Rabu, 16 Oktober 2019

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA UNTUK ANAK “PENGERTIAN AKHLAK DALAM KEHIDUPAN”


MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA UNTUK ANAK
“PENGERTIAN AKHLAK DALAM KEHIDUPAN”

BAB I
PENDAHULUAN

       A.    Latar Belakang
Akhlak merupakan sifat yang tumbuh dan menyatu di dalam diri seseorang.Dari sifat yang ada itulah terpancar sikap dan tingkah laku perbuatan seseorang, seperti sifat sabar, kasih sayang, atau malah sebaliknya pemarah, benci karena dendam, iri dan dengki, sehingga memutuskan hubungan silaturahmi.
Akhlak merupakan batu pondasi suatu kaum. Akhlak yang baik dan mulia akan mengantarkan kedudukan seseorang pada posisi yang terhormat dan tinggi. Atas dasar itulah kami menyusun makalah ini, agar kita semua sebagai makhluk Allah, tidak tersesat dalam menjalani hidup, dan dapat menjadikan Rasulullah sebagai idola kita, karena sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik bagi kita.

    B.     Rumusan Masalah
1.      Apa itu pengertian akhlak
2.      Apa itu ruang lingkup akhlak
3.      Apa itu perbandingan ukuran baik buruk dalam akhlak
4.      Apa itu aliran dalam filsafat etika
5.      Apa itu implementasi akhlak dalam kehidupan bersama

     C.    Tujuan Penulis
1.      Mengetahui pengertian akhlak dan ruang lingkup
2.      Mengetahui ruang lingkup akhlak
3.      Mengetahui perbandingan ukuran baik buruk dalam akhlak
4.      Mengetahui aliran dalam filsafat etika
5.      Mengetahui implementasi akhlak dalam kehidupan bersa

BAB II
PEMBAHASAN

     A.    Pengertian Ilmu Akhlak
Ada dua pendekatan yang dapat di gunakan untuk mendefinisikan akhlak yaitu pendekatan linguistic (kebahasaan), dan penekatan terminologik (peristilahan).Secara bahasa akhlak berasal dari kata اخلق – يخلق – اخلاقا artinya perangai, kebiasaan, watak, peradaban yang baik, agama. Kata akhlak sama dengan kata khuluq.Secara istilah akhlak berasal dari :[1]
1.     Ibnu Miskawaih: sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melaksanakan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
2.     Imam Ghazali: sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan yang mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
3.     Ibrahim Anis dalam Mu`jam al-Wasith : sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.
4.     Dalam kitab Dairatul Ma`arif : sifat-sifat yang terdidik.

     B.     Ruang Lingkup Akhlak
Jika definisi tentang ilmu akhlak tersebut kita perhatikan dengan seksama, akan tampak bahwa ruang lingkup pembahasan ilmu akhlak adalah membahas tentang perbuatan – perbuatan manusia, kemudian menetapkannya apakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk.
Dengan mengemukakan beberapa literaratur tentang akhlak tersebut menunjukan bahwa keberadaan ilmu akhlak sebagai sebuah disiplin ilmu agama sudah sejajar dengan ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti tafsir, tauhid, fiqh, sejarah islam, dan lai-lain. Pokok-pokok masalah yang dibahas dalam ilmu akhlak pada intinya adalah perbuatan manusia.
Tujuan akhlak adalah menggapai suatu kebahagiaan hidup umat manusia baik di dunia dan di akhirat.Dikarekan itulah kita sebagai manusia untuk hidup saling membantu baik dari pekerjaan, kebutuhan atau lainnya.

