Sabtu, 20 Juli 2019

MAKALAH ALIRAN TEISME


MAKALAH ALIRAN TEISME 

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATARBELAKANG
Beragama merupakan kecenderungan manusia sebagai makhluk yang diciptakan Allah dalam bentuk yang paling sempurna dengan dibekali akal sebagai alat untuk mencapai hakikat. Manusia selalu berusaha untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya sendiri termasuk tentang siapakah pencipta dunia dan seisinya. Pada awalnya pertanyaan-pertanyaan itu mereka jawab dengan pemikiran-pemikiran primitif dan sederhana namun lambat laun dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan maka mereka mulai menjawabnya dengan jawaban yang ilmiah berdasarkan penelitian yang dilakukan.
Dalam teologi Islam dijelaskan bahwa Allah sebagai pencipta alam semesta telah mengutus Nabi-nabi dan Rasul-rasulnya ketengah-tengah kaum atau kelompok manusia untuk menuntun mereka ke jalan yang diridho’iNya. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam kitab-kitab samawi bahwa akan ada Nabi terakhir yang bernama Muhammad yang akan menyempurnakan ajaran-ajaran sebelumnya.
Orang-orang yang hidup pada zaman setelah Muhammad banyak yang merasa skeptis pada ajarannya. Mereka khawatir telah dibohongi oleh Muhammad sehingga berusaha untuk membuat konsep ketuhanan sebagaimana nalar akal mereka untuk memuaskan dan menjawab segala kebingungan mereka tentang hubungan Tuhan dengan manusia dan alam. Dari usaha-usaha yang mereka lakukan tentang perumusan konsep ketuhanan yang menghasilkan beraneka macam konsep dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelompok.
Sejarah mencatat beberapa pandangan manusia tentang Tuhan yaitu Teisme, Deisme, Panteisme dan Panenteisme. Semuanya memiliki cara pandang masing-masing tentang konsep ketuhanan. Semua aliran ini sepakat tentang Tuhan sebagai pencipta namun mereka berbeda pendapat tentang cara berada, aktivitas dan hubungan Tuhan dengan manusia. 

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud dengan aliran Teisme?
2.      Apa yang dimaksud dengan aliran Deisme?
3.      Bagaimana deskripsi tentang aliran Panteisme?
4.      Bagaimana deskripsi tentang aliran Panenteisme?
BAB II
PEMBAHASAN

A.        TEISME
Tokoh Kristen pertama yang mengemukakan gagasan teisme adalah St. Agustinus. Menurutnya, Tuhan ada dengan sendirinya, tidak diciptakan, tidak berubah, abadi, bersifat personal dan maha sempurna.Tuhan adalah kekuatan personal yang terdiri atas Bapak, Anak, dan Roh Kudus. Tuhan menciptakan alam jauh dari alam di luar dimensi waktu, tetapi dia mengendalikan setiap kejadian dalam alam. Mukjizat pun benar-benar ada karena Tuhan selalu mengatur ciptaannya.[1] Salah satu jenis teisme adalah monoteisme dan politeisme. Sebutan teisme dicetuskan oleh Ralph Cudworth pada tahun 1587 sebagai lawan karta ateisme. [2]
Menurut teisme, Tuhan berada di alam (immanent) dan jauh dari alam (transcendent). Tuhan setelah menciptakan alam, tetap aktif dan memelihara alam. Oleh karena itu teisme meyakini kebenaran mukjizat walaupun menyalahi hukum alam. Agama penganut teisme adalah Yahudi, Kristen, dan Islam.[3]
Tipe-tipe teisme diantaranya, teisme rasional yang dipelopori Rene Descartes dan Leibniz; teisme eksistensial, Soren Kierkegaard; teisme fenomenologi, Peter Koestenbaum; teisme empiris, Thomas Reid, dsb. Kesemuanya memiliki cara pandang tersendiri tentang Tuhan, cara mendekati Tuhan, dan hubungannya dengan alam. Contohnya yang terjadi pada Yahudi dan Islam di satu pihak yang mengEsakan Tuhan, dan Kristen ortodok di pihak lain yang meyakini bahwa Tuhan adalah tiga pribadi.
Adapun dalil mengenai keEsaan Tuhan,
قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ١
Artinya:
“Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa” (Q.S. Al-Ikhlas:1)
               Transendensi Tuhan dicantumkan dalam surat Al-A’raf ayat 54.
إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ....
Artinya:
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ´Arsy....”
               Imanensi Tuhan dijelaskan dalam surat Qaf ayat 16,
وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ وَنَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِهِۦ نَفۡسُهُۥۖ وَنَحۡنُ أَقۡرَبُ إِلَيۡهِ مِنۡ حَبۡلِ ٱلۡوَرِيدِ ١٦
Artinya:
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”
Adapun ayat yang menunjukkan bahwa Tuhan transenden dan immanen adalah surat Yunus ayat 3,
إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۖ
Artinya:
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy untuk mengatur segala urusan.“
Awal ayat ini menjelaskan bahwa Tuhan bersemayam di ‘Arsy yang mengesankan Tuhan jauh dari alam. Pada akhir ayat Dia mengatur segala urusan Yang mengesankan bahwa Tuhan selalu memerhatikan alam (immanen). Jadi ayat ini menjelaskan bahwa Tuhan transenden sekaligus immanen.[4]
Konsep teisme dalam Islam dijelaskan oleh Al-Ghazali. Menurutnya, Allah adalah Zat Yang Maha Esa dan pencipta alam sekaligus berperan aktif dalam mengendalikan alam.Allah menciptakan alam dari tidak ada (cretio exnihilo). Mukjizat adalah suatu peristiwa yang wajar karena Ia mahakuasa dan berkehendak mutlak, mampu mengubah segala ciptaan-Nya sesuai kehendak mutlak-Nya.[5]
Al-Ghazali yang haus akan kebenaran pada akhir hidupnya menitiktekankan pada immanensi Tuhan. Ia berpendapat bahwa kedekatan Tuhan itu sekaligus membuka tabir pengetahuan.  Pertama, dia meyakini bahwa kebenaran dapat diperoleh melalui indra. Tetapi indra bohong. Sebab ketika mata melihat bulan hanya sebesar bola, padahal bulan hampir sama dengan bumi. Kedua, dia meyakini akal lah yang mendatangkan kebenaran, karena bisa menetapkan bahwa bulan jauh lebih besar dari bola. Tetapi itupun tak bisa dijadikan acuan. Karena ketika seseorang bermimpi, ia benar-benar merasa mengalami kejadian dalam mimpi tersebut. Tapi ternyata mimpi hanya ilusi belaka.
Oleh karena itu ia mencari pengetahuan yang tak dapat diragukan lagi, bersumber dari yang Mahabenar, yaitu Tuhan, sehingga terjadilah al-kasyaf  (terbukanya tabir) tidak ada lagi hijab antar hamba pencari pengetahuan dengan yang memiliki pengetahuan. Inilah pengetahuan yang hakiki.
Menurut Agustinus, manusia terdiri dari jasad yang fana dan jiwa yang tidak mati. Ketika dibangkitkan setelah kematian, jiwa manusia akan mencapai kesempurnaan. Karena hakikat yang sebenarnya dari manusia adalah jiwa, dan jiwa yang bersih akan kembali ke pencipta-Nya.
Filsuf Yahudi yang berpaham teisme adalah Ibnu Maimun. Menurutnya, Tuhan adalah transenden. Tetapi ia berargumen bahwa Tuhan memerhatikan nasib makhluk-Nya dan mendengar doa kita. Bukti Tuhan memerhatikan nasib makhluk-Nya adalahdengan memberi nikmat sampai bertingkat-tingkat. Aemakin penting sesuatu itu untuk kebutuhan hidup, semakin mudah diperoleh. Sebaliknya, semakin tidak dibutuhkan, hal itu semakin jarang dan mahal.
Dari ketiga filsuf yang berlainan agama, tampak benang merah yang menghubungkan pemikiran mereka, yaitu Tuhan secara zat adalah transenden dan jauh dari pengetahuan manusia.  Ditinjau dari segi perbuatan-Nya , Tuhan berada dalam alam, bahkan memerhatikan nasib makhluk-Nya. Namun pandangan semacam ini memiliki kontribusi positif dan tak luput dari kritikan.

