Sabtu, 26 Oktober 2019

MAKALAH PERKEMBANGAN ILMU TAUHID


MAKALAH PERKEMBANGAN ILMU TAUHID

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Tauhid merupakan bahasan yang penting dalam ajaran islam, karena Tauhid ini adalah salahsatu ajaran untuk meyakinkan kita bahwa tiada Tuhan selain Allah. yang patut kita sembah, dan sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Serta percaya adanya kitab-kitab Allah, malaikat, rasul, hari Akhir, qodho dan qodar Allah SWT. Maka, pantas para ulama mewajibkan kepada mukalaf untuk mempelajari ilmu Tauhid ini.
Di Indonesia, banyak para ulama yang membuat kitab tentang Tauhid. Diantaranya syaikh Nawawi al-Bantani. Beliau merupakan ulama yang paling masyhur. Hal ini terbukti dengan muridnya yang banyak, demikian juga karyanya. Kemasyhuran namanya tidak hanya terbatas di lingkungan kolonial Jawa di makkah, tapi juga di Negara-negara Timur Tengah lainnya, di Asia Tenggara dan terutama di Indonesia.[1]
B.     Rumusan Masalah
1.       Bagaimanakah perkembangan ilmu tauhid dari masa ke masa?
2.      Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan aliran-aliran dalam ilmu tauhid?

C.    Tujuan
1.      Menjelaskan perkembangan ilmu tauhid dari masa ke masa
2.      Menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan aliran-aliran dalam ilmu tauhid.

BAB II
PEMBAHASAN

    A.   Perkembangan Ilmu Tauhid Dari Masa Ke Masa
     1.      Perkembangan Ilmu Tauhid Di Masa Rasulullah Saw
Masa Rasulullah saw merupakan periode pembinaan aqidah dan peraturan peraturan dengan prinsip kesatuan umat dan kedaulatan Islam. Segala masalah yang kabur dikembalikan langsung kepada Rasulullah saw sehingga beliau berhasil menghilangkan perpecahan antara umatnya.[2] Masing-masing pihak tentu mempertahankan kebenaran pendapatnya dengan dalil-dalil, sebagaimana telah terjadi dalam agama-agama sebelum Islam. Rasulullah mengajak kaum muslimin untuk mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya serta menghindari dari perpecahan yang menyebabkan timbulnya kelemahan dalam segala bidang sehingga menimbulkan kekacauan. Allah swt berfirman dalam Al-Quran surat al-Anfal ayat 46.

  
Artinya: “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.[3]

Dengan demikian Tauhid di zaman Rasulullah saw tidak sampai kepada perdebatan dan polemik yang berkepanjangan, karena Rasul sendiri menjadi penengahnya.

      2.      Perkembangan Ilmu Tauhid Di Masa Khulafaur Rasyidin
Setelah Rasulullah saw wafat, dalam masa khalifah pertama dan kedua, umat islam tidak sempat membahas dasar-dasar akidah karena mereka sibuk menghadapi musuh dan berusaha memprtahankan kesatuan dan kesatuan umat. Tidak pernah terjadi perbedan dalam bidang akidah. Mereka membaca dan memahamkan al Qur’an tanpa mencari ta’wil dari ayat yang mereka baca. Mereka mengikuti perintah alqur’an dan mereka menjauhi larangannya. Mereka mensifatkan Allah swt dengan apa yang Allah swt sifatkan sendiri. Dan mereka mensucikan Allah swt dari sifat-sifat yang tidak layak bagi keagungan Allah swt. Apabila mereka menghadapi ayat-ayat yang mutasyabihah mereka yang mengimaninya dengan menyerahkan penta’wilannya kepada allah swt sendiri.
Di masa khalifah ketiga akibat terjadi kekacauan politik yang diakhiri dengan terbunuhnya khalifah Utsman. Umat Islam menjadi terpecah menjadi beberapa golongan dan partai, barulah masing-masing partai dan golongan-golongan itu dengan perkataan dan usaha dan terbukalah pintu ta’wil bagi nas al Qur’an dan Hadits. Karena itu, pembahasan mengenai akidah mulai subur dan berkembang, selangkah demi selangkah dan kian hari kian membesar dan meluas.