      C.    Perbandingan Baik Buruk Akhlak Aliran dalam filsafat Etika
a)     Pengertian akhlak dan etika
Secara etimologis, akhlak berasal dari bahasa Arab, jama’ah dari khuluqun artinya budi pekerti, tingkah laku, tabi’at, dan lain-lain.Akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, antara yang terpuji dan yang tercela, baik perkataan maupun perbuatan manusialahir dan batin (Hamzah Ya’qoub).
Dikatakan pula, akhlak adalah ilmu pengetahuan yang memberikan pengertian tentang baik dan buruk, ilmu yang mengerjarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka.
Sedangkan etika ialah ilmu tentang tingkah laku manusia, prinsip-prinsip yang sistematis tentang tindakan moral yang betul, bagian filsafat yang memperkembangkan teori tentang tindakan, hujah-hujahnya dan tujuannya yang diarahkan kepada makna tindakan.
Dengan kata lain, etika adalah ilmu yang membahas perbuatan baik dan perbuatan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia. Untuk mendapatkan konsep yang sama mengenai penilaian baik dan buruk bagi semua manusia dalam ruang dan waktu tertentu[2]. Sesuatu hal dikatakan baik bila ia mendatangkan rahmat dan memberikan perasaan senang atau bahagia. (Sesuatu dikatakan baik bila ia dihargai secara positif). Segala yang tercela.Perbuatan buruk berarti perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma masyarakat yang berlaku. 
Kriteria perbuatan baik atau buruk yang akan diuraikan di bawah ini sebatas berbagai aliran atau faham yang pernah dan terus berkembang sampai saat ini..[3]
1)      Aliran etika naturalism
Aliran ini berpendirian bahwa sesuatu dalam dunia ini menuju kepada suatu tujuan dengan memenuhi panggilan nature/alam setiap sesuatu akan dapat sampai kepada kesempurnaan. Yang menjadi ukuran baik dan buruknya perbuatan manusia adalah perbuatan yang sesuai dengan fitrajh / naluri manusia itu sendiri.
Yang menjadi ukuran baik atau buruk adalah :”apakah sesuai dengan keadaan alam”, apabila alami maka itu dikatakan baik, sedangkan apabila tidak alami dipandang buruk.
2)      Aliran etika hedonisme
Aliran hedonisme berpendapat bahwa aliran baik dan buruk adalah kebahagiaan karenanya suatu perbuatan dapat mendatangkan kebahagiaan maka perbuatan itu baik dan sebaliknya perbuatan itu buruk apabila mendatangkan penderitaan.
Maksud dari kebahagiaan dari aliran ini adalah hedone, yakni kelezatan, kenikmatan, dan kepuasan rasa serta terhindar dari penderitaan.Ada juga yang mengartikan kelezatan adalah ketentraman jiwa yang berarti keimbangan badan.
3)      Aliran etika utilitarisme
Paham ini berpendapat bahwa yang baik adalah yang bermanfaat hasilnya dan yang buruk hasilnya tidak bermanfaat.Manfaat disini adalah kebahagiaan untuk sebanyak-banyak manusia dari segi jumlah atau nilai.
Maksud dari paham ini adalah agar manusia dapat mencari kebahagiaan sebesar-besarnya untuk sesama manusia atau semua mahkluk yang memiliki perasaan.
4)      Aliran etika idealisme
                                                                                i.            Wujud yang paling dalam arti kenyataan (hakikat) ialah kerohanian. Seorang berbuat baik pada prinsipnya bukan karena dianjurkan oleh orang lain melainkan timbul dari dirinya sendiri dan rasa kewajiban.
                                                                              ii.            Faktor yang paling penting mempengaruhi manusia adalah “kemauan” yang melahirkan tindakan konkret dan menjadi pokok di sini adalah “kemauan baik”.
                                                                            iii.            Dari kemauan yang baik itulah dihubungkan dengan sesuatu hal yang menyempurnakannya yaitu “rasa kewajiban”. 
Menurut aliran ini “kemauan” merupakan faktor terpenting dari wujudnya tindakan-tindakan yang nyata. Kemauan perlu disempurnaka dengan perasaan kewajiban agar terwujud tindakan yang baik.
5)      Aliran etika vitalisme
Perbuatan baik menurut aliran ini adalah orang yang kuat, dapat memaksakan dan menekankan kehendaknya.Agar berlaku dan ditaati oleh orang-orang yang lemah.Manusia hendaknya mempunyai daya hidup atau vitalita untuk menguasai dunia dan keselamatan manusia tergantung daya hidupnya.


6)      Aliran etika teologi
Aliran ini menyatakan bahwa baik dan buruknya perbuatan sekarang tergantung dari ketaantan terhadap ajaran Tuhan lewat kitab sucinya.Hanya saja aliran ini tidak menyebutkan dengan jelas Tuhan dan Kitab sucinya.
Yang menjadi ukuran baik-buruknya perbuatan manusia adalah didasarkan kepada ajaran Tuhan.Segala perbuatan yang diperintah Tuhan itu perbuatan yang baik dan segala perbuatan yang dilarang oleh Tuhan itu perbuatan buruk.
7)      Aliran ajaran islam
Menurut paham ini bahwa penentuan baik dan buruk dalam ajaran Islam harus didasarkan pada petunjuk Al-Quraan dan As-Sunnah.Ada beberapa istilah yang mengacu kepada yang baik, diantaranya Al-Khair lawannya As-Syarr. 
Adanya berbagai istilah yang demikian variatif yang diberikan Al-Quran dan Al Hadis itu menunjukan bahwa penjelasan sesuatu yang baik menurut ajaran agama Islam jauh lebih lengkap dan komprehensif karena meliputi kebaikan yang bermanfaat bagi akal, ruhani, jiwa, kesejahteraan di dunia dan akhirat, serta akhlak yang mulia.
b)      Perbandingan akhlak dan etika
Akhlak merupakan sebuah wahyu dari Allah dan bersifat mutlaq tidak dapat di rubah-rubah.[4]Sedangkan etika merupakan sebuah dasar pikiran manusia yang bersifat relatif sehingga bisa berubah-ubah, tapi jika jika etika tersebut merupakan hasil dari izma-izma para ulama bisa bersifat mutlaq[5].Persamaan akhlak dengan etika adalah karena keduanya membahas masalah baik dan buruk, tentang tingkah laku manusia, serta bertujuan agar manusia mempunyai budi perkerti yang baik.
      D.    Implementasi Akhlak Untuk Kehidupan Bersama
Akhlaq mulia merupakan cita-cita yang diharapkan terwujud di setiap pribadi manusia yang akan senantiasa dinantikan sebagai penghias karakter seluruh generasi di segenap masa. Berikut akan dijelaskan beberapa penerapan akhlaq mulia :
1.      Akhlak kepada kholik (pencipta)
Salah satu perilaku atau tindakan yang mendasari akhlak kepada Pencipta adalah Taubat. Selain itu, kita juga harus beriman kepada Allah semata, menyembah, beribadah, dan berdoa hanya kepada Allah, mencintai, bersyukur, berdzikir, tawakal, dan takwa kepada Allah, dan sebagainya.
2.      Akhlak kepada sesama
a)      Akhlak kepada sesama muslim
Penerapan akhlaq kepada sesama muslim misalnya ketika kita ingin di hargai oleh orang lain, maka kewajiban kita juga harus menghargai orang lain, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, menyantuni yang fakir, menjaga lisan dalam perkataan agar tidak membuat orang lain disekitar kita merasa tersinggung, dan sebagainya.
b)      Akhlak kepada sesama nonmuslim
Akhlaq antara sesama nonmuslim diajarkan dalam agama karena mereka (nonmuslim) juga merupakan makhluk. Berbicara masalah keyakinan adalah persoalan nurani yang mempunyai asasi kemerdekaan yang tidak bisa dicampuradukkan hak asasi kita dengan hak merdeka orang lain, apalagi masalah keyakinan, yang terpenting adalah kita lebih jauh memaknai kehidupan sosial karena dalam kehidupan ada namanya etika sosial[6]. Masalah etika sosial tidak terlepas dari karakter kita dalam pergaulan hidup.[7]
3.      Akhlak kepada diri sendiri
a)     Menjaga kehormatan dan harga diri, membersihkan diri lahir dan batin.
b)     Memiliki dan memupuk sifat-sifat terpuji.
c)      Taat menjalankan ajaran agama.
d)     Menjaga lisan, mata, telinga, dan tangan dari perbuatan tercela.
e)     Mencari rezeki yang halal.
f)      Selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah, beramal shaleh, meningkatkan iman dan takwa.
4.      Akhlak kepada keluarga
Berikut akan diberikan beberapa contoh penerapan akhlaq mulia kepada keluarga :
a)      Kepada orangtua : berbakti, menghormati, menyayangi dan mendoakan keduanya, tidak berkata kasar, tidak menyakiti hati dan fisik mereka, apabila mereka sudah sepuh, keduanya disantuni dan diberi nafkah.
b)      Kepada istri atau suami : menjaga kedamaian, ketenangan, saling menghormati, saling menyayangi, bersikap jujur dan terbuka, tidak selingkuh dan saling curiga, dan sebagainya.
c)      Kepada tetangga dan masyarakat : saling membantu, tenggang rasa, gortong royong, saling menghormati, saling meminta dan memberi, dan sebagainya.
d)     Hormat dan memuliakan guru dan dosen, dan sebagainya.
5.      Akhlak kepada lingkungan (alam semesta)
a)      Memperhatikan dan merenungkan penciptaan alam semesta serta bersyukur kepada Allah.
b)      Memanfaatkan alam semesta dengan sebesar-besarnya bagi kemakmuran hidup manusia.
c)      Menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan flora dan fauna serta alam semesta ini untuk kepentingan manusia.
d)     Tidak berlaku dzalim, aniaya, atau mengeksploitasi secara semena-mena, seperti penebangan hutan secara liar, penggalian tambang tanpa mempedulikan lingkungan, membuat polusi, dan sebagainy
BAB III
PENUTUP