1.1.       Kontribusi positif
·         Dengan perlunya ada suatu realitas tertinggi yang perlu dianut.Moral ateisme tidak dapat diidentifikasi secara jelas dan diusut asalnya. Adapun moral teisme dapat diidentifikasi dan diusut asalnya, yakni Tuhan yang merupakan puncak kesempurnaan moral yang berhak disembah. Maka  tak heran ada penganut teisme yang rela mengorbankan dirinya untuk Tuhan teistik, seperti mati syahid.
·         Teisme menawarkan landasan yang kukuh, standar moral yang universal. Karena nilai yang obsolut mengunggulimoral dan tingkah laku yang dibuat oleh manusia yang bersifat relatif dan berubah.
·         Teisme meletakkan dasar yang kukuh dalam menghargai manusia, yaitu sebagai ciptaan Tuhan dan wakilnya di bumi. Jadi dasar ketinggian martabat manusia karena Tuhan menciptakannya lebih tinggi dari makhluk lain
·         Teisme menawarkan kehidupan abadi setelah mati dengan mempertegas keberadaan manusia di dunia, dari mana, sedang ke mana dan hendak kemana disaat nihilisme menyimpulkan bahwa hidup adalah sesuatu yang tidak bernilai.
1.2.       Kritikan Terhadap Teisme
Menurut Sigmund Freud, agama manusia hanya refleksi dari keinginan-keinginan yang dipersonifikasikan dengan bentuk yang abstrak. Menurut pendukung materialisme, terutama Karl Marx, agama adalah bagian dari kelas buruh yang menderita. Mereka tidak mampu melawan struktur kelas yang begitu kuat sehingga mencari kekuatan supernatural untuk menolongnya. Dari sinilah muncul Tuhan-Tuhan sesuai kebutuhannya. Menurutnya, dengan sosialisme, tidak ada seorangpun lapar dan tertindas.
Kritik Karl Marx terhadap agama hanya berdasar pada agama yang ada di Eropa kala itu. Sehingga baginya keyakinan pada Tuhan menyebabkan kelas-kelas dalam masyarakat semakin tajam, dan ilmu empiris yang ia jadikan sebagai tolak ukur sebuah keyakinan pun salah. Fenomena agama memang dapat diukur secara empiris, tetapi tidak untuk hal kepercayaan. Kepercayaan ukurannya kafir dan iman, sedangkan ilmu empiris ukurannya logisdan tak logis.
                                                             
