Sabtu, 13 April 2019

MAKALAH PERIODE ABBASIYAH


     MAKALAH PERIODE ABBASIYAH 

      A.    Pendahuluan
Dalam peradaban ummat Islam, Bani Abbasiyah merupakan salah satu bukti sejarah peradaban ummat Islam yang terjadi. Bani Abbasiyah merupakan masa pemerintahan ummat Islam yang memperoleh masa kejayaan yang gemilang.
Pada masa ini banyak kesuksesan yang diperoleh Bani Abbasiyah, baik itu dibidang Ekonomi, Politik, dan Ilmu pengetahuan. Hal inilah yang perlu untuk kita ketahui sebagai acuan semangat bagi generasi ummat Islam bahwa peradaban ummat Islam itu pernah memperoleh masa keemasan yang melampaui  kesuksesan negara-negara Eropa.
Dengan kita mengetahui bahwa dahulu peradaban ummat Islam itu diakui oleh seluruh dunia,  maka akan memotifasi sekaligus menjadi ilmu pengetahuan kita mengenai sejarah peradaban ummat Islam sehingga kita akan mencoba untuk mengulangi masa keemasan itu kembali nantinya oleh generasi ummat Islam saat ini.
     B.     Proses Peralihan Kekuasaan dari Dinasti Umayyah kepada Dinasti Abbasiyah
Kelahiran bani Abbasiyah erat kaitannya dengan gerakan oposisi yang di lancarkan oleh golongan syi'ah terhadap pemerintahan  Bani Umayyah. Golongan Syi'ah  selama pemerintahan Bani Umayyah merasa tertekan dan tersingkir  karena kebijakan-kebijakan yang di ambil pemerintah. Hal ini bergejolak sejak pembunuhan terhadap Husein Bin Ali dan pengikutnya di Karbela.[1]
Gerakan oposisi terhadap Bani Umayyah dikalangan orang syi'ah dipimpin oleh Muhammad Bin Ali, ia telah di bai'ah oleh orang-orang syi'ah sebagai imam. Tujuan utama dari perjuangan Muhammad Bin Ali untuk merebut kekuasaan dan jabatan khalifah dari tangan Bani Umayyah, karena menurut keyakinan orang syi'ah keturunan Bani Umayyah tidak berhak menjadi imam atau khalifah, yang berhak adalah keturunan dari Ali Bin Abi Thalib, sedangkan bani umayyah bukan berasal dari keturunan Ali Bin Abi Thalib.
Pada awalnya  golongan ini memakai nama Bani Hasyim, belum menonjolkan nama Syi'ah atau Bani Abbas, tujuannya adalah untuk mencari dukungnan masyarakat. Bani Hasyim yang tergabung dalam gerakan ini adalah keturunan Ali Bin Abi Thalib dan Abbas Bin Abdul Muthalib. Keturunan ini bekerjasama untuk menghancurkan Bani Umayyah.
Strategi yang digunakan untuk menggulingkan Bani Umayyah ada dua tahap :
         Gerakan secara rahasia
Propoganda Abbasiyah dilaksakan dengan strategi yang cukup matang sebagai gerakan rahasia, akan tetapi Imam Ibrahim pemimpin abbasiyah yang berkeinginan mendirikan kekuasaan Abbasiyah, gerakannya diketahui oleh khalifah Umayyah terakhir, Marwan bin Muhammad. Ibrahim akhirnya tertangkap oleh pasukan dinasti umayyah dan dipenjarakan di Haran sebelum akhirnya di eksekusi. Ia mewasiatkan kepada adiknya Abul Abbas untuk menggantikan kedudukannya ketika ia telah mengetahui bahwa ia akan di eksekusi dan memerintahkan untuk pindah ke kuffah.
         Tahap terang-terangan dan terbuka secara umum
Tahap ini dimulai setelah terungkap surat rahasia Ibrahim bin Muhammad yang ditujukan kepada Abu Musa Al-Khurasani Agar membunuh setiap orang yang berbahasa Arab di Khurasan. Setelah khalifah Marwan bin Muhammad mengetahi isi surat rahasia tersebut ia menangkap Ibrahim bin Muhammad dan membunuhnya. Setelah itu pimpinan gerakan oposisi dipegang oleh Abul Abbas Abdullah bin Muhammad as-saffah, saudara Ibrahim bin Muhammad.[2]
Abul Abbas sangat beruntung, karena pada masanya pemerintahan Marwan bin Muhammad telah mulai lemah dan sebaliknya gerakan oposisi semakin mendapat dukungan dari rakyat dan bertambah luas pengaruhnya. Keadaan ini tambah mendorong semangat Abul Abbas untuk menggulingkan khalifah Marwan bin Muhammad dari jabatannya. Untuk maksud tersebut Abul Abbas mengutus pamannya Abdullah bin Ali untuk menumpas pasukan Marwan bin Muhammad.
Pertempuran terjadi antara pasukan yang dipimpin oleh khalifah Marwan bin Muhammad dengan pasukan Abdullah bin Ali di tepi sungai Al-Zab Al-Shagirdi, Iran. Marwan bin Muhammad terdesak dan melarikan diri ke Mosul, kemudian ke palestina, Yordania dan terakhir di Mesir. Abdullah bin Ali terus mengejar pasukan Marwan bin Muhammad sampai ke Mesir dan akhirnya terjadi pertempuran disana. Marwan bin Muhammad pun akhirnya tewas karena pasukannya sudah sangat lemah yaitu pada tanggal 27 Zulhijjah 132 H/750 M.
Pada tahun 132 H/ 750 M Abul Abbas Abdullah bin Muhammad diangkat dan di bai'ah menjadi khalifah , dalam pidato pembaiatan tersebut , ia antara lain mengatakan "saya berharap semoga pemerintahan kami  ( Bani Abbas ) akan mendatangkan kebaikan dan kedamaian pada kalian. Wahai penduduk kuffah, bukan intimidasi, kezaliman, malapetaka dan sebagainya. Keberhasilan kami beserta ahlul Bait adalah berkat pertolongan Allah SWT.
Hai penduduk kuffah, kalian adalah tumpuan kasih sayang kami, kalian tidak pernah berubah dalam pandangan kami, walaupun penguasa yang zalim (Bani Umayyah) telah menekan dan menganiaya kalian. Kalian telah dipertemukan oleh Allah dengan Bani Abbas, maka jadilah kalian orang-orang yang berbahagia dan yang paling kami muliakan, ketahuilah, hai penduduk koufah, saya adalah al-saffah".[3]
C.    Sejarah Pendirian Bani Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah didirikan pada tahun 132 H/750 M oleh Abul Abbas Ash-shaffah, dan sekaligus sebagai khalifah pertama. Kekuasaan Bani Abbas melewati rentang waktu yang sangat panjang, yaitu lima abad dimulai dari tahun 132-656 H/750-1258 M. Berdirinya pemerintahan ini dianggap sebagai kemenangan pemikiran yang pernah dikumandangkan oleh bani Hasyim (alawiyun ) setelah meninggalnya Rasulullah dengan mengatakan bahwa yang berhak berkuasa adalah keturunan Rasulullah dan anak-anaknya.
Sebelum berdirinya Dinasti Abbasiyah terdapat tiga poros utama yang merupakan pusat kegiatan, antara satu dengan yang lain memiliki kedudukan tersendiri dalam memainkan peranannya untuk menegakkan kekuasaan keluarga paman Rasulullah, Abbas bin Abdul Muthalib.
Kota Humaimah bermukim keluarga Abbasiyah, salah seorang pimpinannya bernama Al-Imam Muhammad bin Ali yang merupakan peletak dasar –dasar berdirinya Dinasti Abbasiyah. Ia menyiapkan strategi perjuangan menegakkan kekuasaan atas nama keluarga Rasulullah. Para penerang dakwah Abbasiyah berjumlah 150 orang di bawah para pimpinannya yang berjumlah 12 orang dan puncak pimpinannya adalah Muhammad bin Ali.
