Sabtu, 06 Juli 2019

MAKALAH ILMU PENDIDIKAN ISLAM “Lembaga Pendidikan Islam”


MAKALAH
ILMU PENDIDIKAN ISLAM
“Lembaga Pendidikan Islam”
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Institusi berarti lembaga, yang dalam hal ini adalah lembaga pendidikan. Ada beberapa lembaga pendidikan yang sudah lazim kita kenal antara lain, keluarga sekolah (formal) dan badan- badan masyarakat (non formal), seperti instansi-instansi pemerintahan, kursus-kursus, rumah-rumah ibadah dan badan badan-badan masyarakat lainnya serta beberapa media massa.
Yang dimaksud dengan lembaga pendidikan islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik berdasar ajaran islam. Agar anak didik nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran agama islam. Agama yang telah diyakini nya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat kelak. 

B.       Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Lembaga Pendidikan Islam?
2.      Bagaimana Karakteristik dan Sifat Lembaga Pendidikan Islam?
3.      Bagaimana Problematika Lembaga Pendidikan Islam ?

C.      Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui Lembaga pendidikan islam
2.      Untuk mengetahui karakteristik dan sifat lembaga pendidikan
3.      Untuk memahami problematika Lembaga Pendidikan Islam 
BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Lembaga Pendidikan Islam
Yang dimaksud dengan lembaga pendidikan islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik berdasar ajaran islam. Agar anak didik nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran agama islam. Agama yang telah diyakini nya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.
Lingkup pendidikan agama pada lembaga pendidikan atau perguruan agama meliputi Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Madrasah Diniyah Pendidikan Guru Agama, Pesantren dan Perguruan Tinggi Agama Islam baik negri maupun swasta. Sebagian besar lembaga pendidikan agama berstatus swasta hanya 0,37% dari seluruh sekolah agama berstatus negeri dan hanya pada satu segi kehadiran sekolah-sekolah agama berakar pada hasrat masyarakat sendiri dan pada segi lain sekolah-sekolah agama negeri harus mempunyai fungsi keteladanan terhadap sekolah-sekolah agama swasta[1].
Salah satu hal penting dan perlu disimak dalam sejarah perkembangan  penyelenggaraan sekolah-sekolah agama ialah lahirnya Keppres No.34 tahun 1974 tentang tanggung jawab fungsional pendidikan dan latihan serta Inspres No.15 tahun 1974 tentang pelaksanaan Keppres No.34 tahun 1974. Di dalam nya dinyatakan antara lain sebagai berikut:
a)      Pendidikan agama islam ialah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikan nya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama islam serta menjadikanya sebagai pandangan hidup (way of life)
b)      Pendidikan agama islam ialah pendidikan yang dilaksanakan berdasar ajaran islam
c)      Pendidikan agama islam adalah pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama islam yang telah di yakini nya secara menyeluruh serta menjadikan ajaran agama islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.
Agama mengatur hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam, dan hubungan manusia dengan dirinya yang dapat menjamin keselarasan, keseimbangan, dan keserasian dalam hidup manusia, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat dalam mencapai kemajuan lahiriyah dan kebahagian rohaniyah.
Oleh karena agama islam sebagai dasar tata nilai merupakan penentu dalam perkembangan dan pembinaan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab, maka pemahaman dan pengalamannya dengan tepat dan benar di perlukan untuk menciptakan kesatuan bangsa. Bahan pendidikan bagi masing-masing pemeluknya berasal dari sumber-sumber agamanya masing-masing[2]. Pelaksanaan pendidikan agama dilakukan oleh pengajar yang menyakini, mengamalkan, dan menguasai bahan agama tersebut.
Madrasah ibtidaiyah adalah lembaga pendidikan yang tumbuh setelah masjid. Faktor yang menyebabkan tumbuh nya madrasah adalah karena masjid-masjid telah penuh dengan tempat-tempat belajar dan hal ini amat mengganggu aktivitas pelaksanaan ibadah sholat. Tumbuh dan berkembang nya madrasah di Indonesia tidak dapat di pisahkan dengan tumbuh dan berkembangnya ide-ide pembaruan di kalangan umat islam di tinjau dari segi tingkatanya madrasah dibagi menjadi:

     1.      Madrasah ibtidaiyah
Madrasah ibtidaiyah ialah lembaga pendidikan yang memberikan pendidikan pengajaran rendah serta menjadikan matapelajaran agama islam sebagi mata pelajaran dasar yang sekurang-kurangnya 30% di samping pendidikan umum. Maksud perkataaan 30% matapelajaran agama islam bukanlah di tujukan kepada isi mata pelajaran agama islam itu sendiri tetapi jumlah waktu yang di berikan untuk mata pelajaran agama 30% dari jumlah waktu yang tersedia di maing-masing madrasah. dengan kata lain, isi matapelajaran agama tetap 100% di berikan sebgaimana yang sudah biasa dilaksanakan selama ini, hanya waktu yang disediakan untuk menyajikan mata pelajaran agama tersebut 30% dari jumlah keseluruh waktu/jam pelajaran yang ada di masing-masing madrasah tersebut.
Tujuan umum madrasah ibtidaiyah adalah:

   1)      Memiliki sikap dasar sabagai seorang muslim yang bertakwa dan berakhlak mulia
   2)      Memiliki sikap dasar sebagai warga negara yang baik
   3)      Memiliki pengetahuan dasar tentang kesehatan, kesejahteraan keluarga dan kependudukan
   4)      Memiliki pengetahuan dasar tentang Bahasa Indonesia sebagai Bahasa nasional.
   5)      Memiliki pengetahuan dasar tentang Bahasa arab sebagai alat untuk memahami ajaran agama islam
   6)      Memiliki pengetahuan dasar tentang matematika dan ilmu pengetahuan alam.
   7)      Memiliki pengetahuan dasar tentang ilmu pengetahuan sosial.
    8)      Memiliki pengetahuan dasar tentang berbagai unsur kebudayaan nasional.

