Selasa, 30 Oktober 2018

MAKALAH Keterampilan Menyimak

Makalah  Keterampilan Menyimak  “Suasana Menyimak”

KATA PENGANTAR

          Puji syukur kami  panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga makalah ini dapat diselesaikan sebagaimana mestinya.
Makalah ini berjudul “Suasana Menyimak” diajukan sebagai salah satu bahan rujukan untuk mengetahui pemahaman mata kuliah Kemahiran Menyimak.Terima kasih kepada segala pihak yang telah mendukung kami dalam menyusun makalah ini. Kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna, akibat dari keterbatasan yang kami miliki sebagai seorang mahasiswa. 
Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami  harapkan demi kesempurnaan karya tulis ini. Besar harapan kami , semoga karya tulis ini dapat bermanfaat.







                                                                                                                        Bengkulu,  2018

Penyusun





DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
B.     Rumusan Masalah
C.     Tujuan
D.    Manfaat
BAB II PEMBAHASAN
A.    Suasana Defensif
a.       Evaluatif
b.      Mengawasi
c.       Strategis
d.      Superior
e.       Netral
f.       Pasti dan tentu
B.     Suasana suportif
a.       Deskripsi
b.      Orientasi
c.       Spontanitas
d.      Empati
e.       Ekualitas
f.       profesionalisme

BAB III PENUTUP
A.    Kesimpilan
B.     Saran





BAB  I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Suasana dalam menyimak diartikan segala sesuatu yang menyertai peristiwa menyimak di luar pembicara, pembicaraan, dan menyimak. Suasana tersebut sangatlah berpengaruh dan menentukan kefektifan menyimak. Beberapa hal yan pantas diperhatikan, yang termasuk kategori situasi dalam proses menyimak, antara lain:
(1) Ruangan: Ruangan atau tempat berlangsungnya peristiwa menyimak harus menunjang. Ruangan yan menunjang adalah ruangan yang memenuhi persyaratan akustik, ventilasi, penerangan, penataan tempat duduk pendengar, tempat pembicara, warna ruangan, luas ruangan dan sebagainya.
(2) Waktu: waktu berlangsungnya peristiwa menyimak harus diperhatikan dan diperhitungkan sebaiknya pada saat yang tepat misalnya pagi-pagi, saat-saat pendengar masih segar, rileks, dan sebagainya.
(3) Tenang: Suasana dan lingkungan yang tenang, jauh dari kebisingan, pemandangan yang tidak mengganggu konsentrasi, suasana yang baik antar kelompok pendengar sangat menunjang keefektifan menyimak.
(4) Peralatan: Peralatan yang digunakan dalam peristiwa menyimak haruslah yang mudah dioperasikan, baik produksi suasananya dan berguna dalam melancarkan kegiatan menyimak.
Peristiwa menyimak yang berlangsung dalam ruangan yang baik, waktu yang tepat, suasana tenteram, nyaman, dan menyenangkan serta dilengkapi dengan peralatan yang fungsional dapat diharapkan hasilnya yang efektif.
B.     Rumusan masalah
1.      Ada berapa macam suasana menyimak ?
2.      Bagaimana cara meningkatkan suasana menyimak dengan baik ?
3.      Terbagi beberapa sifat Suasana Defensif dan Suasana Suportif ?
C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui berapa jenis suasana menyimak
2.      Agar kita mengetahui cara menyimak yang baik dan benar
3.      Untuk memberikan pengetahuan kepada teman-teman