B.     DEISME
Deisme adalah pandangan hidup atau ajaran yang mengakui adanya Tuhan yang esa sebagai pencipta alam semesta, tetapi tidak mengakui agama karena ajarannya didasarkan atas keyakinannya pada akal dan kenyataan hidup. Pandangan yang umum oleh para deis adalah Tuhan menciptakan alam semesta dan tidak campur tangan terhadap apa pun sejak itu. Sekilas ini mirip dengan pandangan Ateis bahwa tidak ada tanda-tanda di mana Tuhan mempengaruhi sedikit pun apa yang terjadi di dunia saat ini. Semua berjalan sesuai hukum sebab akibat yang berlaku. Perbedaannya terletak pada Ateis melihat bahwa keberadaan Tuhan pun tidak diperlukan untuk menjawab bagaimana alam semesta ini bermula.[6]
Ciri-ciri kelompok Deisme antara lain :
a.    Tuhan transenden. Artinya Tuhan berada jauh di luar alam. Tuhan menciptakan alam, namun setelah menciptakannya Ia tidak lagi memperhatikan dan mengintervensi alam. Alam berjalan sesuai dengan aturan-aturan  yang telah ditetapkan ketika proses penciptaan.
b.    Tuhan diibaratkan sebagai tukang jam yang sangat ahli. Setelah jam itu selesai maka tidak lagi membutuhkan si pembuatnya lagi. Jam itu berjalan sesuai dengan mekanisme yang tersusun dengan rapi. Apabila alam ini mengalami kerusakan, alam tidak membutuhkan Tuhan untuk memperbaikinya Karena alam sudah mempunyai mekanisme sendiri untuk menjaga keseimbangan.
c.    Tidak menerima mu’jizat, wahyu dan do’a. Karena alam ini berjalan sesuai mekanisme tertentu yang tidak berubah-ubah dan mekanisme tersebut dibuat bersamaan dengan penciptaan alam maka tidak menerima mu’jizat yang bertentangan dengan hukum alam. Begitu pula do’a dan wahyu tidak lagi dibutuhkan karena semua yang terjadi di alam sudah diatur.
d.   Manusia cukup dengan akal dalam mengurus kehidupan. Dengan akal, manusia bisa mengetahui yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah. 
Sebagian kaum Deis yakin bahwa Tuhan tidak melakukan intervensi terhadap alam lewat kekuatan supranatural.  Ia Maha sempurna dan jauh dari alam. Namun karena sebagian saja yang berpendapat demikian maka kaum deis bisa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok diantaranya :
1.  Tuhan telah menciptakan alam dan memprogramkan perjalanannya sehingga ia tidak lagi terlibat dalam pengaturan alam. Dia tidak menghiraukan apa yang akan terjadi atau yang telah terjadi setelah penciptaan tersebut.
2.  Tuhan terlibat dengan kejadian-kejadian yang berlangsung di alam. Tetapi bukan dalam ranah moral. Manusia memiliki kebebasan dalam berbuat.
3.  Tuhan mengatur alam sekaligus memerhatikan perbuatan manusia. Kelompok ini juga meyakini tidak adanya kehidupan setelah mati.
4. Tuhan mengatur alam dan mengharapkan manusia mematuhi hukum  moral yang berasal dari alam. Kelompok ini juga meyakini adanya kehidupan setelah mati.[7]
Dari uraian diatas dapat kita lihat beberapa aspek positif yang terkandung dalam kelompok Deisme diantaranya :
·         Menonjolkan peranan akal dalam memahami masalah-masalah dalam agama sehingga bisa mengkajinya secara lebih kritis. Dengan demikian manusia terhindar dari taklid buta dan lebih mantap dalam beragama karena ia beragama setelah melewati pemikiran panjang serta menemukan dalil-dalil yang jelas dan kuat. Walaupun dalam hal ini ada beberapa bagian dalam agama yang memang tidak bisa di lihat kebenarannya secara akal saja melainkan dengan wahyu. Dengan akal manusia bisa membedakan antara yang benar dan yang salah.
Kelemahan dan kritikan terhadap aliran Deisme antara lain ,  di satu sisi Deisme menolak adanya mu’jizat namun disisi lain menyatakan bahwa alam diciptakan Tuhan dari tidak ada menjadi ada. Jika demikian berarti deisme tidak konsisten dalam pernyataannya karena meragukan kekuasaan Tuhan untuk menjadikan sebuah mu’jizat setelah sebelumnya meyakini akan kekuasaanNya.  Tuhan menciptakan alam tentunya bertujuan demi kebaikan makhluknya jadi mustahil apabila Tuhan membiarkan makhluknya.[8]
C.    PANTEISME
Panteisme terdiri dari tiga kata, yaitu:  pan yang berarti seluruh, teo yang berarti tuhan, isme berarti paham.  Jadi panteisme adalah paham yang meyakini bahwa seluruh alam ini adalah Tuhan dan Tuhan adalah seluruh alam (God is all and all is one).  Ajaran yg menyamakan Tuhan dengan kekuatan-kekuatan dan hukum-hukum alam semesta. Panteisme mulai terkenal sejak abad 17, ketika Baruch Spinoza menulis Ethics. Di kemudian hari, konsep Tuhan yang ditawarkan Spinoza bahwa satu satunya yang layak disebut Tuhan adalah Alam semesta itu sendiri, dirujuk sebagai posisi kepercayaan Albert Einstein.[9]
Ciri-ciri yang dapat memudahkan kita dalam memahami kelompok Panteisme antara lain adalah :
1.        Tuhan imanen. Artinya Tuhan dekat dengan alam, memperhatikan serta mengatur alam.
2.        Seluruhnya adalah Tuhan. Mereka meyakini tentang kesatuan umum antara Tuhan dan makhluknya. Mereka berfikir demikian karena ketika lapar dan mereka makan maka yang menjadikan mereka kenyang adalah makanan sehingga makanan adalah Tuhan, jadi alam ini adalah Tuhan.
3.        Tidak menerima mu’jizat.
4.        Tuhan impersonal. Artinya Tuhan tidak memiliki dzat khusus karena Ia bersatu dengan alam.
5.        Yang dapat ditangkap panca indra adalah bagian dari Tuhan (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda mati). Dalam hal ini mereka terlihat tidak konsisten karena pada dasarnya yang dapat ditangkap panca indera adalah sesuatu yang semuanya berubah.
6.        Lawan Deisme.
7.        Tuhan esa, maha besar dan tidak berubah.
8.        Tuhan wujud hakiki sementara alam adalah ilusi.
9.        Mirip wihdatul wujud. Walaupun mirip dari segi kesatuan wujud namun keduanya memiliki perbedaan. Dalam wihdatul wujud alam dan Tuhan tidak identik sementara dalam Panteisme identik. Panteisme mengatakan “pohon ini Tuhan” sementara wihdatul wujud mengatakan “dalam pohon itu ada aspek ketuhanan”.
Kelompok Panteisme tidaklah berbeda dengan kelompok-kelompok lainnya. Mereka juga memberikan sumbangsih pemikiran yang bisa diperhitungkan diantaranya :
a.         Panteisme diakui menyumbangkan sebuah pemikiran menyeluruh tentang sesuatu.
b.        Menekankan imanensi Tuhan sehingga Tuhan selalu dekat dengan makhlukya. Hal yang demikian menjadikan manusia merasa diperhatikan Tuhan sehingga berhati-hati dalam berbuat dan tidak melakukan perbuatan yang jelek.
c.         Seseorang tidak bisa memberi batasan kepada Tuhan dengan bahasa manusia yang terbatas.
Kelemahan kelompok ini adalah :
1.      Panteisme radikal menyatakan bahwa Tuhan tidaklah berubah dan semua yang ada di alam ini adalah Tuhan. Lagi-lagi terjadi ketidak konsistenan dalam pemikiran Panteisme. ini berarti alam adalah Tuhan sedangkan alam sendiri sifatnya berubah.
2.      Panteisme meyakini bahwa alam ini adalah maya. Jika demikian maka orang-orang Panteisme  akan mengabaikan aturan-aturan yang ada di alam seperti rambu-rambu lalu lintas dan lain sebagainya.
3.      Jika Tuhan adalah alam dan alam adalah Tuhan maka tidak ada konsep kejahatan dan keburukan dalam Panteisme