Setelah Abul Abbas resmi menjadi khalifah ia tidak lagi mengambil Damaskus sebagai pusat pemerintahan tetapi ia memilih Koufah sebagai pusat pemerintahannya, dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut:
1)   Para pendukung Bani Umayyah masih banyak yang tinggal di Damaskus.
2)   Kota Koufah jauh dari Persia, walaupun orang-orang Persia merupakan tulang punggung Bani  Abbas dalam menggulingkan Bani Umayyah.
3) Kota Damaskus terlalu dekat dengan wilayah kerajaan Bizantium yang merupakan ancaman bagi pemerintahannnya, akan tetapi pada masa pemerintahan khalifah Al-Mansur (754-775 M ) dibangun kota Baghdad sebagai ibu kota Dinasti Bani Abbas yang baru.[4]
D.    Bentuk dan Kebijakan Pemerintahan Dinasti Abbasiyah
Kekalifahan Abbasiyah merupakan kelanjutan dari Kekalifahan sebelumnya yakni Bani Umayyah, dimana pendiri dari kekalifahan ini adalah Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas Rahimahullah. Pola pemerintahan yang diterapkan oleh Daulah Abbasiyah berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d. 656 H (1258 M).
Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Daulah Abbas menjadi lima periode:
·         Periode Pertama (132 H/750 M - 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama.
·         Periode Kedua (232 H/847 M - 334 H/945 M), disebut periode pengaruh Turki pertama.
·         Periode Ketiga (334 H/945 M - 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Bani Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
·         Periode Keempat (447 H/1055 M - 590 H/l194 M), masa kekuasaan daulah Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua (di bawah kendali) Kesultanan Seljuk Raya (salajiqah al-Kubra/Seljuk agung).
·         Periode Kelima (590 H/1194 M - 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad dan diakhiri oleh invasi dari bangsa Mongol.
Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.[5]
E.     Pencapaian dan Kemajuan Dinasti Abasiyyah
Peradaban dan kebudayaan Islam tumbuh dan berkembang bahkan mencapai kejayaannya pada masa Abbasiyyah. Hal tersebut dikarenakan dinasti Abbasiyyah pada periode awal lebih menekankan pembinaan dan kebudayaan Islam dari pada perluasan wilayah, serta menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Disini letak perbedaan pokok antara Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyyah.
Puncak kejayaan dinasti Abbasiyyah terjadi pada masa khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) dan anaknya al-Makmun (813-833 M). Ketika al-Rasyid memerintah, negara dalam keadaan makmur, kekayaan melimpah, keamanan terjamin meski ada pemberontakan, dan luas wilayahnya mulai dari Afrika utara hingga ke India.
Di masanya berkembang ilmu pengetahuan agama seperti ilmu al-Qur’an, Qiraat, Hadis, Fiqh, ilmu kalam, bahasa dan sastra. Salah satu karya sastra yang sangat fenomenal di masa itu adalah Alf Lailah Wa Lailah (seribu satu malam). Disamping itu berkembang pula ilmu filsafat, logika, metafisika, matematika, astronomi, musik, kedokteran, al- jabar, aritmatika, geografi, dan kimia. Karena kecintaannya terhadap ilmu, maka didirikanlah perpustakaan sekaligus lembaga ilmu pengetahuan yang diberi nama Baitul Hikmah, di dalamnya orang dapat membaca, menulis dan berdiskusi.
Ilmu-ilmu umum masuk ke dalam Islam melalui terjemahan dari bahasa Yunani, Persia dan India. Pada masa al-Makmun, beliau memerintahkan supaya dibeli dan dikumpulkan untuknya buku-buku karya bangsa asing, kemudian diterjemahkan kedalam bahasa arab, lalu dikumpulkan di Baitul Hikmah. Di antara penerjemah yang masyhur adalah Hunain bin Ishak, seorang Kristen Nestorian yang banyak menerjemahkan buku-buku Yunani kedalam bahasa Arab.
Ia menerjemahkan kitab Republick  dari Plato, dan kitab Katagori, Metafisika, Magna Moralia dari Aristoteles. Lalu ada al-Hajaj bin Yusuf bin Matr telah menerjemahkan untuk al-Makmun beberapa buah buku karya Euclides dan buku Ptolemy. Sehingga pada zamannya itulah lahir filosof Arab yang terkenal seperti al-Kindi dan ahli astronomi al-Khawarizmi yang menyusun ringkasan astronomi berdasarkan ilmu Yunani dan India.[6]
Berikut daftar beberapa kemajuan yang berhasil dicapai pada masa Dinasti Abbasiyyah:
1.   Bidang Agama.
a.  Fiqh
Para tokoh bidang fiqih dan pendiri mazhab, antara lain:
1)      Imam Abu Hanifah (700-767 M).
2)      Imam Malik (713-795 M).
3)      Imam Syafi’i (767-820 M).
4)      Imam Ahmad bin Hanbal (780-855 M).
b.  Ilmu Tafsir
Para tokoh bidang ilmu Tafsir, antara lain:
1)      Ibnu Jarir Al-Tabari
2)      Ibnu Atiyah al-Andalusi
3)      Abu Muslim Muhammad bin Bahar Isfahani.
c.  Ilmu Hadis
Para tokoh ilmu Hadis, antara lain:
1)      Imam Bukhari
2)      Imam Muslim
3)      Ibnu Majah
4)      Abu Dawud
5)      Imam al-Nasa’i
6)      Imam Baihaqi.
d.  Ilmu Kalam[7]
Para ahli ilmu kalam (teologi), antara lain:
1)  Imam Abu Hasan al-Asy’ari (260 H/873 M - 324 H/935 M).
2) Imam Abu Mansur Muhammad ibn Mahmud Al-Maturidi (w.333 H/944 M).
3)  Zamakhsyari (w. 528 H), tokoh Mu’tazilah sekaligus pengarang kitab Tafsir al-Kasysya.
e. Ilmu Bahasa
Diantara ilmu bahasa yang berkembang pada masa dinasti Abbasiyyah adalah ilmu Nahwu, ilmu Sharaf, ilmu Bayan, ilmu Badi’, dan ilmu Arudh. Bahasa Arab dijadikan bahasa ilmu pengetahuan, di samping alat komunikasi antar bangsa, tokohnya antara lain:
·         Imam Sibawaih (w. 183 H), karyanya terdiri dari 2 jilid setebal 1.000 halaman.
·         Abu Zakaria al-Farra (w. 208 H), kitab Nahwunya terdiri dari 6.000 halaman lebih.
2.  Bidang Umum
a. Filsafat
Para filusuf Islam kala itu antara lain:
·         Abu Ishaq al-Kindi (809-873 M), karyanya lebih dari 231 judul.
·         Abu Nasr al-Farabi (961 M), karyanya lebih dari 12 buku. Dijuluki al-Mua’llimuts Tsani ( the second teacher), guru kedua, sedang guru pertama bidang filsafat adalah Aristoteles.
·         Ibnu Sina, terkenal dengan Avicenna (980-1037 M), menghidupkan kembali filsafat Yunani aliran Aristoteles dan plato.
·         Ibnu Tufail (w. 581 H), penulis buku novel filsafat Hayy bin Yaqzan.
·         Al-Gazali (1058-1111 M), dijuluki Hujjatul Islam. Karyanya antara lain: Maqasid al-Falsafiyyah, Tahafut al-falsafiyyah, dan Ihya Ulumuddin.
·         Ibnu Rusyd dikenal dengan Averros (1126-1198 M), seorang filosof, dokter, dan ulama. Karyanya antara lain: Mabadi al-Falsafiyyah, Tahafut al-Tahafut al-Falsafiyyah, al-Kuliah fi al-Tib , dan Bidayah al-Mujtahid.

b. Ilmu Kedokteran.
Diantara ahli kedokteran ternama saat itu adalah:[8]
·         Ibnu Sina (Avicenna)
Karyanya yang terkenal adalah al-Qanun fi al-Tib tentang teori dan praktik ilmu kedokteran serta membahas pengaruh obat-obatan. Kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa, Canon of Medicine.
·         Abu Bakar ar-Razi (Rhazez) (864-932 M)
Dikenal sebagai “ Galien Arab”. Tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles, penulis buku mengenai kedokteran anak.
c.  Matematika
Terjemahan buku-buku asing ke dalam bahasa Arab, menghasilkan karya-karya dalam bidang matematika. Di antara ahli matematika yang terkenal adalah al-Khawarizmi. Al-Khawarizmi adalah pengarang kitab al-Jabar wal Muqabalah (ilmu hitung), dan penemu angka nol. Sedangkan angka lain: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 0 disebut angka arab karena diambil dari Arab. Sebelumnya dikenal angka Romawi I, II, III, IV, V dan seterusnya. Tokoh lain adalah Abu al-Wafa Muhammad bin Muhammad bin Ismail bin al-Abbas (940-998) terkenal sebagai ahli ilmu matematika.
     d.  Farmasi
Di antara ahli farmasi pada masa dinasti Abbasiyah adalah:
·         ibnu Baithar, karyanya yang terkenal adalah al-Mughni (berisi tentang obat-obatan),
·         Jami al-Mufradat al-Adawiyah (berisi tentang obat-obatan dan makanan bergizi).
      e. Ilmu Astronomi
Kaum muslimin mengkaji dan menganalisis berbagai aliran ilmu astronomi dari berbagai bangsa seperti Yunani, India, Persia, Kaldan, dan ilmu falak Jahiliah. Di antara ahli astronomi Islam adalah:
·         Abu Mansur al-Falaki (w. 272 H). karyanya yang terkenal adalah Isbat al-Ulum dan Hayat al-Falak.[9]
·         Jabir al-Batani (w.319 H). al-Batani adalah pencipta teropong bintang pertama. Karyanya yang terkenal adalah kitab Ma’rifat Mathiil Buruj Baina Arbai al-Falak.
·         Raihan al-Biruni (w.440). karyanya adalah al-Tafhim li awal as-Sina al-Tanjim.
f.  Geografi
Dalam bidang geografi umat Islam sangat maju, karena sejak semula bangsa Arab merupakan bangsa pedagang yang biasa menempuh jarak jauh untuk berniaga. Di antara wilayah pengembaraan umat Islam adalah umat Islam mengembara ke Cina dan Indonesia pada masa-masa awal kemunculan Islam.
Di antara tokoh ahli geografi yang terkenal adalah:
1)  Abul Hasan al-Mas’udi (w.345 H/956 M), seorang penjelajah yang mengadakan perjalanan sampai Persia, India, Srilanka, Cina, dan penulis buku Muruj al-Zahab wa Ma’adin al-Jawahir.
2)  Ibnu Khurdazabah (820-913 M) berasal dari Persia yang dianggap sebagai ahli geografi Islam tertua. Di antara karyanya adalah Masalik wa al-Mamalik, tentang data-data penting mengenai sistem pemerintahan dan peraturan keuangan.
3)  Ahmad el-Yakubi, penjelajah yang pernah mengadakan perjalanan sampai ke Armenia, Iran, Mesir, Maghribi, dan menulis buku al-Buldan.
4)   Abu Muhammad al-hasan al-Hamadani (w.334 H/946 M), karyanya berjudul Sifatu Jazirah al-Arab.
         g. Sejarah
Masa dinasti Abbasiyah banyak muncul tokoh-tokoh sejarah. Beberapa tokoh sejarah antara lain:[10]
·         Ahmad bin Ya’kubi (w.895 M) karyanya adalah al-Buldan (negeri-negeri), al-Tarikh (sejarah).
·         Ibnu Ishaq.
·         Abdullah bin Muslim al-Qurtubah (w.889 M), penulis buku al-Imamah wa al-Siyasah, al-Ma’arif, Uyunul Ahbar, dan lain-lain.
·         Ibnu Hisyam.
·         Al-Tabhari (w.923 M), penulis buku kitab al-Umam wa al-Muluk.
·         Al-Maqrizi
·         Al-Baladzuri (w.892 M), penulis buku-buku sejarah.
h. Sastra
Dalam bidang sastra, Baghdad merupakan kota pusat seniman dan sastrawan. Para tokoh sastra antara lain:
1) Abu Nawas, salah seorang penyair terkenal dengan karya cerita humornya.
2) Al-Nasyasi, penulis buku alfu lailah wa lailah (the Arabian night), adalah buku cerita sastra Seribu satu Malam yang sangat terkenal dan diterjemahkan ke dalam hampir seluruh bahasa dunia.[11]
F.     Faktor-Faktor yang Memepengaruhi Ketinggian Peradaban
Kemajuan ilmu pengetahuan dan lembaga pendidikan di masa Dinasti Abbasiyah paling tidak ditentukan oleh dua hal yaitu:
1.   Terjadinya asimilasi antara bahasa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu filsafat dan sastra. Bangsa India terlihat dalam bidang ilmu kedokteran, matematika, dan astronomi. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan di berbagai bidang ilmu, terutama filsafat.
2.      Gerakan penerjemahan berlangsung dalam tiga fase.
·         Fase pertama, pada masa khalifah al-Manshur hingga Harun al-Rasyid. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan mantiq.
·         Fase kedua, pada masa al-Makmun hingga tahun 300 H. Buku-buku dalam bidang filsafat dan kedokteran adalah yang paling banyak diterjemahkan.
·         Fase ketiga, berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas. Selanjutnya bidang-bidang ilmu lainnya yang diterjemahkan semakin meluas.
Dengan demikian, Dinasti Abbasiyah dengan pusatnya di Baghdad sangat maju sebagai pusat peradaban dan pusat ilmu pengetahuan.
G.    Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Kemunduran Dinasti Abbasiyah
Kebesaran, keagungan, kemegahan, dan gemerlapnya Baghdad sebagai pusat pemerintahan dinasti Abbasiyah seolah-olah hanyut dibawa sungai Tigris, setelah kota itu dibumihanguskan oleh tentara Mongol di bawah Hulaggu Khan pada tahun 1258 M. semua bangunan kota termasuk istana emas tersebut dihancurkan pasukan Mongol, meruntuhkan perpustakaan yang merupakan gedung ilmu, dan membakar buku-buku yang ada di dalamnya. Pada tahun 1400 M, kota ini diserang pula oleh pasukan Timur Lenk, dan pada tahun 1508 M oleh tentara Kerajaan Safawi.
Menurut W. Montgomery Watt, bahwa beberapa factor yang menyebabkan kemunduran pada masa daulah Bani Abbasiyah adalah sebagai berikut.
·         Luasnya wilayah kekuasaan daulah Abbasiyah, sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. Bersamaan dengan itu, tingkat saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintah sangat rendah.
·         Dengan profesionalisme angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi.
·         Keuangan Negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk bayaran tentara sangat besar. Pada saat kekuasaan militer menurun, khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak ke Baghdad.
Sedangkan menurut DR. Badri Yatim, M.A. di antara hal yang menyebabkan kemunduran daulah Bani Abbasiyah adalah sebagai berikut.[12]
1.      Persaingan antara bangsa
Khilafah Abbasiyah didirikan oleh bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. Keduanya sama-sama tertindas. Setelah dinasti Abbasiyah berdiri, Bani Abbasiyah tetap mempertahankan persekutuan itu. Pada masa ini persaingan antarbangsa menjadi pemicu untuk saling berkuasa. Kecenderungan masing-masing bangsa unutk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyah berdiri.
2.      Kemerosotan Ekonomi
Khilafah Abbasiyah juga mengalami kemunduran di bidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbasiyah merupakan pemerintah yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari pada yang keluar, sehingga Baitul Mal penuh dengan harta. Setelah khilafah mengalami periode kemunduran, pendapatan Negara menurun, dan dengan demikian terjadi kemerosotan dalam bidang ekonomi.
3.      Konflik keagamaan
Pada periode Abbasiyah, konflik keagamaan yang muncul menjadi isu sentra sehingga mengakibatkan terjadi perpecahan. Berbagai aliran keagamaan seperti Mu’tazilah, Syi’ah, Ahlus sunnah, dan kelompok-kelompok lainnya menjadikan pemerintahan Abbasiyah mengalami kesulitan untuk mempersatukan berbagai faham keagamaan yang ada.
4.      Munculnya dinasti-dinasti kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang berkepanjangan.
5.      Perang Salib
Perang salib merupakan sebab dari eksternal umat Islam. Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang banyak menelan korban. Konsentrasi dan perhatian pemerintahan Abbasiyah terpecah belah untuk menghadapi tentara Salib sehingga memunculkan kelemahan-kelemahan.[13]

