Rabu, 27 Maret 2019

MAKALAH ANALISIS KEBUTUHAN AUD Dasar-dasar Kebutuhan AUD


MAKALAH ANALISIS KEBUTUHAN AUD
Dasar-dasar Kebutuhan AUD

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Untuk membentuk generasi terbaik, pendidkan bagi anak seharusnya diberikan sejak awal kelahirannya dimana usia 0-6 merupakan fase terbaik “golden age”, fase yang turut menentukan bagi perkembangan selannjutnya dimasa dewasa baik dari segi fisik, mental dan kecerdasan.
            Sejak lahir, secara insting ia membutuhkan air susu ibu untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Air susu ibu mengandung unsur-unsur kimia yang dibutuhkan oleh tubuh baik dalam pertumbuhannya dari hari ke hari. Kalau kebutuhan ini tak terpenuhi maka bayi akan secara spontan menangis sebagai reaksi atas rasa haus dan lapar yang belum terpenuhi. Bayi akan menunjukan kegembiraan, misalnya dengan kegembiraan, misalnya dengan senyuman apabila kebutuhannya telah terpenuhi. Dengan demikian dalam kehidupan awal seorang anak ada tiga kebutuhan pokok yang memerlukan perhatian, yaitu kebutuhan jasmani, sosial dan pisikologis.
Setiap orang tua tentu berkeinginan agar anak nya dapat tumbuh kembang optimal, yaitu agar anak nyadapt mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang terbaik sesuai dengan potensi genetik yang ada pada anak tersebut. Hal ini dapat tercapai apabila kebutuhan dasar anak( Asah, AsihdanAsuh) terpenuhi.
Kebutuhan dasar anak harus dipenuhi yang mencakup imtaq, perhatian, kasihsayang, gizi, kesehatan, penghargaan, pengasuahan, rasa aman/ perlindungan, partisipasi, stimulasi dan pendidikan(Asah,AsihdanAsuh). Kebutuhan dasar tersebut harus dipenuhi sejak dini, bahkan sejak bayi berada dalam kandungan.
Salah satu upaya untuk mendapatkan anak seperti yang diinginkan tersebut adalah dengan melakukan upaya pematauan, pertumbuhan dan perkembangan balita atau yang dikenal dengan nama Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK). Upaya pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita dan anak prasekolah merupakan tindakan skrining atau deteksi secara dini( terutama sebelum berumur 3 Tahun ) atasa dan penyimpangan termasuk tindak lanjut terhadap keluhan orangtua terkait masalah pertumbuhan dan perkembangan bayi, anak balita dan anak prasekolah, kemudian penemuan dini serta intervensi dini terhadap penyimpangan kasus tumbuh kembang akan memberikan hasil yang lebih baik.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa ituAsah dalam kebutuhan dasar anak usia dini?
2.      Apa itu Asih dalam kebutuhan dasar anak usia dini?
3.      Apa itu Asuh dalam kebutuhan dasar anak usia dini?
1.3  Tujuan
1.      Ingin mengetahui Asah dalam kebutuhan dasar anak usia dini.
2.      Ingin mengetahui Asih dalam kebutuhan dasar anak usia dini.
3.      Ingin mengetahui Asuh dalam kebutuhan dasar anak usia dini.
  