D.    PANENTEISME
Panenteisme terlihat sedikit mirip dengan aliran Panteisme namun berbeda dalam cara pandang tentang Tuhan. Menurut Panteisme semuanya adalah tuhan sedangkan menurut Panenteisme semuanya dalam Tuhan. Penenteisme meyakini bahwa Tuhan adalah pengatur materi yang sudah ada, bekerja sama dengan alam, tergantung pada alam, berubah, menuju kesempurnaan, bipolar (kutub potensial dan kutub aktual).
Menurut Panenteisme Tuhan memiliki dua kutub. Dalam hal ini bisa kita analogikan dengan Tubuh manusia sebagai alam (kutub pertama) dan akal sebagai sesuatu yang diluar alam (kutub kedua). Pernyataan ini sebagaimana yang yang diungkapkan oleh para pemikir modern yang mengatakan bahwa daya akal tergantung pada otak, begitupula Panenteisme yang meyakini bahwa Tuhan bergantung pada alam dan alampun bergantung pada Tuhan.
Berikut ciri-ciri Panenteisme yang akan memudahkan kita membedakan paham antar satu aliran dengan aliran lainnya adalah :
a.    Bipolar terbagi menjadi dua yang pertama adalah Kutub potensi (abadi) transenden. Kutub potensi adalah segala yang jauh dari alam yakni sesuatu yang masih belum ditampakkan oleh Tuhan dan berada di luar alam.  Jadi segala sesutau yang berada di luar alam adalah potensi Tuhan dan tidak berubah.
b.    Kutub aktual (tidak abadi) imanen. Adalah bagian kutub kedua yakni semua yang telah ditampakkan Tuhan meliputi segala yang ada di alam. Jadi Kutub ini bersifat berubah dan tidak abadi.
c.    Semua dalam Tuhan. Berbeda dengan Panteisme yang meyakini semuanya adalah Tuhan.
d.   Mengatur materi yang sudah ada.
e.    Tuhan berubah. Perubahannya adalah untuk mencapai kesempurnaan.
f.     Saling ketergantungan antara Tuhan dengan alam sehingga terjadi kerjasama.
g.    Tuhan adalah dzat yang terbatas.
Berikut adalah hal-hal positif yang bisa kita ambil dari pemikiran Panenteisme diantaranya adalah :
a.    Telah membangun suatu pandangan dunia yang utuh. Artinya mereka memandang dunia tidak secara parsial saja melainkan secara keseluruhan.
b.    Berhasil menjelaskan hubungan Tuhan dengan alam secara mendalam. Tanpa menghancurkan salah satunya.
c.    Mengakui teori baru dalam ilmu teknologi karena tidak berlawanan dengan prinsip dasar mereka. Hal yang demikian menjadikan mereka mengikuti dan menerima perkembangan zaman sehingga bisa melihat dunia lebih positif dengan mengambil manfaat baru yang mulai terungkap ke permukaan.
Walaupun memilki aspek positif namun mereka juga tidak lepas dari pada kritikan-kritikan diantaranya adalah :
a.       Ide tentang satu Tuhan sekaligus terbatas adalah suatu pikiran rancu yang tidak bisa diterima akal sehat. Di dalamnya terdapat kontradiksi sebagaimana berlari dan diam dalam waktu yang bersamaan.
b.      Tuhan dalam konsep ini adalah berubah. Jika demikian bagaimana bisa sesuatu yang berubah dapat diyakini kebenarannya. Karena tidak seorangpun yang bisa mengetahui yang cantik tanpa adanya yang jelek. Begitu pula dalam hal ini, bagaimana mereka meyakini bahwa Tuhan berubah tanpa adanya konsep yang tidak berubah yang keberadaannya haruslah mendahului perubahan tersebut.[10] 
BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
1.      Teisme adalah aliran kepercayaan yang memilki konsep bahwa Tuhan transenden sekaligus imanen artinya Tuhan jauh dari alam namun juga dekat dengan alam. Dari sisi beradanya tuhan jauh dari alam namun dari sisi hubungannya dengan alam sangatlah dekat serta menciptakan alam dari tiada. Yang termasuk dalam kelompok ini diantaranya Islam, Kristen dan Yahudi walaupun dalam Islam tidak mengharuskan Tuhan transenden ataupun imanen karena yang demikin adalah hak prerogatif Tuhan.
2.      Deisme adalah suatu kelompok aliran kepercayaan yang meyakini bahwa Tuhan adalah transenden artinya Tuhan jauh dari alam. Setelah menciptakan alam Tuhan tidak lagi ikut campur di dalamnya karena Tuhan telah menciptakan mekanisme alam bersamaan dengan penciptaan awal alam sehingga alam tidak lagi membutuhkan Tuhan karena alam akan berjalan sesuai mekanisme yang telah dibuat Tuhan.
3.      Penteisme adalah suatu aliran kepercayaan yang meyakini bahwa Tuhan adalah imanen artinya Tuhan dekat dengan alam. Tuhan mengatur alam dan alam adalah Tuhan sehingga terbentuk sebuah kesatuan umum antara Tuhan dengan alam. Jadi segala sesuatu yang dapat ditangkap panca indra adalah Tuhan dan Tuhan adalah wujud hakiki. Aliran ini juga mirip konsepwihdatul wujud (kesatuan wujud).
4.      Panenteisme adalah suatu aliran dengan konsep ketuhanan yang meyakini bahwa Tuhan memilki dua kutub yakni kutub potensial yang merupakan bagian dari apa yang belum ditampakkan Tuhan di alam dan kutub tersebut berada di luar alam, bersifat abadi dan transenden. Kutub yang kedua adalah kutub aktual yang merupakan segala sesuatu yang telah ditampakkan Tuhan di alam dan kutub tersebut bersifat tidak abadi dan imanen. Alam dan Tuhan saling bergantung sehingga terjadi kerjasama diantara keduanya.