6.      Serangan Bangsa Mongol (1258 M)
Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam menyebabkan kekuatan Islam menjadi lemah, apalagi serangan Hulagu Khan dengan pasukan Mongol yang biadab menyebabkan kekuatan Abbasiyah menjadi lemah dan akhirnya menyerah kepada kekuatan Mongol.
H.    Akhir Kekuasaan Dinasti Abbasiyah
Baghdad dihancurkan dan diratakan dengan tanah. Pada mulanya Hulagu Khan mengirim suatu tawaran kepada  Khalifah Bani Abbasiyah yang terakhir Al-Mu'tashim billah untuk bekerja sama menghancurkan gerakan Assassin. Tawaran tersebut tidak dipenuhi oleh khalifah. Oleh karena itu timbullah kemarahan dari pihak Hulagu Khan. Pada bulan september 1257 M, Khulagu Khan melakukan penjarahan terhadap daerah Khurasan, dan mengadakan penyerangan didaerah itu. Khulagu Khan memberikan ultimatum kepada khalifah untuk menyerah, namun khalifah tidak mau menyerah dan pada tanggal 17 Januari 1258 M tentara Mongol melakukan penyerangan.
Pada waktu penghancuran kota Baghdad, khalifah dan keluarganya dibunuh disuatu daerah dekat Baghdad sehingga berakhirlah Bani Abbasiyah. Penaklukan itu hanya membutuhkan beberapa hari saja, tentara Mongol tidak hanya menghancurkan kota Baghdad tetapi mereka juga menghancurkan peradaban ummat Islam yang berupa buku-buku yang terkumpul di Baitul Hikmah hasil karya ummat Islam yang tak ternilai harganya. Buku-buku itu dibakar dan dibuang ke sunagi Tigris sehingga berubah warna air sungai tersebut, dari yang jernih menjadi hitam kelam karena lunturan air tinta dari buku-buku tersebut.[14]

I.       KESIMPULAN
Bani Abbasiyah merupakan masa pemerintahan ummat Islam yang merupakan masa keemasan dan kejayaan dari peradaban ummat Islam yang pernah ada. Pada masa Bani Abbasiyah kekayaan negara melimpah ruah dan kesejahteraan rakyat sangat tinggi. Pusat peradaban Islam mengalami kemajuan yang pesat sehingga pada masa ini  banyak muncul para tokoh ilmuan dari kalangan Ummat Islam
Namun diakhir pemerintahan Khalifah Bani Abbasiyah, Islam mengalami keterpurukan yang sangat parah. Hal ini disebabkan dari serangan tentara Mongol yang telah mengahncurkan pusat peradaban Ummat Islam di Baghdad dan mengahancurkan Pusat ilmu pengetahuan yaitu Baitul Hikmah, yang berisi buku-buku karangan pakar ilmu ummat Islam yang tak ternilai harganya

DAFTAR PUSTAKA

Munir, Amin.  Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah. 2010
Abdul, Karim. Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher. 2007
Badri, Yatim. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 1993
Maidir dan Firdaus. Sejarah Peradaban Islam jilid II. Padang : IAIN-IB Press. 2001


[1] Munir, Amin.  Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah. 2010
[2] Munir, Amin.  Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah. 2010
[3] Munir, Amin.  Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah. 2010
[4] Abdul, Karim. Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher. 2007
[5] Abdul, Karim. Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher. 2007
[6] Badri, Yatim. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 1993
[7] Badri, Yatim. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 1993
[8] Badri, Yatim. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 1993
[9] Badri, Yatim. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 1993
[10] Badri, Yatim. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 1993
[11] Badri, Yatim. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 1993
[12] Maidir dan Firdaus. Sejarah Peradaban Islam jilid II. Padang : IAIN-IB Press. 2001
[13] Maidir dan Firdaus. Sejarah Peradaban Islam jilid II. Padang : IAIN-IB Press. 2001
[14] Maidir dan Firdaus. Sejarah Peradaban Islam jilid II. Padang : IAIN-IB Press. 2001