BAB II
PEMBAHASAN
Kebutuhan Dasar Anak Usia Dini
A.    ASUH ( Kebutuhan Biomedis )
Yaitu menyangkut asupan gizi anak selama dalam kandungan dan sesudahnya, kebutuhan akan tempat tinggal, pakaian yang layak danaman, perawatan kesehatan dini berupa imunisasi dan intervensi dini akan timbulnya gejala penyakit.
Kebutuhan fisik adalah kebutuhan pangan, sandang, kesehatan dan papan kebutuhan fisik atau jasmani atau sering disebut juga kebutuhan biologis meliputi kebutuhan untuk makan, minum, dan pakaian. Pemenuhan atas kebutuhan ini merupakan tugas dan tanggung jawab orang tua dan pengasuh. Orang tua adalah pengasuh utama dan pengasuh hanya membantu orang tua. keduanya harus senada dalam memperhatikan kebutuhan makananan, minuman, dan pakaian yang cocok untuk anak yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Selanjutnya orang tua dan pengasuh harus memperhatikan makanan dan minuman tertentu yang menjadi kesuakaan anak, dengan memperhatikan faktor gizi dan kebersihan.
B.     ASIH ( Kebutuhan Emosional )
Yaitu pemberian kasih sayang, penting menimbulkan rasa aman( emotional security ) dengan kontak fisik dan psikis dini dengan ibu. Kebutuhan anak akan kasih sayang, diperhatikan dan dihargai, pengalaman baru, pujian, serta tanggung jawab.
Dengan pemberian kasih sayang dari lingkungan keluarga inti dan lingkungan dalam perkembangannya anak sangat memerlukan prhatian, kasih sayang. Sentuhan dan kesungguhan dalam pengasuhan dari orangtua atau orang dewasa sekitarnya. Sikap ini tidak dapat dinyatakan dengan mudah tetapi perlu kesabaran dalam pengaturan emosi, pikiran dan perilaku dari orang tua atau pengasuh agar perkembangan anak secara konektif, sosial emosi, bahasa spritualnya bisa optimal.
Anak akan merasa aman apabila merasa bahawa orang dewasa telah menerimanya dengan segala kelebihan dan kekurangan nya. 
C.    ASAH ( Kebutuhan Akan Stimulasi Anak Usia Dini )
Yaitu anak perlu distimulasi sejak dini untuk mengembangkan sedini mungkin kemampuan sensorik, motorik, emosi-sosial, bicara, kognitif, kemandirian, kreativitas, kepemimpinan, moral dan spiritual anak.
Asah adalah stimulasi yang diberikan. Untuk pemenuhan kebutuhan asah (stimulasi), meliputi upaya untuk melakukan stimulasi baik secara verbal maupun nonverbal. Proses ini merupakan cikal bakal proses pembelajaran, pendidikan, dan pelatihan yang diberikan sedini dan sesuai mungkin.[1]
Tujuan stimulasi (Asah) Stimulasi anak usia dini (AUD) adalah kegiatan merangsang secara memadai kemampuan dasar anak agar tumbuh dan berkembang optimal sesuai potensi yang dimilikinya. Pemberian stimulasi/rangsangan (ASAH) juga perlu diberikan sejak dini, stimulasi diberikan sesuai dengan tahapan usia si kecil.[2]
Stimulasi adalah kegiatan merangsang dan melatih kemampuan anak yang berasal dari lingkungan luar anak (orang tua atau pengasuhnya).
Tujuan stimulasi untuk balita usia 0-1 tahun adalah agar mereka harus mengenal sumber suara dan mencari objek yang tidak kelihatan, melatih kepekaan perabaan, koordinasi mata-tangan dan mata- telinga.
Sedangkan untuk balita usia 2-3 tahun stimulasi yang diperlukan adalah melatih mengembangkan ketrampilan berbahasa, warna, mengembangkan kecerdasan dan daya imajinasi.
Tahapan balita usia 3-6 tahun adalah mengembangkan kemampuan perbedaan dan persamaan, berhitung, menambah dan sportivitas. Stimulasi akan membuat sistem syaraf berfungsi dengan baik. Tumbuh kembang otak manusia mencapai puncaknya saat balita mencapai usia lima tahun. Selain bantuan stimulasi dan nutrisi, yang tidak kalah penting adalah dukungan keluarga dalam mengoptimalkan stimulasi pada anak.
Pemberian stimulasi dan nutrisi pada anak tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada pengasuh atau baby sitter. Orangtua harus berperan aktif membina kebersamaan keluarga dan menciptakan waktu berkualitas (quality time) dengan waktu yang sedikit namun dimanfaatkan sebaik-baiknya. Hal itu bisa diterapkan dalam hal sederhana misalnya makan bersama. Kesempatan itu dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan aneka ragam makanan, nama dan warnanya kepada anak, serta mengajarkan ketrampilan makan. Saat anak minum susu dapat  dibarengi membacakan buku cerita atau menonton televisi sambil menyelipkan pesan manfaat minum susu bagi anak. Usahakan mendampingi anak dan bercakap-cakap saat menonton televisi. Ajak anak berolahraga atau bermain mengenal alam dan lingkungannya pada akhir pekan. Kebersamaan antar orang tua dan anak sangat dibutuhkan untuk menjalin komunikasi guna memungkinkan pemberian stimulasi dan nutrisi yang tepat untuk anak. Kebutuhan stimulasi atau upaya merangsang anak untuk memperkenalkan suatu pengetahuan ataupun keterampilan baru ternyata sangat penting dalam peningkatan kecerdasan anak. Stimulasi pada anak dapat dimulai sejak calon bayi berwujud janin, sebab janin bukan merupakan makhluk yang pasif. Di dalam kandungan, janin sudah dapat bernapas, menendang, menggeliat, bergerak, menelan, mengisap jempol, dan lainnya.
Terdapat 4 aspek kemampuan dasar anak yang perlu mendapatkan rangsangan yaitu: kemampuan gerak kasar, kemampuan gerak halus, kemampuan bicara dan berbahasa, serta kemampuan bersosialisasi (berinteraksi) dan kemandirian.
1.      Kemampuan gerak kasar atau kemampuan motorik kasar adalah kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh dengan melibatkan otot-otot besar, misal: kemampuan berguling, tengkurap, berdiri dan berjalan.
2.      Kemampuan gerak halus atau kemampuan motorik halus adalah kemampuan anak melakukan pergerakan bagian-bagian tubuh tertentu dengan melibatkan otot-otot kecil tetapi memerlukan koordinasi yang cermat, misal: menjepit dengan jari-jari, menulis, mengamati sesuatu.
3.      Kemampuan bicara dan bahasa adalah kemampuan anak mengungkapkan sesuatu melalui berbicara dan berbahasa, memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah, dst.
4.      Kemampuan bersosialisasi (berinteraksi) adalah kemampuan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan dan orang-orang di sekelilingnya, dan kemandirian adalah kemampuan melakukan sesuatu tanpa bantuan pihak lain atau mandiri (makan dan minum sendiri, memakai pakaian sendiri, dst). Kemampuan dasar lain yang juga perlu mendapatkan stimulasi adalah kemampuan kognitif, kreatifitas dan moral-spiritual
Beberapa prinsip dasar dalam melakukan stimulasi pada anak usia dini yang perlu diterapkan yaitu:
1.    Stimulasi dilakukan dengan dilandasi rasa cinta dan kasih sayang terhadap anak.
2.    Selalu tunjukkan perilaku yang baik karena anak cenderung meniru tingkah laku orang-orang terdekat dengannya.
3. Dunia anak dunia bermain, karena itu stimulasi dilakukan dengan cara mengajak anak bermain, bernyanyi dan variasi lain yang menyenangkan, tanpa paksaan dan hukuman.
4.   Berikan stimulasi sesuai umur anak.
5.   Stimulasi dilakukan dengan cara-cara yang benar, secara bertahap dan berkelanjutan sesuai umur anak.
6. Menggunakan alat bantu/alat permainan yang sederhana, aman dan ada disekitar kita.
7.   Anak laki-laki dan perempuan diberikan kesempatan yang sama.
Dalam menstimulasi tumbuh kembang anak ada beberapa langkah yang bisa dilakukan, diantaranya adalah:
1. Berikan gizi dan makanan yang sesuai dengan masa pertumbuhan dan perkembangan pada anak,yang sangat diperlukan terutama dalam memacu pertumbuhan fisik dan otak pada anak.
2. Mencukupi kebutuhan nutrisi seperti makanan yang banyak mengandung potein, vitamim B1, B6, yodium, asam folat, seng, DHA, dsb.
3. Cukupi ASI. Karena ASI menjadi kebutuhan paling fundamental dalam membantu tumbuh kembang anak secara baik dan maksimal.
4.  Pentingnya melakukan stimulasi dini kepada anak.
Beberapa kategori yang harus diperhatikan berdasarkan usia anak supaya hasil yang didapatkan bisa sesuai dengan yang diinginkan, yakni:[3]
1.    Usia anak 0-3 bulan, bentuk stimulasi dilakukan dengan memeluk, menggendong, mengajaknya tersenyum, berbicara, membunyikan suara seperti musik dan instrumen musik, dipegangkan mainan, dsb.
2.   Usia anak 3-6 bulan, bisa diajak dengan melihat wajah ibunya sendiri, ditengkurapkan, bolak-balik badannya dan duduk.
3.   6 – 9 bulan, bisa dengan memanggil namanya secara berulang-ulang, bertepuk tangan, bersalaman, dan mendongeng.
4.Usia, 9-12 bulan, bisa dengan mengajarkannya memasukkan mainan ke dalam keranjang atau menyebut nama mama dan papanya karena prinsipnya anak sudah mengerti apa yang diperintahkan.
5. Usia 12-18 bulan, ajari berjalan mengelilingi rumah, berikan pensil warna untuk mencorat-coret dan mulai mengenal warna-warni satu persatu.
6.  Usia 18-24 bulan, ajak anak untuk bertanya anggota tubuhnya seperti telinga, mata, tangan, hidung, mulut, dsb.
7.Usia 2-3 tahun, kondisi dimana ia sudah hampir bisa melakukan semua hal. Saatnya bagi orang tua untuk mulai mengajarkan berbagai kata sifat sedih, gembira, senang. Dsb.
8. Memberikan ragam stimulasi kinestetik mulai usia 0 hingga 6 tahun.
Bentuk stimulasi (asah) yang diberikan : [4]