         A.    KESIMPULAN
Berdasarkan uraian dan penjelasan diatas mengenai Akhlak, dapat kita tarik kesimpulan sebagai berkut ;
1.     Akhlaq mulia merupakan cita-cita yang diharapkan terwujud di setiap pribadi manusia yang akan senantiasa dinantikan sebagai penghias karakter seluruh generasi di segenap masa
2.     Sebagai manusia kita harus memahami dan menerapkan beberapa akhlak, yakni Akhlak kepada pencipta, kepada sesama baik muslim maupun nonmuslim, diri sendiri, keluarga, dan lingkungan.
3.     Zaman yang semakin modern membuat manusia menjadi lupa diri dan sering berada diluar garis batas ajaran agamanya.
4.     Manusia yang hidup didunia harus memiliki aqidah dan akhlak yang kokoh sebagai benteng sehingga tidak tersesat dan apa-apa yang kita lakukan tidak melanggar ajaran agama yang telah ditentukan.
5.     Dan untuk menjaga akhlak, kiat harus sering mengingat Allah dan bergaul dengan orang-orang shaleh agar pada saat kita lupa kita cepat disadarkan kembali untuk kembali ke jalan yang benar.

DAFTAR PUSTAKA
Prof.Dr.H.Abuddin Nata, MA, 2006. Akhlak Tasawwuf . Jakarta. PT RajaGrafindo Persada.
Departemen Agama R.I., 2005. Al-Qur’an dan Terjemahnya. PT. Syaamil.Kaelany.(2009). Islam Agama Universal. Jakarta: Midada Rahma Press.
Gandaatamaja, Muhtar, Ahmad Saefurrizal. 2000: Kuliah Al-Isla Akidah, Syari’ah, dan Akhlak. Lembaga Pendidikan dan Dakwah Al-Hikmah. Bandung.


[1] Abdul Rozak, Metodologi Studi Islam (Bandung: Pustaka Setia,2008), 68
[2] Muhyar Fanani, Metode Studi Iskam: Aplikasi Sosiologi Pengetahuan Sebagai Cara Pandang (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2008), ix
[3] M.Amin Syukur, Pengantar Studi Islam (Semarang: Pustaka Nuun, 2010), 29.
[4] Ngainun Naim, Pengantar Studi Islam (Yogyakarta: Teras, 2009), 7-9
[5] Subahri Subahri, “Aktualisasi Akhlak Dalam Pendidikan ,” ISLAMUNA: Jurnal Studi Islam 2 no. 2 (5 Desember 2015): 169.
[6] Ibid.
[7] Kasmali, “Sinergi Implementasi Antara Pendidikan Akidah dan Akhlak Menurut Hamka,” 270

Selasa, 15 Oktober 2019

MAKALAH TEORI SOSIAL BUDAYA MANUSIA DAN ILMU


MAKALAH
TEORI SOSIAL BUDAYA MANUSIA DAN ILMU(SICENCE)



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia merupakan salalah satu makhluk ciptaan Tuhan. Manusia dilengkapi potensi seperti akal, budi, karsa, dan karya yang tidak dimiliki makhluk ciptaan tuhan yang lainnya. Karena itu manusia makhluk paling sempurna. Dengan akal yang dimilikinya manusia mempunyai kemampuan berpikir. Sudah menjadi tabiat manusia untuk ingin tahu. Hasrat ini rupa-rupanya didorong oleh pemberian tertinggi maha pencipta kepada manusia, yaitu pikiran. Oleh karena itu, pada akhirnya manusia menamakan dirinya sebagai homo sapiens, yaitu makhluk berpikir.
Pikiran manusia sebagai pemberian tertinggi Tuhan kepada manusia, bermaksud bahwa hanya dengan pikiran inilah manusia ditunjukkan Tuhan menjadi khalifah di bumi. Dengan pikiran ini juga manusia dapat mengungguli semua makhluk ciptaan manusia. Oleh karena itu, tanpa pikiran manusia sama dengan hewan bahkan lebih rendah dari itu.
Walaupun manusia memiliki pikiran, tetapi bukan jaminan bagi manusia memiliki pengetahuan secara otomatis, karena rupanya pikiran manusia hanyalah wadah pengetahuan saja, tidak lebih dari itu. Secara historis, peengtahuan bagaimana tuhan mengajarkan nabi Adam a.s. tentang nama-nama berbagai benda dan makhluk memperkuat keyakinan kita bahwa manusia pada awalnya penciptaannya tidak memiliki pengetahuan apa-apa. Kemudian pada perkembangan berikutnya barulah manusia memperoleh pengetahuan dari pengalaman pengalamannya. Dua fase inilah pemberitahuan dan pengalaman adalah cikal bakal dari npenegmbangan semua system ilmu penegtahuan manusia.
Dalam hal pengembangan pengetahuan manusia, baik yang bersumber dari pemberitahuan maupun pengalaman, banyak dipengaruhi oleh rasa ingin tahu manusia itu sendiri. Kemudian rasa ingin tahu inilah yang menjadi penentu dan penegmbangan ilmu pengetahuan selanjutnya.
Pengetahuan tidak saja meningkatkan apresiasi manusia tentang apa yang dimuai, tetapi juga dengan serempak membuka mata manusia lebar-lebar terhadap berbagai kekurangannya, karena ilmu pengetahuan bukan jawaban satu-satunya terhadap dorongan ingin tahu manusia. Oleh karnanya ada orang yang sengaja memalingkan muka dari tatapan ilmu, sebaliknya juga ada sekelompok orang yang tergila-gila dengan ronanya ilmu dan membuat dia lupa segala-galanya. Ilmu membuatnya lupa diri dan bahkan dewa kehidupan.
Manusia adalah  mahkluk ciptaan Tuhan yang selalu berpikir merasa,  mencipta dan berkarya. Dalam kesehariannya manusia tumbuh dan berkembang serta mengembangkan sesuai dengan harkat dan keberadaannya.manusia menyatakan dan mempertimbangkan, dia juga berkehendak dan memilih,namun Tuhan yang memutuskan dalam hal kehendak dalam melakukan sesuatu keakuannya hadir dalam dirinya dan menguasai dirinya. Dia mempunyai kemampuan untuk memilih apa yang di kehendakinya.dia juga mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang ada selagi masih dalam batas jangkauan pancaindranya.manusia pada hakikinya bebas dalam kodratnya yg terbatas di hadapan sang khalik.
Meskipun demikian manusia mempunyai kelebihan dari mahkluk lain. Manusia adalah mahluk berpikir, mahluk rasional dan mahluk intelegen,yang selalu berupaya memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Kompleksitas masalah yang dihadapi masing masing individu dalam linkungannya akan di warnai pula oleh kemampuan manusia itu sendiri. Tingkat perkembangan masyarakat dan kemajuan teknologi. Dalam masyarakat modern dan masyarakat global. Disamping itu masalah yang di hadapi manusia bertambah kompleks pula.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.    Apa itu pengertian manusia dan ilmu?
2.    Mengapa dikatakan manusia mahluk sempurna namun terbatas?
3.    Bagaimana manusia mencari kebenaran (keilmuan)?
4.    Kenapa manusia mempunyai hasrat ingin tahu?
5.    Bagaimana cara berpkir deduktif, induktif dn keilmuan?
C.    TUJUAN
1.    Untuk mengetahui pengertian manusia dan ilmu
2.    Untuk mengetahui dikatakan manusia mahluk sempurna namun terbatas
3.    Untuk mengetahui manusia mencari kebenaran (keilmuan)
4.    Untuk mengetahui manusia mempunyai hasrat ingin tahu
5.    Untuk mengetahui cara berpkir deduktif, induktif dn keilmuan?
 BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Manusia dan Ilmu
Menurut Paula J. C. & Janet W. K. Manusia merupakan makhluk yang terbuka, bebas memilih makna di dalam setiap situasi, mengemban tanggung jawab atas setiap keputusan, yang hidup secara berkelanjutan, serta turut menyusun pola hubungan antar sesama dan unggul multidimensional dengan berbagai kemungkinan.
Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

B.     Manusia Mahluk Sempurna Namun Terbatas
Meskipun rasa ingin tahu dan menyelidiki secara inflisit berada dalam diri manusia,namun sebagai mahluk rasional manusia memiliki keterbatasan dalam kadar potensi yang dimiliki sesuai dengan anugrah yang maha kuasa. manusia merasa berpikir dan mengindra. Diluar itu bukan lagi dalam jangkauan pancaindra manusia dan manusia tidak mampu lagi memikirkannya. Manusia dapat dirusak oleh angin yang datang secara mendadak dan tidak kuasa manusia meniadakannya. Hal itu karna berada di luar jangkauan manusia.
Manusia pada prinsipnya tidak dapat menciptakan dari yang “tidak ada”menjadi “ada” tetapi dapat menciptakan kreasi baru berdasarkan yang diciptakanNYA. Manusia dengan kemampuan berpikirnya, dapat menyelidiki dan mendaratkan manusia di bulan, dan menyelidiki planet planet yang belum terjangkau dalam pikiran manusia di masa lalu. Tapi manusia tidak mampu menciptakan bulan ataupun yupiter. Mereka juga adapat memikirkan tentang sebab sebab terjadinya suatu penyakit dan bagaimana penyembuhannya. Baik dengan ramuan tumbuh tumbuhan yang bersifat alami maupun melalui proses kimiawi, namun manusia tidak mampu menciptakan atau menghidupkan kembali tumbuh tumbuhan yang telah mati karna digunakannya. Tanpa seizing tuhan maha pencipta dan maha penentu dunia yang fana ini.
Keterbatasan manusia itu bersumber dari keterbatasannya sebagai mahluk yang di ciptakan Tuhan, sejak saat diciptakan oleh maha pencipta. Di samping itu keterbatasan dalam pengembangan potensi diri yang telah mereka miliki serta keterbatasan dalam pemanfaatan apa yang telah mereka miliki dalam berpikir dan menalar akan membawa akibat dalam kekurang sempurnaan diri masing masing. Manusia dengan kerja yang sistematis , kreatif, dan logis akan dapat mengungkapkan memecahkan dan menemukan sesuatu sesuai dengan keterbatasan yang diberikan kepadanya.
Copernicus dengan dorongan yang kuat menggunakan kemampuan berpikir yang dimilikinya untuk membuktikan dan menemukan sesuatu yang baru. Ia meragukan kebenaran konsep di era sebelumnya. “matahari mengitari bumi dan planet lainnya” pendapat Ptolemy dan ariestoteles itu telah berakar pada masyarakat. Pendapat itu dapat di batalkan kebenarannya dengan menyalakan pendapat itu berdasarkan bukti empiris baru.

C.  Manusia Mencari Kebenaran (Keilmuan)
Tiada yang langgeng dalam kehidupan termasuk di dalamnya kebenaran sebagai hasil manusia dalam memecahkan masalah atau dalam menemukan sesuatu yang baru. Kebenaran ilmuan bukanlah sesuatu yang selesai untuk selama-lamanya. Fisher (1975: 48)  menyatakan, bahwa kebenaran adalah kebenaran dapat berupa sesuatu, kejadian, dan faktaa, argumentasi fakta, pertimbangan, preposisi, atau ide yang benar atau diterimah sebagai sesuatu yang benar. Kebenaran dalam ilmu dibatasi fakta-fakta alam yang dapat diobservasi baik dengan menggunakan panca indra maupan dengan memanfaatkan alat bantu teknologi serta kemampuan manusia/pengamatan itu sendiri.
Alam dan lingkungan selalu berubah. Cepat atau lambat manusia bagian dari lam tidaklah dapat di pisahkan diri dari segala gejalah y6ang terjadi pada masyarakat. Manusia tidak mungkin mengisolasi diri, karena manusia mempunyai akal yang merupakan kelebihannya dari makhluk lain. Manusia dapat menantang, menyesuaikan diri, atau menguasai lingkungan selagi dalam batas kemampuannya. Untuk itu manusia harus proaktif: berfikir kreatif, logis, kritis, dan analitis; serta melakukan interaksi positif dengan lingkungan dan menyelidiki bagaimana kejadian fenomena alam tersebut. Secara umum fenomena alam dapat didekati mela;ui tiga cara: (1) pengalaman (experience); (2) penalaran (reasoning); (3) penelitian (research).