      3.      Perkembangan Ilmu Tauhid Di Masa Daulah Umayyah.
Dalam masa ini kedaulatan Islam bertambah kuat sehingga kaum muslimin tidak perlu lagi berusaha untuk mempertahankan Islam seperti masa sebelumnya. Kesempatan ini digunakan kaum muslimin untuk mengembangkan pengetahuan dan pengertian tentang ajaran Islam. Lebih lagi dengan berduyun-duyun pemeluk agama lain memeluk Islam, yang jiwanya belum bisa sepenuhnya meninggalkan unsur agamanya, telah menyusupkan beberapa ajarannya. Masa inilah mulai timbul keinginan bebas berfikir dan berbicara yang selama ini didiamkan oleh golongan Salaf.
Muncullah sekelompok umat Islam membicarakan masalah Qadar(Qadariyah) yang menetapkan bahwa manusia itu bebas berbuat, tidak ditentukan Tuhan. Sekelompok lain berpendapat sebaliknya, manusia ditentukan Tuhan, tidak bebas berbuat (Jabariyah). Kelompok Qadariyah ini tidak berkembang dan melebur dalam Mazhab mu’tazilah yang menganggap bahwa manusia itu bebas berbuat (sehingga mereka menamakan dirinya dengan “ahlu al-adli”), dan meniadakan semua sifat pada Tuhan karena zat Tuhan tidak tersusun dari zat dan sifat, Ia Esa (inilah mereka juga menamakan dirinya dengan “Ahlu At-Tauhid”).
Penghujung abad pertama Hijriah muncul pula kaum Khawarij yang mengkafirkan orang muslim yang mengerjakan dosa besar, walaupun pada mulanya mereka adalah pengikut Ali bin Abi Thalib, akhirnya memisahkan diri karena alasan politik. Sedangkan kelompok yang tetap memihak kepada Ali membentuk golongan Syi’ah.

