi sperti yang dikemukan diatas berdampak pada perubahan cara hidup manusia secara cepa. Dari cara hidup yang lama yang masih kuno dan tidak maju menjadi cara hidup yang baru dan maju yang dinamakan modern. Dan kalau dicermati dengan adanya kehidupan modern semakin menjauhkan manusia dari nilai-nilai agama dan budaya. Maka dengan itu makalah ini megupas bagaimana respon umat islam terhadap modernisasi dan globalisasi. Hal ini menjadi penting karena menurut saya modernisasi dan globalisasi bukan lagi sebagai wacana tetapi sudah dideppan mata dan bersatu dengan kehidupan kita sehari-hari.   
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokusnya kajian makalah ini. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut:
1.      Apa pengertian globalisasi dan modernisasi?
2.       Bagaimana reaksi pemikiran islam terhadap globalisasi ?
C.     TUJUAN
1.      Untuk mengetahui pengertian globalisasi dan pembaharuan
2.      Mengetahui bagaimana reaksi islam terhadap globalisasi

BAB II
PEMBAHASAN
A.    GLOBALISASI
1.      PENGERTIAN GLOBALISASI
Dalam Kamus Ilmiah Populer Globalisasi adalah perubahan secara menyeluruh disegala asek kehidupan. Dalam mendefinisikan globalisasi, para teoritisi umumnya melihat globalisasi sebagai penyebaran ekonomi pasar ke seluruh kawasan dunia yang berbeda-beda.
Kata globalisasi sendiri berasal dari kata global atau globe.Globe berarti bumi, bumi yang menjadi tempat hunian manusia dan kata globa ldiidentikkan dengan kata internasional, yaitu hubungan antar bangsa atau antar negara. Kemudian ada yang mengungkapkan bahwa globalisasi berarti arah perkembangan atau kecenderungan untuk menyatukan serta hubungan hidup bangsa-bangsa di dunia dalam berbagai bidang kehidupan, dengan didukung oleh sarana prasarana tertentu, terutama kemajuan teknologi informasi, komunikasi, transportasi bahkan ideologi.
Istilah globalisasi sering diartikan berbeda dengan yang lainnya, sehingga disini kita perlu penegasan ada perbedaan waktu dan wilayah, persis seperti yang bisa disaksikan oleh orang-orang ditempat kejadian. Kita dapat berbicara lewat tulisan melalui internet, yang  berarti tidak ada sensor dari tangan siapapun. Dengan alat canggih tersebut, kegelamoran dan kebebebasan berlebihan yang terjadi di Hollywod detik ini kita dapat saksikan di sini detik ini pula, jika kejadian tersebut disiarkan langsung melalui satelit. Yang saya ingin kemukakan bahwa globalisasi ini berrarti terjadi pertemuan dan gesekan nilai-nilai budaya dan agama di seluruh dunia yang memanfaatkan jasa komunikasi, dan informasi hasil moderniasasi teknologi.  Pertemuan dan gesekan ini akan menghasilkan kompetisi liar yang saling dipengaruhi dan mempengaruhi, saling bertentangan dan bertabrakan nilai-nilai yang berbeda yang akan menghasilkan kaliah atau menang atau kerjasama yang mengahasilkan sintera dan analisa baru. (Qodri Azizy: 2003).
Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama. Theodore Levitte merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985. Jan Aart Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:
ü  Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.
ü  Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.
ü  Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.
ü  Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.
ü  Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing-masing negara masih mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global memiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.
2.      GLOBALISASI SEBAGAI ANCAMAN
Kita hidup di era globalisasi ini memiliki banyak resiko yang tidak pernah di jumpai pada masa sebelumnya. Resiko tersebut mempengaruhi kita, dan tidak jadi soal dimana kita hidup dan tidak peduli bagaimana kedudukan kita. Paket perubahan dengan globalsasi dan bentuk resiko dan ketidak pastian dalam perekonomian elektonik global yang sendiri baru berkembang akhir-akhir ini. Dalam kaitanya ilmu pemngetahuan resiko sangat terkait denangan penemuan inovasi baru. Resiko tersebut tidak dieliminisir tetapi bagaimana kita menghadapi dan keberanian dalam melakukan segala sesuatu. (Anthony Giddens:2004).
Globalisasi sebagai ancaman dengan meyebarnya alat komunikasi, kita dapat mengakses dan melihat gambar-gambar jorok. Dengan melihat pruduk iklan menjadikan menjadikan masyarakat berbudaya konsumtif dengan gaya hidup seperti apa yang ada pada sinetron atau bahkan senang dengan gaya hidup global. Dengan melihat adegan kekerasan menjadikan sifat dan mental anak kecil meniru kekerasan. Sedangkan bagi faham kebebasan menjadikan anak ABG mendefinisikan kebebesan sama dengan kebebasan pada dunia sekuler, sehingga disini nilai agama, norma dan budaya local terancam olehnya. Kebebasan tersebut adalah kebebasan yang menjurus pada kepuasan lahiriah (pleasure), egoisme, dan hedonisme. (Qodri Azizy: 2003).
3.      TANTANGAN TERHADAP GLOBALISASI
Begitu dasyatnya arus globalisasi maka muncullah berbagai program dalam rangka menghadapinya. Salah satu yang menarik adalah seperti yang dicetuskan oleh kelompok sosial democrat yang telah berkonggres di Paris 1999, yang mengeluarkan Deklarasi Paris. Program tersebut adalah:
1)      Program melawan kemiskinan. Globalisasi yang menyebabkan banyak Negara semakin miskin dan rendahnya kulitas sumber daya manusia, serta sumber daya alam. Negara tersebut perlu dibantu dalam rangka mengentaskan kemiskinan dan masalah kemiskinan tersebut menjadi tanggung jawab masyarakat internasional.
2)      Memperjuangkan dan melaksanakan hak asasi manusia.  Globalisasi telah menginjak hak asasi manusia dengan alasan dalam perubahan sosial dan ekonomi semata-mata adalah profit. Oleh sebab itu hak asasi manusia haruslah menjadi agenda internasional untuk menjadi benteng arus globalisasi yang bersifat dehumanisasi.
3)      Menciptakan dan memelihara tatana dunia yang aman dan tenram. Kini yang menjadi kewajiban masyarakat adalah bagaimana menciptakan agar dunia menjadi makmur dan kemakmuran tersebut dilaksanakan dengan kerjasama internasional.
4)      Perlunya tatanan perekonomian dan keuangan yang baru. Lembaga perekonomian dunia perlu dibenahi kembali untuk menciptakan tatanan yang sesuai dengan tuntutan hidup internasional yang baru.
5)      Melindungi dan memelihara pelanet bumi sebagai tempat satu-satunya kehidupan bersama untuk manusia. Disini menjadikan tugas dan tanggung jawab kita bersama dalam menjaga kelestarian dan keseimbangan ekosistem.
4.      RESPON ISLAM TERHADAP GLOBALISASI
Dalam menghadapi arus globalisasi ini mejadaikan kita harus bersikap kritis dan penuh hati-hati. Menurut Qodri Azizy masyarakat Islam dalam menilai globalisasi tersebut terbagi menjadi tiga farian besar:
1)      Sikap dari golongan kaum Muslimin yang anti barat dan anti modernisme.
2)      Kelompok yang terpengaruh oleh modernisasi dan sekulerisasi, kelompok tersebut menjadikan pemisahan antara agama dan politik atau maslah keduniaan lainnya. Kelompok ini menjadikan barat sebagai kiblat dan role mode masa depan atau bahkan menjadikan barat menjadi way  of life.
3)      Kelompok yang bersikap kritis dan dan secara otomatis tidak bersikap anti terhadap barat dan modernisasi. Kelompok tersebut menerima dari barat degan menggunakan penyarinan dan melakukan pembenahan apabila tidak sesuai dengan prinsip mereka. Kelompok ketiga ini melakukan kerjasama dengan barat dan menunjukan identitasnya. (Qodri Azizy: 2003).