D.  Hasrat Ingin Tahu
Dengan kita ketahui atau sejarah telah menunjukkan bahwa manusia dimuka bumi ini dengan keterbatasan selalu ingin berusaha mencari dan menemukan sesuatu yang baru. Mereka berusaha mencari, menemukan, menggali, menyelidik, dan menganalisis sesuatu dengan tekun dan teliti. Lambat laun mereka berhasil menemukan dan mengungkapkan sesuatu yang samar-samar, sesuatu yang masih gelap, dan sesuatu yang terselubung menjadi transparan, bermakna, serta berguna bagi manusia, lain dan lingkungannya.
Sebagai makhluk yang rasional, manusia itu dilengkapi pula dengan berbagai dimensi psikologis yang lain, bakat, sifat, kemampuan, kemauan, minat, perasaan, motivasi, rasa aman, dan kreatifitas. Dimensi psikologis tersebut merupakan tenaga penggerak atau dapat digerakkan sehingga mendorong seseorang mau dan mampu melakukan sesuatu.

E.  Manusia, Masalah Dan Dua Pendekatan Dalam Mencari Kebenaran
Sebagai makhluk hidup ia mampu hidup dan memperbaiki serta meningkatkan hidupnya sesuai dengan tuntutan, perubahan, dan kemajuan zaman. Melanjutkan hidup bukan berarti hidup sebagaimana adanya, alami, dan tidak berkembang, melaikan ia harus mampu maberikan warna dan arti serta nuansa tersendiri pada hidupnya. Mereka harus bertindak cepat dan tepat serta hidup lebih baik dari yang sebelumnya.
Tantangan dan tuntutan masyarakat yang bertambah kompleks dilingkungannya membuat manusia tidak terbebas dari masalah. Sering terjadi jurang antara apa yang diharapkan dan realitas dalam masyarakaat. Masalah itu berbeda pada setiap manusia dalam kehidupannya, dan sangat tergantung pada kekuatan, kelemahan dan ambisi serta komplesitas hidup yang dilalui seseorang. Bagaimana individu tertentu naiknya harga minyak bukanlah masalah karena mereka masih mampu mengatakannya. Mereka masih dapat hidup layak dengan pendapatan yang diterimanya, namun bagi individu lainnya dengan penghasilan terbatas, kondisi tersebut telah menimbulkan masalah dan gangguan dalam kehidupannya.
Pengetahuan (knowledge) adalah segala sesuaitu yang diketahui manusia tentang suatu objek, termasuk didalamnya ilmu, tetapi tidak semua penegtahuan dapat disebut ilmu. Banyak ahli menegemukakan pendapatnya tentang ilmu, namun belum terdapat perumusan yang baku dan seragam, karena mereka meninjau dari sisi yang berbedah. Ilmu  dapat pula dibedakan dari pengetahuan berdasarkan objeknya.
Ada dua hal pendekatan dalam mencari kebenaran
Yaitu: 
           1.      Pendekatan non-ilmiah
Dalam pendekatan non-ilmiah ini ada beberapa bentuk yang dapat digunakan, yaitu:
a.       Akal sehat
Akal sehat merupakan salah satu cara menerimah dan memverifikasi pengetahuan pada umumnya. Akal sehat dapat digunakan untuk kegiatan praktis berdasarkan pengalaman untuk kemenusiaan. Karena itu, dapat digunakan untuk memecahkan masalah dalam rangka mencari kebenaran.
b.      Pendapat otoritas ilmiah seseorang
Kebenaran yang didapat melalui otoritas ini bukanah sesuatu yang benar sepanjang zaman. Banyak ilmua atau teori yang bertahan cukup lama, namun kemudian ternyata salah setelah ditemukan dengan cara-cara baru melalui penyelidikan secara ilmiah.
c.        Intuisi
Cara ini sering juga dilakukan atau digunakan seseorang dalam memecahkan suatu masalah atau memecahkan suatu kesulitan. Seseorang menentukan suatu pendapat atau keputusan sesuai dan/atau berdasarkan sesuatu yang didapat dengan cepat melalui proses yang tidak disadari atau sesuatu yang tidak dipikirkan terlebih dahulu, atau tanpa melalui langkah-langkah tertentu. Dengan intuisi seseorang melakyukan penelitian tan
disertai oleh pemikiran yang sistematis dan mendalam. Jadi tidak ada langlah-langkah yang diatur terlebih dahulu dan tidak ada pula hal-hal yang perlu dikendalikan atau diawasi.
d.      Coba dan salah (trial and error)
Cara ini juga biasa dilakukan atau digunakan walaupun kurang efisien., tidak sistematis, dan tidak terkontrol. Oleh karena itu sangat sulit digunakan untuk dapat memecahkan masalah secara tuntas dan dalam waktu yang relative pendek.
        2.      Pendekatan nilmiah
Pengetahuan dan kebenaran yang didapat melaui pendekatan ilmiah dengan menggunakan penelitian atau penyelidikan sebagai wahana, serta berpijak pada teori tertentu yang berkembang berdasarkan penelitian secara empiris sebelumnya akan mempunyai kekuatan yang sangat berarti dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Teori yang digunakan sebagai dasar pengkajian, teah diuji kebenaran kecanggihan maupun keterandalannya