      4.      Perkembangan Ilmu Tauhid Di Masa Daulah Abbasyiah.
Masa ini merupakan zaman keemasan dan kecemerlangan Islam, ketika terjadi hubungan pergaulan dengan suku-suku di luar arab yang mempercepat berkembangnya ilmu pengetahuan. Usaha terkenal masa tersebut adalah penerjemahan besar-besaran segala buku Filsafat.
Para khalifah menggunakan keahlian orang Yahudi, Persia dan Kristen sebagai juru terjemah, walaupun masih ada diantara mereka kesempatan ini digunakan untuk mengembangkan pikiran mereka sendiri yang diwarnai baju Islam tetapi dengan maksud buruk. Inilah yang melatarbelakangi timbulnya aliran-aliran yang tidak dikehendaki Islam.
Dalam masa ini muncul polemik-polemik menyerang paham yang dianggap bertentangan. Misalnya dilakukan oleh ‘Amar bin Ubaid Al-Mu’tazili dengan bukunya “Ar-Raddu ‘ala Al-Qadariyah” untuk menolak paham Qadariyah. Hisyam bin Al-Hakam As-Syafi’i dengan bukunya “Al-Imamah, Al-Qadar, Al-Raddu ‘ala Az-Zanadiqah” untuk menolak paham Mu’tazilah. Abu Hanifah dengan bukunya “Al-Amin wa Al-Muta’allim” dan “Fiqhu Al-Akbar” untuk mempertahankan aqidah Ahlussunnah. Dengan mendasari diri pada paham pendiri Mu’tazilah Washil bin Atha’, golongan Mu’tazilah mengembangkan pemahamannya dengan kecerdasan berpikir dan memberi argumen. Sehingga pada masa khalifah Al-Makmun, Al-Mu’tasim dan Al-Wasiq, paham mereka menjadi mazhab negara, setelah bertahun-tahun tertindas di bawah Daulah Umayyah. Semua golongan yang tidak menerima Mu’tazilah ditindas, sehingga masyarakat bersifat apatis kepada mereka. Saat itulah muncul Abu Hasan Al-‘Asy’ary, salah seorang murid tokoh Mu’tazilah Al-Jubba’i menentang pendapat gurunya dan membela aliran Ahlussunnah wal Jama’ah. Dia berpandangan “jalan tengah” antara pendapat Salaf dan penentangnya. Abu Hasan menggunakan dalil naqli dan aqli dalam menentang Mu’tazilah. Usaha ini mendapat dukungan dari Abu al-Mansur al-Maturidy, al-Baqillani, Isfaraini, Imam haramain al-Juaini, Imam al-Ghazali dan Ar-Razi yang datang sesudahnya.
Usaha para mutakallimin khususnya Al-Asy’ary dikritik oleh Ibnu Rusydi melalui bukunya “Fushush Al-Maqal fii ma baina Al-Hikmah wa Asy-Syarizati min Al-Ittishal” dan “Al-Kasyfu an Manahiji Al-Adillah”. Beliau mengatakan bahwa para mutakallimin mengambil dalil dan muqaddimah palsu yang diambil dari Mu’tazilah berdasarkan filsafat, tidak mampu diserap oleh akal orang awam. Sudah barang tentu tidak mencapai sasaran dan jauh bergeser dari garis al-Quran. Yang benar adalah mempertemukan antara syariat dan filsafat.
Dalam mengambil dalil terhadap aqidah Islam jangan terlalu menggunakan filsafat karena jalan yang diterangkan oleh al-Quran sudah cukup jelas dan sangat sesuai dengan fitrah manusia. Disnilah letaknya agama Islam itu memperlihatkan kemudahan. Dengan dimasukkan filsafat malah tambah sukar dan membingungkan.

    5.      Perkembangan Ilmu Tauhid Di Masa Pasca Daulah Abbasyiah.
Sesudah masa Bani Abbasiyah datanglah pengikut Al Asy‘ari yang terlalu jauh menceburkan dirinya ke dalam falsafah, mencampurkan mantiq dan lain-lain, kemudian mencampurkan semuanya itu dengan ilmu kalam sebagaimana yang dilakukan oleh Al Baidlawi dalam kitabnya Ath Thawawi dan Abuddin Al-Ijy dalam kitab Al-Mawaqif. Madzhab Al-Asy‘ari berkembang pesat kesetara pelosok hingga tidak ada lagi madzhab yang menyalahinya selain madzhab hambaliyah yang tetap bertahan dalam madzhab salaf, yaitu beriman sebagaimana yang tersebut dalam alquran dan al hadits tanpa mentakwilkan ayat-ayat atau hadits-hadits itu.
Pada permulaan abad kedelapan hijriyah lahirlah di Damaskus seorang ulama’ besar yaitu Taqiyuddin Ibnu Taimayah menentang urusan yang berlebih-lebihan dari pihak-pihak yang mencampur adukkan falsafah dengan kalam, atau menentang usaha usaha yang memasukkan prinsip-prinsip falsafah ke dalam akidah islamiyah.
Ibnu Tamiyah membela madzab salaf ( sahabat, tabi’in dan imam-imam mujahidin) dan membantah pendirian-pendirian golongan al asy’ariyah dan lain-lain, baik dari golongan rafidhah, maupun dari golongan sufiyah. Maka karenanya masyarakat islam pada masa itu menjadi dua golongan, pro dan kontra, ada yang menerima pandapat pendapat ibnu taimiyah dengan sejujur hati, karena itulah akidah ulama’ salaf dan ada pula yang mengatakan bahwa ibnu taimiyah itu orang yang sesat.
Jalan yang ditempuh oleh Ibnu Taimiyah ini diteruskan oleh muridnya yang terkemuka yaitu Ibnu Qayyimil Jauziyah. Maka sesudah berlalu masa ini, tumpullah kemauan, lenyaplah daya kreatif untuk mempelajari ilmu kalam seksama dan tinggallah penulis-penulis yang hanya memperkatakan makna-makna lafadz dan ibarat-ibarat dari kitab-kitab peninggalan lama.
Kemudian diantara gerakan ilmiah yang mendapat keberkahan dari Allah, ialah gerakan al iman Muhammad ‘Abduh dan gurunya jmaluddin Al-Afghani yang kemudian dilanjutka oleh As-Said Rosyid Ridla. Usaha-usaha beliau inilah, yang telah membangun kembali ilmu-ilmu agama dan timbullah jiwa baru yang cenderung untuk mempelajari kitab-kitab Ibnu Taimiyah dan muridnya. Anggota-anggota gerakan ini dinamakan salafiyyin.[4]