MAKALAH TEORI PERSAINGAN DALAM ETIKA BISNIS ISLAM


MAKALAH TEORI PERSAINGAN DALAM ETIKA BISNIS ISLAM 
BAB 1
TEORI PERSAINGAN DALAM ETIKA BISNIS ISLAM

A.      Berusaha lebih unggul
Pemasaran tidak akan pernah lepas dari unsur persaingan. Persaingan adalah usaha-usaha dari 2 pihak/lebih perusahan yang masing-masing bergiat “memperoleh pemesanan” dengan menawarkan harga /sayart yang paling menguntungkan. Secara umum persaingan bisnis adalah persetujuan atau rivalitas antara pelaku bisnis yang baik dengan kualitas barang atau jasa yangg baik. Dalam dunia persaingan usaha dikenal dengan dinamika persaingan yang terjadi pada perusahan dalam memperebutkan pelanggan pada periode-periode tertentu.
Oleh karena itu perusahan haru mampu untuk menjalin hubungan yang akrab antara perusahan dengan masyarakat yang menjadi konsumen bagi peroduk-peroduk yang dijhasilkan dan dipasarkan. Hubungan yang baik antar perusahan dengan konsumennya aakan mendatangkan keuntungan bagi kedua belah pihak. Masyarakat yang menggunakan barang hasil peroduk prusahan itu akan memperoleh dalam bentuk mendapatkan barang, sebagi pemenuhan kebutuhan dengan kualitas yang baik, sedangkan perusahan memperoleh keuntungan dengan bentuk diperolenya penghasilan. Pemasaran merupakan kegiatan yang berupa penentuan jenis produk yang dihasilkan, jumlah yang harus dipasarkan, harga yang ditetapkannya, cara penyalurannya, bentuk promosinya dan sebagainya.[1]
 Manajemen harus menetapkan siapa yang harus bertanggung jawab atas pekerja tertentu kita dapat membayangkan betapa sulitnya menetapkan siap yang harus bertanggung jawab hulangnya persedianbarang dagang jika tidakada seorang punsecar spesif ditugaskan untuk menjaga persedian secara fisis atau juka dibebani tanggung jawab untuk mejaga persedian lebih dari satu orang kariawan. [2] Salah satu indikator untuk berusaha lebih unggul adalah tenaga kerja bekerja melakukan kegiatan dengan maksut memperoleh atau membentuk memperoleh penghasilan atau keuntungan selam paling sedikit satu jam dalam satu minggu yang lalu.[3] 
1.    Hubungan perodusen dan konsumen
Perodusen adalah suatu bisnis yang ngekhususkan diri dalam proses membuat peroduksi. Peroduksi atau manufakturing adalah yang dilakukan oleh perodusen yang merupakan aktivitas fungsional yang mesti dilakukan oleh setiap perusahan. Adapun konsumen merupakan stakehoder yang hakiki dalm bisnis moderen. Bisnis tidak akan berjalan tanpa adanya konsumen yang menggunakan produk atau jasa yang ditawarkan oleh produsen. Secara formal hubungan antara produsen dan konsumen bukanlah termasuk hubungan kontraktual, yaitu hak yang ditimbulkan dan dimiliki oleh seseorang ketika memasuki sebuah perjanjian dengan pihak lain.
2.    Pasar Bebas
Pasar bebas merupakan perkembangan dari pasar lokal dan nasional yan gtidak mengenal keterbatasan tertentu.
Dalam implementasinya walaupun dalam pasar bebas terkesan adanya kebebasan antar kompetitor dalam memasarkan komoditas yang dimiliknya, tetapi bukan berarti kebebasan yang tiada terbatas. Kebebasan di sini dalam pengertian bahwa secara sadar dan tanpa adanya paksaan pada pelaku bisnis mengoptimalkan upaya-upaya bisnisnya.
3.    Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dan Good Corporate Governance
Tanggung jawab sosial perusahaan merupakan tema yang terus berkembang dalam dunia bisnis. Lebih jauh tanggung jawab sosial perusahaan secara luas terkait erat dengan tuntutan pembangunan pemerintahan yang bersih. Dalam hubungan ini etika bisnis memberikan tuntutan agar dalam proses produksi yang berkesinambungan untuk memperoleh tujuan ekonomis, tidak melalaikan hukum yang telah ditetapkan sebagai proteksi tidak terjadinya penyelewengan wewenang dan kekuasaan pemerintah dalam hubungannya dengan upaya meningkatkan GNP misalnya.
Tuntutan tersebut diharapkan pelaksaan sistem dan proses baik dalam perusahaan maupun pemerintahan dan hubungan keduanya dilakukan secara terbuka dan tidak memberikan peluang sedikitpun bagi munculnya praktek-praktek korupsi, kolusi dan nepotisme.
4.    E- Business
E- Business adalah model bisnis yang menekankan pertukaran inormasi dan transaksi bisnis bersifat paperless. Perkembangan yang pesat dalam model bisnis ini ditunjang oleh tiga faktor pemicu utama, yaitu pertama, faktor pasar dan ekonomi seperti kompetisi yang semakin intensif, perekonomian global, kesepakatan dagang regionaldan keuasaan konsumen yang semakin besar,Kedua, faktor sosial dan lingkungan seperti perubahan karakteristik. Ketiga, faktor teknologi, inovasi yang muncul setiap saat.[4]
B.       Kompotensi non  etis
Berdasar pada arti estimologi kompetensi diartikan sebagai kemampuan yang kemampuan yang dibutuhkan dibutuhkan untuk melakukan atau untuk melakukan atau melaksanakan pekerjaan melaksanakan pekerjaan yang dilandasi oleh pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja. Sehingga dapatlah dirumuskan bahwa kompetensi diartikan sebagai kemampuan kemampuan seseorang seseorang yang dapat yang dapat terob servasi terob servasi mencakup atas pengetahuan, keterampilan dan sikap kerjadalam dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas sesuaisesuaidengan standardengan standar performa performa yang ditetapkanyang ditetapkan.
 Pengertian Standar Standar Kompetensi-Kompetensi Berdasar pada arti bahasa, standar kompetensi terbentuk atas kata standar dan kompetensi. Standar diartikan sebagai "ukuran" yang disepakati, sedangkan kompetensi telah didefinisikan sebagai kemampuan seseorang yang dapat terobservasi mencakup atas pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas sesuai dengan standar  performa  yang ditetapkan. Dengan demikian dapatlah disepakati bahwa standar kompetensi standar kompetensi merupakan kesepakatan--kesepakatan kesepakatan tentang kompetensi yang tentang kompetensi yang diperlukan diperlukan pada pada suatu suatu bidang bidang  pekerjaan pekerjaan oleh seluruh "stakeholder" di oleh seluruh "stakeholder" di bidangnya-bidangnya. Dengan kata lain, yang dimaksud dengan Standar Kompetensi adalah perumusan tentang kemampuan yang harus dimiliki seseorang untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan yang didasari atas pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja sesuaisesuai dengan dengan unjuk kerja yang unjuk kerja yang di persyaratkan-dipersyaratkan. Standar-Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia.[5]
Sifat non-etis artinya permasalahan yang dipersoalkan bukanlah buruk atau baiknya fakta tertentu, akan tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tsb secara analitis. Contoh : kajian sosiologis tentang anismisme dan dinamisme di masyarakat Islam pantai Utara Jawa.
Sebagai ilmu pengetahuan, sosiologi membahas suatu gejala sosial tanpa memperhatikan nilai baik -buruk persoalan yang sedang dikaji tersebut. pandangan terhadap bagaimana mengimplementasikan Revolusi Mental dalam keseharian, yakni dengan mengembangkan Kompetensi Etis. Dikaji dari berbagai aspek dan sudut pandang, melalui pendekatan ilmu komunikasi. Lengkap dengan indikator pengukurannya. Pembaca diharapkan tidak saja mampu memahami, mengukur dan mengasah kompetensi etisnya, tetapi juga mengkritisi perilaku yang bertentangan dengan etika.[6]
C.       Efek negatig monofpoli
Monopoli Secara etimologi, monopoli berasal dari bahasa Yunani, yaitu “monos”, yang artinya satu atau sendiri, dan “polein” yang artinya menjual atau penjual. Berdasarkan etimologi monopoli tersebut dapat diartikan bahwa monopoli adalah kondisi dimana hanya ada satu penjual yang menawarkan suatu barang dan jasa tertentu.Monopoli terbentuk jika hanya ada satu pelaku mempunyai control eksklusif terhadap pasokan barang dan jasa di suatu pasar, dan dengan demikian juga terhadap penentuan harganya.
Ajaran Islam membolehkan praktik monopoli yang dilakukan oleh negara, dengan syarat hanya terbatas pada bidang-bidang strategis yang menguasai hajat hidup orang banyak. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: "Manusia berserikat dalam tiga hal: air, api, dan padang rumput". Ke depan, diperlukan langkah-langkah strategis untuk mengelola investasi yang diharapkan dapat mengembangkan perekonomian nasional.
Monopoli membuat konsumen tidak mempunyai kebebasan memilih produk sesuai dengan kehendak dan keinginan mereka. Jika penawaran sepenuhnya dikuasai oleh seorang produsen, secara praktis para konsumen tidak punya pilihan lain. Dengan kata lain, mau tidak mau konsumen harus menggunakan produk satu-satunya itu.
Monopoli membuat posisi konsumen menjadi rentan di hadapan produsen. Ketika produsen menempati posisi sebagai pihak yang lebih dibutuhkan daripada konsumen, terbuka peluang besar bagi produsen untuk merugikan konsumen melalui penyalahgunaan posisi monopolistiknya. Antara lain, menjadi bisa menentukan harga secara sepihak, secara menyimpang dari biaya produksi riil.