1.      Usia 0-1 tahun.
Di usia 3-4 bulan kandungan, janin sudah menunjukkan gerakan tubuh pertamanya, yang semakin bertambah sejalan dengan pertambahan usia kehamilan. Gerakan kedua muncul saat bayi lahir, yaitu gerak refleks. Gerakan seperti mengisap puting susu ibu, gerak refleks tangan dan kaki, mengangkat kepala saat ditengkurapkan, dan membuka jari saat telapak tangannya disentuh, merupakan gerakan refleks yang bertujuan untuk bertahan hidup, gerak refleks seharusnya distimulasi agar kemampuan awal si kecil terbentuk.
Contohnya, bila gerak refleks tangan distimulasi dengan baik, dalam usia 2-3 bulan, bayi memiliki kemampuan menggenggam benda-benda yang berukuran besar. Stimulasi yang bertahap dan berjenjang akan memberikan manfaat dalam kemampuan dan keterampilan menggenggam pada bayi. Bayi akan mampu menggenggam benda-benda yang lebih kecil hingga akhirnya bisa menggenggam sendok atau pensil warna.
Kemampuan kinestetik lain yang mesti dimiliki bayi usia 3-6 bulan adalah merayap dan merangkak. Kemampuan ini merupakan awal dari perkembangan bergerak maju, duduk, berdiri, dan berjalan. Orangtua bisa menempatkan bola warna-warni di depan bayi saat ia tengkurap. Warna-warni akan menarik bayi untuk mengambil dengan berusaha bergerak maju. Setelah merangkak, anak akan belajar berjalan. Untuk berjalan, diperlukan kekuatan otot kaki, punggung, perut, keseimbangan tubuh, koordinasi mata-tangan-kaki, serta aspek mental, emosional, dan keberanian. Dengan banyaknya aspek yang terlibat dalam proses berdiri dan berjalan, jumlah sel otak yang terstimulasi pun bertambah banyak. Saat belajar berjalan, anak mencoba merambat dan berdiri sambil berpegangan benda-benda yang kuat.[5]
2.      Usia 1-2 tahun
Di usia setahun, seluruh kemampuan dan keterampilan kinestetiknya sudah terbentuk. Untuk itu, perlu diberikan pengembangan stimulasi dengan penambahan pada bentuk, media, tingkat kesulitan, dan lainnya. Cara yang mudah adalah banyak bermain bersama anak seperti berlari, melompat, melempar, menangkap, berguling, dan lain-lain. Anak akan lebih mudah belajar melempar daripada menangkap. Agar kemampuan anak menangkap bola atau benda bertambah, rajin-rajinlah orangtua bermain lempar-tangkap bola. Dengan cara ini pula kemampuan koordinasi mata dan tangan anak akan terlatih. Bila anak sudah mampu menangkap dan melempar, tingkat kesulitannya bisa ditambah.
Contohnya, menambah jarak lempar-tangkap, mengganti bola yang lebih besar dengan yang kecil, serta arah lemparan semakin cepat. Teknik-teknik tersebut akan membantu menguatkan otot-otot lengan anak serta mengembangkan keterampilan motorik halus dan kasar, koordinasi mata-tangan, visual-spasial, kecepatan reaksi, dan kelenturan. Kesemuanya, menurut Bambang, merupakan respon dari sel-sel otak. Keterampilan motorik halus dan kasar berguna untuk kemampuan menulis, menggambar, melukis, dan keterampilan tangan lainnya. Anak juga bisa dilatih mengembangkan otot kaki, misalnya menendang bola, melompat dengan dua kaki, serta menaiki anak tangga (tentu dibantu orang dewasa).
3.      Usia 3-4 tahun
Anak usia 3-4 tahun berlari lebih cepat ketimbang anak usia 1-2 tahun, lemparannya lebih kencang, dan sudah mampu menangkap dengan baik. Kemampuan motorik kasar otot kaki anak, selain berjalan dan berlari cepat, antara lain mampu melompat dengan dua kaki, memanjat tali, menendang bola dengan kaki kanan dan kiri. Untuk motorik kasar otot lengan, anak mampu melempar bola ke berbagai arah, memanjat tali dengan tangan, mendorong kursi, dan lainnya. Kemampuan yang melibatkan motorik halus untuk koordinasi mata-tangan, yaitu mampu memantul-mantulkan bola beberapa kali, menangkap bola dengan diameter lebih kecil, melambungkan balon, keterampilan coretan semakin baik.
Agar kemampuan dan keterampilan motorik halus serta kasar kian berkembang, anak bisa diberikan stimulasi kinestetik. Ia mencontohkan beberapa hal seperti berjalan atau berlari zigzag, berjalan dan berlari mundur untuk mengembangkan otak kanan, melompat dengan dua kaki ke berbagai arah, menendang bola dengan kaki kanan atau kiri ke berbagai arah, melempar bola ke berbagai arah dengan bola sedang sampai kecil, melempar bola ke sasaran seperti huruf, angka, atau gambar, menangkap bola dari berbagai arah, bermain bulutangkis, mencoret-coret berbagai bentuk geometri untuk mengembangkan otak kiri dan kanan, serta menggerakkan kedua tangan dan kaki dengan memukul drum mainan.[6]
4.      Usia 5-6 tahun
Pada usia 5-6 tahun, hampir seluruh gerak kinestetiknya dapat dilakukan dengan efisien dan efektif. Gerakannya pun sudah terkoordinasi dengan baik. Namun, anak kelompok usia ini lebih menyukai permainan yang tidak banyak melibatkan motorik kasar. Mereka lebih menyukai permainan yang menggunakan kemampuan berpikir seperti bermain puzzle, balok, bongkar pasang mobil, serta mulai tertarik pada games di komputer maupun play station.
Faktor genetika memang mempengaruhi tingkat kecerdasan anak saat dilahirkan. Namun kecerdasan saat anak beranjak dewasa juga ditentukan dari nutrisi dan stimulasi yang diberikan oleh orang tua mereka. Kedua hal ini, yaitu nutrisi dan stimulasi, bahkan paling berperan menentukan kecerdasan anak dalam masa pertumbuhan.

                                                               BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Kebutuhan dasar anak usia dini terdiri dari Asuh, Asih,dan Asah. Asah yaitu menyangkut asupan gizi anak selama dalam kandungan dan sesudahnya. Asih yaitu pemberian kasih sayang dengan kontak fisik dan psikis dini dengan ibu. Asah yaitu stimulasi sejak dini untuk mengembangkan sedini mungkin kemampuan sensorik, motorik, emosi-sosial, bicara, kognitif, kemandirian, kreativitas, kepemimpinan, moral dan spiritual anak. Kebersamaan antar orang tua dan anak sangat dibutuhkan untuk menjalin komunikasi guna memungkinkan pemberian stimulasi dan nutrisi yang tepat untuk anak. Selain itu, langkah untuk menstimulasi tumbuh kembang anak usia dini dengan  memberikan makanan yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya, mencukupi nutrisi, dan ASI ekslusif.

DAFTAR PUSTAKA
Gupte, S. 2004. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Pustaka Populer Obor.
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Ilmu Kesehatan Anak Untuk Pendidikan
Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika
Doenges dan Moorhouse. 2001. Rencana Perawatan Maternal Bayi. Jakarta:
EGC.
Hurlock, Elizabeth. 1993. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan
Sepanjang Rentang Kehidupan, Jakarta: Erlangga.



[1]. Gupte, S, Ilmu Kebidanan. (Jakarta: Pustaka Populer Obor, 2004). Hlm. 53.
[2] . Ibid., hlm. 68.
[3] .Gupte, S, Ilmu Kebidanan. (Jakarta: Pustaka Populer Obor, 2004). Hlm. 57
[4] . Hidayat, A. Aziz Alimul, 2008. Ilmu Kesehatan Anak Untuk Pendidikan Kebidanan. (Jakarta: Salemba Medika, 2008). Hlm. 47.
[5]. Doenges dan Moorhouse. Rencana Perawatan Maternal Bayi. (Jakarta: EGC, 2001). Hlm. 42.
[6]. Hurlock, Elizabeth, Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, (Jakarta: Erlangga, 1993). Hlm. 76. 

MAKALAH SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU AKHLAK (AKHLAK TASAWUF)


MAKALAH

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU AKHLAK
(AKHLAK TASAWUF)


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Kata “akhlak” berasal dari bahasa arab yang secara bahasa bermakna “pembuatan” atau “penciptaan”  dalam konteks agama, akhlak bermakna perangai, budi, tabi’at, adab, atau tingkah laku. Menurut Imam Ghozali, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang melahirkan perbuatan perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran maupun pertimbangan. 
            Melacak sejarah perkembangan akhlak (etika) dalam pendekatan bahasa sebenarnya sudah dikenal manusia di muka bumi ini. Yaitu, yang dikenal dengan istilah adat istiadat yang sangat dihormati oleh setiap individu, keluarga dan masyarakat.
            Selama lebih kurang seribu tahun ahli-ahli fikir Yunani dianggap telah pernah membangun “kerajaan filsafat“, dengan lahirnya berbagai ahli dan timbulnya berbagai macam aliran filsafat. Para penyelidik akhlak mengemukakan, bahwa ahli-ahli semata-semata berdasarkan fikiran dan teori-teori pengetahuan, bukan berdasarkan agama. Selain itu juga masih terdapat ahli-ahli fikir lain di zaman sebelum islam, pertengahan, dan di zaman modern.
            Dari filsuf – filsuf Yunani terjadilah persoalan antara baik dan buruk. Yang mana persoalan ini menjadi permbicaraan utama dalam kajian ilmu akhlak dan ilmu estetika. Di antara pembicaraan baik dan buruk penting karena terdapat dua alasan, ini juga berkaitan dengan ilmu akhlak, dan dapat mengetahui pandangan islam tentang persoalan akibat munculnya berbagai aliran.
            Pada pembahasan ini kami sebagai pemakalah akan menjelaskan tentang sejarah perkembangan ilmu akhlak pada zaman Yunani sampai zaman Modern dan baik dan buruk.


1.2 Rumusan Masalah
            Dari latar belakang tersebut maka dapat kami rumuskan masalah sebagai berikut:
a.       Bagaimana sejarah perkembangan ilmu akhlak pada zaman Yunani?
b.      Bagaimana akhlak pada abad pertengahan?
c.       Bagaimana sejarah akhlak pada Bangsa Arab sebelum Islam?
d.      Bagaimana sejarah akhlak pada Bangsa Arab setelah Islam?
e.       Bagaimana akhlak pada zaman barat (zaman baru)?
f.       Bagaimana pengertian baik dan buruk?
g.      Bagaimana ukuran baik dan buruk?
1.3 Tujuan
a.       Untuk mengetahui bahwa sejarah dan perkembangan ilmu akhlak pada zaman yunani
b.      Untuk mengetahui perkembangan akhlak pada abad pertengahan.
c.       Untuk mengetahui sejarah akhlak pada Bangsa Arab sebelum islam.
d.      Untuk mengetahui sejarah akhlak pada bangsa arab setelah islam.
e.       Untuk mengetahui perkembangan kondisi ilmu akhlak pada zaman Barat (zaman baru)
f.       Untuk mengetahui pengertian baik dan buruk lebih luas lagi
g.      Agar dapat mengetahui perbandingan ukuran antara baik dan buruk








BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Perkembngan Akhlak pada Zaman Yunani
1.      Tokoh – tokoh sofistik (500-450 SM)
            Pertumbuhan dan perkembangan Ilmu Akhlak pada bangsa Yunani baru terjadi setelah munculnya apa yang disebut Sophisticians, yaitu orang-orang yang bijaksana (500-450 SM). Penyelidikan ahli –ahli filsafat  Yunani kuno  tidak banyak memperhatikan pada akhlak, kebanyakan penyelidikannya mengenai  alam. Sehingga datang Sophisticians ialah orang yang bijaksana  yang menjadi guru terbesar di beberapa  negeri. Pikiran dan pendapat mereka berbeda –beda, tetapi  tujuan mereka adalah satu, yaitu  menyiapkan  angkatan muda bangsa yunani, agar menjadi nasionalis yang baik lagi merdeka dan mengetahui kewajiban  mereka terhadap  tanah airnya.
2.      Socrates (469-399 SM)
            Socrates dipandang sebagai perintis ilmu akhlak, karena ia yang pertama kali berusaha sungguh-sungguh membentuk pola hubungan antar manusia dengan dasar ilmu pengetahuan. Sehingga ia berpendapat bahwa keutamaan itu adalah ilmu. Namun demikian, para peneliti terhadap pemikiran Socrates ada yang mengatakan bahwa Socrates tidak menunjukkan dengan jelas tujuan akhir dari akhlak dan tidak memberikan patokan-patokan untuk mengukur segala perbuatan dan menghukumkannya baik atau buruk. Akibatnya, maka timbullah beberapa golongan yang mengemukakan berbagai teori tentang akhlak yang dihubungkan pada Socrates.
3.      Cynics dan Cyrenics
            Golongan terpenting yang lahir setelah Socrates adalah Cynics dan Cyrenics. Keduanya dari pengikut Socrates. Golongan Cynics di bangun oleh Antistenes (414 - 370 SM). Menurut golongan ini bahwa ketuhanan itu bersih dari segala kebutuhan, dan sebaik-baik manusia adalah orang yang berperangai dengan akhlak ke Tuhanan. Di antara pemimpin paham golongan Cynics yang terkenal adalah Diagenes yang meninggal pada tahun 323 SM. Adapun golongan “Cyrenics” di bangun oleh Aristippus yang lahir di Cyrena (kota Barka di utara Afrika).
            Kedua golongan tersebut, sama-sama bicara tentang perbuatan yang baik, utama dan mulia. Golongan pertama, Cynics bersikap memusat pada Tuhan (teo-sentris) dengan cara manusia berupaya mengindentifikasi sifat Tuhan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. sedangkan golongan kedua, Cyrenics bersikap memusat pada manusia (antro-pocentris) dengan cara manusia mengoptimalkan perjuangan dirinya dan memenuhi kelezatan hidupnya.
4.      Plato (427-347 SM)
            Ia adalah seorang ahli filsafat Athena dan murid dari Socrates. Pandangannya dalam bidang akhlak berdasarkan pada teori model. Teori model ini digunakan Plato untuk menjelaskan masalah akhlak. Di antara model ini adalah model untuk kebaikan yaitu arti mutlak, azali, kekal dan amat sempurna. Dalam pandangan akhlaknya, Plato tampak memadukan antara unsure yang datang dari diri manusia sendiri dan unsure yang datang dari luar. Unsur dari diri manusia berupa akal pikiran dan potensi rohaniah, sedangkan unsure dari luar berupa pancaran nilai-nilai luhur dari yang bersifat mutlak.
            Dia berpendapat bahwa pokok-pokok keutamaan ada empat antara     lain:
a)      Hikmah/kebijaksanaan,
b)       Keberanian,
c)       Keperwiraan
d)      Keadilan.
5.      Aristoteles (394-322 SM)
            Dia murid Plato yang membangun suatu paham yang khas, yang mana pengikutnya diberi nama dengan “Peripatetics” karena mereka memberikan pelajaran sambil berjalan, atau karena ia mengajar di tempat berjalan yang teduh. Dia menyelidiki dalam akhlak dan mengarangnya. Dan ia berpendapat bahwa tujuan terakhir yang dikehendaki manusia mengenai segala perbuatannya ialah “bahagia”. Akan tetapi pengertiannya tentang bahagia lebih luas dan lebih tinggi dari pengikut paham utilitarianism dalam zaman baru ini. Dan menurut pendapatnya jalan mencapai kebahagiaan ialah mempergunakan kekuatan akal pikiran sebaik-baiknya.
                   Selain itu  Aristoteles ialah pencipta teori serba tengah tiap-tiap keutamaan adalah tengah-tengah diantara kedua keburukan, seperti dermawan adalah tengah-tengah antara boros dan kikir, keberanian adalah tengah-tengah antara membabi buta dan takut.
6.      Stoics dan Epicurics
            Setelah aristoteles datang “Stoics” dan “Epicuric”  mereka berbeda penyelidikanya dalam akhlak  “stoics” berpendirian sebagai paham “Cynics”, dan telah kami beri pejelasan secukupnya. Akan tetapi perlu kami katakan disini, bahwa paham “stoics” ini diikuti oleh banyak ahli filsafat di yunani dan romawi, rome ialah seneca (6 SM - 65 M), Epicetetus (60 – 110 M) dan kaisar marcus orleus (121 – 180 M).
            Stoisisme mengatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah menjalani segala sesuatu yang bisa dijalani secara rasional. Kenikmatan dan kesengsaraan datang dan pergi, dan kita tidak perlu melekat pada salah satunya. Segala ide tentang kesengsaraan dan kebahagiaan berasal dari pikiran manusia belaka. Pikiran, the mind adalah kunci dari Stoisisme. Kedamaian batin atau peace of mind akan kita alami kalau kita mau berpikir rasional.
            Filsafat Epikurus bertujuan menjamin kebahagiaan manusia. Filsafatnya dititikberatkan pada etika yang akan memberikan ketenangan batin.
7.      Agama Nasrani
            Pada akhir abad ketiga Masehi tersiarlah agama Nasrani di Eropa. Agama ini telah berhasil mempengaruhi pemikiran manusia dan membawa pokok-pokok ajaran akhlak yang tersebut dalam kitab Taurat dan Injil. Menurut agama ini bahwa Tuhan adalah sumber akhlak.
            Dengan demikian ajaran akhlak pada agama Nasrani ini bersifat teo-centri (memusat pada Tuhan) dan sufistik (bercorak batin). Menurut ahli-ahli filsafat Yunani bahwa pendorong buat melakukan perbuatan baik ialah pengetahuan dan kebijaksanaan, sedangkan menurut agama Nasrani bahwa pendorong berbuat kebaikan ialah cinta dan iman kepada Tuhan berdasarkan petunjuk kitab Taurat.
2.2 Akhlak Pada Abad Pertengahan
            Kehidupan masyarakat Eropa di abad pertengahan dikuasai oleh gereja. Pada waktu itu gereja berusaha memerangi filsafat Yunani serta menentang penyiaran ilmu dan kebudayaan kuno. Gereja berkeyakinan bahwa kenyataan “hakikat” telah diterima dari wahyu. Apa yang telah diperintahkan oleh wahyu tentu benar adanya. Oleh kerana itu tidak ada artinya lagi penggunaan akal dan pikiran untuk kegiatan penelitian. Mempergunakan filsafat boleh saja asalkan tidak bertentangan dengan doktrin uang dikeluarkan oleh gereja, atau memiliki perasaan dan menguatkan pendapat gereja. Diluar ketentuan seperti itu penggunaan filsafat tidak diperkenankan.