Akibat yang ditimbullkan oleh globalisasi tersebut menyebabkan kemiskinan dan bentuk dehumaniasi yang meluas. Maka respon umat Islam terhadap kemiskinan sesuai dengan perkembangan kapitalisme global terbagi menjadi empat paradigma umat Islam:
1)      Paradigama tradisionalisme tentang kapitalisme global. Pemikiran tradisionaliusme ini tentang kapitalisme global yang menyebabkan kemiskinan adalah merupakan hakekat dan rencana Tuhan. Manusia tidak mengetahui sekenario besar dari Tuhan dari perjalanan umat manusia. Masalah kemiskinan dan marginalisasi tidak ada kaitannya dengan globalisasi dan neolibralisme.
2)      Paradigma modernis terhadap kapaitalisme libral. Paradigma kaum modernis menilai tentang kemiskinan berakar pada persoalan karena ada sikap mental atau budaya ataupun teologi mereka. Kemiskinan tidak ada sangkut pautnya dengan globalisasi dan kapitalisme. Jika kita perlu maka kita perlu menyiapkan umat Islam untuk bersaing dalam globalisasi.
3)      Paradigma revivalis terhadap kapitalisme global. Mereka melihat kenapa umat Islam mundur merupkan akibat dari banyaknya umat Islam memakai ideology lain sebagai pijakan dasar dari pada al Quran. Sedangkan dalam al Quran menyeduikan petunjuk yang komplet sebagai fondasi bermasyarakat dan Negara. Globalisasi dan kapitalisme bagi mereka salah satu agenda barat dan konsep non Islami yang di paksakan untuk masyarat muslim.
4)      Paradigma Tranformatif terhadap Kapitalisme global. Mereka percaya bahwa yang menyebabkan kemiskinan rakyat, disebabkan oleh ketidak adilan system, ekonomi, politik, dan kultur yang tidak adil. Sedangkan globalisasi adalah merupakan proyek kapitalisme yang lain bagi golongan ini menjadikan sebab kemiskinan, marginalisasi, dan mengalineasi masyarakat. Bagai mereka  globalisasi dan kapitalisme merupakan ancaman bagi orang-orang miskin. Karena globalisasi untuk kepentingan dan akumulasi berbagai capital besar untuk menghancurkan lingkungan hidup, segenap budaya sosial yang mana kehidupan masyarakat bergantung. (Mansuor Fakih: 2002).
Sebagaimana dalam ajaran Islam lebih menekankan keseimbangan antara dunia dan akherat. Dari ajaran tersebut menjadikan kita mampu mendialogkan antara kepentingan dunia dan akherat. Nilai Islam menjadikan landasan, dasar motifasi dan inspirasi kebaikan dan kemajuan dunia. (Qodri Azizy: 2003).
B.     MODERNISASI
1.      PENGERTIAN MODERNISASI
kata modern yang dikenal dalam bahasa indonesia jelas ukan istilah yang yang sebenarnya  melainkan di ekspor atau di ambli dari bahsa asing ( modernnization) yang berarti “terbaru” atau “mutakhir” . menunjuk pada priaku yang tertentu ( baru ) akan tetapi dalam pengertian yang luas modernisasi salalu saja dikaitkan dengan perubahan dalam semua aspek kawasan pemikiran dan aktifitas manusia.
Dalam masyarakat barat kata modernisasi mengandung atri fikiran, aliran, gerakan, dan usaha mengubah paham-paham, adat-istiadat, isntitusi-institusi lama dan sebagainya agar semuanya itu dapat disesuaikan dengan pendapat-pendapatdan keadaan-keadaan baru yang di timbulkan ilmu modern. Dikalangan sarjana muslim sperti Prof.Dr.Harun Nasution yang berpendapat bahwa modernisasi adalah mencakup fikiran, aliran, grakan dan usaha untuk merubah paham-paham, adat-istiadat, institusi-institusi lama dan sebagainya untuk disesuaikan dengan sasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Modernisasi sering dilawankan fundamentalis (berarti “dasar”) yaitu gerakan dalam agama Krtisten Protestan yang menekankan kebenaran Bible bukan hanya dalam masyarakat kepercayaan dan moral saja, tetapi juga sebagai catatan sejarah tertulis kenabian.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern memasuki dunia islam, terutama sesudah pembukaan abad ke-19 M, yang dalam sejarah islam dipandang sebagai permulaan periode modern. Kontak dengan Dunia Barat selanjutnya membawa ide-ide baru ke dunia islam seperti rasionalisme, nasionalisme, demokrasi, dsb. Semua ini menimbulkan persoalan-persoalan baru dan pemimpin-pemimpin islam pun mulai memikirkan cara mengatasi persoalan-persoalan baru itu.