    2.      Madrasah tsanawiyah
            ialah lembaga pendidikan yang memberikan pendidikan dan pengajaran tingkat menengah pertama dan menjadikan mata pelajaran agama islam sebagai mata pelajaran dasar yang sekurang-kurangnya 30% di samping mata pelajaran umum.
Tujuan umum madrasah tsanawiyah ialah:
a.       Menjadi seorangmuslim yang bertqwa dan berakhlak mulia, menghayati dan mengamalkan ajaran agama nya.
b.      Menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat.
c.       Menjadi manusia yang berkepribadian yang bulat dan utuh, percaya pada diri sendiri, sehat jasmani dan rohani
d.      Memiliki pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang luas serta sikap yang di perlukan untuk melanjutkan pelajaran ke Madrasah Aliya atau ke sekolah lanjutan atas lainnya, atau untuk mendapat bekerja dalam masyarakat sambil mengembangkan diri guna mencapai kebahagiaan dunia akhirat
e.       Memiliki ilmu pengetahuan agama dan umum yang luas serta pengalama, keterampilan, dan kemampuan yang di perlukan untuk melanjutkan pelajaran ke madrasah Aliya atau sekolah lanjutan atas lainnya
f.       Memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas hidup nya dalam masyarakat dan berbakti kepada tuhan yang maha esa guna mencapai kebahagiaan dunia akhirat

    3.      Madrasah Aliyah
             ialah lembaga pendidikan yang memberikan pendidikan dan pengajaran tingkat menengah atas dan menjadikan mata pelajaran agama islam sebagai mata pelajaran dasar yang sekurang-kurangnya 30% di samping mata pelajaran umum.
 Tujuan madrassah Aliyah;
a)      Menjadi soerang muslim yang bertaqwa dan berakhlak mulia, menghayati dan mengamalkan ajaran agamanya.
b)      Menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat
c)      Menjadi manusia yang berkepribadian yang bulat dan utuh, percaya diri sendiri, sehat jasmani dan rohani
d)     Memiliki ilmu pengetahuan agama islam yang lebih luas dan sejarah kebudayaan islam
e)      Memiliki pengetahuan yang lebih luas tentang kewarganegaraan dan pemerintahan sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945

    4.      Madrasah diniyah
            ialah lembaga pendidikan dan pengajaran agama islam, yang berfungsi terutama untuk memenuhi hasrat orang tua agar anak-anaknya lebih banyak mendapat pendidikan agama islam.
Madrasah diniyah ini terdiri dari tiga tingkat:
a.       Madrasah diniyah awaliyah ialah madrasah diniyah tingkat permulaan dengan masa belajar 4 (empat) tahun dari kelas I sampai kelas IV dengan jumlah jam belajar sebanyak 18 jam pelajaran dalam seminggu.
b.      Madrasah diniyah wustha ialah Madrasah DIniyah tingkat menengah pertama dengan masa belajar 2 (dua) tahun dan kelas I sampai dengan kelas II dengan jumlah jam belajar sebanyak 18 jam pelajaran dalam seminggu.
c.       Madrasah diniyah ‘Ulya ialah madrasah diniyah tingkat menengah atas dengan masa belajar 2(dua) tahun dari kelas I sampai dengan II dengan jumlah jam belajar dalam seminggu.

   5.      Pendidikan Guru Agama Negeri
Yang biasanya disingkat PGAN ialah lembaga pendidikan sebgai sambungan dari madrasah tsanawiyah yang mempersiapkan siswa nya untuk menjadi guru agama pada sekolah dasar, sekolah luar biasa, guru agama/guru pada madrasah ibtidaiyah, dan Raudhatul Athfall. Tujuan dari PGAN:
a)      Memiliki pengetahuan tentang agama islam dan pengamalan nya
b)      Memiliki pengetahuan tentang Bahasa arab untuk memahami isi alqur’an dan hadist sebagai sumber ajaran agama islam
c)      Mengamalkan dan mengembangkan profesinya sebagai guru agama bertaqwa
d)     Memiliki kemampuan melaksanakan tugas hidupnya untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