[1] Jumhurul Umami, Aliran-Aliran dalam Ketuhanan, ditulis tanggal 2 Juli 2009 dapat diakses melalui google.
[2] Wikipedia: Ensiklopedi bebas; lihat pula Hlasey, William (1969). Louis Shores. Ed (dalam bahasa inggris). Collier’s Encyclopedia. 22 (edisi ke-20). Crowell-Coliier Educational Corporation. Hlm. 26-267.
[3] Amsal bakhtiar, Filsafat Agama, Jakarta: Rajawali Pers, 2009, hlm. 2.
[4] Amsal bakhtiar, Filsafat Agama, Jakarta: Rajawali Pers, 2009,hlm. 82.
[5] Al-Ghazali, Tahafut Al-Falasifah, 1968, hlm. 240.
[6]httpsandabertanyaateismenjawab.wordpress.com20130811apa-itu-panteisme-apa-itu-deisme.html

[7] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, (Jakarta: Rajawali Pers,2015), h.99-100.
[8] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, (Jakarta: Rajawali Pers,2015), hlm. 99-100.
[9]httpsandabertanyaateismenjawab.wordpress.com20130811apa-itu-panteisme-apa-itu-deisme.html

[10] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, (Jakarta: Rajawali Pers,2015), h.94.

MAKALAH HUBUNGAN ISLAM DAN PLURALISME

MAKALAH HUBUNGAN ISLAM DAN PLURALISME

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Kita menganggap bahwa Indonesia adalah negara religius. Selanjutnya, kita menganggap bahwa orang Indonesia itu dengan sendirinya juga religius, yaitu manusia yang berTuhan. Buktinya setiap tahun orang yang pergi haji dari Indonesia adalah yang terbanyak sedunia. Jumlah yang pergi umroh juga banyak. Rumah ibadah bertambah terus setiap tahun. Suasana Ramadhan selalu semarak dengan aktivitas keagamaan.[1]
Disamping itu, Masyarakat Indonesia, merupakan masyarakat plural. Keniscayaan ini, diperoleh manakala ditinjau dari aspek yang melingkupinya, mulai dari etnis, bahasa, budaya hingga agama. Ini artinya pluralitas merupakan realitas bagi masyarakat Indonesia.[2] Disisi lain, Majelis Ulama Indonesia pada tahun 2005 telah resmi mengeluarkan fatwa, bahwa paham Pluralisme Agama adalah bertentangan dengan Islam dan haram bagi umat islam memeluknya.[3]
Fenomena antipluralisme, antiliberalisme, dan antisekulerisme tersebut tampaknya tidak terjadi hari ini dan di bumi Indonesia, tetapi sudah berlangsung berabad-abad dan berlangsung diberbagai tempat di dunia muslim. Ia tampaknya telah menjadi konstruksi yang begitu kukuh dalam masyarakat muslim selama berabad-abad. Nalar religius mayoritas kaum beragama hari ini masih terus mewarisi kebudayaan arabia produk abad pertengahan, ketika akal intelektual dikalahkan oleh teks-teks keagamaan yang dimaknai secara tunggal dan literal, ketika paradigma teologis “kekuasaan” mengalahkan paradigma teologis “keadilan”, dan ketika pemaknaan esoteris atas teks-teks keagamaan dihegemoni oleh pemakanaan eksoteris. Konstruksi ini kemudia diproduksi dan didoktrinkan secara terus menerus dari generasi ke generasi melalui berbagai media sosial dan pendidikan, tanpa ada perubahan kearah kemajuan yang berarti bagi kemanusiaan. Alih-alih, ruang-ruang dialog untuk mengkritik paradigma doktrinal tersebut mampat, stagnan, malahan justru melahirkan stigma-stigma yang melukai wilayah psikologi dan fisik, atau bahkan membunuh karakter-karakter manusia.[4]

B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan yang hendak disampaikan yaitu:  
    1.    Apa pengertian Islam dan Pluralisme?
    2.    Bagaimana perkembangan Pluralisme di Indonesia?
    3.    Apa hubungan Islam dan Pluralisme?

C. Tujuan Makalah
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan Makalah ini dibuat yaitu:
1.    Mengetahui pengertian Islam dan Pluralisme.
2.    Mengetahui perkembangan Pluralisme di Indonesia.
3.    Mengetahui hubungan Islam dan Pluralisme.

D.    Manfaat
Diharapkan Penulisan Makalah ini agar pembaca mengenal dan mengetahui Islam dan Pluralisme.
1.    Bagi Penulis, untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam dan Kebudayaan Lokal.
2.    Bagi Pembaca, sebagai bahan acuan materi Islam dan Pluralisme.
BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pengertian Islam dan Pluralisme Agama