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Suasana Defentif (bertahan)
Suasana-suasana defentif atau bertahan biasanya di manipulasikan dalam pesan-pesan lisan yang mengandung maksud yang bersungguh-sungguh dan tersirat, antara lain pesan-pesan yang bersifat ; evaluatif,  mengawasi, strategis, netral, superior, pasti dan tentu.
a.       evaluatif: ujaran pembicara yang memancing penilaian dari penyimak.
contoh”saya akan menunjukan kepada anda,apakah anda orang yang pintar atau tidak, orang yang sudah mengerti atau belum, orang yang cukup cerdas atau tidak”
b.      mengawasi:ujaran yang membuat si penyimak mengontrol benar/tidaknya ujaran yang disampaikan.
Contohnya, teman-teman saya
ini adalah orang yang cerdas, berpengalaman luas, baik hati,
jujur, tidak mementingkan
kepentingan pribadi, dan mempunyai jiwa kepemimpinan yang tinggi, sehingga sepantasnya anda memilih saya menjadi ketua BEM di universitas ini, karena saya akan berusaha dan pasti bisa memajukan universitas ini”
c.       strategis:ujaran pembicara yang membuat pendengar memasang kuda-kuda/
pertahanan/siasat yg strategis.
Contoh: saudara-saudara sudah
lama saya memikirkan bagaimana caranya agar saudara-saudara semua dapat mengatasi musibah ini dengan cara yang saya lakukan. Sudah tidak ada keraguan lagi cara yang saya lakukan. Oleh sebab itu ikutilah cara yang saya lakukan ini, agar saudara mendapat manfaat dan keuntungan terhindar dari musibah banjir lagi, jangan ragu dan sangsi lagi, yakinlah untuk mengikuti cara saya.
d.      Superior:ujaran pembicara mencerminkan rasa tinggi hati,
merasa lebih unggul dari orang lain dalam segala hal.
Contoh:
kamu harus tau, harus sadar,bahwa kamu tidak ada apa-apanya dibanding aku. Lihat saja aku orang kaya banyak harta sedangkan kamu miskin
tidak punya apa-apa, aku selalu berpakaian mahal dan keren sedangkan baju kamu murah dan jelek, lihat wajahmu yang jelek itu sedangkan wajah saya ganteng luar biasa, terus aku selalu dihormati dan disegani orang sedangkan kamu hina sekali. Apakah kamu tidak sadar akan itu semua? Kau dan aku ini bagai langit dan bumi.

e.       Netral:ujaran pembicara mencirman sifat netral, tidak memihak golongan/pihak tertentu.
Contoh: saudara-saudara saya tidak pernah memperhatikan msalah mereka, karena bagi saya masalah saya sendiri saja sudah cukup jadi tidak perlu lah mengurusi masalah orang lain.

f.       Pasti dan tentu:ujaran pembicara membuat penyimak harus memilih salah satu alasan yang tepat/pasti.
Contoh: kamu harus berikan jawabannya sekarang dengan tegas dan jelas! Kamu pilih aku atau dia? Cepat jawab!

B.     Suasana Menyimak yang bersifat suportif:
Kalau suasana komunikasi defensif  kerap kali di timbulkan oleh pesan-pesan yang mengimplikasikan pengawasan, siasat atau strategi, kenetralan dan kepastian dari pihak pembicara, maka suasana komunikasi suportif atau suasana komunikasi yang bersifat mendukung.
a.      Deskripsi:ujaran pembicara mendeskripsikan lebih banyak & menginginkan pendengar mengetahui lebih banyak.
Contoh: tolong sampaikan kepada saya, kemajuan-kemajuan apalagi yang sudah dicapai sekolah ini: dalam bidang restasi ekskulnya, prestasi belajarnya, sarana-prasarananya, dan bidang ketenagaannya. Saya yakin anda dapat memberikan data-data tersebut, karena anda lebih tahu mengenai hal itu.
b.      Orientasi:ujaran pembicara berorientasi terhadap suatu
permasalahan & meminta
pendengar untuk mengungkapkannya.

Contoh: tadi telah saya kemukakan tentang berbagai kemajuan sekolah ini. Sekarang tolong katakan kepada saya menurut anda masalah apa saja yang ada baik dalam bidang prestasi ekskul, prestasi belajar, sarana-prasarana, dan bidang ketenagaan. Siapa tau masalah
itu bisa dipecahkan bersama,dan yang tidak akan saya usahakan penjelsannya.


c.       Spontanitas :ujaran pembicara bersifat spontanitas/langsung. Hal ini membuat penyimak mudah menangkap isi pembicaraan.
Contoh :
Saudara-saudara dewan guru tadi telah saya kemukakan mengenai kesejahteraan guru.
Sekarang apa yang dapat kita lakukan mengenai kesejahteraan itu, khususnya mengenai kenaikan gaji, pengurangan jam mengajar sesuai kondisi dan keadaan serta masalah pemutusan/perpanjangan kontrak! Mari kita pikirkan bersama hal ini. Karena tanpa dewan guru yang sejahtera mustahil sekolah ini bisa maju.
d.      Empati:ujaran pembicara mencerminkan ketegasan terhadap sesuatu hal.
Contoh : kita tidak mau dihina, dicaci, serta dimaki tanpa alasan yang benar. Kita pasti marah karena ini benar-benar penghinaan besar,dianggap rendah tak bisa apa- apa! Sungguh keji perbuatan mereka itu bukan? Kita tidak mau diperlakukan seperti ini,karena kita makhluk Tuhan yang punya kedudukan sama dihadapanNya.
e.       Ekualitas:ujaran pembicara
mencerminkan persamaan hak antar sesama.
Contoh : saudara-saudara mari kita pikirkan bersama, apa yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan mutu kualitas pendidikan di sekolah kita ini.
f.       Profesionalisme :ujaran pembicara mencerminkan rasa ketepatan dan kejelasan suatu hal.
Contoh : melihat kemunduran prestasi belajarnya, maka cara yang terbaik adalah dengan memberikannya gratis bayaran sekolah! Masalah prestasinya
jangan kawatir lagi, semester
berikutnya pasti belajar dan
prestasinya akan kembali meningkat.






BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kegiatan menyimak  merupakan kegiatan yang cukup kompleks karena sangat bergantung kepada berbagai unsur yang mendukung yang di maksud dengan unsur dasar ialah unsur pokok yang menyebabkan timbulnya komunikasi dalam  menyimak. Menyimak dengan berkonsentrasi adalah memusatkan pikiran, perasaan, dan perhatian terhadap bahan simakan yang disampaikan pembicara. Penyimak yang ideal harus bermotifasi  mempunyai tujuan yang tertentu sehingga untuk menyimak kuat, menyimak secara menyeluruh materi secara utuh dan padu, menghargai pembicara,penyimak yang baik harus selektif, artinya harus memilih bagian-bagian yang inti, sunggu-sungguh, penyimak tidak mudah terganggu, penyimak harus cepat menyesuaikan diri, penyimak harus kenal arah pembicaraan, penyimak harus kontak dengan pembicara, kontak dengan pembicara, merangku,menilai, merespon.
B.     Saran
Meskipun penulis menginginkan kesempurnaan dalam penyusunan makalah ini tetapi kenyataannya masih banyak kekurangan yang perlu penulis perbaiki. Hal ini dikarenakan masih minimnya pengetahuan yang penulis miliki. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat penulis harapkan untuk perbaikan ke depannya.









DAFTAR PUSTAKA




Proposal Skripsi Implementasi Program Pelatihan Life Skill Terhadap Bidang Kepekerjaan Alumni Panti Sosial

Proposal Skripsi Implementasi Program Pelatihan Life Skill Terhadap Bidang Kepekerjaan Alumni Panti Sosial 
BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Remaja adalah mereka yang sedang tumbuh dan berkembang dalam perjalanan kehidupan kemasa dewasa dan tua yang penuh dengan perasaan tanggung jawab. Rasa dan kewajiban tanggung jawab  tersebut bukan saja untuk dirinya sendiri tetapi juga bagi orang lain, seperti: keluarga, masyarakat pada umumnya.[1] Remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi terintegrasi kedalam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa bahwa dirinya berada dibawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar. Pada usia remaja terdapat tugas-tugas perkembangan tertentu yang harus dipenuhi individu.
Remaja adalah peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa kedewasaan. Suatu masa yang mempengaruhi perkembangan dalam aspek sosial, emosi, dan fisik.Remaja memiliki tugas-tugas perkembangan yang mengarah pada persiapan memenuhi tuntutan dan peran sebagai orang dewasa. Pada tahap ini, salah satu tugas perkembangan remaja adalah memilih dan mempersiapkan diri untuk menjalankan suatu pekerjaan, serta membuat keputusan karir.
Berdasarkan teori Maslow adalah bahwa kebutuhan remaja itu tersusun dalam suatu hirarki, kebutuhan yang tertinggi adalah kebutuhan realisasi diri. Lima tingkatan kebutuhan menurut Maslow yaitu : kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan keselamatan dan keamanan, kebutuhan rasa aman, rasa ingin menghargai, kebutuhan untuk mengembangkan diri. Kelima kebutuhan tersebut saling menunjang dan mengisi pemuasan akan kebutuhan tersebut dan akan terasa puas, namun selang beberapa lama dirasakan kebutuhan yang sama lagi. Manusia secara terus- menerus melakukan bermacam-macam rangkaian kegiatan.
Salah satu faktor yang sering dianggap menurunkan motivasi siswi remaja untuk belajar adalah materi pelajaran itu sendiri dan guru yang menyampaikan materi pelajaran itu. Materi pelajaran sering dikeluhkan oleh para siswa sebagai membosankan, terlalu sulit, tidak ada manfaatnya untuk kehidupan sehari-hari. Berkurangnya semangat belajar para siswa mengakibatkan kurangnya keinginan untuk bertahan dilingkungan sekolah seringkali ditimpakan pula pada faktor terbatasnya kesempatan untuk memperoleh pendidikan lanjut keperguruan tinggi, disamping itu terbatasnya lapangan kerja bagi orang-orang yang putus sekolah.[2]
Faktor lain yang menyebabkan terjadinya putus sekolah pada remaja adalah ketidakmampuan orang tua dalam membiayai kebutuhan pendidikan anaknya sehingga banyak remaja yang disebut sebagai generasi penerus bangsa akhirnya tidak tercapai terkhusus bagi keluarganya. Oleh karena itu para siswa tersebut membutuhkan bimbingan yang baik khusus nya yang berkaitan dengan karir pekerjaan.
Dilihat dari usaha kesejahteraan anak, panti sosial merupakan suatu pelayanan subtitusif atau pengganti fungsi-fungsi sebagai pengganti keluarga, terutama yang berupa pemberian asuhan pendidikan dan perlindungan secara tepat dengan berbagai macam metode pengajaran ataupun pendampingan diantaranya menumbuh kembangkan keterampilan sosial dan keterampilan kerja dalam rangka mempersiapkan diri sebagai manusia dewasa yang mandiri dan bertanggung jawab dan sukses secara individual dan sosial.
Berdasarkan teori Karl C. Garrison dikaitkan dengan tugas-tugas perkembangan remaja bahwa dapat ditarik kesimpulan yakni tugas perkembangan seorang remaja dituntut agar dapat menerapkan dirinya dan mampu merencanakan karirnya sedini mungkin. Pada dasarnya remaja sudah menentukan karirnya akan tetapi faktanya dilapangan masih ada remaja yang belum bisa menentukan karirnya.[3]
Generasi muda dituntut untuk lebih aktif dan kreatif dalam menyiapkan masa depan agar mereka tidak terlindas oleh ketatnya persaingan global. Mereka harus benar-benar siap tidak hanya secara mental namun juga dari kemampuan, keterampilan, dan kualitas individu mereka untuk memulai dari kemampuan karir mereka kelak karena semua itu akan menentukan kesejahteraan hidup mereka kedepannya.
Panti Sosial Bina Remaja mulai didirikan pada tahun 1978 yang diberi nama Panti Karya Taruna, kemudian dengan surat keputusan Materi Sosial Nomor: 41 Tahun 1979. Panti ini diubah menjadi Panti Penyantunan Anak Harapan, dan pada tahun 1995 melalui surat keputusan Materi Sosial RI NO.22/HUK/1995 panti ini diubah menjadi Panti Sosial Bina Remaja Harapan. Seiring dengan diberlakukan Undang-Undang Otonomi Daerah Oleh Dapartermen Sosial. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Nomor : 28/2008, panti ini diubah menjadi Balai Pengembangan Anak dan Remaja Harapan Bengkulu.
Panti Sosial Bina Remaja (PSBR) adalah salah satu lembaga Kesejahteraan Sosial yang bertanggung jawab di 10 (sepuluh) Kabupaten atau Kota wilayah kerja dalam Provinsi Bengkulu, untuk memberikan pelayanan Kesejahteraan Sosial kepada anak terlantar, anak putus sekolah dalam rangka menumbuh kembangkan keterampilan Sosial dan keterampilan kerja, mereka dapat berfungsi sebagai anggota masyarakat yang terampil dan aktif berpartisipasi secara produktif dalam pembangunan.[4]
Pendidikan untuk remaja itu sangatlah penting, akan tetapi masih banyak juga remaja yang tidak melanjutkan sekolahnya dan memilih tinggal di lembaga,  seperti Panti Sosial Bina Remaja. Dipanti ini, remaja diberikan Bimbingan Keterampilan untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada pada dirinya untuk bekal kedepannya. Bimbingan keterampilan yang diberikan kepada remaja putus sekolah seperti, menjahit, salon kecantikan dan otomotif.
Penghuni Panti Sosial Bina Remaja yaitu, Anak terlantar dan anak putus sekolah. Keberadaan penguni balai ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal, diantaranya mereka tidak memiliki Orang tua, anak yatim, piatu dan yatim piatu terlantar. Anak yang berasal dari keluarga tidak mampu.[5]
Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan oleh peneliti diPSBR menunjukan bahwa motivasi yang dimiliki oleh remaja dalam mengikuti pelatihan bimbingan keterampilan sangat aktif saat prosesnya saja. Akan tetapi ada juga sebagian dari remaja yang mengikuti pelatihan bekerja sesuai dengan pelatihan yang diberikan, dan ada juga sebagian dari mereka tidak mengaplikasikan program pelatihan tersebut, bahwa penghuni Panti Sosial Bina Remaja ini terlihat sangat terampil dalam mengikuti Kegiatan Bimbingan Keterampilan. Karena sebelum mereka keluar dari Panti Sosial Bina Remaja, nanti mereka dimagangkan selama 1 (satu)  minggu, disana mereka bisa mendapatkan ilmu dll, tapi ada juga remaja yang sudah selesai dari Panti Sosial Bina Remaja mereka bahkan  tidak mengembangkan minat dan bakatnya sesudah selesai dari Panti Sosial Bina Remaja.[6]
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas maka penulis bermaksud melaksanakan penelitian dengan mengangkat judul Implementasi Program Pelatihan Life Skill Terhadap Bidang Kepekerjaan Alumni Panti                                .

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti merumuskan masalah dalam penelitian ini, sebagai berikut:
1.    Bagaimana implementasi program pelatihan life skill terhadap bidang kepekerjaan Alumni PSBR?
2.    Apa saja hambatan dalam implemntasi program pelatihan life skil?
C.      Batasan Masalah
Agar penelitian ini tidak meluas dan terarah maka penulis membatasi masalah penelitan dengan menentukan fokus implementasi program pelatihan life skill pada bidang  kebengkelan dan salon dan fokus pada pelaksanaan program pelatihan life skill, penerapan materi dan inovasi.
D.      Tujuan Penelitian
Untuk mendeskripsikan bagaimana Implementasi Program Pelatihan Life Skill terhadap Bidang Kepekerjaan Alumni PSBR.
Untuk mengetahui apa saja hambatan dalam implementasi program pelatihan Life skill
E.       Kegunaan Penelitian
1.    Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk menambah khazanah keilmuan dan memperkaya wawasan, serta dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan jenis penelitian Implementasi Program Pelatihan Life Skill terhadap Bidang Kepekerjaan Alumni Panti Sosial Bina Remaja Provinsi Bengkulu dan memperkaya hasil penelitian di Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah terutama Jurusan Dakwah Prodi Bimbingan Konseling.
2.    Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi serta perluasan pemahaman kepada pembaca, serta berguna untuk semua kalangan.
F.       Kajian Terhadap Penelitian Terdahulu
Pertama, Skripsi yang di tulis Pramudhya Tyaswuri dengan judul “ Implementasi Life Skills Pelatihan Keterampilan Pertukangan Kayu Bagi Binaan”. Rumusan masalah dalam penelitiannya yaitu (1) Bagaimana pelaksanaan pelatihan keterampilan pertukangan kayu bagi warga binaan?. (2) Apakah yang menjadikan faktor kendala dalam pelaksanaan pelatihan keterampilan pertukangan kayu?. Jenis penelitiannya yaitu kualitatif deskriptif.
Hasil penelitian diperoleh dalam penelitian adalah: (1) Pelaksanaan pelatihan keterampilan pertukangan kayu bagi warga binaan meliputi, interaksi antara warga binaan dengan instruktur baik dengan adanya saling komunikasi dalam proses pembelajaraan, instruktur sebagai motivasi dan partner, instruktur berasal dari pembina LP dan BLK Kota Yogyakarta, fasilitas pelatihan keterampilan yang digunakan sangatlah lengkap, materi pelatihan hanya berupa latihan kerja yang lebih mengutamakan kemajuan fisik meliputi teori umum dan teori teknis pertukangan kayu, strategi pembelajaran yang digunakan adalah strategi pembelajaran yang berpusat pada pendidik karena perencanaan proses pembelajaran dilakukan oleh instruktur tanpa menggunakan pendekatan andragogi (ilmu dan seni membantu orang dewasa belajar).
 Metode pembelajaran melalui ceramah, tanya jawab dan praktik lapangan, evaluasi pelatihan keterampilan pertukangan kayu melalui tes individu dan tes kelompok serta memperkerjakan peserta pelatihan dibengkel kerja Lapas sebagai tindak lanjut pelaksanaan pelatihan. (2) Faktor yang menghambat yaitu warga binaan mempunyai sifat yang mudah tersinggung sehingga pada proses pembelajaran sering terjadi perselisihan antar warga binaan, cara mengatasi hambatan tersebut dapat dilakukan pada metode pembelajaran yaitu dalam pelaksanaan metode praktek antara peserta yang satu dengan peserta pelatihan yang lain dilakukan diruang terpisah dan pengawasan lebih ditingkat.[7]
Kedua, Skripsi yang di tulis Wahyu Sri Wilujeng dengan judul “Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan Keagamaan Di SD Ummu Aiman Lawang”. Rumusan masalah dalam penelitian yaitu (1) Bagaimana penerapan pendidikan karakter di Sd Ummu Aiman? (2) Apa saja kendala dan solusi yang dihadapi dalam pelaksanaan penanaman pendidikan karakter disekolah? (3) Apa saja nilai pendidikan karakter yang ditanamkan di SD Ummu Aiman?. Jenis penelitiannya yaitu kualitatif deskriptif. Hasil penelitian diperoleh dalam penelitian adalah: (1) Proses pelaksanaan kegiatan keagamaan disekolah dilaksanakan dengan menggunakan metode pembiasaan yang dilakukan secara terus menerus dan juga terstruktur. (2) Faktor penghambat dari pelaksanaan kegiatan keagamaan ini adalah kurangnya disiplin bagi sebagian siswa yang tidak menerapkan pembiasaan tersebut dirumah. (3) Nilai karakter yang ditanamkan disekolah meliputi nilai disiplin , jujur, tanggung jawab, sopan santun, ikhlas, dan jugas karakter toleransi.[8]
Ketiga, Skripsi yang di tulis Dwi Marfuji dengan judul “Pelaksanaan Pembelajaraan Life Skil berbasis Kewirausahaan pada Peseta Didik”. Rumusan masalah dalam penelitiannya yaitu (1) Bagaimana pelaksanaan pembelajaran life skill di UPTD SKB Kulon Progo? Jenis penelitiannya yaitu kualitatif deskriptif. Hasil penelitian diperoleh dalam penelitian adalah: (1) pelaksanaan pembelajaan life skill berbasis kewirausahaan di UPTD SKB Kulon Progo terdiri dari (a) persiapan pembelajaran terdiri dari penyiapan kurikulum, sarana dan prasarana (b) pelaksanaan pembelajaraan life skill berbasis kewirausahaan seperi halnya pembelajaran lainnya didalamnya terdapat komponen-komponen pembelajaran meliputi peserta didik, pendidik, tujuan, metode, media kurikulum, materi, kegiatan pembelajaran, bahan ajar, sarana prasarana, evaluasi dan sumber pendanaan.
Pembelajaraan kecakapan hidup yang dilaksanakan meliputi: cara mengoperasikan dan pemanfaatan komputer, pelatihan dasar-dasar menjahit menggunakan mesin jahit, pelatihan tata laksana rumah tangga, budidaya jamur, prlatihan budidaya air tawar, tata rias rambut, tanaman hortikultural dan pembelajaran kewirausahaannya meliputi ceramah pemotivasian disela-sela pembelajaran. (c) evaluasi atau pemilihan yaitu dengan post tes dab penilaian praktek. (2) faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pembelajaran life skill (a) faktor pendukung yaitu, semangat yang tinggi dari peserta didik dalam mengikuti kegiatan, lokasi yang berdekatan dengan dinas pendidikan kabupaten Kulon Progo baik sehingga mudah dijangkau, adanya anggaran yang diperuntukan program-program UPTD SKB Kulon Progo. (b) faktor pnghambat, perbedaan kemampuan peserta didik yang berbeda-beda menimbulkan extra penaganan dalam pelaksanaan pembelajaraan yang belangsung di UPTD SKB Kulon Progo, sarana dan prasarana yang kurang memadai.[9]
G.      Sistematika Penulisan
BAB I : yang berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian terhadap penelitian terdahulu dan sistematika penulisan.
BAB II : yang berisi tentang pengertian pelatihan, tujuan pelatihan, Unsur-unsur Program Pelatihan, Bidang Life skill, Pengertian Life skill, Pembelajaran Life Skill, Macam-macam Life Skill, Tujuan Life Skill, pengertian remaja, tahap perkembangan remaja, Tugas Perkembangan Remaja, Karakteristik Umum Perkembangan Remaja.
BAB III : yang berisi tentang jenis penelitian, waktu dan lokasi penelitan, informan penelitian, sumber data penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data dan teknik keabsahan data.