    6.      Lembaga Pendidikan Pesantren
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang ada di Indonesia pesantren ini sendiri telah di kenal sejak zaman colonial. Pesantren adalah tempat para santri belajar ilmu agama islam. Kata pesantren berasal dari kata “santri”, artinya murid yang belajar agama islam. Disebut pesantren karena seluruh murid yang belajar atau thalabul ilmi di pesantren disebut dengan istilah santri.Tidak dikenal sebutan siswa atau murid.
Ada beberapa persyaratan-persyaratan pokok suatu lembaga pendidikan baru dapat di golongkan sebagai pesantren. Untuk itu perlu di lihat apabila telah mencukupi elemen-elemen pokok pesantren. Elemen-elemen pokok pesantren itu adalah :
1.      Pondok
Istilah pondok di artikan juga denga asrama. Dengan demikian, pondok mengandung makna sebagai tempat tinggal. Sebuah pesantren mesti memiliki asrama tempat tinggal santri dan kiai. Di tempat tersebut selalu terjadi komunikasi antara santri dan kiai. Ada beberapa alasan pokok sebab pentingnya pondok dalam satu pesantren, yaitu: pertama, banyaknya santri-santri yang berdatangan dari daerah yang jauh untuk menuntut ilmu kepada seorang kiai yang sudah termashur keahliannya. Kedua, pesantren-pesantren tersebut terletak di desa-desa dimana tidak tersedia perumahan untuk menampung santri yang berdatangan dari luar daerah. Ketiga, ada sikap timbal balik antara kiai dan santri, dimana santri mennganggap kiai adalah seolah-olah orang tuanya sendiri.
2.      Masjid
Masjid di artikan secara harfiah adalah tempat sujud karena di tempat itu setidak-tidaknya seorang muslim lima kali sehari semalam melaksanakan sholat. Fungsi masjid tidak saja untuk sholat, tetapi mempunyai fungsi lain seperti pendidikan dan lain sebagainya. Di zaman Rasulullah masjid berfungsi sebagai tempat ibadah dan urusan-urusan sosial kemasyarkatan serta pendidikan. Suatu pesantren mutlak memiliki masjid, sebab di situlah akan di langsungkan proses pendidikan dalam bentuk komunikasi belajar- mengajar antara kiai dan santri. Masjid sebagai pusat pendidikan Islam telah berlangsung sejak masa Rasulullah, dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin, Dinasti Bani Umayyah, Abbasiyah, dan Fathimiyah. Tradisi itu tetap di pegang oleh para kiai pemimpin pesantren untuk menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan. Kendatipun pada saat sekarang pesantren telah memiliki local belajar yang banyak untuk tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar, namun masjid tetap di fungsikan sebagai tempat belajar.
3.      Santri
Santri adalah siswa yang belajar di pesantren dan santri dalam penggunaannya di lingkungan pesantren adalah seorang alim yang menuntut ilmu agama,dan ia akan dapat disebuat kiai apabila memiliki pesantren dan santri tersendiri yang terpisah dari pesantren induknya. Santri ini dapat digolongkan kepada dua kelompok yaitu:
a)      Santri Mukim, yaitu santri yang berdatangan dari tempat-tempat yang jauh yang tidak memungkinkan dia untuk pulang kerumahnya, maka dia  di mondok(tinggal) di pesantren.
b)      Santri Kalong, yaitu santri yang berasal dari daerah sekitar yang memnungkinkan mereka pulang ketempat kediaman masing-masing. Santri Kalong ini mengikuti pelajaran dengan cara pulang pergi antara rumahnya dan pesantren.
4.       Kiai
 Kiai adalah tokoh sentral dalam satu pesantren, maju-mundurnya suatu pesantren ditentukan oleh wibawa dan kharisma sang kiai. Menurut asal-usulnya kiai dalam Bahasa Jawa dipakai untuk jenis gelar yang berbeda:
a)      Sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap keramat umpanya “kiai garuda kencana” dipakai untuk sebutan kereta yang ada di keratin Yogyakarta.
b)      Gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya.
c)      Gelar yang di berikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki pesantren dan mengajarkan kitab-kitab Islam klasik kepada santrinya.
5.      Pengajaran kitab-kitab Islam klasik
Kitab-kitab Islam klasik yang lebih popular dengan sebutan “kitab kuning”. Kitab-kitab ini di tulis oleh ulama-ulama Islam pada zama pertengahan. Kepintaran dan kemakhiran seorang santri diukur dari kemampuannya membaca, serta mensyarahkan(menjelaskan) isi kitab-kitab tersebut.  Untuk tahu membaca sebuah kitab dengan benar, seorang santri dituntut untuk mahir dalam ilmu-ilmu bantu, seperti nahu,saraf,balaghah, dan ma’ani bayan. Kitab-kitab klasik yang di ajarkan di pesantren dapat digolongkan kepada 8 kelompok: nahu/saraf, fikih,ushul fikih, hadis,tafsir, tauhid, tassawuf dan etika.
7.      Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri
Perguruan Tinggi Agama Islam negeri merupakan PTAIN yang dinegerikan dari Fakultas Agama Islam negeri Indonesia yang di atur dalam peraturan pelaksanannya diatur dalam pertauran bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan. Tujuan PTAIN adalah untuk memberi pengajaran tinggi dan menjadi pusat perkembangan dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang agama islam dan untuk tujuan tersebut di letakkan asas untuk membentuk manusia susila dan cakap serta mempunyai ke insyafan bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat Indonesia dan dunia umum nya atas dasar Pancasila,kebudayaan, kebanggaan Indonesia, dan kenyataan. PTAIN ini mempunyai jurusan tarbiyah, qadha, dan dakwah dengan lama belajar 4 tahun pada tingkat doctoral. Mata pelajaran agama di dampingi mata pelajarna umum terumata yang berkenaan dengan jurusan. Mahasiswa jurusan tarbiyah di perlukan pengetahuan umum mengenai ilmu pendidikan dan begitu juga jurusan lainnya di berikan pula pengetahuan umum yang sesuai dengan jurusanny[3]a.
    8.      Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Setelah PTAIN berusia kurang lebih 9 tahun maka lembaga pendidikan tinggi dimaksud telah mengalami perkembangan. Dengan perkembangan tersebut dirasakan bahwa tidak mampu menanmpung keluasan cakupan ilmuu-ilmu keislaman tersebut kalua hanya berada di bawah satu paying fakultas. Peranan perguruan tinggi agama khusunya PTAIN semakin dirasakan sebgai salah satu institusi pendalaman ajaran-ajaran islam dengan demikian maka peranan PTAIN dapat lebih di perluas cakupan nya. Setelah mengadakan sidang beberapakali, maka di sepakatilah bahwa PTAIN yang berkedudukan di Yogyakarta menjadi satu nama yaitu Institut Agama Islam Negri.
    9.      Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri
IAIN telah berdiri sendiri itu, berdasarka kebutuhan di berbagai daerah membuka cabang-cabang pila diluar IAIN induknya sehingga IAIN menjadi berkembang di berbagaindaerah, dalam perkembangan itu tidak dapat di hindarkan muculnya duplikasi fakultas. Untuk menyahuti jiwa dan peraturan yang berlaku, yakni untuk mengindari tidak terjadinya kejadian duplikasi fakultas. Maka fakultas-fakultas itu dipisahkan dari IAIN induknya. Setelah dipisahkan itu bernama lah lembaga STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam). Di tingkat institusi untuk membagi program kelompok keilmuan diaplikasikan dalam bentuk fakultas, sedangkan dalam sekolah tinngi penjabaran hanya pada jurusan.
   10.  Universitas Islam Negeri
Universitas Islam Negeri di awali sejak berdirinya UIN SYARIF HIDAYAHTULLAH Jakarta pada tahun 2002. Sesuai dengan namanya Universitas Islam Negeri berarti mengandung makna bahwa ilmu-ilmu yang dikembangkan tidak hanya ilmu-ilmu agama,tetapi telah dikembangkan keberbagai disiplin ilmu-ilmu lainnya yang tergolong ilmu-ilmu kealaman (natural science), ilmu-ilmu sosial(sosial science) dan ilmu humaniora. Dilihat dari sudut pandang Islam bahwa konsep Perguruan tinggi Islam itu yang ideal itu adalah  berbentuk Uvivesitas. Sebab, konverensi Islam Internasional tentang pendidikan telah mengungkapkan bahwa ilmu itu dalam pandangan islam terbagi kepda dua. Pembagian ilmu menurut pandangan Islam dibagi kepada dua bagian, yaitu pereunial knowledge dan acquired knowledge.[4]