    B.   Pertumbuhan Dan Perkembangan Aliran-Aliran Ilmu Tauhid
1.      Aliran Khawarij
Khawarij sebagai aliran dalam Teologi islam yang pertama kali muncul. Nama khwarij berasal dari kata “Kharaja” yang berarti keluar. Nama itu diberikan kepada mereka yangkeluar dari barisan Ali.[5] Mereka memahami Al-quran secaraliteral ataulafziyah serta harusdilaksanakan sepenuhnya. Oleh karena itu, iman dalam paham mereka bercorak sederhana,sempit dan ditambah sikap fanatik. Mereka bersikap bengis, suka pada kekerasan, dan tak gentarmenghadapi mati, mereka juga jauh dari ilmu pengetahuan.
     2.      Aliran Murji’ah
Pandangan kaum Murji’ah ini terlihat dari arti kata Murji’ah itu sendiri yang  berasal dari kata arja’a yang berarti orang yang menangguhkan, mengakhirkan, dan memberi pengharapan.[6] Lebih dikenal istilah “irja”. Menangguhkan berarti mereka menunda soal siksaan seseorang ditangan Tuhan,yakni jika Tuhan memaafkan maka ia masuk surga, jika tidak maka iadisiksa sesuai dengan doanya, dan setelah itu dia akan dimasukkan ke dalam surga.Mengakhirkan dimaksudkan karena mereka memandang bahwa perbuatan atau amal sebagai ha lyang nomor dua bukan yang pertama. Selanjutnya kata member pengharapan, dumaksudkan karenamereka menangguhkan keputusan hukum bagi orang-orang yag melakukan dosa dihadapanTuhan.Maka sikap Murji’ah ini yaitu sikap mentolerir  penyimpangan-penyimpangan dari norma akhlak dan moral yang berlaku. Inilah sebabnya nama Murji’ah pada akhirnya mengandung arti tidak baik dan tidak disegani.
      3.      Aliran Syiah
Syiah sebagai golongan yang menyanjung dan memui Ali secara berlebihan.Sesungguhnya perbedaan Syiah dengan golongan lainnya adalah bercorak agama dan politik. Intiajaran Syiah adalah berkisar masalah khalifah, yang akhirnya berkembang dan bercampr denganmasalah-masalah agama.[7]
      4.      Jabariyah 
Nama Jabariyah berasal dari kata” jabara” yang mengandung arti memaksa. Aliran ini menganut paham bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam menentukankehendak dan perbuatannya. Semua perbuatan manusia itu atas kehendak Allah tidak ada campurtangan manusia.
       5.      Aliran Qadariyah
 Nama Qadariyah berakar pada lafadz “qadara” yang dapat berarti memutuskan danmemiliki kekuatan atau kemampuan.[8] Menurut aliran ini, manusia itu merdeka, dan telah diberikebebasan untuk berkehendak, semua yang terjadi dalam dirinya adalah atas usahanya sendiri,tidak ada campur tangan dari Tuhan. Manusia telah diberi anugerah yang paling baik diantarasemua makhluknya, yakni sebuah akal. Dengan akal tersebut manusia bisa melakukan apa yangmereka inginkan. Baik buruknya manusia itu tergantung dari manusia itu sendiri, bukan karenaTuhan.
       6.      Aliran Asy’ariyah
 Menurut pemikiran ini dalilnya adalah Tuhan, kita wajib percaya pada tuhan,karena diperintahkan Tuhan dan perintah ini kita tangkap dengan akal. Jadi akal itu bukanlahsumber tetapi hanya sebagai alat untuk mempercayai adanya tuhan. Akal tak dapat membuatsuatu menjadi wajib dan tak dapat pula mengetahui mengerjakan yang baik dan buruk.[9]
        7.      Aliran Maturidiyah
Manusia yang mengerjakan perbuatan maksiat, diam, bergerak, dan taatsebenarnya mereka sendiri yang mengerjakannya, tetapi tuhan yang menjadikan.
        8.      Aliran Mu’tazilah
Bagi Mu’tazilah orang yang berdosa besar tidaklah kafir tetapi bukan pula mukmin.[10] Aliran ini bercorak rasional dan cenderung liberal mendapat tantangan keras dari kelompok tradisional islam, terutama golongan hambali.

BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan

Setelah membaca dan menganalisis perkembangan ilmu tauhid,penulis dapat menarik kesimpulan:
Kita sebagai umat muslim layaknya umat yang telah berkembang mengikuti zaman sudah sebaiknya mengetahui seperti apakah perkembangan, cara mengembangkan ilmu tauhid dan aliran-aliran ilmu tauhid untuk dijadikan tolak ukur ilmu pengetahuan,maupun menambah wawasan pengetahuan kita.

B.   Saran

Dengan penulisan makalah ini diharapkan pembaca dapat:
·         Memperoleh ilmu pengetahuan tentang perkembangan ilmu tauhid beserta aliran-alirannya
·         Menambah iman kepada tuhan Yang Maha ESA


DAFTAR PUSTAKA


Muhammad,Teugku Hasbi Ash Shiddieqy.2001.Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam.Semarang:PT.Pustaka.
Mustajib, dkk,1998. Materi Pokok Aqidah Akhlak .Jakarta: Dirjen Binbaga Islam.
Roli Abdul Rohman-M.Khamza.2015. Menjaga Akidah dan Akhlak 2. Solo.


[1]  Ma’ruf Amin dan M. Nasruddin Anshor CH, “Pemikiran Syaikh Nawawi al-Bantani” dalam Pesantren,No. 1/Vol. VI/ 1989, 105
[2] Muhammad, Teungku Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah & Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam (Semarang: PT. Pustaka      Rizki Putra. 2001) hlm. 56.
[4]  A. Mustajib, dkk, Materi Pokok Aqidah Akhlak (Jakarta: Dirjen Binbaga Islam, 1998), 7-12
[5]  Roli Abdul Rohman-M.Khamzah, Menjaga Akidah dan Akhlak 2. Solo,Januari 2015, hal 18
[6] Roli Abdul Rohman-M.Khamzah, Menjaga Akidah dan Akhlak 2. Solo,Januari 2015, hal 19
[7] Roli Abdul Rohman-M.Khamzah, Menjaga Akidah dan Akhlak 2. Solo,Januari 2015, hal 20
[8] Roli Abdul Rohman-M.Khamzah, Menjaga Akidah dan Akhlak 2. Solo,Januari 2015, hal 22
[9] Roli Abdul Rohman-M.Khamzah, Menjaga Akidah dan Akhlak 2. Solo,Januari 2015, hal 23
[10] Roli Abdul Rohman-M.Khamzah, Menjaga Akidah dan Akhlak 2. Solo,Januari 2015, hal 24