                        Corak ajaran akhlak yang sifatnya perpaduan antara pemikiran         filsafat Yunani dan ajaran agama itu, nantinya akan dapat pula dijumpai           dalam ajaran akhlak yang terdapat dalam Islam sebagaimana terlihat pada    pemikiran aklhlak yang dikemukakan kaum Muktazilah.
2.3 Sejarah Akhlak pada Bangsa Arab sebelum Islam.
                        Bangsa Arab pada Zaman Jahiliyah tidak ada yang menonjol dalam            segi      filsafat sebagaimana Bangsa Yunani (Socrates, Plato dan     Aristoteles), Tiongkok dan lain-lainnya. Disebabkan karena penyelidikan    akhlak terjadi hanya pada Bangsa yang sudah maju pengetahuannya.          Sekalipun demikian, Bangsa Arab waktu itu ada yang mempunyai ahli-ahli          hikwah yang menghidangkan syair-syair yang mengandung nilai-nilai            akhlak.
                        Dapat dipahami bahwa bangsa Arab sebelum Islam telah memiliki   kadar pemikiran yang minimal pada bidang akhlak, pengetahuan tentang      berbagai macam keutamaan dan mengerjakannya, walaupun nilai yang                         tercetus lewat syair-syairnya belum sebanding dengan kata-kata hikmah      yang diucapkan oleh filosof-filosof Yunani kuno. Dalam syariat-syariat    mereka tersebut saja sudah ada muatan-muatan akhlak.
2.4 Sejarah Akhlak pada Bangsa Arab setelah Islam.
            Islam datang mengajak pada kepercayaan bahwa Allah SWT adalah sumber segala sesuatu di seluruh alam. Akhlak dalam islam merupakan jalan hidup manusia yang paling sempurna dan menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan. Tujuan yang tertinggi dari segala tingkah laku manusia menurut pandangan islam adalah mendapatkan ridho dari Allah SWT. Allah SWT berfirman:
Artinya: “sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemunkaran dan permusuhan. Dia memberike pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pengajaran. Q.S An-Nahl: 90
            Tokoh yang pertama kali menggegas atau menulis ilmu akhlak dalam islam adalah:
            Pertama, Ali bin Abi Thallib. Ini berdasarkan risalah yang ditulisnya untuk puteranya, Al-Hasan.
            Kedua, Isma’il bin Mahran Abu An-Nashr As-Saukani, ulama abad ke-2 H. Ia menulis kitab Al-Mu’min wa Al-Fajir.
            Ketiga, pada abad ke-3 H, Ja’far bin Ahmad Al-Qaummi menulis kitab Al-Mani’at min Dukhul Al-Jannah.
2.5 Akhlak pada Zaman Barat (Zaman Baru)
            Pada akhir abad ke lima belas masehi, Eropa mulai mengalami         kebangkitan dalam bidang dalam bidang filsafat, ilmu pengetahuan dan            teknologi.
            Penyelidikan baru mempunyai jasa dalam menentukan macam-        macam hak dan kewajiban dan menimbulkan perasaan perseorangan akan     besar tanggungnya dihadapan masyarakat dan terhadap dirisendiri.
            Pandangan filsafat ternyata tidak memuasakan ahli-ahli fikir zaman             baru.  Oleh karena itu muncullah reformasi pemikiran yang menonjolkan     identitasnya sendiri, diantaranya sebagai berikut:
1.      Descartes
                        Seorang ahli filsafat perancis menjadi pembangun madhab   rasionalisme     untuk ilmu pengetahuan dan filsafat, ia telah menciptakan       dasar-dasar baru diantaranya:
                  a.       Tidak menerima sesuatu yang belum diperiksa akal dan sebelum                        dipastikan nyata. Apa yang tumbuhnya dari adat kebiasaan saja wajib         ditolak.
                  b.      Penyelidikan terhadap sesuatu harus dimulai dari yang terkecil dan    yang termudah lalu mengarah pada yang lebih kompleks.
                  c.       Tidak boleh menetapkan kebenaran sebelum diuji terlebih dahulu
2.       John of Salisbury (1120-1180 M)
            Ia adalah seorang filsuf Inggris. Ia terkenal dengan uraiannya yang menjelaskan bahwa kekuatan spiritual berada di atas kekuatan duniawi.
            Pendapat – pendapatnya diabadikan pada buku-bukunya. Buku yang paling masyhur berjudul Stateman’s Book. Pada buku ini, ia berbicara tentang dua pedang (kekuasaan), yaitu pedang fisik dan pedang spiritual. Keduanya bersumber dari gereja dan harus kembali padanya.
3.      Bentham (1748-1832) dan Stuart Mill (1806-1873)
            Bentham dan Mill memindahkan paham Epicurus ke dalam paham Utilitarianisme. Keduanya memindahkan dari paham Egoitic Hedonism eke dalam paham Universalistik Hedonisme. Paham keduanya tersiar luas di Eropa dan memberikan peran besar dalam pembentukan hukum dan politik.
4.      Thomas Hill Green (1836-1882) dan Herbert Spencer (1820-1903)
            Green dan Spencer mengaitkan paham evolusi dengan akhlak. Di antara pemikiran akhlak Green adalah:
a.       Manusia dapat memahami suatu keadaan yang lebih baik dan dapat menghendaki sebab ia adalah pelaku moral;
b.      Manusia dapat melakukan realisi diri karena ia adalah subjek yang sadar diri, suatu reproduksi diri kesadaran diri yang abadi;
c.       Cita – cita keadaan yang lebih baik adalah yang ideal, tujuan yang terakhir;
d.      Ide menjadi pelaku bermoral dalam kehidupan manusia. Kebaikan moral adalah yang memuaskan hasrat pelaku moral.
5.      Spinoza (1632-1677), Hegel (1770-1831), dan Kant (1724-1831)
            Dalam bukunya Ethica tampaknya mempunyai struktur seperti sebuah sistem geometris. Spinoza menggunakan bebagai definisi, aksioma, dan preposisi. Karya ini bukan semata –mata karya filosofi, melainkan memiliki tujuan praktis: untuk mengajari pembacanya bahwa Tuhan merupakan bagian dari penciptaan, bahwa semua hal yang eksis merupakan manifestasi dari Tuhan – termasuk umat manusia.
            Sementara itu, Kant meyakini adanya kesusilaan. Titik berat etikanya adalah rasa kewajiban (panggilan hati nurani) untuk melakukan sesuatu. Rasa kewajiban melakukan sesuatu berpangkal dari budi.
6.      Victor Cousin (1792-1867) dan August Comte (1798-1857)
            Cousin adalah salah seorang yang bertanggung jawab menggeser filsafat Perancis dari sensasionalisme menjadi spiritualisme. Menurutnya metafisika adalah pengamatan hati – hati dan analisis atas fakta – fakta tentang kehidupan sadar.
            August Comte atau juga Auguste Comte adalah seorang ilmuwan Perancis yang dijuluki sebagai “bapak sosiologi”. Ia dikenal sebagai orang pertama yang mengaplikasikan metode ilmiah ke dalam ilmu sosial.
7.      Pasca Mill dan Spencer
            Sejak Mill dan Spencer hingga sekarang, penelitian tentang akhlak hanya menjelaskan teori – teori sebagaimana diutarakan di atas. Dengan kata lain, belum ditemukan teori lain.
             



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
a.       Sejarah perkembangan akhlak pada zaman Yunani adalah: tokoh – tokoh sofistik, Socrates, Cynics dan Cyrenics, Plato, Aristoteles, Stoics dan Epicuris dan Agama Nasrani.
b.      Akhlak pada abad pertgengahan adalah akhlak yang lahir di Eropa dengan ajaran akhlak yang dibangun dari perpaduan antara ajaran Yunani dan ajaran Nasrani. Diantara mereka yang termashyur adalah Abelard, seorang ahli filsafat Perancis dan Thomas Aquinas, seorang ahli filsafat agama berkebangsaan Italia.
c.       Sejarah akhlak pada bangsa Arab sebelum islam bahwa akhlak sebelum islam dalam keadaan jahiliyyah (bodoh), jahiliyyah dapat diartikan pada masa itu kondisi akhlak dan moral masyarakat mengalami kebobrokan yang begitu parah.
d.      Sejarah akhlak pada bangsa arab setelah islam bahwa setelah islam datang, islam mengajak pada kepercayaan bahwa Allah SWT dalah sumber segla sesuatu di seluruh alam. Allah pun telah menetapkan beberapa keutamaan yang harus diikuti, seperti kebenaran dan keadilan; juga menghindari beberapa keburukan. Terdapat di Q.S An-Nahl ayat 90
e.       Sejarah akhlak pada zaman barat (zaman baru) yaitu Descates;  Jhon of Salisbury; Bentham dan Stuart Mill; Thomas Hill Green dan Herbert Spencer; Spinoza, Hegel dan Kant; Victor Cousin dan August Comte; Pasca Mill dan Spencer.
3.2 Saran
Di zaman yang serba modern ini, kita di hadapkan pada perkembangan teknologi yang begitu canggih yang dapat memberi pengaruh baik maupun buruk pada akhlak kita, oleh karena itu kita sebagai generasi muda penerus bangsa harus pandai-pandai memilah-milah mana hal yang baik dan yang buruk untuk diri kita.

  
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M. Yatimin.2007. Study Akhlak dalam Perspektif  Alquran. Jakarta: Amzah.
Amin, Ahmad. 1995. Etika (Ilmu Akhlak). Jakarta: Bulan Bintang
Anwar, Rosihon. 2010. Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka setia.
Nata, Abuddin. 2010. Akhlak Tasawuf. Jakarta: Rajawali Press.






MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...