B.     Karakter dan Sifat Lembaga dalam Pendidikan Islam
Wacana kelembagaan pendidikan Islam khususnya pada masa-masa awal merupakan persoalan yang sangat menarik untuk dikaji, hal ini setidaknya disebabkan oleh empat faktor. Pertama, lembaga pendidikan merupakan sarana yang strategis bagi proses terjadinya transformasi nilai dan budaya pada suatu komunitas sosial. Kedua, pelacakan eksistensi lembaga pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan dari proses masuknya Islam
       Ketiga, kemunculan lembaga pendidikan Islam dalam sebuah komunitas, tidak mengalami ruang hampa, tetapi senantiasa dinamis, baik dari fungsi maupun system pembelajaranya. Keempat kehadiran lembaga pendidikan Islam telah memberikan spectrum tersendiri dalam membuka wawasan dan dinamika intelektual Islam.
       Salah satu yang menjadi karaktristik dan  tujuan lembaga pendidikan Islam yang paling menonjol adalah pewarisan nilai-nilai ajaran agama Islam. Hal ini sangat beralasan mengingat aspek-aspek kurikulum yang ada menyajikan seluruhnya memasukan mata pelajaran agama Islam secara komprehensif dan terpadu (walaupun di sekolah-sekolah umum dipelajari juga mata pelajaran agama Islam tetapi tidak komprehensif dan mendalam) sementara di lembaga-lembaga pendidikan Islam kurikulum pendidikan agama Islam menjadi kosentrasi dan titik tekan.
Sifat yang terdapat pada diri pendidikan Islam menggambarkan dengan jelas posisi pendidikan Islam diantara jenis pendidikan-pendidikan yang lainnya. Namun dengan melihat kondisi yang ada saat ini, banyak tantangan yang harus dihadapi pendidikan Islam, dimana tantangan tersebut tidak hanya yang bersifat internal namun juga yang datangnya dari luar Islam sendiri, Muhaimin (2011). Tantangantantangan tersebut harus mampu dijawab setiap elemen yang ada dalam pendidikan Islam, mulai dari tingkat dasar hingga ke tingkat perguruan tinggi. Dengan perhatian yang serius, pendidikan Islam nantinya, dan agama Islam dalam artian secara luas, dapat diterima oleh semua orang di muka bumi ini.

C.     PROBLEMATIKA DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
            Pada tataran teoretis, tidak dapat diragukan bahwa pendidikan Islam yang mempunyai tujuan seperti yang banyak dinyatakan para pemikir muslim, identik dengan tujuan hidup manusia. Islam memiliki dimensi pembebasan. Melalui dimensi tersebut, Islam dianggap sebagai agama pembebasan dengan membawa pesan-pesan global tentang kesatuan kehidupan manusia di sisi Allah swt. Hal tersebut mengindikasikan bahwa Islam adalah agama yang menentang konsep kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan yang bersifat feodal-paternalistik. Sebab konsep kehidupan seperti ini akan mencabut manusia dari akar kemanusiaannya[5].
Demikian halnya pada dimensi pendidikan, Islam adalah promotor utama dalam mengeliminasi budaya yang tidak menguntungkan kehidupan manusia yang berasal dari perbuatan manusia dari institusi yang ada. Pendidikan Islam selain diharapkan mampu menghasilkan terbukanya pemikiran terutama realitas kehidupan, juga memiliki muatan yang mampu mensosialisasikan wawasan, sikap, dan perilaku manusia terhadap nilai-nilai Islam. Artinya, pendidikan Islam yang berorientasi pada penciptaan insan kamil, juga harus mempunyai parameter dalam konteks sosialnya. Oleh karena itu, integrasi kecerdasan, profesionalitas, serta moralitas kemanusiaan yang bermuara pada bentuk hubungan transendensi manusia pada Tuhannya harus menjadi acuan dalam pendidikan Islam.
Untuk mencapai hal tersebut, pengembangan pemikiran yang bersifat dialogis sangat diperlukan dalam pendidikan Islam. Pendidikan Islam tidak harus memerankan diri sebagai lembaga indoktrinasi keilmuan dan pengetahuan, tetapi juga dengan profesionalitasnya manusia selalu dipandang secara demokratis dengan pilihan-pilihan mandiri dalam hubungan yang positif dengan lingkungannya.
Namun dalam pengembangannya, pendidikan Islam sebagai lembaga dan proses pendidikan selalu mengalami hambatan-hambatan pokok terutama karena pergumulan penerapan politik pendidikan yang cenderung membedakan, perdebatan dikotomi ilmu pengetahuan yang tak kunjung selesai, sistem dan manajemen yang dinilai berkualitas rendah terutama terhadap tuntutan perubahan kurikulum hingga pada pandangan masyarakat yang memberi penilaian subyektif akan keberadaannya. Fenomena lemahnya lembaga pendidikan Islam tampaknya terkait pada kesenjangan yang semakin mendalam antara ‘Islam cita-cita’ dengan ‘Islam realita’.
Demikian pula halnya dengan pendidikan Islam yang dikemas dalam dunia pesantren dan madrasah. Dengan meminjam pendapat Husein Nasr, bahwa dunia tersebut adalah dunia tradisional Islam, yakni dunia yang mewarisi dan memelihara kontinuitas tradisi Islam yang dikembangkan ulama dari masa ke masa. Output lembaga pendidikan ini masih gamang degan perubahan sosial kemasyarakatan yang mengalami percepatan sehingga mengakibatkan pendidikan Islam kewalahan mengejar ketertinggalannya dari dunia pendidikan umum.
Kurang berhasilnya pendidikan Islam dalam menyikapi hal tersebut, diindikasikan dengan kelemahan yang melekat pada pelaksanaan pendidikan Islam di madrasah maupun di pesantren yang diidentifikasikan sebagai:
1.      Lembaga pendidikan yang kurang bisa mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi ‘makna’ dan ‘nilai’ atau kurang mendorong penjiwaan terhadap nilai-nilai keagamaan yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik. Dengan kata lain, pendidikan Islam selama ini lebih menekankan tujuannya pada aspek knowing (pengetahuan) dan doing (praktek) daripada aspek being (menjadi), yakni mengarahkan peserta didik menjalani hidup sesuai dengan ajaran nilai-nilai Islam yang telah dipelajarinya.
2.      Lembaga pendidikan yang kurang mampu berjalan dan bekerja sama dengan program-program pendidikan non-agama.
3.      Lembaga pendidikan yang kurang mempunyai relevansi terhadap perubahan sosial yan terjadi di masyarakat atau kurang ilustrasi konteks sosial budaya.
Dengan memperhatikan permasalahan realitas pendidikan Islam dan permasalahan kemasyarakatan kini dan di masa mendatang, penulis berpendapat bahwa lembaga pendidikan Islam tampaknya sangat perlu melakukan penyegaran, pembaruan atau reformasi yang strategis agar tidak lagi dikatakan tertinggal dari lembaga pendidikan umum. Islam membutuhkan lembaga pendidikan yang tangguh, berkualitas, dan berkemampuan tinggi untuk dapat memenuhi kebutuhan dan menjawab tantangan perubahan masyarakat global dengan berbagai problematika kehidupan modern-nya.
Begitulah realitas yang dihadapi dunia pendidikan Islam. Meski demikian, umat Islam tetap memiliki harapan bahwa pendidikan Islam dapat berbuat lebih banyak dalam peranannya ‘menciptakan’ manusia purna, yaitu manusia yang ‘bercitra Tuhan’ yang menjalankan fungsi kekhalifahannya dengan baik. Hal ini berkaitan erat dengan beban yang diemban lembaga pendidikan Islam yang mencakup aspek-aspek yang luas, meliputi dimensi intelektual, dimensi kultural, dimensi nilai-nilai transendental, dimenasi nilai-nilai keterampilan fisik, dan dimensi pembinaan kepribadian manusia.
Oleh karena itu dalam upaya mencari solusi yang tepat mengenai realitas dan pengembangan lembaga pendidikan Islam, maka terlebih dahulu dirumuskan bagaimana sebenarnya permasalahan dan tantangan yang dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam pada saat ini.
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Lembaga pendidikan merupakan salah satu sistem yang memungkinkan berlangsungnya pendidikan secara berkesinambungan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Tanggung jawab lembaga pendidikan dalam segala jenisnya menurut pandangan Islam adalah kaitannya dengan usaha mensukseskan misi dalam tiga macam tuntan hidup seorang muslim,yaitu: Pembebasan manusia dari ancaman api neraka, pembinaan umat manusia menjadi hamba Allah yang memiliki keselarasan dan keseimbangan hidup bahagia di dunia dan di akhirat, membentuk diri pribadi manusia yang memancarkan sinar keimanan. Salah satu pendukung untuk mengsukseskan pendidikan adalah lembaga pendidikan, lembaga pendidikan harus menjalankan perannya sebagaimana mestinya.
B.  Saran
Perlu adanya keseriusan dan kesungguhan para pendidik dalam semua tingkatan lembaga pendidikan sebagai usaha untuk pendewasaan diri yang optimal. Hendaknya masing-masing lembaga pendidikan menyadari akan tugas dan tanggung jawabnya dalam usaha turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.