A “Methodical” History of Language Teaching


A “Methodical” History of Language Teaching
         1.      Approach, Method and Technique
In 1963 Edward Anthony gave us a concept is method was the second of three elements are approach, method, and technique. According to Anthony the approach is a set assumpstions dealing with the nature of language, learning, and teaching. A few decades later (1982, 1986) Jack Richards and Theodore Rodgers proposed a concept of “method’ Anthony’s approach, method, and technique renamed (approach, design, and procedure) with a superordinate term to describe this three process, now called “Method”.
According to Richard and Rodgers, Method is an umrella term or the specification and interrelation of the theory and practice. An approach defines assumptions, beliefs, and theories about the nature of language learning. Meanwhile, procedures are the techniques and practices that are derived from one’s approach and design. Richards and Rodgers made two principal contributions to our understanding of the concept of method:
1.      They specified the necessary elements of language-teaching designs that had. They described six important features of deigns: objetives, syllabus, activities, student roles, teacher roles, and the role of instructional materials.
2.      We can definable, Methods are the essential building bloks of methodhology and helping us to think in terms of an approach that undergirds our language designs (curriculum), which are realized by various procedures (techniques).
Methodology: Pedagogical practices in general (including theoretical under pinnings  and related research). Whatever considerations are involved in "how to teach methodological.
Approach: Theoretically well-informed positions and beliefs about the nature of language, the nature of language learning, and the applicability of both to pedagogical settings.
Method: A generalized set of classroom specifications for accomplishing linguistic objectives. Methods tend to be concerned primarily with teacher and student roles and behavior and secondarily with such features as linguistic and subject-matter objectives, sequencing, and materials.
Curriculum/syllabus: Designs for carrying out a particular language program. Features include a primary concern with the specification of linguistic and subject-matter objectives, sequencing, and materials to meet the needs of a designated group of learners in a defined context.
Technique (also commonly referred to by other terms):" Any of a wide varicty of exercises, activities, or tasks used in the language classroom for realizing lesson objectives.
      3.      Changing Winds and Shifting Sands
A glance through the past century or so of language teaching will give an interesting picture of how varied the interpretations have been of the best way to teach a foreign language. Teaching methods, as "approaches in action, are of course the practical application of theoretical findings and positions.
Albert Marckwardt (1972: 5) saw these "changing winds and shifting sands" as a cyclical pattern in which a new method emerged about every quarter of a century. Each new method broke from the old but took with it some of the positive aspects of the previous practices.
A good example of this cyclical nature of methods is found in the "revolutionary" Audiolingual Method (ALM) (a description follows) of the mid-twentieth century. The ALM borrowed tenets from its predecessor the Direct Method by almost half a century while breaking away entirely from the Grammar Translation Method. Within a short time, however, ALM critics were advocating more attention to thinking, to cognition, and to rule learning, which to some smacked of a return to Grammar translation.