Monopoli juga berpotensi menghambat inovasi teknologi dan proses produksi. Dalam keadaan tidak ada pesaing, produsen lantas tidak memiliki motivasi yang cukup besar untuk mencari dan mengembangkan teknologi dan proses produksi baru. Akibatnya, inovasi teknologi dan proses produksi akan mengalami stagnasi.[7]
1)      Ketidakadilan karena monopoli memperoleh keuntungan diatas keuntungan normal.
2)      Jumlah produksi ditentukan oleh monopolis sesuai dengan keuntungan yang ingin diperolehnya.
3)      Memproduksi output pada tingkat lebih rendah daripada output kompetitif (yang sesuai dengan permintaan konsumen).
4)      Mengenakan harga lebih tinggi daripada harga kompetitif.
5)      Terjadi eksploitasi monopolis terhadap pemilik faktor produksi dan konsumen.
6)       Praktek monopoli dapat memicu inflasi yang dapat merugikan masyarakat luas.
7)      Pelaku usaha dapat menetapkan harga barang secara seenaknya pada konsumen.
8)      Dapat menyebabkan eksploitasi daya beli konsumen dan tidak memberikan hak pilih terhadap konsumen.[8]
D.      Efek positif persaingan
Persaingan bisnis merupakan hal yang wajar di dunia perindustrian. Setiap perusahaan berlomba menawarkan berbagai macam keunggulan dan manfaat produk yang dipasarkannya dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan. Dalam menghadapi persaingan tersebut, manajemen perusahaan harus cerdik dalam menciptakan ikatan tertentu antara produk yang ditawarkannya dengan konsumen. Perusahaan dituntut untuk dapat menentukan strategi pemasaran yang tepat agar dapat bertahan dan memenangipersaingan, sehingga tujuan dari perusahaan tersebut dapat tercapai.
Setiap perusahaan harus bekerja keras untuk menciptakan kebijakan-kebijakan strategi baru dalam memasarkan produk barang dan jasa mereka terhadap konsumen. Pada dasarnya semakin banyak persaingan maka semakin banyak pula pilihan bagi pelanggan untuk dapat memilih produk yang sesuai dengan apa yang diharapkannya. Maka dari itu pelanggan akan lebih pintar dan cermat dalam menghadapi munculnya produk-produk baru. Pilihan produk konsumen berubah secara terus-menerus. Sebuah perusahaan harus mempunyai pengetahuan seksama tentang perilaku konsumen agar dapat memberikan definisi pasar yang baik untuk mengikuti perubahan yang konsisten dan terus-menerus ini, serta untuk merancang bauran pemasaran yang tepat.
Perilaku konsumen menggambarkan bagaimana konsumen membuat keputusan-keputusan pembelian dan bagaimana mereka menggunakan dan mengatur pembelian barang atau jasa ( Lamb dkk, 2001 ).Perusahaan yang berusaha memberikan kepuasan tertinggi bagikonsumen akan menetapkan strategi pemasaran yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pelanggan. Oleh karena itu perusahaan wajib melakukan studi atau penelitian yang bertujuan untuk memperoleh informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam melakukan keputusan pembelian terhadap suatu produk.Strategi pemasaran umumnya terdapat empat unsur yaitu product, price, promotion, place yang selalu berkembang seiring dengan perkembangan teknologi dan gerak perusahaan serta perubahan perilaku konsumen. Perilaku konsumen mempunyai peran yang sangat penting terhadap perumusan strategi pemasaran. Hal ini disebabkan karena strategi pemasaran menyangkut pemilihan pasar-pasar yang akan dijadikan sasaran pemasaran, serta merumuskan dan menyusun suatu kombinasi yang tepat dari marketing mixagar kebutuhan konsumen dapat dipenuhi secara memuaskan.
Perencanaan produk yang dihasilkan oleh perusahaan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan konsumen. Selain itu, produk yang dihasilkan harus mencerminkan kualitas yang baik. Hal tersebut agar sesuai dengan tujuan perusahaan yang mana produk yang dihasilkan dapat diterima dan sesuai dengan kebutuhan konsumen dan dapat memuaskan konsumen. Karena produk merupakan titik sentral dari kegiatan pemasaran, keberhasilansuatu perusahaan dapat diketahui dari respon yang ditunjukkan oleh konsumen. Karena persepsi [9]
UU No. 5 Tahun 1999 yang disusun untuk menegakkan aturan hukum dan memberikan perlindungan yang sama bagi setiap pelaku usaha dalam upaya untuk menciptakan persaingan usaha yang sehat, serta memberikan jaminan kepastian hukum untuk lebih mendorong percepatan pembangunan ekonomi dalam upaya meningkatkan kesejahteraan umum, 23 ternyata dalam implementasinya dirasakan kurang berjalan secara efektif. Kurang efektifnya implementasi dari UU No. 5 Tahun 1999 dikarenakan kelembagaan KPP yang kurang diatur secara jelas di dalam UU No. 5 Tahun 1999. KPPU, sebagai lembaga yang diamanati oleh UU No. 5 Tahun 1999 untuk mengawasi dan juga menegakkan UU No. 5 Tahun 1999, yang dapat dikatakan memiliki peranan penting dalam penegakan hukum persaingan usaha di Indonesia masih dipersoalkan kedudukannyakarena di dalam UU No. 5 Tahun 1999 tidak disebutkan bahwa KPPU adalah lembaga negara.
 Padahal tugas yang diamanatkan oleh UU No. 5 Tahun 1999 merupakan tugas yang diemban oleh suatu lembaga negara. Jika dibandingkan dengan pengaturan status lembaga negara yang lain, seperti dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran(UU No. 32 Tahun 2002)disebutkan secara eksplisit kedudukan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai lembaga negara. Pasal 1 angka 13 UU No. 32 Tahun 2002 menyatakan bahwa “Komisi Penyiaran Indonesia adalah lembaga negara yang bersifat independen yang ada di pusat dan di daerah yang tugas dan wewenangnya diatur dalam Undang-Undang ini sebagai wujud peran serta masyarakat di bidang penyiaran.” Pasal 7 ayat (2) UU No. 32 Tahun 2002 menyatakan bahwa “KPI sebagai lembaga negara yang bersifat independen mengatur hal-hal mengenai penyiaran.” Begitupun dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juga menyebutkan secara tegas mengenai kedudukan Komisi 23Penjelasan Undang-undang Bagian Umum Undang-undang No.5/1999.
17 Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai lembaga negara. Pasal 3 UU No. 30 Tahun 2002 menyebutkan bahwa “Komisi Pemberantasan Korupsi adalah lembaga negara yang dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya bersifat independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan manapun.” Kemudiandalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentangOmbudsman Republik Indonesia, di dalam Pasal 1 ayat (1) dikatakan bahwa “Ombudsman Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Ombudsman adalah lembaga negara yang mempunyai kewenangan mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik baik yang diselenggarakan oleh penyelenggara negera dan pemerintah termasuk yang diselenggarakan oleh Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, dan Badan Hukum Milik Negara serta badan swasta atau perseorangan yang diberi tugas menyelenggarakan pelayanan publik tertentu yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara dan/atau anggaran pendapatan dan belanja daerah.”Ketidakjelasankedudukan KPPU sebagai lembaga negara dalam UU No. 5 Tahun 1999.
membawa implikasi terhadap status kelembagaan KPPU yang belum terintegrasi dengan sistem kelembagaan dan kepegawaian nasional, meskipun pembiayaan operasional KPPU bersumber dari APBN. Sehingga sampai saat ini Anggota KPPU belum dianggap sebagai pejabat negara dan bahkan tidak pernah disumpah/ atau dilantik oleh Presiden/Mahkamah Agung meskipun di dalam UU No. 5 Tahun 1999 dikatakan dalam Pasal 31 ayat (2) bahwa: Anggota Komisi diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).[10]
Selain itu, kewenangan yang diberikan UU No. 5 Tahun 1999 kepada KPPU masih dianggap kurang mendukung tugas yang diamanahkan oleh UU No. 5 Tahun 1999 kepada KPPU, dimana KPPU selama ini mengalami kesulitan untuk mendapatkan bukti-bukti yang dibutuhkan di dalam proses pemeriksaan, dikarenakan selama ini bukti-bukti didapatkan KPPU tersebut sebagian besar .
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Pemasaran tidak akan pernah lepas dari unsur persaingan. Persaingan adalah usaha-usaha dari 2 pihak/lebih perusahan yang masing-masing bergiat “memperoleh pemesanan” dengan menawarkan harga /sayart yang paling menguntungkan. Secara umum persaingan bisnis adalah persetujuan atau rivalitas antara pelaku bisnis yang baik dengan kualitas barang atau jasa yangg baik.
B.  Saran
Mohon maaf apabila penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan dalam penyusunan makalah-makalah selanjutnya. Menyadari bahwa kami masih jauh dari kata sempurna, kedepannya kami penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas. 
DAFTAR PUSTAKA
Barthos basir, Manajemen Sumber Daya Manusia. Pt Bumi  Aksar, Jakarta13220,2004,H.17.
Eprints.walisongo.ac.id
Sondikin Slamen Sugiri, Akuntasi Pengamatan 2.Yojakarta55581.hlm. 2

MAKALAH IPA TERPADU


MAKALAH IPA TERPADU
SISTEM PERNAPASAN 


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pernapasan (respirasi) merupakan proses pengambilan oksigen, pengeluaran CO2, dan penggunaan  energy yang dihasilkan. Selain itu, respirasi juga diartikan sebagai pertukaran gas antara sel dengan lingkungannya.
System pernapasan pada manusia meliputi semua struktur yang menghubungkan udara masuk dan keluar dari paru-paru. Organ pernapasan utama berupa paru-paru, yang dibantu oleh organ-organ lain. Jalur pernapasan untuk menuju sel-sel tubuh adalah rongga hidung, faring, laring, trakea, bromkus,bronkiolus, alveolus dan paru-paru.

B.     Tujuan
1.      Untuk memenuhi tugas mata kuliah IPA Terpadu
2.      Untuk mengetahui pengertian system pernapasan manusia
3.      Unruk mengetahui konsep fisika dalam system pernapasan manusia
4.      Untuk mengetahui konsep kimia dalam system pernapasan manusia
5.      Untuk mengetahui konsep biologi dalam sistem pernapasan manusia
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Sistem Pernapasan Manusia
 Respirasi atau pernapasan merupakan pertukaran Oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2) antara sel-sel tubuh serta lingkungan. Semua sel mengambil Oksigen yang akan digunakan dalam bereaksi dengan senyawa-senyawa sederhana dalam mitokondria sel untuk menghasilkan senyawa-senyawa kaya energi, air dan karbondioksida.
Jadi, pernapasan juga dapat di artikan sebagai proses untuk menghasilkan energi. Pernapasan dibagi menjadi 2 macam, yaitu:
1.      Pernapasan Eksternal (luar) yaitu proses bernapas atau pengambilan Oksigen dan pengeluaran Karbondioksida serta uap air antara organisme dan lingkungannya.
2.      Pernapasan Internal (dalam) atau respirasi sel terjadi di dalam sel yaitu sitoplasma dan mitokondria.
   Sistem pernapasan terdiri atas saluran atau organ yang berhubungan dengan pernapasan. Oksigen dari udara diambil dan dimasukan ke darah, kemudian di angkut ke jaringan. Karbondioksida (CO2) di angkut oleh darah dari jaringan tubuh ke paru-paru dan dinapaskan ke luar udara.
Proses masuknya oksigen (O2 ) disebut inspirasi. Dan keluarnya karbon dioksida (CO2 ) disebut ekspirasi.

B.     Konsep Fisika Dalam Sistem Pernafasan Manusia
  Pernapasan merupakan proses pertukaran gas antara O2 dan CO2. Pernapasan merupakan kegiatan manusia yang sering dilakukan tanpa disadari. Pernapasan pada manusia mempunyai cara kerja yang berbeda dengan hewan dan tumbuhan. Cara kerja pernapasan manusia ternyata bisa kita pelajari menggunakan ilmu fisika. Dalam ilmu fisika setidaknya ada tiga hukum yang bisa menjelaskan tentang pernapasan yaitu, Hukum Dalton, Hukum Boyle, dan Hukum Laplace. Bagaima hukum-hukum tersebut menjelaskan tentang pernapasan, mari kita lihat penjelasan berikut ini:
1.      Hukum Dalton
Hukum ini menyatakan bahwa: “Tekanan parsial suatu komponen dalam campuran gas adalah tekanan dari komponen itu seaindainyasendirian mengisi seluruh volume gas yang tersedia”.
Maka dari, jumlah tekanan suatu campuran gas yang tidak reaktif dan bersifat ideal, adalah sama dengan jumlah tekanan persial suatu komponen gas. Misalnya dalam suatu ruangan terdapat udara dengan tekanan 1 atmosfir (760 mm-Hg). Jika dipindahkan seluruh molekul kecuali O2 maka O2 dalam udara tersebut 20%, berarti O2 memiliki tekanan 20% x 760 mm Hg = 152 mm-Hg. Demikian pula N2 = 610 Hg (80% dari 760 mm-Hg).
     Tekanan parsial uap air dipengaruhi oleh kelembaman. Suatu contoh udara ruangan mempengaruhi tekanan parsial 15-20 mm-Hg. Sedangkan di dalam paru-paru mempunyai tekanan 47 mm-Hg pada temperatur 370C dengan 1000C kelembaman. Dengan mempergunakan tekanan parsial dari hukum Dalton dapat dibuat daftar sebagai berikut:


 Pada waktu ekspirasi terakhir di dalam paru-paru selalu terdapat 30% volumyang disebut Fungsional Residual Capasit.
2.      Hukum Boyle
Hukum ini menyatakan bahwa: “Untuk suatu massa gas pada temperature konstan maka tekanan berbanding terbalik terhadap volumenya”. Sehingga dapat dinyatakan dengan persamaan:
PV= konstan (suhu dan massa tetap)
Apabila terjadi peningkatan volume maka akan diikuti dengan penurunan tekanan, demikian juga sebaliknya. Untuk mengetahui hubungan tekanan (P) terhadap volume (V) dapat dilihat pada grafik 1.