DAFTAR PUSTAKA
Salim Agus. 2010. Ilmu Pendidikan Islam,Bandung: Pustaka Setia 
Putra Haidar . 2014. Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia
,Jakarta :Kharisma Putra Utama
Darajat Zakiyah,, 2000. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta .PT Bumi Aksara
Ungguh Jasa , 2015. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta :Rajawali Pers
Esha, Muhammad In’am. Istitusional Transformation, Reformasi dan Modernisasai Pendidikan Tinggi Islam Malang : UIN Malang Press,tt.


[1] Drajat zakiah ilmu pendidikan islam (Jakarta:Bumi aksara,2000) hlm 96-105
[2] Putra haidar Sejarah pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam di indonesia hlm 95-96
[3] Putra haidar Sejarah pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam di Indonesia hlm 127-128
[4] Jalim agus, ilmu pendidikan islam hlm 104-111

MAKALAH ILMU PENDIDIKAN ISLAM ‘’ METODE DALAM PENGAJARAN ISLAM ‘’


MAKALAH ILMU PENDIDIKAN ISLAM

‘’ METODE DALAM PENGAJARAN ISLAM ‘’

BAB I
PENDAHULUAN

     A.    Latar Belakang
Dalam pendidikan Islam, metode mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya mencapai tujuan, karena metode menjadi sarana untuk menyampaikan  materi pelajaran yang tersusun dari kurikulum pendidikan, sehingga dapat dipahami dan dan diserap oleh peserta didik.
Dalam pendidikan Islam, metode yang tepat guna bila mengandung nilai-nilai intrinsik dan ekstrinsik yang sejalan dengan materi pelajaran dan secara fungsional dapat dipakai untuk merealisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam tujuan pendidikan islam. Antara metode, kurikulum (materi), dan tujuan pendidikan Islam harus mengandung relevansi  pada prosesnya. Oleh karena itu, proses kependidikan Islam mengandung makna internalisasi dan transformasi nilai-nilai Islam dalam pribadi peserta didik dalam upaya membentuk kepribadian muslim yang beriman, bertaqwa dan berilmu pengetahuan yang amaliah yang mengacu pada tuntunan agama dan kebutuhan hidup bermasyarakat.
Selanjutnya, untuk menghasilkan out put (lulusan) pendidikan yang memiliki watak, karakter, serta moral maka pendidikan harus diproses dengan perencanaan yang jelas dan pasti sehingga dapat dikerjakan secara intensif, efektif, dan efisien.
    B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja metode yang terdapat dalam pendidikan islam?
2.      Sebutkan prinsip-prinsip metode pendidikan islam?
3.      Bagaimana penjelasan metode pendidikan islam menurut Al-Qur’an?
    C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui metode pendidikan islam.
2.      Untuk mengetahui prinsip-prinsip metode pendidikan islam.
3.      Untuk mengetahui pendidikan islam menurut Al-Qur’an.

BAB II
PEMBAHASAN

    1.      Metode Pendidikan Islam

Kata cara di dalam bahasa Inggris adalah kata way dan method, cara dapat mencakup makna lebih luas seperti strategi, seni, metode, dan metodologi. Selanjutya, strategi merupakan acuan dasar yang berkaitan dengan cara untuk mencapai tujuan. Seni mengajar adalah suatu cara yang membuat pembelajaran lebih indah, mengesankan, dan menyenangkan. Kemudian, metode adalah cara yang sudah teruji jika digunakan bagi objek pekerjaan tertentu yakni pembelajaran ang hasilnya akan lebih efektif dan efisien.
Dalam bahasa Arab, metode diterjemahkan dengan manhaj atau thariqah dan al-wasilah.Al-Thariqah berarti jalan, manhaj berarti sistem, dan al-wasilah yang berarti perantara.Dengan begitu, yang paling mendekati dengan arti dari metode adalah Al-Thariqah. Dan, secara leksikal, metode diartikan sebagi way of doing anything yaitu suatu cara yang ditempuh untuk mengerjakan sesuatu agar sampai pada suatu tujuan. Ahmad Tafsir memaknai metode dengan arti cara yang paling tepat dan cepat melakukan sesuatu. Menurut Abudin Nata, metode pendidikan islam mempunyai arti: Pertama, jalan untuk menanamkan pengetahuan agama pada diri seorang sehingga terlihat pada objek sasaran, yaitu pribadi yang islami; kedua, cara untuk memahami, menggali, dan mengembangkan ajaran Islam, sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.[1]