F.       Cara Berpikir Deduktif, Induktif, Dan Ilmuwan
1.      Cara berpikir induktif
 ini dimulai denga teori, dan diakhiri dengan fenomena atau hal khusu. Ini berarti bahwa dalam berpikir deduktif seseorang /pemikir bertolak dari pernyataan yang bersifat deduksi disebut silogisme disusun dari dua pernyataan atau proposisi, yaitu pernyataan yang menerima atau menolak suatu hal.
2.      Cara berpikir induksi
Cara berpikir induksi ini dimulai dengan pernyataan yang bersifat khusus. Karena
itu dalam berpikir induksi ini dimulaqi dengan penalaran yang mempunyai ciri khas yang terbatas ruang lingkupnya dan kemudian ditarik suatu kongklusi yang bersifat umum. Dalam logika deduksi, konklusi yang disimpulkan adalah benar apabila kedua premis sebelumnya benar dan cara penarikan kesimpulan juga benar, tetapi tidak demikina dalam logika induksi.
3.         Cara berpikir keilmuwan
Cara berpikir keilmuwan mencoba menggabungkan kedua cara berpikir tersebut, yaitu deduksi-induksi yang merupakan satu kesatuan dalam mencari atau menemukan kebenaran, sebab cara berpikir deduksi akan membawa para pemikir cenderung untuk membenarkan cara sendiri, sedangkan cara berpikir induksi juga tidak sampai kepada kebenaran kalau fakta yang ada tidak diberi arti oleh pencari ilmu.  Cara berpikir keilmuwan merupakan cara berpikir induksi-deduksi atau dengan deduksi-induksi . kebenran yang telah ada secara relative akan ditinjau kem,bali untuk selanjutnya diuji secara empiris, menurut langkah-langkah dalam metode ilmiah.


BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Manusia merupakan salalah satu makhluk ciptaan tuhan. Manusia dilengkapi potensi seperti akal, budi, karsa, dan karya yang tidak dimiliki makhluk ciptaan tuhan yang lainnya. Karena itu manusia makhluk paling sempurna. Walaupun manusia memiliki pikiran, tetapi bukan jaminan bagi manusia memiliki pengetahuan secara otomatis, karena rupanya pikiran manusia hanyalah wadah pengetahuan saja, tidak lebih dari itu.
Alam dan lingkungan selalu berubah. Cepat atau lambat manusia bagian dari alam tidaklah dapat dipisahkan diri dari segala gejala yang terjadi pada masyarakat. Manusia tidak mungkin mengisolasi diri, karena manusia mempunyai akal yang merupakan kelebihannya dari makhluk lain. Sebagai makhluk hidup ia mampu hidup dan memperbaiki serta meningkatkan hidupnya sesuai dengan tuntutan, perubahan, dan kemajuan zaman. Melanjutkan hidup bukan berarti hidup sebagaimana adanya, alami, dan tidak berkembang, melaikan ia harus mampu memberikan warna dan arti serta nuansa tersendiri pada hidupnya. Mereka harus bertindak cepat dan tepat serta hidup lebih baik dari yang sebelumnya.

B.  SARAN
Saran kepada pembaca agar dapat mempergunakan akal pikirannya untuk berbuat hal-hal yang positif yang dapat mengantarkannya kejalan yang lurus guna mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Setelah kita mengetahui hakikat dari manusia marilah kita berbenah diri untuk menyonsong masa depan baik didunia maupun di akhirat
DAFTAR PUSTAKA

Burha, metodologi penelitian social dan ekonomi jakarta : kencana
                                                            
www.google.com/search?/manusia.dan.ilmu

MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...