Konsep pembaharuan ( modernisasi )telah ada dalam al-Quran seperti dalam surat adh-Duha ayat 4: “Sesungguhnya yang kemudian itu lebih baik bagi kamu dari yang dahulu”.
Kemudian lebih tegas Hadist Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oeh Abu Daud dan Hakim, dari Abu Hurairah sebagai berikut: “Sesungguhnya Allah yang Maha Kuasa dan Maha Bijksana akan membangkitkan mujaddin-mujaddin bagi umat (islam) pada setiap seratus tahun yang akan memperbaharui (jiwa dan semangat) agama mereka.”
Pembaharuan ( modernisasi ) yang dianjurkan dalam islam bukanlah westernisasi dalam arti pembaratan dalam cara pikir, bertingkah laku yang bertentangan dengan ajaran islam, akan tetapi pemikiran terhadap agama yang harus diperbaharui dan direformir, pemikiran modern yang menimbulkan reformir dalam agama, dan hal ini tidaklah mungkin timbul dari pola berpikir yang sempit. Penambahan ilmu pengetahuan, memperluas pandangan terhadap keseluruhan soal kehidupan dapat melapangkan pikiran dan pemelihara keortodoksian agama.
Para ahli memiliki peendapat yang beragam tentang modernisasi namun secara garis besar modernisasi adalah perubahan dari pola lama ke pola baru dalam tatanan hidup manusia guna mendapatkan suatu kehidupan yang lebih baik.
2.      MUNCULNYA MODERNISASI DALAM ISLAM
Pemikiran pembaharuan atau modernisasi dalam islam timbul terutama sebagai hasil kontak yang terjadi antara dunia silam dan barat. Dengan adanya kotak itu, umat islam abad ke XIX sadar, bahwa mereka telah mengalami kemuduran diperbandingkan dengan barat.
Sebelum periode modern, kontak antara dunia islam dengan barat sebenarnya sudah ada terlebih pda saat kerajaan turki usmani yang mempu yai daerah kekuasaan didaerah erpoa dengan beberapa negara barat, kerajaan turki usmani mulai memasuki masa kemunduran . oleh karena itu usaha pembaharuan dipusatkan dalam lapangan militer kerajaan tutki usmani. Bantuan para ahli dari barat pun didatangkan sperti de rochfort,  dari francis. Yang terakhir ini masuk islam dengan nama humbaraci pasya
Pembaharuan yang di usahakan pemuka-pemuka turki usmani pada abad XIX dan inilah yang embawa kepada perubahan besar di turki seorang terpelajar islam memberkan gambaran pada abad itu dan mengatakan betapa terbelakangnya umat islam ketika it. Terlebih ketika dinegeriislam lain yaitu mesir kekuatannya dapat dengn cepat dipatahkann oleh napoleon bonaparte panglima perang dari francis.
Upaya-upaya modrenisasi ( pembaharuan ) sebenarnya terus menrus dilakukan didunia islam namun dilakukan secara individual bukan secara institutional spert yang dilakukan oleh jamaludin al-afgon, muhammad abduh, fajrul rahman, dan lain-lain.