    2.      Prinsip-prinsip dalam pendidikan Islam
           
Dalam proses pendidikan Islam, metode mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya pencapaian tujuan, karena ia menjadi sarana dalam menyampaikan materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum. Tanpa metode suatu materi pelajaran tidak dapat diproses secara efisien dan efektif dalam kegiatan belajar mengajar menuju tujuan pendidikan.
            Metode pendidikan yang tidak efektif akan menjadi penghambat kelancaran proses belajar mengajar sehingga banyak tenaga dan waktu terbuang sia-sia. Oleh karena itu, metode yang diterapkan oleh seorang guru akan berdaya guna dan berhasil guna jika mampu dipergunakan dalam mencapai tujuan pendidikan yang terlah ditetapkan.
            Sebagai salah satu komponen operasional ilmu pengetahuan Islam, metode harus bersifat mengarahkan materi pelajaran kepada tujuan pendidikan yang hendak melalui proses tahap demi tahap, baik dalam kelembagaan formal maupun yang non formal ataupun informal. Dengan demikian menurut ilmu pendidikan Islam, suatu metode yang baik bila memiliki watak dan relevansi yang senada dengan tujuan pendidikan Islam itu.
            Ada tiga aspek nilai yang terkandung dalam ilmu pendidikan Islam yang hendak direalisasikan melalui metode yang mengandung watak dan relevansi tersebut.Pertama, membentuk anak didik menjadi hamba Allah yang mengabdi kepadanya semata.Kedua, bernilai edukatif yang mengacu kepada petunjuk Al-Qur’an. Ketiga, berkaitan dengan motivasi dan kedisiplinan sesuai dengan ajaran Al-Qur’an yang disebut pahala dan siksaan .
            Berikut akan dijelaskan prinsip prinsip metodologis yang dijadikan landasan psikologi dalam memperlancar proses pendidikan Islam.
a.                   Prinsip memberikan suasana kegembiraan
Prinsip ini dapat dijabarkan dari sabda Nabi Muhammad SAW. Kepada sahabat beliau yang diutus untuk melakukan dakwah kepada gubernur Romawi di Damaskus, yaitu Mu’azd Ibn Jabal dan Abu Musa al-Asy’ary, sebagai berikut :
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran” (QS. Al-Baqarah: 185)
Dan berbagai firman Allah yang menyuruh para pendidik untuk memberikan kegembiraan kepada orang-orang yang beriman orang yang sabar, orang-orang yang berbuat kebaikan dan sebagainya.Seperti firman-firmannya.

b.                  Prinsip memberikan layanan dan santunan dengan lemah lembut
Firman Allah : “Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya  kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari dari sekelilingmu. Karena itu maafkan lah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka...” (QS. Ali Imran: 159)

c.                   Prinsip kebermaknaan bagi anak didik
Sabda  Nabi Muhammad saw : “Berbicaralah kamu kepada manusia sesuai dengan kadar kamampuan akal pikiran mereka”.
Sabda Nabi diatas bersumber dari firman Allah : “Mereka itulah yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka”. (QS. Muhammad: 16)
  
d.                  Prinsip prasayarat
Untuk menarik minat manusia didik diperlukan mukadimah dalam langkah-langkah mengajar bahan-bahan yang dapat memadukan perhatian dan minat mereka kearah bahan tersebut. Pengalaman dan pengajaran yang telah diserap menjadi apersepsi dalam pikiran mereka dihubungkan dengan hal-hal yang baru yang hendak disajikan, merupakan jembatan yang menghubungkan pengertian-pengertian yang telah terbantuk dalam pikiran mereka sehingga akan mempermudah daya tangkap terhadap hal-hal baru yang diajarkan oleh guru.

e.                   Prinsip komunikasi terbuka
Guru mendorong manusia didik untuk membuka diri untuk segala hal atau bahan-bahan pelajaran yang disajikan mereka, sehingga mereka dapat menyerapnya menjadi bahan apersepsi dalam pikiran nya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an dalam QS. Al- A’raf: 179 dan QS. Al-isra’ : 36).

f.                   Prinsip pemberian pengetahuan yang baru
Minat dan perhatian anak didik harus diarahkan kepada bahan-bahan pengetahuan yang baru bagi mereka.Dalam ajaran Islam terdapat prisnip pembaruan dalam belajar, baik tentang fenomena-fenomena alamiah maupun fenomena yang terdapat dalam diri mereka sendiri.Seperti studi tentang alam yang mempelajari tentang ilmu baru seperti biologi, fisika, astronomi, kimia, dan zoology.

g.                  Prinsip memberikan model perilaku yang baik
Anak didik dapat memperoleh contoh bagi perilakunya melalui pengamatan dan peniruan yang tepat guna dalam proses belajar mengajar, seperti dalam firman Allah:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah” QS. Al-Ahzab: 21
Dan banyak lagi hadist atau sunnah nabi yang menunjukkan bahwa beliau seringkali mengajar ummatnya dengan prinsip memberikan model untuk ditiru, atau untuk dijauhi (tidak ditiru) seperti perbuatan orang kafir dan musyrik.

h.                  Prinsip praktik (pengamatan) secara aktif
Mendorong anak didik untuk mengamalkan segala pengetahuan yang telah diperoleh dalam proses belajar mengajar, atau pengamalan dari keyakinan dan sikap yang mereka hayati dan pahami. Sehingga nilai-nilai yang telah ditransformasikan atau diinternalisasikan kedalam diri manusia didik menghasilkan buah yang bermanfaat bagi diri dan masyarakat sekitar.
Firman Allah yang menunjukkan penting nya mengamalkan pelajaran yang mereka pahami dan hayati ialah seperti ayat-ayat Al-Qur’an berikut : “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surge-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya” (QS. Al-Baqarah: 25).
Dan ada pula dalam suatu ayat, yang terdapat dalam kitab Zubat yang menggambarkan bahwa orang yang beramal danpa ilmu pengetahuan, maka amal-amal tersebut akan ditolak oleh Allah swt. Seperti didalam ayat berikut: “Dan setiap orang yang dengan tanpa ilmu berbuat suatu amal, maka amal-amal nya akan akan tertolak tidak diterima Allah”.

i.          Prinsip-prinsip lainnya
Adapun prinsip-prinsip lain maksud nya adalah seperti prinsip kasih saying dan prinsip bimbingan dan penyuluhan terhadap manusia didik.
Firman Allah dan hadist Nabi bisa dijadikan landasannya:
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (QS. Al-Anbiya: 107)[2]

       3.      Metode mengajar dalam pendidikan islam

Berikut adalah beberapa metode pengajaran dalam pendikan islam :
1.      Metode Ceramah
Metode ceramah atau sering juga disebut dengan metode kuliah adalah guru memberikan uraian atau penjelasan kepada sejumlah murid pada waktu tertentu (waktu terbatas) dan tempat tertentu pula.Dilaksananakan dengan bahasa lisan untuk memberikan pengertian terhadap suatu masalah. Dalam metode ini, murid duduk melihat, dan mendengarkan serta percaya bahwa apa yang diceramahkan guru itu adalah benar, murid mengutip ikhtisar ceramah semampunya dan menghafalnya tanpa ada penyelidikan lebih lanjut oleh guru yang bersangkutan.
Dalam sebuah Hadist Nabi Muhammad SAW pernah bersabda :
‘’Sampaikanlah apa yang dating dariku walaupun satu ayat, dan ceritakanlah apa yang kamu dengar dari Bani Isra’il, dan hal itu tidak ada salahnya, dan barang siapa berdusta atas namaku maka bersiap-siaplah untuk menempati tempatnya di Neraka’’. (HR. Bukhori.). Hal ini juga berkaitan dengan Q.S Yusuf/12:2-3

2. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.
3. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan) nya adalah Termasuk orang-orang yang belum mengetahui.

Ayat tersebut menerangkan bahwa  Allah SWT menurunkan Al-Qur’an dengan memakai bahasa Arab kepada Nabi Muhammad. Dan Nabi Muhammad merupakan metode mengajar yang masih dipakai khususnya di sekolah-sekolah tradisional.

Kekurangan/kelemahan :
a.       Siswa menjadi lebih pasif sementara guru aktif.
b.      Adanya unsur paksaan, karena guru berbicara sedangkan murid hanya melihat, mendengar  dan mengutip apa yang disampaikan oleh guru. Murid diharuskan mengikuti apa kemauan guru,, meskipun ada murid yang kritis, namun semua jalan pikiran guru dianggap benar oleh murid.[3]

2.      Metode Diskusi (Jidal)
Proses hidup manusia sehari-hari khususnya di bidang pendidikan pastinya seringkali dihadapkan dengan persoalan, dimana persoalan tersebut terkadang tidak bisa dipecahkan hanya oleh satu jawaban atau  satu cara saja, akan tetapi memerlukan semacam pengetahuan untuk kemudian disusun pemecahan berupa jalan terbaik.
Metode diskusi adalah bagian terpenting dalam pemecahan masalah. Dalam dunia pendidikan, metode ini mendapatkan perhatian karena dengan diskusi akan merangsang murid-murid berpikir dan mengeluarkan pendapat mereka sendiri, serta ikut menyumbangkan pikiran-pikiran dalam masalah bersama; untuk mengambil satu jawaban actual atau satu rangkaian jawaban yang berdasarkan atas pertimbangan seksama.  Namun, dalam metode ini peran guru sangat penting dalam rangka menghidupkan gairah murid berdiskusi serta untuk meluruskan jawaban dari para murid yang pastinya akan beragam.
Dengan demikian, pendidik dapat mengetahui keberhasilan kreativitas peserta didi untuk mengetahui siapa diantara para peserta didiknya yang berhasil atau gagal.  Dalam hal ini Allah SWT berfirman pada Q.S An- Nahl/16:125:

Artinya : ‘’Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.’’
[845] Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Macam-macam diskusi :
a.       Diskusi Informal
Terdiri dari murid yang jumlahnya sedikit dan peraturannya agak longgar.Dalam diskusi ini, hanya satu orang ynag menjadi pimpinan diskusi, dan selebihnya menjadi anggota diskusi.
b.      Diskusi Formal
Diskusi yang semuanya serba diatur.Dipimpin oleh seorang guru atau murid yang dianggap cakap, semua orang harus taat pada peraturan yang sudah ditetapkan.
Kelebihan :
1.      Adanya partisipasi murid yang terarah terhadap pelajaran tersebut.
2.      Murid berpikir kritis, dan tidak sembarangan dalam berbicara.
3.      Murid dapat meningkatkan keberanian.
c.       Diskusi Panel
Diskusi ini dapat diikuti oleh banyak murid sebagai peserta, yang dibagi menjadi murid yang aktif dan tidak aktif atau hanya bereran sebagai pendengar saja.
d.      Diskusi Simposium
Dalam simposium, masalah yang akan dibicarakan diantarkan oleh seorang atau lebih pembicara. Pembicara boleh berpendapat berbeda terhadap suatu masalah, dan peserta boleh mengeluarkan pendapat menanggapi apa yang tela dikemukakan oleh pembicara.[4]

3.      Metode Tanya Jawab
Peserta didik biasanya kurang menaruh perhatian terhadap pelajaran yang diajarkan, metode tanya jawab adalah salah satu teknik mengajar yang dapat membantu siswa dalam memahami dan menuntaskan rasa ingin tahunya terhadap masalah, hal, atau pelajaran yang telah disampaikan dengan cara mengajukan pertanyaan. Dengan demikian, guru juga dapat menilai apakah kelas sudah berjalan dengan baik atau belum dan para siswa telah memahami materi yang telah disampaikan.[5]
4.      Pendidikan Melalui Tauladan
Keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual, dan etos sosial. Allah SWT. Juga telah mengajarkan bahwa Rasul yang diutus untuk menyampaikan risalah samawi kepada umat manusia, adalah seorang yang mempunyai sifat-sifat luhur, baik spiritual, atau intelektual.Sehingga manusia belajar darinya, memenuhi panggilannya, menggunakan metodanya dalam hal kemuliaan, keutamaan dan akhlak yang terpuji. Dia mengutus Muhammad SAW. sebagai teladan yang baik bagi umat manusia di sepanjang sejarah, dan bagi umat manusia di setiap saat dan tempat

Artinya : ‘’Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.
Dalam proses pendidikan, setiap pendidik harus berusaha menjadi teladan anak didiknya. Teladan dalam semua kebaikan, bukan teladan dalam keburukan.Dengan keteladanan itu, diharapkan anak didik adakan mencontoh atau meniru segala sesuatu yang baik dalam perkataan, perbuatan pendidiknya.Sungguh sangat mustahil bagi orang tua melarang anak.Anaknya berkata keji dan kotor, meminum-minuman keras, berjudi dan lain-lain yang jelek, bilamana si orang tua itu sendiri senang melakukannya.Demikian juga sangat sulit untuk menjadikan anak didik bertaqwa dengan menyuruhnya melaksanakan shalat, berpuasa dan lain-lain jika orang tuanya/gurunya sendiri tidak melakukannya. Sebaliknya, bagi orang tua yang dalam kehidupan sehari-harinya selalu menampilkan prilaku sabar, ramah, menjauhi dan melaksanakan perintah[6]
5.      Metode Targhib dan Tarhib
Yaitu cara mengajar dimana guru memberikan materi pembelajaran dengan menggunakan ganjaran penghargaan terhadap kebaikan dan hukuman utnuk keburukan.
Prinsip dari metode ini adalah Q.S Al- Bayyinah/ :7-8
7. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk.
8. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya.yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.