[1]Hasan Basri, Remaja Berkualitas Problematika Remaja dan Solusinya. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 41
[2]Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologis Remaja, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 150-153
[3]Tika yuliana Atharini, Bimbingan Karier pada Remaja di Panti Sosial Buna Remaja Beran Tridadi, (Yogyakarta: Fakultas Dakwah dan Komunakasi UIN Sunan Kalijaga, 2015) hlm 6
[4]Profil Balai Pengembangan Anak dan Remaja (BPAR) Provinsi Bengkulu.
[5]Observasi Awal, tanggal 13 desember 2017, di Balai Pengembangan Anak dan Remaja.
[6]Wawancara sementara, tanggal 13 Desember 2017, di Balai Pengembangan Anak dan Remaja.
[7]Pramudhya Tyaswuri, Implentasi Life Skills Pelatihan Keterampilan Pertukangan Kayu Bagi Binaan, (Skripsi Sarjana, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta 2010).
[8]Wahyu Sri Wilujeng, Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan Keagamaan Di SD Ummu Aiman Lawang , (Skripsi Sarjana, Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang 2016).

[9]Dwi Marfuji, Pelaksanaan Pembelajaraan Life Skil berbasis Kewirausahaan pada Peseta Didik, (Skripsi Sarjana, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta 2016).

MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...