3.      PERUBAHAN KEHIDUPAN MASYARAKAT ISLAM INDONESIA AKIBAT MODERNISASI
Dari masa kemasa kehidupan masyarakat pasti akan mengalami perubahan baik itu proses perubahannya secara cepat ataupun secara lambat, direncanakan atau tidak. Perubahan sosial pada intinya adalah faktor dinamika manusianya yang kreatif yang anggota masyarakatnya bersikap terbuka, secara kreatif menciptakan kondisi perubahan terutama dalam bidang ekonomi dan pol hidup sehari-hari didalam proses perubahan terkadang diselingi konflik, konflik yang terjadi di kehidupan masyarakat. Kemudian didalam era modern, syarat umum modernisasi dalam kehidupan masyarakat meliputi : cara berfifkir yang ilmiah, sistem analisa data atau fakta yang metodik, sistem administrasi yang efisien, ada iklim yang mendukung perubahan baru, disiplin yang tinggi pada waktu dan aturan main, inovasi dan modifikasi dalam segala bidang.
a)      Perubahan masyarakat Islam Indonesia yang positif
1)      Ilmu pengetahuan dalam kehidupan masyarakat semakin mendukung perkembangan dunia Islam. Masyarakat Islam tidak hanya mengetahui ilmu agam tetapi juga mengetahui ilmu umum
2)      Dengan adanya modernisasi umat Islam mampu mengaplikasikan ajaran Islam dala konsep ilmu umum.
3)      Dengan adanya teknologi sebagai salah satu produk modernisasi, masyarakat islam Indonesia bisa dengan mudah memperluas dakwahnya lewat media dan juga memperluas jaringannya.
b)      Perubahan masyarakat Islam Indonesia yang negatif
1)      Moralitas semakin menurun
2)      Ketergantungan terhadap teknologi
3)      Lebih mengutamakan duniawi dari pda ukhrowi
4)      Hubungan silaturrahni secar face to face manurun

C.     PERAN AGAMA DI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT ISLAM
Agama, terlahir awalnya adalah berasal dari keyakinan terhadap adanya yang ghaib, yang mempunyai kekuatan supranatural. Kata agama, berasal dari bahasa sansekerta ”a” yang berarti ”tidak” dan ”gama” yang berarti ”kacau”. Dari dua kata tersebu diartikan bahwa agama adalah suatu peraturan yang mengatur kehidupan manusia agar tidak kacau. Fungsi agama adalah sebagai landasan dimana individu itu bertindak atau melakukan sesuatu dalam kehidupannya. Selain daripada fungsi agama sebagai landasan dalam tindakan individu agama juga sebagai pengendali di dalam langkah kehidupan masyarakat, selain itu agama sebagai pemersatu umat manusia karena adanya persamaan keyakinan.
Peran agama di dalam perkembangan masyarakat (1) agama sebagia motivtor, agama di sini adalah sebagai penyemangat seseorang maupun kelompok dalam mencapai cita-citanya di dalam seluruh aspek kehidupan. (2) agama sebagai creator dan inovator, mendorong semangat untuk bekerja kreatif dan produktif untuk membangun kehidupan dunia yang lebih baik dan kehidupan akhirat yang lebih baik pula. (3) agama sebagai integrator, di sini agama sebagai yang mengintegrasikan dan menyerasikan segenap aktivitas manusia, baik sebagai orang-seorang maupun sebagai anggota masyarakat. (4) agama sebagai sublimator, masksudnya adalah agama sebagai mengadukan dan mengkuduskan segala perbuatan manusia. (5) Agama sebagai sumber inspirasi budaya bangsa, khususnya Indonesia.





BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Dalam Kamus Ilmiah Populer Globalisasi adalah perubahan secara menyeluruh disegala asek kehidupan. Kata globalisasi sendiri berasal dari kata global atau globe.Globe berarti bumi, bumi yang menjadi tempat hunian manusia dan kata global diidentikkan dengan kata internasional, yaitu hubungan antar bangsa atau antar negara.
kata modern yang dikenal dalam bahasa indonesia jelas ukan istilah yang yang sebenarnya  melainkan di ekspor atau di ambli dari bahsa asing ( modernnization) yang berarti “terbaru” atau “mutakhir” . menunjuk pada priaku yang tertentu ( baru ) akan tetapi dalam pengertian yang luas modernisasi salalu saja dikaitkan dengan perubahan dalam semua aspek kawasan pemikiran dan aktifitas manusia.
B.     SARAN
Untuk menambah wawasan kami mengharapkan saran dari para pembaca maupun dari Bapak Dosen. Oleh karena itu perlu kiranya baginya memberikan saran tersebut demi kesempurnaan dari makalah ini.





MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...