Istilah Islam dan Pluralisme masih sering disalahpahami oleh sebagian orang. Hal ini dapat dilihat dari semakin menjamurnya kajian internasional tentang Islam dan Pluralisme. Sungguh sangat mengejutkan, bahwa banyak yang mencoba mendefinisikan Pluralisme agama. Sementara definisi agama dalam wacana barat mengandung polemik yang tak berkesudahan dalam berbagi bidang. Sehingga sangat sulit, bahkan hampir mustahil untuk mendapatkan definisi agama yang diterima semua kalangan. [5]
Prof. Dr. Harun Nasution mengemukakan bahwa Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad saw sebagai Rasul.[6] Sedangkan, menurut Dr. Muslim Ibrahim yang mengatakan bahwa Islam berarti patuh dan taat serta berserah diri kepada Allah secara menyeluruh sehingga terwujudlah “salam” dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.[7]
Islam adalah agama damai, bukan agama pedang. Hal ini menurut Abd al-Basit dapat dibuktikan melalui surat-surat Rasulullah kepada para raja pada waktu itu, antara lain surat kepada Heraclius, Raja Romawi. Dari surat tersebut, dapat diambil pelajaran bahwa dakwah dengan cara-cara damai dan lembut adalah karakter dakwah Nabi. Jika Heraclius bersedia memeluk Islam, maka dia dijanjikan akan mendapat pahala yang berlipat, namun jika menolak maka ancamannya adalah dosa, bukan ancaman diteror dengan pedang. Dengan demikian kalangan Barat menuduh Nabi sebagai penebar teror. Kelembutan dakwah nabi berdasarkan firman Allah, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. [Q.S. An Nahl:125]. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. [Q.S. Al-'Imran:159]. Dakwah secara santun pun menjadi ciri khas para sahabat. Dalam sebuah riwayat, diceritakan Nabi mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman dan bersabda, “Ajaklah mereka dengan hal-hal yang mudah. Janganlah memberatkan mereka. Berilah mereka kabar gembira dan jangan membuat mereka lari ketakutan”. Ajaran cinta damai ini tentu sangat bertentangan dengan tindakan-tindakan kekerasan kaum radikal.[8]
Sedangkan pengertian pluralisme Agama, berasal dari dua kata yaitu:”pluralisme” dan “agama”. Dalam bahasa arab diterjemahkan ”al-ta’addudiyah al-diniyyah” dan dalam bahasa inggris diterjemahkan “religious pluralism”. Karena istilah Pluralisme berasal dari Bahasa Inggris, maka untuk mendefinisikannya secara akurat harus merujuk pada kamus bahasa tersebut. Pluralisme berarti “ jama” atau lebih dari satu. Sedangkan pluralisme menurut Anis Malik Toha dalam bukunya “Tren Pluralisme Agama” (2005:11) mempunyai 3 pengertian. pertama, bermakna kegerejaan, yaitu sebutan untuk orang yang memegang lebih dari satu dalam struktur kegerejaan. kedua, pengertian filosofis, berarti sistem pemikiran yang mengakui adanya landasan pemikiran yang mendasarkan lebih dari satu. ketiga, pengertian sosio-politis: adalah suatu sistem yang mengakui eksistensi keragaman kelompok, baik yang bercorak ras, suku, aliran maupun partai dengan menjunjung tinggi aspek perbedaan yang sangat karakteristik dalam kelompok-kelompok tersebut.[9]
Di dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang mengisyaratkan bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang alamiah. Allah tidak menghendaki manusia untuk menjadi satu umat saja. “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan”[Q.S. An Nahl:93]. “Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja), tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong [Q.S. Ash-Shura:8]. Juga dinyatakan bahwa masing-masing kelompok manusia mempunyai jalan hidup yang memang cocok untuk mereka. Perbedaan itu memang sesuatu yang alami dan karenanya yang penting adalah bagaimana masing-masing kelompok dapat berbuat untuk kebaikan umat manusia.[10]
B.            Perkembangan Pluralisme di Indonesia
Pemikiran Pluralisme Agama muncul pada masa yang disebut Masa Pencerahan (Renaissance), tepatnya pada abad XVIII masehi, masa yang sering disebut sebagai titik permulaan bangkitnya pemikiran moderen. Yaitu masa yang diwarnai dengan wacana-wacana baru pergulakan pemikiran manusia yang berorientasi pada superioritas akal (rasionalisme) dan pembebasan akal dari kungkungan-kungkungan agama.[11]
Masyarakat Indonesia, merupakan masyarakat plural. Keniscayaan ini, diperoleh manakala ditinjau dari aspek yang melingkupinya, mulai dari etnis, bahasa, budaya hingga agama. Ini artinya pluralitas merupakan realitas bagi masyarakat Indonesia.[12]
Abu Rabi’melihat, meskipun Islam telah menjadi kekuatan, nilai dalam menumbuhkan etos pluralisme keagamaan sejak Indonesia merdeka, namun potensi untuk menjadi gerakan sosial yang kental dengan sentimen anti-Kristennya, masih terbuka lebar. Berbagai kecenderungan dan pola pemikiran keislaman yang muncul akhir-akhir ini, menggambarkan posisi Islam yang berbeda-beda dalam berhadapan dengan komunitas agama lain. Oleh sebab itu, menurutnya, aspirasi politik keagamaan yang berkembang, akan tetap membuka peluang bagi tumbuhnya gerakan sosial Islam yang sulit menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, ketebukan dan moderasi. Hal ini merupakan tantangan yang semakin nyata seiring dengan perkembangan wacana keagamaan paska moderen.[13]
Menurut kelompok yang menolak Pluralisme agama, mereka berpendapat agama bahwa “Pluralitas Agama” dan “Pluralisme Agama” merupakan dua hal yang berbeda. Pluralitas Agama adalah kondisi dimana berbagai macam agama mewujud secara bersamaan dalam suatu masyarakat atau negara. Sedangkan Pluralisme Agama adalah suatu paham yang mengatakan bahwa semua agama sama dan benar. Pluralisme tersebut menjadi tema penting dalam disiplin sosiologi, teologi, dan filsafat agama yang berkembang di Barat dan merupakan agenda penting globalisasi. Oleh karena itu, menganggap Pluralisme Agama sebagai sunatullah adalah klaim yang berlebihan.[14]