Q.S Al- Zalzalah/99:7-8 :
7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.
8. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.
Q.S Al-Fushilat/41:469
Artinya: ‘’Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu Menganiaya hamba-hambaNya.’’

Tarhib ialah ancaman karena dosa yang dilakukan.Targhib bertujuan agar orang mematuhi aturan Allah. Tarhib demikian juga, akan tetapi tekanannya ialah Targhib agar melakukan kebaikan sedangkan Tarhib agar menjauhi kejahatan. Metode ini didasarkan atas fitrah (sifat kejiwaan) manusia, yaitu sifat keinginan pada kesenangan, keselamatan, dan tidak ingin kesengsaraan.[7]

6.      Pendidikan Melalui Nasehat
Di dalam jiwa terdapat pembawaan untuk terpengaruh oleh kata-kata yang di dengar.Pembawaan itu biasanya tidak tetap dan harus diulangi.Namun, nasehat harus juga dibarengi dengan suatu teladan dan perantara yang memungkinkan teladan itu diikuti dan diteladani.Nasehat yang jelas dann dapat dipegang adalah nasehat yang dapat menggantung perasaan dan tidak membiarkan itu jatuh ke dasar bawah dan mati begitu saja. Hal itu  karena di dalam jiwa terdapat berbagai dorongan yang terus memerlukan pengarahan dan pembinaan. Oleh karena itu, anak memerlukan nasehat ynag lembut, halus, tetapi membekas, yang bisa membuat anak kembali baik dan berakhlak mulia.[8]

7.      Pendidikan Melalui Cerita/Kisah
Metode kisah yaitu cara mengajar dimana guru memberikan materi pembelajaran melalui kisah atau cerita. Prinsip dasar metode ini diambil dari Al-Qur’asn yaitu pada surat Al-Qash/28 :76
Artinya : ‘’Sesungguhnya Karun adalah Termasuk kaum Musa[1138], Maka ia Berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri".

[1138] Karun adalah salah seorang anak paman Nabi Musa a.s.
Artinya : ‘’Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.’’ (Q.S Huud/11:120)
Cerita al-Quran secara lebih spesifik bertujuan memberikan kekuatan psikologis kepada Nabi SAW.dalam perjuangan menghadapi kaum kafirin. Orang sering ditimpa kesukaran atau musuh, mungkin bakal frustasi atau kecil hati.Namun jika dia tahu bahwa dia dalam perjuangan dari kesulitan itu tidak mengalami sendiri dan masih banyak orang yang mengalami hal yang serupa dan ternyata berhasil, dia bakal yakin dengan dirinya.yang pada gilirannya menyampaikan kepada keberhasilan yang diperjuangkannya. Orang-orang semacam ini harus dijadikan teladan untuk diikuti.Cerita-cerita tentang Nabi dan Rasul telah terdahulu sangat relevan untuk menghadapi situasi yang dihadapi nabi dan kaum muslimin (Abdur Rahman Shalih, 1991:225).
Cerita-cerita al-Quran pada dasarnya mengandung instruksi bagi manusia, yang diberkahi akal dan pikiran.
Artinya: ‘’ …… Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.’’ Salah satu penggalan ayat dari Q.S Al-A’raf/7:176)
Sangat banyak kisah yang mengandung nasihat, pelajaran dan petunjuk yang sangat efektif untuk dipaparkan dalam interaksi pendidikan. Kisah-kisah dan nasihat itu jika disampaikan secara baik, akan sangat besar pengaruhnya pada perkembangan psikologi anak. (Hadari Nawawi, 1993:233). Dalam pendidikan Islam, kisah sebagai metode pendidikan amat penting, alasannya sebagai berikut :
1. Kisah selalu memikat karena mengundang pembaca atau pendengar untuk mengikuti peristiwanya, merenungkan maknanya. Selanjutnya, makna-makna itu akan menimbulkan kesan dalam hati pembaca atau pendengar;
2. Kisah Qurani dan Nabawi dapat menyentuh hati manusia karena kisah itu menampilkan tokoh dalam konteksnya yang menyeluruh. Karena tokoh cerita ditampilkan dalam konteks yang menyeluruh, pembaca atau pendengar dapat ikut menghayati atau merasakan isi kisah itu, seolah ia sendiri yang menjadi tokohnya;

BAB III
PENUTUP


1.      Kesimpulan
Al- Qur’an telah banyak memberikan contoh metode-metode yang dapat digunakan dalam mendidik peserta didik.Metode-metode tersebut dapat digunakan dalam situasisituasi yang relevan.Metode-metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan yang penting adalah prinsip-prinsip penggunaan metode tersebut dilaksanakan.Dalam prosedur pembuatan metode, hal yang harus diperhatikan adalah tujuan pendidikan, anak didik, situasi, fasilitas, dan pribadi pendidik. Dengan memperhatikan hal- hal tersebut efektivitas penggunaan metode akan terbikti dan dapat tersampaikan kepada tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

2.      Saran
Penulis menyadari bahwa masih jauh dari kata sempurna, maka dari itu, kedepannya penulis akan lebih tepat dan mendalam dalam menjelaskan makalah diatas dengan sumber-sumber yang lebih banyak dan tentunya dapat dipertanggung  jawabkan. Untuk  saran bisa berisi kritik atau bisa menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang telah di jelaskan.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, M. 2006. Tinjauan Teoritis dan Praktis berdasarkan Pendekatan Interdisipliner. Jakarta: Bumi Aksara

Daradjat, Zakariah. 2004. Metodik Khusus Pegajara Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Hermawan, A Heris. 2009. Filsafat Pendidikan Islam.Jakarta: Direktorat Pendidikan Islam. 2009.

Qutbh, Muhamad. 1988. Sistem Pendidikan Islam. Bandung: Alma’arif.



[1] M. Kholil Asy’ari,’’Metode Pendidikan Islam’’,Vol.1 No.1, 2014, hal.195.
[2] M. Arifin, Tinjauan Teoritis dan Praktis berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hal. 145-152
[3]Zakiah Daradjat, Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hal.. 289-290
[4]Ibid, ….Hal. 292-294
[5]Ibid, ….Hal.307-308
[6] A. Heris Hermawan, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Direktorat Pendidikan Islam, 2009), hal. 277-278
[7]Ibid, …..hal. 288-289
[8]M. Quthb, Sistem Pendidikan Islam, (Bandung: Alma’arif, 1988), hal: 334-335

MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...