      2.      The Grammar Translation Method
The grammar translation method is a very classic language learning methodology in the world. According to Brown (2001: 18) This method emphasizes learning grammar (structure of language), memorizing vocabulary, translating texts, and writing exercises. Teachers who apply this methodology tend to teach grammar explicitly without explaining any context in which such grammar should be used. The principal characteristics of the grammar-translation method were these:
1.      Grammar translation   is a way of studying a language that approaches the language first through detailed analysis of its grammar rules, followed by application of this knowledge to the task of translating sentences and texts into and out of, the target language. Th e first language is maintained as the reference system in the acquisition of the second  language" (Stern 1983: 455) .
2.      Reading and writing are major focus; little or no systematic attention is paid to speaking or listening.
3.      Vocabulary selection is based solely on the reading texts used, and words are taught through bilingual word lists, dictionary study, and memorization. In a typical Grammar-Translation text, the grammar rules are presented and illustrated, a list of vocabulary items are presented with their translation equivalents, and translation exercises are prescribed.
4.      The sentence is the basic unit of teaching and language practice. sentence was an attempt to make language learning easier (see Howatt 1984: 131).
5.      Accuracy is emphasized, because of "the high priority attached to meticulous standards of accuracy which, as well as having an intrinsic moral value, was a prerequisite for passing the increasing number of formal written examinations that grew up during the century" (Howatt 1984: 132).
6.      Grammar is taught deductively - that is, by presentation and study of grammar rules, which are then practiced through translation exercises.
7.      The student's native language is the medium o f instruction.
Prator and Celce-Murcia (1979:3) listed  the major characteristics of grammar translation:
1.      Classes are taught in the mother tougue, with little active uses of the target language .
2.      Much vocabulary is tought in the form of lists of isolated words.
3.      Long, claborate explanations of the intricacies of grammar are given.
4.      Grammar provides the rules for putting words together, andintruction often focuses on the form and inflectionof words.
5.      Reading of difficult classical texts is begun early.
6.      Little attention is paid to the content of texts, which are treated as exercisesin grammatical analysis.
7.      Often the onlydrills are execises in translating disconnected sentences from the target language into the target language intothe mother tongue.
8.      Little or no attention is given to pronunciation.