Sedangkan menurut kelompok yang menerima Pluralisme agama, mereka sepakat bahwa fatwa MUI tentang haramnya Liberalisme, Sekulerisme, dan Pluralisme, disamping sejumlah fatwa yang lain, merupakan pengingkaran terhadap realitas kemajemukan yang merupakan “sunnah” dan kehendak Tuhan, mencenderai demokrasi, melanggar HAM, dan konstitusi Negara Republik Indonesia. Fatwa MUI juga mereka anggap telah menjegal ilmu pengetahuan dan peradaban, serta memasungkan kreatifitas dan pemikiran manusia. Dengan begitu, menurut mereka fatwa-fatwa tersebut bukan hanya merusak citra agama tetapi juga membahayakan masa depan kemanusiaan dan secara khusus mengancam kebhinekaan negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibangun, disepakati bersama, dengan mengorbankan darah dimana-mana.[15]
C.           Hubungan antara Islam dan Pluralisme
Di dunia Islam, kedudukan agama sedemikian sakralnya, sehingga kritik atasnya hampir-hampir merupakan sesuatu yang dianggap pantangan. Akan tetapi, melakukan kritik atas diri sendiri sebagai manusia beriman merupakan suatu keharusan, ketika perjalanan hidup keimanan ternyata tidak membawa manusia ke keadaan yang diidealkan dan ketika kenyataan sekuler yang dirasakan “kebenarannya” ternyata menyimpang atau bahkan bertentangan dengan ajaran keimanan.[16]
Sebagai sebuah produk budaya, Islam berpotensi untuk dipahami dan diekspresikan dalam berbagai corak sesuai dengan keberagaman manusia. Dari sejak kehadiranya, kepelbagaian bahkan sudah terlihat. Dalam sikap individual para sahabat Nabi Muhammad saw., terdapat orang-orang yang lembut seperti Abu Bakar dan ‘Utsman, namun juga terdapat orang yang keras seperti ‘Umar dan ‘Ali.[17] Sehingga bisa terlihat bahwa dalam memahami Islam pun menjadi berbeda-beda dari masing-masing pemeluknya.
Dalam tradisi Islam, terdapat elemen-elemen yang ekslusif-intoleran sekaligus inklusif-toleran. Nalar dogmatis eksklusif senantiasa meyakini dan memonopoli kebenaran tunggal yang tidak dapat terbagi-bagi. Kebenaran hanya satu, sakral, statis, dan terjaga sampai hari kiamat.[18] Sebagaimana dalam Al-Qur’an, Allah berfirman, “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” [Q.S. Al 'Imran:19]
Sehingga muncul anggapan bahwa Islam adalah agama yang paling benar dan agama lain adalah salah. Ini merupakan pandangan dogmatis arus utama yang didasari oleh asumsi subjektif bahwa agama merekalah (Islam) yang toleran sementara pemeluk agama yang lain adalah intoleran. Beginilah realitas dunia Islam, tak terkecuali di Indonesia, dimana para pemeluk Islam masih terkungkung dalam fanatisme dan ortodiksi sehingga wacana pluralisme dan inklusivisme masih dimusihi bahkan diteror.[19]
Nalar dogmatis eksklusif merupakan nalar yang terbentuk secara hegemonik dalam semua tradisi agama. Ia sering mengatasnamakan dirinya sebagai otoritas resmi yang disakralkan. Otoritas resmi begitu gigih mendaku dirinya berhak memvonis benar atau sesatnya sebuah pemikiran dan aliran. Ia juga secara arogan mengklaim berhak menentukan hal-hal yang boleh dipikirkan dan yang terlarang dipirkan. Hal-hal yang terlarang dipikirkan patut disingkirkan oleh otoritas resmi karena dinilai sesat dan menyesatkan. Otoritas resmi seakan-akan mempunyai stempel benar dan salah. Pluralisme, liberalisme, dan isme-isme lainnya disesatkan dan dilarang untuk dipikirkan.[20]
Otoritas resmi selalu berusaha menjaga kewibawaan Al-Qur’an, hadist, dan simbol-simbol agama berupa pendapat sahabat dan ulama salaf saleh. Ciri khas otoritas resmi Islam, misalnya, akan membiarkan orang-orang yang berusaha mengungkapkan kebrobokan Barat dan otoritas agama lain. Namun, sebaliknya, otoritas resmi islam secara ironis akan memusuhi siapa saja yang berani mengkritik kewibawaannya. Inilah arogansi dan intoleransi dalam tradisi agama. Nalar-nalar seperti ini harus didekonstruksi dan didesakralisasi guna mewujudkan toleransi dan kebebasan berpendapat.[21]
Tidak ada artinya meneriakkan slogan toleransi jika tidak dibarengi dengan keadilan yang berpijak pada upaya menghormati hak-hak orang lain. Kamus-kamus bahasa mendefinisikan toleransi sebagai “sikap pemikiran dan perilaku yang berlandasan pada penerimaan terhadap pemikiran dan perilaku orang lain, baik dalam keadaan bersepakat atau berbeda pendapat dengan kita”. Intinya, toleransi adalah menghormati orang lain yang berbeda.[22] Sebagaimana dalam Al-Qur’an, Allah berfirman, “Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al Quran, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan (40).  Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan" (41). [Yunus,40-41]
Anjuran inklusif-toleransi juga tercermin dalam tulisan Ibn Rusyd, “Wajib bagi kita meneliti apa yang pernah dikatakan oleh para pendahulu kita, tidak peduli apakah mereka seagama dengan kita atau tidak. Sesungguhnya alat yang sah dipakai untuk menyembelih (yang diibaratkan seperti metode filsafat) tidak dipandang apakah berasal dari orang seagama atau tidak. Wajib bagi kita menelitinya, Jika benar, maka akan kita terima, Dan jika salah, maka kita waspadai.[23]
Gamal al-Banna[24]- Al-Qur’an adalah dalil terbesar yang mengafirmasi pluralisme beragama. Al-Qur’an melarang masing-masing kelompok agama mengklaim umat yang paling utama seraya merendahkan kelompok agama lain. Kelompok-kelompok agama tidak boleh mengklaim dirinya adalah ahli surga sementara kelompok lain adalah ahli neraka. Klaim-klaim seperti ini sama saja merampas hak Allah. Sudah saatnya dai Islam mengetahui bahwa mereka tidak dituntut mengislamkan non-Muslim. Mereka tidak berhak mengklaim bahwa selain orang Islam akan masuk neraka karena kunci-kunci surga dan neraka tidak berada di tangan mereka.[25] Yang dituntut dari para dai setelah turunnya firman Allah yang berbunyi, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. [Q.S. Al Maidah:105] adalah sekedar menjadi saksi atas manusia. Para dai hanya bertugas memperkenalkan Islam kepada mereka kemudian membiarkan mereka menentukan keyakinan mereka sendiri.[26]
BAB III
PENUTUP
A.           Analisis

Islam adalah agama yang terbuka, tidak menutup diri, dan memberikan kebebasan berpikir bagi pemeluknya, serta mengajak pemeluknya untuk senantiasa berinteraksi antar sesama manusia tanpa membeda-bedakan antara satu dengan yang lain serta meghimbau untuk senantiasa berdialog mencari kebenaran yang hakiki dengan pihak lain (non Islam) secara baik-baik.
Disamping itu, Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang plural, sehingga sudah menjadi wajar manakala di Indonesia terjadi hubungan antar berbagai agama yang ingin hidup rukun. Sehingga sikap pluralis dan toleransi menjadi sebuah senjata penting untuk lancarnya kehidupan beragama dan bernegara.

B.            Kesimpulan

Pluralisme Agama di Indonesia adalah sebuah keniscayaan yang pasti terjadi. Karena ditinjau dari aspek yang melingkupinya, mulai dari etnis, bahasa, budaya hingga agama. Ini artinya pluralitas merupakan realitas bagi masyarakat Indonesia.
Sehingga fatwa-fatwa MUI tentang haramnya liberalisme, sekulerisme, dan pluralisme adalah fatwa yang bisa merusak citra agama dan juga bisa membahayakan masa depan kemanusiaan serta secara khusus mengancam kebhinekaan negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibangun, disepakati bersama, dengan mengorbankan darah dimana-mana.

C.           Saran

Memahami Islam dan Pluralisme memerlukan kajian yang mendalam agar tidak terjadi kesalahan pemahaman. Sehingga menjadi penyebab perpecahan umat dan kehidupan bernegara pun akan terganggu. Oleh sebab itu, belajar terbuka, tidak bersikap eksklusif adalah langkah awal untuk mempelajari Islam dan Puralisme. Hal ini sangat penting mengingat Islam adalah agama yang ditujukan untuk semua umat.
DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan terjemahan.
Ibrahim, Muslim. Pendidikan Islam untuk Mahasiswa. (Jakarta: Erlangga, 1989).
Machasin. Islam Dinamis Islam Harmonis. (Yogyakarta: LkiS, 2011).
Masduqi, Irwan. Berislam Secara Toleran. (Bandung: Mizan:2011).
Muhammad, Husain. Mengaji Pluralisme. (Bandung: Al-Mizan, 2001).
Nasution, Harun. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya. (Jakarta: UI Press, 2001) jilid I.
Toha, Anis Malik. Tren Pluralisme Agama. (Jakarta: Perspektif, 2006).
Wahid, Salahuddin. Berguru Pada Realitas. (Malang: UIN-Maliki, 2011).
Wahyuninto, Lusi dan Abd. Qodir Muslim. Memburu Akar Pluralisme Agama. (Malang: UIN-Maliki Press, 2010).
Zainuddin, M. Pluralisme Agama. (Malang: Maliki-Press, 2010).



[1] K.H. Salahuddin Wahid, Berguru Pada Realitas, (Malang: UIN-Maliki, 2011), hal. 3.
[2] Dr. H. M. Zainuddin, M.A., Pluralisme Agama, (Malang: Maliki-Press, 2010), hal. 1.
[3] Liza Wahyuninto dan Abd. Qodir Muslim, Memburu Akar Pluralisme Agama (Malang: UIN-Maliki Press, 2010), hal. 41
[4] KH. Husain Muhammad, Mengaji Pluralisme, (Bandung: Al-Mizan, 2001), hal. 62.
[5] Liza Wahyuninto dan Abd. Qodir Muslim, Memburu Akar Pluralisme Agama, hal. 9.
[6] Prof. Dr. Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, jilid I, (Jakarta: UI Press, 2001), hal .17.
[7] Dr. Muslim Ibrahim, MA, Pendidikan Islam untuk Mahasiswa, (Jakarta: Erlangga, 1989), hal. 13.
[8] Irwan Masduqi, Berislam Secara Toleran, (Bandung: Mizan:2011), hal. 231-232
[9] Liza Wahyuninto dan Abd. Qodir Muslim, Memburu Akar Pluralisme Agama, hal. 8.
[10] Machasin, Islam Dinamis Islam Harmonis, (Yogyakarta: LkiS, 2011), hal. 254-255
[11] Dr. Anis Malik Toha, Tren Pluralisme Agama, (Jakarta: Perspektif, 2006), hal. 16.
[12] Dr. H. M. Zainuddin, M.A., Pluralisme Agama, hal. 1.
[13] Dr. H. M. Zainuddin, M.A., Pluralisme Agama, hal 2.
[14] Dr. H. M. Zainuddin, M.A., Pluralisme Agama, hal 4.
[15] KH. Husain Muhammad, Mengaji Pluralisme,  hal. 60.
[16] Machasin, Islam Dinamis Islam Harmonis, hal. 43-44
[17] Machasin, Islam Dinamis Islam Harmonis, hal 130
[18] Irwan Masduqi, Berislam Secara Toleran, hal. 52-53
[19] Irwan Masduqi, Berislam Secara Toleran, hal. 47-48
[20] Irwan Masduqi, Berislam Secara Toleran, hal. 51
[21] Irwan Masduqi, Berislam Secara Toleran, hal. 51
[22] Irwan Masduqi, Berislam Secara Toleran, hal. 60
[23] Irwan Masduqi, Berislam Secara Toleran, hal. 60
[24] Gamal al-Banna (1920) adalah seorang pemikir Islam yang progresif dari Mesir. Ia adalah adik bungsu Hasan al-Banna (1906-1949), pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin.
[25] Irwan Masduqi, Berislam Secara Toleran, hal. 71
[26] Irwan Masduqi, Berislam Secara Toleran, hal. 71

MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...