Grafik  Hubungan Tekanan (P) terhadap Volume (V)

Pada saat inspirasi volume paru-paru meningkat, sedangkan tekanan intrapleura mengalami penurunan.
Pada waktu inspirasi jumlah volume udara dalam paru-paru meningkat sedangkan pada waktu ekspirasi jumlah volume udara paru-paru menurun.

Grafik Volume paru-paru vs waktu pada saat inspirasi dan ekspirasi
3.      Hukum Laplace
Hukum ini menyatakan bahwa: "Tekanan pada gelembung alveoli berbanding terbalik terhadap radius dan berbanding lurus terhadap tegangan permukaan".
https://latex.codecogs.com/gif.latex?\fn_cm&space;\small&space;P=\frac%7b4\gamma&space;%7d%7bR%7d

P = tekanan (mm-Hg)
R = jari-jari (cm)
https://latex.codecogs.com/gif.latex?\fn_cm&space;\small&space;\gamma = tegangan permukaan (dyne/cm)

C.     Konsep Kimia Dalam, Sistem Pernapasan Manusia
Saat ini ilmuwan memahami bahwa proses respirasi menghasilkan energi yang dibutuhkan oleh tubuh. Energi ini berasal dari proses oksidasi zat seperti protein dan karbohidrat. Reaksi kimia ini memerlukan oksigen dan reaksi tersebut terjadi di mitokondria di dalam sel selama proses pernafasan. Oksigen ini didapat dari paru-paru dan diantar ke jaringan menggunakan hemoglobin didalam sel darah merah. Akhirnya, tubuh mengeluarkan karbondioksida melalui paru-paru lagi.
Di tahun 1784, Lavoisier dan ahli matematika-astronomi Simon de Laplace membuat alat untuk mengukur produksi panas dan karbondioksida dari marmut. Lavoisier menemukan bahwa  jumlah panas dan “fixed air” (yang dikenal sekarang sebagai karbondioksida) yang diproduksi dari hewan sama besar dengan konversi oksigen menjadi karbondioksida. Dengan kata lain, bangsa binatang atau manusia menghimpun energi mereka dari proses pembakaran.
Dia beralasan bahwa  respirasi dan memproduksi gas yang sama pada pembakaran yang diibaratkan seperti pada lilin. Pada tubuh manusia, bakan bakar respirasi diisi ulang oleh makanan. Lavoisier juga menunjukkan bahwa tubuh manusia mengkonsumsi oksigen lebih banyak ketika berolahraga daripada saat istirahat. Lavoisier juga menyelidiki komposisi air serta udara. Beliau menyiratkan jikalau komponen air ialah oksigen serta hidrogen, serta udara itu ialah suatu campuran dari gas nitrogen serta oksigen.
Dengan Ahli kimia Perancis Claude-Louis Berthollet, AntoineFourcroy serta GuytondeMorveau, Lavoisier menyusun tatanama kimia. Sebuah sistem penamaan yang menggambarkan komposisi campuran kimiawi. Lavoisier menguraikannya dalam teknik mengenai Tatanama Kimia terhadap tahun 1787. Sistem ini memudahkan komunikasi penemuan antar ahli kimia dari latar belakang yang berbeda-beda dan sampai saat ini masih dipakai.
Sedihnya, Lavoisier kehilangan kepalanya karena guillotine pada Revolusi Perancis. Dia dicurigai dan ditangkap, bersama dengan dua puluh tujuh anggota FermeGeneralae , organisasi yang berkecimpung di dunia pajak. Tanggal 8 Mei 1794 kedua puluh tujuh orang itu diadili, dinyatakan bersalah dan dipenggal kepalanya. Mengutip yang dikatakan Joseph Louis Lagrange, “Hanya perlu sekejap untuk memenggal kepala Lavoisier, namun seratus tahun pun mungkin tidak bisa melahirkannya kembali.”

D.    Konsep Biologi dalam Sistem Pernapasan
Respirasi dalam biologi adalah proses mobilisasi energi yang dilakukan jasad hidup melalui pemecahan senyawa berenergi tinggi (SET) untuk digunakan dalam menjalankan fungsi hidup. Resprirasi juga sering disebut dengan proses bernafas, yaitu proses menghirup Ountuk proses pembakaran dalam tubuh dan mengeluarkan zat sisa CO2. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju respirasi antara lain aktivitas tubuh, ukuran tubuh, jenis kelamin, suhu tubuh dan posisi tubuh.
Faktor pertama yaitu aktivitas, semakin banyak aktivitas energi yang dibutuhkan semakin besar menyebabkan laju pembakaran meningkat sehingga jumlah O2 yang harus dihirup meningkat pula dan akhirnya laju respirasi meningkat (Wilson, 1997).
Faktor kedua yaitu ukuran tubuh, semakin besar ukuran tubuh dan berat badan seseorang maka kebutuhan Olebih banyak sehingga laju pernafasan meningkat dan kadar CO2­ yang dihasilkan meningkat pula.
Faktor ketiga yaitu jenis kelamin, pria lebih banyak mempunyai Hb yang lebih besar daripada wanita sehingga O2 yang dibutuhkan lebih besar dan berarti kadar COyang dihasilkan semakin banyak.
Faktor keempat adalah umur, semakin bertambah umur kadar O yang dibutuhkan semakin besar. Faktir kelima yaitu suhu tubuh, semakin tinggi suhu tubuh maka laju respirasi semakin cepat yang berkaitan dengan metabolism (Wilson, 1997). Selain itu, gaya hidup juga berpengaruh pada laju respirasi.
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
 Respirasi atau pernapasan merupakan pertukaran Oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2) antara sel-sel tubuh serta lingkungan. Semua sel mengambil Oksigen yang akan digunakan dalam bereaksi dengan senyawa-senyawa sederhana dalam mitokondria sel untuk menghasilkan senyawa-senyawa kaya energi, air dan karbondioksida. Jadi, pernapasan juga dapat di artikan sebagai proses untuk menghasilkan energi. Pernapasan dibagi menjadi 2 macam, yaitu:
1.      Pernapasan Eksternal (luar) yaitu proses bernapas atau pengambilan Oksigen dan pengeluaran Karbondioksida serta uap air antara organisme dan lingkungannya.
2.      Pernapasan Internal (dalam) atau respirasi sel terjadi di dalam sel yaitu sitoplasma dan mitokondria.
Laju respirasi dipengaruhi oleh banyak faktor seperti aktivitas, umur, jenis kelamin, , suhu tubuh dan gaya hidup dan semakin cepat laju respirasi maka kadar CO2 yang dihasilkan semakin banyak.

B.     Saran
1.      Perlu adanya usaha usaha untuk  mencegah sistem respirasi pada manusia yang rentan terhadap penyakit pernapasan.
2.      Menyadari bahwa sistem respirasi berkaitan dengan lingkungan.
3.      Penulisan makalah ini tidak luput dari kesalahan dan kekeliruan, oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun demi menyempurnakan makalah ini sangat diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Wilson, dkk.. Life Cells, Organism, Populations. Massachusetts : Sinaver Associates, inc. 1997
Haskas, Yusran..Buku Ajar Sistem Respirasi. Yogyakarta: Indomedia Pustaka. 2016
Khristiyono, SPM Biologi SMA dan MA Siap Tuntas Mneghadapi Ujian Nasional.Jakarta:Erlangga.2015

MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...