      3.      Gouin And The Series Method
      The Gouin's method of sequencing, namely, that learning a second language must be more like the first language, oral interactions, spontaneous use of language, no translation between the first and second languages - and little or no analysis of grammar rules. Language teaching innovations in the nineteenth century toward the mid-nineteenth century several factors contributed to a questioning and rejection of the Grammar-Translation Method. In Germany, England, France, and other parts of Europe, new approaches to language teaching were developed by individual language teaching specialists, each with a specific method for reforming the teaching of modern languages. The Frenchman F. Gouin (1831-1896) is perhaps the best known of these mid-nineteenth century reformers.Gouin developed an approach to teaching a foreign language based on his observations of children's use language.
      4.      The Direct Method
According to Brown Learning a second or foreign language must be determined as natural as possible like the first language (Brown. Since 1920s applied the direct method . The goal of trying to teach conversation skills was considered impractical in view of restricted time available for foreign language teaching in schools. The experience with uses the technique of the direct Method provide will helping student:
a.       Reading aloud : Student take turn to reading section passage and at the end the teacher uses the gesture
b.       Question and answer exercise: Student question and answer by the teacher, give a feedback each other to conducted only in target language
c.       Getting student to self-correct: The teacher in the class has the student self correct by asking them to make a choice between what they said an alternative supplied
d.       Conversation practice: Student have to understand to able answer correctly
e.        Fill in the blank exercise: Student need to fill in the blink for practice earlier parts of the learn
f.       Dictaqtion: The teacher read passage three times. First the teacher read in the normal speed while student lesson. Second, the teacher read phrase by phrase and passing long enough to allow student write what they heard. The last is the teacher read in the normal speed again while student check their work.
g.      Map drawing: The class included the example of technique used to give student listen comprehension practice
h.      Paragraph writing: The teacher ask the student to write paragraph in their own word. This could have done this from memory and they could have uses the reading lesson as a model.
       5.      The Audio-Lingual Method
ALM is a teaching method that emphasizes the teaching of foreign languages listening and speaking before reading and writing. Use dialogue as the main form of presentation and training technique, mlother tongue (he first language acquired) in the classroom. According to Prator and Celce-Murcia (1979), The characteristics of the ALM may be summed up in the following list (adapted from Prator & Celce-Murcia 1979):
a.       New material is presented in dialogue form.
b.      There is dependence on mimicry, memorization of set phrases, and over-learning.
c.       Structures are sequenced by means of contrastive analysis and taught one at a time.
d.      Structural pattern are taught using repetitive drills.
e.       There is little or no grammatical explanation. Grammar is taught by inductive analogy rather than by deductive explanation.
f.       Vocabulary is strictly limited and learned in context.
g.      There is much use of tapes, language labs, and visual aids.
h.      Great importance is attached to pronunciation.
i.        Very little use of the mother tongue by teachers is permitted.
j.        Successful responses are immediately reinforced.
k.      There is a great effort to get students to produce error-free utterance.
l.        There is a tendency to manipulate language and disregard content. 
       6.      Cognitive Code Learning
Teaching Cognitive Codes is not so much practiced. This method is an approach method that emphasizes the awareness of the rules and applications of students to learn a second language. This method is a reaction to the behavioristic rigorous practice of the ALM method, and ironically, back to several practices, As teachers and subject matter developers see that the incessant material with potentially memorization does not make students adept at communicating, new touches are needed, and cognitive teaching codes emerge just to provide such touches. Unfortunately, innovation in rules, paradigms, complexities, and exclusions from language has weakened the mental reserves of students' languages. A profession requires some spice and enthusiasm, and an innovative mind in the spirit that increased for the challenges of the 1970s.
      7.      Designer Methods Of The 1970s
a.       Community Language Learning
According to Brown this method shows language as a system for meaning; main function - interaction and communication. The teacher can provide activities through this method. In general, they will provide activities that repeat the ability of students to communicate; discussion, problem solving and so on. This method can be applied even to early class students of language learners. These materials will probably be used for future student work situations. So that teachers in this case also support their students to obtain not only as objects in their lives, but also their future careers.
b.      Suggestopedia
This method was taken from a Bulgarian psychologist Goerge Lozanov (1979). According to him, that in the human brain can process large amounts of large material if given to the correct conditions for learning, when a person is relaxed. According to Lozanov, a person is able to learn a lot from what they get in a relaxed state. Music is the center of this method.
c.       The Silent Way
In this method Richard and Rodger conclude the theory of learning that:
a)      Learning is facilitated if students find or create rather than remember and repeat what is learned.
b)       Learning is facilitated by friends (mediation) as physical objects.
c)      Learning is facilitated by problem solving including the material being studied
d.      Total Physical Responses
James Asher (1977), a developer of this TPR method, combines many other views in its rationale. Asher notes that children in learning their first language, appear to do a lot of listening before they speak, and that their hearing will be followed by physical responses (reaching, touching, moving, seeing and so on). He also gave some attention to right brain learning
e.       the Natural Approach
The three stages of the Natural Approach are:
·         The preproduction stage is the development os listening comprehension skills.
·         The early production stage is usually marked with errors as the student struggles with the language.
·         The last stage is one of extending production into longer stretches of discourse involving more complete games, role plays, discussions and so forth. The objective in this is to promote fluency
       8.      Notional Functional-Syllabuses (NFS)
Beginning with the work of the European Council, and used in Britain in 1970, attention to functions as an element of organizing the English curriculum, the structure of grammar functions as an organizer, focusing on the pragmatic goals in which we place language, It is not a method but close to what they are call na "approach"
The following functions are found in the first few lessons of the beginner's reading book that were developed:
·      Introduce yourself and others
·      Exchange someone's information
·      Asking anyone to spell someone's name
·      The giving order
·      Apologize and thank you.
·      Identification and illustration of a person
·      Request information
References
Brown, H Douglas. 2007. Teaching By Principles An Interactive Approach to Language Pedagogy, Third Edition. America :Pearson Education
Wilkins, D.A.1976.Notional Sylabuses.London:Oxford University Press
Brown,H Douglas.2000.Teaching by Principles An Interractive Approach to Language Pedagogy Second Edition.California
Richards, C Jack and Theodore S.Rodgers.1986.Approaches and Methods in Languange Teaching.America:Cambridge University Press



MAKALAH SIRAH NABAWIYAH “ Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah”

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb.             Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya ...